Main cast : Luhan , Sehun , Chanyeol
Main pairing : HanHun , ChanHun
Genre : Psyho , romance
Rated : M
Note : BoyxBoy
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Ma, kenapa mama menangis saat kita keluar dari Kafe itu kemarin ? Apa Lu Han ahjussi menyakiti mama ?"
Sosok kecil itu menatap sang ibu dengan mata polosnya. Mengharap sesuatu yang Sehun sendiri tidak tau.
Emangnya apa yang ia harapkan ?
Selama lima tahun penuh ia menunggu Lu Han dan saat bertemu laki-laki itu kemarin, ada sesuatu di hati kecil Sehun yang memberontak kesakitan.
Ia ingin sekali berteriak kepada Lu Han. ' Hey, ini anak kita berdua. Dia mirip denganmu kan, ge ?'
Ia ingin sekali.
Tetapi seperti ada sesuatu yang mengikatnya.
Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat ia ingin marah kepada sosok itu.
Lu Han seenaknya pergi setelah membuat dia jatuh cinta kepadanya dan meninggalkan kekasih nya.
Dan kini ?
Lu Han ada di depannya bersama wajah tampan yang sok tidak bersalah itu.
Mungkin jika dipikirkan lebih dalam, dirinya lah yang menjadi punca kepada semua kesulitan ini.
Dia bodoh karna jatuh cinta kepada Lu Han saat ada laki-laki yang mencintainya dengan sepenuh hati.
Dia bodoh saat melukai laki-laki yang sudah banyak berkorban untuknya itu.
Dan Sehun hanya mampu berharap, semoga Tuhan mengampunkan kesilapannya.
" Ma ?"
Sehun kembali memfokuskan pikirannya kepada sang anak yang sepertinya menanti jawaban itu.
" Tidak ada apa-apa, Hanse. Mama hanya senang karna Hanse baik-baik saja." Ia mengulum senyuman manisnya. Menarik selimut tebal itu untuk menutup tubuh mereka berdua.
Hanse sepertinya masih tidak berpuas hati dengan jawaban yang dikeluarkan oleh sang mama itu.
" Terus kenapa mama harus menangis ?"
Sehun memeluk anaknya itu. Menepuk-nepuk pelan punggung anaknya. Sesekali mengecup pipi mulus itu.
" Sudahlah. Hanse harus tidur, besok Hanse akan bertemu dengan teman-teman baru kan."
Mendengar perkataan teman baru itu membuat Hanse langsung tersenyum. Melupakan soalan nya barusan.
" Iya, ma. Hanse tidak sabar ingin bertemu teman baru besok. Jaljayo, mama. Saranghae." Kecupan ringan diberikan tepat di pipi Sehun. Sehun hanya tersenyum saat Hanse mengeratkan pelukan mereka. Menenggelamkan wajah nya ke dada Sehun.
Sang ibu mengalunkan lagu, mendayu agar anak itu tertidur. Setelah yakin anaknya sudah terlena, Sehun perlahan melepaskan pelukan mereka. Meletak teddy bear ukuran anaknya itu di sebelah Hanse dan mengelus seketika surai hitamnya.
" Saranghae, nae baby." Ucapnya penuh kasih. Memberi kecupan ke dahi Hanse sebelum bangun dan menuju ke balkon apartemen.
Angin Seoul meniup pelan kulit wajahnya. Membuainya seketika.
Hahh, dia nampaknya baik-baik saja. Apa dia tidak merinduiku seperti aku merindukannya ?
Pertanyaan apa itu ?! Sudah jelas Lu Han baik-baik saja kemarin. Mungkin laki-laki itu sudah tidak mencintainya seperti yang laki-laki itu khabarkan lima tahun yang laku. Mungkin saja.
Bangunlah Oh Sehun.
Kau harus kuat demi Oh Hanse. Sekarang Oh Hanse adalah duniamu. Malaikat kecilmu.
Ia harus kuat dan besok saatnya untuk memulakan kehidupan barunya.
Ia membiarkan Tuhan mengatur segalanya. Membiarkan takdir membawanya.
Karna Oh Sehun hanyalah manusia biasa yang tidak punya kuasa untuk menutup luka di hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lu Han menutup matanya saat mengingati kejadian yang berlaku kemarin.
Kau bodoh, Lu. Kenapa kau tidak bisa menggapai cintamu sendiri ? Kenapa tidak kau luahkan saja yang kau masih mencintai Sehun meskipun laki-laki itu tidak merindukan nya seperti ia merindukan Sehun ?
Kenapa ia tidak pernah mendengarkan isi hati Sehun sebelumnya ?
" Master, beberapa kontrak harus di tandatangani olehmu. Apa aku harus membawanya ke sini atau Master ingin ke perusahaan ?"
Lu Han tersentak dari lamunannya. Ia menjauhi jendela kamar Mansion mewahnya itu. Wajah tampan nya datar dan seolah tiada ekspresi.
" Bawakan ke mari saja. Aku tidak ingin keluar kemana-mana hari ini. Biarkan semua ini selesai dengan cepat agar aku bisa secepatnya pulang ke China lagi."
Jin Hyun menarik nafas panjang. Perlahan ia mendekati sang Master dan berdiri di belakang tubuh yang hampir sama tegap dengannya itu.
" Master, apa kau pernah menjelaskan perasaan mu kepadanya ?"
Kedengaran desahan pelan yang lolos. Ia tidak ingin membicarakan laki-laki yang ia tau tidak akan pernah menjadi miliknya itu.
" Hyun, aku tidak mau membahaskan perkara itu."
" Tidak bisa, Master. Aku cukup diam melihatmu tersiksa untuk lima tahun kebelakangan ini. Dan aku tau hanya dia yang bisa menarik mu dari kegelapan itu. Hanya dia yang bisa menerangi kehidupan mu."
Hening.
Masternya itu tidak menjawab atau membantah sedikitpun.
" Seharusnya Master memberi peluang kepadanya untuk menjelaskan perasaannya. Mungkin saja ia juga mencintai Master. Aku melihat pantulan itu di matanya saat Master memutuskan untuk melepaskan dia lima tahun yang lalu."
" Sudahlah, Hyun. Dia sudah bahagia sekarang. Kau tau, dia punya anak dan itu mirip sekali dengannya. Dan dia sudah cukup bahagia, aku tidak mau membuatnya terluka seperti lima tahun yang lalu lagi."
Jin Hyun menggeleng pelan melihat sikap egois tuannya itu.
" Aku tidak mau Master menyesal lagi. Sudah cukup lima tahun. Berikan dia kesempatan dan aku yakin semuanya akan baik-baik saja."
Lama Lu Han terdiam sebelum menyuruh laki-laki itu untuk keluar dari kamarnya.
" Kau tidak akan mengerti, Hyun."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Jangan nakal saat mama tiada, hmm. Pukul lima petang mama akan datang mangambil Hanse. Hanse akan jadi anak yang baik kan ?" Sehun merapikan tas belakang bermotif pororo itu. Ia tersenyum saat melihat betapa antusias nya Hanse dengan taska anak-anak itu.
" Nde, ma. Hanse anak mama yang baik. Hanse tidak akan nakal-nakal." Gigi putih nya terpamer saat anak kecil itu tersenyum dengan lebarnya.
" Jja, mama duluan, nde. Seonsangnim, mohon bantuannya." Ucap Sehun diiringi tundukan hormatnya kepada sosok guru perempuan yang tersenyum kepadanya.
Sehun menoleh sebentar dan tersenyum saat anaknya itu masih di luar, melambaikan tangan kecilnya saat melihat sang ibu masih ada di sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
Berkerja dengan Kim Corporation menyenangkan. Ya, itu yang Sehun pikirkan. Meskipun ia baru memasuki perusahaan itu tiga jam yang lalu, rasanya sudah lama ia berada di situ.
Kim Corp di ketuai oleh Kim Junmyeon atau Suho. Setelah itu dibawahnya terdapat enam arkitek termasuk Sehun yang baru memulaikan kerjanya. Ia sudah berkenalan dengan empat arkitek yang lainnya dan mereka baik meskipun baru saja mengenalnya.
" Hey, Sehun-ssi." Minyoung, yeoja bersurai hitam itu mendatangi kantornya. Ya, setiap arkitek di sana di sediakan sebuah kantor untuk memudahkan kerja mereka.
Sehun mendongak. Ia tersenyum kepada yeoja yang sudah bergelar isteri itu. " Sehun saja, Minyoung-ssi."
Wanita itu terkekeh kecil. Ia memasuki kantor Sehun dan melabuhkan bokongnya di depan Sehun. " Suho ingin kau menemui seseorang. Yah, tadi saat sesi perkenalan dia tidak ada. Ayo, kita ke ruangan meeting."
Sehun mengangguk kecil. Ia merapikan kemeja kelabu yang membaluti tubuhnya sebelum mengikut Minyoung masuk ke ruangan meeting. Di sana sudah ada Suho dan satu sosok jangkung yang berdiri membelakanginya.
" Sehunna. Perkenalkan, ini Chanyeol. Park Chanyeol, dia sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri. Dan dia akan menjadi partner mu untuk proyek mu yang pertama."
Deg
Park Chanyeol ?
Mata sipit Sehun membulat begitu sosok jangkung itu memutar tubuhnya. Ekspresi wajahnya sama dengan Sehun. Terkejut.
" Sehun ?"
" Chanyeol hyung."
Situasi sedikit canggung setelah itu. Ia tidak tau ingin berkata apa kepada sosok laki-laki yang sudah meninggalkannya gara-gara ia mengkhianati cinta laki-laki itu. Sudah beberapa jam berlalu sejak Suho mengenalkan Chanyeol kepadanya tetapi tetap saja rasanya aneh.
Emang apa rasanya saat kau berkerja di bawah perusahaan yang sama dengan mantan kekasihmu ?
" Sehun."
Mendengar namanya di sebut, Sehun mendongak. Tidak sampai beberapa detik, ia kembali menundukkan wajahnya.
Rasa bersalah itu kembali.
" Apa khabar mu, hmm ?"
Lama ia membiarkan pertanyaan itu sebelum ia menarik nafas panjang dan memutuskan untuk melupakan segalanya. Melupakan bahawa ia pernah menjadi kekasih Chanyeol, menyakiti Chanyeol dan ditinggalkan oleh Chanyeol.
" Aku baik-baik saja, hyung. Hmm, hyung kelihatan lebih baik dari dulu, ya ?" Ia mengulum senyuman untuk namja jangkung itu. Mencoba mengabaikan rasa canggung dan aneh di antara mereka.
" Haha, ya seperti yang kau lihat." Chanyeol ketawa kecil. Ia menggapai mug berisi Americano pekat itu lalu membiarkan air itu menuruni tengkoroknya. " Cuma berbeda bila kau tiada Sehun. Aku merindukan mu, Sehunna." Suara bass itu berubah lirih.
" Hyung, maafkan aku untuk segalanya. "
" Tidak, kau tidak punya salah denganku, Sehunna. Aku masih sama seperti dulu. Hatiku tetap untukmu."
Sehun menunduk kepalanya dalam. Bagaimana ia ingin mengatakan kepada Chanyeol yang realitinya ia masih menginginkan Lu Han. Baginya, Chanyeol terlalu berharga untuk disakiti.
" Maaf, hyung..."
" Kita mulaikan dari awal, Sehunna. Tidak perlu terburu-buru. Aku akan sentiasa menunggumu." Potong Chanyeol. Ia memberikan senyuman terbaiknya. " So, hilang kan rasa canggungmu. Anggap saja sekarang kita berteman. Arraseo ?"
Tidak salah kan ?
Perlahan Sehun mengulum senyuman. Ia mendongak bersama eye smile indahnya. " Baiklah, hyung. Ani, mungkin harus aku gelarkan sunbaenim saja."
Mendengar itu, Chanyeol ketawa lagi. " Itu kedengaran menggelikan, Oh Sehun."
Sehun lagi-lagi tersenyum. Siapa sangka ? Mereka bertemu kembali dan ia harap Chanyeol tidak menunggu nya lagi. Ia harap Chanyeol akan mencari penganti nya.
" Bagaimana dengan... hmm.. bayimu ? Apa dia tumbuh dengan sihat ?"
Sontak Sehun tersenyum hangat saat Chanyeol menanyakan Hanse. Perlahan ia mengangguk. " Dia sihat, hyung. Sekarang lagi di taska. Sepulang kerja nanti, aku akan mengambilnya."
" Bisa aku ikut ?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Mama !" Hanse berlari kecil saat melihat sang ibu berdiri di gerbang utama sekolah. Ia mendepakan kedua tangannya dan melemparkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan hangat sang ibu.
" Hanse tidak nakal kan ?" Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari Sehun membuat Hanse mempout bibirnya imut. Ia menggeleng laju, tidak menyadari sosok namja jangkung yang berdiri di belakang mereka itu.
" Ma, tadi Hanse berteman dengan ramai teman baru. Dan mereka bilang, Hanse anak baik. Mereka suka berteman dengan Hanse."
Sehun tersenyum pelan. ia memberi kecupan sayang di pipi tembam itu. Membiarkan Hanse berdiri.
" Ma, besok Hanse akan kesini lagi kan ? Hanse masih ingin bermain-main di sini." Tubuh kecil itu melompat kegirangan mendapat tawa kecil dari laki-laki jangkung yang sedari tadi hanya diam memerhati interaksi anak-ibu itu.
" Ehh, ahjussi itu siapa, ma ? Teman mama ?" Anak kecil itu memerhati Chanyeol dari atas sehinggalah naik ke wajah tampannya.
Sontak laki-laki itu tunduk menyamakan ketinggiannya dengan anak kecil itu. Chanyeol memberikan Hanse senyuman kecilnya.
" Anyeong, aku ini teman mama mu. Emm, Park Chanyeol."
Hanse mengerutkan keningnya dan tidak lama senyuman lebar menghiasi wajah imutnya.
" Oh Hanse imnida." Ia memberikan bungkukkan hormat kepada Chanyeol.
Sehun tersenyum kecil. " Ini dia malaikat kecilku, hyung."
" Senang bisa bertemu dengan malaikat imut ini." Chanyeol mencubit pelan kedua belah pipi Hanse yang berisi membuahkan erangan kecil dari Hanse sendiri.
" Ahjussi, aku tidak imut. Aku tampan." Bantah anak kecil itu diiringi dengan hentakan kaki kecil. Bibirnya maju kedepan membuat Sehun dan Chanyeol ketawa kecil.
" Ya ya. Hanse yang tampan, ingin kemana selepas ini ?" Sehun memutar bola matanya malas. Mengandeng tangan kecil itu.
" Bubble tea ~~ Hanse mau bubble, ma !"
Sontak sang ibu menggeleng laju. " No, kemarin kan sudah. No Bubble for today, Oh Hanse."
Chanyeol ketawa kecil. Ia melirik Hanse dan membawa anak itu naik ke pundaknya membuat anak kecil itu ketawa besar. Berbeda dengan Sehun yang nampak terkejut dan takut jika Hanse akan terjatuh atau apa lah.
" Hyung, turunkan dia." Pinta Sehun dengan ekspresi wajah yang kalut.
" Tenang saja, Sehunna. Jja, sekarang, uri Hanse ingin kemana ?"
Hanse ketawa kecil. Ia melipat tangan ke dada sok memikirkan destinasi yang ia ingin pergi.
" Bubble tea, pokoknya Hanse mau bubble, ma." Pinta nya dengan mata yang sengaja ia bulatkan.
Sehun mendesah pelan sebelum mengiyakan dengan sangat tidak rela. Namun begitu, saat melihat bagaimana anak kecil itu tersenyum lebar sudah mampu mengukir senyuman di wajahnya. Ia tersenyum saat melihat punggung Chanyeol yang sedikt jauh darinya itu.
" Andai saja kau yang ada di tempatnya, Lu Han hyung." Ia menarik nafas pelan sebelum melepaskan nya dengan keluhan.
Hahh, apa yang ia katakan ?
Lu Han kan sudah tidak mau dengannya.
Lu Han kan sudah tidak tergila dengannya lagi.
" Ma, cepetan dong !"
Ia menggeleng pelan. Mengusir bayangan Lu Han sebelum berlari kecil menuju Chanyeol dan Hanse.
Mungkin lebih baik ia tetap sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ia tidak tau apa yang ia harapkan.
Ia tidak tau kenapa kakinya membawa ia kembali masuk ke dalam kafe di mana ia bertemu dengan sosok yang sudah merampas hatinya itu.
Ia tidak tau.
" Sila nikmati minumannya, Tuan." Yeoja mungkin berusia dua puluhan itu memberikan senyuman manisnya sebelum berlalu pergi setelah membawa pesanan dari laki-laki bersurai hitam itu.
Asap berkepulan dari Americano yang ia pesan tadi. Mata rusa itu memerhati setiap manusia yang berjalan ke sana ke mari di luar jendela kaca itu. Tersenyum saat melihat sepasang laki-laki dan perempuan bersama anak perempuan kecil yang kelihatan imut.
Melihat itu, bayangan sosok yang sudah ia cintai bertahun lama nya muncul bersama satu sosok kecil. Detakan nya berubah ngilu.
Kenapa ?
Kenapa rasa sakit ini tidak bisa lari meskipun ia sudah menelan beribu pil yang dibekal kan oleh dokter peribadinya ?
Kenapa ia harus merasa sakit saat ia tau sosok itu seharusnya lebih sakit karna ia pernah melukai, menghancurkan sosok itu.
Ia menghirup Americanonya yang pekat dan tersenyum miris saat cecair pahit itu melimpasi kerongkongnya.
" Ma, Hanse mau Choco. Choco Bubble Tea."
Aduh, kenapa ia jadi berimaginasi sekarang ?
Suara cadel itu malah bermain di telinganya.
" Oh Hanse, mama tidak mau memberikan Bubble untukmu lagi, arraseo ?"
Lu Han tersenyum kecil saat suara yang menurutnya melodi yang merdu itu menghiasi telinganya. Ia bisa bayangkan ekspresi Sehun yang mencoba untuk menghentikan hasrat anaknya itu.
" Hmph, mama nya Hanse jahat sekali, kan ?"
Deg
Bagaikan petir, suara rendah milik laki-laki yang dulunya pernah menjadi temannya itu kini kedengaran.
Perlahan Lu Han menoleh ke belakang. Detakan di dadanya bertambah laju saat melihat bagaimana sempurna nya keluarga kecil itu. Senyuman bahagia menghiasi setiap wajah mereka.
Kepalanya berdenyut.
Matanya memanas.
Persis seperti lima tahun yang lalu saat ia memutuskan untuk melepaskan Sehun. Melepaskan Sehun untuk Chanyeol, teman nya. Meskipun sejak awal Sehun itu milik temannya.
Tangannya bergetar saat ia mencoba untuk mendail nomor ponsel Min Hyun. Mencoba melarikan dirinya dari realiti. Mencoba melarikan dirinya dari jerat Sehun.
" Ahjussi ? Lu Han ahjussi !"
Ia menoleh ke kanan saat mendengar nama nya di panggil.
Satu sosok kecil kini sedang tersenyum lebar untuknya. Di tangannya terdapat Bubble tea.
" Kan ma, Hanse sudah bilang ini benaran Lu Han ahjussi !" Anak kecil itu ketawa riang dan beralih duduk di depan Lu Han. Mempamerkan eye smile imutnya.
" Maaf, Hanse cuma senang bisa bertemu lagi denganmu."
Lu Han tidak kuat untuk menoleh ke arah suara itu. Ia takut dirinya yang lemah ini akan terpamer di depan Sehun.
" Lu Han ? Ini benaran Lu Han ?!"
Dan kali ini ia mendongak.
Park Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ia tidak tau bagaimana ingin meluahkan apa yang ada dalam pikirannya.
Mengapa ?
Kenapa ?
Dan bagaimana ?
Persoalan itu bermain di pikirannya.
Persoalan mengapa Lu Han menculik Sehun lima tahun yang lalu.
Persoalan kenapa Lu Han memecahkan hubungan cinta yang terjalin di antara nya dengan Sehun.
Dan persoalan bagaimana Lu Han, notebene nya teman nya sendiri mencintai kekasihnya.
Chanyeol membuang nafas panjang. Buat seketika, ia ingin semuanya kembali seperti lima tahun yang lalu di mana Sehun adalah miliknya saat ia melihat Lu Han duduk di depannya.
" Aku tidak menyesal dengan apa yang aku lakukan lima tahun yang lalu."
Sontak laki-laki tinggi itu memerhati Lu Han dengan intens.
" Aku tidak tau apa yang aku ingin katakan. Padahal, begitu banyak perkara yang ingin kutanyakan saat aku berhasil bertemu denganmu."
Chanyeol menghirup Americano miliknya.
Sehun sudah pulang bersama Hanse tiga puluh menit yang lalu. Ia yang ingin berbicara dengan Lu Han meskipun ia tau, berapa banyak persoalan yang ia tanyakan tidak mengubah apa-apa. Sehun tetap jauh dari tangannya.
" Maaf aku membuat kalian berantakan. Mungkin aku egois karna mencintai kekasih teman ku sendiri tapi aku tidak akan pernah menyesal dengan perbuatan ku lima tahun yang lalu."
Entah kenapa, rasanya ia ingin memberi bogem mentah di wajah tampan itu. Tapi Chanyeol tau, teman nya itu sudah banyak kali menderita. Sudah banyak kali di lukai. Tapi itu tidak berarti ia boleh dengan sesuka hatinya mencintai bahkan menculik kekasih temannya sendiri !
Satu yang ia tau, seberapa banyak ia ingin melukai Lu Han, itu tidak akan pernah mengembalikan Sehun kepadanya.
Mungkin saja Sehun tetap masih menunggu Lu Han. Ia bisa melihat mata coklat itu, yang mengharapkan sesuatu saat mata itu melirik Lu Han. Dan ia tidak buta bagaimana ingin melihat itu semua.
Satu yang ia ingin tau.
Apa Lu Han tau ia sudah membuat Sehun hamil dan Hanse itu anaknya ?
" kau tau, aku ingin sekali menghajar mu. Kalau bisa membelasah mu sehingga kau tidak bergerak sedikitpun tapi aku tau. Itu semua tidak akan memberi untung sedikitpun kepadaku. Semuanya tidak akan kembali seperti sedia kala. Sehun tidak akan pernah kembali kepadaku."
Mendengar itu, Lu Han dengan pantas mendongak. Matanya membulat.
" Apa maksud mu ?"
" Aku meninggalkan Sehun saat ia memberitau ku yang ia hamil anakmu."
" Tidak ! Jangan berbohong denganku !"
Ia tertawa kecil.
Apa Lu Han tidak tau bagaimana sakitnya dia saat Sehun memutuskan untuk tidak membagi cinta untuknya ?
Saat Sehun bukan seperti Sehun yang dulu.
Saat Sehun tidak memandangnya sedikitpun.
Lu Han tidak akan tau itu semua.
" Han, bagaimana aku bisa berbohong jika perkara itulah yang membuat aku menderita ?"
" Tapi... tapi Sehun tidak memberitau ku apa-apa saat kami bertemu kemarin !"
" Itu hanya membuat Sehun semakin kelihatan menyedihkan. Kau tidak pernah pikir itu semua ?"
Dan Lu Han terdiam.
" Kau tidak pernah pikir tentang perasaannya. Bagaimana cintanya sudah tiada untukku. Bagaimana hatinya bukan untukku lagi. Apa kau pernah memberikan dia ruang sedikitpun untuk membicara kan isi hatinya ? Aku sudah lama mengenali Sehun sama seperti aku mengenali mu, Han. Kau teman dekatku. Teman yang sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri."
" Maafkan aku, Chanyeol."
Chanyeol mendengus pelan. Tiada gunanya ia mengatakan ini semua, tidak ada yang berubah. Semuanya tetap sama saja.
" Aku maafkan mu, Han."
Iya, bagaimana besarnya kesilapan yang Lu Han lakukan. Ia tidak akan pernah mampu membenci teman nya itu.
" Tapi, aku akan mendapatkan Sehun semula. "
Lu Han mengangkat kepalanya. Menatap ia heran.
" Maksud mu ? Kau bukan bersamanya ?"
Chanyeol menggeleng pelan. Ia membuang pandang ke luar jendela.
" Kau lupa tadi aku memberitau mu yang aku meninggalkan nya ? Dan sekarang, aku akan menggunakan apa-apa cara sekalipun untuk mendapatkannya semula."
" Aku harap kau bisa membahagiakannya."
Sontak Chanyeol menatap Lu Han sinis. " Hey, aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu. Kupikir kau datang untuk mengambil Sehun semula."
Lu Han mengeleng pelan. Ia memberi senyuman kecil untuknya. Senyuman sama seperti dulu, sewaktu mereka masih lagi berteman dekat.
" Aku tidak layak untuknya. Sungguh, maafkan aku karna membuat kalian berantakan."
Hahh, kenapa sukar sekali ingin membenci teman nya ini ? Apa masih bisa di bilang sebagai teman ? Setelah apa yang Lu Han lakukan selama ini.
Hey, kadang kadang kita tidak bisa mengawal perasaan kita sendiri kan ?
" Kau tau, Han. Aku tidak bisa membenci mu. Seberapa besar kesilapan yang kau lakukan, aku tetap tidak bisa membenci mu. Kau pernah menjadi teman dekatku. Malah akan selalu menjadi temanku."
Ia berhasil membuat Lu Han mendongak. Dan sumpah, Chanyeol melihat mata teman nya itu berkaca. Itu sudah cukup mengatakan segalanya.
" Aku menyangka aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Tapi aku lupa, aku mempunyai teman bernama Park Chanyeol. Sungguh, maafkan aku, Yeol."
Chanyeol menggeleng kecil. " Aku akan tetap menjadi teman untukmu, Han. Tapi mungkin setelah ini kita berdua bakalan jadi rival."
Ia menghulur tangannya. Memberi senyuman.
Hey, setiap manusia juga melakukan kesilapan. Tidak kira besar atau kecil, mereka tetap berhak untuk mendapatkan kemaafan.
Seperti dirinya yang sudah meninggalkan Sehun saat ia tau laki-laki manis itu memerlukan semangat.
Jadi semua orang berhak untuk mendapatkan peluang kedua kan ?
" Aku akan merebut Sehun. Jadi, selamat berjuang, teman."
Lu Han menyambut huluran itu dan saat kedua tangan sasa itu bersalaman. Chanyeol menarik Lu Han, memeluk temannya itu.
Dalam diam ia bersyukur Tuhan menemukan ia semula dengan Lu Han.
Teman nya yang selalu kelihatan menyedihkan dan keseorangan.
Benar kata orang, seberapa besar kita ingin membenci seseorang yang pernah bergelar sahabat, tidak akan pernah bisa. Karna seseorang yang bergelar sahabat itu sudah menempuhi kesukaran dan kedukaan dalam hidupmu.
Karna teman itu sudah mengambil separuh dari jangka hidupmu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Two chapter to go. Maybe i'll write some bonus chapter for you guys.
Thanks for reading and review.
Kiss&Hugs
