SULAY FANFICTION INDONESIA
==Present==
Sexically Sexical
By
Flying White Unicorn
*Pairing*
Kim Junmyeon*Zhang Yixing
Yaoi
Bxb
Rate M NC17
Don't plagiat
Many typo(s)
Konten dibawah benar-benar banyak menggunakan bahasa sensual mohon disesuaikan dengan umur anda semua yang akan membaca
JANGAN BACA KALAU MASIH UNYU PLEASE T.T
I just wanna travel and fuck you on hotel balconies
….
Luhan menutup laptopnya dengan kasar, entah kepada siapa dia harus mencurahkan amarahnya. Ketika pertanyaannya menjadi pisau yang melukai hatinya sendiri. Sudah lebih dari lima belas tahun lamanya dia dan Yixing hidup hanya berdua. Yixing sebagai kakak yang mau tidak mau mengasuhnya dari kecil. Menyendokkan suapan demi suapan. Mengajarkannya bagaimana dia akhirnya bisa merawat dirinya sendiri. Tapi tampaknya seiring dengan perjalanan waktu baik Yixing maupun Luhan semakin dibuat asing oleh keadaan mereka berdua. Yixing yang mulai menutup diri, Luhan yang semakin muak dengan kebisuan kakak semata wayangnya itu.
Walaupun mereka berdua tidak pernah kekurangan uang sedikitpun, baik Luhan ataupun Yixing rasanya sudah tidak mempunyai nafsu untuk menghambur-hamburkan uang warisan dari kakeknya. Luhan mengingat bagaimana kesialannya bermula, ketika sang kakek mengatakan bahwa Luhan adalah tanggung jawab Yixing. Bagaimana kakaknya yang langsung seperti menguasai dirinya. Menutup segala akses pergaulan Luhan terhadap hal-hal yang disukai Luhan.
Luhan tidak terlalu mengingat bagaimana kedua orang tua nya, kehidupan keluarganya tidak seberuntung kekayaan yang di milikinya. Ayahnya meninggal sebelum ia bisa mengingat bagaimana sosok kehadiran sang ayah. Sedangkan ibunya yang tidak banyak di bicarakan antara kakeknya dan Yixing hanya dikenal Luhan sebagai satu-satunya yang kini entah berada dimana. Satu-satunya yang masih diyakinkan Luhan mampu membawanya keluar dari kekangan Yixing.
Mungkin karena Yixing tidak ingin Luhan akhirnya pergi meninggalkannya, Yixing menutup segala informasi tentang sang ibu. Begitu pula kakeknya yang hingga akhir napasnya tidak memberitahukan apapun tentang ibunya. Luhan mencari sendiri informasi tentang sang ibu, meraba dalam gelap, memilih satu persatu orang yang dapat menghubungkannya dengan ibunya.
Clek
Pintu rumah terbuka, Yixing masuk dengan kemeja rapi nya dan wajah lelah. Luhan mengabaikannya, langsung berdiri dari tempat duduknya sambil membawa laptopnya untuk masuk ke dalam kamarnya.
" Lu.. Kau sudah makan?." Tanya Yixing
Luhan mengabaikannya terus berlalu melewati Yixing tanpa menjawab pertanyaan Yixing.
" Luhan! Berhenti."
" Apa lagi ?!." Bentak Luhan
" Kenapa kau tidak jawab pertanyaanku?."
" Apa pedulimu kalau aku sudah makan atau tidak?!."
" Luhan! Tentu aku peduli denganmu. Kau adalah satu-satunya saudara yang kumiliki."
" Cuma karena hubungan darah itukan? Aku tidak membutuhkan anggota keluarga yang seperti orang asing untukku." Luhan masuk ke dalam kamarnya menutup keras-keras pintu kamarnya.
" Luhan!."
Tinggalah Yixing yang kini semakin terpuruk dalam keadaannya. Semua ketakutannya perlahan menjadi kenyataan, seakan membuktikan bahwa apa yang dia pikirkan tentang keburukan satu-satu menghampirinya. Tubuh Yixing terhempas ke dasar sofa ruang tamu nya. Menyadari kesalahan utamanya, alasan yang menjadikannya psikiater. Ketakutan yang terlalu membentengi dirinya sendiri.
Yixing menelungkupkan wajahnya ke dua tangannya seakan membuang raut kesedihannya. Ponselnya bergetar alarm dalam ponselnya mengingatkan janjinya pada hari ini untuk berjumpa dengan Junmyeon, lelaki yang tampaknya juga terbius dengan Yixing. Yixing mematikan alarm nya menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap menjumpai kliennya itu.
...
Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu hanya di perlukan waktu.. Sanggupkah kau menunggu wahai sang pencari jawaban?
Dalam diam menikmati tetasan demi tetesan wine ujung mata Yixing mengeluarkan butiran airmata. Yixing memejamkan matanya, membiarkan butiran air itu kemudian menetes di pipinya.
Sebuah usapan lembut di pipi Yixing membuatnya membuka kedua matanya perlahan. Pertama kalinya Yixing memandangi sosok di depannya dengan begitu lama, ada semacam aliran penyejuk yang ditawarkan dari sosok si pengusap airmata.
" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Yixing..."
Yixing masih memandangi pria tersebut, yang mungkin saja daritadi menunggu untuk melihat Yixing menangis ataupun baru saja tiba seperti beberapa adegan-adegan lawas di flem percintaan.
" Aku akan selalu mengusap air matamu..."
" Terkadang manusia selalu ingin mengusap air mata orang tanpa peduli mengapa air mata itu jatuh." Ucap Yixing
" Bagaimana jika aku berjanji untuk menghentikan airmatamu jatuh?."
" Junmyeon.. Aku tidak pantas untukmu, kau lihat siapa aku? Dibalik baju kerjaku aku hanya orang yang mendesah karena bayaran."
" Aku tidak butuh kau sempurna tanpa celah Yixing, aku ingin kamu selalu ada untukku dan karena memang kamu menginginkannya. Itu saja."
" Bagaimana jika aku tidak menginginkan untuk stay?."
" Aku yang akan mengikutimu."
" Berhentilah berusaha Junmyeon.."
" Dan berhentilah untuk pesimis akan dirimu Yixing. Berhenti merasa kau tidak layak untuk di cintai orang."
Tidak ada jawaban dari Yixing, lidahnya terlalu kaku untuk membalas perkataan demi perkataan lelaki di hadapannya itu.
" Izinkan aku mendekatimu, dengan cara apapun."
Yixing tersenyum kecil tidak ada yang terbaca di matanya selain anggukan yang membuat Junmyeon menghelakan napas leganya.
Junmyeon menggenggam tangan Yixing mengecup tangannya dan membawa Yixing dalam pelukan hangatnya.
" Gomawo.. aku akan buktikan semua janjiku Yixing..."
.
.
.
Di ruangan besar dan dingin Kyungsoo mengeratkan tangannya di dadanya. Dengan ekspresi menunggu dan penasaran. Pagi-pagi sekali Kyungsoo sudah mendapatkan pesan dari bawahannya untuk datang menjumpai Junmyeon. Relasi bisnis yang kini menjadi dekat karena kemiripan status mereka dalam percintaan.
" Jadi?." Tanya Kyungsoo tidak sabar
" Menurutmu?." Tanya balik Junmyeon
" Oh ayolah Junmyeon. Kau tahu kan aku juga punya andil diperjuanganmu itu."
" Kau benar. Jika ini perang maka kau adalah panglimanya."
" Mungkin penasehat perang lebih cocok untukku." Ucap Kyungsoo
" Terserah, ini minuman mu." Ucap Junmyeon menyerahkan segelas minuman
" Alkohol? Sepagi ini? Tidak terimakasih."
" Jangan menolakku, ini adalah minuman keberhasilan." Ucap Junmyeon kembali menyodorkan gelas.
" Jadi ini berarti kau dengannya sudah resmi?." Tanya Kyungsoo mengambil gelasnya
" Belum, tapi paling tidak dia sudah memberikan aku kesempatan untuk mendekatinya." Ucap Junmyeon
" Hmm.. Kemajuan.."
Junmyeon mengangguk menyetujui perkataan Kyungsoo.
" Lalu kau dengan Jongin?."
" Oh aku tidak tahu harus berterimakasih ataupun marah denganmu." Ucap Kyungsoo
" Haha kenapa?."
" Sejak idemu mengajaknya minum, dia sering memintaku menemaninya untuk sekedar pergi ke club malam."
" Bagus bukan? Perlu kusebut kemajuan? Dari meja kerja ke meja bar."
" Ya kalau itu cuma berdua." Ucap Kyungsoo meneguk minumannya
" Maksudmu?."
" Kadang bersama relasi bisnisnya ataupun kadang dengan wanita-wanita sosialita yang entah darimana dia kenal."
" Jongin itu tipe orang yang gampang bergaul tapi susah untuk dekat dan percaya orang." Ucap Junmyeon
" Lalu?."
" Biarkan dia mengajak semua orang, asal dia tetap mempercayaimu dan dekat denganmu."
" Sok tahu.."
" Kau lupa, kau mengatakan aku dengan Jongin sama?. Sebenarnya kami berbeda ibarat warna dia hitam aku putih."
" Rasis." Desis Kyungsoo
" Bukan-bukan... Maksudku dia adalah versi ku lebih gelap. Oh jangan melotot Kyungsoo bukan kulitnya yang ku maksud. Sifatnya."
" Lalu kau versi baiknya begitu? Kurasa dia lebih hangat daripadamu."
" Ya tapi dia lebih susah untuk dekat sama orang. Mau bukti? Sudah berapa lama kau kenal dia?."
" Lebih dari tiga tahun."
" Dan baru kali ini kau di ajak keluar dengannya bukan? Kau kenal denganku sudah berapa lama? Baru kan? Tapi sudah berapa banyak rahasia ku kau pegang."
" Hmm..."
" Ambil kepercayaan dan rasa nyamannya, ku yakin kau akan menjadi pemenangnya Kyung."
" Wah seperti ahli saja, sudah banyak kau ketularan si kejora."
" Haha bagaimana yang ku minta?."
" Tentang keluarganya?."
" Seperti yang kau perkirakan. Memang dia memiliki kerumitan dalam keluarganya."
" Adiknya?."
" Musuh besarnya. Adiknya sangat membencinya."
" Hmm meminum racun tapi berharap orang lain yang mati.." Gumam Junmyeon
" Tapi ada yang lebih parah lagi." Ucap Kyungsoo dengan mata berbinar
" Apa?."
" Ibu nya Junmyeon ibunya... Oh apa yang harus aku sebut."
" Maksudmu?."
" Mulai dari awal akar keluarganya saja bagaimana?." Tawar Kyungsoo
" Boleh..."
" Kau pasti tidak menyangka kalau si manusia perfect itu ternyata tidak memiliki akar.."
" Maksudmu? Dia anak angkat?."
" Masih lumayan kalau itu.."
" Jadi?."
" Yixing dan adiknya dilahirkan dari dua ibu yang berbeda tetapi satu ayah."
" Istri muda dan istri tua? Aku tidak terkejut dengan gaya pembisnis seperti itu."
" Haha Junmyeon!." Kyungsoo tertawa dengan histeris
" Kyungsoo?!."
" Yixing itu anak gendik! Selir! Kalau istri-istri sah biasa menyebut dengan kata pelacur." Ucap Kyungsoo
" Mwo?! Bagaimana bisa?."
" Aku juga kurang pasti, keluarga Zhang sangat menjaga rahasia pribadi mereka. Ini bukan rahasia umum Junmyeon. Aku tahu ini dari ayah Jongin. Bahkan aku yakin Jongin pun tidak mengetahuinya."
" Karena itu adiknya sangat membencinya?." Tanya Junmyeon
" Tidak, bahkan adiknya juga tidak tahu. Kau tahu jika dia tahu? Mungkin bukan benci lagi melainkan kini dia punya alasan untuk membunuh Yixing."
" Separah itukah?. Lalu apa masa kecilnya dia disiksa oleh si istri sah?."
Kyungsoo menggeleng lagi dengan bahagia.
" Junmyeon, cerita Yixing lebih complicated dari Cinderlela." Ucap Kyungsoo
" Ceritakan.."
" Bagaimana perasaanmu jika kau tahu kau adalah alasan dari orang yang paling kau sayangi hancur?."
" Tersiksa, sedih."
" Begitulah Yixing. Dia hidup dengan baik Junmyeon, jauh dari dari siapa dia dilahirkan. Yixing adalah anak yang dinantikan oleh keluarga Zhang, tapi dia berasal dari rahim yang salah."
Junmyeon memusatkan dirinya pada cerita Kyungsoo, Karena dia tahu inilah alasan-alasan yang dapat diterimanya mengapa Yixing sangat menutup dirinya.
" Keluarga Zhang awalnya tidak mempunyai keturunan. Sehingga ayahnya menjadi sering bermain wanita dan menjalin hubungan di belakang istri sah nya. Akhirnya si gendik hamil. Begitu dia dilahirkan, Yixing diambil oleh keluarga sah Zhang. Bahkan dia hanya mengenal satu ibu yaitu istri sah ayahnya. Istri sah merawatnya dengan penuh kasih sayang dan tanpa dendam."
" Tragis.."
" Benar... Tiga tahun kemudian istri sah mendapatkan buah dari kesabarannya, dia mengandung, satu-satunya pewaris sah Zhang. Tapi cintanya tidak pernah berubah terhadap Yixing. Dia tetap menyayangi dan mencintai Yixing seperti anak kandungnya sendiri. Hingga..."
" Yixing mengetahui siapa dia sesungguhnya?."
" Ya Junmyeon..."
" Aku tidak tahu lagi tentang keluarga Zhang, terakhir yang kutahu ibunya pergi meninggalkan kedua anak yang disayanginya tak lama setelah suaminya meninggal."
" Pergi?."
Kyungsoo mengangguk menjawab pertanyaan Junmyeon.
" Dia pergi sebelum Yixing sempat membalas seluruh penderitaannya dan kasih sayangnya terhadap anak selingkuhan suaminya."
" Ne Junmyeon, kurasa itulah yang menjadi beban utama Yixing. Kenapa dia menutup dirinya. Karena dia memiliki banyak hutang perasaan pada ibu tirinya."
Junmyeon terdiam, membiarkan Kyungsoo menuangkan minumannya lagi ke gelasnya sendiri dan meminumnya. Beban yang ditanggung Yixing lebih dari kata trauma yang awalnya Junmyeon sangka sebagai alasan Yixing menutup dirinya. Beban perasaan, segala macam hutang-hutang yang ia yakinin tidak akan pernah terbalas. Entah dengan cara apa Junmyeon harus membantu Yixing.
.
.
.
Yixing tersenyum melihat pria tampan yang menunggunya di sebelah mobilnya, Junmyeon memang sudah memberitahukan bahwa dia akan menjemputnya untuk makan siang. Tapi Yixing tidak menyangka bahwa pria tersebut sudah berada di depan rumah sakitnya.
" Lama menunggu?."
" Tidak ada hitungan waktu dalam menunggumu Yixing. Ayo." Ucap Junmyeon membawa Yixing menuju mobilnya.
Yixing menurut untuk masuk ke dalam sisi mobil yang sudah dibukakan pintu oleh Junmyeon.
" Kau mau makan apa?." Tanya Junmyeon
" Aku biasa makan berat untuk siang hari." Jawab Yixing
" Baiklah.. Hmm.." Junmyeon diam di depan stir mobilnya
" Bagaimana jika aku saja yang mengemudi? Aku tahu jalan dan tempat."
" Tidak-tidak, cukup beritahu saja arahnya." Ucap Junmyeon
" Oh tidak perlu sungkan Junmyeon, kau tidak perlu memanjakanku seperti itu. Kita berdua sama-sama laki-laki."
" Aku tidak memanjakanmu, aku hanya membuat diriku dibutuhkan untukmu. Baiklah ayo kita pergi. Ambil arah mana?."
Yixing tersenyum memandang pria di sebelahnya yang berupaya terlalu keras untuk mengambil hatinya.
" Kita ke Okamachi saja, disana banyak pilihan."
" Boleh kalau begitu…"
Junmyeon menekan kamera GPS nya di depan memasukkan nama daerah yang akan mereka datangi kemudian mengemudikan mobilnya dengan perlahan.
" Bagaimana pekerjaanmu?." Tanya Junmyeon
" Keduanya lancar." Jawab Yixing santai
Tangan Junmyeon sedikit mengepal mengingat pertanyaannya sesungguhnya bukanlah ditujukan untuk pekerjaan sampingan Yixing. Tetapi sepertinya Yixing ingin mengingatkan Junmyeon bahwa dia bukanlah hanya seorang yang memiliki pekerjaan terhormat, seorang dokter.
" Boleh kapan-kapan aku main kerumahmu?." Tanya Junmyeon lagi
" Boleh saja." Jawab Yixing
" Baiklah… awas.."
Junmyeon menahan dada Yixing ketika ia akan membelokkan mobilnya dengan terburu-buru.
" Aku memakai seatbelt Junmyeon…" Ucap Yixing
" Oh maaf, aku hanya tidak mau kau kaget."
Yixing tersenyum tanpa memandang Junmyeon, tatapan nya terus kedepan.
" Perhatikan saja GPS nya kita bisa berbicara nanti ketika sampai." Ucap Yixing
" Tidak aku bisa berkonsentrasi."
" Aku tahu, tapi aku takut nanti kita tidak punya banyak bahan pembicaraan." Ucap Yixing dingin
Junmyeon akhirnya memilih diam, ia tahu walau Yixing telah mengizinkannya untuk mendekati dirinya tetapi Yixing tetap tidak membuka hatinya untuk Junmyeon.
" Terimakasih mengajakku makan siang.." Ucap Yixing memecah kesunyian
" Kalau kau suka setiap saat jam makan aku akan menjemputmu." Ucap Junmyeon
Yixing membalas dengan senyuman, tidak ada jawaban darinya apakah ia menyetujui rencana Junmyeon ataupun menolaknya. Junmyeon menganggap itu sebagai sebuah kemajuan atas upayanya. Paling tidak dia bisa pura-pura merasa Yixing menyukai jemputan makan siangnya.
.
.
.
Suara tawa yang besar memenuhi ruangan yang lumayan ramai dengan pengunjung, Kyungsoo mengarahkan pandanganya ke kiri dan ke kanan. Mencari seseorang yang memberikannya pesan untuk menjumpainya di tempat itu.
" Kyungsoo! Sini!."
" Jongin…"
Kyungsoo menghampiri lelaki berkulit tan yang tampak tertawa terbahak-bahak diantara kawan-kawan satu club mobilnya. Kyungsoo tidak pernah tahu Jongin masuk dalam club mobil, pastinya di jadwal kerja yang padat Jongin hanya terdaftar nama.
" Kyungsoo sini.. Kenalkan ini…."
" Taemin…"
" Dan ini…"
" Mingyu… Jongin hyung tidak dapat mengingat nama kami karena ini pertemuan pertama kami."
" Ah.. Maaf aku gampang lupa.." Elak Jongin
Kyungsoo tersenyum membalas uluran tangan kedua rekan baru Jongin. Benar kata Junmyeon, Jongin memang lebih hangat daripada dirinya tapi tetap tidak ada seorangpun yang dekat dengannya.
" Kalian cuma bertiga?." Tanya Kyungsoo
" Hanya kami yang memiliki waktu luang hari ini. Itupun kami harus mencocokkan jadwal dengan super sibuk Jongin." Ucap Taemin
" Haha akan mulai kupertimbangkan untuk lebih banyak menikmati hidup mulai sekarang." Ucap Jongin
" Jongin memang sibuk, kurasa itu karena sikap tanggungjawab nya terhadap perusahaannya." Bela Kyungsoo
" Wah.. Rasanya Kyungsoo ini sangat mengenalmu Jongin hyung.."
" Tentu saja, aku sudah cukup lama mengenalnya." Ucap Kyungsoo
Jongin tersenyum melihat Kyungsoo, dia memang sering menerima pujian. Tapi mengapa pujian dari lelaki kecil di depannya ini lebih terasa sederhana dan jujur. Jongin mendekatkan duduk nya dengan Kyungsoo. Ia mulai merasa nyaman untuk berdekatan dengan namja bermata bulat itu.
" Kau dari kantor Kyung?." Tanya Jongin
" Tidak, tadi aku baru saja mengunjungi perusahaan Junmyeon." Jawab Kyungsoo
" Ada masalah? Atau kemajuan?." Tanya Jongin lagi
" Tidak ada masalah apapun. Kalaupun ada pasti aku akan membereskannya sebelum masalah menjadi besar." Ucap Kyungsoo menenangkan Jongin
" Oh syukurlah.. Kami beruntung memilikimu di sisi kami."
" Aku juga beruntung bisa bekerja di perusahaan ini."
" Wah wah. Ini jam makan siang, bisakah kita tidak membicarakan tentang pekerjaan?." Goda Taemin
" Baik-baik, Kyung pesan makananmu. Apakah kau masih ada pekerjaan? Aku ingin memintamu menemaniku mengunjungi bangunan kita yang baru."
" Baik, aku akan menemanimu."
Jongin tersenyum, jika saja dia tahu dari dulu bahwa Kyungsoo seorang yang asik. Mungkin saja dia tidak terlalu stress memikirkan pekerjaan sendiri. Ada kalanya Jongin yang selalu bercanda juga sibuk memikirkan pekerjaan demi pekerjaan yang dimilikinya. Mungkin suatu hari nanti Jongin harus berterimakasih dengan Junmyeon. Karenanya lah dia dekat dengan Kyungsoo, berawal dari permintaan aneh Jongdae untuk Junmyeon.
Jongin terdiam, matanya masih memandang Kyungsoo tapi pikirannya kini tidak berada memikirkan kehangatan pertemanan yang diberikan Kyungsoo. Pikirannya seketika menemukan sesuatu. Benar… dia memang pernah mendengar nama Yixing. Bukan salah satu dokter yang dimiliki perusahaannya melainkan pertanyaan Junmyeon di telepon pagi-pagi buta.
Yixing?...
Si USD 5.000
Apa mungkin satu orang yang sama, antara Yixing si pelacur mahal dan dokter sekaligus pewaris perusahaannya juga. Jongin sangat mengingat dengan nada tergesah-gesah Junmyeon menanyakan di telepon apakah perusahaannya mengeluarkan jasa pelacur bertarif dollar bernama Yixing.
" Kyung…"
" Eh ne?."
" Siapa Yixing itu?."
" Ma-Maksudmu? Dia pewaris Zhang. Kau mengenalnya." Jawab Kyungsoo dengan mata bulatnya yang kini sedikit bergerak-gerak.
" Apa dia satu orang yang sama dengan pelacur bertarif dollar itu?."
Mata Kyungsoo kini semakin melotot besar, tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana Jongin bisa berpikiran hingga kesana. Apakah ia harus menipu Jongin dan kehilangan kepercayaan untuk dirinya sendiri ataupun tetap menjaga rahasia Yixing. Tapi Kyungsoo sendiri juga tidak mengetahui pasti. Apakah pekerjaan sampingan Yixing merupakan sebuah rahasia ataupun tidak. Ataupun apa resikonya jika dia memberitahukan Jongin tentang siapa Yixing sesungguhnya.
" D-Dia.."
Tbc
*JANGAN LUPA REVIEW KAKA^^*
Hahah lama update moga ga ditimpuk readers hihihi
Buat beberapa pertanyaan sudah ada jawaban nya
Kira-kira kalau kamu di posisi Kyungie kamu bakal kasih tahu apa ga yah sama Jongin? Kasihan Kyungie dilema dia antara mau jaga kepercayaan Jongin ataupun berusaha menutupi pekerjaan sampingan Yixing hiks hiks T.T
Deg degan juga nulis konfliknya ya ampuun aku nulis nightmare aku sendiri hiks hiks moga ga lah ya huaa jangaaan (abaikan)
XStarB104 awww makasih banyak hiks jadi terharu ^^
Angsongsaenim hihi maaf ya aku ga tahu kamu cowok hehehe.. Iya ga jadi yah.. ditunda dulu naena nya hihihi
KittiToKitti jangan binguung hiks kita pelan pelan yah buka misteri icing satu persatu ^^
Nowords hihihi maafkan dakuuu tapi memang begini jalannya cieee ayo kita lanjut lagi di chap depan
MinnieZhang hmm bully icing.. mau di jejelin saos KFC kalik yaa.. Gift from heaven jangan di bully ah hihihi..
Guest09 maaak jangan ngebut ngebut banyak polisi tidur hihihi^^
Heeriztator makasiiiih udah suka FF ini hiks hiks aku terharu^^ baca terus yah
Minge-ni huaa kamu kok pande banget bikin orang senang sih? Hihihi makasih ya moga tetap suka FF ini muaaach
Anson icing galau hihihi
Hyung97 mau icing jalan jalan pake kuda poni hihihi
Hkysg hiks hiks icing misterius kayak limbad kaka hihihihi
Dhelsyi edafos hihi amiiin masing-masing masih PDKT dulu ya hihihi
TaoTaoZiPanda hihi tau dong kan aku kepo jadi semua aku follow hihihi^^ semangat juga yah buat kamu
SLS jadi inget lagu Ello pergi untuk kembali hihihi lawas banget lagu aku hihihi^^
