Title: SS501 Story HyunMin Ver.

Author: Bluedevil9293 a.k.a Dean Choi a.k.a Ayumu Sakurazawa.

Part: 6 / ?

Rated: T.

Cast: Kim Hyun Joong & Park Jung Min

Genre: Romance, Drama.

Warning: Yaoi, Shonen-ai, Boys Love, BoyXBoy, Typo, Gaje, M-preg Don't Like Don't Read.

Summary: Hyun Joong stress berat akibat Jung Min yang terus-terusan mengejar-ngejar dirinya. Sampai-sampai ia harus menikahi namja manis satu itu karena sebuah kejadian fatal yang telah mereka berdua perbuat. HyunMin SS501 Couple, Yaoi, BL, rated M.

^_^ Life or Not ^_^

Hyun Joong Pov…

Aku terus berlari dengan sangat terburu-buru ke arah Inha Hospital, beberapa kali aku sempat menabrak para pejalan kaki yang berjalan didekatku. Karena memang aku lah yang salah, jadi mau tak mau setiap kali aku menabrak pasti aku akan meminta maaf terlebih dahulu sambil membungkukan tubuhku Sembilan puluh derajat baru kembali berlari lagi. Aku mengutuki diriku yang sangat lambat ini, menurutku. Seharusnya aku bisa lebih cepat sampai di Inha Hospital dari pada sekarang.

"Huh… Huh… Huh… Huh… Huh…" aku mencoba mengatur nafasku. Aku tak mengira Inha Hospital sangat jauh dari tempat aku meninggalkan mobilku tadi. Tapi akhirnya aku sampai juga di depan gedung rumah sakit ini. Ternyata butuh waktu yang lama untuk sampai disini. Ini semua karena kemacetan mendadak tadi, coba kalau tadi perjalananku mulus-mulus saja. Pasti aku sudah sampai disini sejak tadi, dan aku tak perlu menguras banyak tenaga seperti sekarang ini.

Setelah merasa cukup baikan aku pun segera masuk ke dalam rumah sakit. Oke, aku bingung harus kemana sekarang. Rumah sakit ini kan nggak kecil, masak aku harus menelusuri setiap tempat satu persatu. Nggak akan cukup waktu yang ada, bisa-bisa kisah anakku tersayang sudah tamat deluan sebelum dimulai.

"Ah, suster maaf boleh bertanya" kataku sambil mencegat seorang suster yang tadi berada didekatku. Dari pada aku bingung lebih baik bertanya bukan. Aku mulai bertanya-tanya dimana tempat kira-kira Jung Min berada saat ini. Dan suster tadi pun mulai memberitahuku dimana tempatnya.

"Gomawo suster" kataku pada suster muda tadi sambil membungkukan tubuhku padanya. Setelah itu aku langsung melesat pergi ke tempat yang tadi suster itu maksud. Aku sedikit berlari-lari kecil, aku takut telat melakukan semuanya. Apa lagi saat aku melirik jam tadi sudah menunjukan pukul Sembilan lewat empat puluh lima menit. Lamanya perjalananku tadi.

Sesampainya ditempat yang dimaksud aku tak menemukan siapa pun dilorong panjang rumah sakit ini. Kemana perginya Jung Min? Apa aku sudah terlambat? Oh Tuhan… Kenapa semua harus berakhir seperti ini. Aku gagal menjadi calon appa yang baik. Anakku belum lahir ke dunia saja aku sudah memusnahkannya. Ini semua salahku, jadi kalau ada yang harus disalahkan ya itu aku bukan Jung Min atau siapa pun kecuali aku sendiri. Aku lah penyebab semua ini.

Dengan lemas ku jatuhkan tubuhku disebuah bangku panjang yang ada didekatku. Ku remas rambutku dengan kesal dan sangat frustasi. Bisa-bisanya aku terlambat menyelamatkan semua yang seharusnyaku selamatkan. Seharusnya aku bisa datang lebih cepat dari ini. Seharusnya aku bisa menyelamatkan calon anakku sendiri. Seharusnya aku menerima anak itu bukan menolaknya. Seharusnya aku bertanggung jawab atas kehamilan Jung Min lalu menikahinya. Seharusnya… Arrrggghhhhh… Kenapa semua hanya seharusnya, kenapa aku tak bisa menjadikan kata-kata 'seharusnya' tadi sebagai kenayataan. Oh tuhan… beri aku kesempatan kedua, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang kau berikan padaku itu. Aku janji.

^_^ Life or Not ^_^

Jung Min Pov…

Aku keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang tertunduk. Dadaku bergetar dengan sedikit kencang. Ini semua karena apa yang sudah dokter perlihatkan padaku tadi. Aku ingin menangis saat melihat anakku sendiri… tapi aku harus bisa bertahan. Aku tak boleh menangis lagi, bukankah semua ini sudah jadi keputusan finalku. Aku lah yang memutuskan ingin melakukan aborsi, jadi mau tak mau aku harus bisa tegar dan menerima semua kosekuensi yang ada.

"Mianhae aegya… Semoga apa yang sudah menjadi keptusanku ini adalah yang terbaik bagiku" kataku pelan lalu berjalan perlahan. Namun langkahku terhenti saat melihat sebuah sosok seseorang yang sangat ku kenal. Sesosok orang yang sejak tadi ingin ku lihat kehadirannya disini menemani serta menenangkan diriku. Siapa lagi dia kalau bukan Hyun Joong hyung.

Aku tak menyangka kalau Hyun Joong hyung akan datang kemari. Bolehkah aku sedikit berharap lagi? Tapi apa aku masih pantas untuk berharap? Apa lagi kalau mengingat rasa sakit yang sudah dua kali sudah ku rasakan. Lebih baik aku jangan terlalu berharap lebih lagi. Mungkin Hyun Joong hyung kemari hanya untuk mendampingiku melewati masa-masa akhir dari kehamiilanku saja.

Aku tak tahu aku salah atau tidak, tapi menurutku sekarang ini Hyun Joong hyung tampak sangat berantakan. Entah apa yang sudah membuat ia seperti sekarang. Apa itu semua karena kehamilanku? Kalau memang ia, maafkan aku hyung semua memang salahku. Dan hyung tak perlu kahawatir lagi, setelah hari ini aku yakin kita bisa melewati hari seperti biasa. Tanpa masalah… Tanpa kehamilanku… Tanpa anak ini… Dan tanpa aku yang terus-terus menggejar-ngejarmu seperti biasanya. Aku sudah memutuskanya hyung, setelah semua ini berakhir aku akan mencoba melupakan semua rasa cintaku ini padamu. Aku akan belajar puas walau pun hanya menjadi dongsaengmu saja. Bukan kekasih, bukan istri dan bukan umma dari anak-anakmu hyung.

Aku berjalan menjauhi Hyun Joong hyung tanpa sepengetahuannya. Aku menghampiri mesin penjual minuman dingin yang letaknya tak begitu jauh dari tempat aku pertama kali melihat Hyun Joong hyung. Setelah membeli dua kaleng minuman dingin aku pun segera berjalan mendekati Hyung Joong hyung yang sedang tertunduk dengan wajah yang ditutupi oleh kedua tangannya. Aku berjalan mendekatinya dengan perlahan tak mau membuatnya kaget.

"Hyung…" sapaku pelan saat aku sudah berada disampingnya. Aku kini berdiri disamping kanannya tepat selangkah dari dirinya. Hyun Joong hyung yang merasa namanya dipanggil olehku pun langsung menolehkan wajahnya ke kiri. Namun dengan cepat aku menempelkan minuman kaleng yang ada ditanganku ke pipi kanannya. Hyun Joong hyung tampak sedikit tersentak kaget saat merasakan sensasi dingin dari kaleng yang ada ditanganku ini. Hyun Joong hyung pun lalu menatapku lekat-lekat.

"Jung Min…" ucap Hyun Joong hyung pelan menyebut namaku, aku tersenyum manis padanya.

"Ambil hyung" kataku sambil menyodorkan minuman kaleng yang ada ditangan kananku padanya. Ia tersenyum lalu meraih minuman tadi. Setelah ia mengambil apa yang ku berikan, aku segera duduk disamping kanannya.

"Gomawo" kata Hyun Joong hyung pelan. Kami berdua pun lalu membuka kaleng masing-masing dan mulai meminum isi didalamnya. Aku menjawab ucapan Hyun Joong hyung hanya dengan dehaman pelan yang ku yakin ia mendengarnya.

"Minuman bersoda tak baik untuk janin yang sedang kamu kandung itu, Jung Min" kata Hyun Joong hyung. Aku pun langsung tertawa mendengar ucapannya itu.

"Tak apa hyung, lagian anak ini juga akan segera di musnahkan bukan" jawabku santai. Ia terdiam dan menatapku tajam. "Jangan tatap aku seperti itu hyung. Kamu jadi seolah-olah ingin melahapku hidup-hidup saja" kataku sambil tertawa pelan, sebuah tawa garing tentunya.

"Ah, mianhae. Aku tak bermaksud apa-apa" kata Hyun Joong hyung lalu berhenti menatapku tajam.

"Gwenchana" jawabku lalu menyerup minuman bersoda milikku.

"Ehm… Jadi… Anak itu masih ada?" Tanya Hyun Joong dengan pelan dan sedikit ragu. Aku kurang jelas mendengar ucapannya itu.

"Hyung bicara apa? Aku tak bisa mendengarnya dengan jelas" kataku apa adanya.

"Aku Tanya, apa anak yang kamu kandung masih ada? Dan ehm.. Apa oprasi itu belum dilakukan?" Tanya Hyun Joong hyung pelan tapi kali ini aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Aku tersenyum pada Hyun Joong hyung.

"Ne, hyung masih ada. Operasinya belum dilakukan, mungkin sebentar lagi. Aku masih harus menunggu karena dokter bilang masih ada yang harus dipersiapkan lagi" kataku apa adanya.

"Oh… Aku pikir kamu sudah melakukannya" kata Hyun Joong hyung. "Lalu kalau begitu tadi kamu kemana? Saat pertama kali aku sampai disini aku tak menemukanmu, ku pikir kamu sedang didalam ruang operasi" kata Hyun Joong lagi.

"Aku melakukan pemeriksaan sebentar" kata Jung Min pelan.

"Lalu bagaimana hasilnya?" Tanya Hyun Joong penasaran.

"Anak kita sehat hyung. Malah sangat sehat kata dokter Shin tadi. Tadi aku melakukan USG dan aku bisa melihat anak kita ada didalam sini" jawab Jung Min sambil mengelus-elus perut ratanya. Ia pun jadi teringat kembali dengan pemeriksaan USG yang barusan ia lakukan beberapa saat yang lalu.

"Hyung, mau merasakan anakmu untuk yang terakhir kalinya?" tanyaku. Hyun Joong hyung tampak ragu mau menjawab apa. Ia tampak sedikit berpikir, namun akhirnya ia pun menganggukan kepalanya pelan. "Sentuhlah hyung" kataku sambil menarik tangan kanannya lalu meletakkan tangannya tadi diatas perutku yang masih rata ini. Ia terdiam sambil meraba pelan perutku. Ada rasa hangat yang dapat ku rasakan saat tangan besarnya terus menyapu permukaan perutku ini.

Tak lama Hyun Joong hyung pun menarik tangannya dari atas perutku dengan perlahan. Aku merasa sebuah kekecewaan melanda hatiku lagi saat tangannya meranjak pergi dari atas perutku. Aku masih ingin merasakan kehangatan tadi lebih lama lagi. Setelah itu aku dan Hyun Joong hyung tampak terdiam, dan terciptalah suasana canggung diantara kami berdua. Tak ada satu pun diantara kami yang mau terlebih dahulu mengatakan sesuatu lagi.

^_^ Life or Not ^_^

Author Pov…

Kesunyian terjadi diantara Jung Min dan Hyun Joong sejak beberapa menit yang lalu. Keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing sambil memandangi para calon orang tua lainnya yang ada ditempat itu. Tak hanya mereka berdua saja yang sedang berada di tampat itu, seperti sebelumnya banyak para ibu hamil disana. Dan kedua namja tampan dan manis ini sedang asik memandangi para ibu hamil tadi satu persatu sambil memikirkan nasib anak mereka nantinya.

"Mereka masih muda ya hyung" kata Jung Min memecahkan suasana canggung diantara keduanya sambil menatap sepasang suami istri yang sedang duduk didepan mereka. Sepasang suami istri tadi tampak sangat bahagia beda sekali dengan mereka berdua. Sang suami tampak sedang membelai perut besar istrinya sambil tersenyum ramah pada sang istri yang sedang hamil tua, dan itu sungguh membuat Jung Min iri setengah mati. Andai dia yang seperti itu, pikir Jung Min.

"Hn.." jawab Hyun Joong singkat saat ia juga menatap apa yang saat ini tengah ditatap oleh Jung Min.

"Dan mereka tampak saling menyayangi. Bahagianya menjadi calon akan mereka kelak" kata Jung Min pelan sambil terus menatap lurus kedepan.

"Maksudmu apa Jung Min?" Tanya Hyun Joong sambil menatap kearah Jung Min yang ada disebelahnya. Ia tahu kalau Jung Min sedang menyindirnya sekarang.

"Bukan apa-apa kok hyung, lupakan saja kata-kataku barusan. Itu semua nggak penting" kata Jung Min sedikit santai.

"Jung Min mianhae…" kata Hyun Joong pelan sambil menundukkan wajahnya.

"Buat apa hyung meminta maaf padaku" Tanya Jung Min sambil menatap kearah Hyun Joong.

"Untuk sikap pengecutku ini" kata Hyun Joong.

"Gwenchana hyung, seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Karena kehamilan mendadakku ini lah yang menyebabkan semua masalah ini ada. Andai saja aku tak memiliki rahim dan tak bisa hamil, pasti semua tak akan jadi seperti sekarang" kata Jung Min ikut menyesal.

"Tapi tetap saja itu semua karena…"

"Shhhhttt…." Jung Min menghentikan kata-kata Hyun Joong dengan cara meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Hyun Joong. "Dengar hyung, hyung nggak salah. Dan soal bayi ini, bukankah kita disini untuk melenyapkannya. Hyung tenang saja, setelah hari ini semua akan kembali seperti semula. Seperti biasanya, aku akan kembali menjadi dongsaeng nakalmu seperti dulu" kata Jung Min sambil memaksakan sebuah senyuman dibibirnya walau pun itu sangat sulit dan menyakitkan.

"Aku nggak pernah marah atau pun benci sama hyung atas kejadian ini. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu hyung. Bukankah semua yang sudah terjadi hanya sebuah kecelakaan yang tak disengaja saja" kata Jung Min pelan. Tersirat sebuah kesedihan disetiap kata-kata yang ia keluarkan namun dengan sebisa mungkin ia menutup-nutupi semua kesedihan itu.

"Jung Min aku…"

"Nyonya Park Jung Min" panggil Seorang dokter yang menghampir Jung Min dan Hyung Joong. Kata-kata dokter tadi membuat apa yang ingin diucapkan Hyun Joong jadi terpotong. Jung Min dan Hyung Joong pun segera menatap dokter yang sedang menghampiri mereka.

"Ne, dokter waeyo?" Tanya Jung Min ramah.

"Persiapan operasinya sudah selesai mari ikut saya" kata dokter tadi.

"Ne, dokter" kata Jung Min pelan. "Hyung aku pergi" kata Jung Min lagi pada Hyun Joong. Hyun Joong pun hanya menganggukan kepalanya dengan perlahan dia masih bingung dengan apa yang seharusnya ia lakukan. Jung Min tersenyum lalu beranjak pergi mengikuti dokter yang tadi ada disana meninggalkan Hyun Joong yang masih dengan pikirannya.

'Apa yang harus ku lakukan sekarang. Tadi aku terburu-buru sekali ingin mengagalkan semua ini. tapi sekarang kenapa aku jadi bingung seperti ini. aku kesal pada diriku yang tak bisa mengambil keputusan yang tegas. Tuhan… aku bingung, harus kah aku berlari mengejar Jung Min dan mengagalkan semuanya. atau ku biarkan saja semua terjadi begitu saja. Toh Jung Min tak pernah menyalahkan diriku atas semua masalah ini' kata Hyun Joong sambil meremas-remas rambutnya dengan sangat kesal.

^_^ TBC Again… ^_^