A Blessing in Disguise

Cast : Kim Namjoon; Kim Seokjin; Kim Hayoung, and any others

Length : Parts

Rate : T

Genre : Romance, FamilyLife.

A Blessing in Diguise

Seumur hidupnya Seokjin tak pernah–tak berani–untuk berharap sedikitpun pada sesuatu yang namanya cinta. Tidak pernah. Sqekalipun Ia memiliki hati yang lembut dan Ia tahu tentang itu, Ia membiasakan diri sejak kecil jika Ia tak sepatutnya berharap atas cinta. Seokjin tahu jika Ibu panti menyayanginya setengah mati, atau bagaimana teman dan adik di pantinya dulu saling menyayangi dengannya.

Mungkin ini karena Seokjin yang tidak diperkenalkan dengan pengertian cinta dan kasih sayang sejak dini, menyebabkan dirinya bertanya tentang arti cinta di umur tujuh, lalu menyimpulkan untuk tak menggantungkan hidupnya pada cinta di umur sembilan. Mungkin juga karena Seokjin tak berani membuka dirinya pada setiap orang yang ingin berteman dekat dengannya, atau para gadis–dan beberapa lelaki–yang ingin mendekatinya selama ini. Menyebabkan ia begitu buta tentang arti cinta dan hatinya.

Begitu banyak kemungkinan yang bisa dijelaskan dan dikaitkan, dan satu kemungkinan yang tak pernah Seokjin duga sebelumnya, setengah mati mengejutkannya.


.

.

.


Ada satu kemungkinan yang tak pernah Seokjin duga sebelumnya, setengah mati mengejutkannya. Ia tak pernah siap mendengarnya. Dan begitu Taehyung memberitahunya, Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Taehyung? Kau kenapa sih?" Jongkook yang manis itu menyatukan alis kebingungan dengan sikap kekasihnya yang tiba-tiba bertanya pada Seokjin dengan nada menginterogasi. Ia menarik wajah Taehyung agar menatap matanya dengan halus. "Jika Seokjin dan Namjoon hyung dekat atau apapun itu, lalu apa masalahnya?"

Taehyung mengerjap beberapa kali, baru menyadari apa yang Ia lakukan. Ia menoleh kembali pada Seokjin, menatap teman Jongkook itu dengan pandangan tak terbaca artinya. Pandangannya lurus ke mata Seokjin, mengintimidasi. Ia menghembuskan nafasnya pelan lalu menggumam sangat lirih. "Karena Namjoon hyung baru bercerita padaku jika Ia sedang mencari pedamping untuknya."

Tidak. Ucapan Taehyung bisa memiliki banyak arti. Bukan berarti pendamping–jika yang Taehyung maksud adalah kekasih–yang dicari Namjoon adalah dirinya. Seokjin tak mau berpikir demikian, takut kecewa nantinya.

Di saat Seokjin memasang stase waspada atas apapun yang bisa terjadi, Jongkook malah memekik girang. "Whoa, Jin, kau dan Kim Namjoon dekat di waktu yang pas!"

Seokjin jelas tak nyaman. Ia tak mau berharap apapun atas segala kebaikan lelaki itu, atau sekedar berasumsi atas segala kemungkinan yang bisa saja muncul. Tidak, Ia tak mau dipermainkan perasaan dan Ia harus menjaga dirinya sendiri atas hal itu.

Ia menjilat bibirnya, tersenyum kaku. "Aku sudah terlambat, aku harus bekerja."


.

.

.


Taehyung jelas menyebutkan kata 'pendamping', yang jelas Seokjin tahu jika kata itu terlalu luas. Ya, diri Seokjin sungguh menginginkan untuk percaya ucapan Jongkook. Tapi pendetanya pernah mengingatkan jika manusia akan kecewa jika berharap pada manusia lainnya. Maka Seokjin, sebagai anak tuhan yang patuh, Ia tak mau mempercayai ataupun mengharapkan apapun.

Tapi perlu kalian ketahui jika Seokjin tak fokus bekerja setelahnya. Pikirannya terganggu–pikirannya sendiri yang mengganggu pikirannya. Berkali-kali Seokjin harus menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur detak jantungnya. Semuanya abnormal!

Hingga selesai shift bekerja di minimarket, ketika Seokjin naik bus menuju halte terdekat ke rumah Hayoung, lelaki itu masih berusaha mati-matian untuk bersikap normal. Juga berusaha agar fungsi di dalam tubuhnya normal, terutama otak dan jantungnya–mereka organ penting tapi sering menyusahkan Seokjin akhir-akhir ini.

"Seonsaengnim!" itu Hayoung, menyapa Seokjin dengan senyuman lebarnya.

Seokjin tersenyum senang melihat gadis dengan senyum mirip matahari itu menyapanya dengan riang. Tak ingin berlarut memikirkan hal yang sama, Seokjin berusaha fokus pada apa yang di depannya. "Hayoung sudah sembuh?"

Gadis itu mengangguk, menampilkan senyumnya yang selebar biasanya. "Bibi Lee membuat sup yang enak untuk Hayoung."

Seokjin terkekeh, "lebih enak mana, sup saem atau sup Bibi Lee?"

Hayoung mendengung beberapa saat, berfikir main-main. Gadis itu pandai menggoda, Ia jelas main-main dan tidak serius berfikir, malah melirik Seokjin sambil pura-pura berfikir.

"Jangan coba berbohong,"

Hayoung terkekeh, "enak semua. Hayoung suka makan, saem."

"Sama, saem juga suka makan."

Lalu gadis itu menggeret gurunya masuk ke ruang belajarnya, membuka buku pelajarannya. Mereka belajar seperti biasa, bercerita tentang tema yang tak diajarkan di sekolah seperti biasa, bergurau seperti biasa. Mereka semakin dekat sekarang. Dan beruntungnya Seokjin karena pikirannya bisa normal tak memikirkan Namjoon samasekali, dan lelaki itu juga tak menunjukkan diri. Namjoon belum pulang, kembali sibuk dengan pekerjaan, dan Seokjin bersyukur.

"Aku pulang dulu." Seokjin berpamitan pada Bibi Lee juga Hayoung, masih tersenyum atas kinerja tubuhnya yang baik dan hasil belajar dengan Hayoung yang menyenangkan. Keluar dari pintu, Seokjin bersenandung suka cita hingga keluar pintu gerbang.

Setelahnya, senandungnya berhenti–macet–dan senyumnya hilang.

Itu Namjoon. Berdiri di samping pintu mobilnya, menyandarkan diri di mobilnya, dengan tangan yang masuk di kedua saku celana dan kaki yang menendang debu.

"Hai, Jinseok."

Jelas saja pertahanan Seokjin ambruk. Dalam sehari, dua kali Ia bertemu Namjoon, dengan segala ketampanan dan kerupawanannya. Bagaimana pula Seokjin harus bertahan jika Namjoon dengan arogannya mengekspansi pikiran Seokjin?

"Anda–tidak masuk?"

Alis Namjoon menyatu singkat, lalu tersenyum simpul. "Kau memanggilku begitu lagi? Bahasa formal lagi?"

Ya! Karena Seokjin mati-matian menjaga profesionalitasnya!

Yang lebih tua tertawa melihat mahasiswa itu kebingungan, lalu menegakkan tubuhnya. "Masuklah, kuantar kau pulang."

"Apa?"

Namjoon menahan pintu mobilnya, terkejut mendengar pekikan Seokjin. "Kuantar, Jinseok. Masuklah,"

"Tidak–" Seokjin jelas saja ingin menolak, namun lelaki itu sudah keburu masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Ia terlihat tersenyum sambil menunggu Seokjin.


.

.

.


Namjoon memang mengantarnya, namun lelaki itu sengaja mengambil jalan berputar dan mengemudi dalam kecepatan rendah.

"Ada yang ingin dibicarakan?"

Lawan bicaranya terkejut dengan pembuka percakapan yang Seokjin pilih. Namjoon terkekeh sambil melirik Seokjin. "Aku ingin membuka jendelanya, kau kedinginan?"

Seokjin tak masalah, Ia cukup kuat dengan angin malam. Ia mengangguk lalu Namjoon segera menurunkan kaca jendela di samping kirinya dan di kanan Seokjin.

"Aku cukup penat dengan pekerjaanku, aku ingin mencari angin segar."

Tak tahu apa yang harus dijawab dan dilakukan sebagai reaksi ucapan Namjoon, Seokjin memilih mengangguk pelan dan tetap diam.

Mereka sampai di lampu merah, Namjoon menoleh menghadap Seokjin lalu menatap lekat lelaki itu. "Kau menjauhiku?"

"Apa?"

Kesimpulan Namjoon sudah bulat. "Ya, kau menjauhiku."

Wajahnya terlihat kebingungan dan Seokjin buru-buru menggeleng. "Tidak–"

Namjoon tertawa melihat wajah bingungnya dan bagaimana Seokjin buru-buru mengoreksi. Ya, lelaki itu jelas sedang berbohong dan Namjoon tahu. "Kau, risih denganku?"

"Eh?"

Lampu masih menyala berwarna merah dan Namjoon masih menatap lekat wajah Seokjin. "Biar kutebak, apa karena umur kita yang terpaut jauh?"

Seokjin menjilat bibir bawahnya.

"Apa karena aku sudah memiliki Hayoung?"

Seokjin tak tahu.

"Apa kau sudah memiliki kekasih?"

"Tidak, duh."

"Lalu apa?"

Jeda beberapa detik saat Seokjin menggigit bibir sambil memikirkan jawaban.

"Bibirmu bisa terluka jika kau gigiti." ucap Namjoon seiring jemarinya yang menarik bibir bawah Seokjin dengan pelan agar Ia berhenti menggigit bibirnya.

Soekjin melepas gigitan bibirnya. Lampu hijau, Namjoon dengan santai kembali menghadap depan dan menjalankan mobilnya. Entah benar atau tidak, namun Seokjin merasa Ia bisa mengulur waktu untuk menjawab.

Tapi Namjoon menunggu, lelaki itu tak suka mengulur segala urusan dan menjadikannya sebagai hutang. Ia selalu berlari mengejar, hingga tujuannya berhasil Ia raih. Begitu yang diajarkan semua orang padanya selama ini, begitu pula yang Namjoon lakukan selama ini. Maka sebodoh apapun Namjoon berurusan dengan perasaan, Namjoon tak terlalu peduli. Karena jika sekali saja Ia merasa nyaman dan menginginkannya, Ia berusaha berlari meraihnya. Termasuk pada Seokjin.

Namjoon masih menyetir mobilnya dengan tenang ketika angin yang sedari tadi masuk melalui jendela yang terbuka berubah menjadi dingin.

"Kau tak mau menjawabnya?"

Seokjin merasa dirinya pecundang, tak bisa berbicara dan mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Seingatnya Ia tak pernah diajari untuk menjadi pecundang oleh siapapun. Maka Ia berdeham untuk memberinya kekuatan. "Biar kuluruskan semuanya terlebih dahulu."

Namjoon tersenyum, "oke, aku suka." Ia lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan, semata agar mereka bisa berbicara dengan tenang dan fokus.

"Anda bilang jika Hayoung adalah pemilih yang baik."

Lelaki itu mengangguk mantab, tersenyum, dengan mata terpejam. "Ya, benar."

"Lalu anda selalu menyetujui pilihan Hayoung karena gadis itu pandai memilih."

Sekali lagi Namjoon mengangguk mantab.

Lalu mata mereka bertabrakan, bertemu tatap dan saling memandang. Sama-sama tak berkedip, Seokjin mencari kebohongan yang mungkin ada di mata Namjoon. "Lalu Hayoung memilihku," lirihnya masih menahan tatapannya dengan Namjoon. "Dan anda menuruti pilihan Hayoung."

Namjoon terdiam, tak menampilkan ekspresi apapun, masih menatap Seokjin dengan yakin. "Ya."

Hati Seokjin mencelos mendengar bagaimana sosok di depannya ini berucap dengan sangat yakin dan tenang.

"Kenapa?"

"Karena kau yang paling tepat."

Lidah Seokjin kelu. Perutnya terasa mulas dan geli sekaligus, merasa diaduk oleh perasaan yang muncul secara bersamaan dalam dosis tinggi.

"Aku sudah bilang, aku tak pandai dalam urusan begini, Jinseok." Namjoon memulai, pandangannya turun mencari tangan Seokjin lalu ditariknya tangan itu ke dalam genggamannya yang lembut dan hangat. "Aku selalu mengatakan apa yang kumau dan kurasa benar. Dalam urusan perasaan, aku tak suka menyembunyikannya."

Seokjin meneguk liurnya susah payah. Jantungnya sudah kelabakan seolah Ia sedang marathon, berdegupan abnormal.

"Dan aku merasa jika kau yang paling tepat, bersamaku, bersama Hayoung."

Seokjin ingin muntah. Susah payah Ia mengatur nafasnya agar tenang sementara tangannya diremas dengan halus oleh Namjoon. "Ibu Hayoung?"

"Dia sudah meninggal."

"Tidak, maksudku pasti akan susah menggantikan posisi orang tua dari presepsi Hayoung. Aku tidak siap dan tidak pernah berfikir sejauh itu."

Namjoon tersenyum lalu mengangguk, Ia memahami itu. "Aku sudah memberi tahu Hayoung tentang itu sejak awal, bahwa Ia tak akan mendapat pengganti Ibunya. Ibunya selamanya hanya satu, dan tak akan terganti."

"Makanya aku tidak bisa–"

"Tunggu dulu." Namjoon memotong cepat. "Biarkan aku selesaikan penjelasanku, lalu kau bisa menjawabnya, Jinseok."

Seokjin menurut, pertama kali mendengar Namjoon bertitah dengan begitu tegasnya.

"Sejak awal, sejak aku membawa Hayoung ke rumahku, aku sudah mengatakan padanya jika Ia akan memiliki dua Papa, bukan Mama baru."

"Eh?" Seokjin meringis tak paham. "Membawanya? Dua Papa?"

Namjoon mengangguk, tersenyum lebar menatap Seokjin. "Aku mengadopsinya."

"Apa?"

Kali ini Namjoon tertawa kecil, lucu melihat wajah Seokjin yang kebingungan. "Dia bukan anak kandungku, Jinseok. Dia anak kandung kakak perempuan Taehyung yang meninggal, lalu kuadopsi karena hidupku terlalu membosankan."

Terlalu banyak informasi. Seokjin menarik tangannya dari genggaman hangat Namjoon lalu menutupi wajahnya. Dalam diam Ia mencoba menangkap seluruh informasi ini, menghubungkannya, dan mengartikannya.

Namjoon mengadopsi Hayoung–Hayoung bukan anak kandungnya. Ibu Hayoung adalah Kakak Taehyung dan–

"Kau belum pernah beristri?"

Namjoon menggeleng. "Kau berpikir aku beristri?"

Seokjin mengubur wajahnya pada telapak tangannya sekali lagi, menggeram karena pusing. "Dengan umurmu segini, dengan kekayaan dan ketampananmu yang luar biasa ini, pantasnya kau sudah beristri!"

Namjoon melongo, "Aku tampan?"

"Hell yes!"

Namjoon tertawa. Di depannya, si mahasiswa terlihat begitu lucu dengan wajah memerah, berkali-kali menggeram dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan, lalu berbicara dengan cukup kasar.

"Aku belum pernah melihat sisi Seokjin yang ini."

Lalu si mahasiswa melirik Namjoon, membuka mulutnya untuk menutupnya kembali.

"Ada yang ingin kau tanyakan lagi? Karena jika tidak, kuanggap kita sudah berhubungan lebih dari teman. Kita resmi sepasang kekasih, lalu akan menikah."

"Kita tak pernah berteman!"

"Kau menganggap aku apa?"

"Eh?" Seokjin mengerjap beberapa kali, bibirnya sedikit maju tanpa sadar. "Kau–orang tua muridku?"

Lidah Namjoon berdecak kesal. "Aku tahu kau hanya menganggapku sebatas itu selama ini."

"Kau menganggapku apa?"

Namjoon tersenyum lebar. Menunjukkan lesung indah di pipinya, yang baru Seokjin sadari jika kelainan otot di pipi Namjoon itu sangat indah. "Temanku dalam mendidik anakku, teman anakku, lalu setelah semua kepercayaanku untuk mendidik Hayoung kulimpahkan padamu, aku menganggapmu sebagai calon pendampingku."

Seokjin tersedak liur di kerongkongannya!

Namjoon dengan lembut menepuk-nepuk punggung Seokjin yang terbatuk, wajahnya memerah.

"Antarkan saja aku pulang."

"Diskusi ini belum menemukan kesimpulan. Kita tak bisa berhenti begitu saja."

"Antarkan saja aku pulang." Lirih Seokjin memijat pelipisnya. "Tutup jendelanya dan jalankan mobil ini dengan cepat." Seokjin bergumam, lalu pikiran nakalnya berbisik untuk melengkapi kalimat perintahnya, "Joon."

Seokjin bisa menangkap tangan Namjoon yang meninju udara setelah lelaki itu mendengar panggilan yang diberikan Seokjin untuknya. Ia menurut, menutup kaca jendela mobilnya, melajukan kendaraannya dengan cepat namun hati-hati, mengantarkan Soekjin hingga apartemennya.

Seokjin terlihat terburu, melepas sabuk pengaman tepat setelah Namjoon menarik rem tangan, bergumam terimakasih lalu langsung membuka pintu mobil.

"Jinseok–" Namjoon hampir lupa. Seokjinnya berbalik, tak berani menatap mata Namjoon. "Jumat ini, kau kosong? Aku butuh teman untuk menghadiri pesta ulang tahun Mamaku."

Seokjin terlihat meringis, memejamkan matanya dan menjilat bibir bawahnya. "Jangan–"

"Oke, kuanggap kau mau." Potong Namjoon membuat Seokjin menatapnya kesal. Senyumnya makin lebar kala Seokjin menatapnya dengan pandangan kesal.

Tangan Namjoon menarik tangan Seokjin sekali lagi, dengan hangat, dan pelan. "Kumohon. Orang tuaku sudah ingin bertemu denganmu, dan mereka tak sabar."

Uh, perut Seokjin serasa diaduk!


.

.

.


Seokjin berada di dalam kamar apartemennya, memandangi langit-langit berwarna kusam yang selama ini menjadi pemandangannya setiap malam. Langit-langit itu memang tak apik, berwarna kusam dan membosankan. Namun Seokjin menyukainya, suasana yang ditimbulkan langit-langit itu membantunya memikirkan hal-hal penting atau mengoreksi beberapa kejadian yang terjadi hari ini.

"Ada yang ingin kau tanyakan lagi? Karena jika tidak, kuanggap kita sudah berhubungan lebih dari teman. Kita resmi sepasang kekasih, lalu akan menikah."

Seokjin mengulangnya, rekaman di otaknya dengan jelas. Ia mengingat kondisinya dengan detail, wangi parfum Namjoon yang bercampur dengan pewangi mobil sekalipun angin berusaha menerbangkan wangi itu. Sedingin apa suasana malam tadi dan sehangat apa pandangan Namjoon padanya. Bagaimana gerak-gerik Namjoon–Seokjin mengingatnya.

Dadanya masih berdesir halus, perutnya merasa kegelian dan jari-jari kakinya berkeringat.

Seokjin tak pernah mendengar orang membahas hubungan perasaan seenteng Namjoon, seolah Ia sedang membacakan kontrak persetujuan. Apa memang demikian diri Namjoon?

Apa memang begitulah Namjoon? Mengatakan permintaannya seolah itu harus terjadi? Memerintah atas semua hal dan menganggap dirinya bisa mengatur hasil? Terbiasa menjadi superior dan pemimpin sehingga Ia berfokus pada hasil?

Seokjin menggeram, kesal karena pikirannya sendiri yang menggiringnya pada sebuah opini.

Ponselnya berdenting, pesan masuk.

Papa Hayoung: Besok kau kelas jam berapa? Bisa kita makan siang? Aku harus mengajakmu ke suatu tempat.

KimSJ: Tidak bisa, aku harus bekerja di minimarket.

Papa Hayoung: Kau bisa libur besok, aku kenal bosmu.

Seokjin menyembunyikan ponselnya di bawah bantal setelah membaca pesan Namjoon. Ia dan sifatnya! Sekali lagi Seokjin menggeram malam itu.

-TBC -

Hai!

Hehe, ini deh jeleknya aku, tugas numpuk tapi kalo ide lagi bagus yaudah nulis sampe selesai dulu hehe. Jadi sepertinya percuma aja aku izin untuk fokus minggu kuliah, karena akhirnya aku gabisa nunda cerita yang gantung, gengs!

RnR, sayangku?

ILYSM! (nyadar gak aku selalu nulis ILY tapi kali ini kutambahi so much, karena memang so much!)

Once more, ILYSFM!