Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

Violinist

.

.

.

.

.

Chapter 7

.

.

.

.

.

Chorus I

Rabu

Sasuke POV

Hinata tak membantu sama sekali untukku mengambil sebuah keputusan. Aku tahu kalau dia cemburu, saat membicarakan hal ini kemarin. Nampak dari tatapan mata, dan juga intonasinya saat berbicara denganku.

3 tahun bukan waktu yang singkat untuk kami saling mengenal satu sama lain. Bukan, tepatnya 6 tahun sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah ini.

Aku masih sangat mengingatnya. Saat pertama kali bertemu dengan Ayah Hiashi di gedung theater fakultas seni Universitas Tokai. Dia seperti maestro di bidang seni musik, dengan segala keterbatasannya secara fisik. Sejak penampilannya saat itu, aku pun menemui beliau dan memohon padanya untuk membimbingku dalam belajar musik.

Hinata masih duduk di sekolah menengah. Dia Gadis yang ramah sekaligus pemalu. Namun aku sangat salut dengannya. Di umur yang masih menginjak remaja, dia sudah mampu hidup mandiri. Ayah Hiashi hampir tidak pernah pulang karena kesibukannya dalam perjalanan tur, meninggalkan Hinata sendiri di rumah.

Setelah kedatanganku ke kediaman Hyuga. Akulah yang bertanggung jawab atas semuanya. Aku tak tahu, kenapa Ayah Hiashi begitu percayanya padaku untuk mengurus studio dan rumahnya, dan juga secara tidak langsung menjaga Hinata.

Aku ingat saat Hinata memanggilku, Sasuke-nii-san, senarku putus. Bisakah kau memasangkan yang baru untukku? Sembari memeluk cello ungu miliknya, hadiah dari Ayah Hiashi dari perjalanan turnya ke Tokyo.

Sepertinya aku harus menertawai diriku sendiri, jika mengingat sekarang aku sudah menjadi suami dari adik kecilku dulu.

Sebagai kakak, aku sangat menyayanginya. Namun setelah menjadi suaminya, aku baru menyadari bahwa, perasaan ini lebih dari sekedar rasa sayang terhadap seorang adik. Ini lebih kompleks. Ini posesif dan mungkin sedikit egois. Aku tak tahu dengan pasti, berapa kali aku pernah menekannya dengan keinginanku.

Momen seperti ini selalu membuatku tenggelam dalam nuansa nostalgia. Saat aku melihat dan mengamati Hinata dengan segala kemahirannya mengurus rumah tangga kami. Menyiapkan segala keperluanku, tanpa kurang satu apapun.

Dia selalu bangun lebih awal untuk mempersiapkan sarapan, lalu mencuci baju sebelum berangkat ke kampus. Rumah ini selalu terlihat bersih dan rapi di setiap sudutnya, setelah aku terbangun saat pagi—setiap hari sejak kami menikah.

Terkadang aku berpikir, untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga agar membantu tugas Hinata di rumah. Namun dia menolaknya sebelum aku bertindak lebih lanjut, dengan alasan bahwa, segala hal itu sudah menjadi hobinya, entah sejak kapan.

Terkadang juga aku memikirkan hal lain. Apakah ada seorang lain yang dia sukai? Aku memahami situasi hubungan kami, yang mungkin—bukan mungkin, tapi sudah pasti dikarenakan kondisi yang memang memaksa.

Bibirku serasa terkunci rapat untuk bertanya, di sela menyantap sarapan dengannya atau di kesempatan lain yang memungkinkan kami untuk bicara empat mata.

Seperti sekarang di sofa ruang tamu, saat Hinata memasangkan dasi pada kerahku. Dia terlihat menikmati perannya sebagai seorang istri, saat senyuman mengembang di sudut bibirnya.

"Hinata," ujarku, di sela kegiatannya membuat simpul pada dasiku.

Tanpa menoleh, dia menjawab dengan hanya menggumam. Sekali saja manik Amethyst-nya melirikku, membuatku harus mengubah topik pembicaraan yang masih menggantung di kepalaku sebelum akhirnya kuucapkan.

"Apa kau yakin dengan yang kemarin?" tanyaku.

Hinata sudah membereskan dasiku, tersenyum simpul saat menatapku, kemudian mengangguk, "Tentunya kau juga ingat apa yang kukatakan kemarin, bukan?"

"Ya, mungkin lusa kita akan memulai latihan," jawabku, sebelum mengecup surai indigo beraroma lavender yang menutup dahinya. "Kita harus segera berangkat," ujarku, setelah mengecek arloji di lengan kananku.

"Aku akan mengambil tasku di kamar. Kau berangkatlah lebih dulu," ujarnya, kemudian beranjak menuju tangga.

Aku memikirkan suatu ide konyol yang mungkin Hinata akan menolaknya seperti biasa. Tidak ada salahnya mencoba, entah mengapa aku ingin melakukannya.

Beberapa saat menunggu, dan suara langkah kaki mulai kembali terdengar dari lantai atas, mengikuti bunyi pintu yang dibanting dari kamar Hinata. Aku mengecek kembali arloji saat Hinata sudah berdiri di depanku.

"Kenapa masih di sini?" tanyanya.

Aku tersenyum, "Tinggalkan mobilmu, kau berangkat denganku." Dia terlihat kebingungan, saat aku mulai menggenggam lengannya. "Sekali ini saja, jangan menolak, Hinata," ucapku.

"Tapi—"

"Kita punya banyak alasan, Hinata," ucapku memotong kalimatnya, sembari mengedipkan sebelah mata menggodanya, "Kita akan terlambat, jika terus bicara," tukasku.

Tidak ada penolakan kali ini. Hinata hanya diam saat sesekali aku menolehnya yang duduk di sebelahku. Jalanan sekitar Kanto nampak sepi hari ini, biasanya, antrean panjang selalu memadati lampu merah sebelum Universitas Tokai.

.

.

.

.

.

.

Hinata terus menatapku saat aku mulai membuka pintu untuknya. Terlihat gugup dengan senyuman yang dia tunjukkan saat ini, saat aku meraih lengannya untuk keluar dari mobil, sebelum menutup kembali pintu mobil..

Beberapa mahasiswa masih berkeliaran di area parkir. Mereka menatap kami yang berjalan beriringan menuju lobby fakultas seni. Aku hanya mengenal beberapa mahasiswa dan membalas senyuman ramah yang mereka berikan. Tidak—aku hanya menutupi kecanggunganku dengan situasi yang tidak biasa ini.

Keheningan di antara kami masih bertahan sampai hampir tiba di lobby. Lebih banyak mahasiswa yang berkeliaran di sekitar sana. Menatap kami dari kejauhan, seolah menyelidik, mencari maksud kebersamaan kami berdua pagi ini.

Bisa kupastikan, beberapa dari mereka adalah mahasiswi kelas drama. Aku tak begitu mengenal masing-masing dari mereka, hanya saja, rumor yang beredar mengatakan bahwa mereka merupakan penggosip yang handal.

Aku harus memuji kemampuanku untuk menebak, saat mendapati sosok gadis berambut pink yang terlihat mencolok di antara mereka. Dia tersenyum ke arahku.

Dengan reflek aku langsung menoleh ke arah Hinata. Seperti dugaanku, Hinata tersenyum kecut menatapku, yang kubalas senyuman lepas hampir tertawa.

"Lihat wajahmu sekarang, Hinata," ucapku menahan tawa. Sungguh aku tak pernah sekalipun melihat ekspresinya seperti ini, setelah selama ini mengenalnya.

Mendengus kasar, Hinata pun menjawab, "Jangan menggodaku, Sasuke-sensei," hardiknya.

"Maaf, aku lupa jika aku harus menjadi sensei di sini," ujarku.

Beberapa saat kembali berjalan, sampai kami tiba di persimpangan lorong, dan kami pun berpisah. Aku menuju ke kantor dosen, dan Hinata entah mungkin akan ke mana sebelum kelasku dimulai.

"Ohayou," sapaku kepada dosen yang sudah hadir di kantor. Sibuk di meja masing-masing, tanpa menghiraukanku sama sekali.

Hanya satu orang yang menyambutku, tentu saja, si merah liar berkacamata. Aku tidak membencinya sama sekali, hanya saja, dia terlihat terlalu menyedot atensi siapapun dengan penampilannya yang serba merah. Aku suka tomat, selama itu masih buah atau sayuran, tapi bukan manusia. Bukan, dia lebih mirip cabe. Sial, aku tidak bermaksud mengolok penampilannya.

"Ohayou, Sasuke-sensei," sapanya, yang duduk di meja sebelahku, sebelum kembali tenggelam dengan berkas-berkasnya.

Aku duduk di mejaku, menunggu seseorang yang akan datang sesuai janji kami. Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku sebelum pulang kemarin, memang itu kebiasaanku, meski harus pulang larut malam.

Aku mulai bersandar, menyamankan posisi di kursiku dengan jas hitam yang sudah bertengger di punggung kursi. Cuaca hari ini terasa lebih panas, bahkan pendingin ruangan di sini tak membantu tubuhku yang mulai memproduksi keringat lebih banyak.

"Menunggu seseorang, Sasuke-sensei?"

"Hn."

"Apa kau berniat mengencani mahasiswa di sini?"

Aku menoleh ke arah Karin, sebelum menatap ke arah pintu yang sudah menampilkan sosok yang aku tnggu sedari tadi. "Aku tidak berkencan di kantor, Karin," ucapku menjelaskan.

Karin menyeringai, sebelum kembali dengan pekerjaannya.

Aku kembali membenarkan posisi dudukku, sebelum membenarkan dasiku yang sedikit berantakan.

"Duduklah."

Sakura menatapku, "Terimakasih."

Aku mengangguk, menopang dagu dengan lengan yang bertumpu di mejaku. "Aku tidak akan berbasa-basi. Lusa kita akan memulainya." Aku berpikir sejenak, sebelum teringat sesuatu, "Ah iya. Kita akan berlatih bersama Hinata dari kelas musik," tukasku.

Sakura nampak antusias, dengan senyum yang mengembang di bibirnya, "Benarkah, Hinata? Terimakasih Sensei!" ujarnya riang.

Aku terkejut saat Sakura menggenggam tanganku yang sudah terlepas dari daguku. "Maaf, kau bisa kembali ke kelasmu. Aku akan segera mengajar sebentar lagi," ujarku sembari menarik lenganku.

Aku bisa lega, karena Karin tak melihat interaksi kami barusan. Dia terlihat masih sibuk dengan berkasnya, saat aku menolehnya sekilas. Aku bisa menebak, jika dia akan berpikir yang tidak-tidak. Atau mungkin menyebar gosip murahan.

Sakura beranjak dari tempat duduknya di depanku, lalu membungkuk badan. "Terimakasih Sensei," tukasnya sebelum aku mengangguk, kemudian pergi meninggalkan kantor.

Aku sudah mengatakan apa yang harus katakan. Kuharap tidak terjadi hal yang aneh nantinya, karena aku melihat gelagat yang tidak biasa dari Sakura. Ini bukan pertama kali aku berinteraksi dengan gadis atau wanita lain. Bukan berarti aku berhubungan dengan mereka secara lebih intim, tapi aku bisa menebak sebuah keinginan melalui ekspresi wajah mereka.

Aku tak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak, karena lusa kita akan memulai pelatihan. Dan sekali lagi, aku berharap banyak pada kemampuan Hinata. Karena aku berjanji pada diriku sendiri, akan selalu mendukung dan membantu ambisinya. Seperti apa yang sudah pasti Ayah Hiashi akan lakukan, jika beliau masih hidup.

.

.

.

.

.

.

Hari ini aku pulang lebih awal, sebelum semburat jingga memudar di langit Kanto. Mobilku sudah terparkir rapi di samping mobil Hinata. Sejenak melepas lelah, menggenggam erat setir mobil yang sudah basah oleh keringat.

'Hinata aku pulang.'

'Apa yang sedang dia lakukan sekarang?'

Bermonolog dalam batin, saat membuka pintu rumah. Sepi. Ruang tamu tak menampilkan sosok bersurai indigo yang selalu berbaring di sofa saat aku pulang dari aktifitas yang melelahkan.

Mencari penawar atas kejenuhanku seharian ini, hanya Hinata dan aku belum menemukan sosoknya setelah sampai di pintu dapur. Gelap. Tidak ada suara deru mesin cuci ataupun aktifitas kecil yang biasa dia lakukan di sini.

"Hinata?" panggilku tanpa berjawab, saat sudah kembali ke ruang tamu.

Aku mulai mencari sandaran untuk punggungku yang terasa kaku setelah seharian mengajar di kampus. Menenggalamkan tubuhku pada busa sofa yang tak senyaman seperti biasanya. Tanpa Hinata, tempat ini tak membantu mengurangi lelahku sama sekali.

Perasaanku mulai gusar, setelah setengah jam tenggelam dalam kebuntuan. 'Kemana Hinata?' Semalam saja aku tak melihatnya, mungkin aku bisa mengalami stress ringan.

Beranjak dari tempatku, lalu menggapai saklar lampu ruang di samping pintu. Sejenak menghela napas sebelum melepas jas hitamku, lalu melemparnya asal-asalan ke atas sofa.

Dengan penuh rasa was-was, aku mulai berjalan menuju kamar Hinata. Sekilas mengintip ke dalam studio untuk memastikan. Dan kosong. Gelap.

Ruangan ini sangat khas aroma Hinata, namun aku tak melihat sosoknya ataupun tanda-tanda keberadaanya. Kamar mandi terlihat gelap dari celah pintunya yang sedikit terbuka.

Aku kembali berpikir saat sudah terduduk di pinggir ranjang Hinata. 'Kemana dia pergi malam-malam begini?' Pandangan mataku mendapati ponsel Hinata yang tergeletak di meja kecil samping ranjang.

Aku tak ingin mengecek ponselnya, hanya saja ini sangat tak wajar bagiku. Mencoba berpikir positif atas situasi saat ini, namun otakku seperti mati ide untuk membayangkan hal positif yang mungkin Hinata lakukan.

Apa mungkin karena Sakura? Dia setuju dengan hal itu, dan dia nampak baik-baik saja meski dengan memberi syarat. Kurasa Hinata tak sebodoh itu untuk bertindak berlebihan.

'Tapi kau tetap bodoh, Hinata. Seharusnya kau menghubungiku dulu jika ingin pergi malam begini,' batinku seolah memarahi Hinata.

"Sasuke?"

Aku terkejut saat mendengar suara Hinata, "Kemana saja kau? Dan kenapa meninggalkan handphone-mu di rumah?"

Aku menatap Hinata yang berjalan mendekatiku, kemudian menaruh kantong plastik di atas meja, "Kau lihat?" ujarnya sembari menunjukkan kantong plastik berlabel nama mini-market yang hanya berjarak 1 blok dari rumah kami.

Hinata menatapku seolah mengejek, "Ya, kau tahu. Aku terlalu khawatir," ucapku, sebelum meraih lengannya lalu menariknya untuk duduk menyamping di pangkuanku. Dengan tanpa aba-aba, lengannya langsung mengalung di leherku.

Aku memeluknya erat, seolah tak ingin kehilangan dirinya lagi. Menghirup aroma tubuhnya, seolah kepergiannya sangat lama dariku. Seperti candu, saat bibir kami mulai menyatu. Menghisap nektar yang selalu sanggup untuk menghapus lelahku dengan sekejap.

Aku tak sanggup menahan perasaan ini lebih lama. Untuk memilikinya, bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya. "Hinata, aku mencintaimu."

Iris Amethyst-nya menatapku sayu, saat tangannya mulai menyentuh pipiku. Terasa dingin namun juga hangat secara bersamaan. "Sasuke. Terimakasih karena telah menungguku selama ini," ucapnya saat kemudian mendorong tubuhku sampai terbaring di atas ranjang. Diikuti oleh tubuhnya yang menimpaku, sampai kurasakan aroma lavender dari kepalanya yang bersandar di dadaku. Aku pun tak kuasa untuk menahan diriku, untuk menyentuh surai indigo-nya yang lembut dan wangi.

Hinata kembali bicara, "Aku baru menyadari, jika aku benar-benar mencintaimu, Sasuke. Lebih dari rasa cintaku terhadap Ayah. Aku tahu dengan pasti tentang perasaanku saat ini bahwa, aku menginginkanmu lebih dari apapun."

Perasaan nyaman mulai merambat dari dalam dadaku, setelah mendengar ucapannya barusan. Mulai sekarang aku tak lagi merasa jika aku telah menekan egoku—hasratku kepadanya.

Waktu terasa bergulir begitu cepat, dengan hawa panas yang menaungi pergulatan kami. Aku tak tahu lagi, sudah berapa lama kami beradu di ranjang ini. Aku benar-benar hilang sekarang.

Hinata duduk di atas pinggulku, tanpa mengenakan pakaiannya barusan. Tubuh kami telah menyatu seutuhnya. Dia pun mulai bergerak dan menggoyang, menghantarkan gairah yang semakin memuncak setiap gerakannya naik dan turun.

Sesekali erangan lolos dari bibir manisnya, saat aku mencengkeram pahanya agar memberikan tekanan yang lebih setelah kembali beradu dengan pinggulku berulang kali. Tangannya kecilnya sudah basah yang mendorong dadaku, seolah menopang tubuhnya semakin memberat.

Hinata terus meracau, "Sasuke," ucapnya parau. Gerakannya semakin melemah di atasku, aku pun mulai melakukan penetrasi dengan tempo yang lebih cepat.

Hinata semakin menggila, dia berteriak namaku. Meremas dadaku, saat aku semakin cepat mengguncang tubuhnya.

"Sasuke. Aku—"

Aku akan segera keluar di dalam tubuhnya. Semakin dalam menusuknya, sampai Hinata terkulai lemas di atas tubuhku. Dia sudah habis sekarang diikuti olehku yang memuntahkan cairan hangat—yang mulai mengalir di sekitar pahaku

Aku merengkuh tubuhnya lalu menghisap lehernya, sembari menghabiskan sisa gairah yang masih terus mengalir di bawah sana. Hinata hanya terdiam dengan mata yang memejam dan senyuman yang tersungging di bibirnya.

Waktu berlalu tanpa terasa, dengan tubuh kami yang masih menyatu. Aku tak ingat berapa kali aku membuat tubuhnya berguncang. Aku terus melakukanya hingga kesekian kalinya, yang kini aku sudah berganti posisi menindih tubuhnya.

Hinata terus berteriak meracau, dan mencengkeram punggungku hingga terasa perih di kulit. Aku menciuminya, menghirup aroma tubuhnya, lalu memberikan jejak kissmark di dadanya. Aku sudah kacau sekarang, Hinata pun begitu. Sprei kasur sudah basah oleh keringat kami.

Hinata nampak kelelahan setelah berjam-jam kami beradu di atas ranjang. Matanya kini memejam, napasnya tak beraturan. Wajahnya basah kuyup oleh keringat, saat aku mulai mengusapnya.

Aku mengecup keningnya dan, "Selamat malam."

.

.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

.

.

A/n

Salam dari Author kentang, Hama Hitam.

Maaf, sekali lagi kalau chapter kemarin kurang memuaskan.

Tapi Hama akan selalu berusaha untuk melanjutkan fiksi ini, dan akan terus belajar menulis dengan lebih baik lagi.

Jika masih ada kekurangan tolong disampaikan melalui kolom review atau pm.

Saya ucapkan terimakasih atas semua review yang telah mendukung fiksi ini dari awal publish hingga sekarang.

Maaf untuk review yang nggak kebalas lewat pm. ^_^

Review dari kalian sangat berarti selama ini.

Thanks to:

NurmalaPrieska, sasuhina69, LovelyLany, Reichan Hiyukeitashi, indiogoraven.37, Yoshioka19, chacha, Anonym, Phia645, HipHipHuraHura, ade854 II, Miyuchin2307, ana, hinatachannn2505, AytTri Wn573, sasuhinaF, imamanur2, Guest, baenah231, , lovely sasuhina, subuhdibulanoktober.

Dan guest review dan anonym yang lain.

.

.

.

.

.

Semoga Menghibur

.

.

.

.

.

Terimakasih