Bagian 1, Atas Nama Cinta, Saja

Sub-bagian 6, Cinta Dalam Sepotong Cerita

...

KEPADA KAMU, CINTA ITU

"Andai saja cinta itu, kamu... pasti aku rela menyerahkan kepadamu, cinta itu,"

Masih ingatkah dengan sepotong kalimat itu? Tanpa tahu dari mana datangnya kekuatan itu, dengan lancang aku tulis untukmu. Dan kelancanganku itu ternyata berbuah anugerah terindah bagiku karena tahu-tahu, kita menjelma sepasang manusia yang saling bertukar cerita demi cerita tanpa melalui perjumpaan nyata.

Memang terdengar absurd! Tapi itulah kita. Hanya dengan sapa yang teretas di kala pagi dan senja yang menjemput, kau dan aku tiba-tiba menjadi dekat. Perlahan tapi pasti, endapan 'rasa' itu telah membentuk gugusan bintang warna-warni yang memamerkan binar-binar ceria.

Tapi, kalau boleh aku bertanya: begitu bermaknakah perjumpaan nyata buatmu? Kita beradu pandang tanpa sekat jarak dan waktu, menge dalamnya diri dengan praduga. Ahhh... tidak juga ternyata. Hanya lewat sapa yang meretas di kala senja menjelma dan di saat mata mulai terantuk di ujung kantuk, hadirmu melebihi wujud bidadari. Setidaknya, dalam persepsi yang kucipta.

Lalu, selalu saja kucari-cari jejakmu di manapun itu, tanpa ragu. Meski hanya sekedar semu bayangmu, yang kucetak dalam lamunku. Kenapa hadirmu yang secepat embun itu menancapkan gelisah hingga aku tak mampu melukiskan kekuatan apa sebenarnya yang telah telah menggerogoti perasaanku?!

Ternyata, rasa itu datang begitu saja tanpa rencana. Tahu-tahu, hadirmu yang sekejap menguras anganku tunduk dalam syahdunya kata-kata yang memuja keindahan. Tentangmu, bukan siapa-siapa, ternyata!

Tak ingin kulari, tak ingin kuingkar. Sama saja kukhianati diri bila itu kulakukan. Mengapa? Ehhmmm... aku tak perlu bertanya. Semestinya, biarkan saja semua mengalir seperti air dan berembus seperti angin. Air yang selalu mengalir menuju muaranya, dan angin yang setia menggelitik dedaunan dengan senandung ninabobo.

Itulah kita! Menggurat cerita begitu saja. Tak peduli hari telah mengetuk di bibir pagi. Tak peduli, jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini. Yang aku tahu, cerita itu ada. Cerita kita berdua, kau dan aku.

Siapa yang menyangka, tahu-tahu, "Kita berdiri berjajar menjelma sepasang pohon bambu...

Menjadi tiang dan jembatan tanpa sebab..."

Aku ingin kamu tahu. Jelaga matamu telah membawaku pada keindahan yang bertubi. Menyudutkanku di batas damba yang merasuk maju tanpa henti. Jika ini realitas, aku tak mau berhenti dan membiarkannya jadi basi.

Kepadamu, cinta itu. Kuyakin, pasti. Jika itu jawaban yang ingin kausimpan untuk cerita indahmu, hari ini, esok atau nanti. Seperti harapku yang ingin tenggelam dalam magismu di senja yang mulai mengatup. Merebahkan emosi dalam tatap ceria yang terpendar dari indah dua bola matamu. Betapa dahaga ingin kuletupkan sejuta puisi keindahan untuk setiap inci kenangan yang telah tercipta detik itu. Merengkuhmu di timang matahari yang mulai menguning, dan luluh dalam dahaga rindu yang meletup bisu.

Semoga ini nyata dan bukan sia-sia...!

Yang pasti,

hadirmu membuatku termangu,

Dan, maafkan jika aku tak mampu lagi menyembunyikan perasaan ini. Maafkan jika aku selalu ingin menyemayamkan wajahmu dalam asa yang tak henti membasuh sepiku. Maafkan jika aku selalu menyulam benang rindu di setiap jejak yang pijak.

Seperti pagi ini, maafkan jika ku tak mampu menahan rindu yang bergejolak hingga mata ini enggan terlelap sampai bisa kubingkai indah matamu dalam mimpiku.

Red's POV

Ya, inilah kisahku.

Dunia kami adalah dunia yang mirip dengan dunia manusia yang lain, hanya yang membedakan adalah Pokemon hidup sebagai spesies khusus di dunia kami.

Banyak hal yang sama di dunia kami dengan dunia manusia yang lain, termasuk cara berkomunikasi.

Kami memiliki alat-alat komunikasi seperti telepon pintar dan komputer tablet. Ada sebuah aplikasi yang sangat terkenal di kalangan kami, yang disebut PokeVir. Singkatan dari Pokemon Virtual, dibuat oleh Team Rocket setelah pemimpin mereka berganti dan semuanya dirombak sehingga Team Rocket berubah dari organisasi jahat menjadi organisasi pembuat teknologi yang digemari.

Tak dapat dipercaya dulu aku yang menghancurkannya...

PokeVir adalah aplikasi jejaring sosial yang membuatmu bisa berkomunikasi dengan siapa saja yang sudah masuk dalam lingkaran pertemananmu, atau dinamakan "PokeBall"-mu.

Pada saat itu, aku meluncur di sana. Aku punya 2 teman dekat yang juga memiliki akun PokeVir. Green dan Blue.

Nama akunku, "Red the Fighter". Green, "Green Oak," sesuai namanya, dan Blue, " Blue Evolve You". Saat itu, kami sedang bercakap-cakap, lewat jejaring sosial.

"Red, kau tak bosan berlatih terus? Istirahat dulu," tulis Blue.

"Ini aku sedang istirahat. Hei, mau kukenalkan teman baruku," kataku. Aku menunggu tanggapan mereka. Beberapa menit kemudian...

"Eh? Siapa? Laki atau perempuan? Tinggi tak? Pelatih Pokemon bukan?" tanya Blue berkali-kali.

"Hei, pelan-pelan. Gadis sialan..." tulis Green. Aku tertawa sedikit saat melihat 2 manusia ini mulai cekcok kecil lagi. Oke, akan kutulis jawabannya.

"Oke, namanya agak aneh. Red Sunflower. Dia perempuan dan rupanya kecil. Dia punya kecintaan pada Pokemon, tapi dia tak suka bertarung," tulisku. Lalu, tiba-tiba tepat saat aku menulis, ada pesan yang masuk. Dan itu dari...

"Hai, Red-san. Apa kabar?" ini darinya.

Kami terus berkomunikasi dengan pesan di PokeVir. Dari awalnya hanya membicarakan Pokemon, semakin intensif dan dalam. Bukan hanya percakapan kami yang semakin dalam, tapi perasaanku padanya semakin nyata.

Aku dan dia sering mengucapkan selamat pagi dan malam, sering saling menyemangati jika satu dalam masalah atau aku dalam perlombaan Pokemon, dan juga saling berbagi ide dan curahan hati.

Dan akhirnya satu pesanku membuatku membuat gempuran besar.

"Red Sunflower, aku akan mencarimu,"

Dan itu memulai perjalananku untuk mencarinya.

Dengan semua informasi yang kudapatkan dari percakapan kami, dan sedikit ilmu stalking dari Blue, yang mana dia mencukungku untuk hal ini, aku memulai perjalananku ke Hutan Viridian, tempat tinggalnya.

Dia memiliki pakaian biasa berwarna kuning dengan dalaman hitam lengan panjang, celana panjang hitam dan sepatu boots ungu. Dia biasa berada di tepi sungai dengan pancingan dan buku gambar, juga mempunya topi jerami. Dan dia pasti dalam keadaan tertidur.

Saat aku sampai di tepi sungai, aku memulai penyisiran untuk mencari perempuan dengan nama Red Sunflower ini. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, dan setelah mencari bahkan sampai di balik semak...

Aku melihat sesosok manusia sedang tertidur di bawah pohon dan di dekatnya ada alat pancingan dan buku gambar, pakaiannya juga sesuai dengan yang ada dalam gambaran.

Rupanya... hanya satu kalimat yang bisa kupakai untuk menerangkan manusia yang satu ini. Kalimatnya adalah...

She is angel...

Lalu tiba-tiba perempuan itu membuka matanya. Dan terlihatlah mata kuning kecoklatannya yang indah.

Yellow's POV

Eh? Mengapa tiba-tiba aku melihatnya? Aku melihat orang yang sering bercurhat denganku, orang yang digambarkan sebagai seorang dengan mata merah dan rambut jabrik, denga senyuman yang hangat dan topi yang dipakainya, jarang dia lepaskan.

Saat aku buka lebar-lebar mataku, aku baru menyadari kalau ternyata dia...

"Red the Fighter?"

Red's POV

"Red the Fighter?"

Dia tahu namaku di PokeVir? Apakah dia memang orang yang kucari? Orang yang membuatku senang sekali kami tersambung dan membuat percakapan yang lucu dan hangat? Orang yang membuatku prihatin dengan masalahnya dan ingin kuselesaikan masalahnya saat itu juga? Orang yang pasti menjadi yang pertama yang menuliskan dukungan padaku saat mengetahiu aku ikut lomba Pokemon?

"I... iya,... apakah anda, Red Sunflower?" tanyaku, dan perlahan, dia kembali duduk dengan posisi normal, dan dia mengangguk.

"Ya, aku Red Sunflower di PokeVir," katanya. "Apakah kau benar-benar Red? Red yang menjadi juara itu?" tanyanya. Aku hanya bisa mengangguk. Dan hal berikutnya yang kulihat adalah pipinya yang memerah.

"Red Sunflower? Kau baik-baik saja?" tanyaku, sambil duduk di sampingnya. Setelah dia lebih tenang, dna mengangguk.

"Maaf, aku agak malu," katanya.

"Ah, tak apa-apa. Aku Red. Juara Pokemon di Kanto," kataku, sambil mengulurkan tanganku untuk menunggu responnya.

"Aku... Amarillo del Bosque Verde. Tapi kau boleh panggil aku Yellow, Red-san?"

Red-san? Aku tidak seterhormat itu, tapi, terima kasih, Yellow. Itulah yang kupikirkan sambil aku berjabat tangan dengannya.

Dan pada saat itulah, kisah cinta kami di dunia nyata dimulai...

...

KEPADA SEPI: YANG MEMBUNUHKU

Aku mengisap rokok dalam-dalam sambil memandang jauh ke arah laut lepas. Ramai pejalan kaki dan lalu lalang kendaraan menjadi pemandangan yang sejenak menyekat pikiran.

Sejenak, desau roda kendaraan menyapu jalanan. Menyadarkanku dari kesendirian. Sesaat aku terombang-ambing di kursi kayu. Bertanya untuk apa aku di sini seorang diri. Berada di antara ratusan pejalan kaki yang melenggang bergandengan dengan menyungging senyum, menebar tawa kegembiraan.

Sejenak, aku dihinggapi rasa iri yang menusuk dalam, menggerogoti logika warasku tanpa perlawanan ketika kudapati puluhan pasang mata berbinar duduk dibuai kemesraan. Dan aku masih sendiri terpaku tanpa teman, tanpa siapa-siapa.

Betapa menyesakkannya hidup sepi di tengah keramaian. Melintas detik demi detik dengan hanya berpelukan pada asa yang tersisa, menggantungkan angan hanya pada bayang-bayang semu, pudar lalu tercerai-berai bersama awan. Asa tentangmu tang tak kunjung padam kurengkuh meski dalam ketidakpastian. Bayang-bayang semumu yang tak lelah kugapai di ujung tebing keraguan beralaskan sembilu tajam.

Bilakah ada sedetik masa untukku dan untkmu merangkai kembali barisan cerita rindu yang sempat tertunda. Mungkinkah datang setitik nyala api yang bisa mebobarkan waras jiwamu, membuka satu pintu untukku. Biar bisa kulukis lagi lautan dengan senandung keindahanmu. Biar bisa kuhias jalanan Kuta Bali dengan renyah tawa dan senyummu. Biar rasa iri di dadaku sirna, biar sendiriku tak hampa dalam keramaian.

Tapi mungkinkah cerita itu berulang? Sementara sampai saat detik ini, di sendiriku yang bersandar pada langit kelam dan gerimis yang satu-satu datang, aku masih saja mematuk bayang-bayang, menggurat kesepian tanpa arah. Hanya angin, pasir, dan deru kendaraan yang kucium hambar.

Red's POV

Itu semuanya terjadi padaku. Semua yang tertulis di atas. Dan ditambah dengan satu kiriman SMS dari temanku si Gold. Dan rasanya aku ingin langsung menyetrumnya setelah aku kembali dari pantai ini. Kau ingin tahu kata-katanya?

"Red, kapan lo ngelamar dan nikahin si Cewek Topi Jerami itu?"

Eh? Ada SMS masuk lagi. Aku lihat ini dari Blue. Dan saat aku membaca pesannya...

"Red, ingat umur. Kau harus menikahi Yellow. S.E.K.A.R.A.N.G!"

Hehehe... lucu sekali, saking lucunya sampai aku lupa caranya tertawa.

Hufff...

Tapi memang itu kenyataannya. Aku memang sudah mendekati 27 tahun dan aku belum menikah. Aku bahkan kalah dengan Ruby dan Sapphire.

Eh? SMS lagi. Dan saat kulihat...

"Red, kalo lo gak nikahin Yellow, kuambil ye? Gold :v"

Sialan kau, Gold...

Tapi paling tidak aku tidak merokok...

...

HANYA CINTA YANG BISA

Merekah sudah kuncup bunga yang kutanam di taman sepiku. Semusim menenggelamkan segala cipta dan rasa di atas awan cintamu, akhirnya kutemui juga puncak menara pencapaianku. Pengembaraan yang melelahkan ini, kini menjelma istana berpermadanikan warna merah jambu. Istana hatiku kini kubangun kokoh di atas awan cintamu. Mengulum luka lama, menebarkan hawa sejuk asmaradana.

Begitu indah kupandang warna pelangi yang melengkung di kaki-kaki langit. Begitu pula kuhirup udara pagi yang menyisir di antara tiang-tiang bambu di istana langitku. Menjadikanmu sebagai pengantin suci di setiap detik embusan napasku. Membiarkan dadaku menjadi sandaran lelah dan manjamu.

Inikah kemesraan? Inikah keindahan? Atau inikah kesyahduan dan harmoni kehidupan? Ketika kita berpagutan dalam satu ikatan cinta di atas awan berpagar kasih sayang tanpa batas, tanpa tedeng aneka macam kerudung.

Awan berarak mengusung sabda Adam dan Hawa. Menjadi pasangan suci di atas sejarah peradaban bumi. Kita tenggelam dalam melodi nirwana. Syahdu dan mematikan. Awan terasa menjadi gumpalan kapas yang memayungi tiap desah kita. Mereka menari-nari bersimbah peluh kebahagiaan. Berdua, bersama, dan selamanya.

"Mungkinkah kebersamaan ini akan menjadi jembatan bagi kita untuk jadi pengantin suci di hadapan Tuhan?"

Aku tersenyum kecut. Mata beningmu terasa menusuk tajam. Menelanjangi tiap inci jiwa yang semusim dalam kesakauan. Sakau akan dirimu yang kini rebah telak di dadaku. Terglek manja dalam genggaman cinta yang berkobar-kobar. Begitu menghanyutkan.

Tiba-tiba aku merasa hidup di sebuah dunia yang dulu pernah menghantui hari-hariku. Dunia seorang wanita yang menjadi cinta pertamaku tapi akhirnya kandas karena suratan nasib membuat aku dan dia tercerabut dari jembatan kasih sayang.

"Kebersamaan ini bagiku masih pengembaraan. Aku tak tahu akan ke mana kita berhenti. Apakah di padang mahsyar sebagai dua insan yang dipersatukan nyawanya oleh Sang Maha Rahman dan Rahim? Akan kujalani keyakinan cintaku ini sebagai titah Tuhan. Bersujud dalam zikir untuk sebuah penyatuan kita selamanya," ujarku lirih.

Aku lihat matamu berkaca-kaca. Kau belai pipiku yang kecoklatan. Garis di pipiku yang nyaris membentuk warna tanah itu tampak mengeras dengan mimik wajah penuh keseriusan. Wajahku seperti memantulkan cermin yang penuh asam garam lautan kehidupan. Sebentang usiaku yang kini telah menggurat angka 25 tahun, tapi tak juga menebar senyum kebahagiaan. Kelu mengucap mahabbah cinta di antara barisan gigi yang mulai kecoklatan tersepuh nikotin.

"Rasanya akan kusudahi hidup ini ketika kuberada di dekatmu. Biar kau tetap satu dan selamanya milikku. Karena apa yang kucari selama ini, akhirnya kutemukan juga. Aku tak ingin apa-apa lagi selain kau ada di hidupku. Sudah terlalu lelah kaki dan hati ini mengembara menyusur terjal tebing dan lembah di rimba belantara tak berujung. Menebar keliaran di aneka pesta, meluapkan segala nafsu yang berkobar. Menghitam tanah merah, merobek nurani tanpa ampun,"

Lalu semua berjalan tak ubahnya seperti lakon cinta dua anak manusia yang telah jatuh danam asmara yang mendayu-dayu. Aku tatap ragamu terkulai manja. Ranum bibirmu menelaah tiap gerak yang tercipta. Ramping pinggangmu menggeliat manja. Senyum tumpah tanpa sengaja, tak ada pura-pura. Jemari lentikmu seperti menari-nari di tiap inci rambut yang tergerai. Meluapkan segala kemesraan. Dua raga bertemu dalam peluk memagut. Dua rasa mengejewantah dalam simfoni nada.

Detik ini, aku hanya ingin merasakan syahdunya memelukmu.

Betapa keindahan memasung setiap sedihku saat aku terantuk pada bibir merahmu.

Selebihnya, biarkan saja udara kosong yang mengapung di atas kepala, membawa binar-binar kebahagiaan yang terlewati sore ini.

Yellow's POV

Itu adalah sebuah pagi yang sangat indah bagi kami. Indah, karena ini adalah pagi pertamaku sebagai seorang perempuan yang memiliki kewajiban baru.

Seorang wanita, yang akan menjadi pendamping seorang pria sampai mati.

Ya, sekarang aku sudah menjadi seorang istri. Istri dari seorang yang sangat kucintai dalam waktu yang sangat lama. Seorang yang akhirnya membuat cita-cita hatiku menjadi nyata.

Aku, Yellow, atau Amarillo del Bosque Verde, adalah istri dari Red, Sang Petarung dan Sang Juara.

Kali ini, aku dan Red-san, aku memanggilnya begitu meskipun kami sudah menikah, hanya berbaring di tempat tidur kami, aku di atasnya Red-san, membiarkan diriku mendengarkan melodi detak jantung suamiku, dan karena aku terlalu lelah bergerak dari apa yang terjadi semalam.

Singkat saja, Red-san merawatku dengan sangat baik. Tak ada yang dirugikan. Kami sama-sama untung.

Aku masih tersenyum, menikmati suara detak jantung suamiku, yang sepertinya masih tertidur. Aku bisa merasakan pelukannya dengan tangannya mendekap tubuh kecilku. Aku masih teringat apa yang terjadi kemarin.

Kemarin...

Aku menunggu Red-san menjawab pertanyaan suci itu, dan saat pertanyaan suci itu selesai, hatiku berdebar menunggu jawabannya. Dan akhirnya...

"Aku bersedia!"

Itu suara Red-san yang paling meyakinkan yang pernah kudengar seumur hidupku. Dan itulah yang menghilangkan rasa gugupku saat aku menjawab pertanyaan suci itu juga. Dan aku putuskan untuk memberikan Red-san pelukan terima kasih dengan memeluknya lebih erat.

Ya... kesimpulannya, yang kami lakukan seharian ini hanya tidur. Tapi bagiku, itu tidak masalah, selama itu dengan Red-san.

...

KEPADA KAMU, CINTA YANG TERLUPA

Begitu cepat malam beringsut. Anganku ingin menjemput bayangmu ketika pagi turun dengan tetes embunnya. Aku terisak pada wajahmu yang meninggalkan wangi di setiap waktu. Selalu saja begitu. Sepertinya aku memang tak bisa menyingkirkan kesetiaanku. Mencintamu dengan napas terengah dan kepala tengadah menghimpun doa:

"Tuhan, aku selalu ingin menghabiskan setiap detik bersamanya,"

Siapa lagi kalau bukan engkau, yang di mataku tak pernah basi. Seperti pagi yang selalu memberikan benderang untuk bumi. Setelah malam membabi buta menenggelamkannya dalam gelap.

Setelah semua makin jelas di mataku, aku juga belum beranjak pergi. Meski mungkin tidak sedahsyat awalnya, kaki belum juga surut mengharapmu. Apakah ini sebuah kebodohan? Barangkali, iya. Tapi peduli apa? Bisa mencintaimu sudah cukup bagiku. Kalaupun penantianku harus terlunta-lunta, dan akhirnya tak juga menemui titik muaranya, biarlah itu aku anggap sebagai batu ujian yang harus aku lewati. Tak penting apakah aku lulus atau diam di tempat. Yang pasti, aku telah melakukan apa yang seharusnya, bukan apa yang aku reka-reka.

Mungkin aku ini memang bodoh. Menunggu cinta semu dengan damba seribu dan dibalut kesendirian. Setiap waktu yang berlalu adalah bait-bait kesendirian dan penantian yang terus melilit.

"Aku akan selalu kembali untuk mendamba cintamu," ucapku lirih dalam hati.

Kalau boleh diibaratkan, aku seperti:

"Mengembara begitu jauh, dari timur ke barat. Seribu batu terlampaui. Kakiku menjejak jagad raya milik Tuhan; lautannya, tanah lumpurnya, permukaan curamnya, dan juga barisan bukit terjal untuk mencari dirimu,"

"Cintaku sama seperti tumbuhan dalam kayu, Cintaku seperti batu kekal," yakinku.

Kalau sampai hari ini aku masih juga berharap kau akan datang dengan cintamu untukku, itu semua karena aku memang masih menunggumu. Ini di luar batas logika, atau malah di luar batas nalar biasa. Tapi bisa saja, aku melakukannya sampai kaki dan hatiku benar-benar tak mau lagi berpihak.

"Detak yaang menjepit detik. Ketuk yang mematuk hampa. Bergulat tiada, mengalir air mata dan melebur dalam duka. Tangis ini karena tak kuasa, tangis ini jadi pertanda. Ada cinta yang tak terlupa,"

Yellow's POV

Sapphire bersedih, dan aku di sampingnya untuk mendengarkan kisahnya.

Dia bercerita tentang Ruby yang selalu lupa dengan masa lalu indah mereka, terutama saat mereka saling mengungkapkan perasaannya.

"Aku selalu ingin dia ingat! Tapi entah kenapa dia sangat bodoh sampai tak bisa mengingat hal itu. Aku tahu dia hanya berpura-pura, Yellow! Tapi dia masih keras kepala untuk pura-pura melupakan kejadian itu. Apa kau tak merasa sakit kalau seumpamanya Red juga melakukan hal yang sama?" teriaknya sambil terus menangis karena kisahnya ini. Aku hanya bisa menenangkannya dengan memeluknya, namun dalam pikiranku, aku juga memikirkan hal yang sama dengannya.

Red, kau tidak lupa kenangan indah kita kan?

Dan jawaban dari Red pada saat dia pulang dari kantornya (Gym) adalah...

... never... forget... you...

...

KEPADA KAMU, CINTA BARU ITU

"Kau hadir dengan segala tingkah lugumu memasungku dalam gugusan asa baru, mengharap rindu menusukku lagi. Boleh nggak aku kangen?"

Jujur harus kuakui, kau tiba-tiba datang di saat aku tengah menggantungkan harapan di atas tungku yang tak lagi longsor sepi yang mengendap di bebatuan. Ini memang suatu keajaiban. Hadirmu menyalakan tungku yang kudiami, yang memang perlahan mulai padam. Panasnya begitu menyengat hingga aku mulai kegerahan. Gerah yang teramat sangat karena berbalut rindu melesat di lubuk hatiku yang mengerontang. Berbaju pengharapan mengendus di sudut matamu yang membiru. Berlapis cinta mawar yang menebar harum di tanah memerah. Berlebihankah aku memaknai hadirmu? Aku tak peduli. Yang pasti, saat ini, aku butuh yang namanya ketenangan, setelah sekian lama aku dililit resah dan gundah dalam penantian semu.

Aku mungkin salah terlalu mencari ketenangan itu dengan menggebu-gebu. Padahal, tidak seharusnya aku melakukan itu. Benarkah ketenangan itu harus dicari di suatu tempat, di suatu masa? Padahal tubuh punya hati yang tak terbatas ruang dan waktu. Mungkin jawabnya, ya. Kadang hati pun butuh rekreasi; jeda sesaat dari hiruk pikuk emosi yang membakar nalar sehat. Mungkin ada benarnya aku menyingkir sejenak. Bercinta dengan bulan dan bintang di suatu tempat, di suatu masa, di mana tatap mata tak lagi memandangku dengan senyum mencibir atau dengan sapa hangat melenakan. Sendiri dibaui hening, mencipta tanpa batas: di suatu tempat, di suatu masa.

Lalu di mana tempat yang ingin kupijak? Kapan juga masa akan memelukku dengan aneka puisi keindahan? Aku yakin, aku punya hati yang selalu dalam adaku. Di situlah seharusnya aku temukan ketenangan.

Maka, izinkanlah aku kini menjadikanmu jembatan untuk rindu dan cinta baruku. Karena ternyata, padamu kutemukan ketenangan yang terpendar lugu. Ah, baru sebulan mengenalmu. Kok, tiba-tiba aku ingin terus berada di dekatmu. Mungkin tidaklah salah, aku memilihmu.

Red's POV

Akhirnya aku kembali dari Gunung Silver. Setelah latihan yang sangat lama dan membuatku sangat menderita lahir batin, terutama karena tidak ada penantang yang datang, aku memutuskan untuk pulang.

Walaupun sebenarnya alasan sebenarnya aku pulang ke Kota Pallet adalah untuk beristirahat sebentar sebelum aku pergi lagi ke tempat tujuanku yang sebenarnya.

Aku sudah memutuskan itu saat aku melihat bintang-bintang di malam terakhirku di Gunung Silver, bahwa setelah aku bugar setelah perjalananku pulang, aku akan langsung ke sana.

Untuk bertemu dengannya lagi, memulai kisah cinta yang baru, setelah tertunda sangat lama.

Yellow, I'm coming for you...

...

CINTA INI, JANGAN BERAKHIR!

Jangan berakhir. Karena risalah rindu ini masih terus mengais ceritamu. Tak peduli jeratan waktu memaksaku bergemeretak mengejar matahari. Terantuk di padang gerah berkubang butiran peluh, menguras waras yang deras luluh kepadamu. Membuatku tak sadar. Kalap diremas cintamu. Mematuk tembang bertahtakan cintamu.

Jangan berakhir. Karena aku masih setia mengulur benang cinta yang kupintal dari serpihan asa tersisa, kasih yang setia menunggu hadirmu, luka bahagia karena tak bosan-bosannya menatap wajahmu, sunyi mencekan terantuk namamu dan debam hasrat untuk tetap berada dalam naungan mata beningmu.

Jangan berakhir. Karena aku akan menunggu hadirmu, kapan pun itu. Jangan berakhir karena aku telah memilihmu sejak tatap pertama tumpah tanpa sengaja di satu senja. Da sampai kini aku makin terjerat dalam penantian yang mengerangm meregang, mengerontang; terpanggang bara api yang setia kunyalakan, tak ingin kupadamkan.

Ya, inilah aku, yang selalu berharap risalah cinta, pengharapan, dan penantian untuk satu namamu suatu ketika akan menemui pencapaiannya.

Bukan aku tak tahu atau pura-pura tidak tahu, apa yang akan aku temui dalam penantian ini. Ketika aku kembali mencintaimu, pada detik itu sebenarnya kakiku telah tiba di rumah pesakitan. Mengerang di atas prahara cinta yang tak jua berakhir. Titik temu dua hati yang kuiba-iba belum juga merunut abjad takdir. Terkulaiku dihempaskan asa dari waktu ke waktu. Tetap saja kakiku kukuh percaya. Walau segalanya tampak tak nyata.

Rumah yan kuburu makin tenggelam dihapus kungkungan kabut. Samar kupandang, membabi buta jejakku meratap di jemari pelangi. Kau tempatku mengunyah sejarah penantian. Di mana cahayamu kausembunyikan? Rumah yang kuhuni makin gelap. Terang sudah kudekap. Gema pesakitan mengintip di tiap inci kata yang terucap dan terpendam dalam puing suara jiwa. Aku makin terluka. Setia menunggu di ujung abjad takdir yang akan jatuh dari langit. Membawa pesan cintamu, untukku, suatu ketika. Entah di mana, entah kapan masanya. Aku akan setia. Itu saja!

Ya, aku akan setia menantimu, kapan pun itu.

Dalam derap gerimis yang pongah menghujam. Terbuai wajahmu yang menyusup bertubi-tubi. Membawa sebaris kata bahagia yang menenggelamkan nurani di atas pengharapan tak berkesudahan. Tentang rindu kusam, tentang cinta terbuang. Mengutip satu namamu di antara keluh kesah, gundah gelisah, dan lara pesakitan. Masihkah ada secuil senyum di batas penantianku yang kini makin terbata dalam kata-kata; untuk memujimu, mengharapmu, mencintaimu, dan menantimu.

Yang pasti, aku selalu berjalan menujumu.

Yellow's POV

Red-San, aku memang tidak tahu Red-san ada di mana. Karena engkau berkata padaku bahwa engkau akan melakukan perjalanan untuk berpetualang sejauh yang Red-san bisa.

Aku senang kalau Red-san senang. Jika petualangan itu membuatmu senang, aku juga senang.

Tapi...

Aku jadi sedih juga. Semakin lama Red-san pergi, aku semakin khawatir. Aku khawatir kalau Red-san mendapatkan hal buruk atau musibah yang memperlambat Red-san untuk melakukan perjalananmu.

Tapi...

Yang paling kutakutkan itu kalau Red-san...

TIDAK!

Red-san tidak akan melakukan itu padaku. Dia sudah berjanji padaku bahwa dia akan kembali dan menjemputku, membawaku juga ke perjalanannya. Red-san tidak pernah melanggar janjinya padaku. Tidak pernah!

Dia akan kembali padaku, dan yang harus kulakukan adalah menunggunya sampai dia kembali padaku.

Mengapa aku bisa sebegitu yakin dengan hal itu?

Karena kami sudah menjadi satu...

Dan hari ini, dia kembali, sesuai janjinya, dan pada hari itu juga...

... perjalanan cintaku dengan Red-san dimulai, lagi...

Di luar cerita...

Yellow's POV

"Red-san?" tanyaku padanya yang memandangi langit biru pada siang itu.

"Ya?" tanyanya.

"Bolehkah aku minta sesuatu?" tanyaku, agak sulit menanyakannya sampai membuat pipiku memerah.

"Hmmm.. apa yang kau mau?" tanyanya. Aku harus berpikir keras untuk menyusun kata-kata yang tepat untuk ini.

" Genggam tanganku, lalu tempelkan ke jantungmu. Aku ingin..." aduh... aku tak tahan! Pipiku yang memerah membuktikan itu!

"Hehehe, manis kalau kau sedang malu, Yellow," katanya, dan itu hanya menambah merah pipiku.

"Tapi kalau itu yang kau mau, oke," katanya, menggenggam tanganku dan menempelkannya ke tempat di mana jantung Red-san berada.

Aku bisa merasakan detak jantung Red-san menguat dan getarannya cukup terasa di tanganku. Aku merasakan ingin mendengarkannya sekarang, tapi...

"Yellow, aku lelah membaca buku ini. Mungkin karena kita membayangkannya sampai jauh," kata Red-san. Terima kasih telah menyadarkanku dari pemikiran panjangku.

"I... iya... memang isinya banyak," kataku. Lalu Red-san berbaring dengan tangan kanannya sebagai bantal dan tangan kirinya masih menggegam tanganku.

"Yellow, kau boleh jadikan aku bantalmu, kalau kau mau," katanya. Sontak aku kaget.

"Benarkah?" tanyaku. Red-san mengangguk. Dan akhirnya aku ikut berbaring, dengan kepalaku bersandar di atas dadanya Red-san, dan kami berdua melihat langit biru itu bersama.

Dan sesekali aku mendengarkan suara detak jantung Red-san yang kuat namun menenangkan, dan karena suara itulah, bunga-bunga tidur mekar di otakku, dan akhirnya, aku tertidur.

Sebelum aku pulas tertidur, aku mendengar suara napas Red-san, yang ternyata juga tertidur. Dan akhirnya,kupulaskan tidurku.

Itulah kami. Red dan Yellow. Tertidur bersama di bawah sebuah pohon besar di tepi sungai di satu bagian dari Hutan Viridian, pada cuaca siang yang cerah dan angin sepoi-sepoi membawa kisah cinta kami pada bagian ketenangan dan ketentraman.

... ditambah dengan dua bunga matahari merah di samping kami, di topi kami berdua, sebagai tanda penyatuan kami...

Benar-benar saat yang indah untukku dan Red-san, dua manusia yang saling mencintai dengan cinta yang sederhana, tapi bermakna.

Sub-bagian 6 dari bab 1 selesai. Juga menandakan bab 1 selesai.

Maaf kalau tidak terliat seperti drabble, karena memang sub-bagian ini memiliki kata yang terlalu banyak untuk satu bagian.

Jangan lupa untuk kritik konstruktif dan saran, mungkin review, untuk fic ini.

RWD keluar