Live!
By. Hikari Hyun Arisawa
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Rated : T
Pair : Rumit
Genre : Hurt/comfort, Romance
Summary : Perasaan seorang gadis yang terombang-ambing di tengah kemelut panjang yang melibatkan sebuah band besar, 'The Rustle'. Pada akhirnya, siapa yang akan terluka?
.
Gomen lama… idenya sempet ilang. Buntu banget kemarin-kemarin. ^^
Gomen yaaa~
===000===
Chapter 6
Calling…
Akira-kun
"Ha-halo," Sakura sedikit terbata menjawab telepon itu.
"Maaf," gumam suara di seberang telpon.
Mata Sakura membulat. "Maaf untuk apa, Aki- ah maksudku Sasuke-kun?"
Sasuke terdiam. Seharusnya Sakura tahu kata maaf yang baru saja di katakan Sasuke itu untuk apa. Ya! Untuk semua kata-kata kasarnya. Untuk semua sikap buruknya. Dan untuk kesalahan terbesarnya yang telah mencampakkan gadis itu begitu saja.
Namun Sasuke mulai menyadari satu hal. Gadis itu tidak marah padanya. Gadis pink itu tidak marah sedikit pun walau dia sudah bersikap buruk padanya. Hal inilah yang membuat Sasuke semakin tidak bisa melepaskan diri dari gadis itu.
"Kau belum terbiasa memanggil namaku ya?" tanya Sasuke dengan nada dingin dan tanpa menjawab pertanyaan Sakura tadi.
"Emh, rasanya aneh saja," jawab Sakura.
"Hn. Istirahatlah, sudah malam,"
"Tapi aku masih ingin bicara denganmu," bantah Sakura.
Sasuke kembali terdiam.
"Besok aku akan menjemputmu. Sekarang tidurlah,"
Gadis pink itu masih terdiam saat Sasuke mematikan teleponnya. Dia membaringkan diri di ranjang. Menyamankan diri di tengah kehangatan selimut tebal yang kini melingkupinya. Perlahan dia menutup kedua matanya.
"Sashh... suke-... kun," desisnya lemah.
Sakura kembali membuka matanya. Mata itu berbeda dengan sebelumnya. Mata yang kini penuh genangan air mata.
===000===
Hyuuga Neji menatap seseorang yang baru saja datang ke rumahnya dengan wajah datar. Dia mempersilakan orang itu untuk duduk sementara dia juga ikut duduk di sofa ruang tamu.
"Sesuai tebakanku," cibir Neji pada orang itu.
Orang itu hanya mendecih pelan.
"Aku hanya mengatakan dia di rumahku. Kau langsung menghubunginya. Bahkan sekarang kau datang kemari. Kau mudah sekali ditebak, Sasuke," sindir Neji lagi.
"Terserah apa katamu," jawab Sasuke malas.
Mereka terdiam sejenak. Kemudian Neji berdiri dan melangkah menuju pintu keluar rumahnya. Namun dia berhenti sejenak sebelum keluar. Dia membalikan badannya menatap Sasuke lagi.
"Dia di lantai dua sebelah kanan tangga," kata Neji.
Sasuke hanya mengangguk.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.
"Menyelesaikan masalah kontrak The Rustle. Kita harus membayar banyak ganti rugi untuk pembatalan konser beberapa hari ini,"
"Hn, seharusnya si bodoh Kakashi itu yang menyelesaikannya 'kan?
Neji mendengus kecil. Dia bersandar di pintu dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Kau yang bodoh Sasuke. Mana mungkin Kakashi mengurusi masalah ini jika kini dia sedang mencoba baju pengantinnya"
Mata Sasuke membulat. "Di-dia?"
"Aku sudah mengatakannya 'kan? Ku harap kau tidak membawa kabur si mempelai wanita. Itu hanya memperburuk keadaan,"
"Hn. Aku tahu itu,"
===000===
Sakura menggeliat kecil saat merasakan tangan seseorang yang membelai lembut rambutnya. Merasa tidurnya sedikit terusik, dia membuka kedua matanya pelan. Kepalanya terasa pusing mengingat semalam dia menghabiskan waktu untuk menangis.
Pelahan matanya menangkap sosok laki-laki berambut raven yang sangat dia rindukan. Sakura tersenyum lemah menatap Sasuke. Seperti mimpi ketika melihat pangeran impiannya kini tiba-tiba saja ada di hadapannya.
"Kita pergi dari sini," ucap Sasuke.
Sakura tidak mengerti. Dia bangkit dan duduk di atas ranjangnya.
"Kita kemana?" tanya Sakura.
"Bereskan barang-barangmu. Kita pergi sekarang," kata Sasuke.
Sakura mengangguk.
"Aku mandi dulu," kata Sakura sambil berjalan menuju kamar mandi.
Sasuke masih terdiam. Sejujurnya dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa tidak apa-apa jika dia membawa pergi gadis itu?
Dan apa yang harus dia lakukan setelah ini? Bahkan berkali-kali pun seorang Uchiha Sasuke memikirkannya, dia tetap belum bisa memastikan tindakannya sekarang. Masih banyak keraguan dan pertimbangan dalam mengambil keputusannya sekarang.
===000===
Udara dingin di pegunungan mulai mengusik dua orang itu. Hamparan bukit-bukit hijau terbentang luas di hadapan mereka. Sejuk dan damai. Gambaran sebuah kawasan dari salah satu rangkaian pegunungan di bumi ini.
Sebuah villa mewah milik keluarga Uchiha di daerah pegunungan kini menjadi tujuan utama Sasuke. Entah apa yang membuatnya memilih tempat ini. Hanya saja menurutnya, menjauh dari semua orang yang terlibat dalam pernikahan Sakura akan membuat segalanya menjadi sedikit lebih mudah. Walaupun sesungguhnya dengan membawa kabur mempelai wanita malah mempersulit keadaan, tetapi Sasuke telah memikirkan semua ini matang-matang. Dia tidak akan melakukan hal bodoh tanpa memikirkan resikonya terlebih dahulu.
"Sasuke-kun," panggil Sakura yang kini berdiri di sebelahnya sambil menatap villa di hadapannya.
"Hn? Kenapa?"
"Bukankah kau telah… mencampakanku?"
Sasuke tersenyum kecil. Dia menarik lembut kedua bahu Sakura untuk membuat posisi tubuh Sakura berhadapan dengannya.
"Sakura, aku-"
"Maafkan aku," kata Sakura yang langsung memotong perkataan Sasuke.
"Aku memang bodoh karena tidak menyadari kau adalah Sasuke Uchiha. Dan aku memang salah karena tidak pernah memberitahumu kalau aku mengenal Naruto dan Neji. Aku juga bersalah karena tidak memberitahumu kalau orang tuaku menjodohkanku dengan seseorang dari keluarga Hatake. Tapi, aku benar-benar tidak tahu kalau akhirnya malah menjadi sepeti ini. Maafkan aku... maafkan aku, Sasuke-kun," Sakura menundukan wajahnya. dia tidak berani menatap wajah Sasuke sekarang.
"Aku tahu aku bodoh. Tapi, bisakah kalau kita… kembali bersama lagi?" Sakura mengatakan hal itu dengan lirih.
Sementara Sasuke kini menatap Sakura dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa gadis berambut pink itu meminta maaf padanya sampai seperti itu? Padahal yang harusnya meminta maaf adalah dirinya. Ya! Seharusnya Sasukelah yang meminta maaf atas semua perlakuan kasarnya yang telah mencampakkan gadis itu begitu saja.
Perlahan Sasuke menyentuh dagu Sakura dan mengangkat wajah cantik itu untuk bertatapan dengannya.
"Dengarkah aku. Kau tidak bersalah, Sakura. Semua salahku," kata Sasuke dengan lembut sambil menatap dua mata emerald dihadapannya.
"Tidak! Aku yang salah! Aku yang sal- emmh," kata-kata Sakura terpotong oleh ciuman Sasuke yang tiba-tiba.
Dua bibir itu pun menyatu dalam ciuman yang lembut. Namun hanya sebentar saja. Kerena hal penting yang sedang mereka bicarakan bukan sesuatu yang dapat dialihkan oleh sebuah ciuman.
"Sasuke-kun.." Sakura menatap tak percaya pada mata onyx dihadapannya atas apa yang baru saja dilakukan oleh yang pemilik mata itu.
"Baiklah. Semua yang terjadi ini memang salahmu," kata Sasuke dengan tegas.
Wajah Sakura kembali menunduk. "Maaf," kata Sakura lirih.
"Jika ingin kembali padaku, kau harus berjanji menerima hukumanmu terlebih dahulu,"
Kini Sakura menatap Sasuke kembali seolah telah siap menerima semua hukuman apapun yang akan Sasuke berikan padanya.
"Hukuman yang harus kau terima adalah... berada di sisiku untuk selamanya,"
Mata Sakura membulat. Tak percaya dengan pendengarannya. Benarkah? Benarkah Sasuke Uchiha menawarkan hukuman yang sangat dia inginkan. Bahkan hal itu sangat manis untuk disebut sebagai hukuman. Terlalu manis.
Sasuke merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya. Kini mereka kembali bersama. Ikatan yang mereka jalin pun lebih kuat dari sebelumnya. Sebuah ikatan yang mulai sekarang tidak akan mudah goyah hanya karena masalah sepele lagi. Kini mereka sedang merasa seolah hanya mereka yang tinggal di dunia ini.
"Jangan meninggalkanku lagi," kata Sakura sambil balas memeluk erat laki-laki yang kini kembali menjadi kekasihnya itu.
"Tidak akan," jawab Sasuke.
===000===
Sakura berdiri sendirian dan termenung di balkon lantai tiga villa keluarga Uchiha. Gerimis yang turun menjadikan hawa di pegunungan menjadi bertambah sejuk dan dingin. Sakura masih terus melamun sambil menatap tetesan-tetasan air hujan yang terus bertambah deras. Sudah sehari dia menginap di villa ini bersama Sasuke. Entah kenapa walaupun dia telah kembali menjadi kekasih Sasuke, namun hatinya masih tetap tidak tenang. Dia merasa masih ada hal yang seharusnya tidak dia abaikan begitu saja, yaitu pernikahannya. Pernikahan yang berlangsung besok.
Sakura kembali tersadar dari lamunannya ketika dia merasa ada sesuatu yang hangat melingkupi punggungnya. Selimut. Sasuke baru saja memasangkan selimut itu pada bahu Sakura.
"Arigatou," kata Sakura sambil tersenyum lembut pada kekasihnya itu.
"Hn," jawab Sasuke singkat.
Mereka terdiam sesaat sambil menikmati suasana sepi di pegunungan. Keduanya yang dibesarkan di kota besar sama-sama jarang melihat pemandangan indah seperti ini. Mereka seolah terbiasa dengan pemandangan gedung-gedung besar dan kepadatan lalu lintas yang tidak lebih dari sekedar bentuk pengrusakkan bumi ini.
"Apa kau memikirkan pernikahanmu?" tanya Sasuke.
Sakura hanya mengangguk lemah.
"Masih ada waktu bagimu untuk kembali kesana. Aku tidak pernah memaksamu untuk kembali padaku," kata Sasuke dengan nada dingin.
"Bukan. Aku tidak bermaksud untuk kembali kesana. Tapi orang tuaku. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja,"
"Satu hal yang masih ingin aku tanyakan padamu. Apa kau benar-benar masih ingin tetap bersamaku?" tanya Sasuke.
"Tentu saja. Aku ingin hidup bersamamu lebih dari apapun,"
"Hn," Sasuke kembali terdiam dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Sakura.. maukah kau menikah denganku?" tanya Sasuke sambil menyodorkan sebuah cincin berlian dengan motif guratan yang sangat sederhana. Sebuah cincin yang terlihat elegant dan jelas bukan sesuatu yang bisa dibilang murah.
Sakura mematung tak percaya. Entah kenapa setiap bersama dengan Sasuke selalu saja ada hal mengejutkan yang tiba-tiba Sasuke lakukan. Seperti sekarang, dengan suasana yang tidak bisa dibilang mendukung untuk melamar seseorang, dia mengatakan hal itu. Sangat tidak romantis. Tapi mengejutkan.
Seolah masih tersihir oleh pesona Sasuke, Sakura hanya mampu mengangguk lemah sambil tetap manatap mata onyx kekasihnya itu. Sasuke tersenyum kecil menatap kekasihnya yang sekarang sedang seperti orang kebingungan.
Sakura merasa bagaikan kehabisan oksigen saat Sasuke memasangkan cincin itu pada jadi manisnya. Nafasnya sedikit sesak. Dia merasa seperti banyak kupu-kupu berterbangan dalam perutnya. Rasanya bahagia. Sangat bahagia.
"Kau tahu. Seperti yang kemarin telah ku katakan. Setelah kau memutuskan untuk kembali padaku, maka kau harus terus selamanya berada di sisiku. Karena aku.. tak akan pernah melepaskanmu lagi," kata Sasuke sambil mengecup cincin di jari manis Sakura.
"Hati dan tubuhmu. Semuanya milikku. Tanpa terkecuali," lanjut Sasuke sambil merengkuh Sakura dalam pelukkannya.
Kini Sakura tidak bisa lagi menyembunyikan rona kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya. Senyum terus terkembang di wajah cantiknya. Jelas ini bukan mimpi. Kehangatan tubuh Sasuke di pelukkannya bukanlah hal yang tidak realistis. Karena ini semua nyata. Sasuke Uchiha baru saja melamar kekasihnya.
===000===
Kini mereka kembali bersama. Namun benarkah mereka bisa terus bersama?
Tidak semudah itu...
Kenyataan bahwa besok adalah pernikahan gadis berambut pink itu adalah suatu hal yang harus digaris bawahi. Saat ini hanya ada satu hal yang menjadi prioritas dari Sasuke. Ya! Uchiha Sasuke sedang merencanakannya. Dia sudah memikirkan tindakannya kali ini. Hal yang menghalangi kebahagiaan mereka akan dia hancurkan. Uchiha Sasuke berencana menggagalkan pernikahan itu.
===000===
Maaf pendek. *dihajar readers* ^^
Saya sedang berusaha mencari ide buat lanjutan fic ini yang kemarin sempet ilang gara-gara saya ganti akun. *ngelirik fic saya di akun lain*
Gomen.. saya juga tidak begitu memperhatikan typo-nya.
Tapiii, fic ini udah hampir ending koo~ ^ ^
.
Special thanks to :
Valkyria Sapphire, Shard VLocasters, Niochan, Rievectha Herbst, Merai Alixya Kudo, Keylan, Vampire 9irL, Haruno Nanako, kazuma b'tomat, Ame ChochoSasu, Rizu Hatake-hime, ruru chan, Violet7orange, Kurosaki Naruto-nichan, SyeaSasuSaku, LucCy ZaNiitha, LucCy ZaNiitha, Aideen Lee, maka Q, 4ntk4-ch4n, Just Ana, Yui Hiruma, nisa, mimi, Meity-chan.
.
Mind to review?
