Chapter 7

.

.

Sakura melangkah keluar dari kelasnya. Dia sudah meminta maaf karna kemarin tidak masuk tanpa izin. Mendapatkan omelan dari kepala sekolah justru menjadi hiburan tersendiri untuknya. Dia merasa di inginkan kehadiranya saat kepala sekolah mengkhawatirkannya saat melihat beberapa luka kecil di wajahnya. Meski dengan mulut berbisanya. Dan yang paling membuatnya bahagia saat suara-suara lucu penuh kekhawatiran meluncur dari murid-murid kecilnya. Dia sangat mencintai tempat ini.

"Hyuuga-san." Panggil Gaara ramah.

"Apa kabar Sabaku-san." Sakura mendekati Gaara yang membukakan pintu mobil untuk putranya.

"Ku rasa yang harus menanyakan hal itu adalah aku." Gaara menaikan Alisnya melihat luka di wajah Sakura. Meski begitu senyum menawan masih setia bertengger di bibir pria itu.

"A... ah aku baik-baik saja." Sakura menunduk tak enak. Biar bagaimanapun luka ini di dapatnya bukan karna hal yang wajar. Sangat memalukan.

"Benarkah?" Pria berambut merah itu tersenyum meragukan ucapan Sakura.

"Sensei berbohong ayah. Jika orang terluka pasti sakitkan yah?" Rei yang menyahuti keraguan Gaara.

"Rei..." Desis Sakura. Dia tak ingin muridnya itu bersikap berlebihan padanya. sebenarnya bukan salah Rei. Bocah itu hanya mengatakan pemikirannya.

"Ha ha sensei mu tak apa-apa Rei. Dia masih bisa marah." Kekeh Gaara membuat Sakura semakin Malu.

"Sakura." Panggilan itu membuat tiga kepala yang sedang bercanda -kalau bisa di sebut begitu- itu menoleh. Sasuke mendekati Sakura dan tanpa basa-basi langsung melingkarkan lengannya di pinggang Sakura. Hal ini tentu mengejutkan Sakura, Gaara bahkan Rei.

"Sasuke..." Desis Sakura tajam. Bagaimanapun ini salah. Meski benar dia berselingkuh tapi dia masih punya harga diri untuk tidak mengumbarnya di depan umum. Dan Sasuke dengan mudah menghancurkan harga dirinya itu. Sungguh Sakura tak suka mengakuinya, tapi ini sangat memalukan.

"Maaf. Tapi sepertinya anda sangat... populer. Atau aku hanya salah paham?" Gaara terkekeh kecil melihat dirinya dan Sasuke bergantian. Sedangkan wajah Sakura dan Sasuke mengeras dengan alasan yang berbeda. Tak begitu jelas maksud ucapan Gaara, tapi Sakura punya pemikiran sendiri untuk mengartikan ucapan pria berambut merah itu. Mungkin Sasuke juga.

"Benar. Karna itu menjauhlah darinya..." Desis Sasuke tajam. Rei beringsut ke belakang ayahnya demi mendengar nada tak menyenangkan dari Sasuke. Sakura menghela nafas lelah. Pria ini telah mengklaim dirinya dan lebih posesif daripada Neji. Mengerikan.

"Wah putraku sepertinya ketakutan. Aku pamit dulu... Hyuuga-san atau..." Gaara membuat gerakan kecil dengan kepalanya entah mengisyaratkan apa. Gaara kemudian tertawa kecil dan masuk ke dalam mobil. Membawa putranya pergi dari tempat itu.

Sakura memandang mobil Gaara yang menjauh dengan perasaan terluka. Sakura tak tau dia terlalu sensitif atau bagaimana. Dia hanya yakin jika yang di lakukan Gaara adalah mengejeknya. Sakura mendengus mengejek dirinya sendiri. Sekarang mungkin bertambah orang yang memandangnya rendah. Hidupnya benar-benar menyedihkan.

"Jangan merendahkan dirimu jika kau tak suka di rendahkan Sakura. Dan jangan dekati pria itu." Entah itu sekedar Saran atau perintah. Sakura tak tau dan tak mau tau. Dia membiarkan dirinya di antar pulang oleh Sasuke.

"Sasuke..." Panggil Sakura lirih. Dia sudah berusaha hanya fokus pada apa yang di inginkanya tanpa berpikir akibat atau apapun reaksi orang terhadapnya.

"Hn."

"Apa pekerjaan Naruto bermasalah?" Naruto tak mengatakan apapun tentang pekerjaannya. Pria itu hanya mengatakan semuanya baik-baik saja. Memangnya apanya yang bisa baik-baik saja saat Naruto lebih membela Sakura dari pada bosnya. Sakura benar-benar sulit untuk percaya pada pria pirang itu. Naruto selalu mendahulukan Sakura daripada dirinya sendiri. itu membuat Sakura sangat khawatir.

"Dia mengatakan padamu dia baik-baik saja kan?" Sakura mengangguk menanggapi pertanyaan Sasuke. "Percaya padanya. Kau hanya perlu melakukan itu. Dia tak pernah melakukan apapun yang akan di sesalinya." Sasuke menoleh padanya dengan senyuman manis di bibirnya. Sakura mengangguk membalas senyuman itu.

"Kau tidak bekerja?"

"Aku mengatur jam kerjaku sendiri Sakura." Dasar orang kaya. Sakura tak tahu Sasuke sekaya apa. Tapi melihat apartemennya mungkin saja dia lebih dari kaya. Dan bisa mengatur jam kerjanya sendiri? Sombong. Sakura mendengus tanpa berniat menanggapi ucapan Sasuke. Pria itu terkekeh, entah karna dengusan Sakura atau yang lainya. Siapa peduli.

Mereka sampai di rumah Sakura. Sasuke ikut masuk ketika Sakura masuk ke dalam rumah. Sakura mengrenyit menatap pria itu tak suka. Sedangkan Sasuke dengan acuh langsung menuju sofa dan berbaring di sana. Sakura berjalan menghentak-hentakkan kakinya lalu berhenti di depan Sasuke. Tangannya bersidekap memperingatkan menunjukkan kuasanya di rumah ini.

"Hn? Kau mau mulai jual mahal lagi? ah padahal aku sangat suka melihatmu tidur di pelukanku." Ujar Sasuke dengan nada yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Sakura.

"Kau mau berkelahi?" Geram Sakura.

"Aku lebih suka bergulat di ranjang denganmu." Seringai Sasuke muncul. Sakura memberengut melangkahkan kakinya ke dapur.

"Seperti itu berakhir dengan bagus saja." Omel Sakura.

"Jika kau menyesali saat itu, kita bisa mengulanginya sekarang." Tiba-tiba Sasuke berbisik di telinga Sakura saat wanita itu sedang meminum air mineral. Sakura tersedak sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan Sasuke. Sebenarnya karna terkejut juga. Saat batuknya mereda Sakura segera menatap marah Sasuke.

"KAU MAU MATI!" Jerit Sakura. Sasuke menutup telinganya yang berdenging karna teriakan ultra sonic Sakura.

Setelah berbagai keributan kecil terjadi akhirnya mereka diam mengunyah makanan. Mereka makan siang masakan Sasuke. Entah ada angin apa tiba-tiba pria itu ngotot ingin memasakan sesuatu untuk Sakura. Masakannya terasa... enak. Ya Sasuke memasakan Sakura ramen, kalau kalian ingin tau.

Sasuke pergi setelah makan siang. Pria itu masih sempat mencuri beberapa ciuman dari Sakura. Sakura mendesah lega setelah kepergian Sasuke. Masih tersisa jejak senyuman di bibirnya. Bagaimanapun Sasuke membuatnya kesal pria itu mulai menyita pikiran Sakura. Terkadang Sakura bertanya-tanya ada apa di balik keseriusan Sasuke padanya. Banyak gadis yang bisa di pilih oleh pria itu. Kenapa Sakura yang notabene sudah bersuami? Kenapa harus merendahkan harga diri dengan mengencani istri orang? Sakura butuh jawaban. Tapi tidak sekarang. Di tengah ketakutan kehilangan segalanya yang dia rasakan. Sakura hanya butuh keberadaan Sasuke tanpa mengutarakan pertanyaan apapun yang mengancam keberadaan pria itu. Dia tau dia egois. Tapi manusia mana yang tidak egois?

Sakura menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu di buka. Hinata. Kedatangan gadis itu membuatnya gugup. Sakura tersenyum manis yang sangat kentara di paksakan menyambut kedatangan Hinata. Bukan karna tidak suka. Jujur Sakura merindukan Hinata. Tapi ketakutan akan apa yang di katakan Hinata mendominasi hatinya. Dia cukup sadar dengan kesalahannya dan segala kekacauan yang dia perbuat. Tidak perlu mulut tajam Hinata -yang baru Sakura tau- menyadarkanya lagi. Terlalu menyakitkan. Dan sayangnya sangat sulit di perbaiki.

"Apa kabar Nee-chan?" Sakura sungguh bersyukur panggilan manis itu keluar dari mulut Hinata. "Kurasa kau sedang bahagia ya? Di tinggal suami tapi masih punya lelaki cadangan." Ucap Hinata seraya duduk manis di sofa. Bahkan gadis itu dengan santai meraih remote tv dan mengganti-ganti chanelnya.

"Ya." Apalagi yang bisa Sakura katakan. Meski menyakitkan nyatanya perkataan Hinata tak salah. Sakura tak akan mengakui itu benar. Tapi itu tak salah. Sakura menarik nafas panjang menenangkan gejolak di hatinya. Dia tak ingin marah. Bukan. Tepatnya dia tak bisa marah. Sakura hanya bisa berusaha agar tak menangis saat ini.

"Kaa-san akan sangat bersyukur jika mendengar hal ini." Hinata tertawa sinis. "Ini hanya membuktikan bahwa pilihan Neji-nii salah. Pilihanku salah." Sakura menatap Hinata yang terlihat menderita tanpa raut angkuh seperti beberapa detik yang lalu.

"Saat itu aku membujuk Neji-nii agar menikahimu. Neji-nii meninggalkanmu yang hamil entah karna siapa. Aku tidak tau betapa brengseknya kau yang berpacaran dengan Neji-nii tapi hamil anak orang lain. Dan ironisnya Naruto memutuskanku demi kau. NARUTOKU DEMI KAU, JALANG!" Isakan Hinata tak membuat Sakura iba. Sakura hanya diam. Di dalam kepalanya berbagai kalimat pembelaan diri terangkai. Karna Neji bersikeras bersamanyalah dia mengalami pemerkosaan. Musibah? Jangan bercanda. Kalimat terakhir ibu Neji sudah cukup menjadi bukti dugaan di kepala Sakura. Seandainyapun tuduhannya salah. Sakura hanya perlu mencari orang lain untuk di salahkan. Dan sangat menyedihkan alasan Neji kembali pada orang tuanya adalah kehamilan Sakura. Demi tuhan Sakura juga tidak pernah ingin hamil karna di perkosa. Jika begitu kenapa saat Sakura menyerah dengan hubungan mereka, Neji harus bersikeras sampai kabur dari rumah? Dan jika Naruto meninggalkan Hinata, itu bukan salahnya. Seperti halnya Sakura dengan Neji yang tak di setujui, Narutopun pasti begitu. Sakura tidak akan menyalahkan dirinya tentang Naruto. Karna jika Naruto bersikeras bersama Hinata mungkin kemalangan yang sama akan menimpa sahabat pirangnya itu juga. Dan Sakura sangat menyesal baru mengetahui alasan Neji tak ada untuknya selama tiga bulan dia di rawat di rumah sakit karna trauma. Mungkin saja ada yang berbeda jika dia mengetahuinya sejak dulu

"Aku membujuk Neji-nii menikahimu agar Naruto kembali padaku. Tapi dia tidak pernah jadi miliku lagi. Aku pikir masih ada kesempatan selagi kami masih sering bertemu. Tapi beberapa bulan lalu dia memintaku tak menemuinya lagi. Aku seperti akan mati tanpanya..." Isakan Hinata makin keras. Gadis itu mungkin memang sangat mencintai Naruto. Tapi seharusnya dia menanyakan pada ibunya. Tidak mungkin ibunya hanya membiarkan tanpa melakukan sesuatu pada Naruto. Sakura bersyukur Naruto berhenti berharap bersama Hinata.

"Aku membencimu yang bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku membencimu." Bisikan Hinata tertutupi isak tangisnya. Jika kau tau apa yang telah hilang dari Sakura. Apa kau akan tetap berpikir begitu?

.

.

flashback

.

.

Sakura memasuki rumah barunya di antar oleh kedua orang tuanya, Naruto dan Ino. Dia dan Neji resmi menjadi pengantin baru kemarin. Tidak banyak yang tau dia menikah. Bahkan hanya Ino dan Naruto yang tahu di antara semua orang temannya. Sungguh Sakura merasa lega sekaligus sedih. Lega karna kisah menyedihkan hidupnya hanya sedikit orang yang tau. Sedih karena pernikahannya tidak lebih hanya sekedar menutupi aib kehamilanya.

Sebelumnya saat Neji kembali pada orang tuanya entah karna alasan apa Naruto pernah melamarnya. Sakura tau itu untuk menjaga nama baik keluarganya. Ibu Sakura menangis pilu saat itu. Dia hanya bisa berterima kasih pada Naruto. Tak ada yang bisa di salahkan dalam hal ini. Tapi entah bagaimana Neji datang lagi padanya dan memaksa menikahinya. Sakura tidak tau harus bahagia atau bagaimana. Yang dia tau pilihanya hanya Naruto dan Neji. Dia membiarkan dua pria itu yang menentukan. Siapapun tidak masalah bagi Sakura. Karna tak ada apapun yang dia rasakan. Entah melalui proses yang bagaimana akhirnya Nejilah yang menikahinya.

Perlakuan Neji padanya tidaklah semanis saat mereka berpacaran dulu. Pria itu selalu menatap benci perut Sakura yang membesar. Hal ini tentu membuat Sakura khawatir pada kehidupan anaknya jika telah lahir nanti. Pertengkaran kecil seringkali mewarnai rumah tangga mereka. Sakura masih menganggap wajar hal itu. Hingga satu hari yang menjadi awal hidup mengerikan Sakura.

"Sakura..." Sakura menoleh dan mendapati sosok sahabat imut berambut merahnya berlari ke arah mereka. Sakura dan Neji baru saja keluar dari mini market membeli keperluan Sakura.

"Sasori." Dengan ceria Sakura menyapa Sasori. Sakura hanya tertawa kecil saat Sasori memeluknya erat lalu mencium ke dua pipinya gemas.

"Aku sangat merindukanmu, apa yang..." Ucapan Sasori tak pernah selesai karna Neji langsung memukulnya hingga terjungkal ke belakang. Sakura menjerit keras karna terkejut. Apalagi melihat Sasori menyeka setitik darah di sudut bibirnya.

"Apa yang kau lakukan!" Dengan marah Sasori mencengkeram baju Neji berniat membalas pukulan Neji.

"Aku yang seharusnya bertanya apa yang kau lakukan pada istriku!" Ucap Neji tak kalah marah. Sakura menjerit histeris ketakutan melihat emosi dua pria itu. Sasori melepaskan Neji dengan kasar setelah mendengar ucapan Neji.

"Sakura, apa dia suamimu?" Sakura mengangguk di sela isak tangisnya. Sasori tertawa sedih melihat jawaban Sakura. "Kau... tak memberitahuku saat menikah. Itu... sedikit menyakitkan. Padahal aku senang mendengar kesembuhanmu." Ya butuh waktu bagi teman-temanya mengembalikan semangat hidupnya setelah insiden mengerikan yang di alaminya. Sakura menatap wajah terluka Sasori menyesal. Andai dia tidak di perkosa, andai dia tidak hamil, dia tidak akan menikah tanpa memberitahu semua teman-teman berharganya.

"Maaf. Maaf Sasori. Maaf." Isakan Sakura makin keras.

"Kita pulang." Neji menarik kasar tangan Sakura saat Sasori berniat memeluk wanita itu. Sakura yang masih terisak memandang Sasori minta maaf seraya terus mengikuti langkah cepat Neji. Sakura sangat merasa bersalah melihat wajah Sasori yang marah sekaligus sedih memandangnya.

Sesampainya di rumah Neji menghempaskan Sakura ke lantai. Sakura meringis merasakan Sakit di bokong dan pergelanga tangannya. Dia memandang Neji bertanya maksud dari perlakuan pria itu padanya.

"Apa-apaan sikapmu tadi! Kau istri ku dan kau pikir siapa saja boleh menyentuh istriku begitu! Memangnya kau apa? JALANG!" Teriakan Neji membuat Sakura menggigil ketakutan. Bibirnya terus menggumamkan kata maaf yang sepertinya tak bisa menyurutkan kemarahan Neji. Atau mungkin tak di dengar. Sakit hatinya tak lagi bisa di tahan saat suaminya menyebutnya jalang.

Sejak saat itu Neji kerap memaki dan bersikap kasar pada Sakura. Tidak ada lagi susu ibu hamil. Tidak ada lagi berbagai pemenuhan kebutuhan Sakura. Neji selalu mengatakan tak ada gunanya memenuhi kebutuhan yang bukan anaknya. Sakura hanya bisa menangis saat Neji dengan terang-terangan mengatakan membenci bayi Sakura.

Sakura yang tak bisa menahan kesedihanya selalu datang pada Naruto. Tak ada yang dia katakan. Dia hanya butuh tertawa dan melupakan sejenak masalahnya. Itu bisa di dapatkan jika bersama Naruto. Teman-teman Sakura yang lain mulai sibuk dengan impian masing-masing setelah lulus. Termasuk Ino. Gadis itu memang bersikeras tetap berada di dekat Sakura. Tapi Sakura tak mungkin membuat Ino melewatkan mimpinya demi dirinya. Itu hanya akan membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Dengan berbagai alasan Sakura meyakinkan Bahwa dia baik-baik saja hingga Ino bisa mengejar mimpinya dengan tenang. Dan sejak saat itu Naruto merupakan suatu kebutuhan tersendiri bagi Sakura.

Semua hal buruk yang di alaminya masih setia tak keluar dari rumahnya. Sampai ibu Sakura tak sengaja memergoki Sakura yang di perlakukan kasar oleh Neji. Tanpa membuang waktu ibu Sakura langsung membawa Sakura pergi dari rumah itu.

"Kita akan pergi ke tempat ayahmu. Kupikir kau bahagia karna tak mengatakan apapun tiap ibu menelepon. Ibu pikir... ibu pikir..." Sakura hanya bisa memeluk tubuh gemetar ibunya yang terisak. "Sifat diam bodohmu itu masih kau pelihara..." Air mata Sakura mengalir mendengar isakkan pilu ibunya. Sakura tau betapa ibunya lebih menderita darinya karna melihatnya menderita. Ibunya itu berkali-kali histeris meratapi nasib putri semata wayangnya.

"Kita akan pergi ketempat ayah bu. Tapi biarkan aku menemui Naruto dulu besok. Aku tak bisa pergi begitu saja darinya." Sakura mengusap air mata ibunya yang mengangguk menyetujui permintaan Sakura. Sakura sengaja tak menyinggung satu halpun tentang Neji karna tak ingin semakin menyakiti ibunya.

Keesokan harinya setelah menelepon Naruto, Sakura menunggu pria itu di cafe. Setidaknya kali ini dia akan berpamitan pada teman terbaiknya. Entah darimana Neji mengetahui keberadaanya. Suaminya itu memohon agar di beri kesempatan bicara. Sakura tak bisa mengabaikannya, karna itulah sekarang mereka duduk di bangku taman.

"Sakura, maaf. Aku mohon maafkan aku. Aku hanya... melakukan kesalahan. Kembalilah padaku, aku berjanji akan merubah sifat burukku." Neji memelas memegang tangan Sakura. Sakura memandang Neji dengan senyum sedihnya.

"Bisakah kau menyayangi anaku?"

"Tidak. Tidak. Itu bukan anakmu. Tapi anak kita. Kehilanganmu tak pernah terpikirkan olehmu. Aku tak sanggup. Aku berjanji akan bersikap baik pada anak kita." Sakura menatap Neji mencari kepastian di matanya. Bagaimanapun Neji sudah tak punya siapapun. Pria itu memilih meninggalkan keluarganya demi Sakura. Sangat jahat jika Sakura meninggalkannya.

"Ku rasa kau harus meyakinkan ibuku Neji-kun." Sakura berucap lirih menggigit bibirnya. Dia tak yakin Neji akan mau melakukannya. Tapi senyumnya segera merekah ketika mendapatkan anggukan dari Neji. Mungkin. Mungkin kali ini dia akan benar-benar bahagia.

Sakura dan Neji menemui ibu Sakura di depan cafe tempatnya menunggu Naruto tadi. Sahabat pirangnya itu begitu khawatir ketika tak menemukan Sakura di cafe. Karna ponsel Sakura tak bisa di hubungi maka Naruto menelepon ibunya. Sakura meminta maaf karna membuat dua orang yang di sayanginya itu khawatir.

"Tidak." Ucap ibu Sakura tegas ketika Neji mengutarakan maksudnya membawa Sakura kembali. Sakura memandang sedih Neji yang terlihat tidak suka dengan keputusan ibunya. Tapi dia akan mengikuti keinginan ibunya. Karna tidak akan ada yang lebih baik dari ibu. Sakura tak ingin melukai ibunya lagi dengan bersikeras bersama Neji. Cukup sudah penderitaan ibunya karena dirinya.

"Maaf ibu. Tapi aku hanya memiliki Sakura." Tanpa peringatan apapun Neji menarik tangan Sakura. Membawa wanitanya pergi.

"Sakura!" Sakura melihat ibunya mengejar mereka dengan marah di ikuti Naruto yang juga terlihat sama marahnya.

"Neji-kun, lepaskan. Ibu..." Sakura meronta berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Neji.

"Tidak Sakura. Aku hanya memilikimu. Kau hanya miliku!" Neji tetap menyeret Sakura. Pandangan pria itu lurus kedepan ingin cepat menghilang dari pandangan ibu Sakura dan Naruto. Sakura masih meronta sembari memandang ibunya yang menyeberang jalan demi mengejarnya yang telah menyeberang duluan. Tubuh Sakura membeku. Semua seolah berjalan lambat membuat kejadian mengerikan itu terekam jelas di otaknya. Ibunya tertabrak mobil berkecepatan tinggi karna saat ibunya mulai menyebrang lampu telah berubah hijau.

"Ibu...!" jeritan pilu Sakura di barengi dengan jeritan Naruto. Naruto segera berlari memeluk ibu Sakura. Entah dapat kekuatan dari mana Sakura melepaskan genggaman tangan Neji dan berlari ke arah ibunya tanpa menghiraukan panggilan Neji.

"Ibu... hiks... ibu aku mohon jangan tinggalkan aku...hiks!" Sakura menjerit-jerit memanggil ibunya sementara Naruto berteriak meminta orang-orang yang berkerumun memanggil ambulans.

"Ibu menyaya..." ucapan ibu Sakura tak pernah selesai. Sakura terpaku melihat tubuh lunglai ibunya di pelukan Naruto. Mata yang selalu menatapnya penuh cinta itu tertutup sudah. Tak akan ada lagi panggilan sayang dan pelukan hangat dari wanita paling berharga di hidupnya itu.

"Tidaaaaak... ibu... ibu... ini bohongkan. Kita akan pergi ke tempat ayahkan? buka mata ibu... aku... akan pergi dengan ibu..." Sakura histeris mengguncang-guncang tubuh ibunya berharap wanita itu membuka mata dan mengatakan kalau dia hanya bercanda. Karna tak kuat menahan beban di hatinya Sakura jatuh pingsan. Sementara itu Neji mematung memandang kengerian di depanya. Perlahan tubuh tegapnya merosot bagai kehilangan daya.

Sakura membuka matanya dengan malas. Dia bertanya-tanya kenapa dia masih membuka matanya. Kenapa dia tidak menghilang saja dari dunia yang seolah membencinya. Lelehan kristal bening merembes melalui sudut-sudut matanya. Berbagai skenario buruk untuk mengakhiri hidup telah berputar-putar menggoda di kepalanya.

"Sakura..." Panggilan lembut itu membuat Sakura menoleh. Emerald yang buram karna air mata menemukan Naruto sedang menggenggam tangannya. Memberi sedikit dukungan agar Sakura kuat menerima apapun yang terjadi. Sakura mengalihkan pandangannya pada langit-langit ruangan tempatnya terbaring.

"Naruto... Apa yang harus aku katakan pada ayah?" Bisikan lirih Sakura membuat tubuh Naruto membeku. Bahkan Sakura bisa merasakannya dari genggaman tangan pria itu yang menegang. Sakura menatap Naruto mencari tau apa yang terjadi. Tapi yang Sakura temukan justru Naruto yang terisak. Sakura sampai terheran-heran melihat pria itu sama sekali tak menjaga imej. Bukannya biasanya pria akan merasa malu jika menangis? ini menambah daftar pria yang pernah Sakura lihat saat menangis.

"Sakura..." Sasori masuk ke dalam ruangan membuyarkan segala pemikiran Sakura. Sakura memaksakan sebuah senyuman untuk Sasori. "Bagaimana kabarmu? kau sudah tidur selama dua hari." Sasori mengusap air mata Sakura yang tak lagi bisa di tahannya.

"Hiks... aku... hiks..." lagi. Sakura menangis di pelukan Sasori. Sedangkan Naruto keluar ruangan tak lagi bisa menahan buncahan perasaannya. Ada sesuatu yang di sembunyikan darinya.

Butuh beberapa hari untuk meyakinkan Naruto dan Sasori bahwa dia harus menghubungi ayahnya. Dia tak bisa membuat ayahnya cemas menunggunya. Sakura tidak tau kemana Neji, tapi Naruto pasti melakukan sesuatu yang membuat Neji tak bisa menemuinya. Neji terlalu keras kepala sekaligus mudah putus asa. Naruto hanya bungkam ketika Sakura memaksa pria itu mengatakan alasan melarang Sakura menemui ayahnya. Demi tuhan dia masih terluka karna kepergian ibunya yang bahkan pemakamanya pun tidak sempat Sakura saksikan karna masih pingsan. Sekarang dia hanya berharap bisa selalu bersama ayahnya. Meski sakit, tapi akan lebih baik jika dia mengunjungi makam ibunya bersama ayahnya. Dan Sakura nyaris kehilangan kewarasanya ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sasori.

Maaf. Kami tidak tau jika ayahmu sedang menyetir saat mengabari tentang kecelakaan itu padanya. Ayahmu kecelakaan dan meninggal di tempat, Sakura. Aku dan Naruto sudah mengurus pemakamannya agar bisa di tempatkan di samping makam ibumu. Dan... Ino tak berhenti menghubungi ponselmu. Sungguh, maaf.

ucapan Sasori berputar-putar di kepala Sakura bagai alarm yang bisa menulikan telinganya. Terlalu menyakitkan. Air mata Sakura tak pernah surut mengiringi kakinya yang berlari menuju tempat ke dua orang tuanya di makamkan. Entah mendapat kekuatan dari mana, Sakura yang sedang hamil enam bulan itu berlari kesetanan. Tak terpikir menaiki kendaraan apapun atau apapun di kepalanya. Yang terdengar hanyalah derap langkah kakinya dan raungan tersendat-sendat karna nafasnya yang putus-putus akibat berlari. Dua kilo meter Sakura berlari di ikuti Naruto dan Sasori hingga wanita berambut pink itu berhenti di depan pintu masuk area makam. Sakura jatuh terduduk menatap kosong tempat ayah dan ibunya berada sekarang. Hanya butuh waktu seminggu untuknya kehilangan kedua orang yang sangat di sayanginya. Sakura mematung menatap deretan makam di depannya. Hanya air matanya yang masih setia mengalir. Siapa orang gila yang mengabari ayahnya? Sakura ingin tahu dan sangat ingin membunuhnya. Tidak. Terlalu banyak orang yang dia salahkan dan ingin di bunuh. Tapi Sepertinya Sakura akan mati lebih dulu dari semua orang itu.

"Sakura... Kau gila. Membahayakan keselamatanmu sendiri." Gerutu Sasori dengan nafas memburu saat dirinya dan Naruto sampai di tempat Sakura. Sangat menakjubkan melihat Sakura mampu berlari sampai ketempat ini.

"Astaga! Sakura kau berdarah!" Jerit Naruto saat melihat bagian bawah gaun Sakura sudah basah oleh cairan merah pekat. Dengan panik Naruto membopong tubuh Sakura sedangkan Sasori mencari taksi. Tatapan Sakura kosong. Gadis itu tak memberikan reaksi apapun pada pertanyaan Naruto dan Sasori. Kedua pria itu menatap cemas Sakura saat taksi membawa mereka ke rumah sakit.

Sakura keguguran. Wanita itu tak ubahnya seperti manekin cantik jika dadanya tak bergerak menandakan dia masih bernafas, juga kedipan matanya yang masih terlihat kosong. Mereka bergantian menjaganya di rumah sakit. Naruto, Sasori, dan Neji. Sakura tidak tau bagaimana tiga pria itu bisa bekerja sama. Tepatnya dua pria itu mau bekerja sama dengan Neji. Semua berusaha mengembalikan semangat hidupnya. Naruto dengan cerita tentang Ino yang tak bisa kembali tapi sehari bisa seribu kali meneleponnya menanyakan Sakura. Sasori tentang sesuatu yang terasa mulai berbeda darinya, dia merasa tertarik pada seorang pria. dan Neji tentang rencana masa depannya dengan Sakura.

Enam bulan berlalu, Sasori harus pindah keluar kota karna pekerjaannya. Sebelum pergi pria itu mencium pipi Sakura dan membisikan harapanya agar Sakura kembali seperti yang dulu. Saat itu Sakura hanya membalas harapan Sasori dengan senyum kecil. Hanya tinggal Naruto dan Neji yang selalu menjenguknya bergantian.

Sakura sudah pulih setelah memasuki bulan ketujuh sejak dia masuk rumah sakit. Dengan pertimbangan Sakura masih istri sah Neji, dan pria itu yang membayar semua biaya rumah sakitnya tanpa meninggalkanya lagi Sakura ikut bersama Neji. Naruto membebaskan pilihan Sakura. Pria itu hanya berkata 'datang padaku kapanpun kau mau' yang membuat Sakura menangis haru dan memeluk pria itu lama. Sangat lama. Hingga Neji memasang wajah sebal. Perlakuan kasar Neji berkurang bahkan hilang perlahan. Setelah Sakura menyelesaikan pendidikanya yang tertunda, dia memutuskan menjadi guru tk. Dan Neji selalu mendukung apapun keinginannya sejak saat itu.

.

.

flashback end

.

.

Sakura membiarkan Hinata menangis sepuasnya. Marah sepuasnya. Melakukan apapun sepuasnya. Tidak akan ada gunanya apapun yang keluar dari mulutnya saat ini. Mungkin kondisinya akan membaik jika mereka hanya saling membenci. Sakura tak akan heran seandainya suatu saat mereka akan memutuskan berpura-pura tidak saling mengenal.

Hinata pulang setelah mengatakan Sakura harus bisa menentukan sikap. Akan sangat menyakitkan bagi Sasuke dan Neji jika Sakura hanya membiarkan saja tanpa membuat pilihan. Gadis itu berkata seakan-akan Sakura adalah tokoh terantagonis dan teregois. Apa Hinata tak memikirkan kemungkinan Sakura juga terluka dengan semua kekacauan ini. Sakura berusaha meredam berbagai argumen pembelaan dirinya.

Sakura sudah cukup lelah ketika Neji meneleponnya lagi. Terlambat jika Sakura baru marah sekarang setelah mendengar alasan Neji meninggalkannya dulu. Sudah tak bisa menyulut kemarahannya lagi. Apalagi dirinya sudah melakukan hal jahat di belakang Neji saat ini. Setelah menghela nafas, Sakura mengangkat telepon dari Neji.

"Neji-kun." sapanya sebiasa yang dia bisa.

"Sakura. Syukurlah akhirnya kau menjawab teleponku. Apa sesuatu terjadi?" Banyak yang terjadi. Tapi kebanyakan hal yang mungkin tidak akan kau sukai.

"Semua baik-baik saja Neji-kun. Ada apa?"

"Begitu. Hinata memintaku sesekali kembali. Tidak biasanya dia begitu mengkhawatirkan sesuatu. Kupikir terjadi sesuatu padamu." Jelas Neji.

"Hinata benar. Kau mungkin harus kembali dalam waktu dekat, aku... merindukanmu." Sakura tak tau apa yang akan terjadi jika Neji kembali. Dia hanya ingin segera menghadapi rasa sakit dan takutnya. Semakin lama menunggu maka sakit itu akan jauh lebih menyiksa. Dia akan menguji hatinya. Pada siapa sebenarnya dia ingin menghabiskan waktu yang di milikinya.

"Kau tau aku lebih merindukanmu. Aku akan mengusahakan kembali dalam waktu dekat." Kesungguhan dalam suara Neji membuat perasaan Sakura semakin terluka. Apa yang dia inginkan sekarang? Jika Neji kembali, mampukah Sakura melukainya? mereka sudah terlalu lama bersama.

"Aku mencintaimu." Ucap Neji sebelum akhirnya telepon mereka terputus. Sakura memandangi ponselnya yang tergeletak begitu saja di depannya. Perlahan Sakura meringkuk memeluk lututnya. Bibirnya terus menggumamkan sesuatu. Apa yang harus dia lakukan?

.

.

TBC

.

.

God. Aku benar-benar maso!

Keyikarus

8/8/2017