(a/n) Bacanya pelan-pelan aja, sambil dengerin lagu juga boleh, karena chapter ini lumayan pendek—padahal emang selalu sedikit. Happy reading~
"Eren-kun!"
.
BaekPuppy berlari-lari kecil, melambai riang menghampirinya. Pakaian Survey Corps cokelat ketat memperhatikan sepenuhnya lekuk tubuh ramping terutama di bagian dada yang menggembung.
Sangat menawan.
Lihatlah bibir strawberry mungil dan wajah manisnya yang bersemu padam itu!
Nnh— benar-benar menggoda.
"Ayo cepat, kita harus berfoto dengan background sakura di sana!"
Kenapa ia bisa berdandan begitu sempurna seperti Historia Reiss tercintanya. Bertemu dan menghabiskan waktu dengannya saja sungguh seperti mimpi.
Ahh... She such an angel.
Rambut pirang lembutnya tergerai lurus sebahu, mengayun indah dimainkan angin sore. Jemarinya lentik, terulur menggenggam balik jari-jarinya yang berkeringat dingin. Tubuh molek yang tidak terlalu tinggi itu mengelayut sepenuhnya pada lengannya, membuatnya bisa merasakan keseluruhan tubuh bagian depan sang dewi.
Ia meremang, untuk suatu alasan yang entah apa itu membuatnya berhenti dari langkahnya.
BaekPuppy mendadak terpaku merasakan genggaman Chanyeol terlampau kuat, sedikit banyak menyakiti pergelangan tangannya yang mulus tanpa cacat. Ia mendesis, sakit memang, tapi bukan masalah besar.
BaekPuppy menatap bingung Chanyeol yang memilih menunduk dalam. "Kenapa?" dia bertanya heran. Melayangkan tatapan penuh kekhawatiran padanya. Tapi Chanyeol malah berpaling, melepas segala kontak kulit dengannya, memilih mengepalkan tangannya sendiri alih-alih menggenggam lembut jemari sang idola.
Chanyeol tahu, tanpa melihat pun, ia tahu jika wanita itu mengkhawatirkannya. "Ada apa? Apa aku tidak boleh menggandengmu?" suaranya bergetar.
Chanyeol bisa merasakan rongga dadanya menciut tanpa sebab.
"Bukan, aku tidak keberatan! Jangan berpikir konyol seperti itu lagi."
"Lalu? Kau aneh, Chanyeol."
Ia menggeleng. "Kenapa... Kenapa kau melakukan itu padaku?"
Kenapa kemarin kau mencium Satu pertanyaan krusial yang sulit sekali diucapkan. Chanyeol kikuk, dia bingung. Ia tak mampu mengungkapkan segala bentuk pertanyaan yang membuncah di otaknya, serasa ingin meledak.
Ia bisa melihat wanita itu mendekat, tubuh berbalut seragam yang sama persis dengannya bergerak samar mendekat. Cahaya matahari sore menghalangi raut tak terbaca sang bidadari surga.
Telunjuk BaekPuppy mengarah padanya, menunjuk tepat hidung bangirnya. Ia mengangkat dagunya tinggi, mengisyaratkan Chanyeol untuk menatapnya dalam. Pemuda itu menatap mata cokelat madu yang berkilat indah diterpa mentari senja.
Cantik.
Sangat cantik.
"Aku menyukaimu."
Chanyeol hanya bisa terdiam menyaksikan bibir berpoles lipstik pink itu mengeja lamat-lamat tiap suku katanya, sebelum dada sang idola menabrak tubuh Chanyeol kuat dan akhirnya menarik leher belakang Chanyeol mendekat.
Jangan-jangan!
Dia akan melakukannya—
Nngh—lagi?!
.
.
.
COSPLAYER(S) milik KVINNALMAZ
KOI WA NANAIRO SHICHIHENGE milik Deco Yamano
EXO milik Tuhan, orang tua dan fans mereka
.
Don't be plagiarism!
.
COSPLAYER(S)
Chapter 7 - Senpai
.
.
.
Permulaan hari yang penuh kesialan.
Gara-gara ulah BaekPuppy —alias Baekhyun— cosplayer yang menciumnya sembarangan tanpa izin di taman kemarin, membuat Chanyeol harus memimpikannya malam ini dan berakhir dengan kantung mata yang menghitam.
Ya, yang tadi itu hanya mimpi.
Semuanya.
Termasuk bagian yang disensor juga.
Sungguh menyedihkan untuk ukuran seorang otaku jomblo enam belas tahun macam dirinya.
Err— tidak ada yang aneh dengan memimpikan orang yang kau sukai, kan, Park Chanyeol?
Jujur saja, ya, Chanyeol masih belum menerima kebelokannya.
Memang tidak aneh. Tapi kalau Chanyeol malah harus terkena mimpi basah di pagi hari—dini hari sebenarnya—dan tidak bisa tertidur lagi, apa itu tidak bisa dibilang aneh?
Hmm, tidak aneh, kok.
Hanya mesum.
Chanyeol jadi mirip Tomoki Sakurai dari Sora no Ososhimono saja.
Duh!
Padahal cuma ditempeli tubuh mungil bersumpal busa di dada palsu dan beberapa adegan grepe-grepe ambigu saja sudah membuat Chanyeol harus 'mengurut' diri sendiri di kamar mandi, apalagi jika ia melihat keseluruhan tubuh telanjang sang idola suatu saat nanti?!
Wow, bahkan ia tak tahu kalau ternyata introvert macam dirinya sudah berbakat jadi tukang pijat sejak masih dini.
Pijat daerah tertentu, tentu saja!
Sumpah! Membayangkan saja Chanyeol tidak berani. Ia takut mengusik ketenangan adik kecilnya lagi.
'Ahh... S-senpai—'
E-eh!
Stop, imajinasi mesum! Cukup di rumah saja, jangan di sekolah!
Chanyeol menghela pasrah, menenggelamkan wajahnya di balik lengan yang terlipat di atas meja baca. Ia lelah berfantasi, tubuhnya lelah berimajinasi, adiknya lelah berdiri. Chanyeol butuh tidur sejenak. Mungkin istirahat siang ini bisa dimanfaatkan Chanyeol untuk mengganti waktu tidurnya yang tersita adegan plus-plus gagal tadi malam, dan sekaligus meredakan tonjolan kasat mata di bawah sana. Kebetulan sekali Kim-saem yang mengajar setelah ini sedang ada keperluan dinas di luar kota. Dengan kata lain, kosong untuk 2 jam berturut-turut.
Yeah, surga!
Sepertinya Dewi Kesialan masih ingin bermain-main.
"Ah, kau di sana. Chanyeol~!"
Baru saja Chanyeol ingin menutup mata, tiba-tiba saja tubuhnya sudah terlonjak dari kursi karena terlalu kaget.
Siapa lagi yang memanggilnya dengan suara nyaring dengan frekuensi tidak bisa dibilang manusiawi seperti itu di dalam perpustakaan sekolah?
Byun Baekhyun orangnya.
"Uh, responmu buruk sekali." Mengerucutkan bibir, Baekhyun duduk manis mencari posisi nyaman di hadapannya.
Chanyeol menghela lagi. Kali ini sembari merenggangkan ototnya yang terasa kaku, ia menatap kakak kelasnya itu bersalah. "Maaf, aku hanya kaget. Jangan berteriak lagi di perpustakaan, BaekPup—"
"—Oi!"
Entah kenapa AC perpustakaan mendadak beribu kali lipat lebih dingin dan mencekam setelah Baekhyun melayangkan death glare jangan-panggil-aku-seperti-itu-di-sekolah-atau-kau-mati tak terbantahkan.
Dan apa-apaan pisau daging besar berlumuran darah imajiner yang dipegangnya, yang seolah-olah siap menebasnya saat itu juga?!
Nyali Chanyeol menciut seketika. "Maaf," ia menyicit takut-takut.
"Good boy!" Baekhyun tersenyum cerah sembari menepuk pelan kepala Chanyeol mirip anakan kucing. Lengkap dengan background penuh warna bunga yang mekar di musim semi.
Kecepatan mengubah ekspresi dan mood yang mengerikan. Chanyeol bergedik membayangkan masa depannya.
"Well, ada perlu apa denganku, Baekhyun-sunbae?"
"Woah, dan sekarang kau memperlakukanku seperti orang asing, ya? Don't be so cruel, Chan!"
"Err— lalu aku harus memanggilmu apa, Sunbae?"
"Pfft—" Tangannya mengepal memukul-mukul meja. Tak kuat menahan lagi, tawanya pecah menggema di penjuru ruangan, membuat mereka mendapatkan tatapan galak dari Ayaka-sunbae selaku petugas perpus hari ini.
"Ahaha— maaf, maaf," Baekhyun mengerling pada Ayaka, "rasanya aneh sekali mendengarmu memanggilku "sunbae". Cukup "Baekhyun" saja. Kau juga memanggilku seperti itu kemarin, kan, Chan?" katanya sambil berkedip memangku dagu. Ia mengusap pinggir matanya yang masih tergenang air.
Blush.Ugh, ketawanya puas sangat.Sengaja sekali dia mengingatkan Chanyeol pada kejadian mengerikan kemarin siang.
Iya, mengerikan. Karena akibat ciuman itu, Chanyeol harus membersihkan cairannya berjam-jam di kloset kamar mandi yang dingin sebelum fajar.
Jangan ingatkan!
"Ada apa, Chanyeol? Matamu memerah."
"Tidak. Aku hanya terbangun jam setengah dua tadi pagi dan—" ups.
Keceplosan.Sial!
Tatapan menyelidik mengirimkan petir-petir imajiner dari sudut mata. "Dan?"
Chanyeol menarik napasnya dalam-dalam. "Mandi pagi," kemudian membenarkan kacamata frame hitamnya.
"Huh? Mandi jam dua pagi? Kau aneh, Chanyeol!"
Terdengar sedikit familiar, ia membatin.
Kejadiannya sama seperti mimpinya tadi malam, dimana tubuh mungil itu mencondongkan dirinya mendekati Chanyeol. De javu, ia juga tak bisa melihat wajah kakak kelasnya itu karena terpantul sinar lampu baca. Baekhyun mengusap pelan pipi memerahnya kemudian turun menyapa bibir bawahnya yang kemarin dia beri kecupan ringan. Sentuhan itu lembut seringan kepakan sayap kupu-kupu di dalam perutnya. Membuat Chanyeol serasa terhipnotis oleh kepingin madu cerah yang memantulkan kerlipan lampu baca.
Kalau ini memang seperti mimpi semalam, lebih baik ia menunggu saja.
Chanyeol menutup kuat kelopaknya, menanti bibir merah muda itu menyapa miliknya. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh, kuku-kukunya menghujam daging terlalu dalam sampai memucat. Keringat dingin membasahi telapak yang tertutup. Tubuhnya terserang tremor berkepanjangan, ia gugup luar biasa.
Tapi cukup lama ia memejam, dia tak merasakan apa yang diperkirakannya, ia buta, ia tuli. Hanya suara berisik di ruang utama dan degusan geli dari pria di depannya yang mampu ia dengar.
Geli?
Chanyeol membuka mata tiba-tiba, kekagetan tidak bisa disembunyikan dari rautnya yang memerah. Sudah jelas sekali Baekhyun mentertawakan responnya yang ngode minta dikecup mirip gadis perawan.
Tentu saja diintimidasi dengan tatapan menggemaskan seperti itu membuat getaran tubuhnya makin tidak terkontrol. "Nnh, a-ada apa?" Kalau saja kedipan mata Baekhyun bisa membunuh, mungkin Chanyeol sudah mati kehabisan sperma— err, kehabisan darah maksudnya.
"Tidak." Kakak kelasnya itu tersenyum misterius. Jarinya masih mengusap lembut pipinya dengan gerakan memutar. "Aku hanya berpikir sesuatu."
"Apa?" ia melirik kikuk bayangan lentik di atas wajahnya.
"Kenapa kau tidak menggunakan make up saat cosplay?"
"Huh? Untuk apa?"
"Ya—agar seperti yang lain? Supaya makin tampan?" Sepertinya Baekhyun tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Chanyeol mengerjap tidak paham. Membuat seniornya memijat dahinya frustrasi. "Ah, lupakan saja," ia menyerah. "Aku tadi mencarimu, dan ternyata kau ada di sini."
Chanyeol tahu jelas kakak kelasnya itu mengalihkan pembicaraan mereka. "Yeah, perpustakaan adalah tempat favoritku. Kenapa memang?"
"Tempat menyeramkan seperti ini?"
Yes, sudut tergelap dengan urutan bangku baca paling pojok memang sedikit membuat Baekhyun bergedik.
"Hm? Ada yang salah dengan ini?"
Kepingan cokelatnya memutar, dia sedang malas berdebat dengan makhluk tidak peka macam Chanyeol. "Sama sekali tidak," menghela lagi untuk kesekian kali, lebih baik ia menyampaikan tujuannya secepat mungkin. "Well, kau punya waktu luang hari ini?"
"Aku tidak mengikuti ekstrakurikuler apapun pulang sekolah, jadi mungkin aku punya."
Baekhyun memainkan telunjuknya malu-malu. "U-uh... Wanna go out with me?" ditambah puppy eyes andalannya, "sebentar saja tidak apa, kok."
Mana kuat Chanyeol melawan godaan sebesar itu?
"O-of course!"
Tuh, kan.
Then, see you after school, Park Chanyeol
"W-wait—"
Ugh. Selalu saja seperti itu, pergi tiba-tiba tanpa memberi kesempatan untuk bicara.
Walaupun telah mengetahui bahwa BaekPuppy-san adalah seorang pria, untuk satu alasan yang entah apa, kenapa hatinya selalu saja berdentum gila dengan sendirinya? Sepertinya tidak hanya hatinya yang berdetak tak karuan, tapi seluruh bagian tubuhnya. Ia bisa merasakan seluruh darahnya berkumpul di satu titik terbawah yang kini berkedut tak kenal ampun.
Chanyeol headbang di atas meja.
Sialan, kenapa harus menegang —lagi— di saat seperti ini?!
Damn it!
Ah. Nikmati harimu, Park Chanyeol!
.
.
.
To Be Continue
.
(NB)
-Tomoki Sakurai adalah tokoh mesum dari anime ecchi 'Sora no Ososhimono' aka 'Heaven's Lost Property'. Anime macam apa? Saya gatau coz saya cuma googling dan gak pernah nonton. Saya suci dan tak berdosa, kakak kakak *kedip polos* Kalo kepo, tanya aja sama Chanyeol :v
-Senpai dalam bahasa Jepang artinya 'kakak kelas' aka 'sunbae' ya. (sebenarnya censored version dari "Ahh... yamette, senpai~") Yang pernah nonton hentong mesti paham nih kosa kata ginian :p
Thaks kalian, and see you when I see you~
Next chapter : Chapter 7.2 - Luhan
.
Kendal, 18 Juli 2018
Kvinnalmaz
