Previous Chap :

Sepeninggal Hinata di koridor, Naruto menghela nafas. Ia sentuhkan jarinya ke bibir, lalu ia sumringah.

"Benar-benar lembut..." Bisiknya entah ke siapa. Lalu ia menatap langit-langit gedung. "Kira-kira, dari apa ya bibir dan lidahnya itu terbuat...?"

Di saat Naruto sedang mengagumi Hinata, di belakangnya nyatanya sudah ada seseorang yang memperhatikannya dari sela ruangan yang terbuka. Pria beriris lavender yang terlihat penuh wibawa itu sedikit tersenyum. Ah, atau lebih tepatnya menyeringai.

Dia... Neji Hyuuga.

"Tenang saja, Hinata. Aku bisa lebih memuaskanmu..."

.

.

Setelah berciuman dengan Naruto di depan ruangan Matematika, selama berjalan ke kelasnya yang asli, Hinata merasakan kepalanya berdengung. Wajahnya pun memanas drastis. Bahkan ia sampai kaget saat mendapati suhu tinggi di pipi dan keningnya sendiri.

"Ah..."

Sesampainya di dalam lift Hinata membungkukkan badan. Hinata meletakkan kedua tangannya di lutut lalu ia berdesis beberapa kali agar dapat menghilangkan segala bayangannya mengenai sosok Naruto. Ia tidak boleh seperti ini terus. Ia harus melepaskan Naruto dari benaknya. Tapi masalahnya hal itu sulit untuk dilakukan. Apalagi kejadian yang baru terjadi benar-benar tak bisa dianggap angin lalu begitu saja.

Iya, kan?

Mana bisa ia melupakan dirinya saat dicium Naruto Namikaze? Seorang senpai-nya yang menjadi idola dari Konoha Boarding school. Dan juga... orang yang akhir-akhir ini selalu memberikan rasa risih, tertarik, suka, kesal, ingin menghindar, ingin disapa, jantung berdegup kencang dan gugup dalam satu waktu sekaligus. Benar-benar campur aduk.

Ting!

Bersamaan dengan tangan yang mengusap wajah, pintu lift terbuka. Ia menegakkan badan dan segera berjalan ke luar. Tak lupa dengan jemari yang masih menutupi permukaan bibirnya.

Oke, yang tadi itu memang bukan ciuman pertamanya—hal semacam itu sudah lama diambil oleh Neji, jauh sebelum Sasuke merengutnya dengan paksa. Tapi tetap saja, ciuman yang kali ini Hinata dapatkan adalah sesuatu yang sangat berbeda. Membuat dirinya nyaris meletup bagai buih sabun yang rentan terhadap udara.

"Aaaa, a-aku tak tau harus bagaimana kalau bertemu lagi dengan Naruto-senpai..." Dengan langkah lesu dia bergumam tak jelas. Ternyata Hinata masih belum sadar kalau dulu Naruto pernah menciumnya saat ia terlelap.

.

.

.

LOVE IN BOARDING

Sanpacchi's Fanfiction 2011

Naruto is Masashi Kishimoto's | NaruHina & NejiHina | Fanfiction-net

Genre: Romance, Drama, Friendship. | Warning: AU, OOC, Typos, Mature Themes, etc. | Kalau ada kesamaan ide harap dimaklumi.

MATURE CONTENT—YOU HAVE BEEN WARNED!

.

.

Love in Boarding no VII. Bully

.

.

Srek!

Sesampainya di ruangan kelas, secara tak sengaja Hinata menutup pintu geser dengan tenaga yang sedikit berlebih. Tak sengaja suara kencang keluar dari sana. Sontak banyak siswa-siswi yang menoleh.

Hinata menunduk dan berdesis cemas. Ia menyesal telah memasuki kelas dengan cara yang menebar perhatian seperti itu. Soalnya tangannya memang tak terbiasa membuka-tutup pintu ringan yang tadi. Tapi karena biasanya Hinata tak begitu diperhatikan oleh warga sekelas, ia berpikir palingan teman-temannya hanya menganggapnya angin lalu; yang nyatanya benar.

Dan beruntunglah dia, Hinata baru ingat kalau hari ini guru Matematika kelas 11 sedang absen—jadi ia tidak dihukum karena datang terlambat.

Tapi sayangnya hari ini tidak berlaku, sebab ada belasan pasang mata dari orang-orang di kelas sudah menatap ke arahnya.

"Nah, itu dia Hinata-nya!"

Salah satu siswi di bangku depan menunjuk Hinata. Hinata terbingung, terutama saat ada siswi lain yang mendorongnya secara pelan agar dapat mendekat ke mereka semua yang sedang bergerombol.

"E-Eh? Ini k-kenapa?"

"Kau Hinata Hyuuga, kan?" Tanyanya.

Ia mengangguk takut. "I-Iya..."

Mereka—yang tampaknya baru sadar kalau dirinya sekelas dengan Hinata—segera membentuk 'O' besar dengan mulutnya. Berbagai macam pasang mata terus mengamatinya dari atas sampai bawah; meneliti.

"Kau ya yang dibilang dekat sama Naruto-senpai?"

Lagi, pertanyaan itulah yang terlontarkan kepadanya. Segeralah Hinata menunduk, menyembunyikan wajah merahnya yang sedikit pucat. Ia tidak berani menjawab.

Entah kenapa kalau di depan siswi-siswi ini ia jadi merasa tak tenang.

"A-Aku tidak tau..."

"Hm? Kamu pasti bohong..." Salah satu dari mereka mulai mendesaknya. "Atau paling tidak, kasih tau kenapa Naruto-senpai bisa mendekatimu dong."

"Ta-Tapi aku benar-benar tidak tau. Lagi pula k-kami tidak sedekat apa yang kalian pikirkan..."

Yang berambut coklat pendek itu berdecak. Dia jadi gerah sendiri dengan tingkah laku sok manis yang dia dapatkan dari cara Hinata Hyuuga terbata di depannya. "Oh, jadi kamu mau bilang kalau Senpai yang mendekatimu duluan?" Nadanya berubah sinis. "Tolong ya atur tingkat kepercayadirianmu yang itu."

Hinata menggeleng cemas. Kenapa semua yang berhubungan dengan Naruto selalu membuatnya terintimidasi seperti ini sih?

"Ti-Tidak, aku..."

"Ah! Tidak usah banyak alasan!" Temannya menyela. Kali ini dia sampai main tangan—sampai-sampai pundak Hinata terdorong kasar olehnya. "Tidak mungkin Naruto-senpai mau mendekati orang sepertimu!"

"T-Ta-Tapi—"

"Iya! Apa bagusnya dirimu yang super ordinary ini!?"

"Dasar menyebalkan! Kau hanya menang di bagian dada doang, tau! Pasti Naruto-senpai sebenarnya muak juga melihat tingkah maupun wajahmu!"

Merasa dipojokan, Hinata benar-benar menciut. Ia tidak mempunyai mental lagi untuk menjawab satu pun kalimat pedas yang mereka lontarkan kepadanya. Hanya saja ada Kiba yang masih menyimpan simpati ke gadis tersebut.

"Oi, bubar sana..."

Siswa—yang sebenarnya dari tadi memperhatikan dari belakang—itu langsung berjalan tengah mereka, seakan-akan menjadi tameng dari seorang Hinata Hyuuga yang ketakutan. Lalu bersama suara dan juga gerakan tangannya, pria berambut coklat itu menjauhkan Hinata dari kerumunan tersebut.

"Kalian semua berisik. Mentang-mentang guru hari ini ngga masuk malah buat rusuh."

"Kiba, kamu ini apa-apaan sih!? Kami berempat masih ingin bicara banyak ke Hinata!"

Ia hanya menggeleng pelan. Wajah malasnya ia pampangkan secara terang-terangan ke mereka yang masih emosi. "Jangan ribut hanya karena seorang laki-laki. Lagian memang Hinata kok yang didekati Naruto-senpai. Kalian cuma iri kan ke dia?"

"Tidak usah sok tau, ya!"

Kiba mengangkat bahunya dan menarik Hinata ke daerah bangku belakang—yang kini sedikit kosong akibat murid-murid lain yang berkeliaran di koridor—mencari tempat tongkrongan masing-masing. Sedangkan siswi-siswi aneh itu pergi sambil menggerutu kesal. Dari arahnya mereka sepertinya beranjak keluar. Sepertinya mereka menyerah mem-bully Hinata karena ada seorang pengganggu yang bernama Kiba Inuzuka. Kalau saja Kiba tidak termasuk salah satu siswa tampan yang lumayan eksis di angkatannya, mungkin Hinata akan dihabisinya hari ini juga.

Setelah kelas menjadi sedikit sunyi, Hinata yang sekarang duduk di sebelah Kiba mengangkat wajah—meluruskan pandangannya agar dapat melihat pria bersurai coklat itu. Kesepuluh jarinya saling meremas. "Ki-Kiba-kun..."

"Ya?"

"Terima kasih..."

Mendengar suara lirih Hinata, Kiba pun meliriknya. Gadis itu menunduk dan seperti menahan tangis—matanya saja sampai berkaca-kaca seperti itu. Tampaknya Hinata benar-benar terpukul akibat kejadian tadi. Kerena itu Kiba tersenyum lebar dan menepuk-nepuk pelan puncak rambut indigo Hinata. "Tenang saja. Berbeda dari mereka, aku mendukungmu bersama Naruto-senpai. Kalian cocok. Makanya aku tidak rela kalau ada yang mem-bully-mu hanya karena masalah itu..."

Di saat itulah Hinata menyipit. Ia ingin menangis karena rasa haru, tapi rasanya terlalu cengeng kalau ia kembali menumpahkan air mata. Ia harus tegar. Tidak, bukan karena Kiba yang men-support-nya dengan Naruto—melainkan karena kehadiran pria itu yang selalu membantunya kapan pun ia butuh.

Kiba benar-benar tipe sahabat yang paling baik.

"Ah, ya. Ini... kertas-kertasmu yang sempat kuambil tadi." Kiba mengambil sesuatu dari mapnya dan memberikan beberapa lembar kertas yang sebelumnya ingin Hinata ingin fotokopi. Hinata langsung menerimanya dan berterima kasih untuk yang kedua kalinya.

"Kiba-kun... sudah k-kuanggap seperti kakakku sendiri." Ia mencoba terus terang. Tak lupa dengan pipi tembamnya yang memerah. "Kalau tidak ada Kiba-kun, sepertinya aku tidak akan punya siapa-siapa di sini..."

Kiba terdiam sesaat sebelum ia terkekeh pelan. "Wah, aku senang ada seorang Nona Hyuuga sepertimu yang menganggapku begitu..." Kali ini ia cubit pipi Hinata sampai wajah gadis itu miring ke sebelah. Hinata panik tapi ia cuma bisa meringis pelan sambil memegangi tangan Kiba. "Dan soal masalah-masalahmu yang barusan maupun kemarin, lebih baik kau pikirkan nanti saja. Daripada jadi beban, kan?"

Gadis berponi rata itu mengangguk.

"Dan juga... lebih baik siap-siap untuk besok."

"Eh? Memangnya ada apa?"

"Besok siang ada pengecekan kesehatan. Biasalah, kegiatan rutin..." Karena Hinata yang masih merasa asing dengan kalimatnya, ia memberikan penjelasan tambahan. "Itu program kesehatan sekolah. Jadi tiap semester diri kita diperiksa oleh dokter dan didata. Memangnya di sekolahmu yang dulu tidak ada, ya?"

Hinata menggeleng perlahan. Seingatnya tak ada program serupa di SMP-nya dulu. Soalnya ia juga sempat menganggur dari dunia pendidikan selama setahun sih—saat ia tinggal sendiri. Jadi mungkin ia lupa.

"Kau paham, Hinata?"

Iris lavendernya menatap Kiba. Hinata mengangguk pasti.

Namun tiba-tiba saja... suasana hati Hinata berubah menjadi tidak enak.

Apakah ini ada suatu petanda firasat buruk?

Atau mungkin hal itu dikarenakan oleh sebuah interaksi yang sedang terjadi di luar sana?—Interaksi dari para siswi yang sempat menggencet Hinata di ruang Matematika. Apalagi saat ini mereka sedang mengadukan semua informasi yang didapatkannya dari Hinata ke rombongan yang jauh lebih berkuasa. Siapa lagi kalau bukan senior tertinggi, yaitu rombongan siswi kelas 12?

"Tenang... biar kami yang memberikan pelajaran kepadanya."

.

.

: love in boarding | sanpacchi :

.

.

Keesokan harinya, kegiatan yang sebelumnya Kiba beritahu akan dilaksanakan. Segala pelajaran hari ini ditiadakan dari pagi sampai sore, dan semua murid akan disibukkan dengan pemeriksaan rutinnya masing-masing.

Maka dari itu tidak heran Konoha Boarding School sudah diisi oleh banyak dokter maupun suster yang tersebar di tiap lantai gedung asrama. Dan itu semua dikoordinasi oleh seorang dokter ternama—yang tanpa Hinata tau bernama Hyuuga Neji.

Saat ini Hinata baru saja keluar dari lift. Ia akan menuju ke sebuah aula di mana siswi perempuan dikumpulkan. Namun ketika ia baru saja masuk ke ruangan yang sudah diisi oleh 200-an orang itu, langkah kakinya tertahan. Ia terbengong. Baru dia sadari bahwa semua orang yang ada di sana sudah memakai baju olahraga.

"Hyuuga-san?"

Hinata menoleh. Dia temukan Kurenai-sensei yang berdiri di belakangnya. "Kau belum berganti baju?"

Hinata mengerjap—lagi. "Eh? Ma-Maksudnya?"

"Ah, jangan-jangan kau belum tau prosedur pemeriksaan rutin ini, ya?" Guru wanita berambut ikal itu menghela nafas. Dia edarkan pandangannya ke sekeliling. "Seharusnya ada temanmu yang mengatakan hal ini..."

Hinata menelan ludah. Maklum saja ia tidak terlalu mengerti, teman yang dia punya cuma satu; Kiba Inuzuka seorang. Dan seingatnya Kiba hanya memberitahunya bahwa hari ini ada pemeriksaan rutin, belum sampai tahap-tahap kegiatan tersebut.

"Memangnya... sekarang aku harus melakukan apa, Sensei?"

"Sepertinya cuma berganti baju. Baju olahragamu sudah kering kan dari laundry asrama?"

"Iya..."

"Kalau begitu segeralah ke kamar, pakai baju olahragamu, lalu kembali lagi ke sini." Ucapnya sambil tersenyum. Dia dorong perlahan bahu gadis Hyuuga itu agar dapat keluar ruangan—tentu saja dengan tutur cara yang lembut. "Cepat, ya. Jangan sampai ketinggalan pendataan."

Hinata pun bergegas menuju lift di ujung koridor.

. . .

Tepat di lantai 10, ada tiga siswi kelas 12 yang siap turun. Karena saat ini mereka tinggal menunggu pintu lift di hadapan mereka terbuka, waktu yang luang pun diisi oleh obrolan khas remaja yang tak begitu jauh dari gosip. Dan kalau dilihat dari hot news yang telah beredar, tak heran jika Hinata Hyuuga lah yang dijadikan topik utama.

"Kau tau kan anak baru itu?" Gadis yang bernama Hikari bertanya.

"Hyuuga, ya?"

"Iya. Kata Kin-chan, kemarin Naruto mengajak gadis itu ke kelas matematika. Mereka mesra-mesraan di sana..."

Si gadis berambut lurus, Rika, menaikkan kedua alisnya. "Hah? Untuk apa? Bukannya dia kelas 11?"

"Tidak tau. Yang jelas semuanya pada bilang kalau Hinata sok manis terus di depan Naruto. Ngeselin, kan?"

"Sok manis bagaimana?"

"Genit gitulah. Bukan aku yang liat sih."

"Eh, terus ada yang bilang dia juga sempet ciuman sama Naruto di koridor loh! Murahan!"

Sachi berdecak. "Aku tidak suka sama dia."

"Sama." Hikari mengangguk. "Menurutku dia terlalu berlindung di balik Naruto."

Rika mengangguk. "Hm. Akting tuh; pura-pura lugu."

Obrolan yang dibuka oleh Hikari, Sachi dan Rika—tiga siswi tersebut—terus berlanjut heboh. Sampai akhirnya ada yang mengatakan sebuah usulan. Usulan yang sedikit berbahaya.

"Bagaimana kalau kita beri dia hadiah?"

Saran dari gadis di tengah mengundang perhatian temannya yang lain. "Hadiah?"

"Iya. Semacam... menguncinya di gudang atau terserahlah di mana."

"Haha, parah!"

"Tidak usah lama-lama, paling sampai tengah malam." Mereka semakin tergelak.

Ting!

Mendadak suara lift yang berada di depan ketiganya berbunyi. Kedua belah pintu besi itu terbuka, menunjukkan sebuah tempat yang sekiranya muat untuk 8 orang. Siswi-siswi kelas 12 yang mau ke aula itu melangkah masuk, namun ketika mereka menyadari adanya seseorang siswi lain yang sedari tadi ada di dalam sana, semua terbelalak.

Ya, di sebelah mereka... kini berdirilah seorang Hinata Hyuuga. Seorang siswi yang baru saja menjadi sasaran gosip mereka. Sachi dengan semangat menyenggol pinggang Rika.

"Sst, itu dia orangnya..."

.

.

: love in boarding | sanpacchi :

.

.

'Hm... kami buru-buru ke bawah, jadi boleh minta tolong, tidak?'

Itulah kalimat yang terngiang di otak Hinata saat dirinya keluar dari lift dan menginjakkan alas sepatunya ke lantai 14—sebuah lantai yang memiliki deretan ruang mata pelajaran eksak milik angkatan kelas 12. Saat ini koridor sepi, soalnya selain karena pelajaran tidak diadakan semua murid memang lagi mengikuti pemeriksaan rutin.

Tadi ia memang sedang dimintai tolong oleh kakak kelas. Makanya dia ke sini.

Hinata pun menghela nafas, kembali berjalan maju.

Belum lewat lima menit yang lalu—saat ia akan ke kamar asramanya—ia bertemu dengan tiga siswi berparas cantik di lift. Mereka semua awalnya memandang sinis ke arah Hinata. Ia sampai merasa tak nyaman.

Lalu beberapa detik setelahnya wajah mereka mengendur. Ketiganya langsung menghadapnya dengan membagi senyum. Namun sepertinya hal itu memiliki makna tersendiri, sebab mereka langsung meminta tolong dirinya untuk mengambilkan ponsel Rika—salah satu siswi yang ada di sana—yang katanya tertinggal di laci ruang Bahasa kelas 12.

Jadi mau tidak mau Hinata harus mematuhinya dengan tulus. Toh, kegiatan pemeriksaan rutin kan juga belum dimulai.

Hinata menelusuri koridor dengan wajah mengadah. Ia memperhatikan tiap tulisan yang terpajang di papan depan kelas. Ia lakukan itu agar bisa menemukan ruang Bahasa—destinasinya saat ini. Dan ketika ia mendapati papan nama ruangan di depan pintu, senyum lembut merekah di bibirnya.

"Akhirnya sampai..."

Hinata bersyukur. Apalagi saat ia mau masuk nyatanya pintu itu tak terkunci. Segeralah ia memasuki ruang bahasa dan mencari ponsel si kakak kelas di satu per satu laci meja. Suasana cerah di luar sana membantu Hinata dalam mencari benda tersebut, tapi entah kenapa ia sama sekali tak menemukannya sampai akhir.

Lima belas menit terlewat, hasilnya nihil. Ia tidak menemukannya sama sekali.

Hinata menegakkan tubuh dan menghela nafas. "Ba-Bagaimana ini? Apa kubilang 'tidak ada' aja, ya?"

Ia berpikir sambil memundurkan langkah. Ia mau keluar dan kembali ke kamar agar bisa mengambil baju olahraganya. Namun ketika ia baru berbalik untuk membuka pintu, ada sebuah hal yang membuat matanya terbelalak.

Ckrek.

Perputaran kenopnya seperti tersendat.

Ckrek

Ckrek.

"Ke-Kenapa... pintunya tidak mau dibuka?"

Brakh!

Hinata terkejut bukan main saat ada yang memukul pintu dari luar. Dia pun mencoba mengintip jendela kecil yang terpajang di sana. Ternyata di balik papan kayu ini terdapat wajah-wajah yang cukup familiar di matanya.

Itu... wajah kakak kelas yang minta tolong kepadanya. Saat ini mereka sedang tertawa puas.

"To-Tolong buka pintunya, S-Senpai..." Hinata memelas. Ia ketakutan.

"Kau sendirian dulu di sini tidak apa, ya?"

"Ta-Tapi... kenapa?"

Cicitan Hinata di dalam kelas membuat mereka semakin senang.

"Ini hanya hukuman kecil." Rika tersenyum licik. "Karena telah genit sama Naruto-kun."

Setelah itu mereka pergi, sama sekali tak acuh dengan segala pembelaan yang Hinata lontarkan dari suaranya.

.

.

: love in boarding | sanpacchi :

.

.

Neji yang saat ini berada di ruangannya menghela nafas. Ia mengadah dan menatap jam. Kini sudah pukul 12.00; pemeriksaan rutin untuk semua murid Konoha Boarding School hari ini hampir saja selesai setengahnya. Tapi masalahnya ia belum bertemu muka dengan seseorang—seseorang yang tentunya menjadi alasan utama seorang Neji Hyuuga untuk meluangkan waktunya di asrama ini.

Ia ingin bertemu Hinata Hyuuga, sepupunya.

Tapi jika dilihat dari formulir yang dipegangnya, nomor urut Hinata sudah terlewat. Gadis itu tidak datang ke ruangannya.

"Tsch, sialan. Padahal aku sudah menyiapkan sesuatu untuk 'bermain' dengannya..."

Ia pun menghempaskan kertas-kertas tersebut ke mejanya dan berdecak kesal. Seorang suster datang untuk menghampirinya.

"Hyuuga-sensei, akan kupanggilkan murid selanjutnya, ya?" Wanita berwajah ramah itu bertanya. Neji memandangnya dengan tatapan sinis.

"Ya. Tapi setelahnya tolong serahkan sisa bagianku ke Dokter Hanabi di sebelah. Aku mau menyelesaikan praktek hari ini."

Neji tanpa pikir panjang melemparkan tugasnya ke orang lain. Tapi ia tidak merasa bersalah sebab Hanabi adalah bawahannya—yang merupakan salah satu dari 15 dokter yang dibawa Neji untuk hadir dan melakukan pemeriksaan rutin.

Suster itu memberikan tatapan bingung, namun ia tidak berani bertanya. Mungkin Neji lelah.

"Ya, Sensei."

.

.

: love in boarding | sanpacchi :

.

.

"Kau sudah selesai pemeriksaan, Naruto?"

Shikamaru Nara, salah satu teman Naruto bertanya.

Si jabrik mengangguk senang, lalu ia mengibaskan sebuah lembaran hasil yang cukup memuaskan di tangannya. "Tinggi dan ototku semakin baik. Beratku juga semakin ideal." Ia mendengus geli. "Aku memang paling pantas dijadikan idola dibandingkan Sasuke yang terlalu kurus itu."

"Mendokusai..." Shikamaru memutar bola matanya. Ia lewati Naruto untuk segera memasuki ruangan pemeriksaan di mana dirinya akan diperiksa.

"Naruto."

Suara Shino membuat Naruto yang sedang meminum air mineral dari botol itu menoleh. Dia menatap lurus ke siswa jabrik berkacamata itu. Kedua alis Naruto naik, memberikan pandangan bertanya.

"Kembali kan buku catatan Biologiku."

Kalimat tadi nyaris membuat Naruto tersedak. Ia lepaskan ujung botol dari bibirnya dan menggerutu. "Hah? Bukannya sudah kukembalikan?"

"Belum." Jawabnya datar. Dan tentu hal itu membuat Naruto bergidik. Shino pasti lagi marah.

Mengetahui bahwa dirinya memang berbohong—soal kalimatnya yang tadi—Naruto melan ludah. Dia berupaya keras untuk mengingat-ingat di mana terakhir kali ia letakan buku catatan tebal milik Shino saat beberapa hari yang lalu. "Ng... di mana ya?"

"Cepat kembalikan. Sekarang."

Naruto mendengus. "Hei, santai... kalaupun aku meninggalkannya di ruang Biologi, paling sehari dua hari tak akan hilang begitu aja."

Iya—jika tidak ada cleaning service yang membuangnya ke tong sampah.

"Naruto..."

"Apa lagi?"

Telapak tangan Shino terulur di depan wajah pemuda eksis itu. Aura hitam keluar dari kedua mata tajam di balik kacamata bulat Shino . "Kembalikan, atau..." Ia memberi jeda. Diam-diam Naruto menelan ludah. "Kau tak akan kuberi contekan lagi. Seumur hidup."

"Oke, fine! Akan kuambil!" Dengan sweatdrop sebesar biji jagung ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi—pose menyerah. Ia pun berlari keluar aula dan menuju lift. Untung dirinya telah menyelesaikan pemeriksaan rutin ini, jadi tak akan ada guru yang marah apabila melihatnya pergi.

. . .

"Ah, dasar Aburame sial. Si kutu buku itu memang sepantasnya hidup sendirian di dalam hutan. Dia tidak cocok untuk bersosialisasi."

Gumaman pelan itu dikeluarkan begitu saja oleh Naruto saat pria berambut pirang itu memasuki lantai 14, tempat di mana ruang Biologi kelas 12 berada. Dirinya melangkah pelan, sebab tak ada alasan untuknya berjalan cepat-cepat sehingga bisa mengembalikan catatan siswa penggila serangga itu.

Krrtt~

Dia berhenti sebentar. Naruto menghela nafas dan kemudian menyentuh perutnya yang mengeluarkan bunyi-bunyi aneh. "Argh, sial. aku lapar..." Dia tolehkan wajahnya ke samping. Coba saja ada kantin yang saat ini berada di sebelahnya. Namun sayang yang saat ini berada di hadapannya hanya ruang Bahasa... yang kuncinya masih menancap di sana.

Pria itu mendesah ringan.

"Cleaning service lantai ini kebiasaan malas." Ujar Naruto, tak tau diri—padahal dirinya juga pemalas. Namun karena ia merasa tak ada urusan dengan semua itu, ia memutuskan untuk melewati ruang bahasa begitu saja. Sedikit lagi sampai ke ruang Matematika.

Brakh!

"K-Kamu siapa?"

Suara dadakan itu membuat Naruto terlonjak kaget. Sambil mengernyitkan mata ia menoleh ke belakang. "Hah, itu apaan sih?"

Brakh!

"A-Apa ada orang di luar sana?"

Naruto bukanlah orang yang penakut, namun suara yang bergetar itu sedikit membuatnya merinding. Tentu saja ia kaget. Suara lirih itu muncul di saat dirinya merasa sendirian di lantai yang lagi tak berpenghuni ini. Ia memundurkan langkah dan menyahut. "Hei, kau siapa?"

"Ah, a-ada orang..." Suara itu semakin terbata. Dapat terdengar isakan dari sana. "Ini a-aku... Hinata Hyuuga. Siswi kelas 11."

Di detik itu juga Naruto terbelalak.

Hinata yang saat ini terduduk di balik pintu menghapus air matanya. Ia mengadah. "A-Aku terkunci di ruang bahasa—hiks. Ja-Jadi aku..."

Cklek.

Brakh!

Kali ini suara itu berasal dari gebrakan pintu yang dibuka kencang oleh seseorang. Hinata mengangkat wajah. Iris lavender yang masih berkaca-kaca menatapnya dengan raut wajah terkejut. Di hadapannya sudah ada seniornya, Naruto Namikaze. Pria itu sama; menunjukkan keterkejutan yang serupa.

"Kau kenapa bisa di sini...?"

Sebisa mungkin Hinata menahan air matanya yang sudah kering agar tak lagi keluar, tapi dirinya tak sanggup. Tanpa sadar matanya menyipit secara otomatis. Linangan air mata kembali menjatuhi pipinya yang teramat sangat memerah.

"Na-Naruto-senpai..."

Suara itu mengalun dengan penuh rasa bahagia.

Segeralah Naruto berjongkok dan menggenggam tangan halus milik gadis Hyuuga itu. "Jawab, Hinata. Kenapa kau bisa terkunci di sini? Ini perbuatan siapa? Apa jangan-jangan Sasuke—?"

Brukh!

Kalimat itu tersela akibat pelukan yang mendadak Hinata berikan kepadanya. Sebuah pelukan erat, yang bahkan membuat Naruto harus menahan dirinya di lantai agar tidak terjungkal ke belakang.

Hinata tak punya pikiran lain. Ia benar-benar senang ada Naruto yang menolongnya. Dia sudah nyaris 5 jam terkunci di sana—dari jam 07.30 ke 14.00—dan hal itu membuatnya ketakutan. Secara dilihat dari jadwal belajar asrama ini, Sabtu dan Minggu—besok dan besok lusa—adalah hari libur. Jika saja ruangan ini baru dibuka saat Senin, mungkin ia akan ditemukan sudah tak bernyawa karena kelaparan dan dehidrasi akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata. Maka dari itu saat ini Hinata menangis sambil membenamkan wajahnya ke dada Naruto. Tangannya tak sungkan lagi untuk mencengkram kencang seragam pria itu di bagian punggungnya. Naruto pun perlahan-lahan mengerti kondisi Hinata. Terbaca jelas dari semua ini, Hinata baru saja mendapatkan pem-bully-an dari seseorang yang entah siapa. Segeralah ia menghembuskan nafas panjang dan melingkarkan tangannya ke kepala gadis itu. Ia menunduk, mengecup pelan ubun-ubunnya.

"Tenang... ada aku di sini..."

Hinata masih menangis, dan Naruto membelai pelan punggungnya. Hal itu berlangsung lama. Sampai setelah beberapa menit terlewat dan isakan Hinata mulai mereda, pria itu sedikit terkekeh pelan.

"Tumben kau mau memelukku seperti ini..." Ia berbisik di telinganya. "Apa aku membuatmu nyaman?"

Bukh.

Mendengarnya, masih dengan lelehan air mata yang tak ada habisnya, Hinata mendorong tubuh Naruto. Tubuh mereka yang semula bersatu kembali terpisah oleh sekat yang berjarak sejengkal. Hinata pun membuang mukanya, menyembunyikan wajah memerahnya yang kacau. Lalu dia segera menggeleng cepat.

"M-Maaf... a-aku tadi ketakutan... j-jadi aku tidak sengaja... semacam refleks..."

"Sudahlah." Naruto tertawa pelan. Ia buat wajah Hinata kembali terangkat mengarahnya. Ia menatap wajah cantik itu dan menghapus sisa-sisa air mata yang membekas di pipinya. "Tidak perlu alasan..."

Tangisan Hinata memelan. Meski kedua bahunya masih sering berguncang akibat isakan kecil yang ia keluarkan, ia berusaha menggigit bibirnya sendiri, berusaha sebisa mungkin untuk tegar di saat-saat seperti ini. Ia tidak boleh cengeng. Ia sudah menangis terlalu banyak di depan pria itu.

"Sekarang... bisa kau jelaskan kenapa kau bisa di sini?"

Hinata menelan ludah. Dia pandangi lurus-lurus sapphire indah milik Naruto dengan tatapan sedih. "A-Aku tidak tau... mungkin aku dibenci..."

Naruto memusnahkan senyumnya. "Kenapa kau beranggapan seperti itu?"

"Karena... mereka tidak suka melihatku dengan Naruto-senpai..." Setitik air mata kembali mengalir dari sudut mata kanannya.

"Apa ada yang bilang seperti itu kepadamu?"

Hinata terdiam

"Siapa? Siapa yang melakukannya?"

"Tidak. Tidak apa..." Hinata menggeleng. Keseriusan Naruto semakin membuatnya takut untuk jujur. Setaunya mengadu hanya akan membawa masalah lain. "Kalau b-boleh meminta, aku hanya ingin... Senpai menjauhiku saja."

"Apa?" Alis Naruto bertautan. "Kenapa aku yang harus menjauhimu?"

"Karena Naruto-senpai hanya mempermainkanku juga, kan?"

Kalimat yang padat, singkat dan... menusuk. Naruto semakin terheran dan Hinata pun berpaling.

"Apa?"

"S-Senpai hanya mendekatiku karena m-main-main... dan tanpa Naruto-senpai sadari, Senpai telah mengundang yang lain untuk membenciku..." Gadis berponi rata itu semakin diselimuti oleh pemikiran negatif. "Ah, a-atau mungkin... Senpai memang sengaja? Supaya bisa melihat adik kelas m-menyebalkan sepertiku disiksa—

"Jangan bicara seperti itu!" Intonasi pria itu naik dua oktaf. Iris biru itu memandang tajam Hinata yang ada di hadapannya. "Kau adalah satu-satunya gadis yang kuperhatikan di asrama..."

"Aku... t-tidak percaya." Hinata melemas.

"Aku berani bersumpah." Naruto menghela nafas kesal. Pandangannya kian serius. "Aku mencintaimu."

Hinata tersentak. Iris lavendernya menatap lurus safir Naruto. Wajah pria tampan itu mencerminkan keseriusan yang mutlak.

"Aku benar-benar mencintaimu."

Kalimat itu diulang, memberikan sensasi yang lebih mendebarkan di jantungnya.

"T-Ta-Tapi aku—enh!"

Suara Hinata tersumbat oleh bibir Naruto yang terlebih dulu menciumnya. Wajah pria itu sengaja dimiringkan, sedangkan kepala Hinata mundur dengan sendirinya. Hinata berniat melepaskan ciuman Naruto yang nyaris membuatnya meledak ini, namun sudah ada tangan Naruto yang memeluknya, memperdalam ciuman mereka berdua.

"Nh!"

"Mnhh!"

Decapan yang terdengar pelan dan menggoda itu terus keluar. Lidah Naruto bermain, giginya juga aktif menggigiti bibir bagian bawah Hinata yang sangat manis kalau disentuh. Tapi entahlah, sepertinya Naruto tak pedulikan ringisan yang keluar dari seorang Hinata Hyuuga yang belum terbiasa akan hal ini. Ia mendesah tertahan. Tangannya terus meminta Naruto untuk di lepaskan. Hanya saja tenaganya telah habis. Ia lemas, apalagi dengan segala sensasi lembut yang ia rasakan.

"Engh!"

"Ah!"

Bukh.

Akhirnya Hinata bisa memukulnya. Pelan tapi bertubi-tubi—tanda bahwa gadis itu juga membutuhkan pasokan oksigen untuk bernafas. Namun Naruto malah menggunakan momen istirahat itu agar dapat memutar posisi Hinata. Ia dorong punggung Hinata ke pintu dan membelai wajah Hinata yang sudah memerah dengan jemari tangannya.

Saat ini pipi Hinata benar-benar terasa panas seperti terbakar. Matanya sayu dan berair, sementara itu bibirnya merah merona dan berkilat oleh air liurnya.

"Kau suka?"

Naruto berbisik. Manik lavender itu bergerak ke arahnya. Lama.

"N-Naru..." Hinata memanggil namanya, lembut.

"Hh..." Nafas Naruto memberat. Melihat wajah Hinata yang sangat defenseless itu benar-benar membuatnya kelepasan. Bagian tengah celananya menyempit sampai membuat nyeri. "Kau cantik..." Naruto menempelkan bibirnya ke pipi si Hyuuga. Bisikannya terlepas dan dia berikan sebuah ciuman sebagai tambahan. "Kau sangat cantik..." Lidah Naruto keluar. Ia menjilat permukaan pipi kanan Hinata yang begitu tembam dan menggemaskan. Tak jarang juga pria itu menggigiti kecil bagian wajah yang satu itu sampai Hinata-nya sendiri mengeluarkan erangan kecil yang menggairahkan.

"Na-Naru... jangan j-jilat..."

Deru nafas dan kecupan mereka terus terdengar tanpa henti, menwarnai suasana ruangan Bahasa yang benar-benar sepi tak berpenghuni ini. Terlebih lagi ketika Hinata sama sekali tak bisa bereaksi apa-apa. Entah karena dia sendiri menikmatinya atau memang tak sadarkan diri akibat terlalu gugup—tidak ada yang tau.

"Ngh..."

"Anh..."

"Uhh... S-Senpai..."

Yang jelas Hinata cuma bisa pasrah dan mengeluarkan lenguhan saat lidah Naruto berjalan turun. Tepatnya ke arah lipatan lehernya. Ia memejamkan mata dan mengadah. Ia rasakan segala sensasi yang pertama kali menjalar di dalam dirinya.

Dan karena itu jugalah Naruto jadi gelap mata.

"N-Naru... j-jangan ke... b-b—ahh! J-Jangan ke bawah!"

Tak terasa telapak tangan tan Naruto meraih bagian tubuh Hinata yang paling depan. Dia meraba kedua bukit yang ada di balik kemeja itu dan membelainya. Dan benar saja, seperti dugaan Naruto, dada itu lembut dan besar. Membuatnya benar-benar bergairah untuk meremasnya.

"Se-Senpai... t-tidak..."

Suara, reaksi, refleks, respons itu... semuanya... membusan nafas Naruto semakin cepat. Ia hafal kalimat itu—sebuah penolakan 'malu-malu tapi mau'. Ia yakin kalau Hinata juga senang dan menginginkan semua perilakunya tanpa henti. Kalimat yang dia ucapkan hanyalah penjaga gengsinya semata.

"Ah..."

"Hhn..."

Karena itulah Naruto menarik tubuh Hinata. Membiarkan Hinata duduk di pangkuannya, membiarkan bagian selangkangannya bisa menggesek pelan tubuh bagian bawah Hinata yang masih memakai rok seragam.

Hinata yang kini wajahnya telah dipenuhi oleh semburat merah itu berusaha sekuat tenaga menahan sensasi-sensasi aneh di dalam dirinya itu. Dimulai dari ciuman, lidah di leher dan belaian di dada. Ia baru pertama kalinya diperlakukan seperti itu dan sangat menyukainya. Maka dari itu suara tersebut terus keluar dari pita suaranya secara otomatis.

Sebenarnya Hinata ingin sekali menghentikan perbuatan haram Naruto kepadanya. Namun itu sepertinya tak bisa. Untuk membuka mata ia sudah kesulitan, lalu bagaimana ia bisa punya tenaga supaya menahan segala pergerakkan Naruto?

Set.

Hinata terkejut saat Naruto melepaskan dirinya secara dadakan. Dan ketika ia mengintip dari sela kelopak matanya, dapat ia lihat pria itu sedang melepaskan kaus olahraganya. Menampilkan dada berbidangnya yang berwarna tan dan seksi. Saat itu Hinata tak bisa menahan diri. Dia ketakutan, tapi tak ada sepatah kata pun yang berhasil ia keluarkan. Dirinya hanya memperhatikan Naruto yang mulai melepaskan kaitan kancingnya dengan tatapan gentar.

Apa yang... Naruto mau lakukan kepadanya?

Permasalahan itu terus dipikirkan Hinata. Dan akhrinya dia mengadah dan menyaksikan secara langsung Naruto yang tengah melepaskan seragam kemejanya sendiri. Dirinya sudah setengah telanjang di depan pria itu. Dadanya yang hanya terpasang bra sempit itu semakin menggodanya untuk lepas kendali.

Bersama nafas Naruto yang terdengar keras, jari-jari pria itu melepas salah satu tali branya. Membuat dadanya menjadi terekspos bebas.

"Tubuhmu... indah, Hinata..."

Pria itu memberikan pujian, memuji tubuhnya yang begitu indah di matanya. Hidungnya mengedus permukaan kulitnya yang halus dan wangi. Sontak semua itu membuat Hinata nyaris memekik. Hanya saja... Hinata merasa ada yang kurang. Entahlah apa. Ia tidak tau. Sambil membiarkan salah satu bra-nya mash menutupi dadanya yang lain, Naruto kini beralih. Tangannya membelai puncak dadanya yang langsung menegak kala disentuh olehnya.

"Ahn..."

Tubuh Hinata bergetar pelan saat ada sebuah lidah yang menyentuh pelan dadanya. Kedua matanya terpejam. Desahan panjang keluar saat ia menerima kecupan maupun hisapan dari mulut Naruto. Tubuhnya menggeliat geli.

Dan kini otaknya berpikir. Keras.

"Hng, N-Naruto-senpai!" Ia mendadak menjerit. Kepala Naruto yang mendesak dada besarnya pun ia jambak. "He-Hentikan!

Naruto yang saat itu mengira Hinata mulai bergairah pun kian bersemangat memasukkan puncak dada Hinata yang tegang itu ke dalam mulutnya. Ia sentuhkan berulang-ulang ujung lidahnya ke gumpalan daging sensitif milik Hinata.

"Hentikan! Uhng! Ahh! T-Tidak!"

Nafas Naruto memburu. Celananya semakin sempit.

Hisapan, kecupan, gigitan... semua itu berpadu menjadi satu dan membuat Hinata seolah melayang ke sebuah tempat. Desahan itu keluar seiring keras atau tidaknya Naruto melumat dadanya. Ia sudah tak sanggup lagi untuk membuka mata.

Semua ini terlalu nikmat untuk dicegah.

Dia paksa lagi bra Hinata yang lain untuk terbuka. Lalu setelah bra itu terkoyak dan menggantung turun, kepala Naruto beralih. Baru saja ia akan melahap puncak dadanya yang masih kering, tangan Hinata mendadak mendorong lehernya. Kencang.

"Uhk!" Naruto meringis. Tangannya memegangi permukaan lehernya. "Kau ini... kenapa sih?"

Hinata menyandarkan punggungnya ke tembok. salah satu tangannya menutupi dadanya yang basah, sedangkan satunya lagi ia gunakan untuk menyeka air matanya yang keluar.

Naruto terkejut. Baru ia sadari kalau dari tadi Hinata menangis.

"Kenapa... Senpai lakukan ini?"

Naruto tak bisa berkata-kata. Baru kali ini... ada perempuan yang menolak bercinta dengannya.

"Aku... ingin menunjukkan kalau aku mencintaimu—"

"Bisa menunjukkan apa!?" Dengan kedua mata yang terpejam rapat, gadis itu berteriak. Sekalipun keringat mulai bercucuran dan jantungnya terus berdegup cemas, ia merasa puas telah mengeluarkan kalimat tadi. Bukti cinta Naruto tidak bisa diukur dari sentuhan-sentuhan yang dia berikan kepadanya. Tidak bisa dan Hinata tidak mau.

"Memangnya..." Nadanya memelan. Ia kembali menangis.

Kalau memikirkan tentang ini... rasanya terlalu menyesakkan.

"M-Memangnya sudah berapa perempuan yang pernah Naruto-senpai bodohi dengan kalimat tadi? Itu hanya trik rayuan yang Senpai pakai untuk mengajak s-seseorang... melakukan 'itu', kan?"

Skakmat.

"A-Aku yakin... kalau a-aku cuma salah satu dari puluhan korban Senpai..."

Naruto menahan nafas. Semua itu membuat dirinya tertohok. Sebab memang itulah kebenarannya. Ia merupakan seorang pria playboy yang sering melakukan seks dengan sembarang siswi di asrama. Bahkan ia juga sering melakukan one night stand bersama orang yang tak dikenal. Asal gadis itu mau menyerahkan tubuhnya kepada Naruto, pria itu dengan senang hati melayani. Dan tak jarang gombalan itu keluar sebagai pelengkap hubungan satu malam tersebut.

Naruto menelan ludah. Ia terdiam.

Tapi seingatnya sejak mengenal Hinata dia telah berubah. Ya, tanpa ia sadari, kefokusannya dalam mengejar Hinata Hyuuga membuatnya tak pernah lagi melakukan hal-hal seperti itu. Hinata tak berani berpandangan lagi dengan Naruto. Mungkin sekarang pria itu sudah menatapnya sebagai wanita jalang yang tak tau diuntung. Diberi kebaikan sedikit, malah minta dicintai sepenuh hati—tamak. Padahal dia seharusnya sudah bersyukur masih ada idola sepertinya yang sudi menyapanya atau bahkan melakukan kontak fisik bersamanya.

"A-Aku sudah selesai di sini..." Hinata memejamkan mata. Tangannya yang bergetar membenahi seluruh pakaian yang sempat dilepaskan oleh Naruto darinya. Hatinya terlanjur sakit. Ia harus pergi sebelum dirinya kembali memasuki perangkap seorang Namikaze Naruto yang berbahaya.

Naruto menatapnya dengan tatapan nanar. "Hinata, aku—"

"Terima k-kasih karena telah membuka pintu ini, S-Senpai..." Ia menyela dengan susah payah dan berdiri. "Selamat tinggal."

Dan di ruangan Bahasa, tertinggal Naruto yang masih terdiam di tempatnya.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Sansan's Note :

Lagi-lagi aku terlambat update, ya? Oke, maaf. Mohon dimaklumi karena di tahun 2013/2014 ini adalah masa-masa tersibukku. Tapi aku akan menjamin 100% untuk menamatkan fict ini. Doain aja chap depan lebih cepet keluarnya :)

.

.

Super Thanks to :

velovexiaa, langitmerah31, molika-chan, Red devils, Manguni, aiko, Kaname Mizutani, LavenderBlueSky, Dilaedogawa12, NaruHina shipper, hyunkjh, anzuka16, Guest, Rhe Muliya Young, dlestari12, Inoue Kazeka, stillewolfie, gece, Princess Love Naru Is Nay, Kaoru Mouri, chan, naabaka, Sabaku no Sarang, ShinRanXNaruHina, hime-chan1301, Joshey Kaname, Haniuda-Hime, My review, NaruGankster, Lactobacilluss, onpu azuka, ochideeumi, Zaoldyeck13, Jun30, SANG GAGAK HITAM, mamamiaoZumi, Dark dhonih, Guest, Hokage, redevil, amu, Khufhu EnDie, chika, aizy-evilkyu, chrizzle, Hyugazumaki, Guest, Nh-l, tthe wind, Guest, Waney, K, bala-san dewa, astia morichan, Aichan hime, Nata-chan, LL, Guest, Guest, HiSa Pyon, Guest, Hanamiru, Guest, Yourin Yo, Misti Chan, Kamikaze, Hokage, Guest, Guest, Guest, Tinker Bell Lulu, Guest, Guest, NindaPrime, Guest, Guest, ck mendokusei, Guest, Karuki Lupa Kata Sandi, Flamer, Guest, GraceAnnesh, Eannie'thecast, Guest, Merindukanmu, Guest.

.

.

Frequently Asked Questions :

Update-nya lama. Akan diusahakan lebih cepat :) Kurang suka sama Sasuke yang jahat. Ahaha aku suka. Lemonnya kapan? Lime dulu ya. Pelan-pelan. Hinata-nya kayak cewek murahan. Pendapat aku pribadi sih ngga. Soalnya dia ngga nyerahin diri secara suka rela. Tapi hmm ya terserah pandangan readers sih. Pokoknya IMO Hinata bukan murahan. Neji bakal bikin ulah? Mungkin. Sasuke ngga muncul lagi? Dia lagi diskors dulu. Aku takut pairing-nya SasuHina. Aku kan udah nentuin pairing-nya. Handycam 2 kapan, ya? :| First lemon-nya sama Naruto, kan? :) Hinata dikelilingin 3 cowok keren. Kiba juga berperan loh. Kapan-kapan bikin fictlet SasuHina dong. Aku ngga bisa bikin fictlet. Tapi kalo fict rating T SasuHina aku pernah bikin di akun lain. Aku SHL tapi aku lebih dukung NaruHina di sini. Thanks :) Kasihan Hinata di-bully terus. Kalo ujung-ujungnya cinta sih aku ngga masalah haha. Chap 6 pendek. Chap 7 panjang nih. Jangan ada pairing Sasuke sama yang lain. :)

.

.

Next Chapter :

"Senpai... bukanlah pria baik yang pantas dicintai..."

"Hei, sudahlah, Inuzuka! Mereka ini perempuan!"

"Jelaskan apa yang terjadi kepadaku, maka aku akan membantumu mencari Hinata."

"Ne-Neji-nii... a-apa yang kau berikan padaku?"

.

.

I'll pleased if you enter your comment

Mind to Review?

.

.

SANSANKYU