Memories
Cast: Kim Ryeowook
Kim Jongwoon a.k.a Yesung
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Kibum
Choi Siwon
Others
Disclaimer: all characters belong to GOD. But this story is mine. And forever mine^^. Jika ada kesamaan nama itu memang disengaja –tapi Cuma minjem kok^^-.
Genre: family, hurt/comfort (mungkin)
Rate: T
Warning: YAOI, Sho-ai, B x B, BoysLove., OOC, typo(s) bertebaran, ide pasaran –setidaknya jalan ceritanya 'sedikit' berbeda- dan gaje. Cerita mungkin gak sesuai judul dan plotnya gak jelas ada atau gak.
DLDR! No bash!
Happy Reading^^
.
.
.
.
Yesung membuka-buka laci meja nakasnya dengan iseng. Tidak ada kegiatan membuatnya melakukan hal-hal yang sama sekali tidak jelas. Kyuhyun juga tidak datang ke apartemennya. Berkencan dengan BunnyMing-nya mungkin? Yesung tidak tahu dan tidak mau tahu. Dibukanya sebuah album photo yang tersimpan dibawah tumpukan bukunya yang lain. Hanya ada satu photo disana. Photo seorang namja kecil yang sedang tersenyum lebar yang seingatnya diambil oleh sang eomma atas permintaannya.
"Ryeong-ah~"gumamnya pelan.
Diletakkannya album itu di atas ranjangnya dan mencari lagi. Mungkin ada yang lain?
Dan benar saja. Selembar photo lagi yang entah kenapa bisa terlantar disana. Yesung mengambilnya dan sekali lagi tersenyum. Potret seorang namja kecil yang manis dengan wajah yang tertutup tepung dan bibir mengerucut terpampang dihadapannya. Yesung tersenyum. Ryeong-nya memang menggemaskan dan manis.
Yesung mengacak lagi satu laci terakhir yang ternyata hanya berisi beberapa komik manga dan sebuah kotak kecil di sudut. Yesung meraihnya dan mengamati kotak tersebut. Alisnya bertaut bingung. Ditimang-timangnya kotak kecil di tangannya lalu menganggu dan membuka kotak kecil yang ternyata berisi sebuah gantungan kunci kecil berbandul jerapah kecil disana. Yesung mengingatnya. Itu pemberian Ryeong saat mereka makan siang seperti biasa di bawah pohon.
"Ternyata aku masih menyimpannya. Syukurlah."
Yesung meraih kunci mobilnya dan memasang gantungan imut itu disana.
"Kau lihat Ryeong? Aku tidak akan melepaskan lagi gantungan ini."
Yesung memandangi gantungan kunci yang menjadi penghuni tambahan untuk kunci mobilnya lalu menghela nafas sebentar.
"Kenapa aku malah teringat Ryeowook? Apa mereka orang yang sama? Tapi Ryeong tidak seperti itu dulu. Hhhh~"
Yesung merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya lalu memandangi dua photo yang ditemukannya tadi. Yesung terkekeh ketika menatap photo Ryeong yang tengah mengerucutkan bibirnya karena kesal. Yesung masih mengingatnya. Saat itu Ryeong-nya sedang bermain ke rumahnya lalu ikut membantu –atau malah mengacau- eomma Yesung yang saat itu sedang membuat cake. Dan jadilah mukanya penuh dengan tepung setelah dirinya mencoba mengangkat tepung dalam ember kecil di meja untuk diberikan pada eomma Yesung tumpah karena tangan pendeknya hanya sampai pada pinggiran ember saja. Dan bukannya menolong, saat itu Yesung yang kebetulan juga ada di dapur malah tertawa hingga memegangi perutnya. Sementara sang eomma yang juga melihatnya malah ikut terkikik sebelum mengambil kamera untuk memotret namja mungil itu yang sudah mengerucutkan bibirnya ketika tahu dua orang yang lebih tua darinya malah menertawakannya.
"Kau sangat imut saat itu. Apa kau juga masih bertingkah imut seperti itu sekarang?"
Yesung terkekeh.
"Kau membuatku seperti orang gila baby."
.
.DOUBLE KIM.
.
Heechul duduk di atas sofanya dengan anggun sambil membolak-balikkan majalah fashion di tangannya. Minki –yang lebih sering dipanggil Ren oleh Ryeowook- duduk di atas karpet beludru di bawahnya dengan beberapa buku di sekelilingnya. Sedang belajar eoh. Suara derap langkah terdengar hingga mengalihkan perhatian Minki. Namja kecil yang cantik itupun mengangkat kepalanya dari buku yang tengah ditekuninya dan menarik senyumnya untuk seseorang yang baru saja datang.
"Appa!"seru namja cilik itu sambil berlari menyongsong sang appa yang dengan sigap menangkap namja kecil itu dalam gendongannya. Dikecupnya kedua pipi bulat namja cantiknya lalu berjalan menuju sang istri dan mengecup kilat bibirnya yang masih terkatup.
"Apa sudah selesai semuanya?"Tanya sang Suami, Hankyung, pada istrinya, Heechul, setelah menurunkan namja kecil itu untuk kembali mlanjutkan belajarnya di kamar yang segera dituruti.
Heechul menutup majalahnya dan menatap Hankyung lalu tersenyum tipis.
"Tentu saja sudah. Untuk apa memperlambat urusan seperti itu."jawabnya ringan lalu memeluk lengan suaminya setelah menlonggarkan ikatan dasi yang mencekik leher Hankyung.
"Ryeowook sudah tahu?"Hankyung menyuruh Minki untuk pergi ke kamarnya.
"Bukankah Ryeowook sudah tahu sejak dulu. Untuk apa diberi tahu lagi?"jawab Heechul santai dan kembali membuka majalahnya.
"Aku pikir dia akan terluka."ujar Hankyung sambil melepas jas yang masih meutupi kemeja putihnya. Heechul diam tidak menanggapi.
"Kau sudah tidak memberitahunya secara langsung tentang kehamilan Minki dulu. Dia bahkan tahu dari Sungmin 2 bulan sebelum kau menanyakan tentang dongsaeng yang diinginkannya sementara saat kau menanyakanya kehamilanmu sudah berusia 5 bulan."lanjut Hankyung. Heechul masih diam.
"Bahkan saat kau melahirkan Minki, Ryeowook menjadi orang terakhir yang tau sementara ahjussi dan ahjumma-nya yang ada di Jepang sudah tahu di hari kau melahirkan. Bahkan sekali lagi, yang memberitahunya bukan kau. Sungmin sudah memberitahunya lebih dulu sebelum kau menelponnya yang tidak pulang ke rumah satu minggu waktu itu."sambung Hankyung membuat Heechul menutup majalahnya keras. Heechul menatap Hankyung dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Memang kau pikir itu salah siapa? Salahnya yang tidak pulang dan sok sibuk. Salahnya yang tidak peduli padaku. Memang kau ingin aku seperti apa padanya?"ucap Heechul sedikit berteriak.
"Kau pikir Ryeowook akan betah di rumah sementara kau selalu membandingkannya dengan Kibum. Tidak akan ada yang suka jika dibanding-bandingkan Chullie-ah. Apa kau tidak bisa melihat tatapan terlukanya ketika kau selalu memuji Kibum di depannya lalu membandingkannya dengan Kibum?"jeda sejenak sebelum Hankyung melanjutkan."Kemampuan setiap orang itu berbeda Chullie-ah. Setidaknya kau harus bersyukur karena Ryeowook tidak menjadi anak nakal dan berotak jongkok. Meskipun Ryeowook tidak sepintar Kibum, tapi Ryeowook juga bukan anak yang bodoh. Kau harusnya mengerti itu Chullie-ah."ujar Hankyung panjang lebar.
"Lupakan pembicaraan ini. Aku akan siapkan air hangat untukmu. Mandilah sementara menunggu makan malam selesai."ucap Heechul menyudahi acara debatnya bersama Hakyung yang hanya bisa menghela nafas terhadap istrinya.
.
.DOUBLE KIM.
.
Ryeowook mendudukkan dirinya di depan meja bar dengan Henry yang mengelap gelas di hadapannya. Namja berpipi chubby itu menatap Ryeowook yang sedang menggoyangkan gelas cocktail-nya pelan. Sesekali Henry bisa melihat bagaimana Ryeowook hanya menghirup aroma kamikaze dalam gelasnya tanpa menyesapnya.
"Hyung baik-baik saja?"Tanya Henry akhirnya. Tidak tahan juga berhadapan dengan Ryeowook yang seperti ini. Meskipun well, Ryeowook juga tidak terlalu banyak bicara saat bersamanya.
Ryeowook menoleh dan tersenyum lembut pada Henry lalu menyesap sedikit cocktail-nya
"Apa Sungmin Hyung tidak datang malam ini?"Tanya Henry sambil tetap mengelap gelas yang sama.
"Tidak. Kyuhyun menagih waktunya yang sering dihabiskan disini sampai dua hari ke depan. Ck. Dasar anak itu."gerutu Ryeowook di akhir kalimatnya.
"Lalu bagaimana dengan café-mu Hyung?"
Henry mencoba terus mengajak Ryeowook bicara karena jujur saja, wajah Ryeowook tidak cocok memasang tampang jelek seperti itu.
"Hhhh~ masih belum selesai. Padahal ini sudah satu minggu lebih tapi masih belum selesai."
"Memang Hyung maunya selesai berapa hari? Satu minggu itu sudah cukup cepat jika mereka bisa menyelesaikan bagian bawahnya. Bukankah Hyung juga sedikit menambah ruangan di lantai atas?"
"Kau benar. Tapi Taemin sudah merengek bosan karena lebih sering di rumah sekarang."
Henry swaetdrop. Jadi karena dia? Astaga.
"Jadi Hyung ingin semuanya cepat selesai untuk namja cantik itu? Kenapa tidak menyuruhnya berkencan dengan Minho saja kalau bosan?"
"Dia bahkan selalu pulang setelah jam makan malam sekarang."keluh Ryeowook.
Henry jadi bingung. Lalu kenapa Taemin masih bosan kalau setiap hari bahkan selalu pulang setelah jam makan malam bersama Minho. Sepertinya Ryeowook benar-benar tidak sedang berkonsentrasi saat ini. Bicaranya saja sudah tidak menyambung kemana-mana.
"Hyung istirahatlah. Sepertinya keadaan Hyung sama sekali tidak baik sekarang."ujar Hnery pada akhirnya. Tidak tega melihat Hyung-nya yang sudah kembali diam setelah dirinya juga diam. Ryeowook mendongak lalu menggeleng pelan.
"Ani. Berikan aku satu botol Liqueur saja."pinta Ryeowook setelah meneguk habis kamikaze-nya. Henry menghela nafas. Ingin melarang. Tapi sepertinya Hyung yang lebih pendek darinya itu sangat membutuhkan cairan berwarna oranye itu. Dan pada akhirnya, Henry memberikan satu botol liqueur untuk Ryeowook yang lagsung mengisi gelas kosongnya dengan cairan tersebut.
Seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya lalu menuang isi botol Ryeowook ke dalam gelas yang baru saja dimintanya pada Henry. Ryeowook menoleh sebentar pada sosok di sampingnya lalu melanjutkan lagi acara minumnya. Namja disampingnya itu meletakkan kunci mobilnya tepat di samping Ryeowook yang otomatis mata Ryeowook bisa menangkapnya. Ryeowook merasa tertarik dengan kunci itu. Ditatapnya kunci itu lalu menariknya pada genggamannya. Namja pemilik kunci itupun terkejut dengan tingkah Ryeowook.
"Kau kenapa Ryeowookie?"Tanya namja itu, Yesung. Ryeowook menoleh lalu kembali menatap kunci dalam genggamannya. Gantungan kuncinya lebih tepatnya.
"Hyung dapat ini dari mana? Bagus sekali."Tanya Ryeowook sambil menunjuk satu gantungan kunci yang ternyata baru dipasang oleh Yesung tadi.
Yesung melihatnya dan menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyum.
"Itu dari seseorang."jawab Yesung sambil tersenyum. Ryeowook mengangguk.
"Aku juga dulu pernah punya gantungan seperti ini,"ujar Ryeowook sambil menggoyangkan gantungan itu di atas meja. Yesung menoleh cepat.
"Benarkah?"seru Yesung pelan.
"Tapi sudah kuberikan pada seseorang. Tapi orang itu menggantinya dengan sebuah bando motif kura-kura. Huh, aku jadi berpikir, apa dia berpikir aku ini lamban seperti kura-kura sampai mengganti gantungan jerapah dariku dengan bando motif kura-kura. Dan aku ini kan namja, kenapa di beri bando. Yang benar saja."gerutu Ryeowook tanpa mempedulikan raut wajah tak percaya Yesung di sampingnya.
"Lalu kau kemanakan akhirnya bando itu?"Tanya Yesung setelah mengembalikan raut wajah dan suaranya untuk kembali normal setelah sebelumnya suaranya hilang entah kemana.
"Eoh?"Ryeowook menoleh pada Yesung."Tadinya mau kubuang."
"APA?!"seru Yesung membuat Ryeowook berjingkat sementara beberapa orang menoleh ke arahnya. Yesung menggaruk tengkuknya gugup lalu menunduk meminta maaf. Ryeowook cengo dibuatnya.
"Kenapa Hyung berteriak begitu sih?"sungut Ryeowook kesal karena masih kaget. Yesung terkekeh tidak berdosa.
"Hehe, maaf, Hyung terlalu terkejut saat kau bilang kalau bando itu sudah kau buang."balas Yesung dengan nada sedih di akhirnya. Ryeowook melongo.
"Memang siapa yang membuangnya?"
Yesung mendongak menatap Ryeowook tidak mengerti.
"Bukannya tadi kau yang bilang kalau kau buang."ucap Yesung dengan muka polosnya.
Dalam hati Ryeowook merutuki namja dihadapannya ini. Tampan sih, memang. Tapi kenapa otaknya lemot begini. Kapan dirinya berkata membuang bando itu? Astaga.
"Kapan aku mengatakannya? Bukannya aku tadi berkata kalau mau kubuang? Bukan sudah kubuang."ujar Ryeowook sambil mengelus pelan boneka jerapah kecil di gantungan kunci milik Yesung.
"Jadi?"
"Tentu saja aku menyimpannya. Meskipun aku hanya memakainya satu kali ketika dia memberikannya, tapi aku juga tidak pernah membuangnya meski tidak pernah kupakai."terang Ryeowook sambil melempar senyum pada Yesung.
"Berarti bando itu masih kau simpan?"Ryeowook mengangguk dan menyerahkan kunci mobil Yesung pada pemiliknya.
"Tentu saja. Itu satu-satunya pemberian darinya sebelum aku pindah."jawab Ryeowook dengan lirih di akhir kalimatnya.
Yesung tersenyum lega. Setidaknya harapannya masih ada dan malah semakin besar. Yesung ingin melihatnya. Tapi tidak sekarang. Meskipun dirinya ingin segera membuktikan perkataan Ryeowook, tapi dirinya juga harus sabar. Dan sekarang, Yesung benar-benar berharap namja di sampingnya ini adalah namja yang selama ini dicarinya. Setidaknya pencarian dan penantianya selama ini tidak akan sia-sia bukan.
"Apa aku bisa melihat bandomu? Pasti itu sangat lucu."ujar Yesung tiba-tiba. Ryeowook yang baru saja menempelkan bibir gelas pada bibirnya segera menjauhkan gelas dari bibirnya dan menatap Yesung.
"Aku hanya ingin melihatnya. Apa boleh?"Tanya Yesung lagi. Ryeowook tersenyum dan meneguk isi gelasnya sebelum menjawab.
"Tentu saja. Tapi tidak ada disini sekarang. Mungkin lusa aku baru bisa mengambilnya."
Yesung mengerutkan keningnya bingung. Dan beruntungnya, kebingungan itu dapat ditangkap oleh Ryeowook. Ryeowook tersenyum sambil menuangkan kembali liqueur pada gelasnya.
"Bandonya ada di rumahku Hyung. Dan itu sangat jauh sementara untuk beberapa hari ini aku akan mengurus sedikit café-ku yang sedang kurenovasi."Yesung mengangguk dan menemani Ryeowook yang sudah hampir menghabiskan satu botol liqueur itu sendirian. Jika dua gelas Yesung tidak ikut dihitung.
Dan entah kenapa Ryeowook jadi sedikit banyak bicara dengan namja bernama Yesung itu. Dan jangan lupakan keterbukaannya. Bahkan Henry yang memang tidak pernah jauh-jauh dari tempat Ryeowook duduk itupun dibuat bingung olehnya. Henry tidak peduli, yang penting Hyung-nya itu tidak melamun seperti tadi. Itu bahkan lebih mengerikan dari pada Ryeowook yang banyak bicara dengan namja yang belum lama ini Henry lihat.
.
.DOUBLE KIM.
.
Ryeowook berjalan pelan melewati ruang keluarga dimana di atas sofa ada seorang Kim Kibum yang sedang duduk tenang dengan buku entah apa itu dipangkuannya. Ryeowook melirik jam tangannya. Sebentar lagi makan malam. Bisa dipastikan eomma-nya sedang ada di dapur membantu seorang ahjumma yang memasak untuk mereka. Kadang Ryeowook berpikir, kenapa tidak eomma-nya saja yang memasak? Masakan eomma-nya tidak buruk. Meski well, masakannya lebih enak, menurut Sungmin dan Henry. Ryeowook melanjutkan jalannya menuju kamarnya lalu melempar tas punggungnya ke sofa sebelum menyambar handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi di kamarnya.
Beberapa menit kemudian Ryeowook keluar dengan celana kain berwarna biru tua dan kaos putih longgar serta handuk di kepalanya. Ryeowook meraih ponselnya dari dalam tas. Seseorang mengiriminya pesan yang membuat air muka Ryeowook berubah seketika. Kim Hyunjoong. Namja yang dianggapnya sebagai appa bahkan sampai sekarang, meskipun selama sekian tahun tidak pernah membiayai hidupnya atau sekedar memberi kabar setelah kepergiannya, itu mengiriminya pesan standard.
Ryeowook memandangi ponselnya lama lalu mendengus. Perasaannya bercampur. Kebingungan melanda dirinya saat ini. Rasanya ingin membenturkan kepalanya ke dinding untuk memperbaiki pola pikirnya yang selalu membingungkan ketika dirinya bingung, tentu saja. Ryeowook melemparkan ponselnya ke ranjang lalu membuka bukunya sebentar sebelum melakukan hal yang sama seperti ponselnya, melemparnya ke ranjang. Ryeowook mendengus sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar setelah menata rambutnya asal.
"Wookie Hyung!"pekik Minki, atau Ren, ketika melihat Ryeowook yang sedang menuruni anak tangga. Namja berwajah androgini itu berlari kecil dari karpet yang di dudukinya menuju Ryeowook yang sudah tersenyum lebar dengan kedua rentangan tangannya untuk menyambut Ren.
"Aigoo~ dongsaeng Hyung ini manja sekali eoh?"goda Ryeowook membuat kerucutan di bibir Ren muncul.
"Ren kan Cuma manja sama Wookie Hyung."balasnya membela diri.
"Benarkah?"Tanya Ryeowook memastikan. Ren manganggukkan kepalanya semangat. Rambut pirangnya bergoyang lucu."Sayangnya Hyung tidak percaya."lanjut Ryeowook setelah menurunkan Ren dari gendongannya dan berlari menghindari Ren yang sudah bersiap mengejarnya.
"Yak Wookie Hyung! Jangan lari!"teriak Ren diiringi tawa dari Ryeowook.
Ryeowook berlari menuju ruang tamu tepat ketika seorang namja membuka pintu dan masuk. Namja itu melihat bagaimana Ryeowook mengelilingi sofa dan meja serta bagaimana Ren mengejarnya sambil tertawa riang. Namja itu tersenyum. Berpikir bagaimana namja yang tidak pedulian itu bisa tertawa riang bersama dongsaengnya. Namja itu berdehem sebelum mengeluarkan suaranya.
"Aigoo~ anak appa sedang apa eoh?"sapa namja itu membuat Ren mengubah jalur kejarnya jadi menghambur dalam pelukan hangat sang appa.
"APPA…"pekiknya riang. Bocah cilik itu tersenyum lebar dalam gendongan sang appa sementara sang Hyung hanya diam.
"Minki sedang main apa sama Wookie Hyung sampai appa tidak disambut?"Tanya sang appa dengan nada merajuk. Namja yang dalam gendongannya itu hanya tersenyum lebar.
"Mianhae appa. Tadi mengejar Wookie Hyung. Masa Wookie Hyung bilang kalau Minki ini manja. Padahal kan Minki tidak manja appa.."rengeknya. Sang appa tersenyum lalu mencubit pelan pipi anak bungsunya.
"Tapi Minki memang manja."ujar appanya seraya menurunkan namja kecil itu dari gendongannya.
Namja kecil itu melotot menatap appanya yang sama sekali tidak membelanya. Sementara namja yang satunya sudah tersenyum menang sekarang.
"Kyaaa~~ Appa! Wookie Hyung! Jangan lari!"namja cilik itupun akhirnya mengejar dua namja dewasa yang sudah berlari dengan arah yang berbeda. Namja cilik itu tampak begitu bahagia. Wajar saja. Moment seperti ini sangat jarang terjadi. Bahkan mungkin bisa dihitung jari sejak bocah cilik itu memasuki taman kanak kanak dan Hyung-nya jarang pulang ke rumah. Sementara di rumah, meskipun ada satu lagi Hyung-nya, tapi dia sangat kaku. Membuat namja cilik itu sulit beradaptasi dengannya.
"Ya ya… berhentilah berkejaran dan makan. Makan malam sudah siap."seru Heechul sambil menatap pemandangan di depannya. Satu yang menjadi focus-nya. Namja muda diantara mereka dengan rambut berwarna coklat dengan tinggi yang sepertinya bahkan seorang wanita ada yang lebih tinggi darinya.
"Eomma~~ Wookie Hyung sama appa ngatain Minki manja…"adunya pada sang eomma. Sang eomma melepas pandangannya dari putranya dan menatap putra kecil kesayangannya.
"Benarkah?"
"Eum~ padahal kan Minki tidak manja eomma."
"Baiklah, baiklah. Minki sudah tidak manja sekarang."ucap sang eomma menenangkan sementara dua namja yang tadi di kejar Ryeowook mulai beranjak. Salah satunya pergi meuju ruang makan sementara yang satu lagi menghampiri pasangan ibu dan anak itu.
"Yeay! Appa lihat. Eomma bilang Minki tidak manja."ucap Minki lalu menjulurkan lidahnya sekilas. Sang appa terkekeh pelan lalu mengacak rambut anaknya.
"Aku pulang,"sapanya pada sang istri. Istrinya mendengus.
"Kau bahkan sudah berlarian dan baru mengucapkannya padaku."balas sang istri pura-pura marah."Tapi selamat datang,"lanjutnya.
"Ayo makan."
.
.DOUBLE KIM.
.
Ryeowook merasakan kepalanya berdenyut sakit. Apa yang baru saja di dengarnya cukup untuk membuatnya merasakan pusing yang sangat. Ditambah lagi dengan ucapan eomma-nya. Ditelannya obat yang sudah ada dalam genggamannya itu sekali teguk. Apartemennya sepi. Taemin sedang pergi dengan seseorang yang Taemin bilang adalah seseorang yang special untuknya yang Ryeowook tahu jelas orang itu adalah Choi Minho. Ryeowook merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran sedang di kamarnya. Hari sudah menjelang sore dan untuk menyalakan lampu saja Ryeowook merasa tidak mampu saat ini. Katakan dirinya lemah, karena memang begitulah kenyataannya.
"Apa dia pikir aku ini sudah sangat tidak laku sampai ada acara perjodohan konyol seperti ini. Ini bahkan sudah bukan negeri dongeng. Kenapa masih ada acara seperti itu."gerutunya pelan ditengah rasa sakit yang menyiksanya.
Ryeowook berusaha memejamkan matanya. Berharap rasa sakit yang saat ini dirasakannya akan hilang ketika dirinya bangun nanti. Namun semua itu tidaklah mudah mengingat kepalanya berdenyut hebat. Dan belum lagi dering ponsel yang entah sudah ke berapa kalinya itu turut mengganggu usahanya untuk tidur. Ryeowook mengumpat keras. Meraih ponselnya dan mematikannya. Tidak peduli orang itu, sang eomma, Sungmin atau Henry menelponnya nanti. Yang jelas saat ini dirinya sungguh ingin tidur.
Cklek
Suara pintu yang terbuka itu Ryeowook abaikan. Rasa kantuk sudah mulai menguasai dirinya akibat obat yang diminumnya. Entah siapa itu, hanya ada dua kemungkinan. Sungmin dan Taemin. Karena hanya mereka yang tahu password apartemen itu.
Cklek
Pintu kamar Ryeowook terbuka. Sebuah kepala tampak menyembul disana. Sungmin. Namja bergigi kelinci itu memasuki kamar Ryeowook dan melihat Ryeowook yang tampak baru saja memejamkan matanya dan belum terlalu tenggelam dalam tidurnya.
"Apa kau sakit lagi? Kenapa tidak mengatakannya padaku?"Tanya Sungmin pelan sambil mengusap rambut Ryeowook yang berantakan.
"Bukankah aku ini Hyeong-mu? Kenapa menyembunyikan hal seperti itu dariku? Apa aku sudah tidak kau anggap sebagai Hyeong-mu lagi?"Sungmin mendongakkan kepalanya menahan bulir-bulir bening yang siap turun meluncur diatas pipi putihnya.
"Kau demam Wook-ah?"Tanya Sungmin ketika telapak tangannya menyentuh kening Ryeowook yang panas. Sungmin menghapus air mata yang masih berada di pelupuknya lalu menyelimuti tubuh Ryeowook dengan beberapa selimut tebal dan segera bergegas menuju dapur untuk menyiapkan kompresan untuk dongsaengnya tersebut.
Sungmin kembali ke kamar Ryeowook dengan sebuah baskom kecil dan handuk kecil di tangannya. Dengan cepat Sungmin mengompres Ryeowook yang sudah berkeringat itu. Sungmin menggantinya dengan teratur dan duduk di pinggir ranjang Ryeowook. Matanya menatap sekeliling untuk mencar kursi untuknya duduk. Tapi matanya menangkap sebuah cup kecil yang tertutup di meja nakas samping tempat tidur Ryeowook. Cup yang sama dengan milik Ryeowook yang ada di Bareknuckle.
"Apa kau baru saja meminumnya?"Sungmin meraih cup itu dan menyimpannya di laci. Ingin rasanya menangis saat mengetahui dongsaengnya menderita penyakit seperti itu. Bagaimana bisa Ryeowook mendapat penyakit mematikan itu sementara mereka tidak memiliki satu-pun keluarga yang memiliki riwayat penyakit kanker sepertinya.
"Sudah berapa lama kau mengetahuinya heum? Dasar anak nakal."Sungmin meraih kursi dari meja belajar Ryeowook sambil menangis. Dirinya tidak bisa lagi untuk tidak menangis sementara kenyataan menakutkan ada di depan matanya.
"Kau jahat sekali Ryeowook-a… hikss…"isak Sungmin dengan kepala bertumpu pada kedua tangannya yang dilipat samping tubuh Ryeowook.
Cklek
Pintu yang terbuka lagi itu sudah bisa dipastikan adalah Taemin. Jadi Sungmin tidak berpikir untuk menyambutnya dan lebih memilih disini. Mengganti lagi kompres Ryeowook.
Tok tok tok
Pintu yang diketuk pelan itu membuat Sungmin menoleh setelah terdengar bunyi pintu terbuka. Taemin berdiri disana dan tersenyum menatap Sungmin.
"Ah, ternyata benar Sungmin Hyeong disini."ucap Taemin dan menghampiri Sungmin yang sedang meletakkan kompresan di dahi Ryeowook.
"Ryeowook Hyeong sakit?"Tanya Taemin khawatir.
"Demam Tae. Kau baru pulang?"Sungmin menatap Taemin yang hanya tersenyum.
"Kau baru berkencan dengan Minho?"Tanya Sungmin menggoda. Taemin hanya tersenyum gugup. Lalu cepat-cepat mengalihkan perhatiannya pada Ryeowook yang menggigil.
"Apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit Hyeong? Atau Hyeong sudah memanggil dokter?"Tanya Taemin cemas. Tangannya meraba kening Ryeowook dan menemukan suhu tubuh namja yang dianggapnya Hyeong itu sangat tinggi. Taemin melotot kearah Sungmin.
"Demamnya sangat tinggi Hyeong. Kenapa Cuma di kompres. Ayo kita bawa ke rumah sakit."seru Taemin kaget. Sungmin ikut meraba kening Ryeowook dan berjengit kaget.
"Tadi tidak setinggi ini makanya cuma kukompres. Baiklah, bantu Hyeong eoh."
Sungmin beranjak dari duduknya dan menuju lemari Ryeowook. Mengambil jaket tebal dan memakaikannya pada Ryeowook. Sungmin memeprsiapkan dirinya untuk menggendong Ryeowook di punggungnya dan dibantu oleh Taemin.
"Jangan lupa selimutnya Tae."ingat Sungmin dan dengan segera Taemin menyampirkan sebuah selimut tebal pada tubuh Ryeowook.
"Kau bisa menyetir kan Tae? Kau yang menyetir."putus Sungmin tanpa mendengar jawaban Taemin dan Taemin-pun tidak protes karena keadaan Hyeong-nya lebih penting dari pada siapa yang menyetir.
Keduanya bergegas menuju tempat parkir dan dengan cepat keduanya memasuki mobil Sungmin. Perjalanan menuju rumah sakit tidak membutuhkan waktu yang sedikit ditambah kemacetan yang menjebak mereka. Ryeowook tampak menggigil di pangkuan Sungmin. Paha Sungmin yang dijadikan bantalan untuk Ryeowook mulai sedikit basah karena keringat dingin Ryeowook yang tidak juga berhenti.
"Shit! Apa mereka tidak bisa lebih cepat."umpat Sungmin karena kemacetan itu tampak tidak berjalan sama sekali. Bahkan mobilnya berhenti total saat ini.
"Akh sial! Ryeowook, sebentar lagi eoh. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Kumohon jangan membuatku takut."ucap Sungmin yang sama sekali tidak di dengar Ryeowook juga tidak dimegerti Taemin apa maksudnya.
Oke, Hyeongnya itu memang demam tinggi. Tapi kenapa Sungmin tampak begitu ketakutan meski Taemin juga takut terjadi apa-apa pada Ryeowook. Tapi kekhawatiran Sungmin itu Taemin rasa terlalu berlebihan untuk orang yang demam tinggi.
Mobil berjalan lambat seperti siput yang membawa beban berat. Bunyi klakson yang saling bersahutan terdengar begitu memekakkan telinga. Berkali-kali Sungmin mengumpat kasar hingga akhirnya mereka terbebas dari kemacetan menyebalkan itu setelah hampir setengah jam terjebak disana. Sungmin memandang khawatir dongsaeng di pangkuannya.
"Bertahanlah. Sebentar lagi."bisik Sungmin di telinga Ryeowook.
.
.DOUBLE KIM.
.
Namja tampan itu tampak duduk di depan meja bar dengan tidak tenang. Beberapa kali kepalanya berputar untuk mencari keberadaan seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak bisa ditemuinya. Bahkan Kyuhyun-pun tidak tahu dimana sepupu kekasihnya itu sementara Kyuhyun dan kekasihnya sudah beberapa hari ini juga tidak bertemu.
"Apa dia tidak datang lagi?"ratapnya sambil menatap gelas Jack Rose-nya. Helaan nafas panjang terdengar mengakhiri ratapannya.
"Hyeong?"sapaan dibelakangnya membuatnya menoleh.
"Oh, Yunho, Jae. Kalian disini?"Tanya namja tampan itu, Yesung, dan membiarkan sepasang kekasih itu duduk disampingnya.
"Ne. Jae tadi merengek ingin kesini."
"Yah! Siapa yang merengek huh?"seru Jaejoong kesal karena dibilang merengek oleh Yunho. Yunho tidak menanggapinya dan memanggil sang bartender yang sedang mengelap gelas cocktail-nya.
"Berikan aku Manhattan. Kau mau apa Jae?"Tanya Yunho pada kekasihnya.
"Berikan aku Margarita."ujar Jaejoong sambil melempar senyum yang dihadiahi delikan kesal dari Yunho. Jaejoong terkekeh.
"Kau tumben sendirian Hyeong? Dimana bocah evil itu?"Yunho ccelingukan mencari namja yang dipanggilnya evil itu. Yesung berdecak.
"Terima kasih."ucap Jaejoong ketika minumannya dan Yunho selesai. Yunho menyeruput pelan cairan berwarna merah sedikit coklat itu.
"Ne, Hyeong. Dimana bocah itu?"sambung Jaejoong yang masih asik menghirup aroma segar lime dari cairan putih di gelasnya.
"Anak itu pergi bersama Minho. Entah kemana."jawab Yesung kemudian menyesap Jack Rose-nya yang tinggal sedikit.
"Lalu kenapa Hyeong bisa ada disini? Sendirian. Tumben sekali."
Yesung mendengus mendengar ucapan Jaejoong.
"Memang tidak boleh aku ada disini sendirian."sungut Yesung membuat pasangan YunJae itu terekeh geli karenanya.
"Kau seperti yeoja yang sedang PMS Hyeong. Hihihi~"
"Yak!"seru Yesung kesal. Matanya lalu menatap sang bartender yang kali ini berdiri di depannya. Mengabaikan kikikan sepasang kekasih yang banyak orang bilang adalah pasangan paling romatis disampingnya.
"Apa Ryeowook-ah tidak datang Henry-a?"tanyanya yang membuat namja berpipi chubby itu mengangkat wajahnya menatap Yesung sebentar lalu meletakkan gelas di genggamannya dan mengambil satu gelas lagi untuk dilap.
"Tidak. Ryeowook Hyung sakit jadi tidak bisa datang beberapa hari dan ini dan mungkin beberapa hari kedepan juga."jawabnya santai karena mengenal Yesung sebagai teman Ryeowook.
Yesung mengerutkan keningnya. Sakit? Kenapa namja ini tidak bilang dari kemarin? Rutuknya dalam hati.
"Kau tidak mengatakannya kemarin."seru Yesung kesal.
"Sungmin Hyung yang melarangku. Tapi melihat Hyung seperti orang kehilangan arah jika tidak menemukan Ryeowookie Hyung membuatku jadi merasa sedikit kasian. Kkkk~"kekeh Henry. Yesung mendengus.
"Kau terlalu mendramatisir Henly-a. Aku bukan anak ayam yang kehilangan induknya jika tidak bertemu Ryeowook."bantah Yesung. Henry terkekeh lagi.
"Tapi kau terlihat seperti itu Hyeong beberapa hari ini."
"Terserah."balas Yesung ketus."Berikan aku Martini, Henly-a."lanjut Yesung yang segera diangguki oleh namja berpipi chubby dengan nama Henry itu.
.
.DOUBLE KIM.
.
Sungmin baru saja akan merebahkan dirinya di ranjang King Size di apartemennya ketika suara pintu dibuka itu terdengar. Sungmin menghela nafas pelan.
"Pasti Kyuhyun,"gumamnya pelan dan menyamankan dirinya di kasur dan menarik selimut hingga batas dagu.
"Ming,"panggilan Kyuhyun tepat berada di telinganya sekarang. Namja tampan itu sudah membaringkan tubuhnya di samping Sungmin yang baru saja memejamkan matanya tapi belum tertidur.
"Hmm,"
"Aku merindukanmu."ungkap Kyuhyun dan menyelipkan sebelah tangannya di bawah pinggang Sungmin lalu menarik namja itu dalam pelukannya tanpa membalik posisi Sungmin yang memunggunginya. Kyuhyun menghirup aroma Sungmin dalam-dalam.
"Kau tidak merindukanku?"Tanya Kyuhyun karena tidak mendapat jawaban Sungmin untuk pernyataannya tadi.
"Aku juga merindukanmu Kyu. Sangat,"balas Sungmin dan membalik posisinya hinga kini berhadapan dengan leher jenjang Kyuhyun. Namja tampan itu tersenyum yang dibalas senyuman sedih oleh Sungmin.
"Wae?"Kyuhyun mengusap lembut kepala Sungmin. Berusaha menidurkan namja manisnya ini dengan segera.
"Apa yang harus kulakukan?"Tanya Sungmin sedih dan menurunkan sedikit posisinya hingga kini kepalanya tepat berada di depan dada Kyuhyun sebelum melesakkannya kesana. Kyuhyun merengkuhnya.
"Ada apa?"Tanya Kyuhyun lembut. Lupakan fakta bahwa Kyuhyun adalah remaja yang suka mengerjai Hyeongdeul-nya jika diluar. Saat ini Kyuhyun sedang berubah menjadi namja dewasa yang mampu menenangkan Sungmin yang kacau.
"Ryeowookie tidak mau di operasi Kyu. Apa yang harus kulakukan? Hikss,"isak Sungmin di dada Kyuhyun. Sesaat gerakan tangan Kyuhyun yang mengelus kepala Sungmin berhenti sebelum kemudian mengelusnya lagi.
"Tenanglah. Kita bisa membujuknya lagi nanti."ucap Kyuhyun menenangkan.
"Bagaimana kalau dia tetap tidak mau?"Tanya Sungmin cemas.
"Sudahlah. Kita pasti bisa membujuknya nanti. Bukankah kau mau tidur? Tidurlah, aku akan menemanimu."ujar Kyuhyun sambil mengelus punggung Sungmin teratur. Untuk beberapa saat Sungmin bingung dibuatnya. Kemana Cho Kyuhyun yang manja itu sampai bisa mengucapkan kalimat penenang untuknya seperti itu? Namja itu tampak begitu dewasa dengan kata-katanya tadi. Sungmin mengabaikannya dan melesakkan kembali kepalanya pada dada hangat Kyuhyun. Berusaha mencari ketenangan yang tidak di dapatnya selama beberapa hari ini karena sepupunya, Ryeowook, yang begitu keras kepala.
Kyuhyun masih mengelus pelan punggung Sungmin hingga terdengar nafas teratur dari namja dalam pelukannya. Sementara dirinya juga masih berpikir, dari mana Ryeowook bisa mendapat penyakit mengerikan seperti itu sementara keluarganya tidak ada yang memiliki riwayat penyakir kanker. Tapi memang itu tidak menjamin mengingat saat ini penyakit itu tidak hanya di dapat dari keturunan. Kemajuan zaman juga memicu penyakit mengerikan lain untuk muncul. Kyuhyun menghela nafas.
"Aku akan membantumu membujuk namja keras kepala itu Hyung."
.
.DOUBLE KIM.
.
Sungmin melangkah pelan memasuki Bareknuckle Bar. Matanya menatap sekeliling lalu senyum tipis terukir pada M Shape Lips-nya. Ramai. Seperti biasa. Sebenarnya Sungmin bisa saja menanyakan perihal ini kepada Henry yang meskipun tanpa diminta sudah memberikan laporan padanya dan juga Ryeowook. Tapi mengingat Ryeowook yang tidak bisa datang karena masih berada di rumah sakit –meskipun itu karena paksaan lantaran Ryeowook sama sekali tidak suka rumah sakit- juga akhirnya setelah Ryeowok terlelap dan Kyuhyun juga berada di sana, jadilah Sungmin berangkat untuk menengok usahanya bersama Ryeowook yang meskipun, bangunan ini atas nama Ryeowook karena dana pembelian bangunan ini lebih banyak milik Ryeowook.
Namja pecinta warna pink itu melangkah malas menuju meja bar dimana Henry tengah mencampur sebuah minuman untuk seorang namja di depannya. Sungmin mendudukkan dirinya sementara Henry meletakkan gelas itu pada seorang namja di sampingnya.
"Berikan aku Moon River, Henry-ah,"pinta Sungmin dan menyangga kepalanya dengan kedua tangan.
"Ne, Hyung."sahut Henry lalu dengan cepat membuatkan pesanan Sungmin.
Namja di samping Sungmin itu tampak tengah meneguk nikmat cairan Zombie dari gelas panjang ramping miliknya. Sementara Sungmin masih setia dengan posisinya hingga akhirnya Henry bersuara untuk membangunkannya.
"Moon River-mu Sungmin Hyung."
Sungmin mendongak dan meraih gelas cocktail tersebut. Menghirup sebentar cairan kuning orange di dalamnya sebelum meneguknya sedikit. Namja yang di samping Sungmin itu juga menolehkan kepalanya pada Sungmin ketika mendengar panggilan Henry untuk Sungmin tadi.
"Eoh, Sungmin-ah?"seru namja itu, Yesung. Sungmin menoleh lalu membalas sapaan Yesung dengan sebuah senyum kecil.
"Yesung Hyung disini juga. Sedang apa?"Yesung tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan.
"Kau tidak datang bersama Ryeowook?"Tanya Yesung yang masih penasaran dengan keadaan Ryeowook. Sakit apa namja itu sampai beberapa hari ini yang well, Yesung sengaja mendatangi tempat ini untuk melihat Ryeowook ada atau tidak, tidak menampakkan batang hidungnya yang kecil dan bangir itu.
"Ryeowookie masih sakit. Mungin lusa baru bisa datang kemari."jelas Sungmin. Yesung menganggukkan kepalanya.
"Aku juga ingin menjenguknya. Apa boleh?"
Sungmin menoleh cepat. Penasaran dengan namja yang sudah dianggap Hyung oleh kekasihnya itu.
"Kenapa? Tidak boleh?"Tanya Yesung cepat menanggapi keheranan tersirat Sungmin.
"Ani."balas Sungmin cepat."Setelah ini kita kesana."lanjut Sungmin yang segera diangguki oleh Yesung.
Setelah menghabiskan isi gelasnya, Yesung dan Sungmin berangkat untuk menjenguk Ryeowook. Dua namja dalam dua mobil itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sungmin mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit dan Yesung segera mengikutinya. Separah itukah keadaan Ryeowook sampai harus dirawat di rumah sakit? Pikirnya. Yesung masih mengikuti Sungmin bahkan ketika namja itu memarkirkan mobilnya.
"Apa keadaan Ryeowook sangat parah?"Tanya Yesung akhirnya setelah sejajar ketika menuju lift yang akan mengantar mereka ke kamar Ryeowook di lantai 4.
"Bisa dikatakan begitu."jawab Sungmin singkat.
Keadaan hening di dalam lift. Terlebih –entah ini sengaja atau tidak- di dalam lift hanya ada mereka berdua. Lift terbuka dan Sungmin berjalan lebih dulu. Satu kamar sebelum kamar di ujung lorong itu adalah kamar Ryeowook. Sungmin membuka pintunya yang langsung menarik perhatian penghuni di dalamnya.
"Sungmin Hyung, aku mau pulang…"rengekan seseorang menyambut kedatangan mereka. Sungmin masuk diikuti Yesung di belakangnya. Ryeowook segera menutup mulutnya sementara Kyuhyun sudah terkekeh karenanya.
'Memalukan! Apa itu tadi? Rengekan? Dan apa Yesung Hyung mendengarnya? Ck. Memalukan!'pekik Ryeowook dalam hati.
Setelah merutuki dirinya sendiri dalam hati, Ryeowook segera tersadar oleh suara tawa nista dari namja tinggi di samping ranjangnya. Bahkan namja itu sudah memegangi perutnya karena geli melihat ekspresi Ryeowook.
"Apa yang kau tertawakan Cho Kyuhyun."desis Ryeowook. Kyuhyun berusaha menghentikan tawanya sementara Sungmin hanya bisa geleng-geleng kepala. Yesung? Namja itu masih menatap Ryeowook sejak dirinya masuk ke dalam ruangan berbau obat itu.
"Ryeowook-ah,"sapa Yesung. Sontak semua orang mengalihkan pandangan mereka pada namja tampan yang sempat terabaikan di ruangan itu.
"Ah, Yesung Hyung."balas Ryeowook sambil tersenyum canggung. Kyuhyun menatap Sugmin sebentar sebelum kemudian beranjak dari duduknya.
"Baiklah. Bagaimana kalau malam ini Yesung Hyung yang menjaga Ryeowookie? Bagaimana Hyung? Kau setuju?"ujar Kyuhyun tiba-tiba.
"Yak! Kau tidak sopan Kyu. Mana boleh asal menyuruh orang seperti itu. Tidak. Aku yang akan menjaganya sendiri malam ini kalau kau tidak mau."tolak Sungmin cepat. Tentu saja dirinya merasa tidak enak pada Yesung jika langsung seperti itu. Dasar Kyuhyun kurang ajar.
"Gwaenchanha Sungmin-ah. Kau pulanglah. Aku akan menjaganya malam ini."balas Yesung karena dengan senang hati namja itu akan menjaga Ryeowook yang dia harap adalah orang yang dirindukannya selama ini.
"Kau dengar Minimie? Jja, kalau begitu kita pulang sekarang. Ryeowookie, kami pamit dulu eoh. Cepat sembuh oke?"dan dengan sebuah kerlingan nakal, Kyuhyun menarik Sungmin keluar dari kamar rawat Ryeowook.
Suasana canggung langsung menyergap keduanya ketika pintu geser berwarna putih itu menelan bayangan Sungmin dan Kyuhyun. Yesung menduduki kursi yang di tempati Kyuhyun sebelumnya. Namja itu menatap Ryeowook yang entah kenapa belum tidur di jam yang seharusnya sudah tidur. Ditatapnya wajah pucat itu.
"Apa kabar Wookie-a?"
Ryeowook menoleh dan mengulas senyum untuk Yesung.
"Sudah lebih baik Hyungie. Tapi Sungmin Hyung tidak mau memintakan izin pulang untukku."adu Ryeowook lalu mengerucutkan bibir tipisnya. Yesung terkekeh lalu mengacak gemas rambut Ryeowook.
"Yah Hyung! Kau merusak tatanan rambutku."seru Ryeowook kesal.
Yesung terpaku sejenak. Ucapan Ryeowook persisi seperti ucapan Ryeong ketika dirinya suka mengacak rambut Ryeong dulu.
"Hyung, gwaenchanha?"Ryeowook melambaikan sebelah tangannya di depan wajah Yesung. Yesung menoleh dan tersenyum.
"Gwaenchanha. Jja, tidurlah. Ini sudah malam. Bukankah kau ingin pulang? Maka cepatlah sehat. Tidur terlalu malam akan memperburuk keadaanmu."
Yesung membaringkan Ryeowook dengan sedikit –banyak sebenarnya- paksaan. Mengabaikan gerutuan dan kerucutan bibir tipis Ryeowook.
"Tidurlah. Hyung akan menemanimu disini."Yesung menepuk pelan tangan kanan Ryeowook yang terbebas dari infuse.
"Bisa Hyung ambilkan bonekaku di dalam situ?"Ryeowook melirikkan matanya ke meja nakas samping ranjangnya.
"Disini?"tunjuk Yesung pada satu pintu di bawah lacinya. Ryeowook mengangguk dan membiarkan Yesung mengambilkan bonekanya. Biarlah Yesung berpikir Ryeowook kekanakan karena masih menyukai boneka terlebih masih tidur dengan boneka.
"Aku tidak bisa tidur tanpa boneka itu."ujar Ryeowook ketika Yesung membuka pintunya.
Yesung mengangguk dan menjulurkan tangannya untuk mengambil boneka Winnie the Pooh di depannya. Yesung mematung setelah melihat boneka yang ada di tangannya. Mengabaikan tatapan heran Ryeowook, Yesung menatap lekat sebuah tulisan di baju pooh tersebut. Tulisan berupa tanggal itu mengingatkannya pada sesuatu, atau seseorang.
"Ryeong-ah…"
.
.
.
TeBeCe
.
.
.
Aneh? Hehe. Ichi tahu. Jelek? Ichi juga tau. Bahkan mungkin ini udah gag layak baca ya? Rada Ichi cepetin. Hehehe. Sebentar lagi. Satu atau dua chap lagi deh Ichi akhiri semuanya. Kkkk~
Keep reading eoh? Jangan lupa review-nya.
Gomawo~~~ *bow*
