Kris POV

"Uhukk Kris tolonghh." Samar-samar aku mendengar seseorang memanggilku. Aku seperti orang bodoh sekarang, celingak-celinguk mencari seseorang. Kemudian aku melihat Luhan, ia berama Sehun? Apa mereka sudah berbaikan? Tapi kenapa..ah aku tak peduli. "Kris!" lalu aku mendengar suara itu memanggilku lagi, ya itu Luhan. Tanpa menunggu lama aku segera berlari kearah Luhan, dan oh wajahnya pucat. Penyakitnya kambuh. Tanpa ba bi bu ku lemparkan bogem mentah tepat di wajah Sehun. Kulihat ia jatuh tersungkur dan mengelap sudut bibirnya.

Baekhyun POV

"Ya Baekhyun, sekarang kau bisa tinggalkan ruangan ini." Aku mengangguk patuh, membungkuk, dan memberikan salam. "Ne Seonsaengnim." Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan ini, aku melihat Sehun di lorong sekolah. Baru aku ingin memanggilnya, tetapi ada Luhan disana. Akhirnya aku mengendap-endap mendekati mereka. "Tapi aku masih mencintaimu."

Deg.

Itu suara Sehun. Jadi? Selama ini? Tak terasa air mata lolos dari manik hitamku. Kulihat Kris datang dan memukul wajah Sehun, dan ia menggendong Luhan yang tak sadarkan diri. Aku berusaha menghapus air mata ku dan berlari..ke suatu tempat.

Normal Pov

Pip..pip..pip

Jongin tetap fokus menyetir, Kyungsoo mendelik sebal. "Yak handphone mu berbunyi, cepat angkat. Berisik sekali." Jongin menatap kekasihnya dengan senyuman ringan khasnya. Sedangkan Kyungsoo menatap nya dengan tatapan datarnya. "Cepat angkat, mungkin penting."

"Kau saja, aku sedang menyetir." Kai merogoh-rogoh saku celananya, mengambil handphonenya, dan memberikannya pada kekasihnya.

"Ini dari Kris Hyung." Kai mengangguk. "Yeoboseo Hyung, ada apa?" Kyungsoo terdiam. "K-Kai kita ke Rumah Sakit. SEKARANG."

"Kris bagaimana?" Tanya Jongin sambil berlari kearah Kris, Kris hanya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."

Ceklek

Keluarlah sang Dokter dari ruang operasi. Tunggu. Apa? Operasi?

"keadaan Luhan sudah membaik, tinggal menunggu ia siuman saja. Beruntung ada seseorang yang ikhlas mendonorkan jantungnya untuk Luhan." Semua orang disana tertegun masih tak percaya. "permisi saya tinggal dulu, setelah ini Luhan akan dipindahkan ke ruang inap." Kemudian Dokter itu pergi meninggalkan orang orang yang masih terbengong-bengong itu.

Skiptime

Keesokan harinya Luhan tersadar dari mimpi panjangnya, ia mengerang pelan, membuka matanya perlahan dan menatap sekelilingnya. "Eunghh aku dimana?" Kai langsung menghampiri Luhan yang baru siuman. "Bagaimana keadaanmu Hyung?". Luhan menatap Kai. "Aku baik-baik saja, tolong jelaskan mengapa aku bisa ada disini?" Kai menyodorkan sebuah amplom ke Luhan. Lalu Luhan membuka amplop itu dan membaca isinya. "Hiks..Sehun…."

.

.

.

Sehun POV

Hari ini Baekhyun berulang tahun, tak ayal ku sedang berdiri di depan rumahnya sambil membawa sebungkus kado.

Ting tong

Kutekan bel rumahnya, namun yang keluar adalah . Ibu Baekhyun.

"Pagi Ahjumma." Sapaku lalu tersenyum.

"Mencari Baekhyun 'kan?" aku menunduk, sepertinya aku malu. 'Hah tapi mengapa aku harus malu?' Aku menatap lalu mengangguk. "Ne."

"Baekhyun..sudah pergi?"

"Pergi? tapi ia kemana..?"

"Nanti kau akan tahu." Lalu menutup pintu rumahnya, secara bersamaan handphone disaku ku bergetar.

Kai is calling

Kai? Untuk apa ia menelponku? Apa ini ada hubungannya dengan Luhan? Atau dengan kepergian Baekhyun?

"Yeoboseyo, Kai ada apa?"

"Hun cepat datang ke Rumah Sakit sekarang, dan kau akan tahu."

"Ne."

.

.

"Ada apa?" tiba-tiba kai menarik lenganku sampai didepan pintu rawat inap? Tapi siapa yang sakit? Luhan? Baekhyun? Aku menatap kai dengan tatapan bingungku. "Masuklah Hun, dan kau akan tahu." Aku mengangguk dan membuka pintunya perlahan agar tak mengganggu orang yang didalamnya. Ku lihat Luhan terbaring lemah di ranjangnya dan matanya memerah, ia menangis? Segera ku langkahkan kaki jenjangku mendekati Luhan dan mencoba menyapanya.

"Kau memanggilku? Ada apa?" tanyaku kemudian mengusan pipi namja manis itu perlahan.

"Ini.." aku melihat sebuah amplom di sisi ranjang Luhan, aku menatapnya lalu ia mengangguk pelan. "Hun, kurasa ini milikmu." Kemudian ia menyodorkan amplop itu kearahku, segera ku ampil amplop itu lalu memasukkannya kedalam jaketku. Ah aku baru ingat, aku harus mencari Baekhyun. "Han-ie, aku harus pergi. Nanti aku akan kembali."

.

.

Aku penasaran dengan isi amplop ini, kulihat ada taman di seberang jalan. Mungkin itu tempat yang baik untuk membaca isi dari amplop ini. Segera ku dudukan tubuh tinggiku di kursi taman itu, membuka amplop itu, mengeluarkan isinya lalu membacanya. 'Surat persetujuan pendonor jantung? Untuk Luhan? Tapi siapa orang itu.' lalu aku melihat surat di dalam amplop itu. aku membaca isi surat itu, mataku memerah, dadaku terasa sakit. Airmataku sudah tak terbendung lagi. Aku menangis, berteriak sekencang-kencangnya. 'Mengapa ia pergi saat aku mulai mencintainya?' kemudian aku menarik napas dan membuangnya perlahan. 'mungkin ini yang ia inginkan.' Kemudian aku berlari untuk menemui Luhan.

.

.

.

Hi Sehun-ie. Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah pergi dan tak ada di sisimu lagi untuk selamanya. Maaf aku tak memberitahumu sebelumnya, kupikir ini adalah jalan terbaik untukmu, Luhan, dan aku. Maaf sudah menjadi perusak hubunganmu dengan Luhan. Sebagai permintaan maaf aku telah mendonorkan jantungku untuk Luhan, kurasa Luhan akan suka dengan jantung aku akan bertemu kau lagi, tapi tidak sekarang atau mungkin disurga nanti? Hehe. Saranghaeyo.

BaekHyun.

.

.

.

.

"Akhh appo." Ucap anak itu kesakitan sambil memegang lututnya yang berdarah. "Kau kenapa adik manis?" anak itu menatap orang dihadapannya. "Eonni..kakiku….."

"Eonni punya plester, kau ingin satu?" anak itu mengangguk lucu.

'Baekki! Kau dimana.' Anak itu mendengar suara orangtua nya memanggilnya.

"Gomawo eonni, ah sepertinya Appa sudah mencariku." Kemudian anak itu berdiri lalu menarik lengan orang itu. "Eonni kau harus bertemu dengan Appaku." Kata anak itu antusias, orang itu hanya mengangguk manis.

"Appa!" Sehun menatap anak semata wayangnya dengan Luhan. "Kau kemana saja Baekki hm? Membuat Appa khawatir saja, lainkali kau tak boleh seperti ini. Arrachi?" anak itu tersenyum kecil. "Mianhae Appa, tadi Baekki terjatuh dan Eonni ini yang menolong Baekki. Lihatlah Eonni ini sangat cantik seperti ku? hihi." Sehun menatap seseorang di belakang anaknya.

"Baekhyun?..."

END