PARK'S FAMILY HOUSE
MAIN CAST:
- Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
SUPPORT CAST:
- Wu Yifan
- Oh Sehun
- Kim Jongin
- Do Kyungsoo
- Kim Jongdae
- EXO Member
- Yook Sungjae (BTOB)
Rated: M
Lenght: Chaptered
Summary:
Bagi Baekhyun, pindah sekolah pun juga meninggalkan Jepang adalah hal terberat dalam hidupnya. Baiklah, ia memang lahir di Seoul, tapi kalau masalah tumbuh remaja hingga terjerumus dalam pergaulan bebas, Baekhyun melakukan semuanya di Tokyo. Adapun semua hal terberat berubah menjadi mimpi buruk ketika ia bertemu dengan anak bungsu keluarga Park.
"Selamat datang di rumah keluarga Park, Baekhyuniee."- (Chanbaek, Krisbaek, and EXO)
—
"Hei, kau masih di sana?"
Sementara panggilan masih terhubung, yang ia lakukan hanyalah terdiam. Pikirannya sibuk berkelana, memikirkan kebenaran dari pernyataan yang barusan ia dengar.
Apa aku sudah merusaknya terlalu jauh? Sejujurnya itu yang sedari tadi terus berputar-putar di kepalanya. Ini mungkin terdengar munafik, bahwa sekarang ia mulai merasa menyesal melakukan semua hal untuk membuat seseorang yang rela terikat erat dengan jurang penuh dosa hingga kesulitan melepaskan dirinya sendiri dari semua itu, hanya karena ia ingin terus bisa bersamanya. Semua ini terjadi karenanya, karena pengaruhnya.
"Kris, kau masih di sana?"
Helaan nafas terhela pelan, sarat akan kegelisahan. "Ya, aku masih di sini."jawabnya nyaris berbisik. "Tapi.. Apa Ryuji baik-baik saja di sana?"secuil harap singgah di benaknya; semoga tidak, agar ia bisa segera menyusul ke sana dan bertemu dengan sosok yang membuatnya rindu saat tidak ada.
Si penelepon tiba-tiba tertawa skeptis mendengar pertanyaannya. "Berhentilah pura-pura mencoba untuk perduli dengan Ryuji. Cukup, Kris.. Jangan lagi berusaha untuk menjerumuskannya lebih dalam."suranya terdengar menahan emosi, dan Kris cukup tahu diri untuk tidak memancing situasi menjadi lebih runyam.
"Tapi aku tidak,"ia berusaha menyangkal. Ya, aku tidak begitu terhadapnya.. "Aku hanya berusaha membantunya, itu saja."
"Bantuanmu membuatnya ketergantungan obat-obatan terlarang, kau sialan! Bagaimana bisa kau menyebut semua itu untuk membantunya?!"
"Kau berbicara seolah-olah kau adalah yang paling suci di sini,"Kris menyahut geram. "Kau yang memperkenalkanku dengannya, kau bedebah!"
"Benar itu aku, tapi aku tidak memperkenalkan Ryuji denganmu untuk tujuan kau merusaknya. Dia temanku, dan sebebas apapun pergaulanku, aku tidak akan pernah menarik temanku sendiri untuk ikut menjadi bagian dari keburukanku."
Kris terdiam lagi, apa yang dikatan Sungjae adalah benar. Ryuji Baekhyun, dulu Kris hanya menganggap eksistensi lelaki mungil itu hanya sebatas teman berbagi ranjang saja dalam hidupnya. Meskipun berkali-kali Baekhyun mengatakan mencintainya, Kris hanya menganggapnya angin lalu. Sebab cinta sendiri adalah sesuatu yang terlalu asing untuknya rasakan. Ia adalah sebentuk kesalahan yang tidak diharapkan, bahkan sejak ia lahir. Meskipun hidupnya digelimangi harta, itu tidak lantas membuatnya merasakan bahagia. Orang sepertiku tidak pantas untuk merasa bahagia, batinnya berseru, dan untuk itu Kris hanya mampu menarik senyuman miris.
"Jangan khawatirkan apapun, Ryuji akan aman bersamaku."nada suara Sungjae melunak, biar bagaimanapun terlepas dari hubungan mereka yang berakhir renggang, Kris tetaplah seorang temannya. "Aku akan sangat menghargai jika seandainya kau bersikap tahu diri untuk tidak lagi mengusik hidupnya."
Ada senyap cukup lama, sebelum akhirnya Kris membuka suara lagi. "Dia tidak akan bisa hidup tanpa kehadiranku di sisinya,"Kris masih berusaha membujuk. Benar begitukan, Ryuji? Kau tidak bisa hidup tanpaku.. "Tidak bisakah aku menyusulnya dan memperbaiki keadaan?"
Sungjae tertawa mengejek. "Tidak perlu, Kris. Hanya jangan lakukan apapun, karena seberapa keraspun kau berusaha untuk memperbaiki sesuatu yang sudah rusak, itu tidak akan merubah fakta kalau sesuatu tersebut pernah mengalami kerusakan sebelumnya."ia menekankan perkataannya. "Dan lagi, aku akan membuat Ryuji terbiasa hidup tanpamu. Jadi Kris, hiduplah dengan benar.."
Lalu kemudian sambungan berakhir begitu saja, meninggalkan Kris dalam kukungan lamunan seorang diri. Larut dalam kubangan penyesalan karena telah membiarkan pergi seseorang yang ternyata begitu berharga. Memang di dunia ini, tidak ada seorangpun yang mampu memahaminya sebaik yang Ryuji lakukan untuknya.
—
Sungjae berakhir kacau pikirannya malam itu, penyesalan telah memperkenalkan Baekhyun pada sosok Kris, hingga pada kekhawatiran kehilangan sosok teman seperti Kris, juga hubungan ketiganya yang berakhir rumit, Sungjae memikirkan semua itu. Ia berada di posisi yang amat membingungkan. Pikirannya benar-benar kacau untuk saat ini.
Ponsel ia lempar di sisi lain kasur, sementara mulai bersiap untuk tidur lebih awal. Dua menit berselang, pintu kamar tiba-tiba terbuka disusul kemudian langkah kaki yang mendekat. Tanpa membuka matapun, Sungjae tahu persis siapa yang datang dan sudah melakukan tindak kekerasan pada pintu kamarnya. Kim Taeil, teman satu rumahnya.
"Kau punya dua tangan, kenapa tidak gunakan itu untuk mengetuk pintu terlebih dahulu?"ujarnya dengan main-main.
Dengusan terdengar, Sungjae membuka sebelah matanya untuk melihat situasi di mana Taeil menatapnya jengah namun tidak berkata apa-apa.
"Apa? Kenapa?"Sungjae mengambil posisi duduk, sementara Taeil memperlihatkan sesuatu, dan kontan saja membuatnya terpaku pada sebungkus barang haram jenis heroin bubuk di tangan temannya itu. Sejurus mendongkak, menemukan tatapan jengah Taeil berganti amarah. "Percayalah kalau itu bukan milikku, aku serius tentang ini."
Taeil melempar jaket hitam milik Sungjae yang sedari tadi berada di pundaknya. "Katakan begitu jika saja benda sialan itu tidak kutemukan di saku jaketmu, jerk!"
Sungjae tanpa diduga malah tertawa geli. "Kemampuan mengumpatmu semakin baik, Taeil-ah."
Taeil nyaris meledak dalam geram. "Kau brengsek—"
"Sudah kubilang itu bukan milikku, kenapa malah mengataiku brengsek?!"Sungjae menyalak tidak terima. Membuat Taeil lagi-lagi hanya mampu mendesah pasrah, berusaha keras menekan tingkat amarahnya hingga tahap aman.
"Sungjae dengarkan aku, berapa kali kau berkata ingin berhenti bergantung hidup dengan benda sialan itu? Kau mengatakannya sekitar tiga hingga lima kali dalam satu hari selama seminggu terkahir. Kukira kau benar-benar akan melakukannya—"
"Aku melakukannya, aku sudah berusaha untuk melakukannya, Taeil-ah.. Aku sudah berusaha keras melakukannya, mengapa tidak percaya padaku?"nada suara Sungjae berganti sedih, ada pula kefrustasian tergambar jelas dari sana.
Taeil nyaris menyerah, namun kembali lagi pada permintaan Sungjae pekan lalu; tentang membantunya lepas dari narkoba, ia harus melakukannya."Lalu mengapa benda sialan ini ada padamu?"namun setidaknya untuk kali ini,ia akan berusaha bersikap lebih lunak.
"Aku tidak tahu mengenai itu, sungguh. Mungkin salah satu temanku yang menaruhnya saat aku tidak sadar."
"Kau mabuk lagi?! Auh, kau benar-benar."Taeil nyaris berteriak lepas kendali, namun berterimakasihlah pada kontrol dirinya yang begitu baik.
"Hanya sedikit, Taeil-ah.."Sungjae mencicit segan, merasa ngeri sendiri saat membayangkan Taeil akan benar-benar meledak dalam amarahnya. Mengerikan.
Membuang nafasnya keras-keras, Taeil memilih mendekat. "Kali ini kenapa lagi, hm?"pucuk kepala Sungjae ia tepuk-tepuk halus, penuh perhatian. Kali ini berusaha menyalurkan energi positif untuk teman baiknya itu. "Masalah yang sama? Kau mengunjunginya lagi, ya? Apa keadaannya membaik?"
"Ya, ya dan tidak. Keadaannya sungguh semakin memburuk. Aku benci hidupku sendiri.."Sungjae menyandarkan kepalanya di perut Taeil tanpa mendapat penolakan berarti. Posisi mereka, Sungjae yang duduk dan Taeil yang berdiri memeluk bahunya.
"Kau baru saja selesai menelepon, apa aku benar?"
"Dari mana kau tahu?"
"Dan kau sedang kesal dengan si penelepon, apa aku benar lagi?"
Sungjae mendorong pelan tubuh Taeil, menatapnya ngeri. "YA! kau dengan kemampuanmu itu sungguhan membuatku merinding, kau tahu?!"
Taeil tertawa lepas. "Maaf karena terlalu mengenalmu, Sungjae-ya."guraunya.
"Lupakan itu, kau tidak perlu meminta maaf. Lagipula aku menyukainya, aku tidak harus repot-repot memberitahukannya padamu."
"Kau tetap harus menceritakannya padaku, mengerti?"
Sungjae mengangguk enggan, namun begitu ia tetap menjawab. "Baiklah, aku akan menceritakannya padamu."ia merengut lucu. "Ini tentang Baekhyun."
"Tahan sebentar, siapa nama Baekhyun sebenarnya? Byun Baekhyun atau Ryuji Baekhyun?"
"Nama sebenarnya adalah Byun Baekhyun, hanya saja ketika di Tokyo dia terbiasa dipanggil Ryuji Baekhyun."
Taeil mengangguk-angguk, mengerti. "Pantas saja kau sering sekali memanggilnya Ryuji, ternyata begitu.."ia bergumam demikian. "Ah lupakan, lalu ada masalah apa kau dengan anak itu?"
"Jangan memanggilnya seperti itu, Taeil. Dia orang yang baik dan dia merupakan temanku sejak di Tokyo dulu."
"Baiklah, aku akan bersikap baik padanya mulai sekarang. Jadi apa masalah kalian?"
Lalu cerita mengalir begitu saja, awal pertemuannya dengan Baekhyun yang tidak dalam keadaan baik. Maksudnya, temannya itu berniat bunuh diri saat mereka bertemu di atap sekolah pertama kali. Mereka berakhir berteman sesaat dirinya memarahi Baekhyun habis-habisan tentang meruginya orang yang memutuskan mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Belum lagi saat di mana ia mengenalkan Baekhyun pada sosok Kris, yang notaben adalah teman terdekatnya saat itu. Baekhyun berakhir ketergantungan pada sosok Kris, sementara Sungjae sendiri harus meninggalkan Tokyo dan kembali ke Seoul. Semuanya berlalu begitu saja, tahu-tahu beginilah rumitnya persahabatan mereka bertiga. Sungjae yang hidupnya dipenuhi sekelumit penyesalan, Baekhyun berakhir tinggal di Seoul dengan tujuan perbaikan diri, dan juga Kris yang berusaha membuat hubungan mereka kembali seperti semula. Sungjae bisa mengatakan ini dengan sangat jelas, hubungan ketiganya tidak akan bisa seperti dulu, tidak setelah apa yang sudah lelaki itu lakukan dan berakhir merusak Baekhyun.
"Jadi apa yang menjadi masalah sebenarnya?"Taeil memberikan komentar sesaat Sungjae menyelesaikan ceritanya.
"Taeil-ah, kau masih tidak mengerti? Serius, bahkan dengan otak jeniusmu itu?"
Taeil melengos tidak percaya, tangannya bahkan menggeplak sempurna bahu tegap Sungjae. "Maksudku itu, kau tidak menyukainya, kan?"
"Baekhyun maksudmu?"
Taeil mengangguk. Sungjae tertawa geli. "Kau bercanda, dia hanya temanku, tidak lebih. Teman yang baik dan aku menyayanginya sebatas itu, untuk lebih spesifiknya."
"Kau yakin dengan itu?"nada suara Taeil semakin terdengar menyelidik.
Jika tadi Sungjae menjawabnya langsung, maka kali ini lelaki itu butuh dua detik jeda untuk kembali buka suara. "Ya, aku yakin.. Baekhyun hanya teman yang baik bagiku."
"Baiklah kalau jawabanmu demikian. Itu artinya kau tidak menyukainya, kan? Lalu mengapa harus merasa setakut itu jika Kris benar-benar berniat menyusul kalian kemari? Semuanya akan baik-baik saja, Sungjae-ya. Percaya padaku."
Sungjae menatap lama sosok Taeil, menyelami jernih netra hitam kelamnya untuk tujuan setitik kebohongan. Ia tidak menemukan itu. "Menurutmu aku harus begitu? Semua akan baik-baik saja, kan?"
Taeil mengangguk. "Percaya padaku, semua akan baik-baik saja. Yang perlu kau lakukan hanyalah berusaha dengan baik. Kau akan menjaga Baekhyun, maka jagalah ia dengan semestinya kau menjaga seorang sahabat, mengerti?"
Sungjae mengangguk, mengerti.
"Tidak perlu terlibat urusannya hingga tahap terdalam, biar bagaimanapun kau tidak punya hak untuk mengatur hidupnya, karena yang berhak atas dirinya sendiri adalah dirinya pula, jadi jika dia sudah memutuskan sesuatu maka yang perlu kau lakukan adalah mundur teratur dan dukunglah ia dengan baik, kau mengerti, jerk?"
"Wah, selain kemampuan mengumpatmu yang bertambah baik, kau juga memiliki skill untuk menjadi Ibuku yang baru ya, Taeil-ah."
Taeil tersenyum lebar, namun Sungjae tahu betul kalau senyuman jenis itu bukanlah pertanda baik.
"Aku mengerti. Maka enyahlah ke neraka sekarang juga, kau brengsek!"
Benar saja, setelahnya punggung Sungjae sungguhan sakit sekarang. Pukulan Taeil itu tidak pernah tidak main-main. Selalu menyakitkan. Dan bodohnya Sungjae di setiap obrolan, selalu mencari gara-gara dan berakhir mendapat pukulan yang lain.
Tapi terlepas dari semua pukulan manyakitkan yang ia terima, Sungjae benar-benar bersyukur memiliki sosok teman seperti Taeil dalam hidupnya.
—
Kadang Chanyeol berpikir bagaimana mungkin seseorang memiliki sisi yang berbeda-beda, dan tak jarang pula saling berkebalikan dari yang terlihat di permukaan? Begini lebih jelasnya, seseorang tersebut memiliki sisi polos dari wajah serta perawakan tubuhnya, namun jika ditelaah lebih jauh, sifat serta pembawaan seseorang tersebut jauh dari kata polos, berkebalikan.
Dalam hal ini, Chanyeol sedang membahas Baekhyun. Sudah seminggu terlewati saat insiden balapan liar yang berujung Chanyeol mengetahui bagaimana jelasnya Baekhyun berakhir dititipkan di Seoul. Semua masih dalam keadaan yang sama, tidak ada yang berubah baik dari segi intensitas bicara mereka yang masih diselimuti canggung, obrolan kecil yang terkadang terkesan akrab, sampai pada tahap mengabaikan eksistensi dan segala aktivitas yang dilakukan masing-masing saat mereka berada di satu ruangan yang sama. Kamar nyaris selalu dalam keadaan minim obrolan, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Seperti sekarang contohnya, Chanyeol rebahan tengkurap di kasurnya—sedang mengerjakan tugas laporan bahasa Korea, dan Baekhyun berada di balik meja tablet grafis, sibuk mengerjakan lanjutan serial komik web miliknya.
Biarpun sedang mengerjakan tugas, nyatanya laptop di hadapan Chanyeol tidak lagi tersentuh sejak Chanyeol tiba-tiba terpikirkan tentang sosok Baekhyun. Yang ia lakukan sekarang adalah memandangi punggung Baekhyun, sementara tangan si mungil cekatan menggambar di tablet grafis.
Lagi dan lagi, Baekhyun hanya mengenakan kaus putih polos kebesaran dan celana bokser pendek berwarna hitam, ada kacamata botol yang membingkai mata sipitnya. Entahlah mengapa Chanyeol berakhir suka sekali menjabarkan apapun yang sedang dikenakan si mungil. Hanya saja terkadang Chanyeol berpikir betapa pas apapun yang membalut tubuhnya, jika orang tersebut adalah Baekhyun.
"Chanyeol,"jentikan jari serta sosok wajah Baekhyun yang berjarak sangat dekat—entah sejak kapan, membuat Chanyeol tersentak kaget. Kontan merubah posisinya menjadi duduk agar jarak mereka kembali terbentang cukup normal.
"A-apa?"saat-saat seperti sekarang, Chanyeol tentunya mengutuk bagaimana bisa nada suaranya berakhir gagap. Itu memalukan.
Baekhyun bangkit dari posisi jongkoknya, kemudian menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Chanyeol yang duduk di atas kasur. "Kita perlu meluruskan sesuatu."mulainya serius. Chanyeol yang mengertipun memilih menutup laptopnya dan menaruh itu di nakas.
"Apa?"
"Kau tidak berbicara apapun tentang malam itu, jadi kurasa kau menghindarnya dan itu sungguhan membuatku tidak nyaman."
Chanyeol menyerengit, tidak mengerti. Ia duduk menyilang di atas kasur. Kali ini membalas tatapan Baekhyun. "Aku tidak mengerti, bukankah seharusnya kau berterima kasih karena aku tidak mengungkitnya?"
Baekhyun membuang nafasnya gusar. "Aku iya, andai saja kau tidak terus-terusan menatapku penasaran di setiap kau ada waktu."lantas melengos jengkel. "Itu menyebalkan kau tahu, aku tidak nyaman dengan situasi semacam itu."
"Lalu kau ingin aku bagaimana?"
"Lupakan semuanya, atau tanyakan saja apa yang saat ini ada di benakmu tentangku, semudah itu."Baekhyun menjawab langsung.
Sedang Chanyeol dibuat menghela nafas, ia sungguhan ingin bertanya, tapi di satu sisi ia tidak ingin pula Baekhyun merasa terbebani dengan pertanyaannya. Ini betulan membingungkan.
"Sudahlah, bertanyanya nanti saja."Chanyeol memutus kontak mata mereka, laptop kembali ia raih. "Aku akan mengerjakan tugasku lag—"
Baekhyun mendahului Chanyeol untuk menutup laptop, kembali tatapan mereka beradu. "Sekarang Chanyeol, tanyakan semuanya sekarang atau tidak sama sekali. Pilihlah."
Chanyeol menarik tangannya yang semula beradu diantara laptop dan tangan Baekhyun, akibat gerakan menutup tadi. Sekarang ia menatap Baekhyun serius. "Baiklah, aku akan menanyakan semua sekarang."mulainya, kemudian beringsut mundur hingga sekarang punggungnya bersandar di kepala ranjang, sementara Baekhyun turun dari kursinya dan beranjak duduk di kasur yang sama. "Kau berteman dengan Sungjae dan dia memberikanmu pengaruh buruk, mengapa tidak berhenti berteman dengannya?"
Baekhyun merebahkan tubuhnya sejajar dengan kaki Chanyeol, mengabaikan sentakan kaget si Jangkung saat ia melakukan semua itu tanpa permisi. Tatapannya lurus menembus langit-langit kamar, tapi pikirannya tentu saja sudah mulai berkelana ke sana-kemari. Menjelajah sekali lagi ruang waktu untuk mengingat kembali memori masa lalunya. "Dengar, Chanyeol, aku rusak bukan karena Sungjae. Dan lagi, mengapa aku harus berhenti berteman dengannya?"ia sedikit melirik Chanyeol yang sama sekali tidak bereaksi lebih sejak tadi.
"Jangan katakan dirimu sendiri rusak, Baekhyun. Semua itu tidak benar, maka dari itu berhentilah mencela dirimu sendiri."
Baekhyun tertawa kecil, ada kemirisan dari nada suaranya. "Kau tidak tahu apapun tentangku, Chanyeol. Sejujurnya kau akan terdengar seperti malaikat suci jika menasehatiku seperti itu."setengah mencibir, Baekhyun kemudian mendesah getir. "Aku bahkan sudah terlalu rusak untuk diperbaiki."
Chanyeol lurus menatap Baekhyun yang berusaha terlihat biasa saja, meskipun nada suara dan ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia tertekan denan semua pembicaraan ini. "Lalu katakan padaku, katakan padaku apa yang membuatmu serusak itu untuk bisa diperbaiki, Baekhyun."
Baekhyun mendenguskan sebuah tawa geli. "Hei, Chanyeol, kurasa kita tidak sedekat itu untuk bisa kuceritakan semua kerusakan diriku."ia mengukir senyum miring. "Kau tidak perlu tahu semuanya, atau nantinya kau akan lebih jijik lagi padaku."
Baekhyun bangkit dari posisinya, memberikan senyuman teduhnya sekilas pada Chanyeol, sebelum kembali duduk di balik perlatan tablet grafisnya. Kembali memunggungi Chanyeol yang dibuat tertegung di tempatnya.
Lama perkataan Baekhyun mengapung di udara, Chanyeol akhirnya memberikan sebuah pembelaan. "Aku tidak pernah merasa jijik padamu, Baekhyun."
Awalnya Baekhyun ingin mengabaikan perkataan itu, namun Chanyeol memanggil namanya sekali lagi hingga mau tak mau membuat Baekhyun membalasnya. Ia berbalik untuk bersitatap dengan Chanyeol. "Tatapanmu malam itu tidak bisa berbohong, Chanyeol. Kau merasa terganggu dengan fakta kau harus menciumku agar rasa mengerikan itu bisa hilang. Kernyitan jijik ada di tatapanmu saat kau memandangku. Sudahlah biar bagaimanapun aku adalah seorang pecandu narkoba, tidak mungkin orang sepertimu tidak merasa baik-baik saja berdekatan denganku."
"Aku tidak begitu.."Chanyeol menyangkal cepat.
Decihan sebal mengudara, itu olah Baekhyun. "Sudahlah Chanyeol, selesaikan saja tugasmu dengan segera. Kita bicarakan lagi nanti."dengan begitu ia kembali berkutat dengan tablet grafisnya, mengabaikan Chanyeol yang sekali lagi merasa begitu sebal karena sudah ditempatkan dalam posisi membingungkan.
—
Hari ini merupakan minggu tenang, andai saja teriakan Yoora yang disusul pekikan kaget Chanyeol tidak terdengar dari kebun di belakang rumah. Keduanya sungguhan membenci serangga. Dan Baekhyun rupanya sangat berbaik hati karena mewujudkan ketakutan mereka dengan melontarkan teriakan palsu yang menyebutkan kalau di belakang mereka berdua ada serangga besar yang merayap mendekati tengkuk. Alhasil, dengan bodohnya mereka berdua percaya dan sontak berteriak heboh. Mengabaikan tawa lepas Baekhyun yang merasa begitu lucu melihat mereka menggeliat karena prank darinya.
Nyonya Park yang baru saja keluar rumah untuk mengecek pekerjaan mereka, segera dibuat menghela nafas jengah sebelum kembali ke dalam. Mengabaikan sepenuhnya teriakan kedua anaknya yang begitu dramatis.
Entah sejak kapan bermula, Nyonya Park mempertanyakan hal tersebut dalam benaknya. Ada dua kubu yang tercipta dari ketiga bocah—abaikan umur Yoora yang nyaris menyentuh kepala angka tiga, karna nyatanya kelakuan si sulung tak ubahnya bocah kembar nakal yang begitu kompak, tentunya bersama Chanyeol. Dan mereka berdua sepakat melawan Baekhyun. Pola mereka bertiga seperti lingkaran yang tidak berujung, melempar kejahilan saling berbalas. Beliau bahkan tidak bisa mengerti lagi tentang perilaku mereka. Sepanjang hari di rumah terasa seperti taman bermain. Yoora yang cekikikan, Chanyeol yang terbahak, kadang mereka berdua berteriak geram, dan Baekhyun adalah yang paling tenang dalam artian tidak hiperbolis macam Park Bersaudara. Si mungil hanya akan tertawa mengejek saat kejahilannya berhasil, juga mengumpat saat kubu Chanyeol-Yoora berhasil unggul.
Langkah Nyonya Park baru saja mencapai dapur—lengkap menggerutu sepanjang ruang tamu hingga mencapai tujuan, saat kemudian terdengar tangisan Yoora yang memekik. Merasa khawatir, tentunya Ibu dari Park bersaudara itu segera berlari guna memastikan tidak ada hal buruk terjadi.
.
.
.
Untuk sesaat, Yoora pikir Baekhyun yang berusaha keras menjaga dirinya sendiri agar tidak tenggelam di kolam renang, juga suara tercekat oleh ketakutan serupa perbuatan pura-pura adalah sebagai bentuk usahanya untuk mengerjai mereka lagi—ia dan Chanyeol, maka dari itu Yoora justru menertawai upaya si Mungil dan mengabaikan permintaan tolongnya, tentu saja. Chanyeol yang berdiri di sampingnya juga ikut-ikutan tertawa tanpa berniat menolong. Jadinya yang mereka berdua lakukan hanyalah menonton dan terbahak keras-keras. Keadaan mungkin akan tetap selucu itu jika saja Baekhyun yang mungkin sudah mulai kehabisan nafas berhenti mengais udara kosong menggunakan tangannya dan perlahan-lahan membiarkan tubuhnya yang sudah lemas ditelan air kolam. Sontak tawa keduanya berhenti, sejurus saling pandang dengan binar wajah pucat yang di dua detik berikutnya Chanyeol memilih melepas baju kaosnya dan langsung melompat memasuki kolam.
Hal pertama yang Chanyeol dapati sesaat ia membuka mata di dalam air, adalah sosok Baekhyun dengan mata tertutup sedang membiarkan dirinya ditarik perlahan oleh gravitasi hingga berakhir terduduk di dasar kolam. Chanyeol butuh menginjak lantai hingga bisa meraih tubuh Baekhyun dan membawanya dalam pelukan. Untuk beberapa alasan Chanyeol merasa begitu khawatir pada sosok Baekhyun yang tidak sadarkan diri. Mereka muncul di permukaan, dengan cekatan si jangkung mencoba melakukan pertolongan pertama, menekan berulang dada Baekhyun untuk menarik kembali air yang sudah tertelan masuk, namun justru tida ada perubahan yang berarti. Baekhyun masih dalam keadaan semula. Untuk itulah Chanyeol tanpa pikir panjang merendahkan tubuhnya, berniat untuk meniupkan sejumlah oksigen ke dalam mulut Baekhyun, namun respon tiba-tiba si mungil yang membuka mata dan bernafas putus-putus dalam artian sedang berusaha mengembalikan nyawanya, membuat Chanyeol tersentak kaget diikuti Yoora setelahnya. Mereka kontan menghela nafas lega bersamaan, diikuti Yoora membantu Baekhyun untuk berada dalam posisi duduk. Si sulung memeluk erat Baekhyun.
"Syukurlah, Baekhyun, hiks.. Kau bodoh, kenapa tidak bilang.. k-kalau kau t-tidak, hiks, bisa berenang?"Yoora sesegukan seperti anak kecil di bahu Baekhyun, sedangkan Baekhyun sendiri perlahan mengelus punggung Yoora untuk membuatnya tenang.
"Aku baik-baik saja, Nunna.."
Entah mengapa Baekhyun merasa begitu hangat saat itu.
—
"Maaf.."
Baekhyun yang baru saja keluar dari kamar mandi, kontan menyerengit bingung sesaat melihat Chanyeol duduk di atas ranjang, pandangan kosong ke depan, tanpa menatapnya dan malah mengatakan maaf. Lama ia diam saja, dan selama itu pula Chanyeol tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Kau mengatakan maaf untuk apa? Apa masalah di kolam tadi?"
Chanyeol mengangguk, gerakannya nampak kaku, tanpa semangat.
"Sudah kubilang bahwa aku baik-baik saja, mengapa masih terus mengatakan maaf?"
Akhirnya kali ini Chanyeol menoleh padanya, terpaku, sedang sorot matanya memang sedang seserius itu tentang maafnya. "Mengapa memaafkanku semudah itu?"
Baekhyun melengos, setengah mencibir ia menjawab. "Lalu aku harus apa? Menonjokmu?"
"Lakukan itu jika memang harus."Chanyeol kontan menjawab. Sedang Baekhyun memilih diam.
"Lakukan Baekhyun, pukul aku jika memang itu harus."Chanyeol mendesaknya lagi, namun Baekhyun masih diam. Ia memilih membuka lemari dan memilih pakaian, secara tidak langsung memberikan gestikulasi menolak menjawab.
"Jika seseorang memperlakukanmu keterlaluan, kau harus membalasnya, Baekhyun-ah. Lakukan apapun yang bisa membuatmu merasa lebih baik—"
"Maka aku memaafkanmu, itu sudah cukup untuk membuatku merasa lebih baik, apa itu juga cukup untukmu?" Baekhyun berbalik, tautan mata mereka terjalin kembali.
"Kau yakin?"
Baekhyun mengangguk. "Sekarang tidak perlu merasa terbebani dengan rasa bersalahmu. Aku baik-baik saja, Chanyeol."
Raut wajah Chanyeol berubah lebih baik, ia terlihat lega. Dan untuk itu Baekhyun ikut pula merasa lebih baik.
—
Sebetulnya memiliki Sungjae sebagai satu-satunya teman yang selalu siap mengintilinya kemanpun ia pergi, adalah sesuatu yang buruk. Pertama, karena Sungjae itu sangat menyebalkan; terus-terusan mengoceh, memintanya untuk balapan sekali lagi, tapi Baekhyun tentu saja berakhir menolak sebanyak apapun itu Sungjae meminta. Kedua, Sungjae itu urat malunya sungguhan sudah putus, ia bertingkah semaunya, tidak peduli bahkan tingkahnya itu terlewat dari batas normal. Ketiga, Sungjae itu si bodoh yang sungguhan membuat Baekhyun ingin mencakar wajahnya hingga tidak lagi berbentuk; bagaimana tidak, kemanapun Baekhyun pergi, Sungjae selalu mengikutinya. Hal itu membuat semua orang salah paham, mereka mengira Sungjae adalah kekasihnya, Baekhyun lelah karena terus-terusan menjelaskan kebenarannya, tapi Sungjae si bodoh itu malah tidak menyangkalnya dan malah bertingkah semakin menyebalkan dengan merangkul-rangkulnya, atau bahkan mencium pipinya sesekali.
Tapi terlepas dari itu semua, Baekhyun merasa Sungjae ada gunanya juga sebagai teman.
Contohnya seperti sekarang, awalnya Baekhyun kira Sungjae itu tidak masuk sekolah, ia bahkan sudah menyusun seharian penuh agenda sekolah tanpa Sungjae. Tapi sayang sekali, saat bel pertanda istirahat pertama berbunyi, guru bahasa Korea yang saat itu mengajar, segera berlalu pergi setelah mengatakan sampai jumpa di kelas selanjutnya, Sungjae entah dari mana muncul lengkap dengan wajah super mengantuknya, pemuda itu menaruh tas ranselnya di bangkunya sendiri, di samping Taeil. Setelah menyapa si jenius berwajah dingin dan mulut pedas itu, Sungjae kemudian mendatangi bangkunya. Baekhyun berwajah masam, terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin bersama yang lain.
"Kalian duluan saja,"Baekhyun menyuruh Amber dan Yuta untuk pergi lebih dulu, mereka berdua kontan tertawa saat mengerti alasan perubahan wajah Baekhyun.
"Baekhyunie darling.."
Baekhyun menghembuskan nafasnya panjang, kemudian melirik malas-malasan ke arah Sungjae.
"Apa dia terkadang memang semenyebalkan itu? Tingkahnya maksudku."Yuta turut memandangi Sungjae yang kini berjarak tiga langkah dari mereka.
"Selalu, Yuta. Bukan hanya terkadang. Aku sejujurnya membenci bocah tengik itu."Baekhyun menggerutu, kemudian melengos kesal saat akhirnya Sungjae berlalu kembali ke bangkunya hanya untuk mengambil kantungan plastik yang sudah bisa Baekhyun tebak isinya apa; bibimbab tuna pedas dan susu strawberry.
"Tapi kurasa ia menjadi lebih mendingan saat kau datang,"Amber berkomentar. "Maksudku dia sudah mulai jarang melewatkan kelas dan merokok sembarangan. Ah ya, dia juga berhenti menjahili orang lain."
"Untuk alasan pertama, aku membenci asap rokok, dan dia sudah kuperingatkan untuk tidak merokok saat berada satu ruangan bersamaku."Baekhyun meringis kesal. "Untuk alasan kedua, sasaran kejahilannya adalah aku sekarang. Itu menyebalkan sekali, omong-omong."
Amber dan Yuta kompak tertawa.
"Tapi sisi baiknya adalah, dia merupakan orang yang loyal dan pengertian."Yuta menambahkan, yang mana itu langsung mengundang Baekhyun untuk tersenyum. "Hm, kau benar."
Sungjae datang dengan senyuman lebar idiotnya, meletakkan sebotol susu strawberry dan bibimbap tuna pedas di atas meja. Baekhyun menerima itu, meskipun sudah seringkali ia juga sudah mengatakan bahwa sekarang setiap hari ia sarapan, Sungjae tetap saja membawakan semua itu untuknya. Kebisaan ini berawal saat di Jepang, Baekhyun seringkali melewatkan sarapan paginya dan selalu berkahir tumbang saat pelajaran olahraga berlangsung.
"Jae,"Baekhyun memanggilnya saat mereka sedang menuju kantin. Ketika Sungjae menoleh, bisa ia lihat ada yang berbeda dari wajah teman idiotnya itu. "Kau tawuran lagi, ya?"
Sungjae menghentikan langkah, menggeleng guna menjawab. "Tidak, aku tidak pernah ikut tawuran lagi sejak kau melarangku."
"Bagus, lalu mengapa wajahmu babak belur?"
Sungjae berbalik acuh, dan meneruskan berjalan namun lagi-lagi Baekhyun membuatnya berhenti dengan satu seruan yang langsung membuatnya terdiam kaku.
"Apa karena masalah si Cheetah?"
Dari mana dia bisa tahu?! Sungjae berteriak tidak percaya dalam benaknya. Ia menoleh, wajahnya tersirat keraguan, namun karena rasa kepedulian yang lebih besar, Sungjae memilih merubah raut wajahnya menjadi ceria kembali. "Aku mabuk kemarin malam, dan ada sedikit insiden kecil terjadi ketika di kelab."
Baekhyun memicing jeli, mencari kebohongan di wajah Sungjae. "Kau yakin dengan itu?"
Sungjae mengangguk.
"Lalu mengapa kau tidak berangkat bersama Cheetah hari ini?"
Sungjae tertawa kaku, berusaha keras untuk tidak terintimidasi dengan tatapan Baekhyun. "Dia sedang di bengkel, aku sedikit memperbaiki bodi belakangnya."
"Jadi benar kau tidak berangkat dengan Cheetah? Padahal aku hanya menebaknya saja."Baekhyun tersenyum geli. "Syukurlah kalau mobilmu baik-baik saja, itu tidak berhubungan dengan kau yang mengajakku balapan lagi, kan?"
Sungjae terdiam cukup lama, bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya atau harus berbohong demi kebaikan. Tapi bila menyangkut masalah harga diri, entah mengapa Sungjae selalu dibuat tidak berdaya.
"Kenapa diam saja? Ayo pergi."Baekhyun berjalan lebih dulu, meningalkan Sungjae di belakangnya yang masih menimbang keputusannya.
"Baekhyun,"
Si mungil menoleh, memberikan ekspresi wajah tanya atas sebutan namanya, sebelum berbalik sepenuhnya menghadap Sungjae yang masih terdiam di tempat. Jarak mereka terpaut lima langkah, Sungjae maju tiga kali untuk membuat jarak mereka terbentang pendek. "Ayo ikut balapan sekali lagi, mereka menyita Cheetah sebagai jaminan. Sejujurnya aku tidak terlalu peduli dengan mobil itu, tapi wajah sombong si sialan itu benar-benar membuatku tidak tahan untuk mengiyakan."
Baekhyun terdiam, ada jeda dua detik untuknya menghembuskan nafas berat, sebelum berucap. "Ayo bicarakan hal ini nanti, sampai jumpa di kelas."setelah itu ia berlalu pergi, mengambil jalan berlawanan arah dari kantin. Ketika Sungjae berteriak bertanya tentang kepergiannya, Baekyun balas berteriak untuk tidak mengikutinya dan pergi menjauh tanpa Sungjae mengekorinya.
—
Entah harus bersyukur atau bagaimana, dua jam sebelum istirahat makan siang, saat pelajaran sejarah Korea lebih tepatnya, Guru Lee mendadak ada urusan sehingga absen mengajar dan hanya meningkalkan tugas mereview sebuah buku cerita historikal di perpustakaan. Berempat; duo kopi-susu, Chanyeol dan Kyungsoo, mereka duduk saling berhadapan dengan fokus masing-masing terletak pada buku cetak dan selembar kertas folio. Chanyeol di samping Sehun, berseberangan dengan Jongin yang duduk di sebelah Kyungsoo.
Setidaknya kelas Sejarah Korea hari ini tidak semenegangkan biasanya, mereka bisa sedikit rileks sebab tidak ada hujaman tatapan leser Guru Lee yang memindai setiap jengkal ruang kelas.
Untuk beberapa alasan, tiba-tiba tatapan Sehun dan Chanyeol kompak mengabaikan buku cetak dan malah memperhatikan interaksi Jongin-Kyungsoo yang terbilang lumayan lebih dekat. Yang lebih pendek mulai jarang mencerca Jongin, juga mereka kerapkali mengobrol santai tanpa ada umpatan-umpatan apapun terselip. Itu merupakan hal yang bagus, karena Jongin sendiri adalah sosok pribadi yang introvert, lelaki itu kini lebih sering berekspresi tanpa paksaan.
Interaksi keduanya kali ini berupa Jongin yang memperhatikan buku cetak milik Kyungsoo—beruntung untuk Jongin karena dirinya memiliki nilai yang bagus pada pelajaran ini, membantunya untuk mengurai ungkapan ataupun kata-kata yang sulit.
Lalu atensi keduanya terbagi sesaat Sehun memulai obrolan melalui bisikan. "Yeol, menurutmu apa kita harus pergi?"
Chanyeol ikut mendekat, hingga kini lengan keduanya menempel tanpa jarak. "Kau berpikir begitu? Ide yang bagus. Kau sudah menyelesaikan milikmu?"
Sehun mengangguk. "Haruskah kita pergi bersama atau sendiri-sendiri?"
Masih berbisik, Chanyeol menjawab. "Sendiri-sendiri. Mereka akan curiga kalau kita pergi bersama. Kau pergi setelahku, mengerti?"
Sehun mengiyakan, lantas Chanyeol pun bangkit dan membereskan peralatan tulis miliknya. "Kyung, aku akan pergi duluan, ingin pergi ke toilet. Kumpulkan sekalian tugasku pada ketua kelas, ya."dan pergi begitu saja setelah Kyungsoo menerima hasil tugas miliknya.
Lima menit berselang, Sehun memulai dengan melihat arlojinya. "Sepertinya aku harus pergi ke kantin duluan untuk menjaga meja. Anehnya perutku secara otomatis menjadi lapar saat tugasku selesai. Kumpulkan tugasku sekalian ya, Jong."
Jongin buru-buru menahan Sehun sebelum si albino melenggang pergi. "Enak saja menitip tugas setelah waktu satu jamku kalian pakai habis untuk konsultasi tugas kalian, aku bahkan belum mengerjkan apapun saat ini."
"Ayolah, Jong.. Aku lapar sekali—"
"Tidak.."
"Jong—"
"Tid—"
"Biarkan Sehun pergi. Aku yang akan menemanimu di sini, lagipula tugasku juga belum selesai."Kyungsoo menyela perdebatan keduanya, sejurus membuat Jongin menatapnya tidak percaya.
Sehun berdecak, merasa geli sendiri melihat Jongin sibuk mengerjap-ngerjap setengah heran pada Kyungsoo yang kini sibuk dengan tugasnya. "Baiklah, kau dengar apa kata Kyungsoo, Jong.. Biarkan aku pergi dan kumpulkan tugasku sekalian.. Sebagai gantinya aku akan pesankan makan siang kalian, langsung pergi ke kantin setelah tugas kalian selesai, oke.."
Jongin mengangguk dan duduk kembali, sedang Sehun lekas-lekas pergi dari sana.
Kini keduanya diliputi keheningan, Kyungsoo merapikan tugasnya sekali lagi sebelum selesai, sedangkan Jongin baru mengerjakan miliknya.
Hampir lima belas menit berlalu begitu saja, fokus Jongin pada tugasnya berhamburan sesaat mendengar Kyungsoo menggerutu kesal.
"Sialan, mengapa chapter kali ini begitu pendek? Menyebalkan sekali!"
Jongin menyerengit penasaran, kemudian ia sedikit mememanjangkan leher guna menilik isi ponsel Kyungsoo, mencari tahu apa maksud dari chapter, sialan, dan menyebalkan dari ucapannya tadi.
"Oh, kau membaca serial komik ini juga?"Jongin berucap dengan semangat menggebu, membuat Kyungsoo menoleh dan memberinya anggukan antusias.
"Aku suka sekali dengan serial komik ini, sayang sekali chaper minggu ini sangat singkat. Kau juga menyukainya?"
"Tentu saja, aku mengikuti serialnya dari awal. Mungkin aku termasuk salah satu pembaca puluhan pertamanya, sebelum ia direkrut untuk bernaung di bawah perusahaan profesional. Kau tahu mengenai kabar ini?"
Kyungsoo menggeleng, binar matanya nyata sekali kalau ia benar-benar menggebu mengenai perbincangan kali ini. Serial yang mereka bahas adalah Nalbi; hujan rintik yang turun secara tiba-tiba. Sebuah serial komik online, terbit di sebuah web kenamaan yang menampung penulis animasi cerita bergambar dari berbagai belahan dunia. Nalbi merupakan serial yang komikusnya sendiri tinggal di Jepang. Komiknya begitu populer di berbagai kalangan dan sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, hingga kabarnya sempat akan di filmkan, namun harus batal karena komikusnya sendiri enggan serialnya dirampungkan secepat mungkin untuk dapat ditulis ke dalam naskah film. Cerita Nalbi tidaklah picisan seperti kisah drama, meskipun genrenya sendiri berkisar seputar kehidupan remaja yang tinggal di dalam lingkungan keluarga yang abai terhadap si tokoh utama sehingga mengakibatkan ia terjerumus ke dalam lingkaran kehidupan bebas berupa seks, obat-obatan terlarang dan beberapa kenakalan remaja lainnya. Semula awal dari kisah tersebut gampang sekali ditebak alurnya, namun ternyata kisah remaja bernama Renji—tokoh utama di serial Nalbi, tidak sesederhana itu. Dan yang paling membuat pembaca merasa tertantang untuk mengikuti kisahnya, adalah karena pasangan dari si tokoh utama bukanlah perempuan manis yang terlalu sering digambarkan di cerita lain. Daya tarik kisah ini terletak pada alur cerita yang tidak biasa dan si komikus mengangkat isu Gay atau penyuka sesama jenis sebagai pasangan utama ceritanya. Banyak hal pelik terjadi di dalam kisah tersebut, seolah berbagai isu yang diangkat si komikus merupakan pengalaman pribadi. Namun sayang hal tersebut masih menjadi misteri hingga sekarang, pembuat kisah Nalbi sendiri juga masih tidak teridentifikasi sosoknya seperti apa; perempuan kah, atau lelaki kah, dimana ia tinggal, berapa kisaran umur, bahkan tidak ada yang tahu persis mengenai hal tersebut. Alur terlalu mengecoh untuk ditebak, gambar yang konsisten pada setiap tokoh, plot twist yang tidak biasa, pencampuran genre yang dinamis, sampai pada pembuat komiknya pun misterius.. Satu kata untuk Nalbi, Paket Komplit.
Jongin tanpa sadar tengah tersenyum kecil melihat Kyungsoo dengan begitu antusiasnya mereview kembali kisah Nalbi, hal-hal yang sangat disukainya, hingga kekurangan yang sayangnya semakin membuat ia menyukai kisah Nalbi, Kyungsoo menggebu menceritakan semua itu padanya. Tapi setidaknya satu hal yang bahwasanya baru Jongin sadari sekarang, ini mengenai alasan dulu hingga sekarang ia jatuh hati pada si pemilik mata serupa burung hantu, semua itu tidak lain karena sikap dan pembawaanya yang membuat sosok Kyungsoo adalah Kyungsoo yang masih sama, tidak berubah dan akan tetap sama. Jongin jatuh hati dengan bagaimana Kyungsoo mengabaikannya, memarahinya, memperdulikannya diam-diam atau bahkan mengumpat padanya. Jongin menyukai segalanya tentang Kyungsoo.
Bahkan hingga sekarang, aku masih jatuh untukmu..
Masih tersenyum, namun kali ini disertai keberanian yang besar, Jongin berucap. "Minggu depan akan ada launching serial Nalbi yang akan dibukukan. Kabarnya akan ada mini fanmeeting, itupun jikalau pihak penerbit benar-benar beruntung bisa membawa si komikus membuka wajah di publik. Kau mau pergi bersamaku?"
Lalu, yang tidak Jongin duga sama sekali dari banyaknya reaksi yang ia harapkan, Kyungsoo malah balas tersenyum amat lebar padanya. "Tentu saja, mengapa aku harus menolaknya, Jonginnie.."
Ah, panggilan itu.. Bahkan hingga kini, jantungnya masih berdesir hangat ketika mendengarnya.
—
Alasan mengapa Baekhyun berakhir mengurung dirinya di dalam bilik toilet selepas berpisah dengan Sungjae saat di koridor utama tadi, itu karena kecemasan berlebih tiba-tiba saja datang dan nyaris membuatnya seperti hilang akal. Baekhyun tidak mengerti apakah itu merupakan efek karena ia tidak lagi mengonsumsi obat-obatan terlarang, ataukah murni traumatis yang ia alami sejak menengah pertama kembali mengusiknya. Yang jelas di sini, begitu Sungjae mengungkit tentang pertaruhan harga diri, Baekhyun merasa dirinya tertarik begitu saja ke dalam lubang bernama kecemasan.
Entah pemicunya di mana, Baekhyun sungguh tidak mengerti. Hal pertama yang ia pikirkan setelah mencoba mengurai serangan kecemasan ini, bahwa itu adalah efek dari ia yang tidak lagi ingin kembali berurusan dengan taruhan apapun itu yang mengatasnamakan harga diri. Bukan karena apa, sejujurnya Baekhyun tidak benar-benar memiliki ketakutan apapun, selain harga diri yang dipertaruhkan hingga berujung pada balas dendam yang menghalalkan segala cara untuk memuaskan hasrat ingin menang.
Harga diri merupakan sesuatu hal yang paling menakutkan, terlepas apapun akan berakhir dilakukan untuk mempertahankannya di dalam diri. Bahkan ada sebagian orang yang berpikir bahwa kehilangan harga diri, sama saja dengan kehilangan hidup. Dalam arti lain sebagian orang tersebut akan memilih mati dibanding hidupnya dipenuhi rasa tanpa gairah hidup.
Baekhyun sendiri mungkin termasuk ke dalam kategori sebagian orang tersebut. Karena baginya, harga dirinya sama arti dengan Kris—orang yang ia gantungi untuk bertahan hidup setelah lama ia merasa bahwa hidupnya tidaklah memiliki arti. Kris bagai pelita yang menerangi, membuat Baekhyun sadar akan pentingnya hidup sebebas jalan tol yang lurus. Bertemu dengan Kris membuatnya memiliki gairah hidup dan tujuan. Baginya, kehilangan Kris sama arti dengan kehilangan harga diri. Ia rela menjadi pecandu agar Kris bisa terus menepuk kepalanya dan dengan bangga mengatakan 'kerja bagus' saat ia menyuntik sejumlah barang haram ke tubuhnya. Ia akan merasa bahagia sesaat Kris menikmati tubuhnya dan berkata bahwa tidak akan tidur dengan siapapun selain dengan dirinya. Ia akan tersenyum saat Kris juga tersenyum. Ia akan melakukan apapun demi keberadaan Kris setiap malam di sampingnya. Ia rela menjadi pesakitan tidak berguna yang kotor..
Sebergantung itu ia akan sosok Kris, karena memang ia sungguhan mencintai Kris hingga rasanya hidup tanpanya begitu sulit.
Baekhyun mengalami kesulitan membiasakan dirinya tinggal di Seoul, jauh dari Kris, hingga perlahan mulai kehilangan gairah untuk mencoba bertahan hidup.
Hingga kadang Baekhyun sampai terpuruk sendiri memikirkan Kris yang bahkan tidak mencari kabar tentangnya. Baekhyun tahu bahwa Kris tidak pernah mencintainya, segila Baekhyun mendamba akan sosoknya.
Bodohnya dirimu, Byun Baekhyun..
Ia menangis, meraung tanpa berusaha menahan gejolak emosinya yang menguar akibat serangan kecemasan tiba-tiba. Ia tidak tahu berapa lama waktu yang ia habiskan untuk menangis, ia juga tidak menduga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi saat ia mengurung diri di dalam toilet, sedang menangis tersedu tanpa tahu malu, dan bagian paling buruknya lupa mengunci pintu.
Ia sama sekali tidak memperhitungkan bahwa sewaktu berikutnya dari hitungan detik yang ia lewati menjadi pesakitan seorang diri, pintu toilet akan terbuka dan sosok Chanyeol memandanginya penuh empati. Baekhyun juga tidak mengira kalau Chanyeol akan bersimpuh di lantai, dan mengulurkan tangannya untuk menghapus jejak kesedihan di pipinya.
"Apa setiap kali kau mengalaminya, rasanya sesakit itu?"senyuman tipis terukir di sana, nampak begitu empatik, sialnya terasa begitu tulus. "Tidak perlu merasa sedih, aku akan menemanimu. Mulai sekarang, apapun yang terjadi, apapun yang kau butuhkan untuk mengurangi kesakitan itu, datanglah padaku. Jangan ragu, karena aku akan membantumu melepaskan rasa sakitnya."
Lalu begitu saja Chanyeol mendekat, merangkum wajah Baekhyun menggunakan kedua tangan, menangkap bibir bergetar si mungil untuk dibawanya dalam ketenangan. Melumatnya begitu lembut, memberinya kekuatan untuk menyingkirkan segala bentuk emosi tidak berujung, sampai pada rasa candu ingin merasakannya lagi dan lagi. Tidak ada keraguan, sama sekali. Darah di sekujur tubuh Baekhyun bahkan dibuat berdesir hangat, penuh gejolak apresiasi.
Baekhyun balas mencium Chanyeol, menurut ketika lidah lain mengetuk bibirnya, melenguh ketika benda lunak itu menjelajah masuk ke mulutnya, begitu menikmati segala afeksi yang mendera buah dari ciuman mereka. Nafas saling menderu, bibir saling melumat, sesekali menggigit, hingga kecipak sensual terdengar begitu erotis namun di sisi lain begitu mendebarkan. Baekhyun begitu menyukai sensasi saat Chanyeol menciumnya begitu dalam, begitu lembut namun juga begitu intim secara bersamaan. Ada jeda untuk keduanya menjauhkan wajah untuk sekedar menarik nafas, dan tiga detik berselang Baekhyun adalah orang pertama yang memulai pagutan bibir kembali. Merasa candu.
Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk saling candu dengan bibir masing-masing, yang jelas untuk saat ini, Baekhyun sungguhan merasa tenang seolah tidak ada hal apapun yang membebani hidupnya.
—
Masih di chapter 7, aku update ulang ini. Tadi kayanya ada error deh, soalnya ada yang bilang kalau ada bagian yang kedouble, eh pas aku check malah engga adaa di tempat aku, makanya aku milih hapus part dan update ulang.
Makasih sudah koreksi apapun yang mengganjal meurut kalian, aku senang kalian koreksi kesalahanku :)
A/n:
Maaf lama up nya, huhu. Real life benar-benar menyita waktuku buat menulis :(
Aku senang deh, hehe. Ternyata banyak yang nungguin cerita ini up, makasih yaa..
I loveyou guys!
Bye~
