Disclaimer: I do not own Bleach

Note:

Amuse-bouche biasanya dihidangkan sebagai makanan pembuka dan tiramisu dihidangkan sebagai hidangan penutup.

Gourmet adalah majalah tentang hidangan restoran kelas atas yang dipimpin oleh Condé Nast. Majalah ini seperti Vouge atau Bazaarnya dunia kuliner, tapi sayang sekarang majalah ini sudah tidak diproduksi lagi karena sebagian besar pembaca sekarang lebih tertarik dengan majalah makanan yang murah dan mudah diakses.


7

Ishiin Bertemu Menantunya


Selesai. Dari amuse-bouche sampai tiramisu... Semuanya sudah dihidangkan dengan sempurna. Ichigo menghela nafasnya dan memperhatikan sekitarnya. Dapur Azure 45 hari ini benar-benar ramai. Hentakan piring dan suara pesanan pelanggan bergema diseluruh ruangan. Kurosaki Ichigo dapat melihat Hitsugaya Toushirou, sang kepala chef itu, memarahi chef-chef lainnya karena hidangan yang dipesan belum juga matang. Hari ini rekan-rekan kerjanya benar-benar malang, mereka harus bekerja dengan cepat, namun di lain pihak mereka juga harus memasak dengan teliti karena kepala chef mereka luar biasa perfeksionis.

Pria itu kemudian mendengar waitressnya berteriak, "tiga spaghetti carbonara, lima coq au vin, dan dua escargot."

Ah, escargot. Ichigo kemudian mengambil bekicot-bekicot segar dari Azure 45. Bekicot memang terlihat berlendir dan tidak enak untuk dimakan mentah-mentah, namun karena itulah Ichigo senang memasak escargot. Tidak begitu banyak chef di Azure 45 yang senang memasak escargot, tapi karena itulah Ichigo unggul satu langkah dari mereka. Escargot adalah salah satu makanan pembuka paling mewah dan populer di Perancis. Mereka mungkin tinggal di Jepang, tapi ini adalah restoran Perancis dan orang yang makan disini pastinya menyukai masakan Perancis.

Tidak semua bekicot dapat dimakan dan tidak banyak bekicot yang enak untuk dimasak. Bahkan di dapur Azure 45 pun Ichigo masih harus memilih bekicot yang tepat untuk dihidangkan. Tentu saja Ichigo ingin bekicot yang besar dan segar. Kesegaran bukan masalah karena Azure 45 sudah mendapat bahan-bahan baku segar dari supplier terkemuka setiap pagi. Saat ini ukuranlah yang penting.

Ichigo mengambil bahan-bahan bakunya dan memeras lemon untuk membuang rasa amis dari bekicot itu. Ichigo kemudian melumurinya dengan mentega, bawang putih, dan beberapa bahan lain sambil mengaduknya agar bumbu-bumbu itu meresap. Ichigo dapat merasakan aroma yang gurih, namun rasanya ada yang kurang— Ichigo kemudian melirik wine disampingnya dan tanpa pikir panjang meneteskan sedikit wine ke hidangannya. Ichigo kemudian memanggang escargot itu di oven yang panasnya 210 derajat celcius dan mulai memasak pesanan lain.

Saat escargotnya dihidangkan diatas piring dengan roti perancis, ia dapat melihat tatapan analitik dari kepala chefnya. Kepala chefnya itu menyuruh waitress-waitress untuk menghidangkan hidangan lainnya dan membiarkan escargot Ichigo diteliti sekali lagi olehnya. Toushirou tidak tampak senang, kelihatannya pria itu tahu ada yang berbeda dari escargot itu.

"Kau merubah resepnya?" Toushirou menatap Ichigo dengan tajam, "apa kau tahu bahwa ini bukanlah hal yang aku hargai?"

Ichigo dapat melihat chef-chef lain menatap dirinya dan Toushirou, kelihatannya mereka baru saja mendapat sebuah tontonan. Ichigo dapat melihat Toushirou tampak tidak senang dengan hidangannya, namun Ichigo juga dapat melihat kekaguman saat kepala chefnya itu menganalisis escargot Ichigo.

Ichigo menangguk dengan percaya diri dan berkata, "aku hanya ingin menghidangkan yang terbaik."

"Jadi resep aslinya tidak baik?" Toushirou merasa tersinggung dan menatap escargot itu dengan tajam.

"Dengar, Toushirou—"

"Kepala chef Hitsugaya," Toushirou membetulkannya.

"Intinya," Ichigo menatap kepala chefnya dengan penuh hormat dan berkata, "aku percaya pada masakanku dan aku ingin kau percaya kepada escargot ini juga."

"Untuk apa aku melakukan hal itu?" Toushirou menatap Ichigo tajam-tajam.

"Kau tahu escargot ini terasa lebih enak," Ichigo menunjuk escargot itu, "tapi kau tidak berani merubah tradisi restoran ini."

Toushirou menatap sous-chefnya dan menghela nafasnya. Pria itu memang pandai melakukan inovasi, mungkin memberikan kesempatan ini bukanlah pilihan yang salah. Lagipula pria itu sudah menolak ajakan Ukitake untuk pergi ke Perancis demi isterinya. Orang ini adalah orang yang baik, Toushirou merasa ia juga harus berbuat baik kepada pria ini.

"Baiklah," Touhirou dapat mendengar chef-chef yang lain menghela nafas lega, "dimana waitressnya? Cepat hidangkan escargot ini."


"Ini escargot yang lezat," Kurosaki Ishiin menyantap escargot itu dengan lahap, "apa kau menyukainya?"

Urahara menyatap escargot itu dengan sedikit bingung, "rasanya sedikit berbeda dari escargot mereka yang biasanya…"

"Ah, kau kan bekerja sebagai kritikus makanan, kritikmu jangan tajam-tajam ya, anakku soalnya bekerja disini," Ishiin menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, "kalau mau tulis artikel… tulisnya yang bagus-bagus saja, kalau ada yang jelek lebih baik anggap saja kau tidak pernah makan escargot ini, kita pesan saja yang lain!"

Urahara menggelengkan kepalanya dan berkata, "justru sebaliknya, escargot ini adalah escargot terenak yang pernah kumakan di Jepang. Escargot mereka dulu tidak seenak ini, ini sesuatu yang tidak biasa, tapi aku justru sangat senang kepala chef Hitsugaya itu mau merubah cara berpikirnya yang konserfatif dan membuka ruang untuk inovasi."

Kurosaki Ishiin kemudian tertawa bahagia, "baguslah, tidak perlu berbohong… semuanya senang."

Urahara kemudian mengambil buku catatannya dan mulai menulis beberapa catatan kecil tentang escargot Azure 45 yang baru itu. Jika ia adalah kritikus makanan pertama yang menyantap escargot baru ini dan menerbitkan cita rasa baru ini ke majalah, bosnya pasti akan sangat senang. Urahara tampak larut ke dunianya sendiri, namun ia kemudian mulai mendengar teman dekatnya itu berbicara lagi. Kurosaki Ishiin memang orang yang heboh dan senang untuk berbicara, tapi Urahara merasa bahwa Ishiin adalah orang yang baik.

"Kau tahu kenapa aku datang kesini?" tanya Ishiin dengan heboh.

"Tidak tahu," Urahara tersenyum hangat, "apa ada yang spesial?"

"Aku baru tahu bahwa anakku telah menikah!" Ishiin melahap escargotnya dengan bahagia, "aku tidak percaya kalau aku harus mengetahui kabar ini dari majalah kuliner! 'Sous-chef Berbakat Kurosaki Ichigo Telah Menikah Dengan Putri Perusahaan Kuchiki' Aku memang sudah tahu sih hubungan mereka berdua bakalan berakhir seperti ini, tapi bayangkan Urahara, aku tidak diundang ke pernikahan mereka! Apakah Ichigo begitu membenci ayahnya ini? Ah, aku telah gagal menjadi seorang ayah!"

"Bukahkah itu Rukia-san?" Urahara menunjuk seorang wanita berambut hitam yang sedang kebingungan di dekat pintu masuk.

Ishiin tahu betul wanita itu adalah third daughter— ah, menantunya. Oh, mimpinya benar-benar telah menjadi nyata. Putranya telah menikah dengan wanita yang tepat dan orang itu ada di hadapannya sekarang. Wanita itu tidak banyak berubah, parasnya masih cantik dan senyumanya masih mempesona. Rukia berbeda dari wanita-wanita yang lain, entah kenapa wanita itu memiliki daya tarik tersendiri. Jika ia berbicara, suaranya dapat membuat Ishiin menghormati wanita itu. Entah kenapa, nada bicaranya tidak seperti wanita sembarangan. Rukia itu seperti dibesarkan oleh orang yang intelektualnya sangat tinggi. Ishiin merasa sangat bangga menjadi mertua bagi wanita itu.

"Menantuku?" Ishiin memanggil Rukia dari jauh, "Menantuku!"

Rukia terlihat bingung dipanggil-panggil sebagai menantu oleh seorang bapak eksentrik di restoran mahal itu. Kelihatannya orang ini adalah ayah mertuanya, itu berarti orang ini adalah ayah dari Kurosaki Ichigo… Tapi— kelihatannya kedua orang ini tidak seperti ayah dan anak. Rukia tidak bisa melihat kesamaan apa-apa selain rambut jabrik mereka dan wajah mereka yang memang samar-samar mirip.

"Ah, Ichigo tidak mau aku datang kesini," Ishiin menarik tangan wanita itu dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam restoran, "tapi aku harus datang kesini! Mana mungkin seorang ayah mertua tidak ingin bertemu dengan menantunya? Ah, kau adalah bagian dari keluarga kami sekarang! Ah! Aku sangat senang!"

Rukia sepertinya telah masuk ke dalam restoran ini dan terjebak dengan orang yang tidak ia kenal. Tidak— mungkin saja ia pernah mengenal orang ini, namun ia lupa akan orang ini karena amnesianya. Sebenarnya sulit untuk percaya kepada orang ini karena sifat Ichigo dan sifat orang ini sangatlah berbeda. Bukankah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya? Rukia masih tidak yakin ia dapat memanggil orang ini ayah mertuanya.

"Panggil kepala chef dan sous-chef nya kemari," Urahara tersenyum hangat kepada waitressnya, "bilang ada kritikus makanan dari majalah Gourmet datang untuk meliput hidangan escargot mereka yang baru."


"Kritikus makanan katamu?" Toushirou menghela nafasnya, kelihatannya tamat sudah riwayatnya, "Ichigo, saat kau keluar nanti, apapun yang dikatakan kritikus itu, aku tetap yakin kalau escargotmu pada dasarnya adalah inovasi yang baik."

Ichigo tersenyum lega, kelihatannya kepala chefnya yang keras kepala itu mulai bisa menerima perubahan. Namun yang paling membuat Ichigo senang adalah karena Toushirou percaya pada masakannya.

Saat pintu dapur terbuka, Ichigo dapat melihat seseorang yang sangat ia kenal dari kejauhan— Ah, dua orang yang sangat ia kenal. Apa maksudnya ini? Kenapa ayahnya bisa bertemu dengan Kuchiki Rukia? Darimana datangnya angin badai ini? Ichigo harus memisahkan mereka berdua sebelum ayahnya merencanakan sesuatu yang konyol. Jangan sampai Rukia jadi trauma dan kabur dari rumahnya karena ayahnya mengarang hal-hal aneh tentangnya.

"Selamat datang Urahara-san," Toushirou menjabat tangan kritikus itu dan tersenyum, "bagaimana escargot anda hari ini?"

Ichigo tidak dapat mendengar ocehan Urahara sang kritikus itu, ia masih memperhatikan ayahnya yang duduk agak jauh dari Urahara sedang menepuk-nepuk pundah Rukia sambil tertawa terbahak-bahak. Rukia yang awalnya terlihat agak bingung jadi ikut tertawa, kemudian Ichigo jadi semakin ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh kedua orang itu. Ichigo melangkah sedikit lebih dekat kearah Ishiin dan mulai mendengarkan percakapan mereka.

"Lalu ya, Ichigo itu sering sekali ngompol di celana saat masih kecil!" Ishiin tertawa lagi, kali ini tawanya lebih kencang, "dan lucunya, moodnya pasti bagus kalau sudah mengompol! Ia langsung lari-lari kedapur sambil ikut-ikutan memasak denganku padahal celananya masih basah! Dapurnya jadi bau pipis tapi wajah anak itu lucu sekali. Aku sebagai ayahnya tidak tega untuk marah-marah! Ah, aku rindu pada anak lugu itu."

"Jadi Kurosaki-san," Urahara masih mencatat hasil wawancaranya dengan Toushirou, "Um, Kurosaki-san?"

Urahara yang bingung karena panggilannya tidak juga dijawab kemudian menepuk pundak sous-chef berbakat itu, "bagaimana perasaan anda telah memasak escargot paling enak di Jepang?"

Ichigo kemudian menjawab dengan singkat, "senang," dan ia pun kembali memperhatikan kedua orang yang sedang tertawa terbahak-bahak itu.

"Mungkin ada perasaan lain selain senang?" Urahara memandang Ichigo dengan penuh kebingungan.

"Tidak ada," Ichigo menganalisis senyuman ayahnya yang kelihatan jahil itu. Kelihatannya ada pertanyaan buruk yang akan diajukan oleh Ishiin yang heboh itu.

"Oh ya, kapan aku akan punya cucu Rukia-chan?" Ishiin bertanya dengan wajah yang penuh harapan.

Rukia terdiam, kemudian Urahara bertanya, "bolehkah kita foto sebentar dulu sekarang?"

"Aku belum siap!" Ichigo berteriak menanggapi Ishiin, namun Urahara memandang sous-chef itu sambil meletakkan kameranya lagi.

"Oh, baiklah, mungkin anda ingin merapikan rambut anda dulu?" Urahara mengeluarkan sisir dan memberikan sisir itu kepada Ichigo yang kelihatan panik.

Ichigo dapat melihat Ishiin tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk Ichigo yang salah tingkah. Ishiin kemudian bangkit dan mendekati putra sulungnya itu, dipeluknya Ichigo dan ia berbisik, "ah, aku sangat bangga padamu nak, aku pikir kau itu gay dan menyukai kepala chef yang selalu kau temui setiap malam di dapur Azure 45… aku pikir kalian itu melakukan yang tidak-tidak! Ah, ternyata kau hanya memasak dan kau membawa pulang wanita yang cantik ini ke keluarga kita."

Ichigo menginjak kaki ayahnya kemudian ia berbisik, "apa kau berbicara yang aneh-aneh kepada Rukia?"

Ishiin tertawa pelan kemudian ia berkata, "itu rahasia kami berdua…"

Urahara yang kelihatannya bingung kemudian mengambil kembali kameranya dan menyuruh Ishiin untuk menyingkir, "yak, akan kufoto dalam hitungan mundur…5, 4 3, 2—"

"Aku mengajak Rukia untuk menginap di rumahku dengan Karin dan Yuzu hari ini juga! Ia sudah setuju loh! Kau harus datang ya!"

"1"

Ichigo terlihat sangat jelek di foto itu. Kelihatannya Ishiin membuka mulutnya disaat yang tidak tepat.


Ichigo menarik kopernya secara terpaksa ke rumah masa kecilnya, ya, rumah bukan apartemen. Ichigo dapat melihat kedua adik perempuannya yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Yuzu sedang memasak makan malam, sedangkan Karin sedang menyelesaikan makalah kuliahnya di komputer. Namun, saat Rukia masuk ke dalam ruangan, mereka semua langsung meninggalkan pekerjaan mereka dan mendekati wanita itu.

"Wah, benar-benar Rukia-nee dengan cincin pernikahan!" Yuzu tersenyum senang, "aku senang kau yang menjadi kakak iparku!"

"Yuzu, cepat marahi Ichi-nii," Karin memandang Ichigo dengan analitik, "lama sekali kau mengejarnya… kau tidak jago dalam bidang ini."

"Diam Karin," Ichigo menggelengkan kepalanya.

Rukia hanya bisa tersenyum hangat. Jadi Ichigo mempunyai dua adik perempuan ya? Karin dan Yuzu. Dua-duanya terlihat seperti anak yang baik. Rukia membiarkan dirinya ditarik oleh Yuzu ke dapur. Karin kembali mengerjakan makalahnnya, sedangkan Rukia sibuk membantu Yuzu menyiapkan makan malam. Ishiin memandang anak laki-lakinya itu dalam-dalam dan menepuk pundak Ichigo keras-keras, "kau berhasil anakku."

"Bagaimana malam pertama kalian?" Ishiin menari-nari dengan senang, "bagaimana honey moon kalian? Ah! Apakah mungkin Rukia sudah hamil sekarang?"

"Argh… jangan tanyakan yang aneh-aneh lagi! Itu semua adalah urusan pribadi! Dan ia tidak hamil!" Ichigo menyanggah pertanyaan Ishiin dengan panik.

"Ichigo…" Ishiin menganalisis ekspresi wajah putranya, "kau belum melakukan apa-apa ya?"

"Pertanyaan macam apa itu?" Keringat dingin keluar dari dahi Ichigo.

"Ternyata benar! Kau belum melakukan apapun pada Rukia-chan!" Ishiin menangis terisak-isak, "kasihan sekali putraku! Apa kau punya masalah dibawah sana?"

Ichigo langsung memukul ayahnya dengan koper hitam Ichigo yang berat, "kami tidak punya masalah apa-apa! Kami baik-baik saja! Sudah! Jangan campuri urusanku lagi!"

Ichigo menonjok ayahnya, namun ayahnya itu menghindar sambil tertawa-tawa, "tidak ada salahnya mencoba sekali! Kalian sudah suami isteri! Kalau tidak dicoba sekarang, seumur hidup ayahmu yang sudah tua ini tidak akan punya cucu!"

Setelah sibuk mencoba menonjok ayahnya, Ichigo menjadi capek dan ingin segera melupakan percakapan itu. Ichigo kemudian merasakan ada bau yang tidak pas datang dari dapur. Ia mendekati dapur itu dan baunya semakin jelas. Yuzu terlihat santai memasak hidangan ala jepang dan Rukia terlihat sibuk memotong kentang untuk dimasukan kedalam kari mereka.

"Kurang satu sendok teh garam," Ichigo menaruh satu sendok teh garam kedalam panci, "oh ya Rukia, goreng kentang tersendiri supaya kalau akhirnya digabung dengan kari, kentangnya tidak menjadi benyek. Setelah warna kecoklatan, baru kau angkat dan sisihkan."

Yuzu kemudian menggelengkan kepalanya, "aku bukan commis, tuan sous-chef… jangan galak-galak…"

"Ah, kuahnya belum terlalu kental," Ichigo menarik tangan Yuzu yang ingin segera mematikan kompornya, "diamkan sebentar lagi sampai kuahnya kental dengan sempurna."

"Tuh kan," komentar Yuzu, "galak sekali…"

"Rukia berhenti menggoreng," perintah Ichigo, "kau tidak ingin kentang itu jadi meresap terlalu banyak minyak. Sesuatu yang terlalu lama digoreng dengan minyak tidak enak untuk dimakan."

Rukia kemudian tertawa pelan dan berhenti menggoreng kentangnya yang sudah berwarna kecoklatan. Suaminya memang paling cerewet soal makanan. Itu yang Rukia paling tahu dari Ichigo, namun entah kenapa ia bisa tahan menanggapi sikap Ichigo yang seperti ini. Entah kenapa, Rukia suka melihat pria itu begitu mencintai pekerjaanya.

"Nah, sekarang baru matikan kompornya," Ichigo mematikan kompor itu, "nah lihat, karinya mengental dengan sempurna."

Yuzu menghela nafasnya dan mengangguk dengan pasrah, "iya, mengental dengan sempurna."

Rukia kemudian menepuk pundak Yuzu pelan-pelan, "kau memasak dengan baik Yuzu."

Yuzu tersenyum senang dan berkata, "tuh kan, aku senang kau yang menjadi kakak iparku."

Ichigo menatap kedua wanita itu dan hanya bisa berharap… ia benar-benar bisa memberikan kakak ipar seperti ini lagi kepada Yuzu.


Kamar Ichigo tidak berubah, masih sama seperti yang dulu. Gitar yang tidak pernah ia mainkan selama bertahun-tahun masih ada di pojok ruangan, buku-buku komik zaman ia SMA masih tertumpuk rapih di rak bukunya, meja belajarnya terlihat bersih dari debu, dan poster penyanyi idolanya dulu masih ada di tembok kamarnya. Ia yakin keluarganya masih rajin membersihkan kamar ini saat ia tidak ada. Ayahnya sih berasalan kalau kamar ini sering dijadikan kamar tamu, tapi Ichigo yakin, dengan tidak adanya furnitur yang berubah, artinya ayahnya sebenarnya rindu padanya.

"Keluargamu sangat…" Rukia hening sejenak, mencoba mencari kata yang tepat untuk melengkapi kalimatnya, "… unik."

Ichigo tersenyum hangat, "maafkan aku kita jadi harus tidur sekamar…"

"Tidak apa-apa," Rukia membalas senyuman pria itu, "aku percaya kepadamu… ah, atau kau yang tidak percaya kepadaku? Aku gadis baik-baik kok, kalau kau tidak percaya aku bisa tidur di klosetmu yang besar ini."

Ichigo kemudian tersenyum lagi dan menarik futon cadangannya. Ia lalu merebahkan futon itu di atas lantai, "kau tidur di ranjang, aku tidur di futon ini."

Rukia menangguk dan merebahkan diri di ranjang itu. Ia kemudian memeluk erat selimutnya dan menghela nafasnya. Ia sebenarnya ada di hotel Ritz-Carlton karena seorang pria berambut merah masuk ke hotel itu. Kelihatannya pria itu adalah pria yang santai dan tidak peduli akan sekitarnya. Pria itu seperti pria yang cuek, namun terlihat sedih. Rukia tidak tahu kenapa pria itu ada di Jepang, bukankah pria itu seharusnya ada di Amerika? Rukia mengikuti pria itu masuk ke lobi hotel dan mendapati teman-temannya memanggil pria itu dengan nama 'Abarai Renji'. Rukia merasa ini seperti takdir yang memusingkan, namun ia benar-benar penasaran akan pria itu. Entah takdir macam apa datang, mertuanya tiba-tiba datang dan mengundangnya— ah, memaksanya menginap di rumah keluarga Ichigo.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ichigo.

"Ya," Rukia menghela nafasnya, "hanya sedikit kedinginan."

Ichigo memperhatikan heaternya yang sudah tua. Kelihatannya pemanas ruangan itu sudah mau rusak. Ia kemudian menatap Rukia yang sudah mulai menggigil kedinginan. Salju diluar terlihat lebat sekali, kelihatannya akan ada badai salju yang datang. Rukia kemudian terlihat semakin pucat dan wajahnya mulai terlihat seperti orang yang sedang bersedih.

Apa karena Renji lagi? Ichigo benar-benar tidak habis pikir. Ada atau tidak adanya ingatan Rukia, salju selalu saja membuat gadis itu jadi seperti ini. Ichigo kemudian melepas jaketnya dan memberikan selimutnya kepada Rukia. Ia kemudian menepuk pundak wanita itu perlahan dan berkata, "tidak apa-apa."

Rukia menatap pria itu dengan cemas. Lelaki itu merelakan sweater woolnya yang hangat untuk menghangatkan Rukia. Padahal piyama lelaki itu hanya terbuat dari katun yang tipis. Rukia tahu betul pria itu pasti sedang menahan hawa dingin yang menusuk karena rumah ini adalah rumah yang sederhana. Bahkan ada celah-celah sedikit di jendela Ichigo itu. Hawa dingin pasti masuk dan pria itu pasti sedang berusaha keras agar tidak terlihat kedinginan sekarang.

"Aku tidak butuh jaket dan selimut ini," Rukia mengembalikannya dengan kekhawatiran di wajahnya, namun Ichigo mengembalikan jaket dan selimut itu ke tangan Rukia.

Rukia kemudian tersadar pria itu terlalu keras kepala untuk menerima kebaikan hati Rukia. Ichigo ingin melindungi dirinya, tapi… Rukia sudah lelah karena terus dilindungi oleh pria ini.

"Aku masih kedinginan," ucap Rukia, "Ichigo hangatkan aku."

Ichigo tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Kuchiki Rukia. Kuchiki Rukia yang tidak pernah dapat digapainya. Hanya wanita itu saja yang dapat membuat Ichigo menjadi sangat khawatir dan prihatin. Namun, sekarang wanita itu menyuruhnya untuk menghangatkan tubuhnya? Apa yang harus Ichigo lakukan?

"Aku…" Ichigo duduk di ranjang itu sambil menatap Rukia dengan hangat.

"Hanya satu pelukan saja," Rukia memandang wajah Ichigo yang gugup, "sebuah pelukan dapat menghangatkan kita berdua."

Rukia dapat merasakan kehangatan pria itu masuk ke dalam tubuhnya. Lengan kekar pria itu membungkusnya dengan erat. Ia dapat mencium aroma tubuh Ichigo yang menempel diseluruh tubuh pria itu. Rukia dapat merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Ia tidak tahu mengapa hal ini terjadi kepadanya, namun pelukan Ichigo membuat seluruh tubuh Rukia menjadi lemas. Ia tidak tahu sihir apa yang dipakai pria itu, namun untuk pertama kalinya sejak Rukia memimpikan Renji… salju itu tidak membuat Rukia sedih lagi. Rukia yakin, besok ataupun lusa, salju akan mengingatkannya akan tubuh suaminya yang sedang mendekap dirinya untuk pertama kalinya.


= wah, aku senang sekali ada yang pernah membaca Fades Away dulu dan masih ingin membacanya lagi setelah sekian lama hiatus. Aku janji updatenya ga lama-lama hehe…

Love XOXO = Thank you ya selalu setia membaca setiap fan fiction yang kutulis… hehe iya, cerita ini tidak akan ku delete :)

Ruru = Thank you sudah menyukai fic ini… ;) seperti yang kujanjikan, sudah ku update tepat pada waktunya.

AlwaysIchiruki = wah… thank you sekali sudah di favorite :) hehe ini sudah tepat waktu di update… go team Ichiruki!

Rukiruki = Halo, Rukiruki, terimakasih ya selalu menunggu fic ini… :) saya dengan sedang hati mengupdatenya.

M = Terimakasih atas dukungannya… aku akan selalu tulis. Go! Go! Fighting!

baby maybe = wah, thank you sudah review cerita ini satu persatu dari chapter 1 sampai 6, baby maybe rajin sekali… I'm really touched….

Guest = Iya Ichigo pasti berjuang memenangkan hati Rukia! :)

silent reader = Terimakasih ya, ini pertama kalinya ada orang yang menyebut fic ini elegan… *serve imaginary cupcakes*

life's really hard = Iya aku kembali… Ichigo yang merana memang paling bikin greget… hehe I'll try to update as fast as I can.

Nematoda = wah tulisanku seperti penulis ya? ;) hehe terimakasih banyak atas pujiannya… aku sangat tersentuh. Pekerjaanku bukan sebagai penulis, tapi mungkin suatu hari nanti aku bisa menerbitkan buku, mungkin buku resep, buku bisnis, atau novel… semoga suatu hari bisa muncul di toko buku XD.

Aurora Borealix = Wah, terimakasih sudah suka cerita ini… di chapter ini Ichigo akhirnya mendapatkan sesuatu. I hope you like this one. Hehe I'll work harder.

= thanks berat karena sudah review satu-satu T.T aku benar-benar senang. Nonton bread, love, and dream juga ya? Hua fallin' in love with Kim Tak Gu. Akhirnya chapter 7 selesai see you at chapter 8, sekali lagi thank you ya.

Izumi Kagawa = Forced marriage itu memang favoritku hehe, aku juga tulis 2 cerita lain yang isinya tentang pernikahan bohong-bohongan; Coppèlia (Ichiruki one-shot) dan Marrying Uchiha Sasuke (Sasusaku multi-chapter). Cerita, tokoh-tokoh, dan latar belakang pekerjaan ceritamu berbeda kok. Oh ya, aku lupa tulis di reviewmu, tapi si Orihime kejam sekali T.T hehe kasian Rukianya…

IchigoXRukia = wah, terimakasih atas pujiannya hehe :) Aku akan berjuang menulis buku! Mungkin suatu hari bakal ada di rak-rak Gramedia atau Kinokuniya. Mungkin hehe.

Unknown = Iya, aku paling suka adengan ini… Iya, adonan roti itu semakin sering dan kencang bantingannya makin lembut nanti rotinya. Kemarin saya bikin roti kurang lembut… harus pinjam ototnya Ichigo nih, hehe.

Guest (5/4) = Aku sangat suka film The Vow… Chaning Tatum super keren! Film itu muncul saat saya sedang hiatus dan saya langsung keinget fic saya ini. Rasanya pingin lanjutin lagi, tapi writer's block. XD Thank you for your praise and review! Keep reviewing ya…

ryuva = Renji dan Rukia pasti ujung-ujungnya harus bertemu juga T.T hehe. Tapi soal waktu bertemunya kapan, masih menjadi rahasia! Terus review dan baca ceritaku ya ryuva-san! ^^

fuyu no yukishiro = Wawawa, maaf karena fic ini memang sudah lama saya tinggalkan T.T tapi saya senang sekali fuyu no yukishiro-san masih ingat ingat dikit sama cerita saya ini… Semoga terus dibaca ya XD.

Guest (5/6) = Iya, ini dia *drum roll* chapter 7. Saya menepati deadline XD yeeyy.


Semoga semuanya senang dengan chapter ini, karena aku sangat senang.

Wah 100 review! Sekarang aku benar-benar sangat bahagia! Terimakasih semuanya karena review, favorite, dan follow kalian sangat berarti bagiku. Terimakasih juga bagi yang sudah merivew satu-satu dari chapter 1 ke chapter 6 dan memberikan kesan mereka. Aku sangat menghargainya…

Terimakasih banyak *bow*

I couldn't have got the will to write this chapter without you guys!

Ichigo tentu saja tidak ingin kalah dari Renji! Ayo kalahkan Renji! Go! Go! Entah kenapa aku sangat suka liat Ichigo VS Renji, bagi yang suka juga, ada fanfictionku yang berjudul Team Edward VS Team Jacob. Disana Ichigo dan Renji memperebutkan Rukia sambil nonton film Twilight. It's one of my favorite fic in English…

Keep reviewing ;) aku jadi sangat senang dan semangat menulis.


Next Chapter

Chapter 8

Rukia Akhirnya Jatuh Cinta Lagi