Difficult

文豪ストレイドッグス Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka/Harukawa35

Story and Fiction by: satsuki grey

.

.

.

.

.

Declaimer:

Pairing:

Dazai Osamu x Nakahara Chuuya

Rated:

T

Warning:

Gaje berlebihan, Typo bertebaran, Sho-ai Sei-ai, YAOI adalah kewajiban, OOC itu mutlak, AU/AR, Slash of Love, dan lain warning gak jelasnya.

Summary:

Double Black di kenal sebagai senjata andalan milik Port Mafia, Dazai Osamu dan Nakahara Chuuya, walaupun begitu mereka juga memiliki kehidupan pribadi mereka di balik eksetensi dan cerita yang ada, dan itu menjadi sebuah rahasia yang sulit, di tambah dengan anak kecil dari panti asuhan yatim piatu.

Bungou Stray Dogs

Drama, Family, Tragedy, Hurt/Comfort, Indonesia, Soukoku fanfiction-serial, Dazai Osamu x Nakahara Chuuya

(Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini)


.

.

.

.

.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak mulai semuanya dari awal, Chuuya?" tanyanya dengan simpul miring. Mendekat ke arah Chuuya sambil menyebut namanya, "Fyodor Dostoyevsky, aku kenal Dazai Osamu…" sementara Chuuya terbelalak dengan tindakan orang asing itu.

Berusaha menjaga jarak dengan pandangan dan tatapan tajam pada orang asing itu, Fyodor, seraya berkata, "Aku tidak peduli kau itu siapa dan apa kau mengenal Dazai atau tidak sama sekali, itu bukan urusanku" ucap Chuuya datar, tatapannya tajam sayang dia tidak membawa senjata saat ini, sial.

Fyodor diam sejenak dengan alis yang terangkat naik, lalu sedikit tertawa rendah dan menjawab "Yahh, memang benar sihh, dan apa kau mengenal Dazai, nee Chuuya?" tanya si raven hitam ini penuh muslihat.

Chuuya diam sejenak berusaha mencerna pertanyaan Fyodor namun dia menjawab, "Tidak ada hubungannya denganmu baik aku maupun Dazai" masih dengan nada yang ketus "Memangnya kau itu siapanya Dazai?" tanya Chuuya heran dia masih was-was.

"Aku?" Fyodor memiringkan sedikit kepalanya lalu berkata, "Teman dekatnya" ucap Fyodor dengan simpul.

Hening sejenak, Fyodor masih tersimpul sementara Chuuya menatapnya tajam, namun di detik berikutnya sang mafia ini menjawabnya dengan nada yang lebih ringan.

"Ah, begitu…, sayang sekali aku tak tau" ucap Chuuya sekarang suaranya lebih tenang.

"Yahh…, ku dengar Nakahara Chuuya sedikit mengalami amnesia jangka pendek, kan?" tanya Fyodor yang tengah menatap lautan yang gelap dan merasakan dinginnya udara.

"Dari mana kau tau itu?" tanya Chuuya yang sekarang berdiri di samping Fyodor.

"Dazai yang menceritakannya padaku" ucap Fyodor menopang dagunya lalu tersenyum pada Chuuya.

"Ah, begitu…" pekik Chuuya sekarang dia tengah menunduk dan membiarkan surai senjanya ikut mengalun pelan dalam terpaan angin laut.

Berpikir tentang Dazai sejenak, apa Chuuya melukainya hingga dia bercerita tentang dirinya pada teman dekatnya sendiri? Sejujurnya dia juga tak ingin ini semua terjadi, mungkin dia butuh isthirahat sejenak sungguh dirinya lelah akan ini semua, poros kehidupan memang tidak selamanya berakhir dengan indah atau selalu indah.

"Chuuya, kau tak apa?" Fyodor menyentilkan jarinya tepat di dekat telinga Chuuya membangunakannya dari lamunannya.

"Maaf, aku melamun tadi" ucapnya dengan tawa pelan sambil menggaruk pipinya dengan satu jari.

"Heee…., apa yang kau pikirkan, kau bisa ceritakan padaku…" ucap Fyodor dengan senyum ringan yang membuat siapa saja percaya pada setiap tutur kata yang di ucapkannya.

"Aku tidak yakin sama sekali haha" sekarang Chuuya sedikit memejamkan matanya.

Fyodor masih memperhatikannya, hingga Chuuya angkat suara sedikit serak dan bibirnya serasa bergetar, "Aku kehilangan sesuatu yang berharga"

"Hmm? Apa itu…?" tanya Fyodor masih dengan seringainya.

"Itu…" belum sempat Chuuya melanjutkan kata-katanya dia terbelalak dengan pemandangan di hadapannya, Fyodor terdiam dengan sebuah belati tajam yang sangat tipis hampir menyentuh saraf di lehernya.

Mata tajam menatap Chuuya di sana dan berkata, "Itu bukan sesuatu yang harus kau ketahui sobatku, sudah berapa kali ku katakan jangan dekati Chuuya jika kau mau hidup, dan itu adalah perjanjian kita…" ucap Dazai dengan nada datar mematikannya, berbisik tepat di telinga Fyodor, menggema horror.

Fyodor masih berseringai dengan kucian Dazai yang berada di belakangnya, tidak menduga sebuah serangan mendadak ini sampai padanya, hampir.

"Aku tidak mengganggu siapapun Dazai, apa aku salah jika hanya menyapa Chuuya-mu, ups maaf dia bukan milikmu lagi, kan?" tanya Fyodor tenang

Dazai masih diam, masih dengan belati tajam itu di leher Fyodor perlahan hampir menggores di sana "Heee, jangan bilang kalau Chuuya bukan milikku lagi, sayangnya dia selalu jadi milikku, aku juga, kami sama…, menjauhlah kau pengerat" ucap Dazai dengan pelan namun pasti sedikit goresan tipis dia tinggalkan di leher Fyodor sebagai peringatan, lalu Dazai melepas kuciannya dan menghampiri Chuuya.

Chuuya diam dengan semua itu, Dazai menarik Chuuya lalu mengambil sebuah revolver dari jas miliknya mengarahkan pada Fyodor, mengkokangnya dengan cepat dan berkata, "Pergi kau pengerat!" ucapnya dengan tatapan dan nada mematikan miliknya seorang.

Fyodor menatapnya sambil memegang lehernya sendiri yang sedikit terluka itu, masih dengan seringai di sana "Sialan kau Dazai, aku tak yakin Port Mafia akan aman"

"Kalau begitu kau akan berurusan dengan kami Duo Hitam" lanjut Dazai masih dalam posisinya

"Huh, yahh apa boleh buat, Chuuya bisa kau berikan mantelku padaku kembali" ucap Fyodor dengan senyuman dan tangan terbuka.

Dazai dengan sigap melepas mantel itu dari tubuh Chuuya dan melemparnya pada Fyodor, lalu berkata "Jangan mati sebelum aku datang padamu" ucap Dazai dengan seringainya sama dengan Fyodor.

Dia berbalik arah seraya berkata "Yahh jangan takut, aku akan memberikan kejutan pada kalian berdua terutama kekasihmu itu, Dazai" sambil melambaikan tangannya dan pergi dengan jalan santainya.

Dazai diam, Chuuya juga diam entahlah dia tidak mengerti dengan obrolan mereka barusan dan memutuskan untuk tetap bungkam. Angin yang dingin kembali berhembus membuat tubuh Chuuya menggigil dan sebuah mantel sedikit lembab namun hangat menyelimutinya.

Wajah Dazai sangat dekat pada Chuuya memberikan sensasi aneh di pipinya, hangat di sana dan dia tak yakin apa itu, mereka bertatapan cukup lama, masih hening.

"Da…"

"Pulanglah Chuuya, isthirahatlah, kau masih dalam tahap penyembuhan" ucap Dazai menjauh dari pandangan Chuuya menepuk pundak Chuuya dan berjalan berlawanan arah darinya.

Chuuya terdiam di tempatnya, lalu berteriak "Dazai!"

Dazai berhenti dengan langkah yang terputus dari ritmenya Chuuya mulai melanjutkan kalimatnya "Kenapa kau hanya diam?"

Dazai hanya diam, masih diam berdiri di posisinya tidak memberikan jawaban lalu Chuuya mendekat ingin menghampirinya dan saat Chuuya mendekat Dazai membalikkan posisinya menatap Chuuya penuh dengan amarah, dan sontak membuat Chuuya kaget dan diam di tempatnya.

"Kau memang bodoh, sungguh bodoh Chuuya, dan kau benar-benar membuatku sangat kecewa kali ini…., sangat" ucap Dazai nadanya lirih.

"Apa maksudmu?" Chuuya keheranan dan masih diam dengan tatapan itu.

"Fyodor adalah musuh kita, kau lupa atau sengaja?" Dazai sekarang berada di hadapannya, dengan tatapan kekecewaan di sorot matanya dan nada marah di suaranya.

"Kalau aku tau itu musuh mungkin aku sudah menghabisinya!" balas Chuuya yang sama marahnya dengan Dazai.

"Oh,ya kalau kau tau itu" ucap Dazai sedikit tersimpul memberikan tanggapan akan perkataan Chuuya barusan itu.

"Kau mengatakan semua ini seolah-olah aku yang salah!" Chuuya mengepal tangannya kuat.

"Tentu kau salah!" jawab Dazai singkat dan datar.

"Apa salahku!?" teriak Chuuya.

"Karna kau tidak ingin percaya padaku!" teriak Dazai tepat di hadapannya membuat Chuuya terdiam.

"Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak menggunakan Corruption di minggu-minggu terakhir ini, kenapa kau tidak ingin mendengarkanku!?" masih dengan nada suara yang sama.

Chuuya diam sejenak berusaha mencerna kata-kata Dazai itu, "Kapan kau mengatakan itu?" ucapnya lalu menatap Dazai di hadapannya.

"Percuma kau tidak mengingat apapun" Dazai membuang pandangannya dari Chuuya.

Chuuya mendengus kesal, lengannya terlipat di depan dadanya "Aku salah, oh ya aku sungguh salah ha-ha" ucapnya dengan senyum miring, merasa sangat berat dan sangat konyol di otaknya, dia tak paham, hanya tersenyum saja.

"Ya, kau salah, sangat" jawab Dazai datar dan menatap Chuuya.

"Dasar bajingan, aku menderita dan kau menyalahkan aku atas penderitaanku sendiri, huh Dazai!? Kau membenciku" Chuuya menunduk tak menatap si raven coklat di hadapannya itu, Dazai diam memandangnya dan menjawabnya dengan suara rendah miliknya, "Sebaliknya"

"Apa?"

Dazai mendekat lebih erat pada Chuuya,mengambil dagu yang lebih kecil itu dan mereka bertatapan, matanya yang datar bertemu dengan iris azure yang terbelalak akan tindakannya, Dazai sedikit memerengkan kepalanya mendekati bibirnya pada bibir Chuuya, Chuuya hanya diam membisu.

Nafasnya hangat tepat di wajahnya dan membuat Chuuya sedikit ranum di pipinya, hingga Dazai mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya aneh "Aku mencintaimu, sungguh sangat dalam Chuuya" berbisik tepat di mulut Chuuya membuat Chuuya terdiam dengan tutur kata itu.

Dazai menarik dirinya, tersenyum simpul pada Chuuya yang terdiam, tidak berkomentar atau apapun, dia hanya diam menatap Dazai.

Dazai berbalik arah dan berjalan menuju apartemennya, sementara Chuuya masih diam memandangnya yang mulai menjauh, perlahan mengangkat tangannya pada mulutnya.

Entah dia merasakan setiap nafas yang Dazai keluarkan barusan karna mengatakan kalimat itu, entahlah…, sensasi aneh di sana, sunggguh aneh pikirnya dan dia mengelap bibirnya sendiri dengan semu merah di pipinya, jantungnya berdegup lebih cepat dari ritme biasanya, mengabaikan itu semua dengan decihan kesal dan memutuskan untuk kembali ke apartemennya untuk beristhirahat.

Jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi selang 27 menit, dan Chuuya tertidur di sofanya dengan mantel hitam Dazai sebagai selimutnya, menyelam pada mimpinya, dan kembali pada memori miliknya, ah dia kembali pada mimpi itu, lebih tepatnya kehidupan bahagianya.

.

.

"Pergi atau Kembali?" mungkin Tetap Tinggal jawaban yang baik…

.

.

.

.

.


Chap. 7 My Guns and Polaroid

.

.

.

.

.

Hawa di tepi pelabuhan menyesakkan dengan udara sembab namun hangat di pertengahan bulan Oktober, namun dia bertahan dengan sebuah tujuan yang harus di lakukan, ah menyebalkan memang, mondar-mandir ke sana dan kemari demi menemukan sesuatu yang mustahil dan sangat sulit untuk di temukan terutama di dekat puing-puing bekas gudang kawasan blok G.

Ravennya ikut mengalun pelan di sertai hembusan angin laut, matanya menatap semen datar, puing-puing masih berserakan di sana dan di sini, pastinya banyak darah di sini sebelum Port Mafia menghabisi semua orang tanpa sisa dan membereskannya sendiri.

Chuuya, ya…

Lebih tepatnya dia yang menghabisi sebagian besar musuh, sungguh bodoh. Pekik Dazai dalam hatinya.

Kenapa dia berada di sini? Entahlah, dia juga tidak memiliki kerjaan yang pasti, ingin apa dan apa, tapi dia berniat mencari sesuatu di sini, walau dia tau semua ini hanya sia-sia saja…, dia yakin kalau dia tidak bisa menemukan benda itu.

Benda itu, sebuah cincin, cincin yang di berikannya pada Chuuya sebagai tanda kasih sayangnya yang mendalam, dia masih ingat berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk membeli cincin polesan emas putih itu dengan ukiran antik dan juga keberaniannya untuk mengatakkan hal yang sungguh membuatnya malu, jika di pikir-pikir sungguh aneh saat dia sungguh berani mengatakannya walau mereka berada di ruangan pribadi sekalipun.

Matanya menerawang setiap celah di tempat itu, berputar-putar kebingungan tanpa tujuan yang pasti, mungkin hanya harapan dan keyakinan, dia yakin pasti terjatuh di sini, di sekitar sini, dia yakin akan semua itu, firasatnya mengatakannya.

Ah, menyebalkan. Pekiknya sekali lagi.

Berdecih pelan di sertai tendangan di kerikil kecil, kerikil tersebut sedikit terpental dengan bunyi pelan mendarat di hadapan seseorang, si raven coklat menatapnya datar, kosong, dan tentunya tidak berharap orang ini hadir.

"Dazai-san" panggilnya pada Dazai..

Dazai tidak menatapnya melainkan menatap lautan di hadapannya.

"Maaf menganggu, tapi misi yang anda berikan padaku sudah siap kulaksanakan da-"

"Kau tidak perlu melaporkan itu padaku, lagi pula aku hanya mengikuti perintah dan arahan bos juga sama sepertimu, kau melapor saja padanya" jawab Dazai datar mulai melangkah menjauhi Akutagawa.

Akutagawa mengepal sendiri tangannya dan entah mengapa dia malah berteriak, "Aku minta maaf!" membuat Dazai diam berusaha mencerna teriakan itu.

"Aku minta maaf akan Chuuya-san, sungguh, maafka-"

"Kau tidak perlu membahas itu"

"Tapi-"

"Aku bilang kau tidak perlu membahas itu, apa kau mengerti, Akutagawa?" tatap Dazai pada Akutagawa seraya memotong kata-kata yang akan di lontarkannya, tatapan kekesalan dengan dinginnya dia lontarkan pada bawahannya, menatapnya layaknya pengerat sampah dan rendahan, Dazai kesal sangat kesal.

Akutagawa diam sejenak menundukkan tubuhnya dan meminta maaf, "Maafkan aku jika lancang, Dazai-san" ucapnya merendah baik nada ataupun dirinya.

Dazai hanya diam memandangnya yang masih dalam posisi membungkuk meminta maaf itu, dalam satu helaan nafas di berkata, "Aku harap kau tidak berani lagi mengungkit Chuuya atau apapun, aku memperingatimu, ku harap kau tau itu…" ucap Dazai lalu pergi dari tempatnya berdiri, meninggalkan Akutagawa yang masih diam.

Perlahan gema suara langkah kaki itu pergi menjauh, Akutagawa kembali dari posisinya menatap Dazai yang sungguh merasa sangat terpukul akan kenyataannya, tentu Akutagawa tau soal hubungan Dazai, tidak sepenuhnya dia tau, namun siapa yang tidak curiga akan mereka yang selalu bersama di setiap saat.

Apa salahnya jika dia sedikit peduli akan atasannya itu?

Oh, sedikit saja dia mengharapkan sebuah perhatian dari orang yang membawanya ke kehidupan suram Mafia ini, sedikit saja seperti layaknya seorang Ayah atau teman mengobrol…, sedikit saja.

Setidaknya Akutagawa berhasil mendapatkan kesempatan itu, dia mengepal tangannya sendiri namun semakin erat, dan membiarkan rambut kontrasnya serta jubah hitamnya di mainkan oleh haluan angin lautan yang menyesakkan.


.

.

.

.

.

"Hasutan adalah senjata terbaik yang kau miliki bahkan di medan pertempuran sekalipun, bahkan hasutan bisa membawa perang pada mereka yang tidak menginginkan itu semua, hasutan juga cara kau bagaimana berpikir, licik? Kau beranggapan begitukah, Chuuya-kun?" tanya Mori yang sedang melempar dar pada papannya sejauh satu meter dari tempatnya berdiri, satu kena sasaran, 5 lainnya melewati papan tersebut.

"Sedikit, sejujurnya aku orang yang tak pandai menghasut sedikit pun, yahh" ucap Chuuya yang memandang ke luar jendela memandang atap-atap bangunan dan jalanan, menghela nafasnya seraya memandang manusia dari atas, manusia layaknya semut pekerja keras di bawah sana.

Satu dar melewati titik sasaran, Alice berkomentar "Dasar payah" di sela-sela dirinya yang tengah menggambar itu. Chuuya masih berdiri di posisinya berpikir tentang apa yang akan di berikan olehnya dari Bosnya ini.

"Hasutan dari sesorang membuat beberapa anggota kita mati dan kehilangan beberapa anggota tubuhnya, bahkan hasutan bisa membunuh seorang yang taat dan alim, hasutan juga bisa membunuh mereka yang naif, seseorang telah bermain sebuah permainan di belakang kita" ucap Mori pandangannya tidak mengarah pada Chuuya, melainkan punggungnya.

Mencoba mencerna kata-kata si Bos yang menggema di ruangan ini. 'Apa maksudnya' pekiknya, sepertinya dia familier akan ini.

"Yahhh…, aku juga tak ingin membahas itu sebenarnya, aku memiliki sesuatu yang ingin kau tangani sendiri, lagi pula kau pasti juga bosan hanya berjaga-jaga, kan?" tanya Mori kemudian duduk di salah satu kursi berukir antik di sana, Chuuya mendekat melipat lengannya di belakang punggungnya, lalu menjawab, "Aku juga tidak keberatan jika ha-"

"Tidak, kau harus. Lagi pula Chuuya-kun adalah salah satu eksekutif terbaik milikku, pastinya kekuatanmu sungguh sangat di perlukan, kau berpikir seperti 'aku sungguh tidak berguna dengan hilangnya ingatan' ini,kah? nahhh…, aku ingin kau menghabisi sesuatu, kau suka?"

Chuuya menjawab dengan simpul entah dia setuju dengan perkataan Mori yang membaca pikirannya ini, di minggu-minggu terakhirnya dia hanya berputar-putar saja, atau dia kesal mendengarnya, "Yahh, aku suka" ucapnya santai.

"Bagus, ku dengar kau bertemu dengan seseorang yang sangat Dazai-kun benci" ucap Mori dia mengambil sebuah panah dar memainkannya dengan jarinya "Kau kenal dia, Chuuya-kun?"

Chuuya sedikit terbelalak mendengarnya "Fyodor?" pekiknya dan Mori bisa mendengarnya.

"Dostoyevsky" ucap Mori, Chuuya mendengarkan dengan seksama.

"Soal hasutan itu, kau ingat organisasi yang menyerang kita habis-habisan di kawasan blok G? mereka yang membuatmu amnesia mendadak ini, jangan salahkan siapapun Chuuya" jawab Mori, pandangannya tajam terhadap pemilik manik azure itu, sadis dan menggeretak.

Mata Chuuya mendadak tidak percaya akan perkataan tersebut, berusaha mencerna kata-kata Mori di kepalanya. Mori berdiri dari duduknya mendekat lurus ke arah papan dar, dan berkata, "Seperti dugaanmu, benar begitu. Port Mafia sedikit kesulitan akan pengerat di sini, kau bisa membantu?" menutup satu matanya dan mengukur jarak lemparannya.

Chuuya menunduk mengepal sendiri tangannya, mungkin sebuah balas dendam adalah jalan terbaiknya. Lagi pula dia bukan orang naif yang tak ingin balas dendam.

"Perang bisa datang bahkan pada mereka yang tak menginginkannya" ucap Chuuya pelan, dalam hatinya dia siap akan resikonya.

Dan dar tersebut tepat mengenai sasaran di sana, Mori menatapnya memberikan sebuah peta dan beberapa kertas informasi mengenai Fyodor, lalu bertanya "Dan apa kau salah satu yang menginginkannya?"

Chuuya tersenyum mengambil kertas tersebut "Tidak, tapi aku sudah tau kehidupanku tidak selalu indah Bos, yahh kau bisa duduk di sini dan bermain dar aku akan pergi untuk membawa kemenangan" ucap Chuuya berlalu mengenakan topinya dan menunduk sedikit, membalikan tubuhnya.

"Ahaa, kau tidak perlu bersemangat Chuuya-kun, aku akan memberimu sebuah Petrus kalau kau berhasil selamat dan menang, ambil bawahan yang kau perlukan serta senjata, satu lagi…"

Sebelum Chuuya membuka pintu keluar dan berpikir sejenak tentang merek Wine mahal itu dia diam sejenak menunggu kalimat berikutnya,

"Jangan beri tau Dazai-kun soal ini" ucap Mori.

"Kenapa?" tanya Chuuya menatap Mori, lebih tepatnya refleks.

"Karna menurutku dia tidak ada sangkut pahutnya dengan memori jangka pendek milikmu, dia penganggu, kan?"

"Yahh lebih rendah dari pengerat, baik kalau begitu" ucap Chuuya dengan nada jijik miliknya, mengingat kalau Dazai benar-benar menyebalkan, lalu keluar sepenuhnya dari ruangan itu dan Mori tersimpul di sana, Alice merasa senang dengan maha karyanya yang sudah di buatnya sejak 15 menit yang lalu.

"Kau benar-benar payah Rintarou" ucapnya yang masih memandang buku gambarnya.

"Yahh, biarlah lagipula aku tidak suka ada peganggu, sungguh luar biasa hubungan mereka kalau begitu…" ucap Mori menjawab dengan nada sedikit ngambek karna perkataan Alice berusan itu.

"Lebih tepatnya kau dan Chuuya itu payah" ucap Alice singkat.

Mori sedikit tertawa dan berkata "Perang bisa datang bahkan lewat hasutan sedikit, kan?"

Dazai berdiri di sebuah lorong di gedung Port mafia bersender di salah satu dinding penyangga sambil menghentak-hentakan kakinya, dentuman tertutupnya 2 pintu berukuran besar menggema di lorongnya, Chuuya keluar dari ruangan si bos berjalan sebentar lalu bertemu pandang dengan Dazai, mereka sedikit tersentak namun tetap menjaga pandangan agar tetap diam, Dazai mulai bangkit dari senderannya dan mulai melangkah.

Chuuya masih berjalan hingga melewatinya entah dia peduli atau tidak dengan Dazai yang menatapnya, mereka hanya berjalan berlawanan arah tidak mempedulikan satu lainnya, dan entah apa mereka juga tidak menyapa satu dan lainnya, dan di sebuah belokan lorong sosok Chuuya menghilang.

Dazai diam di depan pintu itu, melihat ke belakang sejenak lalu mendorong pintu itu terbuka, suaranya menggema lalu menutupnya kuat, apapun Dazai benci datang ke ruangan ini, setelahnya si raven coklat ini memandang si Bos yang duduk santai dengan simpul di sana dia tengah menyeruput tehnya dan Alice yang sibuk menggambar.

"Temani aku mengobrol Dazai-kun, dan lagi topiknya juga cukup menarik, aku juga punya teh kualitas baru mahal ini" tawar Mori, penuh muslihat.

"Aku lebih suka ocha sih, baik" ucap Dazai sedikit tersimpul lalu luntur lagi, keadaan semakin memburukkah? Begitu pikirnya.


.

.

.

.

.

Mengendap – endap layaknya serigala berburu di malam hari, senjata tajam yang mengikat rapi dan kekuatannya layaknya taring yang siap menyobek daging segar, buruan segar, darah segar, harumnya yang sangat ia tau, sang mangsa berada tepat di dalam gedung tua lusuh di arah timur, hatenya yang terhubung menuntun setiap gerakannya yang lincah. "Bagaimana situasinya?" tanyanya, sinyalnya tidak buruk sama sekali.

"Aman!" jawab salah satu bawahannya, sekarang dia berdiri di ujung gedung menatap mereka, dia siap-siap memberikan tanda, satu-persatu pria dengan jas lengkap hitam membawa senjata laras panjang di mana-mana, aura hitam dengan warna merah kental mengaliri sekitarnya, tubuhnya ringan namun emosinya tidak.

"Dendam,ya" pekiknya. Sedikit jeda lalu dia menghentakkan lengannya maju dan berteriak, "Tembak!" lantang di ikuti suara deru tubuhnya yang jatuh karna berat area gravitasi yang di buatnya sendiri.

Senapan terkokang sempurna, hujan peluru serta bunyinya menggema di kala waktu itu, Chuuya berdiri memandang bangunan yang tak salah itu di hujani peluru, satu-satunya tujuannya berdiri di sini adalah orang di dalam sana, perlahan gema senjata-senjata memudar saat dia mengangkat tangannya, tubuhnya masih mengeluarkan aura yang biasanya ada karna ability miliknya sendiri, berjalan menuju pintu itu lalu menendangnya kuat hingga terpental jauh. Debu dan asap menggumpal memudarkan pandangan.

"Tch, mungkin serangan dadakan memang yang terburuk, dia mungkin tau kami sampai di sini" pekiknya jengkel.

Suara tepuk tangan single menggema di gedung lusuh itu, matanya memijit memperhatikan objek yang fokus di depannya, dia memperhatikannya, dan sekarang menunjukan sosoknya.

Para bawahan Chuuya masih menunggu di luar dan siap akan perintahnya, sekarang duel satu lawan satu, ini sedikit aneh jika hanya ada satu orang saja di gedung ini.

"Sungguh tidak sopan menghujani seseorang dengan peluru, jika kau ingin datang setidaknya ketuklah pintu dengan baik, Chuuya" Fyodor tersenyum ringan memandangnya, layaknya rubah merah.

"Kau bajingan yang membuatku menderita" jawab Chuuya ketus, sekarang tubuhnya semakin mengeluarkan aura sadis mengerikan dari dirinya, Fyodor masih tenang.

"Wah, wah, bagaiman bisa kau menuduhku seperti itu? Tidak ada bukti rekaman atau apapun kan? Ayolah, salahkan mereka yang mau percaya akan bualan" Fyodor masih santai dengan ucapannya, Chuuya mendekat di sertai gravitasi yang berat membuat lantai retak di mana-mana, sang serigala kelaparan akan dendam.

"Kalau begitu akan ku buat mulutmu takkan membual" melaju secepat kilat siap menerkam Fyodor di depannya, dan Fyodor berhasil menghindar dengan sempurna.

Chuuya kembali menyerang dengan tinjunya, lebih agresif dan lebih cepat, Fyodor masih santai dan membuat Chuuya heran kenapa dia tidak membalas seluruh serangannya itu, pasti dia merencanakan sesuatu. Sekarang mereka berdiri sejauh 5 meter, nafas Fyodor terengah-engah perlahan mengambilnya sejenak, namun simpulnya masih terpapat membuat Chuuya ingin menendangnya apapun juga.

"Hebat" ucap Fyodor, memuji atau dia memancing.

"Kalau begitu bagaimana dengan yang ini!" teriak Chuuya melaju lebih cepat dan kaki kanannya yang siap akan serangan di lontarkan dengan kuat dan juga cepat di sertai amarah, Fyodor berhasil menghindar dengan baik, namun sedikit tergores.

"Kalau begitu, giliranku. Bagaimana dengan ini?" Fyodor tersenyum dan menyentilkan jarinya, seketika ledakan terdengar dari luar, Chuuya lengah menolehkan kepalanya ke belakang.

Mata terbelalak dengan suara dentuman keras, ada sedikit getaran membuat air teh di gelasnya bergetar, dia memandang keluar jendela yang luas menatap gedung-gedung puncaknya, ada asap menjulang, hitam. "Bom?" pekiknya. Matanya memijit curiga dan perlahan pandangannya mengarah pada Mori yang masih santai.

Sudah 25 menit dia berada di ruangan ini.

Mori tersenyum masih santai dengan tehnya, lalu kembali berkata "Mari lanjutkan, Dazai" ucapnya yang membangunkan lamunan Dazai, papan catur ternganga dengan bidak-bidak tersusun rapi akan strategi di otak mereka, imbang.

Dazai menatap si Bos Mafia datar, tanpa ekspresi tatapan khasnya sebagai anggota termuda di kalangan atas itu, kali ini firasatnya mengatakan kalau dia harus segera pulang.


.

.

.

.

.

Darah bersimpahan di mana-mana mengalir dengan warna merah dan bau besi yang menusuk saraf, serpihan kaca dan puing-puing berserakan di mana-mana, dan berhamburan tanpa arti, Chuuya terengah-engah dengan darah yang bersimpah dari mulutnya serta kepalanya karna terkena serpihan.

"Mereka hanya bawahanmu, jangan terlalu di pikirkan" ucap Fyodor yang sekarang memainkan senjata semi otomatis di tangannya.

"Sialan, apa maumu dengan kami!?" tanya Chuuya jengkel, dia berteriak. Tenaganya banyak jadi jangan khawatir.

"Mudah, aku ingin data-data penting tentang Port Mafia, semuanya…" ucap Fyodor santai dengan seringainya.

"Kau musuh Dazai" jawab Chuuya ketus, dia mengambil bayonetnya dari saku sabuknya.

"Dulunya kami teman, tapi sekarang tidak"

"Kau pasti salah pikiran atau gila sampai dia benar-benar menganggapmu seperti pengerat" ucap Chuuya mendekat dan mengeluarkan aura abilitynya.

"Apa kau pernah di anggapnya istimewa Chuuya?" sekarang Fyodor malah bertanya dengan nada memancingnya, dia tau kalau sekarang sosok Nakahara hilang ingatan jangka pendek.

"TIDAK ADA HUBUNGANNYA TENTANG ITU!" Chuuya emosi dan sekali lagi menyerang Fyodor di depannya, melayangkan pukulan dan berhasil di hindari dengan tangkas.

"Wah, wah jangan begitu, sejujurnya aku…"

Chuuya diam mendengarkan, Fyodor kembali berkata "Menyukaimu" dengan seringainya.

Sekarang dia benar-benar tidak mengerti apapun. Sedikit mendengus aneh, yah sangat aneh pikirnya, "Jangan gila, kalau kau gila matilah saja…" ucap Chuuya dengan senyum merendahkan, menjijikkan terpapat di bibirnya, tentu dia tidak suka sama sekali.

"Aku serius" jawab Fyodor santai.

Chuuya mengepal tangannya kesal dan kasar sambil berkata "Aku benci di permainkan seperti ini, kau bahkan lebih bajingan dari pada Dazai Osamu!" teriaknya, sekarang emosinya memuncak sampai ubun-ubunnya, aura kelaparan akan dendam siap menyantap pria layaknya vampir itu di hadapannya.

"Bertarunglah denganku layaknya pria bangsat!" ucapnya, dia melempar jubahnya ke semen, "Para bawahanku sedang sekarat, aku tidak bisa pulang dan meminta bantuan" ucapnya lalu kembali menyerang Fyodor di depannya, dengan kecepatan miliknya.

"Baik, jika itu maumu" jawab Fyodor santai, mata Chuuya terbelalak dengan sebuah granat yang Fyodor lemparkan tiba-tiba ke hadapannya, berhasil menghindar dengan melompat ke belakang namun entah mengapa, sosok musuh sekarang berada di belakangnya, kuku tajam mencengkik lehernya, dan dalam hentakkan berhasil melumpuhkan Chuuya.

Menjatuhkan kepalanya ke belakang lantai hingga berdarah hebat, tentu dia tersimpul senang dengan pekerjaannya, dan tangan putih itu mencekiknya hingga pingsan, "Kau emosian, dan itu membuatmu lemah akan taktik" ucap Fyodor.

"Sekarang adalah bagian terbaiknya" ucapnya penuh kemenangan seraya mengangkat kepala Chuuya yang bersimpah itu.


.

.

.

.

.

Tak! Bunyi bidak yang di gerakan maju kedepan, Mori memperhatikan dengan tangan yang terlipat di depan dagu menopangnya. "Langkah yang bagus" ucapnya memuji, berpikir sambil bergumam. Kakinya berhentak-hentak ke lantai, sekarang dia menerkah-nerkah langkah berikutnya.

"Aku bertanya-tanya, kenapa kau mengajakku bermain catur di sini?" tanya Dazai tanpa basa basi.

"Hmm? Kenapa?" tanya Mori masih sibuk dengan kegiatannya, dia mendengarkan.

"Hanya tebakan saja, tapi firasatku benar-benar buruk saat mendengar bunyi ledakan barusan" ucap Dazai lalu memandang ke luar jendela.

"Tidak usah kau pikirkan terlalu keras" sekarang Mori mengambil bidak kuda miliknya, menjalankannya, lalu kembali berkata "Itu ledakan yang biasa"

"Firasatku tidak pernah salah" jawab Dazai datar dan ketus, dia tidak senang, tidak pernah senang jika di hadapan orang gila ini.

"Oh,ya bahkan saat kau libur dan membiarkan Chuuya bekerja sendiri?" tanya Mori, menawarkan bagian permainannya pada Dazai, dan si raven coklat sungguh tau kalau sekarang orang ini sedang memancingnya.

"Bukankah kau yang menugaskannya untuk memeriksa asumsi? Kenapa aku?" tanya Dazai, sekarang dengan senyum merengnya.

"Kau rekannya" jawab Mori singkat, sejujurnya itu menyakitkan.

"Tutup mulutmu, kau yang satu-satunya tau akan kami di sini. Jadi katakan apa yang kau rencanakan!" balas Dazai masih dengan nada tak senangnya dan perkataannya benar demikian, namun Mori tak tau kalau mereka mengadopsi anak, itu rahasia milik mereka seorang.

Mori diam memandang Dazai yang sekarang menatapnya penuh dengan kemarahan, wajahnya dingin dan datar. Hening menyelimuti suasana ini, dokter ini tau kalau anak asuhannya ini tidak menyukainya, dan dia tau kalau dia sedang memancingnya habis-habisan, tersenyum lalu berdehem memecahkan suasana canggung itu.

"Kau-"

Suara dering handphone terdengar menggema di seluruh ruangan, handphone milik Dazai, dengan sigap dia memandang layar di handphonenya, matanya terbelalak dengan semua pemikirannya, tidak percaya, emosi, kemarahan. Apa dia harus menjawab panggilan? dia berhumpat lalu memandang wajah Mori yang tersimpul di sana,

"Chuuya" nama yang terpapar di layar, kemudian sinyalnya hilang.

"Kau-" pekik Dazai, dia berdiri dari duduknya memandang Mori jengkel. Matanya terbelalak tidak percaya dengan ini semua.

"Kenapa kau mengirimkan umpan ke sana?" tanya Dazai masih dengan tatapannya.

"Pergilah" ucap Mori singkat.

"Kenapa kau mengirimnya ke sana!?" teriak Dazai, sungguh dia ingin membunuh orang ini.

"Sebuah misi untuk rekan lama, begitu. Kau merindukannya pastinya,kan?" Mori masih santai dengan seringainya.

"Terkutuklah kau!" humpat Dazai dalam hatinya, dia tidak berkomentar apapun, menggeretakkan giginya lalu Dazai pergi, berlari meninggalkan ruangan mewah tersebut. Mori sengaja mengulur waktu hingga tiba saatnya si penetral kekuatan harus turun tangan, kenapa begini? Pekiknya tak percaya.

Dia mengambil handphonenya lalu menelpon bawahannya yang paling siap sedia akan perintahnya, "Akutagawa, persiapkan senjata dan semuanya, 3 menit!"

Mori tertawa pelan dan berkata, "Sungguh indah masa muda…, ah dasar" ucapnya yang sangat bahagia ini, yang di selingi ejekan Alice, "Dasar kau orang tua tidak tau diri!"


.

.

.

.

.

Langkah kaki terdengar menggema mengisi kesunyian kala itu, darah merembes, peluru berceceran dan beberapa orang lainnya merintih kesakitan, bau gosong, bau besi menyengat di mana-mana, bubuk mesiu apapun itu. Hiruk priuk mafia sekarang ada di sekitarnya, ingin sekali ia menyelesaikan seluruh urusannya dan segera keluar.

Bawahannya diam saat tangan kanannya menangkat untuk tetap di luar beberapa meter dari posisinya, mereka harus masuk saat aba-abanya dia keluarkan, Dazai mengeluarkan pistol dari jas hitamnya, dia tidak mengenakan mantel karna terburu-buru sekarang. Tubuhnya melangkah masuk ke sana.

Sementara si surai kontras memberikan aba-aba untuk berputar.

"Aku bisa mencium kebusukan dari pengerat di sini, ah sudah berapa lama, ya sobatku?" tanyanya yang sekarang berada di tengah-tengah ruangan dari gedung tersebut.

Suara terkekeh rendahnya menggema di telinga si raven coklat tua ini, "Entahlah…, berapa lama, ya? Mungkin 2 tahun yang lalu, aku juga masih ingat saat kau hampir membunuhku dengan revolver tua, saat itu umur kita masih sangat muda untuk tau kalau ternyata mainan tua bisa menembus organ vitalmu" sekarang tangan Fyodor menggenggam sebuah belati lipat kecil, mengarahkan pada orang yang sangat Dazai kenal, sangat dekat.

"Kau tau Dazai, aku tidak bisa melupakan Chuuya…" ucapnya dengan agak lirih dan itu membuat Dazai jijik setengah mati, sekarang timah tipis itu berada di arteri milik si raven orange yang menjadi tahanan. Dia tidak sadar.

"Kau hanya sampah rendahan, ayolah…, bermain bagus di sini dan lepaskan sandra, aku tau apa yang kau inginkan dari kami" ucap Dazai yang sekarang mengarahkan pistolnya ke arah Fyodor di sana.

Matanya sedikit memijit dan satu tembakan terdengar keras, sekarang dia sungguh paham bagaimana cara temannya ini bermain. Tubuh pun jatuh dari ketinggian 3 meter dari tempatnya berdiri, "Ayolah Fyodor, jangan pakai snipper begitu, berapa banyak? tiga? dua?" ucap Dazai menerka-nerka, pupil matanya memeperhatikan celah-celah banguan.

"Hanya satu" jawab Fyodor santai, sekarang belati itu dia lipat namun masih setia menggenggamnya. "Apa yang ku inginkan, memangnya kau tau?" tanya Fyodor masi setia dengan simpulnya.

"Kau menginginkan sebuah database, kan? Akan ku berikan, lepaskan Chuuya" ucap Dazai dia mengambil sebuah flashdisk kecil dari jasnya, matanya masih gelap akan gumpalan tulang berdaging di depannya.

"Kau tidak royal, yah" jawab Fyodor menggaruk-garuk kepalanya dan menatap remeh Dazai.

"Tidak, untuk apa?" sekarang Dazai berusaha membingungkannya.

"Pembohong" Fyodor tau itu.

"Ayolah, tidak ada keuntungannya padaku aku berlutut setia di bawah Mafia begini" sekarang Dazai berkacak pinggang dan tersenyum lebar, sedikti terkekeh.

"Kenapa kau ingin aku melepaskan Chuuya?" tanya Fyodor menepis raven Chuuya pelan di wajahnya yang lengket itu, Dazai memperhatikannya dan sangat jengkel saat tangan kotor itu menyentuh Chuuya-nya.

"Kalau itu tentu saja jawabannya kau sudah paham betul" sekarang batas kesabarannya menipis, di kokangnya senjata semi otomatis itu dengan kencang.

"Tidak paham" simpul Fyodor.

"Perlu ku jelaskan dengan kata-kata atau dengan tindakan, kau pengerat busuk" tanya Dazai menantang.

"Apapun yang kau suka eksekutif muda…, mari bersenang-senang…" sekarang Fyodor berdiri dari duduknya, mendekati Dazai yang siap akan seluruh serangannya.

Dazai mengambil satu lagi pistol miliknya, dengan kencang dia mengkokang yang kedua, dan Fyodor setia dengan belati tajamnya, gerakan lincah di sertai suara tembakkan menggema di mana-mana. Walau begitu Dazai juga ahli sedikit dalam bela diri, yang dia tau tubuhnya ini tidak selincah rekannya di sana yang menunggu untuk di selamatkan.

Mata perlahan terbuka, kepalanya sungguh sangat perih nyeri sakit apapun itu, dia merasakan sakit yang menusuk di setiap tubuhnya, dan tatapannya terbelalak saat melihat Dazai dengan lihainya beradu senjata dan tembakkan dengan Fyodor, tangannya di rantai, mungkin dia bisa menghancurkannya dengan abilitty miliknya.

"Sial" pekiknya parau, apa dia hanya menjadi penonton saja sekarang. Matanya memandang Dazai yang sungguh bodohnya bertarung seperti itu, ah entah mengapa Chuuya hanya diam menonton, tidak setia menonton karna dia juga tak suka terabaikan begitu saja. Padahal dia yakin ini sepenuhnya adalah misi miliknya, namun mengapa Dazai datang padanya?

Misi sendiri?

Rekan? Apa mereka rekan?

Dia menerka-nerka, dan sudah tau akan jawabannya, yakin seratus persen kalau ini adalah jebakan. Dia lupa dia tidak bisa bekerja sendiri.

Dan perlahan matanya terbelalak, dia diam, dia berpikir, nyeri di tubuhnya masih setia dengan pikirannya yang berkabut itu, dia menghentakkan tangannya yang di ikat kuat di belakang kursi jati, ingin meretakkan benda itu dan entah mengapa tenaganya serasa berkuras, lengannya ngilu.

Apa Fyodor menyuntikkan serum di tubuhnya? pekik Chuuya, berdecih kesal saat keadaannya sungguh terpojok begini.

"DAZAII!" teriak Chuuya dan membuat Dazai sedikit lengah, Fyodor juga melirik ke sana.

Namun tentu saja pertarungan mereka belum siap sama sekali, seandainya Chuuya bisa mengeluarkan abilitty miliknya sekarang. Masih berdecih kesal dengan dorongan di tangannya yang sekarang luka akibat di ikat kuat-kuat, dan tiba-tiba dia merasakan kalau sekarang dia bisa terlepas dari sana, di pandangnya orang yang membantunya dan mengangguk, dengan cepat Chuuya menuju mereka berdua.

Peluru di pistol Dazai habis, "Sial!" pekiknya

Dan satu pukulan tepat mengenai batang hidungnya itu, sangat keras hingga membuat Dazai sedikit terpental kebelakang terhuyung dengan darah yang keluar dari hidungnya, namun di menit berikutnya Fyodor malah merasakan sebuah timah berada di lehernya, suara serak nan basah memperingatinya dengan tatapan kemarahan, "Aku belum selesai"

"He…?" pekik Fyodor yang sekarang layaknya tikus dalam perangkap.

"Kami telah menghabisi setiap orang yang kau perintah baik dalam ataupun luar" ucap Akutagawa yang sekarang bersiap-siap dengan abilittynya, namun tentu saja dia menunggu perintah.

"Keputusanmu untuk bertarung satu lawan satu adalah hal terbodoh dan teraneh sejagat, makarel!" teriak Chuuya, "Kau tau kalau tubuh ringkihmu itu tidak berguna dalam serangan!" lanjutnya. Chuuya menatap Dazai kesal sementara Dazai mengelap darah di wajahnya itu.

"Wah, wah apa aku seperti tikus dalam perangkap begitu?" tanya Fyodor dia mengangkat kedua tangannya. Seperti menyerah namun nada bicaranya tidak.

"Hmm…, aku tak yakin karna aku mengenalmu. Dan tak mungkin berakhir demikian, hanya memastikan sejenak, apa kau orang yang mengirim kelompok untuk menerobos wilayah blok G kami?" tanya Dazai berdiri masih mengelap darah dari wajahnya.

"Iya" jawab Fyodor singkat.

"Kenapa?" tanya Chuuya yang masih setia dengan bayonetnya.

"Untuk sebuah informasi yang berharga" jawab Fyodor santai.

"Kau ingin data lengkap dari Bos kami,kan?" tanya Dazai.

Hening sejenak, Fyodor tersimpul dan menjawab, "Tentu Dazai"

"Kami bekerja di bawah naungannya dan sebenarnya aku sah-sah saja kalau kau mau membunuhnya, tapi…" Dazai mengangkat satu tangannya, sekarang suara senapan bersiap dan semua peluru siap di lontarkan, suara senapan yang terkokang menggema dari luar gedung, atas gedung. Chuuya juga sudah siap di belakang Fyodor. Hanya tinggal memukulnya telak atau menggores lehernya.

Fyodor tertawa, suaranya menggema. "Aku tau akan akhirnya begini…, rencanaku gagal sepenuhnya" ucapnya.

Dazai terbelalak, begitu pun Chuuya, kelihatan seperti menyerah namun dia malah menyentilkan jarinya, dan sekarang semua orang terbelalak.

"Mundurrr!" teriak Dazai.

Dan suara dentuman hebat di sertai guncangan menggema begitu saja. Semua orang berhasil pergi, hampir semua karna masih ada yang terjebak di dalam sana dan mereka bisa menerka seperti apa bentuk tubuh mereka. Bersyukurlah Dazai hanya terkena beberapa gores luka, Akutagawa membopongnya. Para anggota lainnya bersiap-siap saat Dazai sudah berdiri kokoh, Akutagawa masih di sampingnya.

"Bom bunuh diri?" pekik Dazai tidak percaya.

"Ada tujuh mesiu di sana dan aku tak tau kalau dia memasang pemancar, maaf Dazai-san" ucap Akutagawa, Dazai tidak mempedulikan hal itu. Dia menatap gedung itu dengan kempulan asap, dia tidak peduli akan misinya, akan musuh atau apa, namun satu…

"Chuuya!" teriak Dazai yang sekarang gedung itu hampir roboh karna usia dan serangan dua kali berturut-turut hari ini.

Semua diam, semua mempersiapkan senjata akan musuh yang akan muncul nantinya. Ujung senapan ujung pistol di arahkan ke sana.

Suara langkah kaki menggema di kabut tersebut, bukan orang yang Dazai kenal betul, bisa di lihat dari topinya.

"Tunggu…" ucap Chuuya. Dia mengangkat tangannya, semua orang terheran.

"Aku tak tau pasti tapi Fyodor lenyap begitu saja, aku berhasil memukul tepat di belakang kepalanya, dan mengendalikan gravitasi di sekitarku agar aku tidak terluka juga" sekarang Chuuya melempar topi yang entah milik siapa itu dari kepalanya. Dia menggaruk kepalanya. Beberapa dari mereka menghela nafas, Chuuya membersihkan bajunya yang berantakkan habis-habisan itu.

"Ngomong-ngomong di mana topiku?" tanyanya seperti linglung. Dazai hanya diam memperhatikan.

"Berpencarrr! Pasti si pengerat masih berada di sekitar sini!" teriak Akutagawa memerintah karna tau Dazai tidak peduli lagi dan semua orang pergi dari tempatnya, menyisakan Chuuya dan Dazai diam sambil memandang, berhadapan. Hiruk Priuk masih berada di sekitar mereka, diam bertatapan.

"Kau- bodoh!" lontar Dazai seketika.

"Kau yang bodoh" balas Chuuya ketus.

"Kau sungguh…, kenapa kau mengambil perintah bos begitu saja,Chuuya? Kau tau kau tak bisa melawan Fyodor dengan mudahnya, bukan?" sekarang nada suara Dazai agak lirih, dia masih menatap Chuuya jengkel.

"Entahlah, aku tak ingat" balas Chuuya acuh tak acuh dengan itu.

"Mau bercanda?"

"Apa?"

"Bagaimana kau bisa mengatakan kau tak ingat? Bukannya kau tadi di sana mengatakan aku tak bisa bertarung satu lawan satu, huh?"sekarang Dazai tersenyum rendah.

Mata Chuuya kaget, pipinya sedikit tersipu. "Berisik!" ucapnya ketus, sekarang dia tau Dazai sedang mengejeknya.

"Kau mengingatku?" tanya Dazai masih dengan simpulnya.

"Hm!" balas Chuuya ketus.

"Bagaimana?"

"Aku memandangmu yang bertarung sendiri itu membuatku geli, namun ada sesuatu yang mengingatkanku begitu saja, sungguh aneh. Kepalaku di benturkan Fyodor yang dia tau atau tidak kalau itu bisa mengembalikan ingatanku ke semula. Aku ingat kepalaku terbentur saat terakhir kali aku menggunakan Corruption, beton. Aku ingat." Jawab Chuuya tangannya mengusap-usap lingkar tangannya yang memerah sedikit tergores akan ikatan rantai.

Dazai mendengus, sedikit konyol. Dia tidak tau ingin menggambarakan apa suasana hatinya ini. Dazai menatap langit yang sekarang berubah menjadi warna orange sama seperti surai sang kekasih hatinya ini.

"Sialan…" pekiknya pelan di ikuti kekehan dan Chuuya ikut terkekeh juga. Entahlah bagaimana, rasanya seperti sebuah nostlagia yang manis namun di sertai rasa sakit, hei mereka Mafia bukan? Jadi luka begini dan begitu bukan masalah yang besar sama sekali.

Akutagawa datang lalu melaporkan, "Dazai-san, kami menemukan bercak darah di arah barat, kemungkinan itu darah milik musuh ap-"

"Sudahlah…, perintah bos hanya mengusir pengerat dari kawasan, bukan membunuhnya." ucap Dazai pada Akutagawa, membuatnya terheran. Dia menatap Dazai dan Chuuya bersamaan, Chuuya sedikti terheran namun tidak terlalu.

"Tap-"

"Bereskan saja puing-puing ini, kemungkinan ada beberapa arsip yang di tinggalkannya, begitu?" ucap Dazai memotong kata-kata lalu berlanjut, "Aku bisa mengandalkanmu?" tanyanya pada Akutagawa, membuat matanya terbelalak, sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu. Namun hanya menjawab,

"Baik!"

"Kau yakin ingin membiarkan Fyodor lari begitu saja?" tanya Chuuya heran dengan reaksi Dazai itu.

"Iya, aku tak ingin ada senjata tertinggal di sini untuk seterusnya. Bukannya kau bilang kalau kau memukul kepalanya telak, kan?" tanya Dazai seraya memegang pundak kanan Chuuya.

Chuuya hanya menangguk, memegang kepalanya sendiri yang bersimpahan darah. Masih sakit dan perih.

"Iya, seingatku" jawabnya.

"Itu artinya dia sedang terluka parah dan kemungkinan dia akan bergerak lagi dalam waktu lama. Kita tunggu saja" ucap Dazai pada Chuuya dan Akutagawa.

"Tapi bukankah menghabisinya saat sekarat itu bagus?" tanya Chuuya.

"Tidak…" balas Dazai sekarang memandang ke arah barat.

"Kenapa?" tanya si mungil, terheran. Tidak biasanya Dazai membiarkan musuh kabur begitu saja.

"Itu tidak elit…" balasnya dengan senyuman ringan.

"Kau- uhh!" Chuuya kembali memegang kepalanya dan dengan cepat Dazai menopang tubuhnya yang mulai hilang keseimbangan itu, Akutagawa berusaha membantu namun Dazai menyuruhnya untuk membereskan pekerjaan.

"Mau ku antar ke apartemenmu? Chuuya, kau terluka parah" ucap Dazai yang sekarang Chuuya sangat dekat dengan wajahnya, dia bisa melihat wajah rekannya yang kesakitan itu.

"Y..ya…yahh, sesukamu" ucap Chuuya, tubuhnya kelelahan. Dazai menggendongnya di punggungnya begitu saja.

Mereka pergi dari tempatnya, membiarkan seluruh hiruk-priuk yang ada di belakang, tohh mereka tidak peduli musuh dan misi, Akutagawa menatap mereka yang menjauh. Sedikit menghela nafas panjang. "Mereka sudah baikan?" pekiknya dalam hati.

Sementara Fyodor dengan kepala yang berlimpah darah di kemeja dan kulitnya, berusaha bernafas dengan nafas yang terputus di sana, menelpon seseorang yang dia kenal dan meminta bantuan. "Aku mendapat sedikit, dan lagi aku sudah tau siapa yang kau incar" ucapnya. Lalu bersender pada dinding beton dan terduduk, terkekeh pelan lalu berpekik, "Pada akhirnya aku memang selalu kalah dari Dazai…" dia membuang ludahnya yang bercampur darah dari mulutnya.


.

.

.

.

.

Dazai menyetir mobil yang dia sangat tau ini milik Chuuya, mengendarainya menuju apartemen milik Chuuya secepatnya, jam di mobil menunjukkan pukul 6 sore, jalanan macet dan dia memutuskan rute berputar yang berkelok-kelok namun bisa menghemat waktu. Di lihatnya wajah Chuuya yang terlelap di kursi belakang dari kaca spion, kotor. Chuuya sangat berantakan dia tak tega. Sesampainya di depan apartemen Dazai menggotongnya dan membawanya masuk, perlahan dia mendudukan Chuuya di sofa, sementara Chuuya yang sudah risih akan rasa sakit miliknya melepas setelannya dan sekarang hanya memakai celana hitam miliknya.

Dazai datang dengan handuk basah dan kotak obat meletakannya di meja, di pandangnya Chuuya yang merintih itu saat membersikan darah dari kepalanya dengan handuk basah, di ambilnya beberapa helai tisu dari kotaknya di meja di hadapannya itu.

"Kau tak apa?" tanya Dazai berusaha membantu dengan di usapnya kepala yang lebih mungil itu dengan tisu di tangannya.

"Apa aku seperti baik?" tanya Chuuya tak senang.

"Tidak" jawab Dazai, dia tau.

"Nah kau tau itu"

"Mau ku bantu?" Dazai mengambil perban dan alkohol.

"Tidak usah, kau itu bodoh bahkan Atsushi lebih baik mengobati dari pada dirimu" Chuuya menarik botol alkohol kasar dari tangan Dazai.

Mata Dazai terbelalak mendengarnya, Chuuya juga terdiam dengan ucapannya. Dia mengalihkan pandangan dari Dazai, menuangkan alkohol di kapas dan di usapnya luka – luka gores di tangan dan tubuhnya.

"Kau ingat?" tanya Dazai memperhatikan.

"Tentu saja, bukannya tadi aku bilang semua itu" Chuuya masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Benarkah, Chuuya?"

"Iya, sungguh" masih tak ingin menatap Dazai.

"Kau benar-benar ingat semuanya?

Risih dan kesal lalu menjawab, "Akh, beri-"

Matanya terdiam memandang Dazai yang tersenyum menatapnya dengan ekspresi haru senang, sekarang mata Dazai terbendung hebat Chuuya hanya diam memperhatikan, perlahan diraihnya tangan kanan Chuuya, mengecupnya lembut lalu menenggelamkan tangan itu di wajahnya, menggenggam tangan itu erat dengan kedua tangannya, "Kumohon jangan lagi…" ucap Dazai lirih, dia menunduk memohon apapun itu. Bersyukur kalau peristiwa barusan yang buruk bisa menghadirkan keindahan yang di nantikannya. Dia kesepain, Chuuya tau itu jadi dia hanya diam.

Chuuya masih diam, tidak berkomentar dan hanya diam memandang Dazai masih setia menenggelamkan tangan kanan mungil itu dalam kecupan dan isakan haru yang senang,

Chuuya berdengus dengan senyuman. Entahlah dia tidak mengatakan kalau sesungguhnya dia juga senang. Perlahan kepala dengan rambut tebal coklat itu terangkat, sekarang Dazai menatapnya dan Chuuya menatapnya, berusaha tertawa atau apapun karna dia tidak ingin bersedih kalau keadaan Chuuya di depannya ini sangat menyedihkan untuk di tatap saat ini. Oh lihatlah kepala itu dan luka di mana-mana, Dazai masih ingat saat dirinya di obati dengan setia oleh Chuuya walau dia tau akan mendapatkan pelayanan yang tak lembut.

"Biar ku bantu kau" Dazai mengambil handuk basah, di usapnya kening Chuuya, "Apa lukanya ini dalam?" tanya Dazai, suaranya pelan.

"Sepertinya hanya benturan" jawab Chuuya kembali membersikan lukanya dengan alkohol, berdecih saat di rasakan perih di sana.

"Ini kepala Chuuya, kau bisa memar" komentar Dazai tak senang.

"Iya aku tau" jawab Chuuya yang bebal, yahh Dazai tau kalau si mungil ini sangat bebal.

"Dasar!" Dazai masih setia membersihkannya pelan, mengusapnya lembut meletakkan obat agar tidak infeksi, menutup lukanya dengan kapas dan melilit kepala itu dengan perban, hanya 3 lilitan saja.

"Selesai, kau cantik" ucapnya yang bangga akan hasil karyanya, Chuuya menatapnya jijik.

"Tch!" decih Chuuya jengkel, lagi-lagi Dazai menggodanya, namun memang beginilah. Memang beginilah mereka.

"Hey…, ummm" Chuuya membuka obrolan, suaranya gugup, seperti mencari topik. Dazai memandangnya dengan sedikit semu merah di pipinya, jarinya dia rapatkan pada keduanya, bibirnya mayun, seperti wajah yang benar-benar Dazai kenal, ah Chuuya manis sekali! Sial! pekik Dazai memandang itu, dia tau si kecil sedang gugup. Kenapa?

"Hm?" balasnya akan respon aneh itu.

"K.., k..kau sehat kan? A…Atsushi bagaimana?" tanyanya dengan cemberut.

"Eh? Aku baik, Atsushi juga" Dazai menjawab santai di selingi tawa rendah. Mungkin Chuuya malu-malu, ah manisnya!

"Begitu, k…k-kalian makan yang sehat kan?" tanyanya masih dengan ekspresi yang sama.

"Yahh selama kau tak ada kami selalu membeli di luar" jawab Dazai masih sama.

"Kau, kau tau makanan luar itu tidak semuanya baik!" sekarang mulailah sifat Chuuya itu, Dazai tertawa.

"Ochazuke itu kesukaan Atsushi jadi dia makan itu banyak-banyak, dan dia sangat suka Ochazuke buatanmu…" puji Dazai memainkan satu matanya, Chuuya sedikit meranum di pipinya, pipinya membulat jengkel, dan Dazai merindukan itu.

"Dan dia merindukanmu" ucap Dazai yang matanya masih setia menatap Chuuya di sana.

Matanya kaget saat tangan Dazai membekapnya dengan lembut dan hangat di sertai kecupan di pundaknya, mengelus pelan surai Chuuya dan punggungnya itu. "Aku juga" ucap Dazai lirih, ada nada senang si sana.

Chuuya terdiam, dia mengingat segalanya, dia mengingat akan Dazai, seluruhnya. Apapun itu, dia mengingat segalanya, di apartemen ini, di kehidupannya. Di lingkarkannya lengannya itu pada pundak Dazai, mendekatkan dirinya pada Dazai, "Maaf" bisiknya pada telinga Dazai.

"Bukan salahmu" jawab Dazai pelan.

"Aku akan percaya padamu…, jadi maaf" jawab Chuuya yang sekarang membenamkan kepalanya di pundak si raven coklat.

"Huh?" Dazai memandangnya heran, dia melepaskan pelukan itu, namun tatapan mereka lekat.

"Kau bilang padaku untuk tidak menggunakan Corruption,kan? Aku menahan diriku agar tidak mengeluarkannya saat kau tak ada, kalau tidak… mungkin keadaanku bahkan lebih parah dari ini" dia menatap wajah Dazai, dan Dazai diam masih di posisinya.

"Bukan sepenuhnya salahmu" balas Dazai.

"Hm?"

"Dunia memang penuh kejutan, dan aku tau itu" di raihnya tangan Chuuya mengecupnya pelan, ada semburat di pipi Chuuya yang membuat senyumnya semakin lebar.

"Jangan sok, kau saja stress karna ku tinggal bukan?" balas Chuuya mengejek dengan uluran lidah.

Dazai ngambek, di tatapnya Chuuya dengan bibir mayunnya, "Chuuya juga,kan?" ucapnya.

"Berissik!" Chuuya mengalihkan pandangannya dari Dazai.

"Jangan bohong…" ejek Dazai.

"Terserah" sekarang Chuuya menatapnya jengkel, apapun ingin di pukulnya kepala itu.

"Idihh, dasarr!" Dazai masih ngambek yang pada akhirnya tertawa pelan, Chuuya juga ikut tertawa.

Chuuya menepis rambut coklat itu pelan, di tatapnya wajah Dazai mata coklat kemerahan yang terkadang dingin namun hangat itu, mereka sangat dekat. Dazai tersenyum sangat indah, Chuuya juga tersenyum dan sangat manis. Mendekatkan kening masing-masing dan kembali memeluk raga mereka, mengecup pundak masing-masing dan mengatakan satu kata yang mereka tau apa artinya sekarang,

"Aku mencintaimu" ucap mereka bersamaan.

Lalu di ikuti suara kekehan kecil dari bibir mereka.

Dan seketika Dazai teringat akan satu hal lalu melepas pelukan itu dengan cepat, Chuuya terheran.

"Kenapa, Dazai?" tanyanya.

"Atsushi…" ucap Dazai lalu bangkit dari duduknya.

"Ah, iya Atsushi…" sekarang suara Chuuya terdengar lemah. Dazai memandangnya heran akan jawaban itu.

"Kenapa?" tanyanya heran.

"Apa dia masih ingin bertemu denganku?" sekarang suara Chuuya ragu.

Dazai diam sejenak, lalu dengan lembut di usapnya pelan kepala Chuuya seraya berkata, "Dia menyayangimu…, tentu dia masih mau" jawabnya hangat.

Chuuya diam sejenak, lalu di detik berikutnya dia tersenyum dan menjawab, "Bawa dia kemari, aku akan berkemas. Akan ku buatkan Ochazuke kesukaannya" ucap Chuuya berdiri dari duduknya, merenggangkan tubuhnya yang penat itu, namun masih bisa bertahan.

Dazai menangguk intens dan pergi dari tempatnya dengan cepat, dia meminjam mobil Chuuya untuk menjemput Atsushi di apartemennya. Jaraknya tidak terlalu jauh memang, namun dia hanya ingin cepat saja.

Dan sekarang hanya ada Chuuya di apartemen yang sepi ini, di ambilnya handphone miliknya, matanya sedikit kaget lalu tersnyum manis menatap wallpaper miliknya, sekarang dia ingat segalanya, kehidupannya yang suram namun sedikit berwarna itu.

Dazai yang tertidur pulas dengan Atsushi kecil yang manis, ah sekarang kehidupan bisa menjadi sedikit lebih indah begitu? Siapa yang tau?

Beberapa menit berselang dan Dazai sampai pada apartemen milik Chuuya, di gendongnya Atsushi kecil erat dan sekarang mereka berada di depan pintu apartemen Chuuya, di tatapnya mata berbeda kontras itu seperti takut tapi tidak, dan Dazai hanya berdengus sedikit senyum, di ketuknya pintu itu dan terbuka selama 10 detik menunggu.

Terbuka dengan Chuuya yang memakai kaus putih katun polos dan celana panjang hitamnya, dia masih memakai celemek, ada hiasan di kepalanya, perban.

"Okairi…" jawabnya memberikan tangan pada Atsushi yang terdiam dengan itu semua. Chuuya memberikan senyuman hangat pada Atsushi dia tau dia salah membentaknya dulu.

"I…bu…?" jawabnya lalu melompat ke arah Chuuya, Dazai diam memandang mereka lalu tersenyum yang sekarang Chuuya tertawa dengan tubuh kecil di pelukannya yang ramping, Dazai masuk di tutupnya pintu apartemen itu dan menguncinya rapat.

"Maaf Atsushi…" ucap Chuuya. Lalu mengecup kening Atsushi.

"Jangan tinggalkan Atsushi lagi, bu…." Jawab Atsushi yang sekarang membenamkan wajahnya di pundak Chuuya, Chuuya tertawa dan berkata "Entahlah Atsushi aku tak janji" di tatapnya Dazai dengan senyuman, entah mengapa membuat Dazai sedikit tersentak akan itu,

Senyuman itu seolah-olah mengatakan,

"Hidup yang membosankan memang , tapi kita bisa memenuhinya dengan warna jika kau mau"

Dazai membalas senyuman itu yang di iringi kata setelah berdehem, "Kalau begitu ayo kita makan Ochazukenya"

"Ochazuke!?" Atsushi menatap Chuuya berbinar, dia sangat rindu akan rasa Ochazuke buatan Chuuya.

"Iya, ayoo…" Chuuya menggendong Atsushi erat, di tatapnya Dazai yang tengah membuka sepatunya yang Dazai sendiri sangat tau tatapan apa itu, memainkan matanya, terutup satu dan tersenyum miring, membuat Dazai terheran dengan kode itu. Isarat yang-sangat Dazai tau dia sedang menggodanya, berhumpat.

"Sialan kau Chuuya, jangan malam ini!" ucapnya dengan seringai herannya di ikuti tawanya, lalu menyusul mereka yang sekarang berada di dapur.

.

"Aku mau yang porsi besar, ne Chuuya~!" teriak Dazai merengek.

"Dazai bodoh, jangan ambil porsi Atsushi!" teriak Chuuya jengkel akan perlakuan manja itu sambil memukul kepalanya dengan sendok.

"Atsushi bisa bagi dua~" Atsushi tertawa riang dan di ikuti sorak gembira Dazai dan suara kesal Chuuya, yang sekarang apartemen sepi ini penuh dengan suara-suara demikian. Mungkin akan bertahan, atau tidak?

.

.

…mungkin Tetap Tinggal jawaban yang baik dan menjalaninya apapun itu. Kau tidak bisa melarikan diri namun kau bisa mengubahnya, yang kau tau sendiri kehidupan takan pernah sama. Kejutan selalu ada dan ada…, dan begitulah kehidupan.

.

.

.

.

.

To be countinued


.

.

.

.

.

Omake

Hahaha apa ini….!? ( A ) duhh terlalu melankolis~~! Dan fluffnya bikin gigit bantal, tau-tau kebuat aja…*cry we call it as "Bablas" wwwwww :'v

I hadn't words sobs…, just giving thanks to my mp3, to you…, to your review, your time… all of love~ all of thanks~ ( ' V ' ) sebenarnya saya sudah terlalu lelah melanjutkan ini, karna apa yahh~ entahlah muehehehe / pukuli

Ini beneran!? Sudah 8k words? satsuki kau gilaaa x''DDD tolong berikan batas limitnya biar balance astagaa! X''DDD tolong banget…!

Yapp! See you in next chapter…, untuk penggemar shin-soukuko~ ( ' v ' ) bersiap-siaplah~ tapi ga yakin juga :'v

Tolong untuk memeriksa kembali spealing yang ada, jika ada kesalahan di minta review yang membangun…

Salam

satsuki grey

(the bgm was = "The Chainsmokers – The One")


.

.

(Telah di ubah dari naskah aslinya karna mengandung banyak typo, mengubah sedikit demi pencocokan plot, jika ada kata yang kurang atau tertinggal atau apapun, mohon bantuannya lewat review, mohon b-a-n-t-u-a-n-n-y-a!)