Semester dua, UKK, bagi rapor, dapat peringkat *sayangnya bukan Cuatro yang kuharapkan*... udah selesai! Oke update si chapter 7 ini! Dan maaf kalo jelek... buntu... pusing... pelupa... apalagi soal romance. Hehehe, keburu blushing di tempat gara-gara ngebayanginnya. :D

.

.

Title : Angel Cake

Desclaimer : Bleach Tite Kubo

Genre : Romance-Humor

Cast : Di Chapter ini FuLL UlquiHime. Cuma Mel pengen nambahin OC. Yups, namanya San-Soul alias gadis kembar tiga, Echa, Melody *it's me!* dan Lightning ^^ Tapi perannya cuma sebagai peran tambahan

Warning : OOC, Gaje, Typo *lebih seringnya sih salah penulisan, maklum amatir!*, DLDR

.

.

Chapter 7

Gugup, malu, dan salah tingkah saat ini begitu dirasakan oleh gadis cantik bernama Orihime Inoue. Semburat merah itu sudah terlalu sering menghiasi pipi mulusnya tanpa ada absen sedikitpun kalau sedang berada di dekat pemuda bernama Ulquiorra Schiffer.

Siapa sangka? Ulquiorra—pemuda stoic nan cool itu—mengajaknya jalan-jalan. Tepatnya, jalan-jalan berdua saja. Ini kan sama saja dengan yang namanya... kencan! Kencan lebih mirip dengan pacaran. Apalagi pukul tujuh sore, dimana senja berganti menjadi hitam kelam yang ditemani bulan terang dan ribuan bintang yang berkedip di kejauhan. Semakin mirip dengan orang pacaran saja.

Ulquiorra pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba mengajak Orihime jalan-jalan. Apa karena pesan singkat yang dikirim Orihime? Jadi tanpa berpikir panjang ia mengajaknya jalan-jalan yang sebenarnya telah ia sadari mirip dengan kencan. Apa mungkin ia mencoba... menghibur gadis itu?

'Aku ini kenapa?' tanya Ulquiorra dalam hati, sekaligus memaki dirinya dengan apa yang ia perbuat sekarang. Kalau sampai ayahnya tahu, ini akan menjadi momen yang memalukan untuknya. Apalagi kalau sudah terlihat oleh Grimmjow dan Nel. Mungkin ia sudah dibunuh oleh mereka.

Saat ini keduanya berjalan menyusuri trotoar luas yang mulai sepi. Hanya ada para pegawai yang baru pulang dari kerjanya dan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.

Sepanjang perjalanan, Orihime terus menundukkan wajahnya yang sudah semerah apel. Dia benar-benar malu. Pikiran-pikiran tentang 'kencan' sudah meracuni akal sehatnya. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya lalu menarik nafas dalam-dalam. Tapi itu tidak berhasil menjernihkan kembali pikirannya. Ia pun mencoba untuk melirik ke arah Ulquiorra yang berjalan disampingnya. Tapi ia jadi gugup dan tidak berani menatap pemuda itu.

"Ada apa, onna?" tanya Ulquiorra yang heran dengan sikap aneh Orihime.

"Ti-tidak ada apa-apa, Ulquiorra-kun," jawab Orihime terbata-bata.

"Kalau ada sesuatu katakan saja!"

"A-ano..." Orihime sebenarnya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Ki-kita mau ke-kemana?"

Putra satu-satunya Aizen itu menghela nafas dengan elegan. "Kau akan tahu."

"O-ooh."

Tak lama kemudian, mereka berdua tiba di depan gerbang taman kota Karakura. Orihime heran kenapa Ulquiorra mengajaknya ke taman kota.

Dan entah mengapa tiba-tiba Orihime teringat akan memori pahit dan manis di hari lampau tentang dirinya dan... Ulquiorra di taman kota Karakura yang sangat indah ini. Kenangan yang baru saja tercipta empat hari yang lalu. Disaat dirinya hampir menjadi korban pelecehan seksual, kemudian datanglah Ulquiorra bagai sang pangeran yang menyelamatkan sang putri. Hari itulah awal mereka berkomunikasi dengan dialog.

"Ke-kenapa kita kesini?" tanya Orihime.

"Kau kan sudah berjanji akan menemaniku." Ulquiorra berkata dengan datar.

"Ta-tapi, untuk apa Ulquiorra-kun ke sini sore-sore begini?"

"Refreshing sebentar."

Alis Orihime bertaut. Refreshing katanya? Apa tidak salah? Sore-sore begini? Kalau refreshing, itu kan menenangkan diri. Orihime bisa mengerti kalau Ulquiorra ingin menjernihkan pikirannya yang Orihime yakin tentang kejadian tadi siang di sekolah. Dan Orihime mengerti kalau Ulquiorra yang begitu dingin pasti ingin menenangkan diri di tempat yang sepi. Apalagi kalau bukan taman? Kebetulan taman kota Karakura tidak terlalu ramai sore ini.

Tapi... yang membuat Orihime bertanya-tanya adalah... kenapa Ulquiorra mengajak dirinya untuk menemaninya refreshing? Itu aneh kan?

"Re-refreshing?" Orihime mencoba meyakinkan perkataan Ulquiorra. Siapa tahu pemuda di sampingnya itu sedang melamun jadi asal jawab. Tapi sejak kapan Ulquiorra bisa melamun? Itu jelas tidak mungkin! "Di tempat ini?"

Kebetulan sekali. Orihime melihat keadaan di sekelilingnya. Ia jadi merasa... gugup. Habis, taman itu dipenuhi oleh orang-orang yang sedang pacaran. Tuh kan, mereka berdua bener-bener udah seratus persen mirip orang pacaran!

"Memangnya kenapa? Kau tidak suka?" tanya Ulquiorra.

"Bu-bukan begitu." Wajah Orihime positif langsung memerah. Praktis sekali.

"Kalau kau tidak suka, kita pindah saja dari sini."

"Ja-jangan!" Entah kenapa Orihime menolak perkataan Ulquiorra. Mungkin ia sudah merasa nyaman di tempat itu.

Sebenarnya Ulquiorra ingin tersenyum saat melihat tingkah laku Orihime. Apalagi saat mengetahui wajah gadis itu sering dihiasi semburat merah disertai salah tingkah dan kepolosannya. 'Manis,' pikirnya.

"Kita duduk dulu disini," kata Ulquiorra yang berjalan ke arah kursi taman di wilayah taman yang cukup terbuka dan jauh dari pepohonan. Sore menjelang malam begini bisa sumpek kalau berada di bawah pepohonan, ya kan? Pepohonan malam hari menghirup Oksigen, bukan Karbon Dioksida *lho kok nyamber ke biologi?*

Orihime sih menurut saja.

Kemudian mereka berdua pun duduk di kursi taman.

Mereka berdua tidak berbicara sedikitpun. Hanya ada keheningan disekitar mereka. Orihime mengerti kalau menjernihkan pikiran itu butuh suasana yang hening bagi Ulquiorra. Tapi kalau terus-terusan hening seperti itu rasanya tidak enak.

"Ulquiorra-kun,"Orihime mencoba memecahkan keheningan itu.

"Hnn."

"Maafkan aku atas kejadian siang tadi," Orihime menundukkan wajahnya sehingga pemuda di sampingnya tidak bisa melihatnya wajah cantiknya.

"Tidak usah dipikirkan," kata Ulquiorra. Tampaknya ia tidak peduli dan malah tenang-tenang saja.

"Ta-tapi kan, gara-gara aku Grimmjow-kun dan Nel-san jadi marah~" belum Orihime menyelesaikan kalimatnya, Ulquiorra sudah memotongnya.

"Biarkan saja! Mereka memang begitu."

"Ooh..."

"Kau sendiri bagaimana? Apa Ichigo dan Rukia menghukummu?"

"Ti-tidak. Hanya saja... mereka tampaknya kecewa padaku."

Ada jeda keheningan selama beberapa menit. Tapi kemudian Orihime kembali berbicara. Yang pasti ia berbicara tentang sesuatu yang baru saja membuatnya otaknya terus mengingat-ingat tentang hal itu. Apalagi kalau bukan tentang legenda kue yang didengar dari teman kelasnya—Momo.

"Ulquiorra-kun... legenda kue double sweet europe itu bohong kan?"

Alis Ulquiorra berkerut. 'Legenda itu!' batinnya kesal. Sebenarnya ia ingin memprotes dengan tegas kalau legenda itu adalah bohong. Baginya yang punya otak cerdas, mana mungkin kehidupan seseorang apalagi cinta ditentukan legenda macam itu! Tapi entah kenapa ia tidak bisa memprotesnya.

"Aku tidak tahu." Hanya itu jawaban dari Ulquiorra.

Orihime tahu kalau pemuda yang duduk di samping kanannya tidak ingin membahas soal legenda itu. Jadi ia tidak berbicara lagi.

Wuuush! Angin malam yang sangat dingin itu berhembus dengan lembut ke segala arah dan menyibak untaian senja milik gadis manis yang duduk di samping pemuda tampan bermimik stoic itu. Angin itu pun berhasil menyentuh kulit mulus Orihime dan merangsang syaraf perasa dingin di kulit jangatnya sehingga gadis itu mulai merasa kedinginan.

Oh tidak! Orihime lupa membawa jaketnya. Apalagi saat ini ia hanya menggunakan dress selutut dan lengan pendek. Jadi ia hanya bisa melingkarkan tangan di depan dadanya. Masing-masing telapak tangannya mencengkram lengan kanan-kirinya agar ia merasa sedikit hangat.

Ulquiorra yang menyadari gadis di sampingnya kedinginan mulai merasa kasihan. Tiba-tiba mulai muncul niat dalam dirinya... untuk melindungi gadis itu.

"Kau kendinginan?" tanya Ulquiorra.

"Y-ya," jawab Orihime terbata-bata.

Ulquiorra mendekat ke arah Orihime yang kedinginan. Ia memaki dirinya sendiri karena lupa memakai jaket, juga karena kebodohannya mengajak Orihime menemaninya di malam ini dimana udaranya sangat dingin. Apalagi dia lupa mengingatkan Orihime untuk membawa jaket mengingat gadis itu hanya memakai dress selutut dan berlengan pendek.

Sebenarnya Ulquiorra tidak mau melakukannya, apalagi sampai digolongkan agresif. Tapi karena tidak ingin melihat gadis yang berada di sampingnya kedinginan jadi... ia terpaksa membawa Orihime ke dalam sebuah pelukan hangat.

Ulquiorra menjaga gadis itu dari ganasnya angin malam yang berhembus, ia melindunginya dari dinginnya udara malam yang menusuk. Membaginya sebuah kehangatan dan kenyamanan.

Orihime terbelalak kaget. Ulquiorra memeluknya? Yang benar saja!

"U-Ulquiorra-kun." Sudah tidak perlu dipastikan lagi. Wajah Orihime kali ini sudah panas dan warnanya pun sudah semerah tomat.

"Maaf aku lupa kalau udara di tempat ini begitu dingin," kata Ulquiorra.

"Ta-tapi Ulquiorra-kun..." Orihime mencoba melepaskan pelukan itu. Tapi Ulquiorra malah mengeratkannya.

"Kau kedinginan. Nanti sakit."

"Ta-tapi..."

"Kau mau sakit karena kubiarkan kedinginan?"

"Ta-tapi disini banyak orang..."

"Jangan khawatir! Mereka tidak akan peduli," kata Ulquiorra sambil mengelus rambut panjang Orihime seolah menyisirnya secara perlahan. Sebenarnya ia bermaksud menenangkan Orihime. Tapi hal itu membuat gadis cantik jelita yang berada di dalam pelukannya berdebar.

Orihime tidak mampu berkata apa-apa lagi. Jantungnya sudah berdegup kencang dan pasti Ulquiorra bisa mendengar suara jantungnya. Wajahnya sudah memerah, pikirannya sudah tak karuan bahkan seperti ada suara gunung meletus di otaknya sekarang. Tapi... ia merasa hangat. Pelukan hangat itu membuatnya nyaman dan tidak merasa kedinginan lagi.

"Onna, aku ingin bertanya."

"Te-tentang apa?"

"Kenapa kau mengirim pesan seperti itu tadi sore?"

Orihime kaget. Waduh, ia harus menjawab apa? Sebenarnya saat itu ia sedang merasa bersalah. "I-itu..."

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

Orihime membenamkan wajahnya di dada Ulquiorra. Ia memejamkan kedua matanya dan tidak berani berbicara sepatah katapun. Tangan kirinya menarik kemeja hitam pemuda bermata emerald itu, menandakan bahwa gadis itu takut dan ragu untuk menjawab pertanyaan Ulquiorra. Tapi diam-diam Orihime merasa nyaman berada dalam pelukan pemuda itu.

Ulquiorra tersenyum tipis melihat reaksi Orihime.

"Kau benar-benar tidak membutuhkanku?" tanya Ulquiorra sambil mengelus lembut untaian senja gadis bermata abu yang berada dipelukannya.

Orihime hanya menggeleng pelan.

"Orihime..." panggil Ulquiorra lembut. Ini pertama kalinya ia memanggil Orihime dengan namanya.

Mata Orihime membulat saat mendengar Ulquiorra memanggil namanya.

"Jangan pernah berkata seperti itu lagi! Aku jadi khawatir," pinta Ulquiorra.

Apa ini? Ulquiorra khawatir? Dan yang membuatnya khawatir adalah pesan yang ia kirimkan padanya tadi sore. Tapi kenapa Ulquiorra bisa khawatir oleh hal seperti itu?

Orihime melepaskan diri dari pelukan itu lalu menatap wajah tampan pemuda berkulit pucat di sampingnya. Emerald bertemu abu-abu. Seolah saling menyelami maknanya masing-masing.

"Jangan bersedih lagi! Aku tidak suka," kata Ulquiorra dengan wajah sendu.

Orihime tersenyum. Seketika perasaannya menjadi senang. Kabut ketidaktenangan atas rasa bersalah yang menyesakkan dadanya kini telah pudar. Berganti dengan kesejukan dan ketenangan jiwa yang membuatnya rileks.

'Senyum itu... membuatku tenang,' ujar Ulquiorra di dalam hatinya. Ia paling menyukai Orihime yang sedang tersenyum. Dan kali ini Orihime tertawa kecil. Suaranya yang sangat enak didengar itu membuat Ulquiorra merasa senang.

.

Masih di tempat bagian taman kota Karakura, tiga gadis kembar yang ribut sepanjang jalan menarik perhatian para pengunjung di sana.

"Aku mau main kembang api," kata suara kekanakan gadis berkepang dua dan bermata biru langit.

"Ini bukan tahun baru, bodoh," ledek suara bernada kasar seorang gadis berikat satu dan bermata oranye.

"Mel-chan selalu begitu," kata sebuah suara yang lembut. Itu suara gadis berambut hitam panjang dan bermata coklat.

"Hey, biarin. Suka-suka aku!" bantah Melody, gadis tempramental yang periang dan galak.

"Jangan bertindak memalukan seperti itu!" tegas Lightning, si cuek dan kasar.

"Jangan berantem terus dong, Mel-chan, Lili!" pinta Echa, si gadis lemah lembut yang benci pertengkaran kedua saudarinya.

"Lagian ngapain beli kembang api sebanyak itu? Sudah kubilang ini bukan tahun baru," gerutu Lightning yang akrab disapa Lili.

"Aku bilang suka-suka aku. Aku kan datang ke sini buat main," protes Melody.

"Dasar bocah!"

"Macan gunung!"

"Bocah tengil!"

"Bau!"

"Bakana!"

"Su-sudah. Kalian ini jangan berantem terus kayak anak kecil!" Echa menghentikan keributan dua saudarinya itu.

Kedua kembar tukang adu mulut itu menyerah.

"Aku mau main lempar bola," kata Melody sambil mengeluarkan bola baseball dari tasnya.

"Aduh, Mel-chan! Kamu kayak anak kecil saja bawa mainan ke mana-mana," ujar Echa.

"Dia memang bocah," ledek Lili.

"Berisik! Daripada kamu bawa senjata dan teknologi aneh di saku bajumu. Emangnya Power Rangers," balas Melody.

Melody berlari ke wilayah taman terbuka. Ketika merasa dirinya sudah cukup jauh dari hadapan Echa dan Lili, ia berteriak, "ayo tangkap bola ini! Kalian melawan aku seorang."

"Aku benci permainan ini," komentar Lili.

"Tak apa, Lili. Mel-chan kan ingin bergembira sekarang sebelum pamannya berangkat ke luar negeri," ujar Echa.

"Ya sudah." Lightning—gadis berwatak angkuh—berdiri dengan santai. "Lempar bolanya kemari!"

Melody menyeringai lebar. "Oke, terima seranganku Nyonya Macan! Haa!" Ia melempar bola baseball ke arah Lili. Ya, karena memang awalnya tidak punya niat main baseball, jadi tidak ada tongkat. Akhirnya permainan ini hanya lempar-tangkap dengan tangan kosong saja.

Lili menangkap bola itu dengan tangan kanannya. Ia masih dalam keadaan berdiri santai seperti tadi. Ia melempar bola itu ke atas kemudian menangkisnya dengan satu tangan sehingga terlempar ke arah Melody. Melody dengan lincahnya melompat ke atas kemudian melakukan smash ke arah Echa.

Echa yang memang tak pandai berolah raga menangkap bola itu dengan kedua tangannya. Dan ia hampir terjatuh. Dilemparkannya lagi bola itu ke arah Melody. Tapi lemparannya kurang kuat karena tenaganya lemah. Akhirnya Melody harus berlari maju dulu untuk menangkap bola itu.

"Kurang jauh, Cha," komentar Melody.

"Maaf, Mel-chan. Nafasku sudah tidak kuat," kata Echa yang nafasnya terengah-engah. Sebagai penderita penyakit paru-paru, ia tidak bisa berolah raga ekstrim.

"Kalau begitu kamu istirahat dulu deh. Biar aku lawan Lili sendiri."

"Baiklah."

"Oke, kita tanding berdua nih!" Melody kembali menyeringai ke arah Lili yang masih berdiri tanpa ekspresi. "Haa!" ia melempar bola itu dengan kekuatan penuh.

Lagi-lagi Lili menangkap bola dengan satu tangannya. Dan hal itu terus berulang.

"Kamu gak asyik! Gak bergerak selangkahpun dari tempat," komentar Melody.

"Lalu kenapa?" tanya Lili datar.

"Aku akan buat kamu bergerak. Haa!" Melody melempar bola itu ke arah yang tidak dijangkau Lili.

Alis Lili bertaut. Akhirnya ia bergerak dari tempatnya untuk menangkap bola itu.

.

Pangeran bulan dan Putri matahari itu masih berbincang-bincang dengan akrab di kursi taman, di bawah terangnya bulan sang dewi malam yang menggantung di mega hitam kelam. Tapi Orihime lah yang paling sering bicara. Ia curhat berbagai macam pengalamannya dan hal-hal yang ia sukai. Ulquiorra hanya diam mendengarkan.

Karena Orihime lelah bercerita panjang lebar, ia memutuskan untuk bertanya segala hal pada Ulquiorra. "Ulquiorra-kun, hal apa yang kamu sukai?" tanya Orihime.

"Tidak banyak. Tapi aku suka membaca," jawab Ulquiorra. "Kau sendiri?"

"A-aku suka memasak," jawab Orihime gugup.

Ada jeda keheningan dalam beberapa menit. Sampai Orihime kembali memecahkan keheningan itu. "Ulquiorra-kun, kau bersahabat dengan Grimmjow-kun dan Nel-san dari kecil ya?"

"Ya."

"Oh ya, apa makanan favoritmu?"

"Aku suka yakiniku, dan beberapa masakan Eropa dan Asia lainnya."

"Kamu tidak suka kue?"

"Aku tidak suka yang manis-manis."

Orihime cemberut seketika. Jadi selama ini ia diajari membuat kue oleh Ulquiorra yang sama sekali tidak menyukai kue. Padahal kalau Ulquiorra suka kue, ia bisa membuat kue bersama Ulquiorra dengan semangat.

"Kecuali kue tertentu," kata Ulquiorra tiba-tiba.

"Eeh. Ku-kue apa?" tanya Orihime.

"Itu... maaf aku tidak bisa menjawabnya."

"Lho? Kenapa Ulquiorra-kun?"

Ulquiorra tidak mau menjawab pertanyaan Orihime. Pasti itu sangat rahasia. Tapi Orihime betul-betul penasaran. Tidakkah pemuda stoic itu mau berbagi sedikit cerita tentangnya? Karena rasanya tidak adil kalau sejak tadi hanya Orihime terus yang bercerita.

"Ulquiorra-kun, bolehkah aku mendengar cerita tentangmu?" Orihime meminta.

"Untuk apa?"

"I-itu, ka-karena..." Orihime terbata-bata.

Ulquiorra memejamkan matanya sesaat, sebelum membukanya ia berkata, "Tidak ada yang menarik tentangku." Orihime bingung. Pemuda pucat itu kemudian menatap gadis yang duduk di sampingnya. Kali ini ia berkata dengan hangat, "Mulai sekarang kau jangan memanggilku dengan nama itu lagi. Panggil aku Ulquiorra!"

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba muncul semburat merah di pipi Orihime. Oh tidak! Ulquiorra melihatnya dengan jelas. Gadis itu memalingkan pandangannya ke arah jalan kaki lima yang tidak jauh dari wilayah taman terbuka.

"Orihime..."panggil Ulquiorra.

Belum Orihime menyahut, sebuah bola baseball melesat secepat kilat dan menghantam kepala Orihime dengan keras. Duagh! Orihime langsung jatuh pingsan. Ulquiorra terbelalak kaget. Segera ia mendekap gadis yang sudah tak sadarkan diri itu dan melihat ke sekelilingnya—melihat siapa pelaku yang melempar bola itu.

Tiba-tiba, "Waaah, maafkan aku kak," kata Melody sambil berlari ke arah Ulquiorra dan Orihime sekaligus mengambil bolanya.

Ulquiorra yang sudah mengetahui pelaku seolah mengabaikan sang pelaku. Ia malah memperhatikan keadaan Orihime. Ia sangat khawatir pada gadis itu.

"Aduuh! Melody bodoh! Teganya kamu salah lempar sampai bikin pacar kakak ini pingsan," Melody menjerit histeris dan mengutuk dirinya sendiri. "Kakaak, maafkan kebodohanku ini! Aku benar-benar gak sengaja juga gak tau kalau di tempat ini ada kakak sama pacar kakak. Kakak boleh minta rugi ke aku."

Ulquiorra menatap tajam ke arah perempuan yang saat ini sedang meminta maaf padanya. Ohh... mata itu... mata pembunuh. Sekali lihat Melody bisa membaca kalau di dalam mata emerald itu tersirat amarah dan keinginan untuk balas dendam. Kiamat sudah bagimu Melody!

Seketika datang Echa dan Lightning. Mereka berdua terbelalak kaget saat melihat ada seorang perempuan yang pingsan dengan luka di dahinya.

"Jadi, kau salah lempar lagi?" kata Lili.

"Lili, aku gak tau harus bagaimana nih. Waah, kak hukum aku deh kak! Tak apa. Mau aku ditendang, ditonjok, digantung, dicincang, dipotong, terserah kakak." Melody bersujud di hadapan Ulquiorra yang masih memperlihatkan mata menyeramkannya.

"Mel-chan, jangan bicara sembarangan!" ujar Echa. "Ano... kalau kakak berkenan, aku akan mengobatinya."

"Tidak perlu," tolak Ulquiorra datar.

"Tidak usah khawatir. Dia bisa mengobati. Lebih baik biarkan kekasihmu itu diobati oleh saudariku. Dan kau boleh mengurusi si bodoh ini," kata Lightning.

"Benar kau bisa mengobatinya?" tanya Ulquiorra.

"Ya. Aku akan berusaha," jawab Echa tersenyum.

"Dan kau, aku akan memaafkanmu. Tapi setelah ini, pergilah dari hadapanku!" ujar Ulquiorra pada Melody.

"Ah, benarkah? Terima kasih kak! Ya, aku akan pergi dari sini supaya tidak mengganggu kakak lagi," kata Melody gembira.

Echa mengambil beberapa helai kapas dari tas kecilnya. Ia membersihkan darah segar yang mengucur di dahi Orihime. Setelah darah itu tidak muncul kembali, kali ini Echa meletakkan telapak tangan kanannya ke dahi Orihime. Ia mulai menerapinya dengan tenaga dalam yang ia olah dari tubuhnya sendiri. Ia menyalurkan tenaganya yang berupa hawa panas ke dahi Orihime agar gadis itu sembuh dan bisa sadar kembali.

"Mmh..." Orihime mulai merintih pelan. Gadis itu rupanya sudah sadar, walau masih lemah.

"Dia sudah sadar," kata Echa yang melepaskan telapak tangannya dari dahi Orihime.

Ulquiorra terbelalak kaget. 'Dia bisa menyembuhkan orang,' batinnya. Dihampirinya Orihime kemudian ia membelai gadis itu dengan lembut juga penuh kasih sayang. Ia benar-benar seperti pemuda tampan dan elegan yang sangat mengkhawatirkan kekasihnya. "Orihime..."

Perlahan Orihime membuka kedua matanya. Pemandangan yang pertama ia lihat bukan jalan kaki lima yang ia tatap tadi. Tapi... wajah Ulquiorra yang begitu dekat dengannya. Rasa pusing yang ia rasakan tadi lenyap entah kemana, berganti menjadi perasaan gugup bercampur dengan debaran jantung yang semakin cepat. Oh tidak, rasanya Orihime ingin meledak sekarang!

"U-Ulquiorra-kun!" Orihime menjauh dengan wajahnya yang sudah memerah.

Melody dan Echa tertawa kecil melihat tingkah Orihime. Lagi-lagi Orihime kaget. Lho? Kenapa ada perempuan kembar tiga di dekatnya?

"Aduh kak. Maaf ya tadi bola lemparanku mengenai kakak," kata Melody.

"Ka-kalian siapa?" tanya Orihime.

"Aku Melody. Yang di samping kakak—yang sudah menyembuhkan kakak tadi itu Echa. Dan yang di sampingku ini Lili. Kami kembar," jawab Melody.

"Me-menyembuhkan," tersentak Orihime tidak mengerti.

"Tadi kakak pingsan gara-gara kena bola. Hehe, aku ngelempar bola pake setengah tenaga Hercules kak. Jadi kakak pingsan deh. Untung ada Echa. Dia nyembuhin kakak," kata Melody dengan tampang watados (baca : wajah tanpa dosa).

"Oh, terima kasih ya," kata Orihime pada Echa. Echa hanya tersenyum.

"Ngomong-ngomong aku lihat mereka berdua ada perkembangan yang baik," kata Melody.

Ulquiorra mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Ehehe. Aku bisa melihat nasib orang lain. Dan aku lihat, kalian sedang dalam perkembangan yang baik," kata Melody nyengir lebar.

"Perkembangan?" tersentak Orihime.

"Maksudnya... Pedekate. Hehehe."

Ulquiorra tiba-tiba mendengus kesal. Sedangkah Orihime blushing disertai salah tingkah.

"Yang aku lihat..." Lili mulai berbicara. "Mungkin kalian akan berbahagia."

"E-eh." Orihime tidak mengerti maksud perkataan Lili. Begitupun Ulquiorra.

"Dan Lili itu bisa melihat masa depan. Anggap saja dia peramal. Tapi apa yang dikatakan selalu benar kok," kata Melody.

"Mencapai kebahagiaan, maka harus ada tebing tantangan maupun cobaan yang harus dihadapi. Kalian akan menghadapi tebing raksasa itu sendiri. Cobalah untuk tidak terjatuh. Walau tertatih, apabila keinginan hati kuat, kalian bisa menghancurkan tebing itu menuju kebahagiaan," ujar Lili.

"Apa maksudmu?" tanya Ulquiorra dingin.

"Waah, kakak cermati saja perkataannya tadi. Dia malas mengulang," kata Melody.

"Baiklah sudah selesai. Kita pulang," ujar Lili datar.

"Eeh, aku belum main kembang api!" protes Melody.

"Kak, kami permisi dulu. Maaf ya kalau kami mengganggu." Echa berpamitan pada Ulquiorra dan Orihime.

"Ah iya, tidak apa-apa kok," kata Orihime menggaruk-garuk kepalanya dengan malu-malu.

"Okay, Good bye. See you later. Nice to meet you both!" kata Melody sambil melambaikan tangannya diikuti oleh dua saudarinya.

"Nice to meet you too (dibaca pake logat orang jepang)," balas Orihime. Ulquiorra hanya diam saja.

Melody mengernyit. "Apaan tuh? Aku gak ngerti."

"Dia bilang 'Nice to meet you too'. Wajar kalau kurang jelas. Lidah orang jepang begitu," ujar Lili.

Akhirnya ketiga saudari kembar itu sudah hilang dari pandangan Ulquiorra dan Orihime. Tinggalah mereka berdua di taman itu.

"A-ano... Ulquiorra..." Orihime membuka pembicaraan. "Tadi aku benar-benar pingsan ya?"

"Ya. Gadis itu yang mengobatimu."

"Hah? Gadis yang mana?" tanya Orihime. Ia bingung karena wajah ketiga gadis tadi kembar.

"Yang rambutnya terurai."

"Ooh. Oh ya, tadi gadis satunya yang bernama Lili bilang sesuatu. Apa Ulquiorra mengerti apa maksudnya?"

"Tidak. Sudahlah jangan dipikirkan."

"I-iya."

Hand Phone Ulquiorra berdering. Segera pemuda pucat itu mengambil alat komunikasi miliknya dari saku celananya. Dan... ada pesan masuk dari ayahnya. Kedua permata emerald itu membulat.

Mau sampai kapan kamu berduaan dengan pacarmu?

'Kenapa ayah bisa tahu kalau aku bersama seorang gadis?' tanya Ulquiorra dalam hati. Belum ia membalas pesan itu, satu pesan lagi sudah masuk ke inboxnya.

Cepat pulang! Sudah jam hampir jam delapan

'Sial! Aku lupa,' batin Ulquiorra. Gara-gara asyik berbincang-bincang dengan Orihime, ia jadi lupa soal janjinya untuk pulang jam delapan. Seorang Ulquiorra adalah sosok pemuda yang sangat penurut dan patuh terhadap peraturan yang dibuat ayahnya. Walau terkadang ia mengingkari peraturan yang menurutnya tidak jelas.

"Orihime, kita pulang." Ulquiorra berdiri dari duduknya.

"Eeh, sudah mau pulang." Orihime kaget.

"Ayo! Aku akan mengantarmu pulang."

"Ta-tapi apa tidak akan merepotkanmu, Ulquiorra?"

"Tak apa. Ayo! Tidak baik seorang gadis sepertimu ada di luar rumah di malam hari."

Orihime berdiri dari duduknya. Ya, saatnya pulang. Sebenarnya ia merasa agak kecewa kalau waktu yang dilaluinya bersama guru privat memasaknya itu terbilang sangat sebentar. Jujur... kalau saja ada jeda pemberhentian waktu yang lama, ia yang hatinya sudah dipenuhi perasaan berbunga-bunga serta otak yang dipenuhi tentang pemuda stoik itu akan merasa sangat gembira dan nyaman. Apakah ini yang disebut dengan cinta?

Orihime menggelengkan kepalanya lalu menepuk pipinya yang sudah memerah.

"Ada apa?" tanya Ulquiorra yang menyadari tingkah aneh Orihime di sampingnya.

"E-eh, ti-tidak ada apa-apa kok," jawab Orihime terbata-bata.

Karena Orihime tidak melihat tanah tempat ia berpijak, kaki kanannya yang hendak melangkah rupanya berpijak ke tempat yang salah. Ya, tangga. Bukankah kalau menuruni tangga itu pandangan harus fokus pada anak tangga dan hati-hati? Karena salah berpijak yang menyebabkan tubuh tidak seimbang, Orihime pun terjatuh.

Akan tetapi sepasang tangan kokoh menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh ke tangga. Kalau saja tidak ada yang menolongnya, Orihime pasti sudah berguling-guling di tangga. Dan itu pasti akan sangat sakit sekali.

Ulquiorra-lah yang menolongnya. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya sekali lagi, disertai kedua wajah mereka yang saling bertemu. Sepasang emerald dan abu-abu itu pun kini saling bertatapan.

Tiba-tiba dari arah langit di atas taman kota Karakura, puluhan kembang api meluncur secepat kilat dan meledak di angkasa secara bersamaan. Fenomena yang mengundang perhatian seluruh pengunjung.

Rupanya, ketiga gadis kembar itulah yang sedang bermain kembang api.

"Kali ini aku ingin nembak kembang api yang polanya hati," ujar Melody sambil meletakkan tabung besar yang sudah diberi api di atas tanah. "Sebagai bayaran dariku kepada kakak yang kena lemparan bolaku tadi."

"Memang apa hubungannya?" tanya Lili yang sedang memegang tabung besar yang mengeluarkan percikan api serta tembakan api berbentuk bunga di angkasa.

"Maksud?"

"Kembang api sebagai bayaran kakak tadi?"

"Hehehe. Itu sih cuma aku yang ngerti. Habis, apa kalian gak lihat? Mereka itu pasangan serasi lho!"

"Ya juga sih. Mereka kelihatan serasi," kata Echa sambil membereskan tabung kembang api.

"Kalau begitu, aku persembahkan ini untuk mereka..." ujar Melody merentangkan kedua tangannya di hadapan tabung yang siap memuntahkan milyaran partikel api ke angkasa.

Sebelum kembang api itu melesat ke angkasa... di tempat Ulquiorra dan Orihime.

Sepasang emerald yang indah itu masih menatap sepasang permata abu-abu yang penuh kepolosan. Dua insan itu masih berdiri dengan posisi yang tadi—Ulquiorra memeluk Orihime.

Bukan Orihime si gadis senja yang sederhana di mata Ulquiorra, tapi kali ini gadis itu bagai putri ataupun dewi yang sangat cantik. Tiba-tiba ada gejolak perasaan dalam diri Ulquiorra dan memaksa pemuda itu melakukan sesuatu yang belum pernah sama sekali ia lakukan.

Lalu apa arti ia mengajak Orihime ke taman ini hanya berdua?

Apa arti kata'khawatir' yang ia katakan pada Orihime tadi?

Apa arti sebuah pelukan hangat dan belaian lembut yang diberikannya kepada gadis itu?

Apa arti 'perhatian' yang selalu ia perlihatkan pada gadis itu?

Bukankah itu berarti...

Ia mencintai gadis itu.

Karena sosok Orihime yang begitu cantik terpantul jelas ke dalam retina Ulquiorra, dengan dorongan hatinya yang bergejolak, ingin menunjukkan rasa kasih sayangnya kepada gadis itu... seketika Ulquiorra mencium lembut Orihime yang masih berada di pelukannya.

PYAAR! Kembang api berbentuk hati meledak di langit hitam nan gelap itu. Cahayanya terang benderang menerangi langit yang berkuasa di atas taman kota terindah yang menjadi saksi bisu atas menyatunya perasaan pangeran bulan dan putri matahari.

Bintang-bintang yang bertebaran di angkasa seolah tersangkut di mega hitam yang luas, serta bulan yang menggantung di langit dan juga desiran angin malam yang dingin seolah memberi selamat kepada mereka.

Orihime terbelalak kaget. Ulquiorra menciumnya? Apakah ini mimpi?

Ulquiorra menjauhkan wajahnya dari wajah Orihime yang kali ini warnanya sudah setara dengan kepiting rebus.

"Jangan katakan pada siapapun. Ini rahasia kita," kata Ulquiorra tersenyum. "Aku menyukaimu, Orihime Inoue."

Deg! Debaran jantung Orihime sudah tidak karuan saat mendengar apa yang dikatakan Ulquiorra. Rupanya... perasaannya terbalas. Ya, sungguh bahagianya Orihime. "A-aku juga menyukaimu, Ulquiorra." Orihime menangis.

Ulquiorra memeluk gadis itu dan membelainya dengan lembut. Dan akhirnya, ia pun memiliki seorang kekasih.

.

Di kejauhan, dua pasang mata misterius sejak tadi memperhatikan Ulquiorra dan Orihime.

"Wah, Ulquiorra punya pacar baru ya," kata suara berat laki-laki.

"Ya. Kalau begitu, dia tidak sendiri lagi," ujar suara perempuan.

"Kau yakin cinta pertamanya akan bertahan lama?"

"Mungkin saja."

.

To Be Continued

.

... *melong* == *lesu* *bangkit lagi*... well, sudah selesai nih chapter 7. Wah, inilah chapter teraneh yang pernah kubuat. Karena ada OC yang keliatan abal dan gaje amet. Hehe... *salam damai* juga aku udah buntu deh pas ngarangnya. Maklumi ya, coz lagi sibuk nulis novel. Hiks hiks... otaknya dunia fantasi sana semua.

Oh ya, untuk chapter depan... mmm, kira-kira hari valentine mau chapter depan atau depannya lagi? Aku lagi bingung nih... minta pendapatnya ya ^^ See you the next chapter =)

.

Melody : *larak lirik* Gak ada orang. Mana para chara ya? Padahal ada yang ingin aku peluk, gablog, dan ngasih sesuatu. Mmm, gak ada siapa-siapa, ya sudahlah aku bales review saja.

Koizumi Nanaho : haiii *keceplosan mau nyebut senpai*... koizumi-san! *manggilnya apa nih? Aku bingung* Hehe... :D waduh, padahal tak apa kusebut senpai. Soalnya hanyalah dirimu yang ngajarin aku cara menulis sampai sejauh ini (walau masih banyak yang salah) *duuh jadi malu*. Novel... mm, ada deh! Sekarang lagi diedit lagi. Gara-gara banyak salah penulisan. Maklum nulisnya waktu SD, hahah. Baru sekarang aku terusin. Wah kalo majalah sih mau ngirim biar dapet pendidikan menulis cerita. Emdash? Oo, tidak bosan! Justru aku butuh banget. Aku bingung soal penggunaan emdash. Mungkin gara-gara faktor amnesia-ceroboh-kepikunan aku. Hehe. Juga jarang dilihat-lihat lagi kalo mau di publish. :D

Shaareva Tu Oderscvanck : hai jugaa *lambai tangan lebih gaje* hehe. Diforsir, bukan dirforsir. :D waah, sekarang sudah liburan nih. Tapi tetap sibuk sih, hehe. Ya deh, Mel bakal membagi waktu. Semoga fic ini tamat yaa! :D

Ara Nara Tika : Hola Ara-san! ^^ Wah, kok fb-an mulu sihh? Hehe. *sama aja sih kayak aku* Betul tuh gak setuju Grimmjow ganteng *dijambak Grimmy*! Ganteng siapa? Ulquiorra-kun *si emospada malu-malu*. Bakpao? Telpon dulu gih sepasang kekasih China itu *dipelototin GgioSoi* hahaha... Toushirou, mm, mungkin chapter selanjutnya, hehe

Natsu Hinagiku : Arigatou Gozaimasu Natsu-san yang telah mengunjungi fic ku. Hehe. Kocakkah? Menurutku mereka nyebelin ==" hehehe...

Widy Kakitaka : Widy yang manis, cantik, baik hati serta rajin menabung *jangan terbang yaa! hehe* Haha, gantengan Grimmy apa Ulqui tuh? Haha. Well, aku gak terlalu ketar ketir lagi nih nulis adegan kissing. Tapi pengennya lebih dramatis lagi. Tapi baru pemula, kayaknya belum bisa. Hahah

Melody : Oke oke. Aku sudah balas review! *tiba-tiba nyium bau kue* Rupanyaa... mereka ada di dapur ya? Dasaaaar *ngibrit ke dapur*

Di dapur...

Grimmjow : Udah jadi belooom?

Ichigo : Bentaaar! Gue lagi masukin garamnya nih

Rukia : Oh ya, Inoue. Kamu kan pintar bikin kue segala rasa. Menurutmu kue ini enaknya dikasih apa ya?

Orihime : Ohh, kue coklat ya? Lebih baik pakai garamnya 3 sendok, gulanya satu sendok, pake merica, pake bubuk cabe biar agak pedas, terus pake keju tapi dibakar dulu *emang bisa?*

Ulquiorra : *sweatdrop di pojok dapur*

Nel : Waah, kamu benar-benar sangat dibutuhkan sekarang

Orihime : Ta-tapi kenapa kalian bikin kue itu?

Rukia : Huhu, ada deeh... yang pasti buat Author kita tercinta

Ulquiorra : Aku bersumpah kalian berempat akan dapat masalah besar

Melody : WOOOOY! *datang menggebrak pintu*

All : MELODY!

Melody : Ngapain lu lu disini? *melototin satu persatu* Pasti bikin kue

Nel : Te-tepat sekali *maksain senyum* Kami bikin kue spesial buat kamu Melody

Grimmjow, Ichigo, Rukia : Happy Birthday Melody-chan!

Melody : Gue sekarang gak ultah tau!

Nel : Cobain kuenya deeh!

Melody : *karena lagi lapar, jadi dicoba saja* Oeeeeeek! KUE APAAN NIH!

Lightning : Kau dikerjain lagi ya, bodoh *datang dari pintu*

Echa : Mel-chan, ini minum *ngasih es buah kesukaan Melody*

Grimmjow : Ke-kenapa mukamu jadi ada tiga begini?

Ichigo : I-itu kembaranmu Melody?

Nel : Lho? Kok aku gak tau ya

Melody : Woy Lili! Bukannya bantuin gue yang hampir keracunan ini! Lu malah nonton

Lightning : Aku tidak peduli. Kamu sih yang terlalu bodoh

Melody : ARRGGH! NYEBELIIIIN!

Echa : Hihi, jangan lupa review fic Mel-chan ya semuanya! She always needs your support! And no flame please! ^^