It's a Hurt Love

.

.

.

Sebelumnya maafkan kesalahan-kesalahan yang Hee buat. Maklum kurang aqua. Soal nama Dio sebenernya Hee mau buat namanya Kyungsoo jadi Soo Kyung tpi gk jadi karena suatu alasan :v. Jongin gk nikah sama ibu Kyungsoo nanti di chapter ini ada alasannya. Soal Baekhyun pacaran apa engga sama Jongin kita liat aja gmn nantinya. Kalo soal Chanyeol kedepannya gimana liat aja nanti Hee gamau buat Chanyeol gila kyk Harry masa ganteng-genteng gila kan gk lucu :v tpi sedikit banyak karakternya hampir mirip kyk Harry. Dan sesuai saran kali ini Hee bakal pake Kyungsoo dinarasi walaupun di percakapan manggilnya masih Dio. Untuk nama para emaknya Hee masih galau kalo pake Yoona terlalu tinggi :v jadi biarin aja kyk gtu lah kkkkkk~. Makasih buat kritikan kalian semoga Hee lebih baik lagi kedepannya.

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Kyungsoo memejamkan matanya ia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menatap laut yang kini berada didepannya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam saat akan membuka mata.

"Sekarang kau bukan lagi Do Kyungsoo kau adalah Dio Lee. Aku bukan Kyungsoo." Ucap Kyungsoo yang masih memejamkan matanya dan berusaha sekuat tenaga memberanikan diri untuk menatap hamparan laut yang luas didepannya.

Gadis itu membuka matanya dan seketika kedua manik matanya itu melihat hamparan laut yang luas disertai ombak-ombak yang menggulung.

Melihat ombak yang bergulungan di laut membuat tubuh gadis itu bergetar ketakutan bahkan kini nafasnya tersenggal-senggal karena ketakutan. Lagi-lagi ia mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu kejadian dimana dirinya tenggelam dulu.

'Tolong... siapapun tolong selamatkan aku.'

Hari itu kejadian dimana dirinya tenggelam membuat gadis itu trauma ia benar-benar sangat ketakutan dihari itu. Tanpa gadis itu sadari cairan bening sudah keluar dari kedua matanya saat ia mengingat kejadisn hari itu.

Kini gadis itu mundur beberapa langkah karena merasa sangat takut jika ombak itu akan mengejarnya lagi dan menyeretnya entah kemana.

"Tidak..." Gumam Kyungsoo yang masih bergetar ketakutan sambil menatap gulungan ombak itu.

"Tidak... tidak" Kata Kyungsoo yang semakin katakutan hingga akhirnya gadis itu membalikkan badannya karena tak berani menatap kearah laut.

Kyungsoo memejamkan matanya hingga membuat airmatanya kembali berjatuhan. Ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak lagi mengingat kejadian itu.

Niat gadis itu sebenarnya ke pantai adalah untuk menghilangkan traumanya agar ia tidak lagi ketakutan. Ia menmutuskan benar-benar tidak ingin menjadi lagi Do Kyungsoo yang tidak diinginkan dan selalu dihina bahkan disiksa. Sekarang dirinya bukanlah Do Kyungsoo lagi itulah yang ada dipikirannya saat ini walaupun hatinya sangat menolak pikirannya itu.

Setelah sedikit tenang gadis itu membuka matanya. Ia merasa sekarang tubuhnya kembali bergetar dan menegang. Ia terdiam ditempatnya berdiri dengan terus menatap kearah depan. Disana ia melihat seorang pemuda tengah berjalan mendekatinya.

Sadar jika pemuda itu semakin mendekat kearahnya dengan segera Kyungsoo menghapus airmatanya dan menarik nafasnya dalam-dalam agar dirinya merasa tenang walaupun tetap saja ia masih merasa gugup.

"Aku bukan Do Kyungsoo." Gumam Kyungsoo pelan dan memberanikan dirinya.

Tepat saat itu pula pemuda itu berada didepannya. Pemuda itu dia adalah Jongin yang kini berdiri tepat didepan Kyungsoo. Kyungsoo hanya terdiam menatap Jongin. Namun tidak dengan Jongin yang kini mengedipkan matanya dan berusaha menyadarkan dirinya saat melihat Kyungsoo didepannya.

"Kyungsoo?" Panggil Jongin sedikit tak percaya.

"Siapa?" Tanya Kyungsoo berusaha setenang mungkin.

Jongin melangkahkan kakinya semakin mendekati Kyungsoo. Lalu memeluk gadis itu dengan erat. Dan tanpa pikir panjang Kyungsoo segera melepaskan pelukan Jongin. Ia merasa tidak nyaman dengan pelukan Jongin.

"Maaf tuan siapa anda? Tolong jangan bersikap seperti ini pada saya." Ucap Kyungsoo sopan dengan nada yang sedikit kesal.

Kyungsoo kesal karena Jongin akan mengacaukan perasaannya jika bertindak seperti itu. Setelah mengucapkan itu Kyungsoo segera melangkah pergi darisana.

Dan dengan sigap Jongin mencekal salah satu tangan Kyungsoo yang hendak pergi darisana hingga membuat Kyungsoo berhenti berjalan. Jongin segera membalikkan badannya hingga kini Jongin dapat menatap punggung gadis itu.

Kyungsoo menatap tangannya yang dipegang oleh Jongin lalu menatap Jongin dengan sedikit geram.

"Tolong bersikap sopanlah pada saya tuan." Kata Kyungsoo.

"Do Kyungsoo?" Panggil Jongin menatap lurus kedepan dengan tatapan sendunya.

"Apa kau marah denganku?" Tanya Jongin yang kini menatap gadis itu dengan mata berairnya.

Kyungsoo mengerutkan dahinya dan menatap Jongin dengan pandangan bingungnya. Kali ini ia benar-benar tidak tahu apa maksud Jongin.

"Apa kesalahanku begitu besar?" Tanya Jongin lagi.

"Bukankah sudah ku bilang jika aku akan selalu menemukanmu dimanapun kau berada." Kata Jongin yang kini tersenyum dan menatap Kyungsoo dengan matanya yang masih berair.

"Maaf tuan tapi sepertinya anda salah orang saya bukan Do Kyungsoo." Ucap Kyungsoo yang kemudian melepaskan tangan Jongin.

"Saya permisi." Lanjutnya dan melangkah pergi meninggalkan Jongin sendirian disana.

Jongin yang melihat kepergian gadis itu justru tersenyum senang.

"Bahkan sekarang kau pergi meninggalkanku. Kau benar-benar Kyungsoo." Ucap Jongin dengan tersenyum dan kini berbalik mendekati pohon kelapa yang selalu ia kunjungi.

Jongin berdiri didepan pohon itu sambil tersenyum.

"Kau tahu? Sekarang Kyungsoo sudah kembali jadi kau harus berbuah. Kau mengerti?" Kata Jongin pada pohon kelapa itu lalu memeluk pohon itu dan tersenyum senang.

Selama ini selalu bilang kepada ibu Kyungsoo jika Kyungsoo akan kembali. Ia selalu marah jika ibu Kyungsoo mengatakan jika Kyungsoo tidak akan kembali karena Kyungsoo telah meninggal.

Sejak dulu Jongin memang tidak percaya dengan polisi yang mencari Kyungsoo dan mengatakan jika Kyungsoo telah meninggal dan tubuh Kyungsoo terbawa ombak entah kemana.

Jongin tersu tersenyum sambil masih memeluk pohon kelapa itu dengan erat.

.

.

Kyungsoo berjalan dengan tergesa-gesa. Ia ingin segera pulang jika ia terus berada disini maka ia akan semakin merasa tidak nyaman.

Tapi langkah Kyungsoo terhenti saat melihat sebuah benda yang sangat familiar benda yang memiliki banyak kenangan antara dirinya dan Jongin. Ia melihat sepedanya yang kini terparkir tepat disebelah sampingnya.

Ia melangkahkan kakinya mendekati sepeda itu. Ia melihat sebuah tulisan yang tertempel dengan rapi disana. Ia ingat betul jika tulisan 'Do' itu ia sendiri yang menulisnya.

Ia sangat tidak percaya karena sepedanya masih tampak sama seperti sepuluh tahun lalu. Sepertinya Jonginlah yang merawat sepeda itu dengan baik hingga masih terlihat sama seperti sepuluh tahun yang lalu.

Cukup lama Kyungsoo menatap sepeda itu hingga akhirnya Kyungsoo tersadar dan menjauh darisana. Kyungsoo terus melangkahkan kakinya hingga ia sampai tepat didepan sebuah kedai.

Ia dapat melihat seorang wanita paruh baya sedang membersihkan meja. Sepertinya wanita itu akan menutup kedainya. Kyungsoo tersenyum karena melihat wanita itu wanita itu sama sekali tidak berubah. Ia masih saja menjadi pekerja keras.

Kyungsoo harus mengakhiri kegiatannya mengamati wanita itu karena ponselnya yang berbunyi. Kyungsoo menjawab panggilan itu dengan senyuman diwajahnya.

"Aku sedang perjalanan pulang Oppa." Kata Kyungsoo menjawab pertanyaan seseorang disebrang sana.

"Baiklah aku juga menyayangimu Oppa." Akhir Kyungsoo menutup panggilan itu

Kyungsoo kembali menatap wanita yang berada didalam kedai itu dan setelahnya ia benar-benar pergi darisana.

.

.

"Sepertinya kau sangat mencintainya Chan?" Tanya Baekhyun yang duduk didepan Chanyeol.

Chanyeol dan Baekhyun kini berada didalam sebuah ruangan di butik Baekhyun. Baekhyun tengah sibuk menggambar sebuah desain sedangkan Chanyeol menopang dagunya menatap Baekhyun yang kini sibuk menggoreskan pensilnya pada sebuah kertas.

"Tentu saja. Dia tunanganku jadi aku harus mencintainya bukankah begitu Baek?" Tanya Chanyeol dengan menatap Baekhyun yang nampak serius itu.

"Tentu saja harus begitu." Jawab Baekhyun yang masih sibuk menggambar.

Chanyeol tersenyum menatap Baekhyun yang terlihat sangat cantik jika gadis itu sedang serius menggambar. Baekhyun melirik Chanyeol sekilas yang terus menatapnya.

"Jangan menatapku seperti itu kau akan membuat tunanganmu cemburu." Kata Baekhyun dengan senyumannya.

"Dia tidak seperti itu." Balas Chanyeol yang juga tersenyum pada Baekhyun.

Baekhyun yang mendengar balasan Chanyeol itu kini berhenti menggambar dan melipat kedua tangannya didada.

"Ckckck lihat sekarang kau bahkan membelanya didepanku." Kata Baekhyun dengan decakannya.

Chanyeol hanya tersenyum menatap Baekhyun yang seperti cemburu itu.

"Memang begitu faktanya." Ucap Chanyeol jujur.

"Ya ya baiklah." Kata Baekhyun pasrah.

"Tapi Chan kenapa tidak kau saja yang menjemputnya?" Tanya Baekhyun lagi.

"Dia bilang dia ingin jalan-jalan sendiri jadi aku memberinya ijin karena memang dia sudah lama tidak kembali ke Korea." Jawab Chanyeol.

"Ah seperti itu. Aku merasa iri pada tunanganmu Chan karena dia mendapat laki-laki baik dan sangat mencintainya sepertimu." Ucap Baekhyun dengan pandangan kosongnya.

Chanyeol hanya terdiam mendengarkan ucapan Baekhyun. Chanyeol tahu betul jika Baekhyun berucap seperti itu artinya saat ini Baekhyun sedang merasa sedih dan Baekhyun butuh teman untuk bercerita.

"Tidak sepertiku yang hanya mengharapkan cinta dari laki-laki yang jelas-jelas tak mencintaiku..." Baekhyun tersenyum mengasihani dirinya sendiri.

"Jangankan mencintaiku melihatku saja tidak." Lanjut Baekhyun dengan helaan nafasnya.

"Kalau begitu kenapa kau tidak berhenti saja? Kau bilan tunanganku sangat beruntun karena mendapatkan laki-laki sepertiku. Kenapa kau tidak bersamaku saja agar kau sama beruntungnya dengan tunanganku?" Ucap Chanyeol yang kini menatap Baekhyun dengan tatapan seriusnya.

Namun hal itu berbeda dengan Baekhyun yang justru hanya menganggap jika itu adalah sebuah kata-kata penghibur dari Chanyeol.

Baekhyun menggeleng dan tersenyum menatap Chanyeol.

"Tidak Chan. Aku cukup bahagia karena ia selalu melindungiku dan berada disisiku walaupun aku tahu jika aku tidak akan pernah bisa memiliki hatinya." Jelas Baekhyun dengan senyumannya.

Chanyeol yang mendengar itu hanya diam tanpa mengatakan apapun dari mulutnya. Ia terus menatap Baekhyun yang masih tersenyum.

.

.

.

Jongin tersenyum melihat ibu Kyungsoo yang akan pulang ke rumahnya itu.

"Aku sudah menemukannya dan aku berjanji akan membawanya pulang jadi kau tak perlu merasa kesepian lagi." Gumam Jongin pelan dengan menatap wanita itu.

"Kenapa kau disini lagi?" Tanya ibu Kyungsoo yang kini sudah berada didepan Jongin.

Tanpa Jongin sadari ibu Kyungsoo keluar dari kedai itu saat Jongin tengah melamun. Jongin yang mendengar pertanyaan dari ibu Kyungsoo itu segera tersadar dan menatap wanita itu.

"Eoh? Istriku sudah selesai." Kata Jongin tersenyum pada ibu Kyungsoo.

"Ayo kita kecan. Cepat naik." Ajak Jongin sambil menarik tangan wanita itu agar wanita itu duduk diboncengan sepedanya.

Ibu Kyungsoo menatap sepeda itu dan kemudian melepaskan tangan Jongin dari tangannya.

"Aku tidak mau naik sepeda buntut ini." Tolak ibu Kyungsoo.

"Kenapa? Bukankah ini sangat romantis?" Tanya Jongin.

"Romantis apanya? Aku tidak mau. Jika kau ingin mengajakku kencan bawalah mobil mewah jangan sepeda buntut seperti ini." Ucap ibu Kyungsoo dengan menendang ban belakang sepeda itu.

"Kenapa kau tak membuangnya saja." Lanjut ibu Kyungsoo.

Jongin terdiam sejenak menatap ibu Kyungsoo yang mengalihkannya pandangannya bahkan Jongin tahu jika saat ini mata wanita itu sudah berkaca-kaca.

Jongin sendiri tahu betul kenapa ibu Kyungsoo seperti itu. Ia tahu jika sekarang ibu Kyungsoo teringat Kyungsoo saat melihat sepeda itu. Jongin tersenyum melihat ibu Kyungsoo dan kemudian ia kembali menarik tangan wanita itu untuk duduk diboncengan sepedanya lalu menuntun tangan wanita itu untuk memeluk perutnya.

"Baiklah sekarang kita akan berkencan." Kata Jongin yang kemudian mengayuh sepedanya pelan.

Terdengar isakan lirih dari arah belakang Jongin. Tanpa menoleh pun Jongin tahu jika itu adalah isakan dari ibu Kyungsoo. Ia tahu wanita itu selalu teringat pada Kyungsoo saat melihat sepeda itu.

Ia tahu wanita itu sangat ingin bertemu Kyungsoo wanita itu merasa jika dialah penyebab dari semua penderitaan yang dialami oleh Kyungsoo. Jongin sangat mengerti bagaiamana perasaan wanita itu.

Jongin hanya diam mengayuh sepedanya saat wanita itu semakin memeluknya erat dan menangis tersendu-sendu.

.

.

.

Pagi ini terlihat dua orang berbeda jenis masih tertidur lelap disebuah kamar. Mereka adalah Kyungsoo dan Chanyeol yang masih tertidur lelap dengan badan yang masih terbungkus oleh selimut.

Hingga pada akhirnya Kyungsoo membuka matanya. Ia melihat Chanyeol masih tertidur lelap dihadapannya. Kyungsoo tersenyum melihat Chanyeol yang masih tertidur kemudian jari lentik Kyungsoo mulai mengarah pada wajah Chanyeol. Gadis itu megusap pipi Chanyeol dengan lembut dan tersenyum.

Dan saat itu pula sebuah tangan lain menggenggam Kyungsoo. Kyungsoo tertegun dan melbarkan matanya sedangkan pemilik tangan lainnya itu hanya tersenyum dengan mata yang masih tertutup.

"Oppa sudah bangun?" Tanya Kyungsoo.

Chanyeol membuka matanya saat mendengar pertanyaan Kyungsoo.

"Aku bahkan bangun lebih pagi darimu." Jawab Chanyeol dengan tersenyum pada Kyungsoo.

"Apa ada sesuatu yang terjadi Oppa?" Tanya Kyungsoo lagi.

Kyungsoo sangat tahu kebiasaan Chanyeol saat pemuda itu masih memejamkan matanya walaupun ia sudah bangun. Pasti ada sesuatu yang pemuda itu pikirkan.

"Tidak aku hanya merasa pusing." Jawab Chanyeol.

"Apa perlu ku ambilkan obat Oppa?" Tanya Kyungsoo khawatir.

"Tidak sekarang sudah sedikit baikkan."

Kyungsoo hanya tersenym dan mengangguk saat mendengar jawaban dari Chanyeol. Untuk beberapa detik mereka terdiam membisu tanpa sepatah kata pun. Hingga Kyungsoo mulai membuka pembicaraan.

"Aku benar-benar beruntung bisa bertemu Oppa." Kata Kyungsoo menatap Chanyeol.

"Kenapa begitu?" Tanya Chanyeol yang juga menatap Kyungsoo.

"Karena Oppa selalu berada disampingku apapun yang terjadi." Jawab Kyungsoo masih dengan senyumnya begitu pula Chanyeol yang ikut tersenyum.

"Apa ingatanmu belum kembali juga?" Tanya Chanyeol.

Kyungsoo menggeleng menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Kenapa aku harus mengingatnya jika aku sudah mempunyai keluarga yang menyayangiku dan Oppa." Ucap Kyungsoo.

Sebenarnya semua yang dikatakan Kyungsoo adalah kebohongan. Ia bukan hanya membohongi Chanyeol dan keluarga yang telah menemukannya ia juga membohongi hatinya sendiri. Jika Kyungsoo boleh mengatakan jujur Kyungsoo begitu tersiksa dengan perasaannya saat ini namun jika ia mengingat apa yang telah terjadi kepadanya sebelum ia seperti ini ia sangat membenci sumua itu.

Ia benci saat dirinya tidak diinginkan oleh siapapun bahkan didunia ini. Ia bersyukur karena sekarang ia sudah bertemu dengan orang-orang yang tulus menyayanginya.

"Kau tidak ingin bertemu dengan keluargamu?" Tanya Chayeol lagi. Dan lagi-lagi Kyungsoo menggeleng.

"Baiklah." Ucap Chanyeol pasrah.

"Aku masih heran kenapa kau mau menggunakan nama Dio. Itu terdengar seperti nama seorang laki-laki." Lanjut Chanyeol.

"Bukankah aku sudah berkali-kali menjawabnya Oppa. Aku hanya ingin eommoni dan abeoji senang. Walaupun aku bukan putri kandung mereka tapi mereka sangat menyayangiku. Aku hanya ingin menghibur mereka dengan nama putra mereka. Mereka sangat sedih saat menceritakan putra mereka yang sudah tiada karena itu aku memilih menggunakan nama Dio." Jelas Kyungsoo.

Saat Chanyeol akan membuka mulutnya untuk membalas penjelasan Kyungsoo tiba-tiba saja ponselnya berbunyi karena sebuah panggilan dari seseorang. Dengan cepat Chanyeol mengangkat panggilan itu dan keluar dari kamar namun sebelumnya ia telah meminta izin pada Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum menatap Chanyeol yang keluar dari kamar itu. Setelah Chanyeol benar-benar keluar dari kamar itu Kyungsoo bangkit dan menuju kedalam kamar mandi.

Ia membasuh wajahnya dan bercermin. Melihat pantulan wajahnya dicermin itu membuatnya mengingat kejadian semalam kejadian dimana ia bertemu dengan Jongin.

"Aku benar-benar tidak bisa seperti ini." Ucap Kyungsoo dengan airmata yang sudah mengalir dipipi tembamnya.

"Aku berharap aku benar-benar hilang ingatan." Lanjut Kyungsoo sambil memegang dadanya yang sesak karena ia benar-benar tidak sanggup jika harus seperti.

Kyungsoo terduduk dilantai dengan memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana dengan isakannya yang semakin keras. Kyungsoo benar-benar merindukan pemuda itu tapi Kyungsoo tidak boleh dan tidak bisa menemui pemuda itu. Ia tidak ingin menyakiti kakaknya lagi ia tidak ingin membuat kakaknya bersedih karena mengacaukan hubungan mereka.

Kyungsoo juga berjanji jika ia akan melupakan semuanya termasuk kenangannya bersama Jongin. Ia juga berjanji tidak akan kembali lagi.

"Maafkan aku Jongin." Ucap Kyungsoo dengan isakannya.

Tanpa Kyungsoo sadari Chanyeol telah berdiri didepan pintu kamar mandi. Ia juga tahu jika saat ini Kyungsoo sedang menangis didalam sana.

"Benar Do Kyungsoo lebih baik kau seperti ini dan tetaplah disisiku." Gumam Chanyeol menatap pilu pintu kamar mandi itu.

.

.

Jongin duduk dengan tenang sambil melahap makanannya. Ia sudah berpakaian rapi untuk pergi ke kantornya. Didepan Jongin duduk seorang wanita yang tidak lain adalah ibu Kyungsoo.

"Wah istriku sangat pandai memasak." Puji Jongin pada ibu Kyungsoo.

Bukannya mendapat respon yang baik dari ibu Kyungsoo Jongin justru mendapat sebuah pukulan sayang dari ibu Kyungsoo dengan sendok yang sejak tadi dipegang oleh wanita itu.

"Sudah berapa kali aku memintamu untuk tidak menganggap aku istrimu." Ucap ibu Kyungsoo kesal.

"Kenapa? Kau tidak mau menjadi istri dari pemuda kaya sepertiku?" Tanya Jongin.

"Aku memang suka uang tapi aku tidak mau mempunyai suami hitam sepertimu." Jawab ibu Kyungsoo jengkel.

"Kenapa? Bukankah aku ini seksi?" Goda Jongin.

"Kau sudah selesai makan? Jika sudah akan aku ambilkan obat gilamu." Kata ibu Kyungsoo.

Jongin yang mendengar itu justru terkekeh senang karena ia selalu berhasil menggoda ibu Kyungsoo.

"Kalau begitu biarkan aku memanggilmu eomma bagaimana?" Tanya Jongin.

"Itu lebih menjijikkan." Jawab ibu Kyungsoo yang masih asik melahap makanannya.

Lagi-lagi jawaban ibu Kyungsoo itu terdengar sangat lucu ditelinga Jongin. Karena entah kenapa wanita itu tidak mau jika dipanggil dengan sebutan eomma oleh Jongin.

"Cepat habiskan makananmu." Nasehat ibu Kyungsoo.

Mendengar itu dengan cepat Jongin melahap makanannya hingga habis. Kedua orang itu menikmati sarapan mereka dengan tenang. Hingga akhirnya mereka berdua selesai dengan acara sarapan mereka.

.

Terlihat saat ini ibu Kyungsoo tengah mencuci piring kotor. Jongin yang melihat itu segera menghampirinya dan memeluk wanita itu dar belakang.

Ibu Kyungsoo yang sudah terbiasa dengan pelukan Jongin itu masih tetap fokus pada kegiatan mencuci piringnya. Hingga suara Jongin membuatnya menghentika kegiatannya itu.

"Aku melihat Kyungsoo semalam." Ucap Jongin.

Ibu Kyungsoo membeku ditempatnya dan menghentikan aktivitas mencuci piringnya.

"Aku sudah menemukannya. Tunggulah sebentar aku akan membawanya pulang." Lanjut Jongin.

Ibu Kyungsoo segera tersadar dan kembali dengan kegiatan mencuci piringnya sedangkan Jongin sendiri masih tetap memeluk wanita itu.

"Hari ini pulanglah ke rumahmu." Kata ibu Kyungsoo.

Jongin hanya diam saat ibu Kyungsoo mengatakan hal tersebut. Ia tahu jika ibu Kyungsoo mengatakan hal itu maka wanita itu sedang ingin menyendiri.

"Hari ini aku tidak ingin melihatmu jadi pulanglah." Lanjut wanita itu.

Selama ini Jongin memang sering menginap dirumah Kyungsoo kadang sesekali ia pulang ke rumahnya. Orang tua Jongin juga tidak melarangnya untuk menginap dirumah Kyungsoo karena memang kedua orang tua Jongin tahu betul bagaimana perasaan pemuda itu.

Ia dan orang tuanya juga sudah membuat perjanjian jika Jongin mengurus perusahaan keluarganya maka kedua orang tua Jongin tidak boleh melarang ataupun mengatur hidup Jongin. Jongin sangat bersyukur karena mempunyai orang tua seperti mereka.

"Baiklah kalau begitu aku akan pergi ke kantor dulu. Aku berjanji akan membawa Kyungsoo pulang jadi kau harus ingat janjiku itu. Mengerti?" Kata Jongin yang hanya diangguki oleh ibu Kyungsoo.

Setelahnya Jongin pergi menuju kantornya dengan menggunakan sepeda Kyungsoo karena memang jarak antara kantornya dengan rumah Kyungsoo tak begitu jauh. Ia menggunakan sepeda itu bukan tanpa alasan ia ingin tetap mengingat Kyungsoo dan menjaga Kyungsoo dalam hatinya sampai kapanpun.

Karena ia yakin Kyungsoo juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan. Jongin tahu semua apa yang Kyungsoo rasakan karena buku diary Kyungsoo.

.

.

.

Baekhyun yang tadinya akan berangkat menuju butiknya kini harus kembali lagi karena ia melupakan sesuatu. Untung saja Baekhyun tadi baru sampai depan rumahnya jadi ia tidak perlu berjalan terlalu jauh.

Baekhyun segera memasuki rumahnya dan menuju kamarnya namun saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya Baekhyun segera berhenti. Baekhyun berhenti tepat didepan kamar ibunya.

Terlihat nyonya Byun yang tak lain adalah ibu Baekhyun kini mengusap seragam TK seseorang yang terlipat rapi diatas ranjang ibunya. Baekhyun tahu betul siapa pemilik seragam itu.

Nyonya Byun terus mengusap seragam itu seolah-olah seragam itu adalah seseorang. Bahkan kini nyonya Byun terlihat menangis karena terus menatap seragam itu.

"Maafkan eomma." Ucap wanita itu yang dapat didengar oleh Baekhyun.

Nyonya Byun kini memeluk seragam itu dan semakin menangis. Ia merasa bersalah pada pemilik seragam itu. Ia sangat merindukan pemilik seragam itu ia menyesal karena sikapnya selama ini pada pemilik seragam itu.

"Maafkan eomma." Kata wanita itu yang semakin menangis tersendu-sendu.

"Maafkan eomma Kyungsoo." Ucap wanita itu dengan memeluk erat seragam itu.

Baekhyun yang tidak kuat saat melihat ibunya seperti itu akhirnya memilih untuk keluar dari rumahnya. Matanya sudah berair karena melihat kejadian itu.

Sesampainya ia diluar rumah Baekhyun berlari menjauhi rumah itu ia benar-benar tidak sanggup melihat ibunya seperti itu. Baekhyun berlari dengan tangisannya. Hatinya sangat sakit melihat kejadian itu.

Merasa lelah berlari Baekhyun pun berhenti dan berjongkok serta bersandar pada sebuah tembok disana. Airmata Baekhyun sudah tidak dapat ia bendung lagi ia menangis sejadi-jadinya dengan berjongkok dan bersandar pada tembok itu.

Baekhyun terus menerus menangis hingga membuat riasan tipis diwajahnya itu luntur. Baekhyun benar-benar kesakitan sekarang ia tidak bisa melihat ibunya seperti itu ia tidak sanggup.

"Benar ambillah eomma Kyungsoo dan biarkan aku memiliki Jongin." Ucap Baekhyun yang kemudian menghapus airmatanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC.

.

Terima kasih buat semuanya Hee bener-bener seneng banget liat kritikan dan saran kalian. Maafkan atas semua kesalahan yang Hee buat dari mulai bahasa amburadul typo dan lain-lainnya.

See you next chapter~~

Salam cinta dari Hee :*

.

'Dongvil'