I'm Sorry
No, I'm not Sorry
I just getting started
My lives a party
Kali ini bukan lagu Always – Bonjovi lagi yang berputar dari ponsel jadul Kibum, seorang perwira atasan di salah satu kantor kepolisian di Korea. Dia sedang menikmati lagu lain. Mencoba menikmati menjadi orang yang lebih modern. Sejak Kyuhyun meninggalkannya—lebih tepatnya ayah Kyuhyun yang memisahkan mereka, Kibum patah hati dan mengganti segala selerannya.
Kini lagu Dean feat Eric B. berjudul I am Sorry bertransformasi menjadi lagu Kibum—lagu kesukaannya yang akan terus berputar sampai bosan. Kibum itu tipe setia, dia akan mendengarkannya sampai Key, salah satu bawahannya, bisa memainkan lagu itu dengan recorder. Kibum menyesap bir dinginnya, terasa lebih baik untuk kepalanya yang sedikit berdenyut.
Wajah ayah Kyuhyun, pria bertattoo banyak itu sedikit banyaknya merusak system kerja otak kirinya. Ia tak bisa berpikir logika, nyalinya menciut. Banyak orang jahat yang berwajah lebih sangar dari ayah Kyuhyun, mereka bahkan tak terlihat bertelanjang karena tattoo di sekejur tubuh mereka. Tapi ayah Kyuhyun sedikit berbeda.
Kibum sering terluka. Itu bahkan kebiasaan.
Dia punya beberapa bekas luka yang membuatnya terlihat keren ketika membuka baju. Setiap luka punya cerita, setiap luka menjadikan gadis gadis memujinya. Kibum akan selalu menggairahkan dengan luka. Tapi tidak dengan luka di hidungnya kemarin, tidak membekas tapi membuatnya ketakutan setengah mati.
Kibum sekarang mengerti mengapa banyak lelaki yang tak berani melamar wanitanya. Hardernya seram.
"Kau mabuk? Kita akan menjemput Kyuhyun dari sekolahnya hari ini dan kau mabuk?" Donghae protes dengan kelakuan Kibum. Jangan berharap banyak tentang reaksi Kibum, tidak banyak. Dia nyaris tak peduli. Dia lebih memillih menghela nafas, meneguk hingga habis bir dinginnya. Lebih baik.
"Ayo berangkat!"
"Kau jangan menyetir!" Donghae merebut kunci mobil dinas Kibum. Kibum mencibir.
Donghae itu makin mirip dengan seorang istri. Hyuna saja tak terlalu acuh, masih sibuk di depan komputernya. Mungkin sedang bermain spider solitaire di sana. Terserah dia sajalah, mereka satu tim dalam aksi menjadi baby sitter anak anaknya bapak Cho. Tim terbaik dalam selera bermain, apa saja bisa dimainkan, termasuk ponsel jadul yang layarnya masih berwarna kuning.
KREK—
Hening.
Hyuna mendorong kursi tempat duduknya ke belakang, menimbulkan suara deritan kencang dan kursi itu terbalik kebelakang. Dia menatap kedua pria yang ia kenal baik. "Kyuhyun terjebak kecelakaan!"
"Apa? Bukankah sudah kita bilang kita akan mengawalnya?" Donghae tak terima. "Kenapa mereka berangkat sekarang?"
"Posisi?" Kibum berdesis. Dia meronggoh sakunya, menemukan kunci motornya di sana.
Park Kyung menyebut beberapa kode secara keras. Kibum langsung menghambur keluar. "Tungguh aku! AISH!" Donghae segera menuju parkiran mobil dinas, menyusul Kibum yang sudah menghilang dari jangkauan pandangannya.
LITTLE FLOWER
.
.
BUKAN BULAN DESEMBER LAGI
.
"Kyuhyun!" itu sebuah teriakan yang teredam. Kepala Kyuhyun berdenyun, pandangan matanya mengabur dan matanya sedikit perih. Kyuhyun melihat sekelilingnya, dia menemukan supirnya. Ayahnya menugaskan supir baru dan seorang bodyguard untuk mengawalnya kemanapun—dan bodyguardnya. Mereka—
Kyuhyun berteriak setelahnya. Sekuat yang ia bisa namun suaranya bahkan tak bisa keluar. Apakah ia tengah bermimpi? Mimpi buruk.
"Kyuhyun!" Kyuhyun meraih dahinya, merasakan sesuatu merembes di sana. Sesuatu yang kental berwarna merah. Rasanya ia ingin pingsan saja. Kepalanya sakit.
"KYUHYUN! LIHAT PAPA!" Kyuhyun melihat ke atas. Dia berada di dalam mobil yang sekarang bertumpuh di satu sisi. Dia tak bisa keluar, airbag mungkin membantunya tak terkena benturan keras. Kekuatan mobil mahal, tapi pecahan kaca mengentai pelipisnya dan membuat darah disana. "Tenanglah! Papa akan mengeluarkanmu!"
Kyuhyun dapat mendengar sayup sayup suara kegaduhan di sana, sirine ambulance dan sejenisnya. Papanya disana, berusaha menggedor gedor pintu mobil yang kunjung tak bisa terbuka.
"Papa" Kyuhyun memanggil, mencoba merengek meminta pertolongan. Rasanya sakit di sekitar tubuhnya dan dia susah bernafas.
"Jangan panik! Papa di sini!" teriak lelaki bertattoo itu lagi. Menarik sekuat tenaga gagang pintu mobil.
"Aku di sini, tetaplah sadar, akan ku keluarkan kau dari sini" Kyuhyun mencoba menjulurkan tangannya. Itu suara Kibum.
Ika. Zordick
Motor itu melaju cepat dan kemudian bak pembalap pembalap di film aksi driver, Kibum melompat turun dari motornya, membiarkan motornya terseret di aspal dan berhenti tak jauh dari sana. Sepertinya dia harus ke bengkel nanti untuk reservasi body motornya yang lecet. Aksi hiperbolis agar dia terlihat heroik.
Mata Kibum jelas menangkap seorang pria yang bersusah payah membuka pintu mobil yang tengah terbalik, berteriak Kyuhyun berulang ulang. Kibum berlari menghampiri, persetan dengan dia akan di tonjok lagi. Dia tak mau kehilangan Kyuhyun, cukup dua bulan tanpa gadisnya itu. Dia tak bisa untuk selama lamanya. Bukannya berpindah hati, Kibum malah merindu.
"Aku di sini, tetaplah sadar, akan ku keluarkan kau dari sini." Dia berbicara setengah menyelak. Kibum panik tapi setidaknya fokusnya masih tetap mengeluarkan Kyuhyun dari sana tanpa harus melukainya. Dia mengepalkan tangan, buku buku jemarinya terlihat memutih.
"Hei kau ingin apa?" Tuan Cho menatap tak percaya Kibum. Kibum memanjat mobil itu.
"Dengarkan aku Kyuhyun, pejamkan matamu!" Kibum sekuat tenaganya meninju kaca jendela mobil. Berkali kali, hingga retak dan—
PRAAANG. Pecah.
Kibum memasukkan tangannya lewat lubang yang ia buat, meraih kunci pintu belakang dan membukanya. Ia menarik Kyuhyun dari sana, melihat miris kekasihnya yang pucat karena takut. "Tidak apa apa, tidak apa apa" Kibum kira dia benar benar mabuk. Untuk apa ia harus menenangkan Kyuhyun seperti bocah TK. Tubuh Kyuhyun disambut ayahnya.
Kibum meraih walkie talkienya. "Dua orang tewas, tertembak dari arah depan tepat di dahi." Kibum mengekori Tuan Cho. Mobil dengan sirine sampai tak lama setelahnya, Kibum turut naik mobil ambulance bersama Kyuhyun dan ayahnya. "Selesaikan itu, aku mau laporan sudah sampai di mejaku sebelum pagi" perintahnya.
Ia jelas melihat wajah Sehun yang mengumpat mendengar perintah itu dari sela pintu ambulance yang hampir tertutup.
Ika. Zordick
Bau bau rumah sakit. Kibum selalu merasa sakit jika sudah mencium aroma ini. Tidak tahu mendeskripsikannya, hanya saja berbeda dengan aroma di luar sana. Terasa khas. Dokter baru keluar dari ruangan ICU, terlihat kesal dari raut wajahnya yang lelah. "SIAPA YANG MENGATAKAN DIA SEMI KOMA? ITU COLLAPSE!" teriaknya. Para dokter yang sepertinya bawahannya menggaruk leher canggung, beberapa di antaranya memilih nyengir.
"Ah maafkan aku. Yang mana keluarganya?" Tanya sang dokter pada kedua lelaki di depan ruangan itu.
"Aku ayahnya" Kibum hendak menyahut. Tapi dia juga bingung, dia siapanya Kyuhyun. Bukannya dia sudah putus dua bulan yang lalu?
"Ah, dia tidak apa apa, hanya luka gores di dahinya. Saat sadar sudah bisa di bawa pulang ke rumah, tidak perlu rujukan" Sang dokter sudah terbodohi dengan cerita semikoma. Dia jadi kesal kalau Kyuhyun berlama lama di ICU.
"Terdengar bagus" sahut Kibum. Dia menghela nafas kemudian mendudukkan dirinya di kursi.
"Bisa dapatkan perawatan untuknya juga, tangannya terluka" Kibum mendongak, menemukan Tuan Cho yang meminta dirinya untuk perawatan. "Setelah ini kau harus jelaskan siapa kau, aku takkan merestui hubungan kalian meski aku sudah melihat tindakan heroikmu tadi" berdehem sesekali.
Si dokter terkekeh, sepertinya ia tahu apa yang terjadi. Anak gadis pria bertattoo itu pasti ingin kawin lari dengan pria ini kemudian kecelakaan lalu pria ini menyelamatkan wanita dengan gagah berani. Terdengar keren. Ingatkan author nanti untuk membuat peran si dokter menjadi penulis komik romantic penuh gairah.
"Bereskan luka tuan ini!" perintahnya pada seorang perawat.
Ika. Zordick
"Kalian datang?" Hyuna, Donghae dan Chanyeol berlari di koridor rumah sakit. Berdiri di depan Kibum yang tangannya baru saja selesai di perban. Mereka memasang pose hormat.
"Lapor, Sir!" Memasang pose istirahat setelahnya.
Satu yang di pikiran Kibum, kenapa para bangsat ini bertindak jahanam sekali. Dia melirik pada Tuan Cho menyengir sedikit kemudian memijit pelipisnya. Nama polisinya sudah rusak. "Aku Kim Kibum, kepala pemimpin misi perlindungan anda dan keluarga" katanya mengulur tangan bermaksud menjabat tangan.
"Kau polisi terbaik yang di miliki Korea? Aku tak percaya ini" pria itu meringis. Dia tertawa kemudian, menepuk kuat punggung Kibum membuat Kibum sedikit mengerang sakit. Ayah Kyuhyun adalah si brengsek diantara yang paling brengsek. "Berapa usiamu?"
"28" Kibum menjawab. Dia ingin berbohong, mengatakan tujuh belas tapi kumis tipis dan brewok di sekitar wajahnya tak mendukung.
"Kita tak terpaut terlalu jauh" Kibum terkena kalimat pemungkas. Itu jugalah yang ia pikirkan tentang ayah Kyuhyun. Dia muda. "Aku tak menyangka itu adalah kau, seseorang yang hampir memperkosa anakku di rumahku adalah yang bertugas melindunginya." Senyumnya terlihat tak enak. Hyuna memberikan nilai 99 untuk penampilan pria ini. Dia sempurna. Tampan, pengusaha kaya, terlihat nakal dan menggairahkan. Dan di antara skala seratus yang ia berikan, satu kekurangan pria itu adalah ia punya istri dan belum almarhumah.
"Aku akan meminta menteri pertahanan menggantimu"
Kibum menahan pergelangan tangan Tuan Cho ketika dia hampir menghilang ke dalam pintu tempat Kyuhyun di rawat. "Aku kekasih Kyuhyun" Kibum berdiri, menatap ke dalam bola mata tuan Cho yang seolah mengitimidasinya. Ini masalah gawat, Kibum tak bisa membiarkan orang yang membuat dirinya gila selama dua bulanan ini dilindungi orang lain. Dia kenal dengan semua polisi dan tak ada yang lebih baik darinya dalam bertugas. "Aku rasa aku memang khilaf ketika itu dan terima kasih kepada anda yang menghentikanku"
Kibum membungkuk dalam. Hal yang bahkan tak pernah ia lakukan pada Yunho—atasannya. "Saya takkan mengulangi kejadian itu, biarkan tugas ini di serahkan pada saya. Kyuhyun dan keluarga anda akan berada dalam keadaan aman, saya jamin itu"
"Aku tak percaya pada polisi" Tuan Cho mencebik. Dia bersidekap, mendengus kasar. "Lalu kenapa aku harus percaya padamu?"
"Karena aku kekasih anak anda. Aku memiliki kemampuan polisi dan loyalitas sebagai kekasih. Ku rasa tak ada yang lebih baik dari itu. Aku akan menjaga Kyuhyun"—ini bermakna ganda. Kibum seperti baru saja meminta anak gadis pada orang tuanya untuk dinikahi.
"Baiklah" apakah ini termasuk restu? Kibum rasanya ingin melompat kemudian mengucap syukur. "Jika kau melakukan sedikit kesalahan saja, akan kubunuh kau."
"Siap Tuan Cho" Kibum menegakkan tubuhnya. Memasang pose hormat khas polisi.
"Panggil Jay saja!" Tuan Cho—Jay sebenarnya termasuk orang yang bersahabat. Dia tersenyum kecil kemudian menepuk bahu Kibum, dia masuk ke dalam ruangan Kyuhyun. Lelaki itu menghilang ketika pintunya tertutup.
Kibum berbalik, menatap ketiga bawahannya yang tersenyum lebar. Tangannya terangkat, jari tengahnya teracung dan tepat di depan wajah ketiganya bergantian. "Damn Asshoe!" katanya tegas membuat tawa ketiganya pecah. Bawahan macam apa mereka.
Ika. Zordick
Mungkin gaya bahasanya akan sedikit berbeda. Sudah lama Ka tidak menulis lagi hahahaha xD
"Kenapa wajahmu merengut seperti itu?" Hyuna menyisir rambutnya di depan cermin dengan jari. Sedikit berantakan di beberapa bagian, tak lupa juga sedikit memoles bibirnya. Merah adalah tanda dirinya. Polisi wanita itu mendamba panggilan panas setelah jabatan pada namanya.
Tak menjawab. Sehun rasa tak seharusnya semua pertanyaan perlu ada jawaban. Tubuhnya membungkuk, memasang flashdisk di belakang komputernya. "Kyung, Key, periksa file ini untukku. Kita takkan tidur hari ini."
Cukup menjadi jawaban. Hyuna berdecih mengetahui dirinya tidak akan tidur untuk malam ini. Seharusnya, dia berpikir menjadi personil girlband saja dahulu daripada menjadi seorang polisi. Dia sedikit menakutkan tentang jerawat yang bisa saja menggerogoti wajah akibat terlalu banyak bergadang. Faktanya, Hyuna baru tahu prihal itu tiga hari lalu setelah iseng searching 'penyebab jerawat' di google.
"Kapan dia mau laporannya?" Dasom beranjak dari kursinya, membuat ramuan anti kantuk—kopi—di dapur kantor. Kyung sudah mengeluh tentang rekaman CCTV dan black box di tempat kejadian yang membuatnya mau tak mau menyipitkan mata agar melihat lebih jelas monitor di hadapan.
Helaan napas. Sehun termasuk golongan pegawai rajin. Tapi tidak terlalu maniak kerja seperti Kibum. "Sebelum pagi."
"Dari pada mengeluh, lebih baik kerjakan itu." Chanyeol menengahi. Jelas dia melihat mimik pucat para rekannya.
"Aku yakin kita takkan tidur untuk beberapa minggu ke depan karena para triad itu. Sial sial sial," gumam Key, kembali memutar video yang baru terkirim ke komputernya. "Terima kasih," senyumnya kembali terkembang ketika Dasom meletakkan segelas kopi di mejanya. Junior yang baik.
Ika. Zordick
Angin bertiup, udara cukup dingin. Sudah pertengahan musim gugur. Jemari mengetuk di permukaan meja, tak sampai mengeluarkan suara bising—hanya memberi warna pada keheningan—Kibum merebah di sofa kamar Kyuhyun. Tak dia sendiri, lelaki bertattoo itu di sana juga. Ayah Kyuhyun, makin dilihat makin mengerikan.
Ada rasa cinta di tatapan mata sipit yang ketika melirik terlihat tajam. Ada rasa sayang ketika menggumamkan nama Kyuhyun di bibir. Kibum rasa, dia ingin juga memiliki satu anak perempuan dan menumpahkan rasa seperti yang dilakukan Jay—ayah Kyuhyun. Terlihat manusiawi.
Setelah Kibum diobati oleh dokter, mereka langsung menuju kediaman utama keluarga Cho di Seoul. Perjalanan tak sampai tiga puluh menit, namun mengantarkan Kyuhyun seperti mengantarkan presiden. Terlalu banyak pengawal dan sterilisasi jalan. Berlebihan. Layaknya Kibum menghadapi pekerjaannya kala ini.
Tumben saja, Kibum tak pernah tepat waktu dalam bekerja. Dia bahkan sudah membantu Donghae memasang CCTV tambahan di kediaman mewah keluarga Cho. Kibum tak pernah memegang pertukangan sejak dia naik jabatan menjadi perwira beberapa tahun lalu. Revolver dengan peluru penuh bahkan siap sedia di pinggangnya. Mode seriusnya dalam menjaga Kyuhyun. Namun, tak membuahkan kedekatan dengan bakal calon mertua.
Polisi berwajah kekanakan dengan senyum polos memikat membereskan perkakasnya. Dia melipat tangga dan menyuruh rekannya yang lain membawa. "Selamat dini hari, tuan Cho. Anda tidak tidur?" pertanyaan umum diajukan Donghae—sekedar basa-basi.
"Aku ingin."
Tatapan itu meneduh, jemarinya terulur membenarkan poni Kyuhyun. "Tapi aku sedikit takut jika aku bangun, Kyuhyun atau Taehyung sudah tak ada di sampingku." Ketakutan seorang ayah.
Donghae membungkukkan tubuhnya. Volume suaranya sengaja dikecilkan. "Si bangsat itu, walaupun tampak tak dapat dipercaya, dia polisi yang hebat. Asal dia ada di sini percayalah, anakmu akan baik-baik saja."
Sulit, memang. Si kepala keluarga Cho itu bahkan sudah melihat bagaimana Kibum hampir memerawani anak gadisnya. Jahanam berprofesi polisi, kalau profesinya mafia, pasti Jay akan tembak mati. "Kau punya senapan, tuan Cho?" Kibum menyelipkan rokok di sela bibirnya. Tangannya mulai meronggoh saku jaket dan celana. Lihat, apakah Jay akan percaya dengan seseorang yang butuh pematik tapi mengatakan senapan.
"Kau butuh pematik atau senapan?" Jay hanya ingin bertanya sekali lagi. Agar dia pasti mengambil benda yang benar untuk kebutuhan si polisi.
"Senapan." Kibum menemukan pematiknya. "Donghae, pindahkan Kyuhyun ke kamar lain. "Empat di antara kalian pergi ke bawah dan bersiap dengan motor kalian. Tunggu aba-aba dariku."
Perlahan, Kibum melangkah menghampiri jendela. "Kau pasti punya izin pemegangan senapan kan, Mr. Cho?" Donghae yang kini bertanya. Jay terperangah sejenak, dia cepat berlari ke luar ruangan, tak lama kemudian menyerahkan senapan berburunya pada Kibum yang kini mengendap ke jendela. Donghae mengangkat tubuh Kyuhyun, membuat gadis itu terjaga sejenak.
Kelopak mata itu terbuka, menampilkan manik indah pujaan Kibum—walau Kibum jatuh cinta karena polkadot dan putih di awal—berkedip beberapa kali. Suara terdengar lembut, melodi pengantar tidur yang kadang membuat bangun. "Papa?" dia mencari ayahnya. Bocah sekali.
"Aku rindu Kibum, tadi aku bermimpi dia," kata-kata yang persis menohok Jay. Sepertinya anaknya yang tergila-gila, lalu si jahanam Kibum membalasnya. Anaknya harus patah hati, Kibum terlalu tua atau Kyuhyun yang terlalu muda. Persetan! Keselamatan Kyuhyun yang utama.
"Aku di sini, pergilah ke kamar lain!" perintah si pria yang mulai menghisap rokok. Jemarinya terulur membuka jendela yang mengarah ke beranda kamar. Aroma malam musim gugur memenuhi rongga.
"Apa yang sedang kau lakukan?" wajar jika si tuan rumah bertanya.
Tembakan tepat mengarah pada Kibum, entah keberuntungan, entah pula prediksi, meski terkena di bagian perut, Kibum seolah kokoh berdiri. Mengkeker setelah tahu di mana keberadaan si penembak. Tak dia hiraukan geraman Jay tentang darah yang merembes keluar dari luka.
Pelatuk di tarik, selongsong telah jatuh menimbulkan suara berdenting ketika menyentuh lantai. "Aku mendapatkannya, cepat seret dia!" Kibum berbicara lewat walkie talkie-nya. Sedikit ringisan ketika memegang luka di daerah perut.
"Kau gila?"
"Pekerjaanku melindungi Kyuhyun dan aku senang melakukannya," anggaplah gombalan untuk mendapatkan hati sang mertua. Ngomong-ngomong, Kibum sempat teringat adegan pertama kali dia bertemu Kyuhyun ketika dia tertembak tadi. Selangkangan yang tertutupi celana dalam polkadot, ditambah paha putih mulus. Jika tuan Cho mengetahui pikiran si pria polisi itu, mungkin sisa peluru akan menembus kepala.
"Dari mana kau tahu mereka di sana?" Kotak P3K diulurkan ke tangan Kibum. Pria berusia lebih tua menyiram tangannya dengan alkohol. Luka Kibum mengeluarkan banyak darah, namun bukan berarti ada peluru di dalam sana. Hanya luka goresan, cukup dalam, tak mengenai daerah yang vital. Cekatan, si pemilik rumah mengambil perban dan mengobati si luka.
"Insting polisi." Kibum memaksudkan betapa lamanya dia menghabiskan waktu untuk berurusan dengan manusia-manusia kriminal. "Lalu, dari mana kau tahu mengobati luka?"
"Aku orang yang sering mengalami luka." Bukan bermakna melankolis, Jay seorang anggota mafia sebelum menikah dengan ibu Kyuhyun dan Taehyung. Dia menjalankan bisnis halal ketika mulai mengencani wanita beruntung itu.
Pembicaraan di antara mereka selesai. Kecanggungan terlalu mendominasi.
Ika. Zordick
Sekali lagi mengoleskan lipstick merah di bibirnya. Hyuna dengan heelsnya menapak di lantai ruang introgasi. Mata indah itu menatap tajam pada dua pria China—tersangka penembakan di kediaman Cho, wajah mereka babak belur. Terlihat menyedihkan namun sedikit sexy di mata si polwan.
Rok mini dan pantat padat, perpaduan luar biasa yang selalu mendapat acungan jempol dari seluruh kepolisian divisi kriminal di kantor kepolisian. Sebelas dua belas dengan pemilik pembunuh bayaran, kalau kata Kibum. Hyuna punya cara keadilan tersendiri. Oleh karenanya jugalah, Kibum merekrutnya ke dalam satuan tugas yang dia gawangi.
"Nama?"
Hyuna bertanya ketika bokongnya mendarat di permukaan meja introgasi. Recorder telah dihidupkan, siap menjadi saksi yang memberatkan ketika dituntut nanti di pengadilan. Keduanya memilih diam, sedikit tak berkonstrasi dengan pertanyaan saat atensi teralihkan penuh pada gundukan dada milik si wanita. Terlalu vulgar.
"Matamu," pria dengan tinggi 187 centimeter menyusul Hyuna. Menepuk mata keduanya dengan tumpukan kertas di tangan. "Jawab dengan benar!"
"Hui," Chanyeol cukup fasih dengan bahasa China, ini kali pertama baginya menjadi pengintrogasi. Bersyukur, bukan Kibum yang menjadi mentor ajarnya. Hanya saja, jika melihat Hyuna, seniornya itu lebih parah dalam hal introgasi dibanding Kibum. "Namaku Hui."
Seseorang yang berkemeja biru, kulitnya putih dan rambutnya hitam. Rahang yang tegas dan hidung mancung. Sebagai wanita normal yang suka pria tampan menawan, Hyuna tanpa sadar menyisir rambutnya dengan jari. Kesan menggoda kental menguar. Chanyeol berdehem untuk menetralkan suasana ruangan yang mendadak panas.
"Lalu kau?" kali ini muka Hyuna kembali judes. Dia pecinta golongan pria tampan menawan takkan tertarik dengan pemuda biasa-biasa saja. Pria china bermata sipit menunduk pasrah saat matanya tertangkap basah tak bisa menolak tawaran paha dan dada si polwan.
"Xiang Sui." Gelagatnya persis seperti pecundang. Dia menunduk, gemetar.
Apa orang baru?
Hui ini bisa menggunakan senjata, permukaan tangannya terlihat seperti itu.
Dia terlalu tenang atau temannya ini yang terlalu penakut?
Ketika Chanyeol sibuk dengan probabilitas dan hipotesa di kepala, Hyuna berpikir dengan lebih santai. Kurasa si jelek ini dalangnya, tampangnya saja kriminal.
"Siapa target kalian?" Hyuna menumpukan salah satu kakinya ke kaki yang lain. Menarik kerah kemeja si tampan di matanya.
"Cho Kyuhyun dan Cho Taehyung." Bukankah jawaban ini terlalu mudah di dapat?
"Untuk apa?"
"Untuk mengambil bukti di tangan Jay."
Hyuna terdiam. Dia turun dari meja. Kakinya melangkah keluar, Chanyeol tak paham mengapa segalanya terasa sangat mudah. Apakah introgasi yang kadang-kadang menghabiskan waktu hingga berhari-hari semudah ini?
Tak lama, Hyuna kembali lagi. Kali ini dia mengikat rambutnya, tatapan matanya terlihat lebih serius dari sebelumnya. Suara helaan napasnya terdengar jelas. Telapak tangan mengayun, mendarat keras di meja. "KATAKAN YANG SEBENARNYA, BERANINYA KAU BERBOHONG!" bentaknya. Tak hanya kedua kriminal yang terkejut atas perlakuannya, Chanyeol merasakan jantungnya hampir meledak.
"Yang menembak dua pengawal Kyuhyun sebelumnya adalah kau. Jika memang targetmu adalah Kyuhyun, kau seharusnya sudah dapat menembaknya dari kejadian di awal."
"Bo—bos menyuruh kami untuk …," suara terbata terdengar dari Xiang Sui.
Cepat. Hyuna dan Chanyeol bahkan tak sempat menghentikan. Hui mencengkram rahang rekannya, melakukan gerakan membanting belakang kepala targetnya ke lantai. Suara retakan terdengar.
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol cepat bergerak, menghalangi gerakan Hui yang mengarahkan kepalan tinjunya ke wajah Xiang.
"BANGSAT!"
"Aku takkan membiarkan dia bicara!"
Tungkai Hyuna terangkat ke atas, menyambar bagian leher, menjatuhkan Hui dengan sekali tendangan. "Kalau tak dia yang bicara akan kubuat kau yang bicara, anjing komunis!" Chanyeol bersumpah akan bertingkah laku baik pada Hyuna untuk ke depannya. "Panggil medis!"
"Siap!" Chanyeol berlari keluar.
Ika. Zordick
Pagi menjemput. Kibum mendapat pakaian dan laporan dari bawahannya. Tak lama hingga laporan itu berpindah ke tangan Jay. Klien mereka yang satu ini tak pernah bisa membiarkan polisi bekerja sendiri. Rasa-rasanya Kibum bekerja pada atasannya. Dibanding seorang yang harus dijaga sebagai saksi, Jay lebih mirip seperti pengawas.
"Tuan, nona sudah bangun." Seorang pengawal wanita—kepemilikan pribadi kediaman Cho—memberitahu Jay ketika mereka siap makan di ruang makan. "Dia mencari Kibum."
"Antarkan makanan untuknya, aku akan ke sana menemuinya nanti." Hati masih seperti batu untuk merestui. Membiarkan Kibum menemui anaknya di dalam kamar bukanlah ide yang baik.
"Papa, Kyuhyun ingin menemui Kibum bukan kau." Taehyung angkat bicara. Dia makan dengan tenang di kursinya. Berbeda sekali dengan kelakuan biasanya. "Jangan membuat semua menjadi rumit, aku percaya padanya."
Baru kali ini Kibum beruntung mengenal si bocah nakal yang hobi tawuran itu. Lain kali, jika Taehyung masuk kantor polisi lagi, Kibum berjanji akan memberikan cola untuknya saat diintrogasi. "Dia pria yang berbahaya, Tae."
"Aku juga terjadi karena kau berbahaya. Setidaknya karena itu kau direstui kakek. Jangan mengulangi kesalahan yang sama, papa," nasihat terkesan mengolok. Jay terdiam, dengusan napasnya menandakan bahwa dia memberikan izin.
Ika. Zordick
Kyuhyun mengalihkan atensinya dari ponsel saat mendengar suara pintu. Dia melompat dari posisinya, menerjang keberadaan Kibum yang tepat di depan matanya. Sedikit terharu, pria dewasa membalas pelukan. Rasanya rindu. Hingga kata pun enggan terucap.
Biarkan Kibum menatap, biarkan Kibum menyelesaikan segala penyakit rindunya dengan memandangi wajah bak boneka milik Kyuhyun. Dua sudut bibirnya terangkat, dia bahkan tak sadar di kala itu dia tersenyum. Lalu tubuh besarnya kembali merengkuh.
"Apa kau sehat? Apa kau makan dan tidur dengan benar?" Kyuhyun khawatir sangat banyak. Meski yang wajar dikhawatirkan adalah dirinya. Kyuhyun sepertinya lupa, siapa yang membuat Kibum tak makan dan tidur dengan benar.
Kibum hanya memilih mengangguk. Dia masih enggan melepas rengkuhan. Biarkan keheningan mendominasi kembali. "Kibum, kau tidak mandi ya?"
Ah—
Begitulah.
"Kau mau mandi bersamaku?"
Kyuhyun melepas pelukannya, mengambil ponselnya, menunjukkan layar berisi tulisan ke depan wajah Kibum.
"HEH JERK, I WATCH YOU!" tulisan capslock dengan nama Papa emotikon hati tertulis di sana. Sebelah alis Kibum terangkat, padahal dia rindu Kyuhyun. Sial!
TBC
Terima kasih bagi yang bersedia menunggu. ^^
Ka akan berusaha update dengan baik dan benar wakakakka
