Orange Origami

By: Sazeharu Reito

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/ Comedy

Warning: Banyak Typo, Diksi payah, AU dll

Chapter 7: Way to Victory

"Kalian semua sudah siap?" Naruto berteriak dengan penuh semangat. Sebuah ransel menempel indah dipunggungnya berisi perlengkapan dan bekal dari sang istri. Hari ini Naruto dan Kurama akan menyusup ke kediaman pemerintah untuk membuka segel chakra. Nagato tidak bisa ikut dalam misi ini dikarenakan keadaan kakinya yang lumpuh.

"Semangat sekali kau" Kurama sweatdrop.

"Tentu saja, setelah sekian lama tidak menggunakan chakra akhirnya tiba saatnya untuk mendapatkannya kembali" kata Naruto yang semangatnya tak padam sedikit pun.

Hinata hanya menatap suaminya dengan tatapan penuh kecemasan. Konan dan Nagato juga berada disana. Sementara Pein masih tak sadarkan diri.

"Begitu kita melepas segel chakra, maka kita akan dianggap sebagai pemberontak" kata Kurama.

"Tenang saja, aku bisa memperbaiki segelnya jika kita sudah berhasil menang" kata Nagato dari kursi rodanya.

"Yoshh..! Ikimashou!" Naruto melesat pergi begitu pun dengan Kurama.

"Hati-hati Naruto" kata Hinata dengan suara yang sangat kecil.

Sementara itu...

Hidan juga tampak bersiap untuk pergi. Ia membawa sabitnya dan juga banyak bawahannya "Ini adalah saat yang tepat untuk menyerang" Hidan tersenyum "Kita akan menyerang kedai itu secara bersama-sama"

Sasori hanya terdiam. Sai, Shino, Kiba, dan Lee sudah bersiap "Kita harus berhasil" kata Shino.

"Bagaimana dengan rubah itu? Dia cukup kuat" kata Lee yang merinding ketakutan.

Sai menoleh kearah Lee "Aku mendapat laporan kalau pagi ini dia dan bocah pemilik kedai pergi kesuatu tempat"

"Itu bagus, kita akan menang" teriak Kiba gembira.

"Walaupun begitu, jangan remehkan mereka" Hidan bergerak keposisi terdepan memimpin pasukan "Serang dengan kekuatan penuh"

.

.

Sementara itu, Naruto dan Kurama masih dalam perjalanan. Letak kedai yang cukup jauh dari pusat kota membuat mereka harus menempuh perjalanan lebih lama "Kita akan mampir kesuatu tempat terlebih dahulu" kata Naruto.

Kurama mengendus sesuatu "Mereka sudah mulai bergerak, sebaiknya kita juga cepat"

Naruto dan Kurama berlari secepat yang mereka bisa menuju kesebuah gedung yang cukup tinggi. Lalu Naruto menekan-nekan tombol ponselnya. Tak lama kemudian gadis berambut pink sebahu keluar dari gedung "Ada apa Naruto?" tanya Sakura.

"Tch..Kita sedang dalam misi, kau juga sudah punya istri" celetuk Kurama.

"Hei..Aku cuma mau minta bantuannya, dialah satu-satunya dokter yang kukenal" Pamdangan Naruto beralih ke Sakura "Tolong datanglah ke kedaiku dan obatilah temanku, aku sedang ada urusan"

Sakura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal "Heh? Ba-Baik"

Naruto membungkuk "Terima kasih, aku pergi dulu" Naruto dan Kurama kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju pusat kota tempat kediaman pemerintah berada.

"Apakah kau sudah benar-benar siap?" tanya Kurama sambil terus berlari disamping Naruto.

"Tidak ada pilihan lain kan? Aku harus siap" jawab Naruto "Lagipula aku cukup mengenal pemerintah kita"

"Dia perempuan kan?" tanya Kurama.

Naruto mengangguk "Tapi jangan macam-macam dengannya, pukulannya bisa sangat kuat hingga membunuhmu, pertahanan disana juga ketat"

"Kau meremehkanku? Polisi biasa tidak akan bisa menghentikanku" Kurama tersenyum.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, kediaman pemerintah tampak dihadapan mereka. Bangunan yang paling besar diantara bangunan lain itu dijaga oleh beberapa polisi. Menurut rumor, gulungan segel berada di lantai paling atas tepatnya dikamar pemerintah.

"Kita pura-pura menghadap pemerintah saja" kata Kurama sambil memperhatikan kediaman pemerintah.

"Orang biasa tidak akan dibiarkan menghadap dengan mudah, waktu kita tidak banyak" Naruto mengepalkan tangannya "Kita terobos" Kurama dan Naruto berlari kearah kediaman pemerintah. Tentu saja pergerakan mereka diketahui oleh penjaga.

"Siapa mereka?" kata penjaga 1.

"Tidak tau tapi kita harus menghalangi mereka" tegas penjaga 2 yang telah bersiap dengan kunainya.

Naruto juga mengeluarkan kunainya lalu melempar kunai tersebut kearah penjaga. Serangan Naruto yang terang-terangan itu dengan mudah dapat ditangkis oleh penjaga "Tch..kau ini bodoh ya?" geram Kurama.

Kurama mengeluarkan ke-9 ekornya dan menerjang para penjaga. Penjaga berusaha menyerang Kurama tetapi semua serangan penjaga dapat ditangkis oleh ekor Kurama. Dengan satu serangan cakar, para penjaga langsung tumbang "Ini baru namanya serangan" kata Kurama menyombongkan dirinya.

"Berisik" geram Naruto kesal "Ayo cepat masuk" Naruto membuka pintu dan seketika itu juga beberapa kunai melesat kearah Naruto "Perangkap!? Hwuaa!" Naruto masih beruntung karena berhasil menghindari semua kunai tersebut "Fuuhh.." Naruto menghela nafas lega sambil mengelus dadanya.

"Hampir saja" Kurama tersenyum meledek. Naruto membalasnya dengan ekspresi kesal "Ayo cepat"

## Ore Gami ##

"Permisi" Sakura mengetuk pintu kedai Naruto.

Hinata membuka pintu "Sakura, syukurlah kau datang" Hinata mempersilahkan Sakura masuk. Dan setelah Hinata menjelaskan detailnya, Sakura langsung memeriksa Pein yang terbaring "Racun ini!? Sepertinya aku pernah mempelajarinya" kata Sakura.

"Kau bisa menyembuhkannya kan?" Konan terlihat sangat cemas, ia tak ingin Pein mati begitu saja.

"Aku akan berusaha semampuku" Sakura tersenyum pada Konan.

Sementara itu, pasukan Hidan dan Sasori kini telah berada sangat dekat dengan kedai Naruto. Mereka benar-benar jadi pusat perhatian dikota. Terlebih lagi karena Sasori yang sekarang merupakan buronan Suna "Kita benar-benar terkenal" kata Hidan sambil tertawa.

Lee melambai kearah warga yang melihatnya "Hai!"

"Hei! Kau benar-benar tak tau malu" kata Kiba yang kini bergerak agak menjauh dari Lee.

"Kita akan segara sampai" kata Shino.

.

.

"Kita kini berada dilantai 2" Naruto dan Kurama berlari dikoridor yang cukup panjang. Tangga menuju lantai 3 terlihat didepan mereka "Bangunan ini terdiri dari 4 lantai jadi kita sudah cukup dekat"

Seseorang tampak turun dari lantai 3 ke lantai 2. Ia pun melihat Naruto dan Kurama. Laki-laki berambut putih dengan semacam kain yang menutupi mulutnya, namanya adalah Kakashi "Hn?"

"Siapa dia?" tanya Kurama.

"Hmm.." Naruto mencermati muka lelaki itu "Entah"

'Dia melupakan wajah guru SMAnya dulu' batin Kakashi sweatdrop "Naruto! Mundurlah!"

"Kau tau namaku? Hmm..siapa kau ya?" Naruto kembali meneliti wajah Kakashi.

"Sudahlah jangan terlalu membuang waktu, ayo maju Naruto" Kurama maju menerjang Kakashi. Sementara Kakashi yang mengenakan sarung tangan elektrik mengeluarkan listrik dari tangannya dan menyerang Kurama.

'Cepat sekali..' batin Kurama. Kakashi kini sudah berada disamping Kurama dan menghantamkan listrik kebadan Kurama membuatnya menabrak dinding koridor hingga hancur.

"Kurama!" teriak Naruto mengkhawatirkan Kurama.

Kurama kembali muncul, menerjang Kakashi sekali lagi menahan pergerakan Kakashi dengan ekor-ekornya "Pergilah Naruto! Aku akan menahannya"

"Tapi.."

"Cepatlah dasar bodoh, aku tidak bisa menahannya lama" Keringat mengalir dari pelipis Kurama. Ia berusaha sekuat tenaga menahan Kakashi yang juga mengerahkan semua kekuatannya untuk melepaskan diri.

"Baik" Naruto berlari melewati Kurama dan Kakashi naik kelantai 3. Beberapa penjaga lagi-lagi menghadang "Sial!" Naruto berlari menembus mereka dengan bekal sebuah kunai. Naruto menebas para penjaga meskipun ia juga terkena serangan.

Naruto berhenti sejenak. Semua penjaga lantai 3 sudah tergeletak lemah dibelakangnya. Naruto benar-benar kelelahan. Naruto terkaget, ia mendengar derap langkah dari tangga menuju lantai 4. Seorang wanita berambut blonde dengan sebuah lambang berlian didahinya serta dada yang super besar muncul.

"Kau rupanya..Naruto" Wanita itu menatap Naruto yang kelelahan.

'Ini buruk' batin Naruto kesal "Tsunade.."

Tsunade berlari dan melayangkan pukulan kearah Naruto. Naruto mengerahkan sisa kekuatannya untuk menghindari pukulan itu. Dinding terkena pukulan itu langsung hancur berkeping-keping "Kalo terkena maka aku akan mati"

Tsunade kembali melayangkan pukulan. Naruto sudah tak dapat menghindarinya, Naruto menahan pukulan itu dengan menyilangkan kedua tangannya. Serangan Tsunade terlalu kuat, Naruto masih terpental jauh kebelakang.

"Sakit sekali.." Naruto berusaha bangkit tapi kembali terjatuh. Tsunade berjalan santai menghampiri Naruto yang sudah kehabisan tenaga. Sebuah pukulan telah siap dilayangkan.

Tiba-tiba lantai tempat Naruto dan Tsunade berpijak hancur. Kurama yang berada dilantai 2 kini muncul dengan menenteng Kakashi pada salah satu ekornya "Aku tepat waktu" kata Kurama.

"Kyuubi.."

Kurama melempar Kakashi kearah Tsunade. Tsunade menangkapnya lalu meletakkan Kakashi dibelakangnya. Kurama sudah berada didepan Tsunade dengan cakar yang siap menyerang.

SHAAASSHH..

Tsunade terjatuh. Sementara Kurama terengah-engah "Berhasil"

## Ore Gami ##

Wajah Pein yang semula agak membiru kini sudah membaik tapi ia masih belum sadarkan diri "Racunnya sudah kukeluarkan, dia akan segera sadar" kata Sakura sambil melepas sarung tangan karetnya.

"Syukurlah" Hinata dan Konan merasa lega sekarang.

-Tok..Tok..Tok..-

"Siapa itu?" Hinata berjalan menuju pintu dan membukanya. Mata Hinata terbelalak melihat siapa yang datang.

"Si.." Konan yang menyusul Hinata juga terkaget "Ka-Kau!?"

"Hai" Hidan melambai sambil tersenyum. Sasori terlihat berdiri dibelakang Hidan "Kau sepertinya baik-baik saja Konan"

"Kau yang menyerang Pein?" Sebuah gambaran terlintas cepat dipikiran Konan. Gambaran tentang masa lalunya, gambaran tentang hilangnya Pein "Ka-Kau? Hidan!?"

"Ya, nampaknya amnesiamu tiba-tiba sembuh ya? Kau harus berterima kasih padaku" kata Hidan "Tapi tak ada waktu untuk itu, serahkan saja Pein"

"Tidak akan!" teriak Konan.

Hidan menaikkan salah satu alisnya "Hn? Kau bisa apa?" Hidan mengacungkan sabitnya.

"Serahkan saja Konan" kata Sasori datar.

"Tidak!" Konan menggeleng "Tidak akan!"

Pein yang masih terbaring ditempat tidur tampak sedikit bergerak. Kelopak matanya mulai terbuka. Perlahan ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah mencari seseorang. Pein menoleh kearah pintu masuk.

"Diam kau!" Hidan mengayunkan sabitnya mengenai Konan hingga terjatuh. Darah mengalir dan menetes membasahi lantai.

Mata Pein terbelalak "Ko-Konan!"

~o0o To be Continued o0o~

A/N:

Hohoho..ini chapter yang agak pendek ya? Dan chapter depan mungkin akan lebih pendek lagi XD *plak* karena mungkin next chap akan menjadi chap terakhir hore..!

Hidan: Peran ane dikit amat

Ya emang gitu, nanti kalo aku terinspirasi buat fic tentangmu baru peranmu banyak :)

Hidan: Jiahh..

Mind to Review?