Hope you like this fiction :)
"Empat puluh sembilan ribu Tuan." Sehun menyebutkan harga yang harus dibayar seorang pria yang membeli ice cream di toko tempatnya bekerja.
"Kau bisa memanggilku Donghae saja, kita kebetulan satu kampus. Aku satu tingkat di atasmu." Pria tadi berkata sambil menyerahkan uangnya pada Sehun. Matanya memperhatikan Sehun lekat.
Sehun masih menyiapkan kembalian untuk Donghae saat Jongin menghampiri mereka.
Jongin memandang Donghae sengit, menarik Sehun menjauh, "Ku serahkan dia padamu Park." Dan menyerahkan tugas Sehun yang belum selesai tadi pada Chanyeol, Baekhyun yang melihatnya pun langsung menghampiri Chanyeol dan Donghae.
Setelah hampir satu tahun menjadi kekasih Sehun, menjemput Sehun pada Jumat sore sepulang kerja menjadi rutinitas bagi Jongin.
Seperti sore ini. Bedanya kali ini dia mengajak Chanyeol.
Setelah duduk di salah satu bangku kosong Jongin mengatur nafasnya untuk meredam emosi sedangkan Sehun memandangnya tidak suka, "Kenapa hyung harus menarikku paksa begitu? Membuat tanganku sakit saja." Karena kelelahan membuat emosi Sehun gampang naik.
"Oh bagus sekali sekarang kau menyalahkanku karena tanganmu sakit sedangkan sebelumnya kau tersenyum seperti orang bodoh kepada pria tadi." Jongin berkata penuh emosi dengan suara rendah yang terdengar tajam.
"Aku selalu tersenyum begitu pada semua pelanggan hyung, ada apa sih denganmu?"
Jongin melihat ke arah lain sambil mengatur emosinya, dia tidak mau berakhir dengan menyakiti Sehun.
"Dia menyukaimu Sehunna." Jongin berkata dengan nada yang lebih lembut.
"Kenapa hyung bisa berkata begitu?" Sehun menatap Jongin bingung.
"Dari caranya melihatmu, dia seperti ingin memakanmu. Kau tidak menyadarinya?"
Sehun mencari-cari kata yang pernah Baekhyun sebutkan saat Baekhyun melihat Chanyeol dengan pria manis lain, "Emmm," Sehun ragu, "hyung cemburu?" Dia berkata pelan.
Jongin menatap Sehun tajam, tapi kembali melunak saat melihat Sehun ketakutan. Dia menghembuskan nafasnya perlahan, "Iya aku cemburu." Jongin menundukkan kepalanya.
Sehun terkekeh dan mengelus tangan Jongin, membuat Jongin melihat senyum indah Sehun, "Aku milikmu sepenuhnya, apa yang perlu kau khawatirkan hyung?"
Jongin menggeleng, "Maafkan aku Sehunna, sepertinya kelelahan membuat emosiku cepat naik." Jongin menggenggam balik tangan Sehun.
Sehun tersenyum dan melihat ke arah kasir, Donghae sudah pergi, Chanyeol dan Baekhyun juga sedang bercanda, sepertinya semuanya baik-baik saja.
"Ada yang ingin kubicarakan." Ujar Jongin, membuat perhatian Sehun kembali tertuju kepadanya.
"Aku mendengarkan." Sehun membalas.
Jongin mengeluarkan kotak beludru berwarna biru tua dan menyerahkannya pada Sehun, "Bukalah."
Sehun melepaskan genggaman tangan Jongin dan membuka kotak yang diberikan Jongin. Sebuah kartu, "Hyung.." Sehun bingung harus berkata apa.
"Aku tahu." Jongin berkata, "Ini terlalu cepat, tapi menunggu sepanjang minggu untuk melihatmu bangun dalam pelukanku itu melelahkan. Saat aku bermimpi buruk, bermimpi kau meninggalkanku, aku tidak bisa memastikan langsung bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku," Jongin menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "Jadi Sehun, maukah kau tinggal bersamaku?"
Mungkin Jongin terlalu paranoid bahwa Sehun akan meninggalkannya bersama orang lain, maka dari itu mimpi buruknya hampir selalu tentang itu. Tapi semua mimpi buruk itu tidak akan membuatnya sekalut ini saat dia terbangun dengan Sehun di pelukannya. Jongin dan Sehun hanya bisa tidur bersama saat akhir pekan, itu jadi semacam rutinitas mereka. Tapi Jongin ingin merubah itu, dengan memberi Sehun kartu kunci apartmentnya dan mengajak Sehun tinggal bersamanya. Jongin tahu mungkin dia terlalu paranoid, tapi Jongin tidak peduli, asalkan Sehun berada di sampingnya.
"Tapi hyung, tinggal bersamamu malah akan membuatku sangat merepotkanmu bukan?"
"Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu Sehunna, aku malah merasa senang jika bisa berada di sampingmu."
"Tapi nanti hyung akan bersikeras mengantarkanku ke kampus atau menjemputku, hyung kan sibuk, aku tidak mau merepotkan." Sehun terdengar sedikit merengek.
Jongin mengusap pipi kanan Sehun dengan ibu jarinya, "Sebentar lagi kau wisuda, sebulan atau dua bulan mengantarmu tidak akan membuatku mati." Jongin meyakinkan Sehun, "Ku mohon Sehunna, jangan buat kedatangan Chanyeol kesini sia-sia. Tinggallah bersamaku." Jongin memohon.
Sehun mengangguk membuat Jongin senang dan mencium pipi kanan Sehun yang sedari tadi di usapnya. "Hyung," Panggil Sehun yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Jongin, "memang apa hubungannya dengan kedatangan Chanyeol hyung?"
"Oh itu, dia yang membantu kita membawa barang-barangmu saat pindah nanti." Sehun hanya menggeleng mendengar perkataan Jongin.
Dua bulan kemudian
"Sehun, kau melihat kaus kakiku dimana tidak?" Jongin berteriak dari dalam kamar mereka.
"Aku menaruhnya di atas nakas hyung." Sehun menjawab sambil membereskan apa saja yang akan dibawanya nanti.
"Kalau dasiku dimana?"
Sehun menghampiri Jongin, "Aku dari tadi memegangi dasimu hyung, kau bilang ingin dipasangkan tadi."
Jongin tersenyum, "Aku lupa hehe" Jongin tertawa garing.
"Yang akan di wisuda itu aku hyung, kenapa hyung yang panik sih?" Sehun berkata sambil memasangkan dasi Jongin.
"Karena kau akan menjadi wisudawan paling cantik," Jongin mencium pipi kiri Sehun, "paling manis," Lalu pipi kanan Sehun, "dengan indeks prestasi yang bagus," Lalu hidung Sehun, "dan orang lain harus tahu bahwa kau sudah mempunyai pasangan yang sangat cocok denganmu." Dan mengecup dahi Sehun lama.
"Sudah." Sehun melepaskan ciuman Jongin setelah dia selesai memakaikan dasi untuk Jongin, "Dengan penampilan begini, aku yakin hyung akan menjadi pendamping wisuda paling tampan yang pernah ada." Jongin baru akan membalas Sehun dengan perkataan cheesy lainnya, saat Sehun berbicara, "Jadi ayo kita berangkat, karena kita akan terlambat kalau tidak cepat-cepat." Dan Sehun meninggalkan Jongin untuk mengambil tasnya. Membuat Jongin merengut sebal.
Sehun akan di wisuda hari ini. Setelah bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk kuliah akhirnya Sehun berhasil lulus dalam waktu kurang dari tiga tahun. Sebuah prestasi membanggakan bagi Jongin, maka dari itu dia membelikan Sehun tuxedo putih yang sangat manis untuk Sehun sedangkan dirinya memakai tuxedo hitam untuk mendampingi Sehun. Membuat Sehun menjadi wisudawan paling cantik dan manis hari ini adalah tujuannya.
"LULUS DENGAN NILAI SUMMA CUM LAUDE, OH SEHUN!" Sehun maju untuk melaksanakan prosesi wisudanya. Setelah selesai Sehun langsung menemui Jongin dan kedua orangtuanya yang sudah menunggu Sehun.
Ibu Jongin langsung memeluk Sehun begitu Sehun sampai di tempat mereka menunggu, "Ibu bangga padamu nak, Ibu tidak akan khawatir menyerahkan Jongin padamu kalau sudah begini." Sehun melepaskan pelukan Ibu Jongin.
"Ibu." Jongin memanggil ibunya agar berhenti mengejeknya.
"Selamat atas kelulusanmu Sehun." Ayah Jongin menjabat tangan Sehun. "Aku lega cucuku akan lebih pintar dari ayahnya nanti." Meledaklah tawa Sehun dan Ibu Jongin, sedangkan Jongin hanya merengut sebal, dia bisa apa kalau ayahnya sudah berkata begitu, ayahnya kan selalu benar.
"Sudah-sudah." Ibu Jongin melerai saat Jongin ingin membalas perkataan ayahnya, "Kami akan menunggumu di rumah ya. Kita harus merayakannya."
"Cepatlah pulang setelah latihan nak, kami duluan." Ayah Jongin berkata.
Sehun dan Jongin sama-sama menundukkan kepala mereka kepada kedua orangtua Jongin.
"Selamat ya Sehunna, kau benar-benar membanggakan. Kau bahkan bisa lulus dengan sangat cepat." Jongin memberikan rangkaian bunga pada Sehun dan mencium pipi Sehun.
"Terima kasih hyung." Sehun merona.
"Ehm ayo kita pergi sekarang, kita harus ke tempat latihanku lalu ke rumah ayah dan ibu."
"Tentu." Jongin pun menautkan jemari mereka saat berjalan.
Jongin memang sengaja membawa motor karena tadi mereka hampir terlambat sampai ke acara Sehun, jadi sekarang mereka pergi ke sirkuit pun menggunakan motor Jongin. Mereka bahkan masih memakai tuxedo karena tadi Jongin bilang mereka akan terlambat untuk latihan kalau berganti baju dulu.
"Hyung, kurasa kita sedang diikuti." Sehun berbicara agak keras agar terdengar Jongin.
"Hanya perasaanmu saja Sehunna." Balas Jongin. Sementara Sehun yakin beberapa motor di belakang mereka bukan seperti pengguna jalan lainnya, lagi pula jalan ini cukup sepi.
"Kenapa kita tidak lewat jalan yang biasa saja sih hyung?" Sehun mencoba menepis kekhawatirannya karena semakin banyak motor yang mengikuti mereka.
Motor-motor itu menambah kecepatannya dan memepet motor Jongin, meminta Jongin untuk menepikan motornya. Mau tidak mau Jongin menepikan motornya. Sehun tidak bisa melihat wajah si pengendara motor karena tertutupi helm, Sehun sangat takut saat ini, tapi Jongin terlihat tenang-tenang saja. Sehun turun dari motor begitu pula Jongin, Jongin melepas helmnya dan menghadap Sehun, "Tetap disini." Ujarnya tenang. Sehun menggeleng, namun Jongin tetap menjauh.
Jongin menghampiri orang yang tadi menyuruhnya untuk menghentikan motor dengan tenang. Tentu saja Sehun takut orang itu melukai Jongin atau apa, kenapa Jongin bisa setenang itu sih?
Sehun melihat ke sekelilingnya, entah berapa motor yang mengerubungi mereka, Sehun berinisiatif untuk mengeluarkan ponselnya sampai orang yang dihampiri Jongin tadi memberikan setumpuk kertas pada Jongin, membuat Sehun mengerutkan dahinya heran. Entah dari mana terdengar alunan musik, Sehun sangat mengenal lagu ini karena Jongin sangat senang mendengarkannya, Sugar dari Maroon5.
Jongin kembali menghadap Sehun dengan mengenggam tumpukkan kertas tadi di depan dadanya.
Di kertas itu tertulis
Hi cotton candy,
Jongin memberikan kertas itu pada orang yang di temuinya tadi membuat kertas lain terlihat,
This is awkward, but bear with me
Jongin memberikan lagi kertas tadi pada orang disebelahnya
Aku telah memikirkan hal ini, kau selalu berkata…
Jongin kembali melakukan hal yang sama, memberikan kertasnya
"Aku tidak yakin apakah aku pantas mendampingimu."
Jongin melakukannya lagi, memberikan kertasnya
"Menikah denganmu adalah hal yang kuimpikan tapi aku tidak yakin pantas untukmu."
Jongin memberikan lagi kertasnya
Tapi aku juga selalu mengatakan hal yang sama untuk menghilangkan keraguanmu
Jongin memberikan kertasnya lagi
Tidak ada orang lain yang membuatku bahagia seperti kau membuatku bahagia
Jongin meneruskan memberikan kertasnya
Aku hanya ingin menua bersamamu
Jongin memberikan lagi kertasnya
Walaupun otakku berkata tidak mungkin
Jongin memberikan kertasnya
Tapi hatiku selalu berkata hanya menginginkanmu
Jongin memberikan lagi kertasnya
Jadi Sehun
Jongin memberikan kertasnya lagi dan terlihatlah kertas terakhir dari tumpukkan kertas tersebut,
Will you marry me?
Sehun tidak tahu harus berkata apa, Jongin bahkan menambahkan gambar kucing yang sangat lucu di bawah kata-katanya.
Your sugar
Yes, please
Won't you come and put it down on me
I'm right here. 'cause I need
Little love and little sympathy
You show me good loving
Make it alright
Need a little sweetness in my life
Your sugar
Yes, please
Won't you come and put it down on me
Hanya suara itu yang terdengar saat Jongin menunggu jawaban Sehun. Sedangkan Sehun sudah tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang, tadi dia ketakutan karena dia pikir dia dan Jongin sedang di rampok tapi tiba-tiba Jongin melamarnya, di pinggir jalan ini, dengan sangat manis, bagaimana Sehun bisa menolaknya? Bahkan otaknya tidak bisa memikirkan kata lain selain iya.
Sehun mengangguk membuat Jongin tersenyum dan semua orang tadi bersorak. Seseorang dari motor tadi memberikan sebuket bunga pada Jongin dan kotak beludru, Jongin menghampiri Sehun.
Jongin menyerahkan buket bunganya pada Sehun dan berlutut, "Aku sebenarnya gugup, takut, ini sesuatu yang baru buatku. Kau sangat manis, setiap perlakuanmu membuatku semakin mencintaimu. Jadi Sehun, will you," Jongin mengambil jeda membuka kotak beludru tadi, "marry me?"
So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Forever will stay in, I won't take you for granted
'Cause we'll never know it when we'll run out of time
So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Bahkan Jongin memutar lagu kesukaan Sehun kali ini. Jongin menanyakan untuk kedua kalinya hari ini, Sehun mengangguk dan berkata, "Yes." Katanya pelan.
"Yes?" Jongin bertanya lagi.
"Yes." Sehun menjawab lebih keras.
Jongin tersenyum puas, "Jadi habis ini apa?" Tanyanya pada orang yang tadi memegang kertas-kertas yang digunakan Jongin untuk melamar Sehun.
Orang itu membuka helmnya yang ternyata adalah Chanyeol, "Pasang cincinnya bodoh." Chanyeol berkata kesal.
"Oh." Seolah tersadar Jongin berdiri dan memasangkan cincinnya pada Sehun lalu mengecup dahi Sehun. Jongin memeluk Sehun erat sekali karena tanpa sadar Sehun menangis.
Jongin melepaskan pelukannya pada Sehun dan menghadap teman-temannya yang tadi membantunya melamar Sehun, mereka bersorak bahagia karena akhirnya Jongin di terima. Chanyeol memeluk Jongin, "Akhirnya kau melakukannya Jong." Chanyeol menepuk bahu Jongin.
Sedangkan Baekhyun yang ternyata ada disana langsung menghampiri Sehun dan memberikannya tissue, oh Baekhyun pun menangis tak kalah derasnya dengan Sehun.
"Selamat ya Sehunna." Baekhyun berkata dengan suara seraknya.
Sehun terkekeh, "Jadi ini yang kau lakukan sampai tidak datang ke wisudaku hyung?"
"Ada wartawan Jong! Ayo cepat!" Chanyeol berseru sambil menarik Baekhyun.
Sehun yang belum menyadari apa yang terjadi langsung di tarik Jongin naik ke motornya lagi dan pergi dari sana.
"Ada apa hyung?" Sehun bertanya panik.
"Ada wartawan." Jongin menjawab tak kalah panik.
Tidak ada latihan sama sekali, Jongin berbohong. Sampai di sirkuit yang ada adalah kedua orang tua Jongin, keluarganya di panti asuhan dulu, bahkan keluarga Baekhyun. Pada jalanan sirkuit disusun kursi-kursi persis seperti gereja, bahkan dilapisi oleh karpet merah. Terlihat seperti altar.
"Hyung, ini apa?" Sehun berkata ragu.
"Pernikahan kita." Jawab Jongin santai sambil menarik tangan Sehun.
Jongin menarik tangan Sehun sampai ke depan altar menghadap pendeta yang akan melakukan pemberkatan pada mereka.
"Siap?" Tanya Jongin pada Sehun.
"Aku bahkan tidak berpikir untuk mengatakan tidak hari ini hyung." Sehun tersenyum.
Jongin pun mengangguk lalu menghadap pada pendeta yang sudah menunggu mereka, "Kami siap!"
Chanyeol terlihat berlari sampai ke altar, "Bahkan cincin pernikahanmu ada padaku. Kenapa kau terburu-buru sekali sih?" Chanyeol berkata sambil mengatur nafasnya membuat para undangan terkekeh.
Pemberkatan berlangsung dengan hikmat, sangat sakral. Resepsi pun berlangsung meriah dan menyenangkan karena Jongin hanya mengundang orang-orang terdekat mereka saja.
Hari ini sangat melelahkan untuk Sehun, wisuda, dilamar dengan tiba-tiba, bahkan pernikahannya. Jongin benar-benar membuatnya sangat lelah hari ini, tapi tidak bisa dipungkiri, Sehun bahagia hari ini. Bahagia sampai tidak bisa berhenti tersenyum.
"Sehunna?" Jongin masuk kamar setelah mandi dan langsung berbaring di samping Sehun. Sehun tidak menjawab panggilan Jongin. Jadi Jongin berbaring telentang menghadap langit-langit seperti yang Sehun lakukan, "Apa kau bahagia hari ini?" Jongin bertanya.
Cukup lama sampai Sehun menjawab, "Mungkin kalau ada kata yang lebih dari kata bahagia untuk menggambarkan perasaanku saat ini aku akan menggunakannya hyung. Tapi ya, aku sangat bahagia." Ujarnya.
"Bahagia sampai lupa melepas helmmu?" Jongin tertawa mengingat Sehun yang tidak melepaskan helmnya saat dilamar tadi.
"Kau orang yang membuatku takut lalu bahagia sampai aku bahkan lupa untuk melepas helmku saat aku dilamar, kau bahkan mengecup dahiku saat aku masih memakai helm, kenapa kau tidak," Sehun terbangun untuk memukul Jongin, tapi, "Uh kenapa hyung tidak memakai baju begitu?" Sehun bertanya karena Jongin hanya memakai boxernya.
"Kenapa harus dipakai kalau nanti dilepas juga?"
This is end of the story
I know this so cheesy, but please bear with me 'cause after this, I'll post the side story of this fiction
thank you guys for always leave a review, and to follow and favorite this story that's mean love to me, so sorry 'cause I can't even give some conflict on their life, I just can't, sorry
see you on next fiction, thank you :)
