Something New In My Life

.

.

-oOo-

CHANBAEK

BL

.

.

Happy Reading~

.

.

.

Terlihat sosok pria dewasa berpakaian kemeja putih dengan celana kain hitam pas kaki jenjangnya terbalut apik. Kulit pucatnya tak terpengaruh oleh redupnya cahaya dalam gudang tempat ia berada. Tangannya sibuk mencatat dan menilik barang-barang yang tertata pada rak dihadapannya. Pandangan matanya selalu bergerak dengan arah yang sama, antara rak dan beberapa lembar kertas yang ia bawa. Dia mencocokan satu demi satu barang disana dengan angka yang tertera pada deretan tabel yang tercetak di kertas.

Brak!

"Sehun hyung!"

Konsentrasinya langsung terpecah mendengar seseorang membuka pintu dengan kasar dan memanggil namanya. Kepalanya menoleh kearah sosok yang baru datang tersebut sembari jari telunjuk kanannya membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot.

Pria yang bernama Sehun itu tak merubah ekspresi menatap Baekhyun yang terlihat ngos-ngosan dihadapannya.

"Selamat padi, Baek. Kau sepertinya sudah sangat sehat?"

Mendengar pertanyaan bosnya, ekspresi Baekhyun langsung menegang dan mencoba membuang pandangan ke jajaran rak yang berisi beraneka kopi racikan serta bahan kue untuk mencari alasan. Bodohnya dia yang baru teringat jika kemarin dia bolos bekerja dengan alasan sakit dan mengapa langsung berlarian membuang tenaga. Dasar Baekhyun bodoh!

"Anu… hyung."

"Iya?" Sehun mengernyit melihat Baekhyun yang gugup.

"Apakah Luhan hyung nanti akan berkunjung?"

"Eh?"

Sehun tahu jika lelaki di depannya ini memang mempunyai kepribadian yang sangat unik dan sulit tertebak. Tapi ia tak tahu jika Baekhyun berusaha mengalihkan perhatian agar tidak membahas topik tentang kesehatannya dan berusaha merubah topik yang sangat melenceng.

Sehun adalah pemilik café tempat dimana Baekhyun bekerja selama hampir dua bulan ini. Pria dewasa yang berumur kurang lebih sama dengan Chanyeol berkepribadian tak jauh pula dengan Chanyeol. Sempat terpikir oleh Baekhyun jika Chanyeol dan Sehun itu saudara jauh karena kepribadiannya yang sebelas dua belas, kebribadian elegan, dewasa dan dapat diandalkan. Tak pernah Baekhyun pungkiri, ia terpesona pada bosnya saat pertama berjumpa. Chanyeol pun sadar akan hal itu dan berakhir Baekhyun mendapat 'hadiah' yang menggairahkan di malam hari. Karena Baekhyun memang jahil dan suka dengan 'hadiah'nya maka ia sering menggoda –memansasi- Chanyeol dengan alasan itu. Walaupun Chanyeol tahu, Baekhyun tak sungguh-sungguh menggoda bosnya. Memang dasarnya Chanyeol suka memberi 'hadiah' dan Baekhyun suka menerima 'hadiah'.

Kembali kepermasalahn Baekhyun yang mencari Luhan, itu sebenarnya adalah tujuan Baekhyun mencari Sehun hari ini, bukan sekedar mengalihkan topik pembicaraan.

"Hmm… ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada Luhan hyung, hyung. Apakah dia nanti siang datang ke café?" melihat Sehun yang bingung dengan pertanyaan yang ia berikan dengan otomatis Baekhyun memperjelas maksud pertanyaannya.

"Hmm.. Aku juga tak tahu pasti dia datang ke café atau tidak, Baek. Mood-nya sering berubah-ubah. Mungkin jika Haowen tak rewel, Luhan akan datang."

"Ohh…" Baekhyun menghela napas lemas.

"Mengapa kau tak telepon dia saja?"

Baekhyun masih menunduk kan kepala, menjawab lemas pertanyaan Sehun. Luhan memang beberapa kali datang ke café tapi tak ada kesempatan untuk berbincang akrab, hanya sekedar sapa menyapa. Luhan seperti magnet yang tak pernah Luhan sadari sendiri jika orang-orang disekitarnya ingin akrab dengannya. Jadilah beberapa hari lalu mereka berkenalan dan berbincang hingga topik yang privasi. Seiring waktu berlalu, mereka berdua cocok bersahabat. "Jika aku tahu nomor ponselnya, aku tak akan mencarinya, hyung. Karena kemarin keasyikan bercerita dengan Luhan hyung, aku hanya sempat mencatat alamat apartemen Luhan hyung dan lupa menyanyakan nomor ponselnya."

"Mengapa kau tak bertanya padaku?"

"Eh?!"

Lelaki mungil itu sepertinya lupa jika orang yang diajaknya berbicara dari tadi adalah suami orang yang ia cari. Mengapa otaknya begitu bodoh? Byun Baekhyun bodoh! Untuk apa ia susah-susah mencari Luhan! Dengan cepat Baekhyun mendongakkan kepala dengan mata berbinar-binar. Jemari tangannya terkepal erat bersemangat.

Sehun menahan kekehan melihat raut Baekhyun yang begitu menggemaskan. Tangan Sehun terulur menepuk kepala Baekhyun. Pantas saja Chanyeol betah dengan pegawainya ini, "Aku akan memberi nomornya jika kau beri aku alasan mengapa kau mencari istriku dan… untuk apa kau mencatat alamat rumahku?"

Glek!

Mata sipit berbinarnya langsung berubah menjadi tatapan horor. Sepertinya bosnya ini tak tahu arti makna rahasia.

.

oOo

.

Disebuah ruangan berpencahayaan terang, sesosok pria bersurai hitam pendek gelap dengan pakaian formal rapi membalut tubuh atletisnya, ia –Chanyeol- menatap sebuah bingkai foto sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang bocah lelaki dengan senyum lembutnya berdiri diapit kedua orang tuanya yang duduk dikursi singgasana mereka.

Di ruangan kantor pribadinya ini sangat monoton, tak foto sama sekali kecuali foto yang sedang ia pandang sekarang. Potret keluarga itu bukanlah anggota keluarganya, tapi ia menyayangi orang yang berada di potret itu sebanding dengan keluarganya sendiri.

Potret keluarga Byun terbingkai apik di sebuah frame warna emas dengan ukuran A5 terpajang tepat di samping dual monitor diatas meja kerja Chanyeol. Mantan Butler itu masih menyayangkan Baekhyun tak kunjung merubah keinginannya untuk bertemu orang tuanya sendiri. Sebenarnya bukan salah orang tua Baekhyun jika paman Baekhyun bertindak tak manusiai. Baekhyun dititipkan kepada pamannya karena orang tua Baekhyun tahu jika pamannya sukses mau menampung Baekhyun hingga orang tua Baekhyun kembali mapan. Tapi, siapa kira paman Baekhyun sukses karena bisnis gelap dan berkhir dengan Baekhyun dipaksa mencuri. Chanyeol paham sebenarnya Baekhyun juga ingin bertemu, sayangnya perasaan rendah diri lebih kental dibenak Baekhyun daripada rasa rindu itu. Rendah diri meresa dirinya kotor pernah tercebur kedalam gelapnya dunia dan terseret pada jalanan yang asing.

Chanyeol harus segera bertindak namun ia bingung bagaimana caranya. Ia tak mungkin memaksa Baekhyun pergi ke Bucheon untuk sekedar modus wisata. Baekhyun cerdik, walau terkadang bodoh disaat yang bersamaan. Ia takut Baekhyun pergi lagi dari sisinya.

Tanpa Chanyeol sadari, ia terkekeh mengingat tingkah Baekhyun tadi pagi. Baekhyun adalah satu-satunya orang yang bisa membuat ia tersenyum bahagia dan melupakan emosi serta rasa penat di dalam pikiran setelah leleh bekerja menguras pikiran di kantor.

Kemarin anak itu enggan ia antar ke café, tapi tadi pagi dengan semangatnya menggelayut manja memaksa diantar ke café. Bahkan tak disangka-sangka Baekhyun membantunya membuat pancake untuk sarapan, walau hanya membantu menuang madu. Tapi Chanyeol sangat senang Baekhyun sudah mulai mau menginjak dapur. Rasanya Chanyeol tak sabar jam berputar lebih cepat empat jam agar bisa menjemput Baekhyun dari café dan pulang bersama. Mungkin setelah sampai dirumah, mandi bersama dengan aroma terapi sangat menyenangkan. Tak lupa dengan kegiatan tambahan sebelum atau sesudahnya.

Semua perkerjaan sudah ia selesaikan dan ia sama sekali tak ada kerjaan yang lain. Kakinya gatal ini berkunjung ke café tempat Baekhyun bekerja, tapi jam pulang kantor masih lama. Walaupun Chanyeol seorang pimpinan, ia tak pernah sekalipun pulang lebih awal jika tak ada hal yang penting. Penting disini, erat kaitannya dengan Baekhyun. Jika Baekhyun tak menelponnya, berarti anak itu baik-baik saja dan Chanyeol bisa bernapas lega.

Ah..!

Chanyeol mengingat sesuatu. Dia mengambil ponselnya dan mulai mengetik sebuah pesan


To: O.S

Apakah dia baik-baik saja?


From: O.S

Tak ada yang perlu dikhawatirkan, dia hanya terlalu bersemangat hari ini. Selebihnya dia baik-baik saja.

Ngomong-ngomong dia memesan suatu barang secara online dan menitipkannya kepada istriku. Aku tak tahu barang apa yang dia pesan, tapi aku akan berusaha mencari tahu.


To: O.S

Tak usah memaksanya berbicara. Aku akan bertanya sendiri padanya nanti.

Terima kasih atas infonya.


From: O.S

Ya.


Sudah jelas jika yang dimaksud 'dia' disini adalah Baekhyun dan Chanyeol berkirim pesan pada bosnya Baekhyun, Oh Sehun. Chanyeol meletakkan ponselnya dan langsung memijit pelan pelipisnya.

Kali ini apa lagi ulahnya?

Mengapa memesan barang harus ia titipkan kepada Luhan?

Apakah dia lupa alamat rumahnya sendiri?

Segala jenis pertanyaan berputar dalam otak Chanyeol.

Terimaksih untuk Sehun atas semua infonya. Bisa dibilang Sehun adalah mata-mata –tak resmi- Chanyeol. Tebakan –sindiran- Baekhyun dulu tentang kerjasama dengan pemilik café tempat Baekhyun bekerja memang benar adanya. Café itu adalah tempat langganan Chanyeol untuk memesan kopi jauh sebelum Baekhyun bekerja disana. Entah ada angin apa pada saat itu Chanyeol mampir dan tergerak ingin menyalurkan idenya. Karena Chanyeol dan Sehun cocok dan sepemikiran, jadilah café tersebut maju pesat seperti sekarang. Bahkan mereka sudah membuka cabang di kawasan lain. Maka dari itu, ketika Baekhyun ingin bekerja, Chanyeol langsung menyarankan untuk melamar pekerjaan di café Sehun walaupun café itu tidak sedang tidak membutuhkan pegawai.

Saat Baekhyun sedang senang-senangnya bermain laptop mencari lowongan secara online, beberapa saat kemudian Chanyeol bergegas menghubungi Sehun. Dia menyuruh Sehun membuat iklan lowongan di situs tertentu dan Chanyeol disini menyarankan Baekhyun untuk membuka situs tersebut. Tidak sulit untuk Chanyeol untuk melakukan hal itu dan berakhirlah Baekhyun diterima di café Sehun dengan mudahnya dan karena Baekhyun bekerja di café kenalannya, ia tak susah payah mengawasi Baekhyun.

Chanyeol tahu jika kemarin Baekhyun tidak berangkat kerja, tapi selama dia berada dirumah dan dalam keadaan yang bisa dikatakan baik, Chanyeol tak bertindak lebih jauh apalagi mencurigainya secara berlebih. Baekhyun terlalu sensitif, salah bergerak sedikit semua bisa kacau. Chanyeol memutar otaknya, berpikir keras apa yang Baekhyun rencanakan kali ini.

Tok Tok Tok

Ketika pintu ruangannya diketuk, Chanyeol menghentikan sejenak pikirannya tentang Baekhyun dan memfokuskan diri dalam bekerja.

"Masuk!"

Terlihat sesosok wanita anggun dengan setelan kemeja berwarna cream dan rok pensil cokelat gelap setengah paha perlahan membuka pintu dan melangkah maju menghadap meja Chanyeol dengan membawa map kuning di lengannya. Ia sedikit membungkung mengucap salam, menyampirkan rambut hitam terurainya di belakang telinga kanannya dan tersenyum manis.

"Sajangnim, saya mengingatkan… setengah jam lagi ada rapat dengan Tuan Kim, dan ini berkas yang anda minta." Seohyun -sekretaris Chanyeol- mengulurkan map yang ia bawa ke atas meja Chanyeol.

Chanyeol menatap sang sekretaris tanpa ekspresi tertentu, tangannya bergerak mengambil map kuning dan sesaat pandangannya kembali terpusat pada sang sekretaris. "Baik, terima kasih. Apakah setelah rapat ada jadwal yang lain?"

"Rapat dengan Tuan Kim adalah agenda terakhir anda hari ini, Sajangnim."

"Oh, begitu. Kembalilah bekerja, setelah rapat aku akan langsung pulang." Chanyeol membuka map yang di bawa Seohyun dan mengeceknya dengan seksama, tapi pandangannya teralih melihat sekretarisnya belum beranjak dari hadapannya. "Ada hal yang lain?" dahi Chanyeol berkerut.

"Maaf, Sajangnim. Apakah saya ikut menghadiri rapat tersebut?"

Chanyeol makin mengernyit melihat ekspresi sekretarisnya yang nampak berharap agar dirinya diajak mengikuti rapat. Ia kembali teringat ketika minggu lalu Kim Jongin datang ke kantornya, sekretarisnya itu begitu berharap agar diperhatikan oleh Jongin. Chanyeol menghela napas sejenak. Sepertinya benar kata Baekhyun, sekretarisnya memang gemar mencari kenalan untuk masa depan. Sempat Chanyeol tampik pendapat Baekhyun karena kerja Seohyun yang selalu memuaskan dan berakhir dengan jambakan berkala dari anak itu. Itu akibat dari Chanyeol salah memilih kata 'memuaskan' dan Baekhyun yang terlalu berpikir negatif. Chanyeol sadar walau dia kurang perhatian dengan keadaan sekitar kecuali menyangkut –mantan- Tuan mudanya dan setelah itu Chanyeol berusaha memperhatikan keadaan sekitar.

"Tidak, aku akan menemui Jongin sendirian. Oh, ya… aku teringat sesuatu. Tolong hubungi Shim Jaewon dan buatkan janji pertemuanku dengannya minggu besok."

"Baik, Sajangnim. Akan saya laksankan." Seohyun tersenyum paksa mendengar jawaban atasannya. Gagal sudah rencananya numpang pulang gratis diantas atasan tampan.

"Kalau begitu kau boleh pergi. Aku juga akan bersiap untuk rapat."

"Baik, Sajangnim. Saya permisi." Tak lupa sekeretaris itu membungkuk dan berjalan meninggalkan ruangan sang atasan dengan sedikit kibasan rambut hitam panjang bergelombangnya.

Lagi-lagi Chanyeol menghela napas. Sebenarnya kehidupan perkantoran tidak terlalu menarik minat Chanyeol. Makanya dia dulu berniat menyerahkan perusahaan ini ketangan orang lain yang bersedia mengerjakan semua tugas langsung dikantor sedangakn ia hanya mengamati perkembangannya saja. Tapi karena keinginan Baekhyun yang menentang keras Chanyeol mengundurkan diri, ia mengurungkannya. Chanyeol memijat pelipisnya, berusaha agar mengurangi pusing yang ia rasakan.

Sempat terbersit dalam benaknya, ia ingin seorang darah dagingnya sendiri yang mewarisi perusahaan Byun ini, tapi…

Chanyeol kembali menghela napas dan kembali memijat pelipisnya.

.

oOo

.

"Baek, antar ini ke meja nomor enam!" Kyungsoo –salah satu pegawai café- yang sudah selesai menyelesaikan paket pesanan pelanggan, menyuruh Baekhyun untuk mengantarkan pesanan. Kyungsoo mengeryit melihat Baekhyun yang tak menanggapi perkataannya. Lelaki dihadapannya itu menyangga kepala menyandar telapak tangan yang bertumpu pada meja di seberang Kyungsoo, tatapan Baekhyun selalu menuju kearah pintu masuk café.

"Hei, Baek!" Kyungsoo adalah sosok yang mudah sekali terpancing emosi dan sekarang Baekhyun akan menjadi korban pertamanya hari ini. Tangan Kyungsoo terulur menuju lengan Baekhyun yang paling dekat untuk ia gapai dan-

"Aduh!"

Kyungsoo berhasil mendapat perhatian Baekhyun dengan mencubit lengannya.

"Kyungsoo-ya!" berang Baekhyun sembari mengelus lengannya yang terasa nyeri. Jangan meremehkan tenaga Do Kyungsoo walau badannya lebih mungil daripada dirimu.

Kyungsoo tak menanggapi gerutuan Baekhyun, ia tersenyum polos dan berkata, "Cepat antarkan ini ke meja nomor enam se-ka-rang!"

Baekhyun berjengit merasakan aura horor di hadapannya, tanpa membalas lagi ucapan Kyungsoo, Baekhyun bergerak cepat meraih nampan dan berjalan menjauhi Kyungsoo dan tak lupa memasang ekspresi ramah kepada pengunjung.

Karena jam sudah menunjukkan pukul dua sore, keadaan café lumayan sepi karena jam makan siang sudah berlalu. Pesanan yang diantarkan Baekhyun tadi adalah pesanan terakhir yang harus ia buat saat ini karena belum ada pelanggan yang datang lagi. Kyungsoo hanya memfokuskan pandangannya kearah Baekhyun. Kyungsoo tertawa pelan melihat Baekhyun yang dipaksa ber-selca dengan pelanggan. Setelah selesai satu foto mereka dapat, Baekhyun berjalan kembali kearahnya setelah selesai dengan tugasnya.

Baekhyun meletakkan nampan di atas meja dengan kasar hingga menimbulkan suara, tapi untungnya tak terdengar sampai telinga pelanggan yang tengah menikmati makanan dan kopinya.

"Kau dendam denganku?" Kyungsoo menatap Baekhyun polos dengan mata burung hantunya, jika Baekhyun sering dipuji cantik dengan rambut cokelatnya, Kyungsoo sering dipuji manis oleh pengunjung. Para pengunjung sangat gemas dengan tatapan polos Kyungsoo, tapi yang lebih mereka kagumi adalah semua kue yang Kyungsoo buat.

"Lenganku masih terasa sakit, Kyung!"

"Habisnya kau mengabaikanku." Bibir tebal Kyungsoo berkerut kedepan.

"Tapi kau kan bisa menepuk bahuku saja! Tak usah kau cubit juga!"

"Aku kesal kau abaikan!"

"Kau itu harus menjaga emosimu!"

"Mengapa kau mengguruiku!"

"Karena aku lebih tua darimu!"

"Umur kita hanya beda se-"

"Ehem!"

Perkataan Kyungsoo terhenti mendengar ada suara yang menginteruspsi. Awalnya Kyungsoo dan Baekhyun menoleh dengan tatapan emosi dengan orang itu, tapi tak disangka orang yang menginterupsi mereka adalah bosnya sendiri. Detik itu juga mereka langsung melunturkan ekspresi mereka yang marah menjadi ekspresi senyum secerah matahari siang.

"Eh, Sehun hyung."

Baekhyun dan Kyungsoo kompak memanggil nama bos mereka.

Sehun melipat lengannya di depan dada dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tatapan tajam dibalik kacamata beningnya mengarah kearah kedua pegawainya. Seolah terintimidasi dan mengerti dengan arti tatapan Sehun, Baekhyun dan Kyungsoo menelan ludah dengan berat serta menganggukkan kepala patuh. Sepertinya dengan tatapan tajam Sehun, meraka sudah paham semua maksud bosnya itu.

Harap tenang!

Setelah puas dengan sikap patuh pegawainya, Sehun berlalu menuju tangga menuju lantai dua, tepat dimana kantornya berada.

"Oh, Baek!" baru saja Sehun menginjakkan kakinya ke undakan pertama tangga menuju lantai dua, langkah Sehun terhenti dan teringat akan suatu hal. "Tadi Luhan katanya akan datang kesini."

Baekhyun mengangguk semangat dan tersenyum ceria, "Iya, Hyung. Terimakasih atas infonya!"

"Hm… Jika Luhan sudah datang dan kau sudah menyelesaikan urusanmu dengannya, suruh dia langsung ke kantorku."

"Siap, Bos!" Baekhyun menggerakkan tangan kanannya, hormat ke arah Sehun dengan cengiran ceriah dan hanya di balas gelengan serta senyum tampan Sehun yang langsung berlalu menaiki tangga lagi.

Baekhyun dan Kyungsoo masih memaku pendangan mereka kearah bosnya yang berjalan begitu menawan menaiki tangga demi tangga hingga sosok itu menghilang. Tanpa mereka tahu, bosnya itu berjalan menaiki tangga sambil terkekeh mengingat tingkah pegawainya yang menggemaskan, untung saja dia sudah berkeluarga jadi ia bisa mawas diri.

"Baek, ada urusan apa kau dengan istri Bos?" Siku Kyungsoo menyenggol Baekhyun pelan.

Plak

Dan di balas keplakan sayang dari Baekhyun.

"Sikumu itu tajam, Kyung." Sinis Baekhyun.

"Kau sensitiv sekali! Habis kau seperti begitu terpesona dengan Sehun hyung."

"Sehun hyung sangat berkharisma~"

"Hei ingat, kau sudah punya pacar." Koreksi Kyungsoo. Kali ini mereka berbincang dengan nada lebih rendah dari perbincangan beberapa menit yang lalu –sebelum mereka ditegur.

"Iya! Aku ingat! Aku sudah punya Chanyeol dan bos juga sudah berkeluarga." Baekhyun bersemangat menyerukan nama kekasihnya dengan semburat merah dipipi.

"Iya. Aku kira kau lupa."

"Ehhh?"

"Jika kau lupa Chanyeol hyung adalah pacarmu, aku dengan senang hati akan menggantikanmu sebagai pacarnya hehehe."

Baekhyun hanya berdecak kesal mendengar andaian Kyungsoo. Tangannya sebenarnya gatal untuk mengeplak kepala yang mempunyai surai hitam dihapadannya. Tapi ia berusaha menahannya, karena tak mau menerima teguran lagi.

"Eh, Baek!"

"Apakah Chanyeol hyung akan datang kesini?"

Baekhyun mengernyit, menatap curiga, "Jangan-jangan kau-"

"Tidak-tidak! Aku tak akan merebut pacarmu kok! Tadi aku hanya bercanda~"

"Lalu?"

Melihat Baekhyun yang masih curiga dengannya, Kyungsoo menghembuskan napas kesal. "Aku fans Chayeol hyung! Aku hanya mangagumi sosok Chanyeol hyung yang sangat tenang…"

'Ia tak tahu betapa beringasnya Chanyeol diranjang' batin Baekhyun.

"… ia sangat elegan dalam semua tindakannya! Seperti seorang pangeran~" Kyungsoo bergitu semangat memuji Chanyeol dan itu diangguki Baekhyun dengan semangat juga karena perkataan Kyungsoo itu memang benar tapi kata terakhir yang diucapkan Kyungsoo membuat Baekhyun mengernyit.

Pangeran?

"Dia hanyalah seorang pelayan." Koreksi Baekhyun.

"Eh?!" mata Kyungsoo membola, "Jadi kau pangerannya?"

Baekhyun menyibak poninya dan memberi senyuman sombong, "Begitulah."

"Cih, menggelikan!"

"Yak! Kau tidak terima, hah?!"

"Aku capek bertengkar denganmu… sudahlah, abaikan. Dan lupakan."

Baekhyun mengendus kesal.

"Apakah pria berusia tiga puluhan selalu mempesona? Sehun hyung sangat wow~ Badannya sangat proposional, bibir tipisnya, tatapan mata tajam, berwibawa, berkharisma. Apalagi waktu dia menekan kecamata yang sedang ia pakai dengan jari tengahnya~ hot! Chanyeol hyung juga~ di sa-"

"Kyung, hentikan imajinasimu! Sebaiknya kau harus cepat-cepat cari pacar untuk menyalurkan hasrat mesummu." Baekhyun memutar kedua bola matanya jengah. Mungkin temannya ini kelamaan mempunyai status single, jadinya sering berkhayal yang neko-neko.

"Yak! Kau tadi kan juga terpesona pada Sehun hyung, kan? Mengaku saja! Bahkan kau sendiri juga jatuh ke dalam pelukan pria berusia tiga puluhan." Kyungsoo benci pada orang yang menghancurkan khayalannya. Dia mengakui statusnya memang jomblo, tapi tak perlu juga disindir begitu. Biarpun imut begini, ia juga laku dikalangan perempuan, walau targertnya adalah laki-laki tampan. Biarlah Kyungsoo terus mencari kekasih idamannya.

"Katanya kau tak mau bertengkar." Sindir Baekhyun. Si mata sipit itu sebenarnya berusaha menahan emosinya. Enak saja Chanyeolnya di jadikan sosok khayalan bocah bermata bulat itu. Baekhyun tak akan terima! Chanyeol adalah miliknya!

"Ck… Baek?"

"Hm? Apalagi?" Baekhyun menanggapi malas panggialan Kyungsoo.

"Kau belum jawab pertanyaanku!"

"Yang mana?" Dahi Baekhyun berkerut bingung.

"Ada urusan apa kau dengan Luhan hyung?"

Baekhyun menyeringai jahil, "Jika kau sudah punya pacar, baru kuberi tahu." Tak lupa Baekhyun menjulurkan lidahnya.

Amarah Kyungsoo semakin mendidih, tangannya langsung meluncur menjambak rambut Baekhyun.

"Yak! Yak! Yak! Kyuuuuung! Sakiiiiit!"

Tangan Baekhyun pun mencengkram pergelangan tangan Kyungsoo agar lelaki bermata belo itu melepas jambakannya.

"Awas kau, Baek!"

"Kyung lepaskaaaan!"

"Hey! Hey! Hentikan." Minseok sang barista café yang biasanya tenang pun turun tangan, tapi lelaki bermata runcing itu bingung mau melakukan apa. Bahkan para pengunjung berbisik-bisik melirik mereka, itu semakin membuat Minseok panik. Apalagi Yixing, si penjaga kasir hari ini absent, maka tak ada bantuan yang lain. Satu-satunya orang yang dapat menghentikan mereka adalah…

Glup

Minseok menelan ludah dalam-dalam. Seseorang yang ia maksud sudah berjalan menuruni tanggan.

"Do Kyungsoo! Byun Baekhyun! Kalian berdua, ikut denganku! Dan kau…" Sehun menoleh menatap Minseok, "… jaga café ini sampai aku menyelesaikan urusanku dengan kedua makhluk pembuat onar ini." Sehun mengendikkan bahunya ke arah Baekhyun dan Kyungsoo yang menunduk dalam-dalam.

.

oOo

.

Kling

"Selamat Datang D&C!"

Dari meja kasir, Minseok menyapa dengan ramah pelanggan yang baru saja memasuki café.

"Minseok-ah."

"Oh, Luhan hyung!"

Tanpa disangka, tamu itu adalah Luhan. Istri bosnya itu celingukan kesana kemari memandang sekeliling café. Luhan datang bersama seorang anak lelaki yang berusia sekitar tiga tahun yang ia gandeng. Ekspresi anak kecil itu sangat datar dan mengingatkan Minseok kepada seseorang. Siapa lagi kalau bukan bosnya.

"Mengapa sepi?"

"Anu… itu…" Minseok begerak gelisah dengan bola mata bergerak kesana kemari.

Luhan mengernyit menyadari ada yang aneh.

.

oOo

.

"Mengapa hari ini kalian sangat berisik?"

Bos beserta kedua karyawannya kini sedang berada di rest room. Sehun berkacak pinggang, menatap Baekhyun dan Kyungsoo dengan penuh selidik.

"Apa yang kalian ributkan? . . . Mengapa kalian tak ada yang menjawab pertanyaanku?"

Kyungsoo dan Baekhyun saling menyiku, mereka bingung mau berkata bagaimana. Mana mungkin mereka jujur bilang yang mereka ributkan sedang berada dihadapannya.

Melihat itu, Sehun berdecak dan langsung menghela napas. Pria berkacamata bening itu bingung mau berbuat apa dengan pegawainya. Jarang-jarang dia marah, tapi kali ini mungkin ia harus sedikit lebih tegas.

"Aku maafkan kelakuan kalian hari ini, tolong bekerjalah secara profesional. Aku tak melarang kalian berbincang ketika keadaan café sepi, tapi tolong jaga emosi kalian. Perhatikan kenyamanan pelanggan! Jangan sampai perbuatan tadi terlurang lagi. Apakah kalian mengerti?"

"Mengerti bos!"

"Maafkan kami."

Untuk kali ini Baekhyun dan Kyungsoo kompak menjawab pertanyaan Sehun.

"Baiklah, kalian kembalilah kedepan untuk membantu Minseok. Bersikaplah-"

"Sehun-ah?"

Ketiganya menoleh menatap seseorang yang baru memasuki rest room. Mereka sama sekali tak tahu sejak kapan lelaki bermata rusa itu sudah berada disana. Tak lupa sosok mungil yang mencoba menyembunyikan dirinya dibalik kaki sang ibu.

"Oh, Luhan. Kau sudah datang?" Raut wajah Sehun melembut melihat istrinya dan mengernyit saat melihat anaknya yang bersembunyi. "Haowen kenapa?"

"Ada hal yang perlu aku laporkan padamu."

"Baba~" anak yang di panggil Haowen merengek memanggil ibunya dan semakin menyembunyikan diri.

"Jangan bersembunyi, Haowen. Baba hanya memberi tahu appamu kalau kamu ta-"

"Babaaaa~"Luhan terkekeh melihat tingkah anaknya yang berusaha memotong ucapannya. Mungkin tidak saat ini.

Sehun hanya mengernyit melihat tingkah istri dan anaknya ini.

"Baiklah, baba akan diam untuk saat ini… dan Sehun-ah, tak biasanya kau tidak memarahi pegawaimu, sayang?"

"Maafkan aku, tapi mereka memang tadi keterlaluan, hon. Kemarilah Haowen, appa rindu padamu. Kau baru saja sampai, Hon?"

"Iya, baru saja sampai dan aku langsung kemari" Luhan tersenyum cantik menjawab pertanyaan Sehun, tangannya bergerak mengelus lengan suaminya yang tengah menggendong Haowen. Anak itu langsung menyembunyikan kepalanya ke ceruk leher ayahnya dan menggenggam kerah kemeja sang ayah erat.

Baekhyun dan Kyungsoo saling melirik melihat momen mesra bosnya. Kyungsoo bingung mau bersikap bagaimana. Mau keluar, tapi Sehun dan Luhan berada di depan pintu, mau diam tenang tapi kok malah mereka seperti mengganggu. Semoga Sehun dan Luhan cepat sadar posisi.

"Ekhem!"

Luhan dan Sehun menoleh kearah tersangka. Ada Baekhyun yang nyengir dengan eyesmile-nya. Lelaki sipit itu memberanikan menginterupsi bosnya.

"Oh iya, Baek. Maaf mengabaikan kalian, kembalilah kedepan membantu Minseok."

"Baik, Sehun hyung. Permisi." Kyungsoo berjalan menuju pintu dan sedikit membungkuk ketika melewati Sehun dan Luhan. Sebelum ia menutup pintu, Kyungsoo sempat melirik Baekhyun yang masih diam dengan raut bodohnya.

"Baek! Ayo!" panggil Kyungsoo

"Sebentar, kau duluan saja!"

Setelah melihat Kyungsoo menutup pintu, perhatian kini terpusat pada Baekhyun.

"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan, Baek?" memang Luhan berkepribadian lembut dan anggun, ia memang tipe istri idaman. Beruntunglah nasib Sehun. Dia jadi merasa bersalah dengan Chanyeol yang memiliki dirinya yang sangat jauh dari tipe itu. Setidaknya, ia memuaskan diranjang. Eh?

"Sehun hyung tidak, keluar?" dengan polosnya Baekhyun bertanya dan di balas dengan plirikan tajam dari bosnya.

"Kau sudah memberi tahu masalahmu tadi, tak ada yang perlu dirahasaikan."

"Kau sudah memberitahu jika kau memesan obat itu, Baek?" tanya Luhan polos, setengah terkejut.

"Obat?" Sehun mengulang.

"Dan sex toys?" tambah Luhan mengerjapkan mata.

"Luhan hyung!"

Baekhyun langsung berteriak membahana ketika Luhan seenaknya mengumbar isi paket pesanannya. Tadi dia hanya bicara kalau di membeli barang online shop dan dititipkan kepada Luhan, tapi Luhan membongkar semua.

"Byun Baekhyun." Sehun menatap curiga kearah pegawainya, "… aku tak menyangka kau sebinal itu."

Baekhyun berdecak sebal.

"Oh Sehun!" Kini giliran luhan yang berteriak, "… jaga bicaramu! Ingat ada Haowen disini!"

"Ups… maafkan aku honey." Sehun menepuk-nepuk kepala Haowen lembut.

"Dan sayang, kau lupa? Aku juga mengkoleksi barang-barang itu." kali ini Luhan mengecilkan suranya.

"Wow, Luhan hyung memang panutanku!"

"Terima kasih, Baek."

Sehun memutar bola matanya. Ia menimang-nimang Haowen yang sepertinya mengantuk dan sedikit berjalan menjauh dari Luhan dan Baekhyun yang sibuk dengan pembahasan koleksi pribadi mereka. Sehun bimbang, antara memberitahu isi paket itu kepada Chanyeol atau tidak.

"Kau sudah memesannya, Baek?"

"Aku sudah pesan, hyung!"

"Woa, kau bergerak cepat~" puji Luhan tulus.

"Aku sangat ingin~ hyung…" Baekhyun melirik Haowen yang masih bersikap manja kepada sang ayah, "… sepertinya akan sangat menyenangkan. Cepat hubungi aku jika sudah sampai ya, hyung. Mereka bilang akan dikirim seminggu lagi."

"Tentu, Baek. Serahkan padaku! Hehehe."

"Tapi janga lupa janjimu, Baek. Aku tak ingin kau memutuskannya sendiri."

"Tentu, hyung. Aku berjanji. Sebelum obat itu sampai, aku akn berusaha berbicara dengan Chanyeol."

"Tepatilah, Baek."

"Terima kasih, hyung! Aku kembali kedepean dulu."

Luhan dan Sehun mengangguk, melihat Baekhyun berlalu. Sehun kembali berjalan mendekati istrinya.

"Dia benar-benar memesan sex toys?" Sehun penasaran.

"Baekhyun itu pecinta tantangan. Jangan heran."

"Hmm… sepertinya memang begitu."

"Jangan kau beritahu hal ini kepada Chanyeol!"

"Kenapa?"

Luhan tahu jika suaminya selalu mengawasi gerak-gerik Baekhyun dan melaporkan hal itu kepada Chanyeol. Sehun dan Luhan sudah tahu semua kisah Baekhyun. Ia tak keberatan toh dulu Chanyeol juga membantu bisnis keluarga mereka dan Baekhyun memang perlu diawasi. Tapi sebagai sama-sama pihak bottom, Luhan juga yakin bahwa mereka juga butuh privasi asalkan itu tak merugikan pihak lain.

"Kau itu jangan terlalu ember dan ini permasalah mereka berdua." Sindir Luhan dan Sehun merasa tertohok. Luhan menyeringai melihat ekspresi suaminya yang bungkam, "… ini adalah kejutan untuk Chanyeol, jadi kau jangan ikut campur. Mengerti sayang?" tangan Luhan terulur mengelus pipi tirus Sehun.

Suaminya mengangguk pelan, "Kalau tentang obat? Apakah Baekhyun sudah yakin ia ingin mempunyai anak?"

Pandangan mata Luhan meredup, "Sebenarnya Baekhyun juga belum yakin, tapi aku sudah menasihatinya agar berdiskusi dulu dengan Chanyeol. Apalagi mereka belum menikah. Anak itu memang ada-ada saja."

"Lalu mengapa kau memberi tahu soal obat itu, hon?"

"Dari awal kami berkenalan dia sangat tertarik dengan Haowen yang bisa hadir ditengah kita. Dia bertanya dan aku menjawab. Apakah aku salah?"

Sehun membenarkan gendongan Haowen yang sudah tertidur dan gemas mencubit pipi Luhan.

"Baiklah aku berjanji kali ini aku tak akan ember kepada Chanyeol."

"Aigoo~ suamiku tampan sekali~" rayu Luhan dan langsung memeluk suaminya.

"Hahaha… aigoo imutnya istriku~" Sehun mengecuk kening Luhan.

"Ung~… baba…" Haowen terbangun akibat keikutsertaan pelukan orang tuanya. Luhan terlalu erat memeluk suaminya dan menggencet tubuh anaknya.

"Kau membangunkan Hoawen, honey."

"Ya ampun, Houwen maafkan baba." Luhan meraih Haowen dan menggendongnya. Tak lupa kecupan sayang di dahi anaknya sebagai permintaan maaf.

Haowen menenggelamkan kepalanya kedalam hangatnya pelukan sang ibu. Balita itu mengusak-usakkan kepalanya manja dan membuat Luhan terkikik.

"Honey, sebenarnya ada apa dengan Haowen?" Sehun teringat jika ada sesuatu yang ingin Luhan laporkan kepadanya.

"Aku beritahu asal setelah aku selesai bercerita, kau jangan langsung berlari pulang kerumah."

Sehun mengernyit, perasaannya mendadak tak nyaman. Dia menganggukkan kepala dengan ragu.

"Haowen… umm kau … tenang ya…"

"Cepat, Hon."

"Pinku-pinku mu basah." Luhan berbicara pelan penuh kehati-hatian.

"Oh, ketumpahan air?" Sehun masih dengan ekspresi tenang.

"Lebih tepatnya tak sengaja jatuh ke kloset ke-"

"APA?!"

"-tika Haowen kencing." Luhan menyelesaikan ucapannya dengan ekspresi takut jika Sehun langsung memarahi anaknya.

"Haowen!"

"Babaaaaaa… huweeeee…"

Kehidupan berkeluarga sepertinya tak semenyenangkan yang Baekhyun kira.

.

oOo

.

Café D&E mempunyai jadwal tutup pukul 20:00 KST untuk hari biasa dan 21:00 KST untuk weekend. Café ini hanyalah café keluarga, jadi tak mematok waktu kerja hingga tengah malam. Toh, pendapatan mereka perharipun tak selalu memuaskan.

Baekhyun sudah selesai berganti pakaiannya ketika jam menunjukkan pukul 20:30 KST. Lelaki itu berdecak ketika membaca sebuah pesan di ponselnya. Isi pesan itu dari Chanyeol yang memberitahu jika ia tak bisa menjemputnya dan ia menyuruh Baekhyun agar meminta tolong Sehun untuk mengantarkannya pulang.

Mengingat hal memalukan di rest room, Baekhyun sedikit enggan meminta bantuan bosnya. Kalau diipikir-pikir tak masalah jika ia pulang kerumah sendiri, tapi masih kental dalam ingatannya ketika ia dihajar oleh kawanan bandit membuat Baekhyun bergidik dan memilih untuk tidak pulang sendiri pada malam hari. Jika pagi hari, Baekhyun tak masalah. Kegelapan malam membuatnya teringat tentang gelapnya dunianya di masa lalu.

Bagaimana kalau memesan taxi?

Baekhyun bergelut dalam pikirannya. Ia melirik Kyungsoo yang tengah melipat seragamnya.

"Kyung, kau pulang sendiri?"

Lelaki bermata bulat itu langsung menoleh, "Tentu saja, Baek. Apartemenku hanya beberapa blok dari ini. Kau tak lupa kan?"

"Ugh kau benar."

"Kau kenapa? Chanyeol hyung tak menjemputmu?"

"Iya. Pria itu sangat keterlaluan."

"Keterlaluan mencintaimu?" goda Kyungsoo dan membuat Baekhyun tersipu malu. Tapi ia langsung berdecak mengingat orang yang mencintainya itu tak menjemputnya.

"Tapi dia tega tak menjemputku!"

"Jangan manja, Baek. Pulang tinggal pulang apa susahnya sih."

Kyungsoo tak tahu masa lalunya, tak mengherankan ia berkata seperti itu. Tapi mata Baekhyun membulat, ia menyadari sesuatu. Baekhyun baru sadar jika selama ini ia selalu bergantung pada Chanyeol. Ia selalu segala hal dengan bantuan Chanyeol. Mengapa Baekhyun merasa jika dirinya sekarang lemah? Baekhyun langsung menggelengkan kepala.

Tidak.

Ia tidak lemah. Baekhyun hanya mencintai Chanyeol dan ingin selalu berada disisi orang yang ia cintai. Apa salah akan hal itu?

Sudut bibirnya tertarik kesamping. Sepertinya pilihan ini tak ada salahnya dicoba. Dia melawan egonya untuk meyakinkan dirinya jika ia tak lemah.

Baekhyun menepuk bahu Kyungsoo pelan, "Aku pulang dulu, Kyung! Sampai jumpa besok." Ia berlari keluar rest room menuju sebuah ruangan lain di lantai atas.

Brak!

"Sehun hyung, antarkan aku pulang ya ~"

Sehun mengelus dadanya, terkejut dengan gebrakan pintu yang dihasilkan Baekhyun. Ia mengambil kunci mobil dan segera beranjak keluar ruangannya. Chanyeol sudah berpesan untuk mengantarkan Baekhyun pulang, tak masalah toh mereka searah jalan pulang. Pria itu mengetuk pelan kepala Baekhyun, "Jaga sopan santun kepada atasanmu, Baek. Ayo!"

Baekhyun terkekeh, mengikuti Sehun dari belakang.

.

oOo

.

Chanyeol sampai di rumah hampir pukul dua belas petang. Gurat raut kelelahan sangat jelas nampak di wajah tampannya. Rasanya ia sangat ingin segera memeluk tubuh –mantan- Tuan mudanya. Bergelung dalam dekapan orang terkasih. Kaki jenjangnya bergegas keluar dari bagasi dan masuk ke rumah. Langkahnya langsung terhenti melihat Baekhyun dengan mata sipitnya yang terpejam, tertidur di sofa panjang ruang tamu. Dengan langkah hati-hati, ia melangkah mendekati Baekhyun. Chanyeol berjongkok disamping sofa dan menatap sosok cantik yang tengah tertidur pulas.

Seulas senyum penuh cinta terulas. Rasa lelahnya langsung hilang hanya dengan melihat pemilik hatinya tertidur dengan pulas. Baekhyun tertidur menghadap kearah Chanyeol dengan lengannya sebagai bantalan. Tak pernah ia sesali selama hidupnya hanya menyukai orang yang saat ini ia belai. Perasaan berdebar tak pernah lekang dalam benaknya, tak pernah berkurang sedikitpun atau malah semakin menjadi sejak pertama kali ia bertemu sesosok bayi rapuh pemilik nama tercantik yang pernah ia dengar. Sosok itu sudah dewasa dan tumbuh dengan baik walau jalan ia menuju proses pendewasaan begitu berliku dan memilukan.

"Eung.." Mata sipit Baekhyun mengerjap. Sungguh menyilaukan baginya melihat Chanyeol yang begitu tampan walau sudah petang "Chan..~"

"Baek… ayo pindah ke kamar." Suara Chanyeol begitu lembut membuat Baekhyun enggan bergerak.

"Eum… yeol~"

Chanyeol terkekeh melihat tingkah Baekhyun yang seperti kucing manja. Kepala Baekhyun mengelus-elus pipinya ke kulit sofa yang lembut, mencari kenyamanan.

"Mau jalan sendiri atau aku gendong, sayang?"

"Gendooong~"

"Apakah ada hadiah untukku?"

Mereka melakukan tawar menawar. Medengar kata 'hadiah' keluar dari bibir tebal nan sexy Chanyeol, Baekhyun langsung mendudukkan diri walau setengah lemas.

"Umm ada! Tapi besok ya~ aku sangat mengantuk" kedua tangan Baekhyun terulur.

"Siap laksanakan tuan muda." Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan menggendongnya ala koala dengan mudah. Baekhyun mengecup bibir Chanyeol singkat. "Saranghae~"

Chanyeol terkekeh, mengeratkan pelukan." Hmm nado saranghae… sarang handa Tuan muda."

Gyut.

"Akh!"

"Jangan memanggilku Tuan muda!"

"Tapi aku suka. Apakah kau tak suka, Baekhyunnie?"

"Umm tapi bosan."

"Kau boleh bosan dengan panggilan itu, tapi berjanjilah tak akan pernah bosan denganku."

"Tentu! Aku sangat menggilai Park Chanyeol!"

"Aku lebih menggilai Byun Baekhyun."

Chanyeol dan Baekhyun saling terkekeh dan saling mengeratkan pelukan. Tak lupa Chanyeol terus melangkahkan kakinya menuju kamar besar mereka berdua. Bergelung di atas ranjang, berbagi kehangatan hingga fajar kembali bersinar.

.

.

oOo

TBC

oOo

.

.

Terimakasih atas dukungannya^^

ParkBaek267 (Salam CBHS author juga~ wink~) - Love654 (belum mau end :D) - vitangeflower - septianaditya1997 - .39 - ade park - vhyo3107 - parkizlin69 - BabyBabyXOXO - Park Byunaa - BigSehun'sjunior - Ihfaherdiati395 - raehoo616 (iya, ini chap^^) - RDRD ChanBaek (real-nya emang chanbaek tatepan mereka saling muja~ kyaaaa) - SHINeexo - bijin YJS - sunche - Baekukies - juneeya100 - Chanbaek Numero Uno - anaals - firdazzy - Alethea han - biezzle - narsih556 - yayahunnie - winter park chanchan - Cho Hyunjo

.

.

Author's note:

Maaf ngaret banget update. Aku mencoba tantangan membuat ff ini jadi m-preg, rencana awal cuma simpel tapi jadi mbelibet(?) :(

Yang ngarep Baek COD(?) beli sextoys? Hahaha terkabul… jangan sedih karena chap ini g ada ena-ena, tunggu aja chap besok. Paketnya masih nunggu lama kkk. Mau rikues pake gaya apa? #plak

Dari mulai chapter ini aku minta bantuan HUNHAN yang ulang tahun bulan ini untuk menyelipkan m-preg dan contoh keluarga idaman hahaha

Sampai ketemu di next Chapter ya~

Jangan lupa review^^~