Tittle : My Promise For You .
Chapter 7 : Take Me Back (Marco)
Pairing : Marco x Rachel
Rated : T
Disclaimer : K.A. Appelegate belong this .
Maaf lama baru update nih :D hehe
Ada sedikit song-nya disini hehe
Just enjoy it !
Chapter 7 :
Take Me Back (Marco)
Aku bangun dengan ketakutan merayapi dalam hati. Oh, entahlah, kupikir itu ketakutan. Tapi mungkin hanya perasaanku saja. Rasanya perutku seperti jungkir balik.
Rasanya aku ingin kabur saja. Pergi menuju antartika, atau lebih buruk lagi : Somalia. Oh, maaf, aku hanya sedang memikirkan Somalia. Kasihan sekali negara itu. Oh, hei! Sudahlah. Aku sudah menunggu hari ini sejak ratusan jam yang lalu, tapi ketika hari ini datang, aku ingin sekali kabur ke suatu tempat.
Bagaimanapun juga, lomba itu penting, dan pulang ke California juga penting. Barang-barangku bahkan telah dikepak. Hanya beberapa saja yang sengaja masih ditinggalkan untuk beberepa hari, sampai hari ini. Well, dan bagaimanapun juga, aku masih jungkir balik memikirkan bagaimana jika aku bertemu dengan Rachel nanti. Dan itu sudah pasti.
Rachel, Rachel, dan Rachel. Hanya itu yang ada di pikiranku sejak kemarin. Semua hal terasa hampa, kosong. Entah apa yang kurasakan saat itu, aku hanya merasa, entahlah, bersalah, khawatir, takut. Bahkan aku tak bisa lagi fokus bermain gitarku.
Ngomong-ngomong, sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju St. Agrate, tempat di mana kejuaraan musik kota akan dilaksanakan. Dad mengendarai dengan pelan, sementara Mom sedang berkomat-kamit tak jelas. Aku sendiri? Well, aku, yeah, hanya menatap kosong pada kaca jendelaku. Tak usah kujelaskan kenapa deh. Kalian sudah mengetahuinya. Karena aku telah mengatakan itu ribuan kali.
XXXX
Marco tersenyum pada Mom dan Dadnya yang kini duduk di deretan bagku paling depan. Ia duduk pada bangku peserta. Memegang gitarnya, dan sedikit mengingat-ingat kembali kunci lagu-lagu yang akan dibawakannya.
Peserta pertama baru saja turun dari panggung. Ia telah selesai membawakan lagu pilihannya sendiri, satu dari band asal brazil, dan dua dari band Paramore. Lagu pilihan juri, seperti Marco, ia sudah menyelesaikannya di babak pertama tadi.
Kali ini giliran Marco yang harus membawakan lagu pilihannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak, dan membuka matanya lagi. Lalu ia naik ke atas panggung sambil membawa gitarnya.
Ia duduk di bangku yang telah disediakan, bersiap-siap, dan mulai memetik senar gitarnya perlahan. Lalu mengikuti irama gitarnya sendiri, ia mulai bernyanyi lagu pertama. Down To Earth- Justin Bieber.
I never tought that it be easy
Cause we both so distance now
And the walls are closing in on us
And we wondering how
No one have a solid answer
But just walking in the dark
You can see the look on my face it
Just tears me apart
Rachel. Ia mengingat Rachel. Mengingat bagaimana jauhnya dia dengan Rachel sekarang. Mengingat betapa ia sangat sangat menyesal harus meninggalkannya.
Ia tahu, sejak awal ini semua memang tak akan mudah. Dan nyatanya memamng begitu kan? Tapi apakah ada yang peduli pada semua rasanya?
Of course, no.
So we fight,
Trough the heart
And we cry and cry and cry and cry
And we live
And we love
And we try and try and try and try
So it's up to you
And its up to me
That we meet in the middle on our way,
Back down to the earth
Marco teringat pada usaha-ngambek-sehari-nya dulu, saat ia hendak berangkat ke Brazil. Berusaha menahan agar tak jadi berangkat. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia harus ke sini. Ia harus berobat, melawan penyakitnya yang ganas.
Marco tersenyum, menatap penonton.
Dan Rachel, kita akan bertemu lagi nanti. Aku janji.
And mommy you were always somewhere
Daddy I live out of town
So tell me how could I ever be normal somehow
You tell me this is for the best
So, tell me why am I in tears?
So far away, and now I just need you here
Marco mentapa hampa.
Aku hanya ingin melihatmu satu kali saja, Rach. Mungkin sebelum aku terlambat..
XXXX
Aku menangis. Tidak. Maksudku, yeah, tidak menangis seperti anak kecil. Hanya saja, hatiku yang menangis. Menjerit. Tidak ada lagi lagu yang pas untuk Rachel selain Down to Earthnya Bieber. Dan dua lagu setelahnya, adalah Leave Out All The Rest dan What I've Done-Linkin Park.
Aku memilih Down to Earth karena, yeah, menurutku itu cocok saja untukku dan Rach. Seperti liriknya, entahlah, menurutku menyentuh sekali.
Leave Out All The Rest, aku memilihnya karena, lagu itu menceritakan tentang seseorang yang menghindari kenyataannya sendiri. Cocok sekali denganku.
Dan What I've Done, mungkin itu lagu perpisahanku denganku Brazil.
Ooh, ooh. Kepalaku.
Well, kenyataannya memang aku mungkin terlalu banyak memikirkan Rachel, mengkhawatirkan segala sesuatunya, sehingga itulah yang mungkin menyebabkanku agak pusing sekarang.
Aku sudah selesai membawakan semua lagunya. Hanya menunggu pengumuman, dan setelah ini aku akan pergi, pulang. Ke California. Oh, betapa aku sudah menantikannya. Dan, apakah Rachel sudah tahu rencana kepulanganku ini?
Shit. Kepalaku mulai benar-benar pusing sekarang.
Shit. Pengumuman yang terlalu lama ini! Ayo, cepatlah sedikit!
"Bagaimana menurutmu?" Tanya seorang panitia kejuaraan itu yang kebetulan sedang duduk di sebelahku.
"Entahlah," Aku mengangkat bahu. "Aku tak terlalu berharap,"
"Well, benarkah? Bagaimana jika kau menang?"
"Kebetulan, keajaiban, dan, takdir mungkin,"
Ia tertawa.
"Kita lihat sajalah," Ujarku. Duh, kepalaku berdenyut-denyut.
Dan setelah itu, adalah pengumuman. Menurutku konyol, bodoh, dan entahlah.
Namaku dipanggil.
Sebagai juara pertama.
XXXX
"Ayolah, nak, kita rayakan ini!" Dad berseru dengan bangga, menatap piala yang kubawa.
"Ya, ya, kita bisa mampir ke kafe dulu mungkin sebentar, kan?" Mom melirik Dad.
"Gampang. Dan nanti kita bisa membuat pesta besar-besaran di California. Bagaimana menurutmu, Marco?"
Ooh, ooh. Mereka seperti orang maniak yang baru saja mendapatkan piala Liga Champions. Padahal kan ini hanya kejuaraan tingkat KOTA. Oh, Dad, ingatlah, ini bukan piala internasionel..
"Well, yeah, terserah,"
Entah pikiranku melayang ke mana. Tetapi yang jelas, kepalaku makin berdenyut dan bahkan agak bergejolak (?), membuat konsentrasiku sedikit buyar. Dan, oh! Yang benar saja! Di saat seperti ini aku masih bisa memikirkan apa-yang-harus-dikatakan-jika-bertemu-Rachel nanti. Konyol.
"Hei, Marco! Ayolah! Rayakan kemenanganmu!" Ujar Mom, dan Dad mengangguk.
"Yeah, dan bolehkan sebagai perayaan ini kita pulang dulu ke rumah terlebih dahulu?" Ide itu muncul begitu saja. Ehm, bukan ide, tapi entahlah, aku hanya merasa, aku ingin ke sana, sebelum aku pergi.
"Untuk apa?" Mom dan Dad terlihat terkejut.
"Bisakah, please?" Pintaku.
"Jadwal kita bisa terlambat, boy. Lebih baik kita mampir untuk minum segelas mocca, mungkin dengan sedikit.."
"Please, Dad?"
"Ada apa denganmu?"
"Nothing,"
Tapi Dad tetap mengikuti kemauanku. Kami menuju rumah kami, yang statusnya akan segera berubah menjadi bekas-rumah-kami-yang-akan-segera-dilelang. Entah apa yang mendorongku menuju rumah ini. Entahlah, tiba-tiba saja aku mengingatnya.
Aku berjalan-jalan, memutari rumahku untuk terakhir kalinya. Mengelus tiap dinding yang kulewati, dan aku berhasil naik ke kamarku dengan kepala yang benar-benar kumat.
Aku membuka pintu kamarku. Menemukan sudah habis perabotan di kamar ini, yang pasti sudah dikirim tadi pagi. Tapi aku tetap masuk, mendekati jendela kamarku.
Jendela yang sungguh mengagumkan. Aku selalu menganggapnya begitu. Indah, dan, yeah, begitulah. Meskipun tak benar-benar indah, yang kumaksudkan indah adalah kenangan yang terbentuk di sini.
Aaah, shit. Pandanganku agak kabur.
Aku terhuyung menabrak dinding di belakangku. Oh, jangan bilang..
TIDAK. Aku tak mau. Aku sudah sembuh. Dan tidak akan seperti itu lagi.
Setelah puas bermain dengan memori-memori dan rumahku ini, aku turun lagi, dengan terhuyung. Tapi untunglah, tak ada yang mengetahuinya.
11.23
Kami harus segera berangkat menuju Bandara. Karena pesawat kami akan satang pada pukul 12.10 . Dan kami tak ingin jadwal kami berantakan.
Dad bersiul sepanjang jalan, tetapi aku tak memperhatikan Mom. Ia hanya duduk diam.
Kepalaku semakin lama semakin berdenyut dengan keras.
Oh Tuhan.
Perjalanannya membutuhkan waktu 20 menit. Dan ketika sampai di bandara, aku turun dengan kepala yang masih berdenyut. Dad memberitahuku bahwa Karen akan menyusul. Tapi aku tak terlalu mempedulikannya, yang kupedulikan saat ini adalah : ada apa dengan kepalaku?
Dad menyuruh kami untuk menunggu Karen sebentar sebelum check-in untuk tiket kami. Mom mengusulkan untuk pergi ke kafe bandara dulu, aku mengabari Karen dan Ax lewat sms bahwa kami berada di kafe bandara.
5 menit kemudian, Karen berlari dengan Ax dan Elfangor di belakangnya. Rambut merah Karen melambai, dan aku dapat melihatnya : mata Karen merah, seperti habis menangis.
Rasa bersalah.
Sungguh, rasa bersalah itu menerjangku kembali. Rasa bersalah yang benar-benar membuat perutku seperti berpindah ke kepalaku.
Oh, Karen, sungguh, untuk kali ini saja, please, jangan lagi menangis. Please, maafkan aku.. Maaf aku membuatmu kecewa..
"Oh, hei, Karen," Sapa Mom kepada Karen yang telah sampai dengan terengah-engah. Mom mempersilakannya duduk di sebelahku.
"Tarik kursinya, Ax," Kata Dad—ketika Ax dan Elfangor sampai. Mereka seperti biasa, terlihat cool. "Oh, dan kau juga, Elfangor,"
"Thanks," Kata Ax dan Elfangor bersamaan.
"Hei," Sapaku pada mereka semua.
"Hei, Marcodong, kau baik-baik saja?" Oh Aximili, andai saja tak ada orang tuaku, sudah kucincang kau !
"Well, yeah, baik,"
Hanya kepalaku saja yang berdenyut aneh,
Kami berbincang dengan sedikit, yeah, canggung. Terutama Karen dan aku. Aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan padanya. Dan iapun rasanya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan kesedihannya.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbisik kepada Karen.
"Kau baik-baik saja?" Tanyaku.
"Yeah, lumayan," Katanya balik berbisik. "Kau tahu, aku sebenarnya tak ingin kau pergi,"
GOD!
Hatiku mencelos.
"Well, yeah, kau tahu kan, kita bisa berkontak dengan telepon, atau e-mail," Oh, Marco, kau pintar sekali merayu.
"Baiklah, kurasa, kami harus segera pergi," Kata Dad tiba-tiba. Mom tersenyum. Ax dan Elfangor hanya memandangku. Sementara Karen menampakkan ekspresi aneh.
"Kalian mungkin, yeah, silahkan," Mom berdiri memandang aku, Ax, Elfangor, dan Karen. "Kami akn check tiket dulu,"
Mom dan Dad meninggalkan kami dalam keheningan. Aku tak tahu harus bagaimana.
"Well, Maaf, aku tak bisa tinggal," Kataku dengan canggung. "Aku harus pulang,"
"Oh, tenang sajalah, Marco," Ujar Elfangor
"Hahaha, kau kira kami akan merindukanmu, eh?" Ledek Ax. Karen memelototinya,
"Ya, ya, baiklah, kami akan merindukanmu, Marco sayaaaang," Ax menyeringai.
"Diamlah, Ax," Kata Elfangor.
"Kita bisa tetap berkomunikasi kan?" Tanyaku.
"Tentu saja," Ujar Karen lemas.
"Sungguh, aku minta maaf, aku benar-benar menyayangi kalian. Tapi aku juga sangat menyayangi California, sungguh, aku benar-benar minta maaf,"
Akhirnya aku berdiri, mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Ax menepuk pundakku. Sementara Elfangor menyeringai pelan kepadaku. Karen diam saja sampai aku memeluknya.
"Berjanjilah takkan melupakanku," Ujar Karen. Aku mengangguk.
"Tidak hanya kau. Semua kenanganku di sini akan selalu kuingat. Aku harus pergi," Aku melepaskan pelukanku. Dan Karen menitikkan air matanya.
Aku mengambil tasku, lalu berjalan pelan. Rasanya benar-benar berat. Meninggalkan mereka semua.
Kepalaku masih tak berhenti berdenyut.
XXXX
Aku berlari ke arah Mom dan Dad yang sedang menungguku di depan lorong terminal C. Mereka sama-sama mengerutkan dahi.
"Beres?" Tanya Dad.
"Ya, all okay," Jawabku.
"Baiklah, ayo masuk,"
Kami hendak masuk, ketika aku merasakan sesuatu,
Gelap.
Dan aku tak merasakan sesuatu lagi, tubuhku terjatuh.
-TO BE CONTINUED-
HWAAAA _._
apaan ini ? Gaje cuy -
Oya, maaf saya vakum lamaaaa banget dari cerita ini..
Baru sekarang dapet ilham buat ngelanjutin nih #plaklebayyy :D
Mohon reviewnya :D
dhiiaa-chann
