REWIND

0O0

(TWO SHOOT)

(It's ending..)

.

.

PAIR : CHANBAEK

CAST : BYUN BAEKHYUN, PARK CHANYEOL, XI LUHAN, MANAGER (It's OC), OH SEHUN.

GENRE : ROMANCE, HURT, DRAMA, FANTASY, AND MYSTERY (A little).

0o0

0o0

NO FLAME! NO COPY! AND NO SIDERS!

ALUR MAJU-MUNDUR, so..

ENJOY, GUYS..

0O0

CHAPTER 2 (ENDING).

Langit malam kota Seoul benar-benar pekat. Dinginnya malam natal menembus hingga minus delapan belas derajat celcius. Berkali-kali aku mengeratkan mantelku. Berkali-kali aku menghembuskan nafas dan berkali-kali itu pula uap putih keluar dari mulutku. Ini adalah tahun ke tujuh sejak hari itu. Hari dimana Chanyeol menghilang dan membuatku lupa kapan terakhir kalinya aku pernah merasa begitu bahagia.

Aku merasa hampa. Ini adalah malam natal. Jika dulu Chanyeol akan mengajakku menonton parade di sungai Han, sekarang semua berubah. Selama tujuh tahun ini aku selalu merayakan natal dengan melakukan konser di atas panggung. Aku kesepian hingga rasanya aku ingin mati saja.

Tujuh tahun kulewati tanpanya. Ya, Tuhan. Seperti inikah rasa sakit? Apakah ini karma untukku? Aku belum terbiasa, Ya, Tuhan. Mungkin bagi orang-orang, tujuh tahun adalah waktu yang sangat lama dan waktu yang bisa menyembuhkan segala macam bentuk patah hati dan juga luka. Tapi itu salah. Aku masih membutuhkan dia. Disampingku dengan tawanya yang menyejukkan.

"Baek, kau tidak kedinginan?"

Seseorang membenahi kancing mantelku yang terlepas. Dia manajerku. Satu-satunya temanku. Satu-satunya yang memperlakukanku seperti manusia. "Kenapa diluar? Bagaimana jika nanti ada yang melihatmu. Setidaknya gunakan masker agar kau tidak dikenali."

"Aku hanya bosan menunggu di dalam mobil."

"Tapi disini dingin."

"Kau sudah dapat ayamnya?"

"Belum, Baek. Karena natal kita kesulitan pesan antar dan banyak toko yang tutup. Sekarang kita masuk. Kau sudah benar-benar membeku. Tubuhmu dingin sekali."

"Tapi kau belum mendapat ayamnya."

"Kita ke apartement saja. Aku akan memasak."

Aku mengangguk. Membiarkan manajer membimbingku masuk ke dalam van. Dia satu-satunya orang yang menemaniku di malam natal. Keluargaku tak pernah perduli padaku. Dulu. Dulu sekali Chanyeol-lah yang selalu menemaniku. Aku menganggap kehadirannya adalah suatu kewajaran dan memang seharusnya seperti itu. Tapi, sekarang, aku sadar. Bahwa Chanyeol bukanlah suatu kewajaran. Ia adalah hadiah dari Tuhan. Dan ketika aku sadar, semuanya sudah terlambat.

"Aku kemarin membeli majalah itu, Baek," kata hyung sambil menunjuk sebuah majalah yang ada di dashboard mobil. Manajer masih mengemudi dan aku mengambil majalah itu. Majalah bisnis ternyata.

"Ada Chanyeol disana. Jadi aku membelinya."

Aku benci saat-saat seperti ini. Saat rindu kembali datang. Dan jantungku berdetak keras karena terlalu sesak. Aku tidak tahan lagi. Aku melempar majalah itu ke jok dan lebih memilih menatap langit malam di balik jendela.

"Maaf. Baek. Tidak seharusnya aku—"

"Tidak apa."

Aku menatap langit dan membiarkan rasa rinduku membeku. Terkadang, dengan menatap langit, aku bisa merasakan kehadiran Chanyeol. Chanyeol itu ibarat kelam malam yang menentramkan sekaligus kegelapan.

Dua sisi yang memberiku ketenangan sekaligus rasa sakit.

"Tadi Yunho mengirimkanmu bunga. Dia mengatakan selamat atas kemenanganmu. Dan dia memberi pesan agar kau mengambil cuti. Kau terlalu memforsir dirimu sendiri."

Aku terdiam. Tak berkomentar. Sejak kepergian Chanyeol, Yunho memang menepati janjinya. Dia mendebutkanku. Hanya sebatas itu. Tapi kerja kerasku-lah yang menjadikanku nomor satu. Ketika laguku menang di semua program musik, aku selalu menyebut namanya.

Aku memberi pidato, tersenyum pada fans dan menyebut nama Yunho serta nama perusahaan. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku? Lebih dari hancur. Mulut kotorku menyebut namanya seolah dialah orang paling berpengaruh dalam karirku. Aku muak. Tapi aku tidak bisa menyerah. Aku mengorbankan pria paling berharga dalam hidupku untuk meraih semua ini. Karena itu, aku tidak bisa menyerah. Tidak sekarang.

"Kau sudah membuka berita online hari ini?"

"Belum."

"Buka tablet itu. Kau harus membacanya."

Aku menurut. Mengambil tablet dan membuka koneksi internet. Ternyata hanya artikel sampah. Artikel ini sudah beberapa hari memenuhi portal berita online. Artikel tentang Yunho. Pria yang sampai saat ini masih begitu aku benci sepenuh hatiku.

"Wartawan masih menganggapmu sebagai orang ketiga kandasnya hubungan Yunho dan istrinya. Bahkan media Tiongkok mengatakan kau terlihat beberapa kali makan malam dengannya."

"Aku makan malam bersama staff juga."

"Kau tahu sendiri media."

"Ya, tentu. Media itu kan sampah."

Aku men-scroll di bagian kolom komentar.

Semua komentar menyudutkanku. Menjulukiku rubah. Pria penggoda. Gay menjijikkan dan bahkan pelacur. Jika kalian fikir aku akan menangis karena komentar semacam itu, maka kalian salah. Yang bisa membuatku menangis selama bertahun-tahun hanyalah Chanyeol.

"Kau tidak apa-apa, Baek?"

"Tentu saja."

Ngomong-ngomong soal Yunho. Ternyata dia tak lebih dari seorang pria brengsek. Aku hanya salah satu dari korbannya. Sejak dia diangkat menjadi CEO Perusahaan, sikapnya makin menjadi-jadi. Dia meniduri calon artis dengan iming-iming akan di debutkan. Benar-benar brengsek. Dia menjadi guru musik di sekolah juga semata-mata untuk menjeratku. Tentu saja. Aku satu-satunya training yang berbakat ketika itu.

Perusahaan pasti akan tetap mendebutkanku meskipun memakan waktu yang lama. Tapi Yunho, dia mendekatiku agar bisa meniduriku dengan iming-iming palsunya. Itulah sebabnya aku membencinya. Membencinya hingga terkadang, aku punya niat untuk membunuhnya.

Tapi tentu saja aku tak mau mengotori tanganku dengan darah kotornya. Dia yang menipuku. Dia yang membuangku. Bukan berarti aku menginginkan dia disisiku. Aku bahkan memutuskan hubungan kami dan menjauhinya setelah debut. Yunho memang tidak mencintaiku. Dia mencampakkanku. Menikahi wanita lain yang memang setara dengannya. Cantik, seksi dan juga kaya. Artis senior yang dulu dipuja karena film-film panasnya di Tiongkok.

Sungguh kelakuannya seperti binatang. Terkadang aku ingin muntah ketika terpaksa menghadiri rapat dengan dia ada disana. Aku benar-benar mual dan aku alergi padanya. Mengingat dialah yang menodaiku, membuatku selalu jijik pada diriku sendiri. Bahkan sudah tujuh tahun berlalu tapi rasa benci dan rasa mualku tak berkurang sedikitpun.

"Perusahaan sudah menentukan jadwal. Minggu ini kau akan menjadi bintang tamu di Hello, Im Man. Konsepnya seperti sebelum-sebelumnya. Kau akan ditantang dengan permainan ala militer. Kau tidak apa-apa dengan itu?"

"Perusahaan sudah menentukan. Aku tidak bisa menolak kan."

"Kau benar. Ingat. Jangan memasang wajah datar. Karena ini variety show keluarga. Kau harus selalu tersenyum."

Variety show, ya? Mengingatkanku pada Chanyeol. Sekarang aku tahu. Bahwa berpura-pura bahagia itu benar-benar melelahkan. Apakah dulu Chanyeol juga mengalaminya?

"Oh iya, besok kita akan berpesta. Kau tahu kan kau jadi ambassador Etude House?"

"Ya, aku ingat, hyung."

"Aku akan mengambil jasmu nanti."

"Besok pagi saja. Sekarang kita pulang saja. Aku lelah."

"Oh. Oke."

Besok, ya? Baekhyun menatap salju-salju yang turun menghujani jendela mobilnya. Managernya bilang, ada kemungkinan ia bisa bertemu Chanyeol disana. Baekhyun tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya.. terlalu takut.

0o0

Malam yang ditunggu-tunggu Baekhyun akhirnya tiba. Ia gugup luar biasa. Hyungnya terus-menerus menceramahinya untuk bersikap biasa. Bagaimanapun tujuan utama mereka adalah masalah pekerjaan. Tapi Baekhyun tidak bisa.

Ia tidak bisa menyembunyikan rasa berdebarnya. Rasa bahagia, rasa takut dan juga rindu. Segalanya bercampur menjadi satu.

Baekhyun itu acuh. Ia jarang memperhatikan tamu-tamu ketika dia berada di dalam sebuah pesta. Tetapi pengecualian ketika malam ini. Baekhyun memperhatikan para tamu untuk mencari sosok yang selama ini ada di dalam hatinya. Dengan jantung yang berdebar dan tangan menggigil karena gugup, Baekhyun tanpa sengaja melihat ke arah pintu besar bertahtahkan emas kuning di pinggirannya.

Tidak hanya Baekhyun. Tapi perhatian para tamu lain juga sama. Perhatian itu ditujukan pada seorang wanita yang berdiri di sana. Baekhyun ikut memperhatikan wanita itu. Wanita itu kecil, anggun dan menarik perhatian. Dia memakai mantel Black Diamond berbulu yang bisa Baekhyun pastikan itu sangat mahal. Rancangan desainer terkenal. Sepatu warna putih sesuai dengan bulu putih halusnya yang harganya mungkin seminggu gaji Baekhyun menyanyi di atas panggung. Pasti wanita itu sangat kaya.

Tak berapa lama, semua tamu kembali melihat ke arah pintu.

DEG!

Selama sedetik, Baekhyun hanya bisa terdiam. Benarkah itu Chanyeol? Baekhyun tidak memalingkan pandangannya meskipun ingin. Ia tetap menatap lurus ke arah pria yang ia duga sebagai Chanyeol. Detakan jantung Baekhyun mengingatkannya pada sesuatu. Detakan yang sama ketika Chanyeol menciumnya. Ketika Chanyeol menyatakan cinta. Detakan penuh rasa haru dan detakan menyenangkan.

Baekhyun tak tahu harus melakukan apa. Tapi kehangatan hati Baekhyun berubah menjadi rasa sesak saat Chanyeol berjalan ke arah wanita cantik tadi. Wanita itu secara terang terangan tersenyum pada Chanyeol. Mereka saling mengenal? Kenapa mereka tampak dekat? Apakah wanita itu kekasih Chanyeol? Baekhyun menyembunyikan rasa sakitnya dengan cukup baik. Ia memandang kedua orang itu. Wanita misterius dan pria yang ia cintai.

Chanyeol tumbuh lebih tinggi semenjak terakhir Baekhyun melihatnya. Baekhyun ingin berbicara banyak, banyak sekali. Meminta maaf. Menanyakan kabarnya. Apakah dia baik-baik saja. Atau menanyakan pertanyaan yang sebenarnya terus bergema dalam kepala Baekhyun. Apakah kau sudah menikah? Apakah kau sudah memiliki kekasih? Dan apakah kau membenciku?

Tapi, Baekhyun takut. Takut Chanyeol akan menolaknya. Chanyeol memang berbeda. Jauh berbeda. Tak ada lagi cengiran atau tawa lebarnya. Yang ada hanya tatapan tajam dan wajah dingin ketika dia mengatakan sesuatu pada pria-pria tua disampingnya. Baekhyun menggigil, menjalar di seluruh tulang-tulangnya. Merasakan betapa menakutkannya pesta ini. Pesta terburuk sepanjang hidupnya.

DEG!

Tiba-tiba Chanyeol menatap Baekhyun.

Baekhyun tersentak. Tak menyangka bahwa tatapan mereka akan bertemu secepat ini. Baekhyun belum siap. Bahkan mungkin Chanyeol pun belum siap. Tapi melihat tatapan datarnya, mungkin Chanyeol tak menganggap ini sesuatu yang perlu dilebih-lebihkan. Dia menatap seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka.

Tatapannya terlalu datar. Apakah dia benar Chanyeol? Rasanya sakit. Baekhyun bahkan lebih memilih jika Chanyeol memukul atau berteriak keras padanya. Sungguh. Itu masih lebih baik. Dan, untuk sesaat, Baekhyun tak dapat bernafas. Mata dinginnya masih menatap Baekhyun dengan alis yang lebih menawan dari terakhir Baekhyun ingat.

Alis Chanyeol jauh lebih tegas dan lebih tebal. Wajahnya semakin dewasa seiring berjalannya waktu. Metamorfosisnya terlampau cepat, terlalu indah.

Baekhyun gemetar ketika sedikit demi sedikit Chanyeol mulai menghampirinya. Sambil memasang wajah dingin yang membuat seluruh persendian Baekhyun terasa lemas, Chanyeol berdiri dua belas centi tepat di depannya. Terlalu dekat hingga Baekhyun bisa melihat wajah sempurnanya yang menawan.

Jidatnya tinggi dan indah. Rambut hitamnya tertata dengan begitu rapi di samping pelipisnya. Chanyeol.. Dia begitu tampan.

Chanyeol menatap Baekhyun dalam keheningan yang menusuk.

"Hai, Baekhyun."

"H-hai, Chanyeol. Bagaimana kabarmu?"

"Baik. Kau sendiri?"

Baekhyun tak berani menatap Chanyeol. Tatapan dinginnya membuat Baekhyun ragu. Baekhyun hanya bisa menunduk, menyetabilkan segala detak jantungnya yang menggila.

"Kau baru mendapat daessang, bukan? Selamat ya, Baekhyun."

Suara dingin itu menyentak segala keluh kesah Baekhyun. Kali ini Chanyeol menatapnya penuh dengan kehangatan, sama seperti dulu. Baekhyun terpaku untuk sesaat.

"T-terima kasih.."

Sebelum Chanyeol menjawab, tiba-tiba dari arah belakang, seorang wanita—yang tadi dilihat Baekhyun di depan pintu, berjalan mendekati mereka. Rambut pirangnya bersinar terang. Seakan tak cukup dengan kecantikan bonekanya, sikapnya juga anggun dan mempesona.

"Kenapa anda ada disini?"

"Aku ingin berbicara sebentar dengan Baekhyun."

Wanita itu mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. Matanya menyelidik, seakan menilai seluruh penampilan Baekhyun. Dari atas ke bawah terus seperti itu membuat Baekhyun risih. "Dia penyanyi solo itu kan? Anda mengenalnya?"

"Ya. Dia temanku di SMA dulu."

"Oh. Begitu."

Wanita itu menatap Baekhyun dengan pandangan tak ramah. Oh jadi wanita ini memiliki etitude yang buruk? Baekhyun membatin, tak suka.

"Lebih baik, anda menemui Math. Sepertinya ia ingin membicarakan saham Perusahaan."

Wanita itu terlihat jelas menggoda Chanyeol. Tangan mulusnya dilingkarkan di lengan kokoh Chanyeol lalu suaranya dibuat-buat dengan suara menjijikkan.

"Oke. Aku akan kesana."

Chanyeol menatap Baekhyun sebentar. Lalu menunduk sekedar formalitas.

Baekhyun masih melihat punggung tegap Chanyeol yang mulai menghilang di antara para tamu undangan. Hati Baekhyun sakit sekali. Chanyeol-nya telah berubah. Itu bukan lagi Chanyeol yang dulu.

Pesta berlangsung meriah. Baekhyun yang merupakan ambassador, mulai memperkenalkan produknya. Beberapa undangan nampak sibuk dengan rekan bisnisnya masing-masing. Tamu-tamu disana benar-benar ekslusif. Baekhyun bisa melihat Chanyeol yang terus berbicara dengan orang-orang penting yang ada di Korea. Dia dan gadis itu terlihat profesional. Tak terlihat sekalipun sang gadis merayu Chanyeol di tengah pembicaraan mereka.

Jadi wanita itu adalah seketarisnya?

Tak lama setelah itu, muncul seorang pria menghampiri Chanyeol. Tak tahu aturan. Dia menghampiri Chanyeol saat pria itu masih sibuk membahas sesuatu. Tapi anehnya, Chanyeol tak terlihat marah. Dia justru tersenyum lembut dan mengenalkan pria itu ke relasi-relasi bisnisnya.

Siapa sih pria itu? Baekhyun mengernyit. Tidak tahu aturan. Baekhyun merasa tak asing dengan pria itu. Tapi ia tidak ingat pernah bertemu dimana.

Tatapan mereka bertemu. Pria itu tersenyum manis padanya. Baekhyun tidak tahu harus merespon apa. Apa mereka saling kenal?

"Baekhyun!"

Pria itu menghampiri Baekhyun sambil terus menggandeng lengan Chanyeol. Baekhyun mengacuhkan denyutan nyeri di ulu hatinya.

"Kau tahu namaku?"

"Kau tidak ingat padaku? Aku Luhan!"

"A-apa?"

Luhan? Pria ini, Luhan? Bukankah dulu Luhan itu sangat manis? Tapi kenapa sekarang dia seperti ini? Penampilannya terlihat berantakan. Benar-benar seperti terror. Rambutnya berantakan. Tubuhnya pun terlihat mengerikan: seperti dia memiliki berat badan sembilah puluh atau seratus kilogram. Dan Baekhyun benar-benar tak bisa mengenalinya. Luhan.. Ia terlihat seperti bulldozer.

"Kau tampak mengerikan," kata Baekhyun begitu saja. Baekhyun itu memang seperti itu. Selalu mengatakan apa yang ia rasa. Dan itu belum berubah sampai sekarang. Memang begitulah tabiatnya.

Luhan terkejut. Dia menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jari di ujung kemeja. Sedangkan Chanyeol, dia menatap Baekhyun dengan tatapan sinis.

"Ternyata kau tidak berubah, ya, Baekhyun?"

Chanyeol tertawa. Tapi entah kenapa tawa Chanyeol begitu menyakiti hati Baekhyun.

"Selalu memandang rendah oranglain. Itu dirimu, kan, Baekhyun?"

"Apa maksudmu—"

"Luhan.. Kau memandang rendah dia kan?"

Baekhyun mendecih, kenapa Chanyeol malah membela Luhan. Memangnya salah kalau ia bicara seperti itu? Luhan kan memang mengerikan. Dia sangat gemuk sekarang.

"Aku hanya bicara kenyataan kok."

"Tapi, oranglain tidak sepertimu. Mereka—"

"Mereka menyimpannya dalam hati. Menurutmu, mana yang lebih menyakitkan. Aku yang mengatakannya terang-terangan, atau mereka yang bisanya hanya berkomentar di belakang."

Chanyeol diam. Tatapannya menajam.

"Kau tidak harus mengatakan dia mengerikan, bukan?"

"Lalu aku harus mengatakan kalau dia itu gendut? Apa bedanya?"

Chanyeol menghela nafas.

"Kau pasti belum memiliki kekasih karena sikap burukmu itu. Tidak ada yang betah denganmu selain aku kan?"

Baekhyun diam. Mencerna kata-kata Chanyeol yang begitu menyakitkan. Itu fakta memang. Tidak ada yang betah dengan sifat buruk Baekhyun selain Chanyeol. Tapi apa Chanyeol harus mengatakan terang-terangan seperti itu?

"Kau keterlaluan, Chanyeol."

"Keterlaluan?" Sahut Chanyeol sambil tertawa. Baekhyun merasa matanya kembali memanas.

"Apa kau tersinggung? Itulah yang kau lakukan selama ini. Kau bisa merasakannya kan? Rasa sakit akibat perkataan ketusmu selama ini. Aku hanya membantu menyadarkanmu, Byun Baekhyun."

"Aku tidak—"

"Kau itu egois. Kau tidak pernah memikirkan oranglain, Baekhyun."

Chanyeol menatap tepat ke mata Baekhyun.

"Ada kalanya, keindahan itu menipu. Kau itu indah, kau itu sempurna. Tapi aku akan lebih memilih itik buruk rupa dibanding putri cantik dengan segala kemewahannya."

Chanyeol tersenyum. Mengelus rambut Luhan dan merapikan bajunya yang agak kusut.

"Ka-kalian?"

"Ya. Luhan adalah kekasihku."

Chanyeol menatap Baekhyun datar. Tanpa ekspresi sama sekali. Baekhyun tidak terima. Jika saja Luhan adalah seorang gadis cantik nan seksi yang angkuh, sombong, dan menyebalkan, Baekhyun malah bisa menerimanya. Baekhyun akan membenci Luhan sebanyak yang ia mau. Membencinya karena memang dia lebih baik dari Baekhyun. Tapi nyatanya, Luhan adalah seorang yang buruk rupa. Seseorang yang terlihat begitu menyedihkan tapi bisa menggantikan posisinya.

"Kau memang sakit, Baekhyun."

DEG!

Sudah cukup. Nyeri sekali rasanya. Bibir Baekhyun bergetar menahan tangis. Sekarang, apakah ia terlihat begitu menyedihkan? Ini tidak seperti dongeng-dongeng yang biasa Baekhyun baca. Bahwa seorang putri akan jatuh ke pelukan sang pangeran seperti Chanyeol. Pangeran harus selalu bersama dengan sang angsa cantik. Benarkan?

"Kau hanya peran antagonis, Baekhyun. Bukanlah sang putri."

Cukup, Chanyeol! Cukup!

"Jaga dirimu baik-baik."

Jangan pergi, jangan pergi, Chanyeol.

Baekhyun menatap hampa. Menatap punggung Chanyeol yang menjauh dengan segala rasa sakit yang menyesakkan.

Baekhyun pikir, dengan meraih mimpi, ia bisa merasa bahagia. Tapi ternyata selama ini Baekhyun salah. Meraih mimpi tanpa Chanyeol terasa begitu kosong. Berulang kali Baekhyun mencoba membuka hati untuk pria lain.

Tapi, pia-pria itu mendekatinya hanya karena fisiknya. Mereka awalnya memuja, tapi setelah mereka bosan, mereka akan membuangnya seperti ban bekas. Orang-orang yang mengaku fans adalah orang-orang yang mengoloknya jika bobot Baekhyun naik. Mereka hanya mau menatap tubuh Baekhyun yang sempurna layaknya boneka Barbie.

Kaki Baekhyun terasa begitu lemas. Ia terduduk di lantai dan segalanya buram oleh air mata.

"Baekhyun! Kau tidak apa-apa? Kenapa?"

Baekhyun mendongak, menatap sang manager yang tampak begitu panik. Hatinya sudah hancur. Segala harapannya lebur. Tak ada lagi harapan.

"Baek, kau kenapa?"

"Hyung.."

"Ya, kenapa, Baek?"

"Ayo, kita liburan. Aku lelah. Lelah sekali."

0o0

0o0

Aku berencana menenangkan diri selama kurang lebih dua minggu. Aku hanya bersama manajerku. Siapa lagi yang bisa kupercayai selain dia? manajerku itu baik. Baik sekali. Satu saja kekurangannya. Dia itu berisik. Kalau diingat-ingat, dia itu mirip dengan Chanyeol. Selalu berkomentar apapun yang aku lakukan.

Tapi, yang paling membekas dari semua ceramahnya adalah tentang kewarasanku. Manajerku bilang, aku harus ditemani seseorang agar tak menenggak obat anti depresan. Katanya, aku bisa gila kalau tidak mencari pacar secepatnya. Tentu saja aku bisa jadi gila. Aku tidak memiliki siapapun. Pacar? Mereka semua mendekatiku karena memiliki tujuan. Tidak ada yang benar-benar tulus.

Keluargaku? Mereka hanya menelpon saat natal, atau saat aku berulang tahun. Mereka bahkan tidak mengucapkan selamat saat aku mendapat penghargaan. Tapi toh, aku sudah terbiasa. Menjalani hari-hariku yang sepi tanpa siapapun disisiku. Aku memang tolol. Aku baru menyadari betapa berartinya Chanyeol setelah ia pergi dari sisiku.

"Kau baik-baik saja, Baek?"

Manajerku datang membawa sekantung belanjaan. Ia membuka kulkas dan menaruh berbagai sayuran disana. Manajerku itu healthy-freak. Ia terus-menerus menjejaliku sayuran warna-warni, protein, tanpa lemak sama sekali. Dia bilang itu bagus untuk diet.

Dan yah, bertahun-tahun aku menjalani diet karena aku harus tampil sempurna di depan mereka. Mereka mengatakan mereka adalah fans. Tapi, mereka tidak bisa menerimaku apa adanya.

"Kau tidak berbuat aneh-aneh kan hari ini?"

Aku tidak mengindahkan apapun perkataannya. Daun cokelat mati yang menutupi halaman tampak lebih menarik bagiku. Daun itu sama sepertiku. Kering—terbuang jika tidak dibutuhkan. Mereka semua membuangku seperti daun kering yang mati.

"Kau tahu, aku merinding setiap melihat tempat itu. Danau itu suram sekali."

Manajerku memakaikan jaket tebal di kedua bahuku. Perlakuannya yang hangat membuatku merasa sedikit rileks. "Anginnya kencang. Sebaiknya kau tutup jendelanya."

"Jangan, hyung," ucapku pelan. Manajerku menghela nafas, mungkin sudah pasrah dengan apapun yang menjadi keinginanku. "Baiklah. Tapi pakai jaketnya."

Aku mengangguk. Memakai jaket pemberian hyung dan memeluknya erat. Udara memang dingin, mungkin karena ini musim gugur. Tapi meskipun rasanya kulitku mulai menggigil, aku masih betah melihat-lihat pemandangan di luar. Rumput-rumput yang tinggi menjulang sampai sebatas danau yang baru kusadari ada disana. Rumah ini memang menyeramkan, pantas saja hyung agak takut.

"Aku ingin cerita, Baek," Hyung duduk disampingku sambil mengeratkan pegangan kaus mantelnya. Entah dia dingin atau merasa gugup, aku tidak tahu. "Tapi, janji ya, jangan takut."

Mata hitam pekatnya penuh antisipasi.

Aku hanya menganguk, mengiyakan.

"Kita sampai disini lima hari yang lalu, iya kan?"

"Yah.."

"Dan lima hari berturut-turut, aku selalu bermimpi. Mimpinya aneh, tapi yang jelas, aku bermimpi."

Aku tidak bisa menangkap maksud perkataannya, jadi aku hanya mengangkat bahu.

"Semua orang bermimpi, hyung," kataku tersenyum.

"Tapi, ini lain, Baek. Aku jarang bermimpi. Ditempat manapun saat kita menginap. Luar negri sekalipun, aku jarang bermimpi. Tapi, ketika kita disini, aku terus mengalaminya. Tidak hanya di malam hari. Saat aku tidur siang, bahkan sore, aku selalu bermimpi."

Aku diam sebentar.

"Mimpi apa?"

"Entah. Tidak jelas, kebanyakan tentang aku yang menyetir mobil atau melakukan hal-hal yang pernah kulakukan. Tapi, pernah juga aku bermimpi sedang duduk menatap jendela seperti yang tengah kau lakukan saat ini. Dan di rumah ini, di jendela ini. Tidakkah itu aneh?"

Angin dingin membuatku merinding. Kukira hanya aku yang mengalaminya. Ternyata hyung juga mengalaminya. Sedikit bimbang di awal, tapi kemudian aku merasa bahwa memberitahu hyung adalah yang paling baik. Aku akhirnya bercerita soal mimpiku juga. Mimpi tentang masa laluku, tentang keluargaku. Tentang Chanyeol dan tentang rumah ini.

"Aish! Aku benar-benar ingin pulang, Baek," kata hyung, suaranya bergetar. Tidak seperti biasa yang selalu lugas dan tegas menghadapi situasi semacam apapun. "Aku benci tempat ini. Ini mengingatkanku akan kenangan buruk."

"Kenangan buruk?"

"Ya. Aku pernah mengalami trauma karena kecelakaan. Itu sudah lama sekali tapi mimpi itu mengingatkanku pada kenangan itu."

"Ya, tentang Chanyeol juga. Ia kenangan yang menyakitkan. Tapi bukan kenangan buruk."

"Makanya, kita lebih baik—"

"Tidak," gumamku nyaris seperti bisikan. Tapi hyung pasti mendengarkanku. "Hanya disini, aku bisa menenangkan diri, hyung. Hanya dua minggu. Aku janji.."

"Yah, itu terserahmu sajalah," hyung menghela nafas. "Mungkin kau benar-benar ingin rileks. Kuharap itu hanya kebetulan saja," kata hyung sambil melirik jam tangannya. "Aku akan memasak makan malam. Kalau sudah puas mengintip daun, jangan lupa tutup jendelanya. Nanti orang bisa masuk."

Aku mengangguk. Kembali menoleh untuk melihat ke luar jendela. Melalui pepohonan, aku bisa melihat burung-burung mengitari danau. Aku memandang mereka lebih dari satu kali, dan mereka benar-benar sedang mengitari danau itu.

"Hyung?"

"Ya, ada apa, Baek?"

Rasanya, ingin sekali bertanya, apakah wajar kalau burung mengitari sesuatu? Tapi kemudian kuurungkan. Hyung itu sedikit penakut dibalik umur tua dan wajah premannya. Jadi aku menyimpan pertanyaanku sendiri. Mungkin, memang itu sering terjadi, pikirku.

"Tidak apa-apa, hyung. Hanya ingin memanggil."

Hyung tidak berkomentar lagi. Mungkin ia sudah hafal tabiatku yang memang sedikit aneh. "Baek, tutup jendelanya."

Aku menutup jendela dan hyung menyalakan penghangat ruangan. Udara memang agak dingin saat malam. Aku mengambil sandwich isi bayam lalu memasukkannya ke dalam mulut. Tak buruk, bahkan menurutku hyung pintar sekali memasak.

Esoknya, udara seperti biasa, hangat namun angin mulai berhembus kencang. Aku naik ke kamarku dan menjatuhkan diri di tempat tidur. Aku tak tidur atau apa pun. Aku hanya menatap langit-langit selama lebih dari satu jam. Semua hal liar melintas di benakku. Seperti sebuah mimpi, hanya aku sudah bangun.

"Aku merindukanmu, Chanyeol."

Mataku mulai mengantuk. Dan saat itulah, mimpi itu kembali datang.

Di suatu pagi, saat aku berumur sepuluh tahun. Aku melihat ibu dan ayah saling membentak satu sama lain. Mereka bertengkar hebat entah karena apa. Sejak saat itu, pertengkaran demi pertengkaran membuat mentalku agak terganggu. Aku tak berbicara sepatah kata kepada siapa pun selama berminggu-minggu. Ayah semakin menyalahkan ibu. Ia bilang, ibu tidak becus mendidikku.

Aku sedih, bahkan di dalam mimpiku, aku sering bermain boneka lalu berbicara dengan boneka. Tentang kesedihanku, tentang segalanya. Aku bahkan tidak ingat pernah melakukan itu. Semuanya terasa sunyi, terasa begitu hampa.

Hingga dia datang. Dan menjadi teman baik karena dia terus mengikuti kemanapun aku pergi. Dia tetangga yang berisik tapi kami benar-benar dekat saat itu.

Saat pertama bertemu, Chanyeol itu sedikit gemuk. Dia gemar mengoleksi hewan-hewan aneh. Tapi karena kegemarannya itulah, aku jadi penyayang binatang hingga kini.

"Kau tahu, Luhan, tidak?"

Chanyeol meniup gelembung sabunnya. Mengarahkan padaku dan tertawa saat mengenai wajahku. Aku berdecak, memaki tapi Chanyeol hanya tertawa.

"Memangnya kenapa dengan Luhan?" tanyaku, pura-pura antusias.

"Dia sangat manis," Chanyeol menghela napas, meletakkan gelembung sabunnya di bawah kursi lalu tertawa.

"Dia kan cowok, masa manis?"

"Yah, tapi dia benar-benar baik. Luhan memiliki hati yang lembut," katanya. Chanyeol tersenyum, manis sekali. "Saat mereka membully-ku, Luhan membelaku. Dia kecil tapi berani sekali."

Aku mendengus.

"Luhan itu brandal."

"Dia selalu melindungiku, Baek.."

Tak berapa lama, Chanyeol mengerang. Menubrukkan badannya yang gemuk di badanku yang memang sudah terlentang di kasur.

Aku mengaduh, Chanyeol berat.

"Menyingkir, bodoh."

Dia tertawa, tawanya masih begitu murni. Bukan tawa paksaan, yang baru aku sadari bahwa dia melakukannya selama bertahun-tahun.

Di dalam mimpi, kami mengobrol selama berjam-jam. Sampai ibu masuk kamar dan menyuruh Chanyeol untuk pulang. Kami berpelukan. Kami tertawa bersama-sama—seolah tidak ada beban sama sekali.

Kami membuat janji bahwa kami akan selalu bersama-sama pada saat natal atau hari ulang tahun. Dan saat mengingat kenangan itu, aku bisa merasakan rasa sakitnya. Ini hanya mimpi. Tapi, kenapa aku bisa merasakan rasa sakitnya?

.

.

"Baek, kau tidak mau masuk SMP yang sama denganku?"

Ini adalah saat kami berumur sebelas tahun. Chanyeol sedang duduk di sampingku. Seperti biasa, ia akan masuk ke kamar tanpa ijin lalu mengeluh tentang apapun yang menjadi masalahnya. Ia mulai merengek tapi tak ada reaksi dariku. Aku ingat ketika itu, aku sedang kesal. Chanyeol terus menyuruhku masuk ke SMP yang dia suka. Padahal, aku ingin masuk SMP yang berbeda.

"Ayolah, Baek, sebelum penutupan, kau masih bisa kok pindah ke SMPku," usul Chanyeol sambil terus menggoyang-goyangkan lenganku. Aku kesal. Chanyeol menganggu tidur siangku.

"Shut up!" bentakku.

Aku menarik Chanyeol untuk keluar dari kamarku tapi ia mulai merengek. Seperti nyata, semua itu terasa begitu nyata, hingga sekali lagi, aku merasakan sakit. Aku baru sadar bahwa selama ini aku sering menyakitinya. Aku tidak pernah benar-benar mendengar segala keluhan dan perkataannya.

Chanyeol.. Ia terlalu baik untukku.

"Baek, jangan mengusirku!" desaknya. Aku memberinya pandangan jengah dan ia berhenti merengek. Chanyeol terlihat kecewa. Dulu, aku tidak peka dan bahkan tidak menyadarinya. Tapi sekarang, di dalam mimpi, kekecewaannya tampak begitu jelas di mataku.

"Ya, sudah, aku pergi dulu, ya, Baek."

"Ya, sana."

Aku menutup pintu. Menuju ke kasur dan hendak melanjutkan tidurku. Tapi sesuatu tertangkap mataku. Aku berhenti dan menatap ke luar jendela yang menghubungkanku dengan rumah Chanyeol. Luhan, teman SD Chanyeol sedang berbicara dengannya. Aku memincingkan mata. Saat itulah, aku baru tahu jika mereka ternyata begitu dekat. Aku tidak tahu apapun tentang Chanyeol. Dan mimpi itupun berakhir.

0o0

REWIND

0o0o

"Kau sudah baca surat kabar hari ini, Baek?" Teriak hyung dari arah luar. Ia masuk rumah dengan buru-buru. Suaranya bergema di dinding-dinding kayu dan sepatunya yang penuh lumpur mengotori lantaiku.

"Apa memangnya, hyung? Gosip tentangku lagi? Atau sekandalku dengan Yunho?"

"Bukan, Baek! Aku mendapatkannya di kantor pos dan ini sangat penting."

Hyung berdiri di ambang pintu. Ia menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Apakah itu tatapan simpati? Atau kasihan?

"Ini tentang Chanyeol," katanya sambil berusaha mengatur napas. Hyung memberikan surat kabar itu padaku. Aku menerimanya. Pikiranku kosong, tak bisa menebak apapun itu. Aku.. terlalu.. takut.

PARK CHANYEOL, PEWARIS PARK Inc. DEPARTMENT STORE TERNYATA GAY! Park Chanyeol akan menikah dengan pria keturunan China, Xi Luhan di Belanda.

Aku menatap hyung. Kosong. Hampa. Yang kulihat saat itu hanyalah pantulan diriku di mata hitam pekatnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik. Masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku menatap pemandangan di luar jendela yang akhir-akhir ini begitu kusukai.

Hujan turun cukup deras, seolah mewakili perasaanku sekarang. Angin bergerak ribut dan menggerakkan rumput-rumput liar yang menjulang tinggi. Tanpa bisa kucegah, air mataku mulai mengalir. Satu demi satu. Aku menangkupkan tangan ke mulut agar suara isakanku tak terdengar. Aku tak mau hyung mengasihaniku. Aku tidak ingin terlihat lemah. Aku.. Aku. Aku hanya ingin Chanyeol.

Jantungku berdetak tak mau berhenti. Aku masih menangis, bersandar di tembok dan mencengkram bajuku di bagian dada. Mungkin seharusnya aku tak mencintainya lagi. Tapi aku tak bisa. Semua tentang Chanyeol terasa begitu kuat. Tertancap di seluruh sel-sel otakku.

Aku kira setelah kepergiannya, aku akan melupakannya. Tapi, nyatanya, rasa cintaku semakin bertambah kuat. Aku tak merasakan apapun dengan Yunho. Meskipun aku tidur dengannya, tapi detak jantungku sesungguhnya hanya untuk Chanyeol.

Aku sendirian sekarang. Tak ada lagi Chanyeol yang berisik, tak ada lagi lelaki yang selalu bersamaku. Tidak ada lagi Chanyeol yang bodoh. Tidak ada lagi Chanyeol yang sok kuat. Chanyeol yang selalu tertawa untuk menyembunyikan rasa sakitnya.

"Chanyeol," panggilku, suaraku tiba-tiba gemetar dan lemah.

Aku masih bersandar pada tembok, tak kuat menopang tubuhku sendiri. Aku bisa mendengar langkah kaki di depan pintu kamarku. Hyung memanggil namaku. Mungkin ia khawatir aku meminum racun atau semacamnya. Yah, mungkin itu bukan ide yang buruk.

"Baek, Are you okay?"

Untuk beberapa alasan, aku membuat suaraku sedikit lebih tenang. Aku melangkah ke meja—mengambil sesuatu—sambil terus berbicara dengan hyung. Aku tidak mau ia sampai mendobrak masuk karena cemas.

"Baek? Kau dengar aku?"

"Ya.."

"Kau baik-baik saja?"

"Ehm, tidak juga. Tidak apa-apa, hyung. Aku hanya butuh ketenangan. Tidak usah mengkhawatirkan aku."

"Jangan melakukan hal bodoh. Kau mengerti?"

"Ehm.."

Tanganku gemetar saat aku meraih botol anti depresi. Aku mengambil napas dalam-dalam, mendorong seluruh kekuatan yang tersisa dan membuang seluruh keraguan serta rasa takutku. Aku menyempatkan melihat ke arah pintu. Aku yakin hyung masih ada disana. Aku bisa mendengar geraman rendah dari suaranya.

CTAR!

Suara kilatan petir membuat segala kecemasanku hilang. Ya, untuk apa aku hidup jika aku hanya seorang diri. Satu-satunya orang yang mencintaiku telah pergi. Tidak ada yang menginginkanku. Aku benar-benar sendirian.

Aku membiarkan tanganku gemetar untuk beberapa alasan. Tentu saja aku masih merasa takut. Tapi kehampaan yang kurasa selama tujuh tahun ini, membuat tekadku semakin kuat. Aku mengambil air minum yang memang kuletakkan di samping tempat tidur. Aku bergerak, mengambil semua pil yang tersisa dan menenggaknya tanpa ampun.

Hening. Aku masih menunggu reaksi.

Bertanya-tanya dalam hati. Apakah rasanya akan sakit? Apakah nanti aku akan merasa sesak? Atau kesakitan di organ-organ dalamku? Atau kejang-kejang dengan nyeri di seluruh tubuh? Aku tidak tahu. Aku belum merasakannya.

"Baek?"

"Ya, hyung?"

"Kau.. sangat mencintainya, ya?"

Aku tersenyum, mungkin senyum terakhir yang bisa kulakukan.

"Ya. Sangat."

"Apa keinginan terbesarmu?"

Aku tertawa. Keinginan terbesar atau keinginan terakhir?

"Keinginanku?"

"Ya, kau pasti punya harapan kan," suara hyung mulai melemah. "Meskipun selama aku mengenalmu, kau seperti tidak hidup, tapi pasti kau punya keinginan, bukan?"

"Ya, hyung."

"Apa, itu?"

Aku membeku. Menahan napas. Panas. Panas sekali tenggorokanku. Aku tidak bisa bernafas. Tubuhku tak bisa bergerak. Aku merasa kesakitan di bagian paru-paruku. Aku mencengkramnya. Selagi aku kesulitan bernafas, mulutku mulai mengeluarkan busa. Tubuhku bergerak sendiri mencari udara. Aku tidak bisa memasoknya. Aku tidak mendapat udara.

"Baek? Kau baik-baik saja."

Aku tak bisa bernapas. Aku tak bisa menjerit. Jantungku serasa berhenti berdetak. Dadaku terasa seperti akan meledak. Tubuhku bergetar, gemetar, mengejang. Ternyata rasanya benar-benar menakutkan.

"Baek? Baek!" Hyung menjerit dari luar pintu. Kepalaku berdenyut-denyut serasa mau pecah.

"Ini tidak lucu! Kau tahu, ini tidak lucu!" Ia berseru marah. Ada suara dobrakan di pintu. Ia mendorongnya—mungkin sekuat tenaga. Aku senang.. Masih ada yang perduli padaku. Hyungku yang paling baik. "Baek, kau benar-benar membuatku takut. Awas ya kalau kau sampai mengerjaiku!"

Beberapa kali tendangan, pintu terbuka lebar. Aku bisa melihat mata gelap hyung terbelalak ketakutan. Aku bisa mendengar suara jeritannya. Aku bisa mendengar nada panik dari suaranya. Aku tahu saat dia melihatku tergeletak di lantai seperti ini, dia pasti akan panik.

"Baek! Baek! Bertahanlah. Aku akan menelpon rumah—"

"H-h-hyung?"

Aku berhasil bicara. Suaraku lemah, nyaris seperti bisikan. Ekspresi wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ekspresi ketakutan dari hyungku.

"Kau bodoh, Baek! Kau benar-benar, bodoh!"

Ia menatapku. Tangannya membelai wajahku dan kulihat ia menangis. Guntur berkilat. Bergemuruh di luar jendela.

Ah—rasanya sudah dekat..

Aku menarik napas dan menahannya agar tak tercekat.

"H-hyung.."

Aku terengah. Aku ingin bicara sesuatu tapi ternyata tak bisa. Aku mendengar hyung bilang akan segera kembali meminta bantuan dan selebihnya, aku hanya bisa mendengar suara sepatu menuruni tangga kayu, dengan jeritannya memanggil-manggil pertolongan.

0o0

Kau bertanya kan, hyung? Tentang apa impian terbesarku? Impian terbesarku adalah.. Andai aku bisa memutar kembali waktu. Maka, aku akan membalik ke saat-saat itu. Saat dimana aku mengkhianati Chanyeol. Saat dimana aku membentaknya untuk pertama kalinya. Bahkan saat pertemuan pertama kami. Aku. Aku menyesal, hyung. Aku sangat mencintainya. Aku ingin satu kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

0o0

Aku pernah bermimpi. Ketika itu bulan Agustus. Seorang anak laki-laki yang tinggal di sebelahku mengenalkan dirinya padaku. Ia sedikit gempal, wajahnya bulat, berkacamata. Rambutnya hitam pendek dan ia sering mengusap-ngusap hidungnya. Ia mengenakan kaos oblong warna cokelat longgar dan celana jins selutut. Membawa tupai kesayangannya yang ia beri nama Googoo. Selama ibu kami berbincang, kami hanya diam. Aku memang tidak terlalu perduli pada orang asing, sedangkan dia, kurasa ia pemalu. Atau mungkin sangat gugup.

"Aku lapar. Ibu, aku lapar," anak laki-laki itu bergumam, lirih. Tapi sayangnya, ibunya mungkin tidak mendengar suara kecilnya. Si anak laki-laki itu tertunduk, ia tampak kecewa. Mungkin perutnya benar-benar lapar.

"Ibu.." Ia menempelkan wajahnya yang tembam ke kaca jendela tak jauh dari tempat kami duduk.

"Kau lapar?"

"Iya," jawabnya cepat tanpa menatapku.

"Ayo, ke ruang makan, kita makan."

Si anak laki-laki menatapku. Matanya berbinar. Seolah aku baru saja melakukan sesuatu hal yang besar. Ini bukan hal yang besar. Tidak sama sekali. Aku hanya menawarkan ia makanan yang dimasak oleh ibuku.

"Terima kasih! Terima kasih! Ayo, kita berteman!"

Aku mendengus. Sepertinya anak ini cukup berisik.

"Aku Park Chanyeol. Namamu siapa?"

"Byun Baekhyun."

Itu adalah mimpi yang indah. Sangat indah..

0o0

REWIND

0O0

"AKHHHH!"

DUG!

Aku berputar, kenapa pinggangku terasa sakit ya? Aku bergerak-gerak. Rasanya tak nyaman. Jadi aku membuka mata. Dan pemandangan pertama yang kulihat adalah walpaper dengan gambar penyanyi idolaku.

Tapi, tunggu..

Segalanya tampak begitu berbeda.

Tempat tidur tak menghadap ke arah jendela yang menghubung danau tempat villaku berada. Dinding-dinding tak terbuat dari kayu. Banyak poster penyanyi-penyanyi terkenal di dinding. Ruangan ini tampak begitu luas. Punggungku mulai terasa ngilu, dan aku baru menyadari kalau aku baru saja terjatuh dari ranjang.

Aku memaksa diriku untuk tenang. Mungkin pil dan bunuh diri adalah bagian dari mimpiku. Bukankah villa ini memang aneh? Aku melihat ke ujung tempat tidur, ada cermin disana. Sambil mengerang, karena rasa sakit di pinggangku, aku mendekati obyek yang kini tampak begitu mengejutkan.

Aku mengulurkan tangan, meraba seluruh bagian wajahku. Ada yang salah. Tidak. Bukan hanya salah. Tapi ini gila!

Aku menjerit ketika aku menyadari bahwa tubuhku mengecil. Tidak. Bahkan kamarkupun berubah ke kamar masa kecilku dulu. Ketika aku masih tinggal bersama kedua orangtuaku. Aku. Aku mengecil?

"Berhenti berkaca, Baek," seseorang mengejutkanku. Itu ibuku. Ia berkacak pinggang sambil menatapku seolah aku adalah seorang teroris. "Kau ingat kan, tetangga baru kita akan berkunjung pagi ini. Dan kulihat kau belum mandi."

Apakah aku bermimpi?

Ini belum pernah kualami. Atau mungkin aku lupa. Villa ini kan selalu membuat kita bermimpi tentang kenangan masa lalu. Jadi, aku sedang bermimpi kan?

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ibu hanya terus mengomeliku mandi dan aku melakukannya. Jika ini mimpi, maka aku akan menikmatinya. Selesai mandi dan memakai kaus yang bagus—entah mengapa aku ingin memakai pakaian yang bagus, ibu membuka pintu depan.

Ia menyapa.. Ny. Park?

Aku ingin berbicara tapi sesuatu di belakang tubuh Ny. Park membuat semuanya buyar. Seluruh pertanyaanku tertelan begitu saja. Yang menjadi fokusku hanya satu. Dia.. Bocah yang malu-malu menatapku di belakang tubuh Ny. Park adalah pria yang kucintai. Park Chanyeol.

"Hei, sayang, ini tetangga baru kita. Mau berkenalan?"

Chanyeol mengangguk ragu. Ia maju selangkah sambil mengulurkan tangannya padaku. Tangan kirinya masih mencengkram baju ibunya, Chanyeol masih terlihat takut.

"Kau Chanyeol?"

Pertanyaan bodoh dan Chanyeol menatapku.

"Ya. K-kau s-siapa?"

Ya, Tuhan. Aku merasa jantungku diremas. Jika ini mimpi, kumohon jangan bangunkan aku, Tuhan.

"Aku Byun Baekhyun."

Mimpi ini tak pernah sirna. Aku tak pernah terbangun dan entah bagaimana aku bisa disini sekarang. Aku masih ingat bagaimana rasa sakit pil-pil itu. Aku menelannya. Aku merasakan rasa sakitnya. Itu bukan mimpi. Aku yakin itu. Aku hidup selama dua puluh dua tahun dan setiap harinya adalah nyata. Jadi, yang mana yang mimpi?

Apapun itu, Tuhan memberiku kesempatan. Kesempatan yang tak akan pernah aku sia-siakan. Chanyeol, keluargaku, aku akan menjaga mereka semua. Aku tidak mau menjadi kesepian lagi. Aku tidak mau. Aku akan terus menjaga Chanyeol. Aku akan berbuat baik padanya. Setia dan selalu berada di sisinya. Karena Chanyeol begitu berharga.

—END—

0o0

0o0

EPILOG..

Tujuh belas tahun kemudian.

Mereka melangkah ke halaman belakang rumah. Baekhyun dan Chanyeol telah menikah. Mereka menikah di Belanda dan keluarga merekapun menyetujuinya. Mereka berjalan sambil melingkarkan tangan masing-masing. Bergandengan tangan sambil menyapa teman-teman mereka yang datang hari ini.

Ya, mereka sedang berada di rumah. Chanyeol mengadakan pesta untuk merayakan pernikahan mereka.

"Yeolli, Luhan dan Sehun sudah datang."

Chanyeol tersenyum senang.

"Wah! Dimana mereka?"

"Disini, Yeol."

Luhan menghampiri Chanyeol dan memeluknya. Baekhyun cemberut. Meskipun Chanyeol adalah pria yang setia, tetap saja hanya ia yang tahu bahwa di masa lalu—atau tepatnya di masa terburuk dalam hidup Baekhyun, Luhan dan Chanyeol adalah sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Mereka bahkan pernah merencanakan menikah di Belanda.

"Terima kasih telah datang," Chanyeol berseru senang. Luhan tersenyum dan mencubit-cubit pipi Chanyeol. Emang dia kira pipi Chanyeol itu apaan? Baekhyun sebal, ia cemburu.

"Selamat ya, Chanyeol. Ah! Aku jadi ingin menikah."

Chanyeol menunjuk Sehun dengan dagunya.

"Bilang saja padanya kau ingin menikah."

"Sehun bilang, dia masih muda. "

Tatapan Luhan seolah mencemooh. Chanyeol tertawa. "Sehun memang masih anak-anak," kata Luhan menyindir. Sehun tentu saja tidak terima dengan penghinaan kekasihnya barusan.

"Kalau aku masih anak-anak, aku tidak akan bisa menidurimu, sayang."

"Oh, lihatlah, si mesum ini!"

Luhan mendelik, ia dan Sehun mulai berdebat. Sedangkan Chanyeol, ia mengambil satu tangkai bunga hias dan meletakkannya di telinga Baekhyun. Baekhyun cemberut. Chanyeol itu norak. Dia masih seaneh dulu.

Chanyeol meniup pipi kemerahan Baekhyun saat pria cantik itu menggembungkan pipinya. Chanyeol tertawa. "Kau manis sekali sih.."

"Jangan bodoh, Chanyeol."

Baekhyun tertawa. Chanyeol juga tertawa. Mereka kembali menghubungkan tangan masing-masing.

"Yak! Jangan mesra-mesraan begitu dong!"

"Hyung? Kau sudah datang?"

Manager Baekhyun, hyung yang sangat Baekhyun sayangi. Meskipun ia bukan manager Baekhyun lagi, karena Baekhyun memutuskan untuk tidak menjadi seorang penyanyi, tapi mereka tetap dekat satu sama lain. Saling menjaga dan saling mendukung.

Baekhyun lebih memilih menjadi penulis dan menemani Chanyeol kemanapun ia berbisnis. Mereka bahkan lebih sering menginap di hotel dibanding di rumah.

"Selamat, ya, Baekhyun.."

"Terima kasih, hyung."

Baekhyun masih ingat saat-saat itu. Ia berlari ke rumah managernya. Hyung masih berusia muda. Sekitar dua puluhan tahun. Ia bingung ketika ada seorang bocah tiba-tiba memeluknya dan menangis. Baekhyun masih ingat. Saat itu ia menangis keras dan mengatakan betapa ia berterima kasih padanya.

Sangat konyol. Tapi, Baekhyun tidak pernah menyesal melakukan hal itu. Banyak yang berubah di diri Baekhyun. Ia bukan lagi seorang yang egois. Kesempatan menjadikan Baekhyun lebih menghargai orang-orang yang selalu disisinya. Baekhyun tidak akan mengkhianati mereka. Karena mereka begitu berharga.

"Baek?"

"Ya?"

Baekhyun menjulurkan tangan untuk mengambil kue-kue yang ada di meja. Kue-kue itu terlihat begitu menggoda. Luhan menatapnya horor. Baekhyun hanya balas tersenyum. "Ada apa, Luhan?"

"Baekhyun! Jangan makan kue lagi! Kau sudah tujuh puluh kilo tahu!" Dan jeritan Luhan membuat Baekhyun hampir saja terjungkal.

END

For mingguki, yang dari chapter satu udah komen ini plot twist. Yap, you're right. Its plot twist. This story ought to be easy enough, yes, I'm sorry for long time.. See u next chap, guys.. ^^