Touchè (Alchemist)
A remake teenlit
Teenlit by Windhy Puspitadewi
Chanbaek ff remake GS
FF remake dari teenlit karya Windhy Puspitadewi
Touchè bagian yang ke 2 Alchemist
I just changes the casts name just for needs.
Cast:
Park Chanyeol
Byun (Wu) Baekhyun
Wu Yi Fan ( Kris Wu)
Ken VIXX
EXO members
Others
.
.
.
5
"Serius, Ken, kau memanggilku untuk kasus seperti ini?" Chanyeol mendengus kesal sambil memeriksa korban. Wanita yang tewas itu memiliki luka tusukan di perut. Darah menggenang bersama cairan bening.
Ken mengangkat bahu. "Aku kehilangan ide."
"Apa kau tahu, Ken, setiap kali kepolisian New York membutuhkan Chanyeol , akulah yang paling repot," Protes Baekhyun. "Karena anak manja ini hanya mau datang jika aku yang menjemputnya."
"Aku tidak pernah memaksamu," kata Chanyeol santai, masih terus mengulum lollipop. "Kalau kau tak mau, berarti aku tak perlu datang. Tapi apa jadinya nama baik ayahmu nanti karena dialah yang merekomendasikanku."
Baekhyun tidak berkata apa-apa, selain memasang wajah cemberut.
Chanyeol mengambil cotton bud dari sakunya, lalu mencelupkannya pada cairan bening di sekitar korban. Ketika dia menyentuh cotton bud itu, keningnya berkerut. "Air?"
"Tebakan yang bagus, Sherlock," ejek Ken karena semua orang juga pasti tahu itu hanya air.
Chanyeol tidak memedulikan ejekan Ken. Ia mengeluarkan cotton bud baru. Kali ini dia mengoleskanya di lidah korban, setelah itu menyentuhnya agak lama.
"Dimana Kris? Bukankah kalian seharusnya bekerja berpasangan?"
"Dia sibuk dengan kasus bom," jawab Ken. "Kapten memasangkannya dengan agen FBI, jadi sekarang aku single fighter."
"Bom di Museum Interpid, ya? Aku membacanya dikoran." Chanyeol berpikir sejenak, berkonsentrasi pada korban di hadapannya. "Siapa yang pertama kali menemukan korban ini?"
"Atasannya, CEO keelson Group, Gerard Button," Ken menunjuk laki-laki yang tampak gelisah dan merokok di sudut ruangan dekat tempat sampah. "Wanita yang tewas ini, Melinda Hills, asisten pribadinya. Sekarang kau mengerti kenapa aku membutuhkanmu? Gerard Button adalah suami Amanda Kelson, pewaris Kelson Group alias pemilik gedung ini. Dia ingin kasus ini cepat selesai."
"Bagaimana dia menemukannya?" Tanya Chanyeol.
"Dia bilang, dia pulang ke rumah jam lima sore karena pada jam itu kantor sudah tutup." Ken membaca catatan di buku kecilnya. "Saat itu dia mengira Melinda juga sudah pulang. Sesampainya di rumah dia teringat ada berkas yang tertinggal sehingga memutuskan kembali ke kantor dan di ruang kantornya inilah melihat Melinda tegeletak."
"bagaimana dengan rekaman CCTV?" Chanyeol melihat CCTV terpasang di ruangan itu.
"Rusak sejak kemarin dan seharusnya besok diperbaiki," jawab Ken.
"Perusahaan sebesr ini harus menunggu lebih dari satu hari untuk memperbaiki CCTV?"
"Petugas sekuriti bilang, hari ini CEO tidak mau diganggu." Ken mengangkat bahu. "Tapi itu tidak membuktikan dia pembunuhnya, kan?"
"Bagaimana dengan senjata pembunuhnya? Sudah kalian temukan?" Chanyeol mengamati luka wanita itu dengan seksama. Di pinggir luka tusukan ada bekas terbakar, seakan-akan dia ditusuk dengan benda panas.
"Itulah sebabnya aku meminta bantuanmu," keluh Ken. "Tidak ditemukan di mana pun. Kupikir dibawa ke luar gedung ini, tapi berdasarkan CCTV di pintu gedung, tidak ada orang asing yang keluar."
Chanyeol bangkit, mengangkat kedua tangan seperti hendak merasakan sesuatu. "Kau tahu, aku merasa ada yang janggal dengan ruangan ini."
"Memangnya kau merasa ada sesuatu yang hilang?" Tanya Baekhyun.
"Bukan," Chanyeol menggeleng, "Sebaliknya, justru ada yang bertambah."
"Apa itu?" Tanya Ken.
"Karbondioksida."
Ken dan Baekhyun berpandangan.
"Apa kau memberinya alcohol sebelum datang ke sini?" Tanya Ken pada Baekhyun.
"Tidak, tapi sepertinya kepalanya sedikit terbentur," jawab Baekhyun sembarangan.
"Terserah jika kalian tak percaya padaku," kata Chanyeol malas. "Itu fakta penting yang memberiku petunjuk tentang kasus ini."
"Kau tau pelakunya?" Tanya Ken tak percaya sambil melirik jam tangannya. Chanyeol baru satu jam di tempat itu dan sudah menyelesaikan kasus ini.
"Berapa kali kukatakan bahwa itu tufas kalian sebagai polisi, Ken?" Chanyeol mendesah. "Kalian membayarku sebagai konsultan hanya untuk menbantu membangun hipotesis."
"Apa pun katamu," kata Ken berseri-seri. Biasanya jika Chanyeol berkata seperti itu, berarti kasusnya memang sudah terpecahkan.
"Sekarang panggilkan Gerard Button," Kata Chanyeol.
"Aku ingin memastikan sesuatu."
"kau serius?" Ken mengerutkan kening. "Jangan sampai salah omong. Dia orang penting."
"Jika kau tidak percaya padaku, selesaikan sendiri kasusmu ini," jawab Chanyeol enteng.
"Oke, oke…" Ken menyerah. "Tuan Gerard Button!" Gerard Button menoleh, bergegas menjatuhkan rokok yang tadi diisapnya, lalu menginjaknya untuk mematikan apinya. Gelisah, dia berjalan menghampiri Ken dan Chanyeol.
"Suruh orangmu mengambil rokok yang tadi dia buang," bisik Chanyeol.
"Hah?" Ken Bingung.
"Lakukan saja," lanjut Chanyeol masih dengan berbisik.
"Jika nanti dia hendak memukulku, kau harus melindungiku dan membiarkanmu dipukul."
Ken tak mengerti, tapi dia menuruti kata Chanyeol. Dia memanggil opsir, membisikan sesuatu, yang langsung dijawab sang opsir dengan anggukan.
"Ada apa kau memanggilku, Tuan Detektif?" Tanya Gerard Button. Wajahnya tampak gusar.
"Saya ingin memperkenalkan diri." Chanyeol menyodorkan tangan. "Chanyeol Park, konsultan untuk kepolisian New York."
Gerard Button tampak bingung, tapi menjawab sodoran tangan Chanyeol.
"Saya sangat senang berkenalan dengan Anda."
Chanyeol mencoba berlama-lama bersalaman agar bisa "membaca" hal yang paling penting yang dibutuhkan dalam kasus ini: DNA.
Sekuat tenaga Gerard Button mencoba melepaskan tangannya dari tangan Chanyeol, tapi gagal. Sampai akhirnya Chanyeol sendiri yang melepaskannya.
"Bagaimana rasanya berselingkuh dengan asisten pribadi Anda?" Tanya Chanyeol tiba-tiba.
Mata Gerard Button seperti hampir keluar, begitu juga Ken.
"Apa maksudmu menuduhku seperti itu?" bentak Gerard Button.
"Satu-satunya alas an kenapa DNA anda ada di mulut korban hanyalah karena Anda menciumnya," kata Chanyeol kalem sambil memegangi permen lollipop. "Mungkin Nona Hills tidak mau lagi menjadi selingkuhan Anda dan berniat membuka semuanya pada istri Anda. Anda ketakutan karena, yah… seperti kita tahu, semua yang Anda nikmati adalah milik istri Anda sehingga Anda memutuskan membunuh Nona Hills untuk menutup mulutnya."
"DNA apa maksudmu?" Gerard Button mengangkat tanganya yang terkepal. Pada saat yang sama, Ken bersiap maju. Ketika Gerard Button melayangkan tinju pada Chanyeol, Ken langsung menghalangi dengan badannya sehingga akhirnya kepalan itu mengenai dagunya yang membuatnya jatuh tersungkur. Baekhyun menjerit melihatnya,
"Wah… wah… Tuan Gerard Button, Anda menyerang polisi," kata Chanyeol tenang sambil melirik ke arah Ken.
Ken paham kenapa Chanyeol menyuruhnya menerima pukulan. Dia langsung bangkit berdiri dan menarik tangan Gerard Button ke belakang, segera memborgolnya.
"Tuan Gerard Button, Anda ditangkap karena melakukan penyerangan terhadap polisi," tegas Ken.
"Kau pasti bercanda!" teriak Gerard Button. "Dia yang memulainya!"
"Tapi saya yang Anda pukul," jawab Ken sambil memberi tanda pada dua opsir yang ada di tempat itu untuk membawa Gerard Button.
"Sekarang kau jadi punya waktu untuk membuktikan milik siapa DNA di mulut korban kan, Ken?" kata Chanyeol.
"jadi tadi kau hanya menerka-nerka?" Tanya Gerard Button marah.
Chanyeol hanya mengangkat bahu.
"Memangnya kalian mau membandingkannya dengan DNA siapa?" Gerard Button tersenyum mengejek. "Aku tidak sudi memberi kalian sampel DNA-ku. Berdasarkan undang-undang, kalian tidak bisa memaksaku melakukannya."
"Tidak perlu, kami sudah mendapatkanya di sini." Ken mengangkat kantong berisi punting rokok yang tadi diisap Gerard Button.
Gerard Button melotot, tak percaya melihat bekas rokoknya. "Aku akan memanggil pengacaraku dan menuntut kalian," ancamnya. "Lihat saja, tidak butuh waktu lama bagi dia untuk membebaskanku."
"Sebaiknya cari pengacara yang bagus, yang sekalian bisa membebaskan Anda dari tuduhan pembunuhan," kata Chanyeol merespons ancaman Gerard.
Gerard Button berhenti berjalan dan bebalik menatap Chanyeol. Wajahnya memerah. "Atas dasar apa kau mengatakan itu? Hanya karena menciumnya bukan berarti aku membunuhnya!"
"Apakah Anda pernah mendengar tentang es kering?" Tanya Chanyeol.
Mendengar pertanyaan Chanyeol, wajah Gerard Button tampak sangat terkejut.
"Melihat perubahan wajah Anda, asumsi saya Anda tahu." Kata Chanyeol tersenyum sinis. "Es kering sebenarnya bukan es karena tak berasal dari air, tapi karbondioksida dalam bentuk padat. Es kering lebih kuat daripada es yang berasal dari air dan lebih dingin, sekitar -78°C atau sekitar -104°F. Di suhu ruang, es kering dengan sendirinya menyublim menjadi gas CO2 dalam waktu 24 jam. Proses itu bisa lebih cepat jika ditambah H2O alias air, seperti dalam percobaan kimia waktu SMA. Es kering yang dicampur air menimbulkan asap, yang kemudian di industri hiburan digunakan sebagai efek kabut. H2O ditambah CO2 akan bereaksi menjadi H2CO3, yang kemudian pecah kembali menjadi H2O dan CO2."
Kening Baekhyun mengerut. Kenapa sekarang malah jadi pelajaran kimia?
"Saya pikir Anda pasti paham benar hal itu," lanjut Chanyeol. "Itulah sebabnya Anda memutuskan membunuh Melinda Hills dengan es kering yang berbentuk runcing. Kemudian untuk menghilangkan barang bukti, Anda mengguyurnya dengan air, sehingga es kering itu kembali menjadi karbondioksida dalam bentuk gas."
Ken manggut-manggut. Akhirnya dia paham kenapa Chanyeol mengatakan bahwa ruangan ini memiliki terlalu banyak karbondioksida, tapi masih belum tahu cara anak muda itu mengetahuinya.
Tiba-tiba Gerard Button tertawa. "Cerita yang bagus, Nak. Kau berbakat menjadi penulis novel detektif," ejeknya. "Kalau yang kaupaparkan itu benar, berarti kau tak punya bukti apa-apa karena senjata pembunuhnya sudah hilang bersama udara."
Baekhyun menelan ludah. Orang itu benar, tidak ada bukti yang bisa mengaitkannya dengan pembunuhan Melinda Hills kalau senjatanya tidak ditemukan.
Chanyeol menghela napas. "Anda tidak menyimak kata-kata saya seluruhnya. Es kering lebih dingin daripada es biasa, itulah sebabnya berbahaya jika memegangnya dengan tangan kosong karena menyebabkan luka bakar. Itu juga sebabnya di pinggiran luka tusukan pada korban ada bekas seperti terbakar."
"Ah!" seru Baekhyun spontan, lalu cepat-cepat berusaha menutup mulut dengan kedua tangan. Ia langsung teringat rasa panas seperti terbakar saat menyentuh potongan es kering.
"Anda tidak mungkin memegangnya dengan tangan kosong," lanjut Chanyeol. "Berani bertaruh, apa pun yang Anda pakai untuk memegang es kering itu ada di tempat sampah dekat tempat tadi Anda berdiri."
Mendengar itu, Ken menyuruh opsir secepatnya mengambil isi tempat sampah.
"Ada sarung tangan kulit hitam!" teriak opsir itu sambil mengangkat sarung tangan yang dimaksud dari tempat sampah. Petugas crime scene unit mengoleskan cotton bud ke sarung tangan tersebut, lalu menyemprotkan luminol. Cotton bud berubah warna menjadi ungu.
"Ada bekas darah juga di sarung tangan ini," teriak si petugas memberitahu.
Ken tersenyum. "Berani bertaruh, darah yang ada di situ adalah darah korban."
"Lalu kenapa?" Gerard Button masih merasa berada di atas angin. "Tetap bukan berarti aku pembunuhnya. Bisa saja si pembunuh sengaja membuangnya di sana untuk menjebakku."
"Tuan Gerard Button," Chanyeol bicara kembali. "Apa Anda lupa, memakai sarung tangan Anda pasti melakukannya dengan tangan kosong. Saya yakin di salah satu sarung tangan itu ada sidik jari Anda. Apa saya keliru?"
Senyum di wajah Gerard Button langsung menghilang. Dia juga kehabisan kata-kata.
Ken memberi tanda kepada dua petugas yang menjaga Gerard Button untuk membawanya ke mobil.
"Fiuuuh…," Ken menghela napas, "kupikir kita tidak akan pernah bisa mengaitkannya dengan pembunuhan ini."
"Jangan senang dulu," kata Chanyeol. "Pengacara yang bagus akan membebaskannya dalam sehari dengan mengatakan bahwa dia dijebak. Ruangan ini penuh dengan sidik jarinya, bisa saj si pelaku menempelkan sidik jadi Gerard Button di sarung tangan itu."
"Kau benar…" Ken kembali gusar.
"Ayo, Baekhyun, kita pulang," kata Chanyeol menguap.
"Hei! Hei! Kau belum selesai membantuku!" sergah Ken kebingungan. "Jadi bagaimana aku bisa membuktikan bahwa dia pembunuhnya?"
"Itukan tugasmu, Detektif," kata Chanyeol santai sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Wajah Ken seketika tampak putus asa.
Baekhyun menepuk-nepuk punggung Ken untuk menghiburnya. "Kau seharusnya sudah mengenal Chanyeol."
"Petunjuk untukmu, Detektif," seru Chanyeol sebelum menghilang di balik pintu. "Es kering bukan barang yang bisa dibeli di sembarang took."
Ken hanya bisa melongo mendengar petunjuk Chanyeol.
Dia belum mengerti maksud kata-kata pemuda itu.
Baekhyun yang mengikuti Chanyeol merasa khawatir. "Kau yakin Ken paham petunjukmu?" Tanya Baekhyun.
Tiba-tiba terdengar teriakan keras Ken saat mereka bejalan lenuju lift. "Ahhh!!!"
"Ya, aku yakin." Chanyeol tersenyum.
Baekhyun menekan tombol lift , pintu pun menutup dan mereka bergerak turun.
"Memangnya apa maksudmu 'es kering bukan barang yang bisa dibeli di sembarang toko'?" tanya Baekhyun.
"Kukira kau lebih pintar daripada Ken," sindir Chanyeol
Baekhyun menggerutu.
"Di New York hanya toko-toko tertentu yang menjual es kering," jelas Chanyeol. "Apalagi es kering dengan pesanan khusus berbentuk runcing. Jika menemukan took itu, Ken bisa tau pembelinya. Nota pembelian es kering merupakan bukti paling kuat untuk mengaitkan Gerard Button dengan pembunuhan Melinda Hills."
"Berarti kau yakin pembunuhnya Gerard Button?" tanya Baekhyun.
"Ayolaaah…" Chanyeol menguap lagi. "CCTV yang tiba-tiba mati, mereka berciuman, motivasi ekonomim sarung tangan kulit yang jelas-jelas mahal, dan tidak sembarang orang bisa memesan es kering untuk kepentingan pribadi."
Baekhyun manggut-manggut. Denting lift berbunyi dan pintu terbuka. Di depan lift ada pria muda berkacamata, berambut hitam, dan berwajah keturunan Asia seperti Chanyeol dan Baekhyun.
Saat Chanyeol keluar, pria itu masuk lift. Ada perasaan aneh menyelimuti Chanyeol, merasa pria itu memperhatikannya. Chanyeol memberhentikan langkah dan sengaja menoleh.
Tiba-tiba petugas sekuriti lerlari tegopoh-gopoh menuju mereka sambil mengacungkan ponsel. "Tuan Kim! Ponsel Anda terjatuh di lobi!" serunya.
Pria berkacamata itu menahan pintu lift. "Terima kasih James," kata pria itu. "Aku tadi menelpon Amanda agar segera ke sini karena katanya Gerard sedang dalam masalah."
Tuan Gerard sudah dibawa ke kantor polisi, Tuan." Kata petugas sekuriti itu.
"Apa?!" Pria itu tampak terkejut. "Apakah para polisi masih ada di ruangannya?"
Petugas sekuriti mengangguk.
Sebelum pintu lift benar-benar tertutup, mata pria itu beradu dengan mata Chanyeol, dan tersenyum.
Siapa orang itu? Batin Chanyeol kaget.
Ketika petugas sekuriti itu akan kembali ke posnya, Chanyeol mencegahnya. "Siapa orang yang baru saja masuk ke lift?"
Petugas itu mengernyit. "Kenapa aku harus mengatakannya padamu?"
Chanyeol mendesah kesal, lalu mengeluarkan kartu tanda pengenal konsultan kepolisian New York.
"Dia sahabat Nyonya Amanda Kelson," kata petugas itu setelah membaca kartu tanda pengenal Chanyeol. "CEO King Group, Tuan Kim. Jongin Kim."
Jongin Kim?
TBC
My real life is so really important so sorry.
See you next chapter..
