Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Happy Reading!

.

.

Seisi ruang kantor terus diselimuti keheningan. Tidak ada dari Neji maupun Ino yang mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi. Hanya suara ketikan keyboard komputer dengan kecepatan konstan yang terdengar, bahkan seekor lalat lewat tanpa menghasilkan suara yang mampu memecah keheningan di ruangan seperti ini. Neji hanya membaca lembaran koran yang diterimanya sejak tiba di kantor pada siang ini. Sejak tiba dari Hokkaido, Neji mulai menyibukkan dirinya sendiri dengan dunianya dan sekedar memberi Ino beberapa tugas.

Pikiran Ino seketika kosong dan fokus pada pekerjaannya, namun di sisi terdalam dia masih memikirkan apa yang sudah terjadi yang menyebabkan suasana di kantor bisa sehening ini. Namun Yamanaka Ino tetap tidak akan membiarkan suasana semacam ini mengganggu pekerjaannya dan lebih memilih untuk melupakan kejadian saat itu. Pemilik manik sky blue itu mencuri pandang ke arah sang bos dan di dalam hatinya menghela napas lega begitu melihat Hyuuga muda itu melakukan kegiatannya seolah semuanya baik-baik saja.

FLASHBACK

Bandar udara pada saat itu agak ramai dan bahkan cukup lama bagi Neji dan Ino untuk mendapatkan koper-koper mereka. Mereka menunggu hampir setengah jam untuk kelengkapan barang bawaan dan terlalu banyak orang di dalam yang sudah jelas membuat langkah mereka melambat. Ino memang tak punya masalah dengan itu namun Neji merasakan risih karena dikelilingi banyak orang dan sebelum Neji menggertak, mereka berhasil sampai di luar dan menuju gerbang kedatangan. Dan begitu mereka di luar, seorang anak kecil lari ke arah mereka dan berseru.

"Kaa-chan!" Inojin yang berlari dari tempatnya menunggu langsung memeluk Ino. Ino yang sebelumnya membuka tangan menerima pelukan putranya kini balas memeluk erat.

"Inojin-kun, aku rindu sekali." Ino mengecup kening Inojin dan mengusap lembut rambutnya, bahkan melupakan bosnya yang sedang memandangnya dengan ekspresi bingung. Seakan-akan dia sedang melihat sesuatu yang paling ajaib di dunia ini.

"Aku juga. Aku bersenang-senang selama dua hari tapi tidak sama dengan saat bersama kaa-chan." Inojin tersenyum pada ibunya dan memegang kedua pipi sang ibu dan mengecup keningnya.

Tujuh tahun dengan Inojin sudah membuat Ino tak pernah mau berpisah darinya bahkan jika hanya satu jam. Sebagai satu-satunya orang yang dimiliki Ino dalam hidupnya, posisi Inojin tak tergantikan. Dan Inojin, sebagai anak pintar, tahu benar betapa besar rasa sayang ibunya padanya dan dia sudah belajar untuk menjadi anak yang baik dengan Ino. Dan ya, Ino pula sosok yang selalu berada di posisi pertama dalam hati bocah lucu itu.

Saat memeluk ibunya, Inojin menyadari bagaimana Neji memandang mereka. Kepala kecilnya mulai bekerja dengan kecepatan tinggi dan seakan-akan memprogamnya untuk mengatakan sesuatu yang akan mengejutkan Ino dan Neji.

"Ji-san, jangan lihat ibuku seperti itu. Kaa-chan sudah punya Shikamaru ji-san."

Seketika wajah Ino berubah memanas oleh rasa malu akibat kata-kata yang provokatif itu. Ino segera melihat ke arah Neji dan mendapati Neji dengan ekspresinya yang normal namun Ino tak tahu apa yang dipikirkan Neji sekarang dan itu membuat Ino khawatir.

"Hyuuga-sama. Maaf atas apa yang dia ucapkan," ucap Ino seraya membungkuk. "Dia terlalu muda dan-"

"Besok siang di kantor. Untuk hari ini kau bisa istirahat. Aku pamit." Hyuuga Neji berjalan pergi, tidak memberikan kesempatan untuk Ino meminta maaf dan justru meninggalkan wanita pirang itu dengan ekspresi bingung. Ino tidak tahu apakah Neji marah atau Neji tidak peduli.

"Inojin-kun," Ino menurunkan putranya dari gendongannya dan membuatnya menatap mata birunya lekat-lekat. "Ada hal yang tidak seharusnya kau katakan pada orang yang lebih tua darimu. Apa yang sudah kau katakan itu tidak baik dan tidak sopan, nak." Inojin mengangguk paham dan Ino tersenyum. Mereka berdua pun berjalan menuju tempat Shikamaru berada dan meninggalkan tempat itu.

FLASHBACK END

Sudah waktunya pulang dan berhubung tidak banyak hal yang harus dikerjakan, Neji pun memutuskan untuk pulang. Di waktu yang sama, Ino memutuskan untuk pulang. Biasanya, mereka memang selalu menjadi orang terakhir yang pulang, dengan hanya para petugas keamanan yang tinggal, bangunan saat itu menjadi sangat sunyi. Bahkan walau sudah tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka, Ino merasa harus meminta maaf untuk kata-kata putranya dan berpikir untuk membiarkan waktu yang mengurus sisanya. Dan sekarang mereka berdua sedang berada di lift untuk turun.

"Hyuuga-sama, tentang kemarin," Ino memulai, memperoleh perhatian sang bos dan secepatnya membungkuk. "Aku sungguh minta maaf. Putraku tak tahu arti dari kata-kata itu, dia hanya bercanda."

"Berapa umurnya?" tanya Neji tiba-tiba. Ino mengerjapkan mata bingung dan di dalam pikirannya muncul rasa ingin tahu alasan Neji bertanya begitu.

"7 tahun." Keheningan menyusul jawaban wanita bersurai pirang itu.

"Bahkan belum 20 tahun." Neji bergumam pelan tanpa menatap Ino namun sesaat kemudian dia menoleh memandang Ino yang memasang wajah bingung.
"Itu bukan salahnya tapi salahmu karena tidak mengajarkan yang sepantasnya. Kupikir kau memang terlalu muda untuk menjadi seorang ibu dan kau bahkan tidak tahu apa yang kau lakukan." Pintu lift terbuka dan Neji segera pergi meninggalkan Ino yang masih di belakangnya.

Dan benar saja, setelah Neji mengatakan itu semua, Ino membeku di tempat. Perkataannya terlalu blak-blakan walau pemilik manik lavender itu sendiri tak menyadarinya. Ino memang terlalu muda untuk menjadi ibu dan dia tidak siap untuk itu. Banyak saatnya, dan hampir setiap saat Inojin menangis tanpa berhenti saat dia masih bayi, Ino akan bertanya sendiri apa yang sedang Ino lakukan dan bagaimana Ino menangani situasi itu.

Tetapi seorang ibu adalah seorang ibu tidak peduli apa pun yang terjadi. Ino juga tidak punya hati untuk menggugurkan seorang bayi yang tidak punya salah apa pun pada orangtuanya. Inojin tidak bersalah atas kematian Sai dan tetap lahir ke dunia walaupun ibunya masih terlalu muda untuk mengurus seorang bayi sendirian. Walaupun seperti itu, Ino mencoba melakukan yang terbaik untuk membesarkan anaknya dengan sedikit atau tanpa bantuan sekali pun selama bertahun-tahun dan percaya bahwa dirinya sudah melakukan semua tugasnya sebagai seorang ibu dengan baik namun hanya dengan beberapa kata pula dinding ketegaran yang ditambalnya bertahun-tahun seakan retak dan membuat apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Ino bukan ibu yang baik untuk putranya.

Karena memikirkan semua itu, Ino tidak sadar jika dirinya sudah tiba di rumah dan suara televisi di balik pintu memberitahunya bahwa bocah kecil yang menjadi insan terpenting dalam hidupnya sedang berada di dalam. Ino menghela napas dan menggeleng memusnahkan pikiran menyedihkannya yang sebelumnya. Dengan senyum yang dipaksakan, Ino membuka pintu untuk menghadapi kenyataannya, kenyataan tentang keadaan seorang bocah yang menjadi putra dari ibu muda ini. Bocah yang dalam beberapa jam lalu menjadi alasan mengapa Ino disebut sebagai ibu yang gagal.

.

.

.

Shikamaru menyadari Ino agak aneh sejak memasuki rumah. Ino tetap bertindak normal kepada Inojin namun setiap kali Inojin tak memandangnya, Ino menaruh ekspresi risau selama memandang putra kecilnya. Shikamaru menduga ada yang salah dan memutuskan untuk menanyakannya setelah Inojin tidur.

.

.

.

"Sesuatu terjadi?" tanya Shikamaru begitu Ino keluar dari kamar setelah menidurkan Inojin.

"Eh?" Ino mengerjapkan mata bingung. Sedari tadi, dia bahkan tak menyadari Shikamaru ada di sini dan sekarang Ino merasa kikuk.
"Tidak ada." Ino mengalihkan pandangan ke arah lain. Shikamaru melempar tatapan curiga pada wanita bersurai pirang itu. Shikamaru cukup jenius untuk tahu bahwa Ino sedang menyembunyikan sesuatu. Mimik khawatir Ino mengatakan semuanya.

"Ino," Shikamaru berdiri di depan Ino dan meraih tangannya. "Kau bisa mengandalkanku dan menceritakan semuanya. Apakah sesuatu mengganggumu? Apakah kau melakukan hal yang salah?" Ino bereaksi pada pertanyaan terakhir.

Ino mencoba menipu dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dadanya terasa sesak mengetahui bahwa dia bukan ibu yang baik. Dan itu adalah sesuatu yang membuat Ino tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Sampai akhirnya, setetes air mata jatuh membasahi pipinya membuat Shikamaru panik, berpikir bahwa mungkin tidak seharusnya dia bertanya begitu. Shikamaru segera memeluk Ino jika saja Ino tidak mengatakan sesuatu yang menghentikannya.

"Shikamaru, apakah aku ibu yang jahat?" Ino menangis tanpa isakan di hadapan Shikamaru. Shikamaru mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Ino dan menggeleng.

"Kau bukan ibu yang jahat. Jika kau jahat, mana mungkin kau membesarkan Inojin." Shikamaru menatap Ino lekat-lekat. Membuat Ino menemukan kenyamanan dari tatapan itu.

"Aku tidak berpikir aku sudah membesarkannya dengan baik. Aku sudah membuat kesalahan dan hampir tak bisa menghabiskan waktu dengannya dan hanya bisa bekerja. Aku belum mengajarkan yang sepantasnya."

"Semua orang membuat kesalahan. Memang banyak kasus orangtua yang salah mendidik anak namun walau kau sibuk, Inojin adalah satu-satunya anak berkelakuan baik dan berkepribadian baik yang pernah kukenal. Dia punya banyak kualitas yang tidak dimiliki anak seumurannya dan itu semua karena ibu hebat yang dimilikinya." Shikamaru mengusap lembut helaian pirang Ino dan memeluknya.
"Kau sudah sendirian membesarkan Inojin selama ini dan aku bisa pastikan bahwa kau sudah melakukan semuanya dengan baik. Dan untuk itu aku kagum."

"Shikamaru," gumam Ino. Bagaimana bisa Shikamaru selalu mempunyai kata-kata yang sempurna untuknya? Gestur dan semua yang dikatakan Shikamaru membuatnya merasa hangat. Shikamaru seperti figur yang Ino rindukan.
"Arigatou," imbuh Ino akhirnya.

Shikamaru melepas pelukannya dan tersenyum seraya mengusap jejak air mata di wajah Ino. Apa yang Shikamaru lakukan membuat Ino menunduk malu. Shikamaru tersenyum melihat betapa lucunya tingkah Ino di depannya tanpa Ino sadari. Shikamaru tak ingin ada yang melihat Ino seperti sekarang. Shikamaru ingin hanya dirinya yang bisa terus seperti ini dengan Ino.

"Aku akan pulang. Ini sudah terlalu malam dan kau harus bangun pagi," ucap Shikamaru yang disusul anggukan Ino.
"Oyasumi." Shikamaru mengecup pipi Ino sekilas dan pamit. Ino tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

TBC

A/N:

Terimakasih Lmsn, zielavienaz96, FloweRara, Violerine97 & itakun untuk reviewnya. Balasannya di PM bagi yang log in. Makasih juga yang masih ikutin ff ini. Pfft, aku kok merasa di sini Bang Neji kejam yak? Semoga acting(?) Bang Neji di chapter ini tak menuai hujatan :"3

Pojok Respon:

Itakun: ShikaIno udah biasa? Alasan yang bagus. Btw, maaf kalau peran Neji di sini lebih kejam dari badboy. Cogan kalau gak jahat, gak seru :v