Orange Peel
by Ohandeer
HunHan GS! for Uke.
Go out if you don't like
No bashing esp Cast.
No copy, this is own.
.
.
.
.
.
Terlihat dari raut wajah Luhan saat ini ia bingung, ia sempat melihat Sehun yang menyuruh Gyuri pulang dan ketika mereka sudah selesai dengan pembicaraan tersebut Luhan buru-buru berbaring lagi memunggungi pintu kamar Aleyna. Ia bingung karena apa yang harus di lakukannya lagi setelah ini? Ia sudah menjenguk Aley bahkan sekarang sudah tertidur pulas, belum lagi Sehun juga sudah datang. Baiklah ada baiknya ia pulang sekarang juga, atau memberitahu direktur tersebut tentang penyetujuannya untuk ke London. Ia sudah memikirkan hal ini, dan tentunya hal seperti ini bukanlah sesuatu yang bersifat main-main. Tidak ada yang bisa menahannya lagi disini, ingat?
Hal tersebut juga mempermudah bagi Luhan mengambil keputusan seperti ini. Luhan juga akan berusaha menjelaskan sebenarnya, tidak mau semuanya menjadi masalah yang begitu besar hanya karena masalah ini. Luhan mengerti bagaimana perasaan Sehun melihat putri satu-satunya menangis, ia tidak tega akan hal itu, begitupun juga Luhan. Luhan beranjak dari kamar Aleyna, berniat menemui Sehun. Tidak peduli jikalau Sehun tidak mendengarkannya barang seincipun, ia akan tetap berbicara. Luhan tahu ini kesalahannya, tetapi tidakkah Sehun sadar kalau perlakuannya terhadap Luhan terlalu berlebihan sampai seperti ini? Overprotective terhadap anak memanglah jelas, tetapi kan ini semua bisa dibicarakan dengan baik-baik. Tidakkah Sehun mengerti itu semua?
Luhan menghampiri Sehun yang sedang berada di balkon dengan segelas teh hangat di tangannya, Sehun belum menyadari kehadiran Luhan di belakangnya.
Sampai Luhan berdeham ia baru membalikkan badannya, dan menatap Luhan. Dan Luhan pun mulai mengutarakan apa yang ingin ia bicarakan.
"Sebelumnya aku minta maaf atas kejadian kemarin, itu hanya sebuah masalah yang tak sengaja Sehun". Sehun hanya diam masih dengan memandangi objek cantik didepannya saat ini, Luhan bersyukur bahwa Sehun tidak menyelanya.
"Aku tahu kau kecewa sangat, aku juga menyesal sungguh". Bahkan Luhan sedang kehabisan kata-kata saat ini, salahnya sebesar apa ia juga tidak terlalu mengerti sehingga ia meminta maaf apa adanya. Berharap Sehun akan mengerti dirinya. Setiap berbicara dengan Sehun, Luhan merasa gugup. Ada getaran yang menggeluti seluruh tubuhnya, ditambah dengan sorotan mata tajam yang dimiliki Sehun seperti membuatnya tidak bisa berkutik.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan". apa yang Sehun tanyakan Luhan juga tidak mengerti.
"Meminta maaf padamu?".
"Maksudku kemarin". Oh, itu. Haruskah menjawab jujur dengan Sehun? Baiklah,
"Aku kemarin dapat panggilan ke kantor Kementerian".
"Untuk apa?".
Tidakkah Sehun seperti sedang mengintimidasi sang istri?
"Untuk.."
"Ayah?". Aleyna menghampiri mereka berdua, ia merasa haus dan terlihat masih mengantuk dengan sebelah punggung tangannya mengusap-usap ke mata. Mendapati ayahnya dan Lulu ssaem disini membuat Aleyna senang.
"Apa yang kau butuhkan sayang?". Tanya Sehun mensejajarkan tingginya dengan Aley.
"Aku haus ayah". Jawabnya dengan suara yang masih parau, efek dari keadaannya yang belum pulih benar.
"Tunggu disini". ucap Sehun dan berniat untuk mengambil segelas air putih, ia juga melewati Luhan begitu saja. Dan sedari tadi Luhan hanya diam melihat percakapan mereka berdua, ketika pandangannya bertemu dengan Aleyna, ia tersenyum. Tidak dapat di pungkiri perasaannya ketika melihat Aleyna, ia merasakan tidak ingin berpisah, seakan seperti menggoyahkan keputusannya.
Senyum Luhan luntur ketika lagi-lagi Sehun melewatinya begitu saja ketika kembali mengambil air untuk Aleyna. Lebih baik ia pulang sekarang.
"Kau pikir kau mau kemana". Sahut Sehun begitu saja, ia menyadari gerak-gerik Luhan seperti ingin pulang secara diam-diam.
"Pulang tentu saja". Ucap Luhan kikuk, memangnya ia tidak boleh pulang?
"Kau bahkan belum menjelaskan yang tadi". Kenapa Sehun menjadi tipikal orang yang membuat pertanyaan? ataupun pernyataan dengan ambigu.
Sehun menoleh pada Luhan saat tidak ada suara yang menjawab. Aleyna yang sedang masih minum hanya memperhatikan kedua orang dewasa ini dengan tidak mengerti, mereka kenapa sebenarnya? Mereka sudah baikkan kan? Atau belum?
"Jawabanmu tertunda saat Aley bangun".
"Aah itu, baiklah lupakan saja". Entahlah, tiba-tiba saja ia tidak jadi ingin memberitahu hal ini.
Sehun sebenarnya penasaran, yah tapi dia sekarang cukup gengsi jika menanyakan lebih lanjut terlebih hubungan diantara keduanya sedang seperti ini.
"Aleyna, Lulu ssaem pulang ya. Aley harus cepat sembuh! arra?". Ucapnya sembari mengelus sayang rambut Aleyna.
"Kenapa cepat sekali? Padahal Aleyna ingin lebih lama dengan Lulu ssaem". Aleyna, sepertinya ayahmu punya pemikiran yang sama denganmu. Sehun tidak mencoba mencegah, maksutku memberikan alasan untuk Luhan segera pulang karena nampaknya Luhan memang ingin cepat-cepat pulang. Dan ia juga ingin mendengar alasan apa yang akan digunakan Luhan.
"Ssaem ada urusan sayang, kau cepatlah sembuh. Supaya bisa bertemu lagi di sekolah". Ujarnya dengan senyum yang tentu saja masih merekat di wajah cantiknya, Aleyna itu pintar, juga ia cepat mengerti suatu kondisi dengan cepat. Ia mengerti Lulu ssaemnya ini memang mungkin sedang ada urusan, ia bertekad untuk cepat sembuh. Seperti tidak tahan lama-lama jauh dari Luhan.
"Baiklah, Lulu ssaem, Terimakasih.". Finalnya, dan dengan kurang ajarnya Sehun tidak mengucapkan kata terimakasih seperti anaknya kepada Luhan. Dan Luhan pun pergi dari apartemen mewah itu, ia ingin ke kantor kementerian sehabis ini.
.
.
.
.
.
Byun Baekhyun baru saja di pindahkan ke perusahaan yang lebih besar tetapi masih dengan posisi yang sama, dengan alasan direkturnya ingin istrinya sendiri yang menjadi sekretarisnya. Awalnya Baekhyun tidak terima, bagaimanapun juga ia mendapatkan jabatan sekretaris tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi dengan senang hati dan kerendahan hati, Direkturnya ini menyalurkannya kepada perusahaan APPARK yang menggeluti bidang elektronik, Samsung. Dan Baekhyun dengan sangat jelas mengatakan Ya, hari ini sekitar jam 1 ia akan bertemu langsung dengan direktur dari perusahaan Appark.
Baekhyun datang setengah jam sebelum pertemuan itu dimulai, alasan kenapa direktur langsung menerima Baekhyun karena saat ini ia butuh sekretaris. Sekretaris lamanya sudah mengundurkan diri karena baru saja menikah dan katanya suami si sekretaris itu mau istrinya berhenti saja. Baekhyun ini orang yang konsisten terhadap waktu. Terlebih ia mempunyai sisi kepribadian yang mandiri.
Ia menunggu di sebuah ruangan yang memangnya sepertinya ruangan ini untuk sebuah pertemuan, Baekhyun melirik ke jam tangan yang bertengger manis di tangan kirinya. Dan seketika itu pula pintu terbuka menyuguhkan sosok pria tampan, tinggi, dan—tunggu. Baekhyun pernah menemui orang ini, sungguh.
Tak jauh beda dengan Park Chanyeol, ya ialah direkturnya. Tentu juga ia sudah hapal dengan wanita yang berada dihadapannya saat ini, alasan Park Chanyeol langsung menerima karena ia ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita yang beberapa waktu lalu tidak sengaja tertabrak oleh mobilnya. Ia memang butuh sekretaris, tetapi ia akan memilih-milih tentu saja. Tidak membiarkan sembarangan orang untuk mendapatkan posisi sebagai sekretaris begitu saja.
Baekhyun reflek berdiri sekian beberapa detik lamanya ia terdiam, merutuki kebodohannya yang belum lama ini pernah mengumpat pada direkturnya sendiri. Ah masa bodo, ia pura-pura tidak tahu saja. Toh, lagi pula direktur barunya ini belum tentu mengingatnya. Yakan? Begitulah pemikiran Baekhyun, padahal Chanyeol sendiri sangat hapal.
"Annyeonghaseyo, Park-Jangnim. Byun Baekhyun imnida". Memperkenalkan diri dengan se-sopan mungkin.
Chanyeol masih diam tak bergeming, namun ia juga diam-diam menahan tawa geli. Hei, kemana Byun Baekhyun yang waktu itu mengumpatnya? Mengapa sekarang jadi kalem seperti ini. Apa yang Baekhyun makan hari ini.
"Hmm nona Byun, apa kau benar-benar siap menjadi sekretarisku?".
"Tentu". Sebenarnya Baekhyun juga bingung dengan pertanyaan seperti itu, mana mungkin ia sedari tadi disini- yah sebenarnya Baekhyun sendiri sih yang ingin menunggu disini dari tadi- hanya untuk berdiam, atau numpang AC? Tidakkan. Ia pasti sudah sangat siap menjadi sekretaris di tempat yang berbeda, membuat Baekhyun mempunyai pengalaman lebih.
"Baiklah, kau mulai jam 7 pagi kau harus sudah ada di ruanganmu". Begitulah ucap Chanyeol sebelum melangkah pergi, dan Baekhyun bersyukur atas itu karena ternyata Chanyeol benar-benar melupakannya.
"Oh ya, nona Byun! Apakah kakimu sudah sembuh?",
Jderrr, seakan Baekhyun ingin mengubur wajahnya yang merah padam saat ini.
.
.
.
.
Luhan sedang bernegosiasi tentang kepindahannya untuk mengajar di London, Luhan memutuskan untuk menerima penawaran ini. Tadi sehabis dari apartemen Sehun ia buru-buru kesini untuk memberi tahu bahwa ia menerima, tidak ingin keputusan yang sudah dipikirkannya goyah hanya karna Oh Sehun dan Aleyna. Luhan bernegosiasi perihal waktu kapan ia siap, begitu banyak perdebatan karena direktur yang satu ini seperti terlalu memaksakan keinginannya. Luhan tentu saja tidak mau. Tadinya direktur ini memintanya untuk berangkat lusa, tetapi Luhan menolaknya. Ia butuh waktu sekitar dua minggu untuk mengurus keberangkatannya. Dan dengan berat hati tetapi tetap mengikuti kata Luhan, ia menurutinya saja. Toh, Luhan juga sudah menerima ini semua. Luhan juga ingin dua minggu tersisa ini mengunjungi keluarga di china, bermain bersama Aleyna dan benar-benar akan berbicara dengan Sehun supaya hubungan pertemanan mereka –Sehun dan Luhan- dapat terjalin dengan baik seperti sebelumnya.
.
.
.
.
.
Sehun melihat Luhan keluar dari kantor kementerian luar negeri itu, dilihat dari tatapan Luhan yang kosong. Ia sengaja memang mengikuti Luhan, Aleyna juga di ajak bersamanya. Sehun bilang ada urusan, tentu Sehun juga tidak tega meninggalkan Aleyna sendiran dirumah. Anaknya juga sekarang sedang tertidur di kursi belakang dengan nyenyak.
Entah apa yang dilakukan Luhan, Sehun tidak tahu sama sekali. Ia berniat juga ingin menemui Luhan dan meminta maaf karena tindakannya juga salah, terlihat seperti kekanakkan sekali. Sehun menepikan mobilnya di pinggiran halte bus yang mana didapati Luhan sedang menunggu bus. Sampai Sehun keluar pun Luhan masih tak bergeming, tak menyadari kehadiran Sehun yang bahkan sekarang sudah duduk disampingnya. Sampai suara Sehun membuyarkan semuanya, semua lamunan Luhan.
"Apa yang kau lakukan di kantor itu Lu?".
Reflek, Luhan menoleh dengan cepat ke arah kiri dan sudah ada wajah tampan Sehun yang juga menatapnya. Bagaimana Sehun bisa disini?
"Maafkan aku, aku salah. Tindakkan ku ini benar-benar kekanakkan sekali, benarkan?". Luhan masih diam, membiarkan Sehun berbicara apa yang ingin ia katakan.
"Maaf sudah mendiamkanmu, kau tahu? Aku seperti tidak bisa berdiam diri denganmu lama-lama meskipun aku sempat kecewa denganmu. Maukah kau memaafkanku?".
Ada rona samar di wajah Luhan ketika mendengar Sehun yang berkata ia tidak bisa lama-lama berdiam-diaman dengan Luhan.
"Apakah kau meminta maaf dengan tulus?".
"Tentu saja, apa maksutmu?".
"Aku pikir, kau hanya meminta maaf karena Aleyna yang menyuruhmu".
"Aleyna memang menyuruhku melakukan hal ini, meminta maaf padamu. Tapi jauh sebelum ia menyuruhku aku berinisiatif untuk meminta maaf padamu. Karena aku tahu masalah seperti ini seharusnya tidak terlalu dibesar-besarkan".
"Aku memaafkanmu, kau juga memaafkanku kan?".
"Tentu saja cantik".
"Oh ya aku masih ingin tahu kenapa kau ke kantor itu?".
Baiklah mungkin ini saatnya,
"Aku akan ke London untuk mengajar disana. Aku punya waktu 2 minggu lagi disini".
"T tapi kenapa Lu?". Sehun merasa kecewa lagi, apakah ia akan berpisah dengan Luhan..?
"Tidak apa-apa Sehun, ini juga kesempatan kan buatku? Aku ingin lebih berpengalaman lagi, aku ingin menjadi seseorang yang profesional. Ini bukan tentang materi, aku tahu mungkin gaji disana lebih besar. Tidak, aku tidak memikirkan materi. Aku juga sudah memikirkan ini secara benar".
"Berapa lama kau disana? Apakah kau akan kembali?". Tanya Sehun dengan cepat, ia benar-benar tidak mau berpisah dengan Luhan.
"Tentu saja aku akan kembali hun, ini hanya kontrak. Kau tenang saja, aku hanya sekitar satu tahun saja disana".
"Tidakkah kau tahu aku pasti sangat merindukanmu". gumam Sehun dengan tidak jelas,
"Kau mengatakan sesuatu?".
"Aah tidak tidak, ah ya apa yang kau lakukan selama 2 minggu ini?".
"Mengurus kepindahanku tentu saja, dan pulang ke China untuk beberapa hari. Kalau bisa aku juga ingin bermain bersama Aleyna, bolehkah?
"Kalau begitu besok kita bermain saja, bagaimana? Aku akan mengosongkan jadwalku, aku janji. Aleyna pasti juga sangat senang". Ujarnya dengan semangat
"Tidak bisa begitu, Aley masih harus sekolah besok. Begitupun juga aku punya tugas mengajar. Weekend saja bagaimana?".
"Hmm baiklah".
.
.
.
TBC
pokonya aku minta maaf, aku ga bisa ngetik lama-lama alhasil tiap chapter pendek. dan tanganku udah gatel pengen cepet-cepet publish, ga enak juga buat kalian nunggu yakan. Kan aku udah bilang review kalian bikin aku semangat ngetik.
Fic ini mungkin sekitar 4 chapter lagi end, gak bakal panjang-panjang hehe. Yah liat aja ya gimana kedepannya.
review?
