WET DREAM

.

.

CHAPTER 7

..

Yoongi yakin, kali ini ia menghitung dengan benar.

Sudah sebulan. Sebulan sudah Jungkook tiba-tiba berubah dingin. Bahkan lebih dingin darinya dulu. Ah, mungkin gelar ice prince akan berpindah pada Jungkook. Yoongi sebenarnya tidak mempermasalahkan Jungkook jadi cuek atau tidak, tetapi sebab akibat yang ia timbulkan itu membuatnya penasaran.

Aksi dingin Jungkook ditandai dengan kembalinya Taehyung sebagai playboy kelas kakap—bahkan sekarang ia mengencani Seulgi, perempuan panggilan milik Sehun. Jimin dan teman-teman Taehyung yang lain tidak mempermasalahkan dia kembali ke tabiat awalnya.

Saat itu, Jisoo sedang menerangkan tugas dari guru yang sedang tidak masuk. Seperti biasa, ia ingin memanfaatkan geeks kelas mereka—aksi pemanfaatan ini dibantu oleh Somi. Jisoo sempat menunjuk Jungkook sebagai ketua nerd kelas mereka untuk mengerjakan tugas utama—membuat proyek ilmiah sebagai perwakilan kelas mereka nanti. Tapi yang didapat Jisoo adalah tendangan Jungkook pada dadanya sendiri (Jisoo tidak menyangka kalau Jungkook bisa memukulnya dengan kaki) dan tatapan es (yang Jisoo yakini percampuran antara es kutub selatan dan es kutub utara). Benar-benar dingin.

Semuanya terkejut, termasuk Jimin dan Yoongi juga. Jimin sih menanggapi biasa saja. Berbeda dengan Yoongi yang khawatir. Pemuda yang kini berambut hitam itu melirik Taehyung yang duduk diam—dan menyeringai.

Yoongi bersumpah tidak tahu maksud senyuman itu.

"Sudah kubilang, Yoongi. Tidak usah memikirkannya. Kau terlalu khawatir padanya" celetuk Jimin sambil memeluk pinggangnya. "Ia akan baik-baik saja. Aku yakin kok."

Yoongi menatap kekasihnya itu sebal. Pemuda bersurai ungu muda (Yoongi sempat kesal karena dia memilih ungu ketimbang hitam—Jimin berambut ungu itu terlalu seksi. Dan Yoongi tidak suka berbagi)—itu terlalu santai.

"Dia kerabatku, Jiminnie. Wajar, aku khawatir." sahut Yoongi sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Jimin.

Yoongi dapat merasakan kalau kekasihnya itu sedang menahan tawa, "Dia sudah besar, Yoongi-ya."

"Tapi-"

"Okay. Kau boleh mengkhawatirkannya. Tetapi jangan lupakan jatahku, hm?" jawab Jimin sambil menciumi leher Yoongi. Hell no. Dasar Jimin. Pria itu benar-benar tidak bisa berhenti dari kebiasaannya; bercinta di depan umum.

"Terserah kau saja."

.

.

.

Jungkook jenuh.

Ia ingin melepaskan Taehyung, tetapi tidak bisa. Entah apa yang membuatnya bertahan sampai saat ini.

Sebulan yang lalu, air matanya terus mengalir saat melihat Taehyung—walaupun hanya sedetik. Saat ini, air matanya bahkan sudah mengering. Jungkook menolak untuk menangis lagi. Ia merasa sudah cukup untuk menangisi Taehyung; yang jelas-jelas mengabaikannya untuk puluhan pria manis dan wanita cantik.

Pemua bergigi kelinci itu berjalan ke arah kantin. Kalau bisa, ia ingin bertemu Wonwoo dan meminta nasihat darinya. Untuk expert seperti Wonwoo, hal yang ia alami hari ini adalah hal yang sepele. Mingyu, kekasih Wonwoo pasti bisa memberinya petuah-petuah seperti dalam acara motivasi.

Diam-diam, ujung bibir Jungkook menarik sebuah senyuman.

.

"Itu hanya 2 cm." Suara berat itu lagi. Jungkook refleks berhenti. Seluruh kendali otaknya diambil alih oleh pemuda itu. Taehyung.

"Apa maksudmu?" Jungkook menahan mati-matian suaranya agar tidak terdengar menahan tangis.

Tidak.

Ia tidak boleh menangis di depan Taehyung lagi.

Taehyung berjalan, mendekatinya. Lalu menatap pemuda kelinci di hadapannya itu, "Senyumanmu hanya 2 cm. Minimal 5 cm agar bisa membuatku tenang."

"Apa pedulimu, brengsek?" sahut Jungkook ketus. Ia menatap Taehyung langsung ke manik pemuda itu. Mata Taehyung berpendar abu-abu, tidak seperti miliknya yang hitam kelam.

"Kau lupa janjimu, Jungkook-ssi." jawab Taehyung sambil melipat tangannya di dada. Menatap intens Jungkook tepat di manik kelamnya, "Kau ingkar janji padaku. Dan tentu saja, aku peduli. Aku tidak suka seseorang mengingkari janji—kalau ada satu alasan pasti." Mulut Jungkook kini berkomat-kamit—menggumamkan sejumlah sumpah serapah pada Taehyung.

"Kau juga melanggar tahu! Kau melanggar janji itu untuk memberitahuku kalau senyumanku kurang tiga senti!?" suara Jungkook cukup menggelegar. Taehyung tahu kalau Jungkook akan berteriak padanya.

"Lalu apa? Kau ingin aku berbicara apa padamu, huh?" Jungkook terdiam. Benar. Kata-katanya tadi seperti mengharapkan Taehyung mengatakan sesuatu.

.

"Lebarkan senyummu. Kalau perlu seperti Joker. Aku akan mengawasimu dari belakang." kata Taehyung sambil memegang kedua pundak Jungkook erat.

"Liar."

"Ap-"

"Pembohong! Kau berkata ingin menjauh dariku tapi nyatanya kau bahkan mendatangiku hanya untuk senyuman?!" Jungkook menepis tangan Taehyung dari pundaknya. "Get off from my way, liar."

Jungkook kemudian melangkah pergi. Tanpa ia sadari, matanya mengeluarkan setetes air mata.

Taehyung terpaku.

Semenit kemudian, dadanya sesak. Sesak akan rasa asing yang menyelimuti hatinya.

.

.

.

Jungkook mengusap air matanya kasar. ia benar-benar tidak sanggup lagi. Ia bahkan melanggar janjinya sendiri—untuk tidak meneteskan air mata lagi.

Jungkook meraih ponselnya dari saku jas, mendial sebuah nomor, dan menunggu nada sambung. 10 detik kemudian, suara berat Wonwoo menggema dari sana.

"Hyung."

[Hn?]

"Aku tidak bisa. Aku-" Jungkook memberi jeda untuk menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku tidak bisa. Aku tidak bisa.."

[Tunggu. Tenangkan dirimu, kook. Kau dimana?]

"A-atap."

[Oke. Diam disana. Jangan melompat atau berlari atau apapun itu. Aku dan Mingyu akan kesana.]

Sambungan telepon ditutup seketika.

Jungkook meremat ponselnya. Menatap langit kebiruan yang jauh disana. Jungkook ingin sekali apa yang ia alami hari ini adalah mimpi.

Sebuah mimpi yang buruk.

.

.

.

"Seleramu rendah, Tae." ungkap Namjoon terang-terangan. "Kau 'kan tahu kalau Seulgi hanya memiliki pelayanan ranjang yang memuaskan. Tetapi kalau kau mengencaninya, ini sama saja kau tertarik pada wajahnya."

Taehyung mengangkat bahunya, "Tidak kok. Siapa bilang?"

"Aku." Taehyung melirik pemuda sipit disebelahnya heran. "Really? Kau pikir aku serendah itu? Maaf saja, Gigi Hadid masih ada di list utamaku."

"Hoo, kupikir sudah dirusak oleh si Jeon Jungkook itu." Perkataan Namjoon membuatnya terdiam. Seketika ia ingat dengan Jungkook yang pergi meninggalkannya sambil menangis.

Jangan kira Taehyung tidak tahu. Dia tahu segalanya. Terima kasih untuk informan-informan terbaiknya (Terutama Tzuyu. Gadis itu selalu membantunya. Gampang sekali disogok dengan segelas besar starbucks.) Taehyung juga tahu kalau Jungkook diam-diam menangis saat melihat dirinya. Sungguh, sepenting itukah dirinya di mata Jungkook?

.

.

Terkadang, Taehyung merasa bangga; karena akhirnya ada orang yang mengakui pentingnya eksistensi seorang Kim Taehyung di dunia (Selain keluarganya, tentu saja). Di sisi lain, dia juga merasa bersalah, karena penyebab Jungkook menangis adalah dirinya sendiri.

Duh, Taehyung dilema, guys.

"Kau tahu? Lebih baik kau bersama Jungkook itu daripada Seulgi. Ini demi kebaikanmu saja sih." celetuk Namjoon sambil mengetikkan entah apa di laptopnya.

"Ini..juga demi kebaikannya, Namjoon-ah." jawab Taehyung lirih. Namjoon meliriknya penuh tanda tanya, "Kebaikannya? Maksudmu Jungkook?"

Taehyung menggumam, "Setidaknya, dengan aku menjauh darinya, dia tidak perlu tersakiti lagi. Dia terlalu gampang memaafkan, itu yang membuatku sadar,"

Namjoon bisu. Membuat Taehyung melanjutkan perkataannya, "-Sadar kalau aku terus melakukan itu terus menerus, akan memperdalam hubungan kami dan aku takut tidak bisa melepaskannya. Terserah kau mau memukulku, Namjoon-ah. Aku sudah berpikir tentang ini matang-matang."

.

"Itu pengecut." suara Sehun terdengar dari balik punggung Namjoon, "Taehyung yang kukenal tidak sepengecut itu." Pemuda tinggi itu berkata pada Taehyung dengan suara yang paling dingin yang pernah Namjoon dengar.

Taehyung diam, kemudian bangkit dan berjalan pergi keluar kelas.

"Sehun! Kau tidak perlu menusuknya terlalu dalam." Namjoon berbisik memperingatkan. "Dia sedang rapuh, tahu."

"Kata-katamu ambigu, Kim." sahut Sehun dengan nada bercanda, "Kau tahu? Aku berhasil mencium Luhan kemarin. Dan dia ketagihan. Aku hebat, bukan?"

Namjoon menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada yang tidak beres dengan otak Sehun hari ini. "Kau benar-benar bajingan tulen, Sehunnah."

.

.

.

"Tarik nafasmu, dan cerita. Tidak usah detail, okay?" Wonwoo mengintruksi adiknya sambil mengelus punggung Jungkook. Mingyu duduk di depan mereka dengan wajah iba. Dia tahu status Taehyung di sekolah mereka, si playboy yang mainnya pakai hati. Mingyu marah, tentu saja. Ini-ehem-calon adik iparnya. Dan Mingyu sebenarnya ingin mendatangi Taehyung dan memukul kepala pirangnya itu.

Tetapi Wonwoo melarang. Pemuda itu lebih menyarankan untuk diam, dan biarkan karma berjalan. Mingyu sih menurut saja. Kalau melawan, itu artinya putus dengan Wonwoo.

"Dia m-mendatangiku." Jungkook berkata lirih, "Aku diam dan aku meledak."

"Wajar. Kau masih marah padanya. Sudah kubilang 'kan, untuk melupakan anak itu?" kata Wonwoo dengan tegas. "Kau bilang butuh waktu. Aku sudah membantumu selama sebulan, dan tidak ada perubahan signifikan. Kali ini terserahmu saja, Kook. Kejar atau tinggalkan. Hanya itu pilihanmu."

Jungkook diam.

.

.

.

.

"Demi Dewa Neptunus! Kau menonton film biru di perpustakaan sekolah!?" seru Daehyun saat mendapati adik bungsunya duduk tepekur di ujung meja dengan komputer di hadapannya. "Kau seperti tidak tahu aku saja, hyung. Dan apa-apaan itu? Neptunus? Kau kebanyakan baca novel Percy Jackson."

"Aku tahu kau, tengil. Taehyung yang dulu selalu menonton ini di kamarnya. Bukan sekolah. Dan tentang Percy Jackson, novel itu favoritnya Jungkook."

Gerakan tangan Taehyung di keyboard komputer terhenti. Ia menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya, "Sungguh? Wow, aku terkejut."

Daehyun mengernyitkan dahinya. "Responmu aneh sekali."

"Apanya?"

"Tidak jadi. Oh ya. Kalau mau menonton, kecilkan saja suaranya. Aku tidak ingin dipanggil sebagai walimu lagi." Kemudian Daehyun berlalu pergi. Taehyung merutuk kakaknya itu di belakang, "Dasar kakak nista."

.

.

.

Taehyung frustasi. Hatinya seperti menyoraki dirinya yang seorang pengecut.

Pengecut? Itu tidak ada di kamus tampan seorang Kim Taehyung.

Yah, walaupun ia yakin ia sudah bertindak lebih buruk dari seorang pengecut saat ini. Di depannya, berputar film dokumenter buatan Jihoon—Taehyung sempat melihat folder film itu dan baru sadar kalau Jihoon ikut eskul cinematography—yang bertema cukup sensitif.

Taehyung memerhatikan gerak-gerik akting bodoh Soonyoung yang menatap Jihoon dalam lewat lensa kamera. Dan Taehyung menebak 100% kalau Lee Jihoon itu jadi terus tersenyum dibalik kamera. Seperti menertawai tingkah Soonyoung yang cukup menggemaskan.

Duh, mereka langgeng sekali.

Temanya memang sensitif, dan Taehyung merasa pesan yang ingin disampaikan oleh Jihoon menembus akal sehatnya.

'Boleh saja suka sesaat, tetapi tidak boleh melibatkan perasaan. Perasaan seseorang tidak boleh dipermainkan sembarangan.' ucap Soonyoung sambil tersenyum memeluk bola basket.

Taehyung akan memuji pemuda sipit itu lain kali.

.

.

Taehyung merenung di meja komputer. Tangannya sibuk menggerakkan mouse dan meng-klik berbagai macam film dokumenter dan wawancara milik Jihoon. Sampai di film ke-12, Taehyung tertegun dengan perkataan Jihoon yang membuatnya lemas.

'Tidak usah mendekati dia kalau akhirnya akan pergi juga. Buang-buang waktu dan perasaan.'

Taehyung benar-benar salut dengan Soonyoung yang tahan segala omongan tajam pemuda kecil itu.

Dan jujur saja, dari awal, Taehyung tidak menggunakan perasaannya.

Sama sekali tidak pernah. Ia hanya mendekati Jungkook karena pemuda itu unik—Taehyung adalah tipe yang mencari tahu sendiri. Dia hanya penasaran dengan sosok Jungkook.

Tapi, sepertinya tindakannya berlebihan. Jungkook menangis, itu karena dirinya.

Taehyung menghela nafas untuk kesekian kalinya.

.

.

Dering ponsel membuat Taehyung terlonjak.

"Siapa?"

[Ini Yoongi.]

Taehyung menyenderkan tubuhnya ke kursi, "Oh, ada apa Yoongi-hyung?"

Ada hening 5 detik dari sana. [Ini tentang Jungkook.]

Tubuh Taehyung merinding. Wajahnya memucat tiba-tiba. "Ada apa dengannya?"

[Wonwoo-hyung bilang kau harus menemuinya. Kakak kelas emo itu bilang kalian harus selesaikan ini baik-baik.]

"Aku tahu. Tapi, bagiku sudah selesai, Hyung."

[Tapi Jungkook tidak, KimTae. Maka dari itu kau harus menemuinya. Jungkook bilang sudah memutuskan satu hal. Dia ingin aku menyampaikan ini padamu.]

Taehyung diam. Nafas pemuda pirang itu tercekat.

[Jungkook bilang ia menyerah, Taehyung-ah.]

.

.

.

To be continued.


KALIAN YANG UDAH MELIHAT MV BLOOD SWEAT TEARS MASIH KUAT AJA!? HEBAT. #salut

Gue ga kuat. Jimin sexy af, taetae bener2 ganteng abis. Abang gue, Namjoon, jehop ama suga (sumpah suga itu bias wrecker banget huhu :') ) keren beud, bang jeka juga berniat menggoda gue #ingetadeganisepjari

Dan mama jin main cipokan. #die.

Btw, chap yang ini pendek ya?


Dan yang nungguin ini cerita abis/chapter selanjutnya, sekitar lagi 1-2 chapter lagi udah end. Jujur gue ga bisa misahin vkook lama-lama :'). Part NC is confirmed! Tapi kayaknya singkat deh. Soalnya gue belum pernah nulis NC :D


-mind to review again?-