Hemmm, We're Married?
Main Cast: Kim Jongin and Do Kyungsoo (gs)
Other Cast: Lihat saja nanti ada siapa saja(?)
Romance, Family, Humor(maybe), and absurd
OOC
Ini fanfic murni dari pikiran saya, kalau mungkin ada kemiripan saya pun tak tahu, ini fanfic GENDERSWITCH kalau ada yang tidak suka maafkan saya dan jangan paksa utk membaca ya!
So, Enjoy it guys!
.
.
.
.
.
.
.
"Sayang"
"Ah, ya kenapa?"
"Kalau aku hamil bagaimana?"
"Aku bahagia, tentu saja"
"Emmm"
Jongin hanya melirik Kyungsoo sekilas. Entah kenapa setelah pulang dari minimarket Kyungsoo jadi pendiam, padahal sebelumnya dia masih baik-baik saja. "Apa Kyungsoo marah?" pikir Jongin. Tapi Jongin memutuskan untuk diam saja, mungkin Kyungsoo lelah. Tapi Jongin rasa ini benar-benar aneh, sebenarnya sudah beberapa hari ini Kyungsoo selalu diam setelah bertanya atau membahas masalah hamil dan keturunan. Jongin sebagai suami sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan keturunan, dia pikir umur pernikahan mereka juga masih sangat muda. Kyungsoo juga belum lulus dari kuliahnya, maka dari itu Jongin belum terlalu serius memikirkannya. Dia hanya tidak mau membebani Kyungsoo, dia ingin Kyungsoo lulus dan meraih gelar sarjananya dulu, dia ingin memberi waktu untuk Kyungsoo merasakan dunia kerja dan mendapatkan uang sendiri, dia ingin Kyungsoo meraih kepuasannya sendiri dari usahanya selama ini. Dia ingin Kyungsoo merasakan semua itu dahulu, karena setelah itu dia ingin Kyungsoo hanya di rumah. Mengurusnya dan tentu saja mengurus anaknya. Selama ini dia belum pernah mengatakannya secara serius kepada Kyungsoo, dia pikir biarkan Kyungsoo untuk bahagia dulu dengan dunianya sendiri.
Jongin tahu, menjadi wanita itu sulit, apalagi setelah menikah, pasti akan lebih sulit lagi. Jongin tahu semuanya karena dia dekat dengan Ibunya, dan dia selalu mengamati hal apa saja yang Ibunya lakukan selama ini. Ah iya, Jongin lupa, bukan Ibu tapi Bunda untuk Jongin. Meskipun selama ini sifat Jongin sangat absurd, sesungguhnya dia seseorang yang selalu berpikir panjang tentang masa depannya. Dan sekarang yang harus dia pikirkan bukan hanya masa depannya sendiri, tetapi masa depan Kyungsoo dan tentu saja masa depan bagaimana keluarganya nanti. Seperti Kyungsoo yang pernah berkata "Jika nanti aku sudah punya anak, aku ingin anak ku nanti dekat dengan Ayahnya." Begitupula dengan Jongin, dia juga punya harapan untuk keluarganya kelak. Salah satunya, dia hanya ingin Kyungsoo tidak bekerja. Dia ingin Kyungsoo hanya fokus padanya dan juga anaknya nanti. Dia tidak ingin Kyungsoo memikirkan hal-hal lainnya. Egois? Tidak. Jongin tidak egois, hanya Kyungsoo memang di ciptakan untuk merasakan hasil kerja keras Jongin. Jika Kyungsoo bisa mencari sendiri, untuk apa pendapatan Jongin nanti?. Tapi sesungguhnya pikiran Jongin tidak sekolot itu, dia tahu Kyungsoo bukan tipe wanita seperti itu. Kyungsoo menempuh dunia pendidikan selama ini untuk cita-citanya. Dan Kyungsoo tidak perah bercita-cita mencari uang banyak. Dia hanya bercita-cita ingin berguna untuk masyarakat dan lingkungan hidupnya, Kyungsoo hanya ingin dipandang bahwa dia bisa dan juga berguna.
Memikirkan itu semua rasa bersalah terbesit di pikiran Jongin. Dia salah karena telah seenaknya saja mengajak Kyungsoo menikah, padahal Kyungsoo masih sangat muda dan juga masih masa kuliah. Tapi Kyungsoo juga tidak pernah menolak, dia hanya terlalu penurut pada Jongin. Jongin bersyukur, tentu saja. Tapi Jongin hanya takut jika nanti dia meminta Kyungsoo untuk tidak bekerja, Kyungsoo akan mengira Jongin telah merusak semua cita-cita dan harapan yang telah dia perjuangkan selama ini. Jongin takut, dan sangat takut membuat Kyungsoo kecewa padanya nanti. Dan Jongin akan sangat takut lagi kalau Kyungsoo memutuskan untuk meninggalkannya, tidak, Jongin tidak bisa. Semenyebalkan apapun dia pada Kyungsoo dia tidak akan pernah bisa melepaskannya.
"Hahhh" Jongin menghela nafas pelan. Dia menoleh pada Kyungsoo yang ada disampingnya. Dan Jongin mendapati Kyungsoo sudah terlelap tidur. Jongin mengamati Kyungsoo, dan dia lagi-lagi terjatuh pada pesona Kyungsoo. Jongin tidak akan mengatakan bahwa Kyungsoo sangat anggun saat dia tertidur. Kyungsoo itu lucu dan aneh, secantik apapun Kyungsoo saat tidur pasti hanya ekspresi polosnya saja yang ada. Tapi Jongin sangat suka, sangat sangat suka apapun ekspresi Kyungsoo. Meskipun menangis Jongin tetap suka, karena dia selalu menyiapkan jari-jarinya untuk menghapus air mata Kyungsoo, Jongin selalu menyiapkan telinganya untuk mendengar setiap isak tangisnya, Jongin selalu menyiapkan matanya untuk melihat raut sedihnya, Jongin selalu menyiapkan kedua tangannya untuk merengkuh Kyungsoo pada pelukannya, dan Jongin selalu menyiapkan pundaknya untuk Kyungsoo menyandar dalam tangisnya.
Setelah puas dengan pikiranya dan juga puas mengamati Kyungsoo, Jongin memutuskan untuk menyusul Kyungsoo tidur. Tapi sebelum itu Jongin mengecup lama kening Kyungsoo. Dan entah kenapa dia meneteskan air matanya, setelah itu dia memeluk Kyungsoo erat dan segera tidur berharap bertemu Kyungsoo lagi dalam mimpinya.
.
.
.
.
.
.
.
"Jongin, banguuuunnn"
"Sebentar sayang" erang Jongin pelan dan terus mengeratkan pelukannya.
"Ish, aku mau mandi dan buat sarapan. Lepaskan pelukan mu" ronta Kyungsoo sambil terus berusaha untuk melepaskan pelukan Jongin pada tubuhnya.
Sebenarnya sudah sering dia bangun dalam pelukan Jongin, hanya saja entah mengapa dia merasa bahwa pelukan Jongin sangat erat. Dia agak risih sebenarnya tapi dia suka juga dan tidak menolak. Tapi karena sudah pagi dia meronta-ronta ingin dilepaskan.
Jongin yang merasa kasihan dan juga sakit karena di pukuli Kyungsoo akhirnya melepaskan pelukannya juga. Setelah itu Kyungsoo langsung bangun dan memandang sengit pada Jongin. Dia sudah siap berteriak pada Jongin dengan wajah cemberut luar baisanya. Baru saja Kyungsoo membuka mulutnya, Jongin sudah menariknya dalam pelukan Jongin.
"Ya! Apa yang kau lakukan Jongin" erang Kyungsoo.
"Ish! Apa sih Jongin. Lepassss" pinta Kyungsoo.
"Diam" kata Jongin.
CUP
Dan setelah itu Jongin langsung mendorong Kyungsoo untuk keluar dari dalam kamar dan menutup pintunya dari dalam. Jongin bisa mendengar teriakan Kyungsoo dari luar tapi dia hanya tertawa saja dari dalam kamar. Dan setelah itu Jongin memutuskan untuk memberesi tempat tidurnya dan pergi mandi jika dia tidak ingin mendapatkan amukan dari Kyungsoo yang lebih dahsyat lagi.
.
.
.
"Jongin gila, ish aku akan memotong-motongnya nanti" Kyungsoo terus menggerutu sambil mencincang-cincang daging yang akan dia masak untuk sarapan pagi ini. Dia tidak habis pikir, kenapa Jongin itu aneh dan jahat sekali padanya. Tapi dia juga tidak habis pikir, kenapa dia bisa sangat sayang, ah tidak sangat cinta pada Jongin itu.
"Jangan memikirkan aku terus, aku kan hanya mandi sebentar sayang" bisik seseorang dari belakang tubuh Kyungsoo yang juga sudah memeluknya dengan erat dari belakanga. Kyungsoo yang kaget dan juga refleks langsung berbalik dan mengancungkan pisau yang sedang dia pegang. Jongin langsung memundurkan tubuhnya dan memandang Kyungsoo sengit.
"Pembunuhan berencana" celetuknya sambil duduk di meja makan dan mencomoti serealnya.
"Untung tidak langsung aku tancapkan pada perut mu tadi" balas Kyungsoo.
"Jahat sekali" kata Jongin
"Ck" Kyungsoo hanya berdecak sebal melihat tingkah Jongin. Dia sudah terbiasa, tapi sebal juga.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Jongin pada Kyungsoo yang masih sibuk memasak di depannya.
"Mandi" balas Kyungsoo singkat.
"Setelahnya?" tanya Jongin lagi.
"Entah, mungkin ke kampus. Ada acara sedikit dan aku harus ikut" jelas Kyungsoo yang sedang sibuk memindahkan masakannya.
"Acara apa?"
"Kunjungan ke tempat lembaga sosial. Yah, praktek kecil-kecilan" jawab Kyungsoo yang sudah duduk di depan Jongin.
Dan setelah itu Jongin dan Kyungsoo langsung sarapan dengan tenang. Selesai sarapan Jongin langsung pergi bekerja. Dan Kyungsoo, dia memutuskan untuk membereskan rumah dulu sebelum mandi dan pergi ke kampusnya. Setelah selesai semuanya Kyungsoo kembali ke kamarnya dan mandi. Saat Kyungsoo telah selesai mandinya dan berdiri di depan kaca dia tidak sengaja melihat ada note yang ditempelkan Jongin disana. Kyungsoo melepasnya dan membaca apa yang ditulis Jongin.
Sayang,
Aku tidak tahu kenapa, hanya saja aku tidak suka dengan wajah berpikir mu setelah kita membahas tentang kehamilan. Aku tidak menuntut lebih darimu,
Saat ini, fokuslah pada dirimu.
Aku mencintai mu
Kyungsoo hanya diam dan tanpa ekspresi setelah membaca tulisan Jongin. Kyungsoo tidak tahu kenapa, dan dia tidak tahu harus apa. Setiap pasangan yang telah menikah pasti ingin mempunyai keturunan, tapi sebenranya Kyungsoo juga belum berpikir kapan ia akan mendapatkan keturunannya. Hanya saja, ada pikiran yang mengganjalnya akhir-akhir ini. Bukannya dia tidak mau memberikan keturunan untuk Jongin, dia hanya belum siap dan belum bisa membagi waktunya antara keluarga dan profesinya. Meskipun sekarang dia belum lulus secara resmi, tapi pastilah dia ingin bekerja nanti. Hanya dia takut, dulu dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan menikah saat dia masih di pusingkan dengan skripsinya. Dulu dia berpikir, paling tidak dia akan menikah 2 atau 3 tahun setelah kelulusannya menyandang gelar sarjana. Dulu dia berpikir dia akan menghabiskan waktunya dulu untuk hidupnya sendiri. Tapi sekarang dia punya orang lain yang hidup dengannya. Dia takut mengecewakan Jongin. Dia ingin menjadi istri yang baik, tapi jujur dia juga ingin meraih harapannya sedari dulu. Dia tahu Jongin suami yang baik, tapi dia tidak berani mengatakannya pada Jongin. Tapi dia sendiri juga bingung harus bagaimana lagi.
Karena tidak ingin memikirkannya terlalu serius Kyungsoo memutuskan untuk segera bersiap-siap pergi ke kampusnya. Dalam perjalanan ke haltepun Kyungsoo masih memikirkan semuanya, ditambah pemandangan wanita-wanita yang berpakaian rapi untuk bekerja maupun wanita-wanita yang menggandeng manis anaknya untuk mengantarkannya ke sekolah. Dia hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dan Kyungsoo rasa, sebaiknya dia segera membahas ini dengan Jongin. Mereka bukan sendiri-sendiri lagi sekarang. Tapi mereka sudah hidup bersama, dan sudah selayaknya mereka membahas hal-hal seperti ini bersama. Nanti siang Kyungsoo akan datang ke kantor Jongin membawakan makanan untuknya, dan mungkin bisa membicarakan masalah ini disana nanti sambil menyuapi Jongin makan siang.
.
.
.
.
.
.
.
Semua acara hari ini sudah Kyungsoo selesaikan tepat pukul 2 siang. Ini sudah terlalu siang, dia akan datang ke kantor Jongin untuk mengatarkan makan siangpun sudah sangat telat. Jam makan siang Jongin pasti sudah berakhir juga. Akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk menunggu Jongin di taman dekat kantor Jongin saja. tadi pagi sebelum berangkat Jongin bilang kalau dia akan pulang jam 4 nanti, dan menunggu selama 2 jam tidak masalah bagi Kyungsoo. Nanti dia akan menghubungi Jongin memberitahunya kalau dia menunggu di taman dekat kantornya.
Saat Kyungsoo menunggu dia melihat ada anak kecil yang tengah berjualan permen disana. Dia menghampiri anak itu.
"Hai" sapa Kyungsoo
"Hai, noona. Mau beli permen ku? Ini yang membuat ibu ku lo. Pasti enak" tawar anak lelaki kecil nan manis itu pada Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum dan berjongkok menyamakan tinggi tubuhnya dengan anak itu. Dia mengelus pelan rambutnya.
"Berapa semua harga permen ini kalau noona beli?" tanya Kyungsoo lagi. Anak itu tampak diam melihat semua permen-perman yang ada dalam genggamannya. Jujur saja, dia tidak tahu. Dia hanya tahu harga satu sampai lima permen. Sedangkan di tangannya masih ada sekita 20an permen. Dia bingung.
"Mian, aku tidak tahu noona. Tapi terserah noona mau memberiku berapa untuk permen-permen ini" kata anak itu sambil menyodorkan permen-permennya pada Kyungsoo sambil tersenyum.
"Kok terserah? Memang kamu tidak tahu berapa semua harganya?" tanya Kyungsoo heran.
"Aku hanya tahu satu sampai lima saja harganya" cicit anak itu pelan sambil menunduk lesu.
Kyungsoo yang melihatnya jadi kasihan dan heran. Anak yang bahkan tidak tahu harga permen saja sudah berjualan begini. Kemana orang tuanya? Kemana keluarganya? Pikir Kyungsoo.
"Kenapa berjualan sendiri? Ayah atau Ibu mu kemana?" akhirnya Kyungsoo bertanya pada anak itu karena rasa herannya.
"Ibu aku suruh tidur di rumah. Dan Ayah sudah tidur dipeluk bumi kata Ibu" jelas anak itu dengan senyum lucunya.
DEG
Kyungsoo yang mendengarnya langsung paham. Dan astaga, Kyungsoo jadi ingin menangis begini.
"Baiklah, noona beli semua ya. Ini uangnya" kata Kyungsoo sambil mengelurkan uang 100.000 ribu won pada anak itu. Anak itu hanya mengerjap bingung, tetapi tetap meraih uang yang di ulurkan Kyungsoo. Dia memberikan semua permennya pada Kyungsoo.
"Terimakasih noona, kalau begitu aku pergi dulu noona. Sampai jumpa" dan anak itu langsung berlari pergi dari hadapan Kyungsoo. Kyungsoo hanya tersenyum melihat langkah-langkah lincah dan gembira anak itu. Kyungsoo harap dia bisa bertemu lagi dengan anak itu.
Tanpa Kyungsoo sadari, dari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Orang itu terus tersenyum sambil memandang Kyungsoo. Dia melihat semua interaksi yang Kyungsoo lakukan dengan anak laki-laki itu, meskipun tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan tapi dia tahu apa yang sedang terjadi tadi. Dia terus tersenyum melihat senyum Kyungsoo.
Kyungsoo berbalik, bermaksud untuk kembali duduk, saat dia berbalik dia sudah dikagetkan dengan seseorang yang berdiri tepat di depannya. Dia mendongak melihat siapa yang berdiri di depannya dengan jarak yang hampir menempel ini. Dan dia menemukan senyuman manis disana.
Jongin
Jongin, Kim Jongin
Suaminya sudah berdiri dengan tegak disana. Merentangkan jas kerjanya di atas kepala mereka berdua, menutupi mereka berdua dari rintik air hujan yang entah sejak kapan mulai turun.
"Hai" sapa Jongin
"Jongin" desis Kyungsoo pelan.
"Kenapa disini eum?" tanya Jongin
"Aku, aku tadi menunggu mu. Dan lihat" Kyungsoo mengangkat tangannya dan menunjukan pada Jongin permen-permen dalam genggamannya.
"Aku tadi membeli permen lucu ini dari anak laki-laki yang juga sangat lucu" jelas Kyungsoo mendongak pada Jongin dengan senyum manisnya. Seakan sadar akan sesuatu Kyungsoo langsung menoleh kebelakang. Dia melangkah cepat.
"Jongin, anak tadi pasti kehujanan. Ya ampun Jongin"
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai, so sorry buat keleletan saya. Saya tahu saya salah, tapi sekarang saya udah kelas 12. Baru selesai uts, dan tugas numpuk, saya pulang juga udah sore banget dan apalagi sering kehujanan jadi makin males banget buat ngetik ff. maaf banget kalau chap ini sangat pendek, saya usahakan buat sering update, tapi maaf kalau pendek2 ya.
Saya sarankan bacanya sambil dengerin lagunya PENTAGON-YOU ARE keren banget, sumpah saya suka banget sama PENTAGON.
Last, review please! Dan sekali lagi maaf untuk semuanya ^-^
