Shikamaru Nara adalah laki-laki pemalas yang jenius sekaligus susah sekali—atau dapat dikatakan hampir tidak mungkin—jatuh cinta. Baginya, perempuan hanyalah makhluk menyebalkan dengan dandanan tebal dan suara tinggi yang dibuat-buat—setidaknya, hampir semua perempuan bertingkah seperti itu dalam pandangannya. Tapi bukan berarti hal ini mengakibatkan Shikamaru berbeda dengan manusia pada umumnya.
Tidak, justru, Shikamaru pernah sekali jatuh cinta dengan seorang perempuan, bertahun-tahun yang lalu. Cinta yang amat akut.
Adalah Ino Yamanaka yang pernah menempati hatinya selama bertahun-tahun. Segalanya berawal akibat hubungan orangtua mereka yang baik, yang menyebabkan Shikamaru mau tak mau sudah mengenal Ino sedari kecil. Waktu itu, yang ada dalam ingatan Shikamaru adalah gadis berambut blonde dengan kulit bersih, pipi merah, suara yang meledak-ledak, dan sepasang bola mata yang indah—sangat indah dan jernih, dan karenanya Shikamaru sempat jatuh hati kepadanya. Ia telah menjaga perasaan itu diam-diam selama lebih dari lima tahun. Tapi cintanya adalah cinta pupus yang tak berakhir bagus, terlebih ketika gadis yang ia cintai mulai mengenal sepupu Uchiha Sasuke dan jatuh cinta kepadanya—Sai, nama laki-laki 'cantik' dengan senyum sarkastik itu, yang akhirnya memacari Ino Yamanaka hingga sekarang.
Memang, ia mengaku bersalah karena tidak memberitahu perihal perasaanya terhadap Ino dengan segera dan membiarkan Uchiha Sai merebut apa yang telah ia dambakan selama bertahun-tahun.
Dan hal itu membuat Shikamaru memutuskan untuk tidak pernah jatuh cinta lagi, setidaknya tidak sampai ia benar-benar membutuhkannya.
Tetapi kekuasaan Kami-sama memang tak pernah tertebak, dan kini Shikamaru telah kembali terkena panah dewa asmara, untuk kedua kalinya.
From Y, to Y
by: Aya Kohaku
Disclaimer: I'm not claiming any ownership from Naruto series
nor do I make money from this fic
Chapter 7: Jealousy.
"Hei, Shikamaru, mau sampai kapan kau memikirkan wanita itu terus?"
"Sudahlah Kiba, jangan ganggu dia! Jarang-jarang dia bisa kasmaran!"
"Bagaimana bisa kasmaran, temannya saja laki-laki semua."
"Diam kau, laki-laki penggemar anjing! Kau kira aku ini apa?"
"Kau? Bukannya kau laki-laki, Tenten?"
"Apa? Kau ingin merasakan tinjuku?"
Chouji menghela napas memandang tingkah laku sahabat-sahabatnya.
Siang ini, seperti biasa, mereka berlima berkumpul di rumah Tenten seusai sekolah. Yah, melakukan kegiatan yang sudah sejak dulu biasa mereka lakukan bersama. Mengerjakan pe-er, menonton televisi, bermain Go, atau apa pun sampai keempat laki-laki dalam kelompok itu merasa lelah dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Rumah bergaya Jepang milik Tenten itu memang sudah lama menjadi markas berkumpul mereka—terkadang mereka berkumpul pula di restoran keluarga Chouji—selain karena suasananya yang tenang, kenyataan bahwa Tenten sering ditinggal sendirian oleh orangtuanya di rumah seluas itu membuat keempat sahabatnya tak tega dan memilih untuk menemani gadis berwatak keras itu setiap harinya sampai mereka merasa kelelahan sendiri.
Mereka tak memiliki pilihan lain.
Namun mungkin segalanya akan lebih baik andai saja Hinata masih berada di sisi mereka.
Chouji menggelengkan kepalanya, mencoba tidak mengingat saat-saat di mana mereka masih lengkap bersama Hinata. Mengungkit kembali masa lalu hanya akan memperkeruh suasana, Chouji tahu itu. Barangkali di antara sahabatnya yang lain, sejauh ini, hanya Chouji yang benar-benar pernah menyapa Hinata seperti yang ia lakukan beberapa minggu silam. Bukan berarti yang lainnya sudah tak merasa peduli lagi dengan Hinata. Malah, kentara sekali, mereka sangat memperhatikan dan mengkhawatirkan Hinata, meskipun mereka tak berkeinginan untuk menunjukkannya secara terang-terangan di muka umum
Tetapi benteng yang telah mereka bangun sendiri itu semakin hari semakin rapuh, menyisakan perasaan bersalah dan rindu yang tak lagi dapat dibendung. Dan puncaknya adalah ketika Hinata berpisah dengan Sasuke.
Chouji tahu, keempat sahabatnya pun ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang ia pikirkan; mendatangi Hinata, menenangkannya, dan memberitahunya bahwa segalanya akan baik-baik saja—tak apa, apa, kau boleh menangis, karena kami ada di sini; menangislah sesuka hatimu.
Sebab kau memiliki kami, dan karenanya kau tak perlu khawatir akan air mata yang mesti tumpah dari pelupuk mata perakmu…
"Sungguh," tiba-tiba Chouji mendengar suara Shikamaru, berat dan dalam, "gadis itu sungguh cantik. Rambutnya yang nyentrik, kulitnya yang cokelat eksotis.."
"Sudah, biarkan saja dia bicara," sela Shino sebelum Kiba dan Tenten mulai memperdengarkan suara mereka. "Mau kalian berisik seperti apa pun, dalam keadaannya yang seperti ini, ia tak akan peduli."
Chouji menelengkan kepalanya, mengamati teman laki-lakinya yang tengah jatuh cinta.
Sementara yang diamati masih belum melepas pandangannya dari langit-langit ruangan itu.
"Matanya yang cokelat," sambung Shikamaru, tak peduli akan keadaan sekitarnya, "tubuh atletis…"
"Ia mulai kedengaran seperti sorang maniak."
"Ssst, diamlah."
"… Lalu bagaimana dengan kasarnya ia memanggilku si Kepala Nanas…"
"Dia adalah kakak perempuan Sabaku Gaara, Shikamaru."
Mendengar ini, Shikamaru langsung menegakakn tubuhnya.
"Ya, aku tahu, dan aku tak keberatan," senyum lima jarinya mengembang, menyebabkan empat orang lain di ruangan itu sejenak tak mengenalinya dikarenakan perubahan sifatnya yang begitu tiba-tiba, "gadis itu terlihat dewasa, dan sepertinya tidak merepotkan," ia mulai memandang langit-langit kembali, "tatapan matanya lurus dan tak gentar, cara berbicaranya pun keras dan percaya diri," Shikamaru menggeleng-gelengkan kepalanya seakan kehabisan kata-kata. "Dan lagi," sambungnya, kali ini menatap keempat sahabatnya lekat-lekat, "apa masalahnya kalau dia kakak dari seorang Sabaku Gaara?"
"Demi Tuhan, Shikamaru," Kiba menjambak rambutnya sendiri, nyaris frustasi, "kau baru bertemu dengan gadis itu tadi siang, dan dia hanya menanyakanmu di mana keberadaan adiknya yang berkepala merah itu!"
"Aa," Shikamaru melengkungkan bibir tipisnya ke bawah, membentuk sebuah sungutan, "ada banyak orang di halaman, berlalu-lalang, dan dia hanya bertanya padaku—itu tandanya semua ini memang sudah ditakdirkan oleh Kami-sama."
"Itu karena kau yang paling mencolok dengan rambut nanasmu!"
"Kau cemburu atau bagaimana, Kiba?"
Sejenak, Chouji menangkap Kiba menempelkan jemari telunjuk di dahinya sendiri, mengisyaratkan secara tak langsung bahwa Shikamaru sudah berangsur-angsur gila. Hal ini segera disambut oleh tenyum tertahan dari Tenten, Shino, dan pria gembul itu. Senyum tertahan itu perlahan-lahan kian membesar, membesar, lantas pecah menjadi pekikan tak tertahan sampai-sampai mereka harus memegangi perut mereka sendiri yang sakit karena terlalu banyak tertawa, dan mesti mengambil nafas berkali-kali sebelum akhirnya melanjutkan tawa mereka yang tak kunjung usai. Bagaimana lagi, mereka tidak pernah menyangkan Shikamaru akan sebegini naksirnya dengan kakak perempuan Sabaku Gaara—siapa namanya lagi? Tema? Temari?—yang baru siang tadi ditemuinya di halaman sekolah; menanyakan apakah Shikamaru sekelas dengan adiknya dan apakah laki-laki berambut nanas itu kira-kira tahu di mana keberadaan Gaara.
Tapi rupanya Shikamaru telah jatuh cinta kepada wanita itu, sejak pertama ia meletakkan pandangannya pada sepasang mata cokelatnya yang hangat dan raut mukanya yang keras.
Dan belum pernah seumur hidup mereka, Shikamaru bertingkah sebegini aneh. Bahkan ia tak pernah berlaku seperti ini saat ia masih menyukai Ino Yamanaka.
Yah, cinta memang selalu bisa membuat orang lain menjadi gila.
"Hei, kalian belum menjawab pertanyaanku," Shikamaru memasang wajah malasnya yang biasa, "memang kenapa kalau dia kakak dari Sabaku Gaara?"
Tawa keras yang tadinya meneyelimuti ruangan itu mendadak berhenti, tergantikan berpasang-pasang mata yang saling melempar pandang.
"Yah, kau tahu, kan,"Tenten membuka suaranya, "kabar bahwa Sabaku Gaara itu—"
"Aku tahu semuanya, kabar yang mengatakan Gaar adalah seorang berandalan yang berhubungan dengan Yakuza," potong Shikamaru serius, "tapi bukankah itu semua hanya berita simpang siur? Selama ini aku tak pernah melihatnya berkelahi, atau membolos, atau tidak mengerjakan tugas," ungkapnya. "Orang-orang hanya membuat isu karena penampilan luarnya yang terkesan dingin saja. Dan, toh, selama seminggu ini, kurasa ia juga berlaku baik terhadap Hinata, jadi apa yang salah dari dirinya?"
Shikamaru memang tidak berencana membawa-bawa nama Hinata dalam percakapan mereka siang ini, ia bahkan tidak pernah berniat untuk membicarakan Hinata sampai temannya benar-benar siap dan berpikiran sama dengannya. Tetapi sebaris huruf itu tanpa disadari keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa beban. Dan Shikamaru bukanlah laki-laki yang bodoh, ia jauh dari kata bodoh. Maka ketika ia sadar apa yang baru saja ia ucapkan, dan melihat tatapan mata kawan-kawannya yang tiba-tiba menggelap, ia buru-buru mengalihkan topik perbincangan dengan mengatakan, "Ah, ya, aku ingin memesan ramen, Kalian juga ingin pesan sesuatu?"
Namun keempat orang sahabatnya sudah terlanjur larut dalam pikiran mereka masing-masing mengenai Hinata.
Tentang, bagaimana pun mereka berusaha menghidarinya, pada akhirnya mereka memang tak dapat lagi berpura-pura mengacuhkannya dan menganggapnya tidak ada.
Barangkali memang kali ini mereka harus menghancurkan sendiri benteng pembatas yang telah tiga tahun belakangan ini tumbuh kokoh di antara kehidupan mereka dan Hinata.
"Aku merasa pathetic," desah Tenten yang langsung mendapat persetujuan tanpa kata-kata oleh sahabatnya. "Dan aku merasa sangat jahat," lanjutnya lagi, "aku bahkan sempat berpikir, mungkin lebih baik jika kita menyudahinya."
Hening masih setia bertengger di antara mereka.
"Sudahlah, teman-teman, aku sudah cukup berpura-pura."
Masih hening.
"Semakin hari aku semakin melihat punggungnya mengecil dan jemarinya menulang," Tenten membubuhi nada getir pada kalimatnya, "Hinata tak pernah sekurus saat ini. Aku tak suka melihatnya."
Bukan, bukan begitu, maksudku…
"Aku khawatir," Tenten tersenyum lembut, "aku mengkhawatirkan keadaannya."
Dan kami pun merasakan hal yang sama…
"Aku ingin memperbaiki persahabatan ini."
Sangat ingin…
"Aku ingin kita menyudahi perang dingin ini."
Dan kita akan menjadi utuh.
"Mungkin kita memang tidak bisa terus berlama-lama menghindarinya."
oOoOoOo
Sudah seminggu ini, Hinata mengenal Sabaku Gaara.
Yang artinya, sudah seminggu pula sejak ia tak sengaja bertemu dengan laki-laki berambut merah itu di atap sekolah dan terlibat konflik yang rumit dengannya.
Pun, sudah dua minggu ini ia berpisah dari Sasuke.
Sudah seminggu ini juga kabar miring yang menyatakan Hinata telah berpindah hati ke Gaara tersebar di seluruh penjuru sekolah.
Dan Hinata sepertinya agak tidak ambil pusing dengan segala hal yang orang-orang bicarakan tentang dirinya itu. Seperti apa yang Gaara ajarkan kepadanya.
Tak usah didengarkan, katanya. Tak usah didengarkan, setidaknya untuk saat ini, di mana ia telah mulai dapat menguasai rasa takutnya.
Perasaan lemahnya.
"Baiklah, selanjutnya giliran absen sebelas sampai lima belas!" seru Guy-sensei melalui speaker. Pagi ini, pelajaran pertama adalah pelajaran olahraga yang dibina oleh guru super enerjik yang tak pernah kehabisan semangat, Guy-sensei, yang merupakan guru favorit dari Rock Lee. Konon, katanya, kalau kau memperhatikan mereka baik-baik, akan ada aura berbentuk bunga api yang besar di belakang punggung mereka. Entah itu benar atau tidak, yang jelas tak ada yang begitu tertarik mencari tahu penyebab dari semangat muda yang berapi-api dari kedua laki-laki nyentrik ini.
"Ayo, anak-anak! Tunjukkan semangat jiwa muda kaliaaan!"
Jadwal pelajaran olahraga hari ini adalah test kecepatan berlari. Anak-anak kelas Hinata telah memenuhi halaman belakang sekolah yang memang memiliki lintasan berlari sedari pukul setengah enam pagi. Hari yang terlalu dingin untuk berlari, sebenarnya, dan Hinata tidak merasa terlalu enak dengan keadaan tubuhnya pagi ini, seperti meriang. Mungkin akibat ia belum sarapan tadi pagi, atau akibat ia terlalu lama begadang menyelesaikan tugas sekolahnya. Yang jelas kepalanya terasa ringan sekali pagi ini, seolah-olah ia bisa pecah kapan saja hanya karena satu senggolan.
"Ah, jangan memikirkan itu sekarang," ia menyemangati dirinya sendiri dengan suara pelan yang tak lebih keras dari desau angin, "sekarang giliranku tiba, aku harus memberikan yang terbaik."
Hinata mendengar namanya dipanggil oleh Guy-sensei. Setelah mengencangkan tali sepatunya, ia segera menuju lintasan yang telah ditentukan, sedikit terkejut begitu mendapati Gaara berada di lintasan sebelahnya, melemaskan otot-otot kakinya tanpa memperdulikan wanita-wanita yang memuji bagaimana ia bisa memiliki kaki yang jenjang dan putih untuk ukuran seorang laki-laki. Hinata memainkan mata lavendernya, tanpa sadar telah mengamati pemandangan yang ada di hadapannya. Sabaku Gaara, nama itu terkesan dingin, dan kaku, sedingin gerak-geriknya yang hampir tak beremosi. Pipi pucat laki-laki itu agak memerah karena kedinginan, tak terlalu kentara bila dibandingkan rambutnya yang kian memerah darah di pagi yang tak terlalu bercahaya ini. Bola matanya yang biru kehijauan fokus pada sepasang kakinya yang tengah berlatih, terlihat semakin indah di antara helaian rambut yang jatuh di atas alis tipisnya—warna yang sangat kontras, merah dan biru kehijauan, mengingatkan Hinata akan warna laut dangkal yang jernih.
Laki-laki ini memang tampan, Hinata tak dapat menyangkalnya.
Tetapi tidak cukup begitu saja. Sebab baginya, Sabaku Gaara ini lebih ia anggap sebagai…
"Apa kau akan berdiri begitu saja dan tak masuk ke dalam areamu?" ia mendengar suara baritone yang telah seminggu ini familiar di telinganya.
"A-ah," rasa gugup itu masih saja menyerang dirinya tatkala ia berbicara dengan Gaara, "baiklah."
Bisikan-bisikan mengenai dirinya mulai terdengar di antara kerumunan teman-teman sekelasnya.
"Jangan didengarkan."
"A-aku tak mendengarkannya."
"Bagus kalau begitu."
Hinata menyunggingkan senyumannya.
Cukup sampai di situ percakapan mereka, tetapi Hinata tak pernah merasa keberatan.
Peluit Guy-sensei ditiup, menandakan kloter Hinata sudah mulai boleh berlari. Tetapi Gaara adalah Gaara, dan laki-laki tetaplah laki-laki. Baru beberapa detik yang lalu dia berada di garis sebelah Hinata, sejurus kemudian tahu-tahu ia sudah memimpin barisan, berada jauh di Hinata tertinggal dari yang lainnya, sbab ia memang sengaja tak berusaha banyak kali ini, tubuhnya hanya akan semakin terasa tak enak jika ia memaksa. Apalagi, udara pagi yang masih dingin tak cukup baik ditangkal oleh jaket sportnya, entah mengapa. Padahal ia tidak pernah merasa kedinginan seperti ini sebelumnya.
"A-ah, aku harus berusaha," ia kembali menyemangati dirinya, "aku tidak lemah, aku tidak lemah, tidak lemah."
Hinata mempercepat derapan kakinya, menyelesaikan satu putaran dari tiga jatah putaran yang mesti ia tempuh. Namun, semakin ia berusaha mempercepat langkahnya, semakin hawa tak enak itu muncul di seputaran perutnya. Ia mencoba memelankan kembali larinya, namun tak bisa, kepalanya justru semakin bekunang-kunang, pandangannya mengabur. Suara-suara riuh di sekitarnya perlahan timbul tenggelam, terasa seperti televisi rusak yang diputar dengan volume sangat keras hingga membuat telinganya terasa sakit.
"Aku tidak lemah," ia terus mengulangi kalimat itu di sela-sela nafasnya yang kian tak teratur.
Dan potret itu tiba-tiba menusuknya.
Lalu tanpa sengaja bola mata mereka saling berpandangan.
Sasuke, Hinata yakin sekali itu Sasuke, meski pun pandangannya agak kabur oleh rasa kunang-kunang yang bermain di kepalanya, ia yakin sekali apa yang ia lihat adalah Sasuke, berdiri sendiri dengan angkuhnya di antara kerumunan kawan-kawan sekelasnya, memancarkan aura tampannya yang sampai sekarang pun tak dapat ditolak Hinata. bola matanya sekilas menusuk lurus ke dalam bola mata Hinata, namun ia buru-buru mengalihkan tatapannya kepada sesosok gadis berambut merah muda yang tengah berdiri di sampingnya, mengajaknya bicara dengan ceria.
Rambut pink itu, mata emerald itu...
Hinata merasakan hatinya menciut.
Perasaan dengan Gaara adalah perasaan yang sangat berbeda dengan apa yang ia alami dengan Sasuke, itu adalah sebuah fakta. Dan Gaara tempo hari telah berterus terang bahwa ia tak memiliki perasaan apa-apa terhadap Hinata, meski Hinata sendiri sampai sekarang tak dapat mengerti apa motif Gaara untuk membuat Sasuke cemburu dengan kedekatan mereka berdua yang timbul secara tak sengaja. Barangkali ada hal lain yang ditangkap Gaara dari Hinata, hal yang tak dapat ia temui pada perempuan-perempuan lain, yang sampai sekarang belum Hinata ketahui itu apa. Namun, tingkah Gaara memang tidak terlihat seperti laki-laki yang sedang berusaha mendekatinya. Ia tak mendatangi Hinata, ia tak berbicara banyak dengannya, ia tak segan-segan menindasnya, tetapi ia juga tak menolak saat Hinata berada dalam areal kehidupannya.
Namun, perasaan Hinata dengan Sasuke, sampai sekarang tetap saja ia masih tak dapat menghilangkan perasaannya terhadap Sasuke. Dan melihat Sasuke berbicara di depan umum dengan seorang Sakura Haruno, rasanya...
Sasuke…
"… Ta, HINATA!"
Ah…
Dunianya sudah berputar dengan sangat hebat ketika ia mendengar suara melengking khas milik Naruto menggema di udara. Kakinya seperti menabrak sesuatu yang keras, entah apa; bisa jadi batu, bisa jadi tumpukan kerikil. Kepalanya pusing bukan main, dan napasnya kian tak berharmoni. Kata-kata aku tidak lemah masih bergaung di pikirannya ketika pandangannya beralih perlahan-lahan dari sosok tubuh Sasuke dan Sakura yang semakin memudar, berganti semak-semak rambut berwarna merah darah dan sepasang mata biru kehijauan yang jernih yang menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
Lalu tiba-tiba semuanya terasa gelap.
"Sa-su-ke…"
Dan Hinata ambruk.
oOoOoOo
"Apa kau yakin, kau tidak apa-apa?"
"A-aku tidak apa-apa, Tenten…"
"Ja-jangan tersenyum begitu! Aku bertanya serius!"
"Aku hanya sangat senang."
Hinata menyimpulkan senyum tulusnya lagi.
"Li-lihat?" ia melangkahkan kakinya hati-hati. "Aku sudah bisa berjalan."
Tenten memandangi Hinata dengan tatapan ngeri.
"Memang sepertinya aku harus mengantarmu pulang, Hinata."
"Ti-tidak, jangan!" Hinata buru-buru menolak. "A-aku sudah menghubungi Neji-nii dan dia sudah dalam perjalanan—"
Ada yang tiba-tiba berubah dari raut muka Tenten.
Hinata menahan senyum bahagianya.
"Atau kau memang sengaja menungguku karena kau ingin bertemu Neji-nii?" tanya Hinata main-main.
Wajah Tenten semakin memerah, tak tahu harus berkata apa.
Hari ini adalah hari yang tak akan Hinata lupa dalam sejarahnya hidupnya.
Ia tidak ingat apa-apa soal test kecepatan lari tadi pagi. Yang ia tahu, saat matanya terbuka, ia sudah berada di ruang kesehatan dikelilingi oleh kelima 'mantan' sahabatnya.
Atau bisa dikatakan, 'mantan' sahabat yang saat ini telah kembali menjadi teman baiknya.
Hinata tidak pernah berpikir hari ini akan tiba dengan sebegini cepat. Ia memang selalu berdoa agar hubungannya dengan Tenten, Kiba, Chouji, Shikamaru, dan Shino akan membaik seperti semula dan mereka dapat bersahabat kembali, tetapi Hinata tak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba di saat ia memang benar-benar membutuhkan sosok yang dapat menyokongnya. Tentu, Gaara mungkin dapat dikatakan teman atau paling tidak kenalan yang secara tidak langsung mau menemainya saat makan siang dengan syarat ia membawakan jatah makan siang unuknya juga, tetapi ia tak dapat berbicara panjang lebar soal masalahnya dengan orang kaku semacam Gaara. Ia membutuhkan sosok sahabat yang dapat menyokongnya, terutama Tenten.
Karena Tenten adalah seorang perempuan, sama seperti dirinya, jadi ia yang paling dapat mengerti apa yang Hinata rasakan.
Sungguh, Hinata tak dapat berhenti bersyukur kepada Kami-sama atas hari ini, atas kejutan besar yang didapatnya.
"Aku ingin memelukmu sekali lagi," bisik Hinata, masih menahan senyum bahagianya.
"Kau bisa ikut berkumpul dengan kami besok siang dan kau bisa memelukku sepuasnya di sana," dalih Tenten, "aku hanya tidak ingin ada berita buruk lain yang menimpa dirimu karena kau berpelukan dengan seorang perempuan di koridor sekolah."
Tawa Hinata lepas ke udara mendengar jawaban Tenten.
"Tapi aku benar-benar merindukan kalian."
"Kau kira kami tidak?"
"A-aku hanya tidak ingin terlalu percaya diri."
Tenten mencubit pipi Hinata gemas.
"Aku harus kembali ke kelas, apa kau yakin kau tak apa-apa, Hinata?" tanya Tenten khawatir.
"Aku tak apa-apa," ia mengangguk mantap, "pergilah, kau akan terlambat. Pelajaran selanjutnya adalah Kurenai-sensei, beliau cukup galak."
Sedetik kemudian, ia merasakan pelukan Tenten, erat di seputaran tubuhnya, sebelum akhirnya gadis berambut cokelat itu pergi menuju kelas sambil menggumamkan permintaan bahwa Hinata mesti mengirimkan salamnya untuk Neji. Hinata hanya bisa tertawa geli mendengar gaya bicara Tenten yang malu-malu. Selama ini pun ternyata ia masih menyukai Neji-nii, meski sudah bertahun-tahun perasaan itu bertepuk sebelah tangan sebab Neji-nii yang tak terlalu peduli akan hubungan percintaan.
Hinata menghela napasnya.
Ah, hari yang indah, dalam artian sebenarnya…
Hinata melangkah menuju lokernya, mempersiapkan barang-barangnya. Rasa sakit di kakinya masih terasa, tetapi ia tak merasa masalah jika harus berjalan sedikit lagi sampai ke gerbang sekolah. Ia telah meminta Neji-nii untuk menjemputnya lebih awal dan sepupu tampannya itu langsung menyanggupi permintaannya. Hinata hanya butuh mengistirahatkan kakinya dan makan banyak sampai ia benar-benar sembuh. Beruntung, hari ini adalah hari Kamis den esok sekolah mesti diliburkan karena ada pertemuan orang tua siswa demi membahas pemilihan universitas, jadi ia memiliki beberapa hari untuk beristirahat sampai hari Senin kembali tiba.
"Universitas, ya.." Hinata membuka pintu lokernya, "aku belum memikirkan itu sampai sekarang."
Apakah aku lebih baik meneruskan jenjang pendidikan di bangku perkuliahan atau menjalankan kewajibanku sebagai penerus utama keluarga Hyuuga...
Apa aku memang ingin menjadi pewaris utama?
"Tidak, aku tidak menginginkannya."
Aku hanya ingin menjalani suatu kehidupan yang normal, sama seperti yang lainnya.
"Mungkin, aku lebih baik...," kata-katanya menggantung begitu saja sewaktu ia teringat sesuatu, "ah, aku belum berterimakasih kepada Sabaku-san!"
Seisi sekolah ini sudah tahu bahwa Gaara lah orang yang membopong Hinata saat perempuan itu tiba-tiba kehilangan kesadarannya di kelas olahraga tadi pagi.
Seperti pangeran yang menggendong puteri, begitu Tenten menggambarkan situasinya. Gaara tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya dan menahan tubuh Hinata sebelum benar-benar ambruk ke tanah dan langsung membawa gadis berambut indigo itu ke ruang kesehatan tanpa banyak bicara, melupakan test larinya. Adegan dramatis itu disaksikan oleh hampir semua penghuni sekolah yang kebetulan menyaksikan lewat jendela, menjadi saksi kebaikan seorang Sabaku Gaara di antara desas-desus yang mengatakan bahwa di balik wajah tampannya yang datar, ia adalah salah satu keturunan Yakuza. Mungkin dia adalah laki-laki yang baik, begitu komentar orang-orang terhadap tindakan Gaara pgi itu.
Setengah hatinya, Hinata merasa senag karena orang-orang mulai mengubah pandangan mereka mengenai Gaara.
Tetapi, di sisi lain, ada yang membuat Hinata sangat kecewa.
Bukan, bukan berarti Hinata tak menghargai pertolongan Gaara, ia sangat menghargainya dan sangat berterima kasih atas sikap pedulinya.
Tetapi dalam lubuk hatinya yang terdalam, Hinata setengah berharap bahwa Sasuke lah yang datang menolongnya, yang membopongnya, yang membawanya ke ruang kesehatan, lantas…
Lantas...
Tap, tap, tap.
Mendengar suara langkah kaki yang mendenkat, Hinata refleks menolehkan kepalanya, hanya demi mendapati sesosok laki-laki yang sama sekali tak pernah ia duga akan muncul di saat-saat seperti ini; sekaligus sosok yang sedang tak ingin ia temui.
Sasuke.
"A-ah.."
Sial, sekarang ia tidak paham harus berbuat apa.
Hinata hampir lupa bahwa lokernya hanya berjarak dua kolom dengan Sasuke Uchiha.
Tahu begini, Hinata tidak akan menolak tawaran Tenten untuk diantarkan pulang...
Sedetik kemudian, ia mendengar suara loker yang terbuka, dua blok di sebelah kanannya. Sasuke tak mengatakan apa-apa saat pandangannya tak sengaja bertemu dengan Hinata, terus melanjutkan apa yang tengah ia lakukan. Dinding es terbentuk di antara mereka, menyebabkan Hinata gemetar atas apa yang Sasuke lakukan, namun ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menampakkan perasaan gugupnya, degup jantungnya...
Dan raut wajah sedihnya.
Bola mata Hinata melirik ke samping, terus berusaha menahan degup jantungnya yang mengencang dan tubuhnya yang gemetar. Sasuke sendiri masih tidak memperdulikan keberadaan Hinata, ia sibuk memasukkan buku-buku tebal ke dalam lokernya. Kelihatannya ia baru saja selesai pelatihan olimpiade lagi, yang tandanya ia baru saja menghabiskan waktu dengan Sakura yang juga termasuk dalam tim cerdas cermat itu—Shikamaru kebetulan tak dapat ikut pelatihan hari ini dikarenakan urusan keluarga yang mendadak. Praktisnya, Sasuke baru saja menghabiskan beberapa jam berdua saja dengan Haruno Sakura, kan?
Berdua saja.
Dan bukankah absensi Sasuke dan Sakura tak berjarak begitu jauh? Hanya terpaut dua nomer? Artinya, kloter tes kecepatan berlari mereka di kelas olahraga tadi sama, kan? Si Sasuke dan Sakura itu?
Dan Sasuke maupun Sakura sama sekali tidak mengunjungi Hinata saat ia masih terbaring di ruang kesehatan tadi, kan?
Betapa kompaknya.
Ah, Hinata tak ingin memikirkannya lebih lanjut.
Rasanya ia sungguh muak.
"Kau," ia mendengar suara yang membuat degup jantungnya tiba-tiba berubah tak karuan, "bagaimana keadaan kakimu?"
Hinata menarik napasnya dalam-dalam. Hidungnya kembang kempis sendiri memikirkan kata-kata apa yang mesti ia ucapkan.
Sasuke mengajaknya bicara?
Di lorong loker yang sepi dan tak ada satu pun orang yang lewat, hanya menyisakan ia dan Sasuke berdua saja—
—apa yang mesti Hinata lakukan?
"A-aku ti-tidak a-apa-apa."
Sial, Hinata tidak suka dirinya yang gugup dan tergagap begini.
"Aa…"
Gemetar, Hinata mengunci lokernya, bersiap meninggalkan tempat itu untuk menyelamatkan jantungnya yang kian berlari di tempat. Namun langkahnya terhenti ketika Sasuke mengajaknya berbicara lagi, "Gaara sepertinya sangat perhatian denganmu, ya?"
Hinata tidak tahu apakah ia harus senang karena rencananya dengan Gaara untuk membuat Sasuke cemburu berhasil dengan sukses atau malah ia harus kesal mengingat tingkah Sasuke yang sama sekali tak mempedulikan keadaaannya seharian ini.
"Dia adalah teman yang baik," jawab Hinata pendek, kedua tangannya mengenggam buku yang ia taruh di depan dadanya.
"Aku bisa melihatnya," sahut Sasuke, pandangannya masih kepada lokernya, "aku," lalu dengan cekatan ia mengunci loker itu, dan kembali berujar, "bisa melihatnya denagn sangat jelas."
Hinata tidak suka keadaan ini.
Ini bukan Sasuke yang ia kenal.
Ini… Ini Sasuke yang ia takuti.
"A-aku permisi dulu, jemputanku sudah menunggu—"
Kata-kata Hinata berhenti sampai di situ, cukup sampai di situ.
Sebab belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, ia sudah merasakan punggungnya bertubrukan dengan pintu loker dan dua buah buku yang ia genggam sudah jatuh, berserakan ke lantai—sepasang lengan kekar telah menahan pergerakan tubuhnya, membuatnya tak bisa lari ke mana-mana, tertahan di satu sudut pada ruangan itu.
Tak ada orang yang lewat sama sekali, tak ada angin, dan tak ada hujan.
Sejurus kemudian yang dapat Hinata rasakan hanyalah syaraf-syarafnya yang melemas, sepasang matanya yang tertutup, nafas berat Sasuke yang jatuh teratur di bawah lehernya, jemari Sasuke yang bertengker di pinggangnya, wangi badannya yang maskulin, dan bibir tipis milik laki-laki berambut raven itu yang telah tertempel di bibirnya, setengah memaksa tetapi juga membuat Hinata menagih.
Sasuke telah merangsek maju, mendekapnya, menciumnya, tanpa permisi dan tanpa peringatan apa pun sebelumnya, membuat Hinata sejenak merasa terbang, tak merasakan kesadarannya.
Hangat.
Dan Hinata tak kuasa menolak.
To be continued.
A/N :
Di sela-sela kegalauan hati dan kuliah yang berat, akhirnya update juga. Maaf tengah malam baru bisa update :') Nggak bisa berkata banyak, karena dah ngantuk ini mata XD pokoknya, semoga readers suka dengan chapter ini, dan maaf kaalu banyak typo, ngetiknya sambil ngantuk :) Arigatou...
Aya Kohaku, 2012.
