"Bikou, kita pergi." ucap Vali tiba-tiba dengan suara beratnya.

Walau heran, tetap Youkai kera itu menuruti perintah Vali dengan menciptakan lingkaran sihir di bawah kaki Vali.

Naruto yang kini di dalam kerangka Susano'o nya hanya menyeringai kejam.

Mata Mangekyou Sharingan nya menyala terang penuh dendam, bersamaan tiga kotak kubus matanya berputar kencang membentuk Enternal Mangekyou Sharingan. Tiba-tiba, entah kenapa temperatur di sekitar Naruto menurun. Chakra hitam bercampur aura hijau pudar perlahan demi perlahan keluar menyelimuti setiap inci tubuh didikan Uchiha Madara itu.

"Khu. . . khukhu . . khukhu HAHAHAHAHAHAHAH..."kekehan mengerikan itu berubah menjadi tawa Iblis sesunggahnya di gelapnya malam sebagai sebuah gembaran sensai yang tidak bisa di gambar oleh kata-kata.

BRRUUGG..

Sayap hitam khas Iblis tba-tiba keluar dari punggung Naruto. Membentang lebar, seolah menantang langit sembari Naruto mengadah kepalanya ke atas, memperlihatkan wajah gelapnya yang kini tengah tersenyum maniak, dengan mulutnya berguman sebuah nama.

"Azazel. . . "

Tepat setelah berguman menyebut salah satu nama petinggi Grigroy, Naruto melesat bagai komet menghatam bumi ke arah barat.

©ARIES.H©

Uchiha Naruto

Disclaimer :

Masashi Kishimoto ~ [Naruto]

Ichiei Ishibumi ~ [High School DxD]

By : ARIES.H

Warning : Enternal Mangekyou Sharingan-Naru!, Beberapa Typo!, OOC, [Geje!], Power!Full-Naru!, [mungkin alur berantakan], Devil-Naru!.

©ARIES.H©

Di sisi lain Sona hanya bisa mematung shock!, melihat sosok sesungguhnya Peerage barunya itu. Keringat dingin terus keluar dari pori-pori kulitnya, sensor sensitifnya seakan di paksa merasakan nafsu membunuh yang di keluarkan oleh Peerage barunya itu.

Siapa sebenarnya Peerage barunya itu, deretan kata itu lah tiba-tiba muncul di kepala adik Maou Levithan itu saat menyaksikan sosok Naruto yang tengah tertawa gila, seolah menggambarkan sensasi ke-'tidak tahannan'- ingin membalas dendam atas kematian gadis yang di cintainya.

Matanya yang masih dilanda shock, hanya memandang shock kepergian Peerage barunya itu dengan iris bergetar. Mulutnya seolah terkunci, tidak dapat harus mengeluarkan kata apa untuk menggambarkan situasi saat ini.

"Ahhh.. Uggh~"

"Hiksah. . braahnti. Hiks!"

Genggaman pada gagang pancingnya menguat. Ekspresi wajahnya menggelap akibat rambut bagian depan yang berwarna pirang menutupi sebagian wajahnya. Saat potongan-potongan ingatan masa lalu dengan teman seperjuannya, kembali menghantuinya.

"Arrggh. . N-ruto-kunHiks!"

"Ahh.. Ahhh.. "

KRAKK!

Gagang pancing yang selalu menemaninya itu hancur menjadi dua bagian. Sebagai pelanpiasan perasaan nya yang sedang mengguncah di hati Gubernur Malaikat Jatuh itu.

"Cih!" Gubernur Malaikat Jatuh itu menatap datar air sungai yang mengalir lambat. Akhir-akhir ini ingatan peristiwa tentang gadis yang dia perkosa dengan Kokabiel semakin parah seperti kaset rusak di kepalanya. Memang dia telah sadar atas kelakuan bejatnya dengan Kokabiel setelah Great War berakhir, berterimakasihlah kepada Barakiel yang telah membantunya mengingat 'itu' semua. Setelah berbica empat mata dengannya seminggu lalu dari pertemuan pertamannya. Dan dia juga masih ingat perkataan Barakiel sebelum meninggalkan ruangannya.

"Hahh.. Aku tidak tau harus bilang apa setelah mengetahui apa yang terjadi kepadamu, Azazel. ku pikir walau kau mempunyai sifat mesum kau tidak akan melakukan kelakukan 'itu'. Hahh.. Sudahlah. Mengingat kau selalu di hantui tentang 'itu'. Jangan kaget suatu saat akan ada yang datang kepadamu untuk membalas dendam."

Ya saat itu Barakiel sempat menggantung ucapannya sebelum melanjutkannya dan melenggang pergi dari ruangannya.

"Apa lagi dari informasi yang aku dapat, setelah pertemuan pertama kita. Seorang hati Uchiha yang sudah terlanjur masuk dalam kebencian sangat lah berbahaya. Mungkin karena itu pemimpin Desa di situ membantai seluruh anggota Klan Uchiha."

Pandora Gap, adalah sebuah mesin pencari pancaran energi ruang dimensi yang di temukan oleh Azazel dengan beberapa ilmuan-ilmuan Grigroy. Dan karena itu juga Barakiel tahu selak beluk Klan Uchiha yang berada di Desa Konoha. Dan sekaligus juga tanpa di sadari oleh siapa pun akibat mesin pencari Dimensi itu sudah mengubah takdir Alam Semesta.

Berdiri dari duduknya Azazel menatap ke atas langit yang di penuhi bintang-bintang. "Hahh... Kalau memang benar seperti yang kau katakan, Barakiel. Aku akan menanggungnya datang.."ucapnya sembari menutup kedua matanya, mencoba merasakan kedamaian yang di timbulkan oleh udara malam yang membelai lembut kulit wajahnya dan menyejukan seluruh pori-pori kulitnya.

Hening, dan tentram Azazel rasakan bahkan suara serangga-serangga malam telah memenuhi kepalanya. Mungkin karena terhanyut dalam kedamaian semata itu, Gubernur Malaikat Jatuh itu tidak menyadarai sesuatu bergerak sangat cepat menuju ke arahnya-

Shuuut!

BUGH! . Krak!

"Ugh!"

Sebuah kepalan tangan astral bening berwarna hitam berpendar hijau pudar itu tiba-tiba menghantam keras tubuh bagian depan Gubernur Malaikat Jatuh hingga pondasi semen sungai di belakangnya hancur berkeping-keping akibat bertemu dengan punggungnya.

BBRAK!

Hilang sudah ketentraman yang Azazel rasakan beberapa detik lalu, di gantikan rasa sakit luar biasa yang mendera tubuh bagian depannya.

'Kuat sekali!' ucapa Azazel dalam hati dengan mata meringis, menahan rasa sakit di bagian tubuh depannya. Bahkan dia merasakan ada salah satu tulangnya patah akibat beban yang menghantamnya ini.

Hal itu membuat kepulan debu tebal seketika menyebar di sekitar tempat Azazel berdiri tadi di pinggir Sungai. Terlihat juga beberapa bongkahan pondasi berukuran kecil pada berjatuhan ke dalam air sungai.

©ARIES.H©

Di atap gedung Sona tubuhnya masih mematung Shock.

Dia masih ingat aura membunuh sangat pekat yang dikeluarkan Peerage barunya itu. Dan raut beringas, seolah mendapatkan sesuatu kesenangan yang membuat Peerage barunya itu tidak sabaran sehingga menunjukan raut beringas seperti tadi. Padahal selama ini yang dia tau pemuda berambut jabrik hitam itu selalu menunjukan raut datar temboknya.

BUUM!

Sebuah suara detuman keras menyadarkannya dari shock berlebihan. Berbalik, mata di balik kaca matanya membulat melihat kepulan debu membumbung tinggi.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi... " mulut kecilnya bersuara pelan, antara masih shock dan bingung. Apa lagi Peerage barunya tadi entah pergi kemana dalam ke adaan seperti tadi. Atau..

Deg!

Matanya sekali lagi melebar, menyadari dan merasakan sesuatu yang besar akan terjadi.

'Munkinkah?'

Dan tanpa membuang waktu, Sona menggerakan kedua kakinya yang terasa lemas akibat nafsu membunuh dari Peerage barunya. Setelah susah payah berdiri akibat kedua kaki kecilnya sedikit lemas, adik Maou Levithan itu segera berlari dan melompati satu persatu atap gedung di depannya. Tujuannya adalah..

Matanya bergetar, Shock!

Berdiri di atas atap gedung tak jauh dari sungai. Sona terkejut, dugaannya tepat. Kalau suara detuman tadi dia dengar pasti ada kaitannya dengan Peerage barunya itu yang tadi pergi dengan tiba-tiba. Iris violet di balik kaca matanya juga melihat kehancuran total pada pinggiran sungai dekat jembatan itu.

Bahkan dia juga melihat sebuah kawah di kelilingi debu-debu yang perlahan di penuhi air sungai. Tapi bukan itu yang membuat dirinya shock! Di bawah sana dia melihat Peerage barunya itu tengah berdiri dengan kekehan-kekehan mengerikan yang selalu di keluarkan Peerage barunya itu.

"KHAKHA. . KHA. . .KHAKHA. .KHA. . . KHAHAHAHAHAH"

Matanya semakin tajam memandang sosok Iblis di depannya, saat kekehan dari Naruto semakin gila.

'Iblis liar?' terka Azazel yang kini sudah berdiri dengan pakaian compang-camping dan sedikit darah segar mengalir di pelipis kiri wajahnya dan mulutnya. Walau rasa sakit dan sesak masih terasa oleh dirinya. Beruntung dia Malaikat Jatuh, kalau saja Manusia yang tadi berada di posisinya, sudah pasti tubuh Manusia itu hancur berkeping-keping.

"Dari aura mu kau adalah Iblis. Apa kau Iblis liar. Dan kalau benar, kau sudah salah menyerang ku. Iblis-kun!" Azazel bersuara, mencoba bersikap tenang walau di sekitarnya sudah di banjiri nafsu membunuh dari sosok Iblis di depannya.

Mendengar itu, Naruto menghentikan tawa gilanya. Bersamaan dengan itu dia menurunkan Killing Insent nya, membuat temperatur suhu di sekitar menjadi normal kembali.

'Kenapa dia?' batin Azazel semakin waspada kepada sosok Iblis di depannya, karena menghentikan tawa gila dan nafsu membunuhnya. Bagaimana pun dia sadar pertama kali sosok Iblis di depannya ini tertawa gila. Dia sadar bahwa tawa gila itu seolah menunjukan kalau dia(Naruto) sudah menemukan sesuatu yang dia cari-cari. Dan itu menunjuk kepada dirinya.

"Iblis liar? Bukan, aku bukan Iblis liar. Tapi aku Iblis dari keluarga Sitri." ucap Naruto dengan menutup kedua matanya, merasakan darah Uchiha dalam dirinya bergejolak seolah ingin segera mencabik-cabik sosok di depannya. Dan sebagai gantinya dia hanya tersenyum tertahan.

Mendengar pengakuan itu membuat mata Azazel semakin minyipit tajam. "Sitri?"

"Yah.. Tapi lupakan saja tentang itu." ujar Naruto masih menutup mata dengan senyum tertahan seolah menahan sesuatu. Dan hal itu membuat Azazel merasa ada yang janggal.

"Lupakan? Apa kau tidak sadar menyerang ku sama saja kau sudah menabuh genderang perang dengan Fraksi Malaikat Jatuh." ucap Azazel. Tapi hal yang tidak di duga olehnya sosok Iblis yang mengaku dari Keluarga Sitri itu hanya terkekeh pelan, namun seiring waktu kekehan itu semakin besar.

'Apa dia gila?' batin Gubernur Malaikat Jatuh itu.

"Khekhekhekhe.. Mengingat kata mu ohh aku tanya, apa kau ingat gadis berpakaian Maid?"

Deg!

Mendengar perkataan itu mata Azazel membulat sempurna, kaget.

"M-maid?"

'T-tidak mungkin!'

"Melihat reaksi mu, sepertinya kau ingat?" ucap Naruto tiba-tiba menjadi dingin dengan menatap tajam Azazel dengan Sharingan nya aktif.

"K-kau!"

"Khukhukhukhu... Yah.. Ini Aku."

Deg Deg!

BLAR!

Dengan itu Chakra dengan takaran gila meledak dari tubuh Naruto. Rumput, berbagai tumbuhan yang hidup di sekitar mereka berdua seketika menjadi layu. Akibat radiasi gelapnya dari Chakra Naruto. Bahkan debu-debu yang tadinya mengelilingi mereka berdua seketika menyingkir dan akhirnya menghilang.

"YA! INI AKU!.. APA KAU INGAT! HAA! HAHAHAHAHAHAHAH. . . . Haahhh... Sudahlah. Yang pasti." Naruto menggantung perkataannya dengan mengubah rautnya menjadi beringas.

SETT. . .

"Aku akan membunuhmu!"

Deg!

Dalam keterkejutannya Azazel merasakan keberadaan sosok di belakangnya.

BRKK!

BUGH!

BUGH!

BUM!

"Ohck!"

Gubernur Malaikat Jatuh itu hanya diam seolah pasrah saat pukulan, jejekan, sikutan dan hantaman lengan kanan Naruto yang kini dalam mode gilanya mengenai bagian-bagian titik vitalnya.

Di sisi lain, di atas atap gedung tak jauh dari sungai, Sona hanya bisa menutup mulutnya, shock! melihat Gubernur Malikat Jatuh itu terpental menabrak tembok pabrik di belakangnya hingga hancur, akibat hantaman cepat lengan Naruto yang mengenai dadanya. Bahkan dia juga melihat kejutan kecil udara berbentuk lingkaran saat lengan kanan Peerage barunya itu menghantam telak dada bidang Gubernur Malikat Jatuh. Seolah menunjukan hantaman cepat itu bertenaga ratusan kali lipat kekuatan banteng.

Kembali ke Naruto.

Berjalan pelan ke arah pabrik dimana targetnya berada, nafsu membunuh masih senantiasa mengelilingi tubuhnya setiap langkah kaki berlapis sepatu sport hitamnya mendekati pabrik di depannya.

Greb!

"Ugh!"

Dengan kuat tangan kanan Naruto mencekik leher Azazel setelah tiba di dalam pabrik dan memaksa tubuh berantakan Azazel untuk berdiri menghadapnya. Ke adaan yang gelap di dalam pabrik, tak mempengaruhi mata terkutuk itu memandang tajam mata Gubernur Malaikat Jatuh itu.

"Ha! Apa kau ingat! Ini aku!" ucap keras Naruto kepada Azazel yang kini dalam ke adaan berantakan. Bahkan darah segar terus keluar dari mulutnya. Namun Naruto menghiraukan itu.

Tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Malaikat Jatuh yang mengaku Gubernur ini, Naruto melepaskan leher Azazel sehingga tubuh Gubernur Malaikat Jatuh itu sempoyongan mencoba tetap berdiri. Namun baru saja akan berdiri tegak, tubuh berantakan Azazel kembali terlempar ke belakang hingga menabrak tembok pabrik ini akibat jejekan kaki kiri Naruto tepat di uluh hatinya.

BRAK!

"Apa hanya ini kemampuanmu HAA! Khkhukhu.. Ayo! Tunjukan kemampuanmu seperti WAKTU ITU! BRENGSEK!" Naruto kembali menjejek dada Azazel yang terlihat hanya diam, bahkan tak ada tanda-tanda sedikitpun kalau si Gubernur Malaikat Jatuh itu akan membela diri. Menghiraukan tembok pabrik yang jebol akibat jejekannya, Naruto berjalan ke arah tubuh Azazel yang terkapar di tanah dengan bongkahan-bongkahan kecil tembok pabrik di sekitarnya.

Greb!

Mencengkram kuat leher Azazel untuk berdiri paksa saat tiba di dekat Azazel,

"Kalau begitu, baiklah." setelah mengucapkan itu Naruto mengangkat tinggi-tinggi tubuh Azazel menghadap lubang tembok akibat korban jejekannya, kemudian tiba-tiba Naruto melepaskan cekikannya. Membuat tubuh berantakan Azazel melayang jatuh, namun saat akan sedikit lagi menyentuh tanah Naruto terlebih dahulu menjejek wajah Gubernur Malaikat Jatuh itu.

Seolah menunjukan betapa kuatnya jejekan kaki Kanan Naruto, tembok pabrik di depannya kembali jebol ke dalam karena tabrakan keras dari tubuh bagian belakang Gubernur Malaikat Jatuh itu.

"Aku segera membunuhmu. Brengsek!" guman Naruto dengan nada dingin setelah tiba di dekat tubuh Azaz, Sharingan nya yang kini sudah berevolusi ke tahap tertinggi masih senantiasa menatap dingin tubuh Gubernur Malaikat Jatuh di bawah kaki kanannya yang terangkat. Kemudian tanpa belas kasihan dengan Chakra penuh terkonsentrasi pada kaki kanannya Naruto menjejek perut, dada Azazel berkali-kali.

Bugh! . Bugh! . Bugh! . Bugh!

Seolah tidak ada belas kasihan Naruto terus menjejek dan menendang tubuh Azazel. Bahkan saat tubuh Azazel menghantam tembok dekat pintu pabrik, Naruto dengan cepat menghilang meninggalkan retakan laba-laba tempat pijakannya dan kembali muncul di hadapan Azazel dan kembali menjejek kuat dada Azazel hingga tembok pondasi pabrik itu jebol ke luar. Di sisi lain darah segar terus keluar dari mulut Azazel setiap kali kaki berlapis sepatu sport hitam itu menjejeknya. Dan juga rasa sakit tiada tara terus di rasakannya.

Bruk!

Tubuh Azazel ambruk di atas tanah di tumbuhi alang-alang liar.

SLEB!

"Ohock! Ghh!"

Rintih Azazel dengan mata melotot. Saat sebuah pedang besar astral muncul dari dalam tanah berwarna hitam beraura hijau menusuknya hingga tembus.

'Ugh!. Kau benar Barakiel.' ucap Azazel dalam hati menatap sayu ke arah langit dimana ribuan bintang berkelap kelip. Menghiraukan ke adaannya yang sangat memperihatinkan. Dimana dada bidangnya yang penuh dengan bulu Laki-Lakiaannya kini sudah hancur tak terbentuk bahkan tertusuk, seperti terkoyak, memperlihatkan daging segar berwarna merah gelap yang terlihat lembek. Dan sekali lagi, kalau saja Manusia di posisi Gubernur Malaikat Jatuh itu, sudah di pastikan Manusia itu akan tewas dari tadi.

'Ugh! Hahh! Sepertinya perjalananku sampai di sini, Ayah. Mati di tangan Iblis yang sepertinya kekasih dari gadis Manusia Dimensi lain yang ku perkosa, sepertinya pantas buatku. Hahahah.. Walau aku tidak tau, bagaimana bisa dia sampai di sini.' batinya miris. Kehidupan yang tadi terpancar dari mata Gubernur Malaikat Jatuh itu meredup.

'Hahah.. Aku tidak percaya masih sempatnya aku tertawa dalam hati saat kematianku di depan mata.'

SLEB!

Di sisi lain Sona masih membantu, shock! saat sebuah pedang besar astral berwarna sama kembali muncul dari dalam tanah dan menusuk bagian leher Malaikat Jatuh itu. Membuat kepala Gubernur Malaikat Jatuh itu terpisah dari tubuhnya.

'Dan Iblis-kun. Aku harap kalau ada kesempatan aku ingin minta maaf kepada mu. Walau aku sangsi tentang itu, kau mau memaafkan ku... '

Dan dengan itu tubuh nomor satu di Grigory tersebut terbakar bagai tisu terbakar. Hanya abu hitam lah yang tersisa dari Gubernur Malaikat Jatuh itu yang pada akhirnya menghilang terbawa angin.

Tidak jauh dari tempat tubuh Azazel berada tadi, Naruto yang berada di dalam kerangka Susano'o nya hanya menatap dingin tempat dimana tadi tubuh Gubernur Malaikat Jatuh berada, dengan Enternal Mangekyou Sharingan nya yang bersinar terang dalam gelapnya malam.

©ARIES.H©

Underworld

Deg!

"Partner!" Ddraig bersuara melewati telepati.

'Aku tau Ddraig, ini. Perasaan ini sama seperti waktu itu.' balas Issei melalui telepati yang seketika menghentikan langkahnya di lorong kediaman Gremory. 'Paman Azazel ku harap kau baik-baik saja.. ' Issei kembali melanjutkan langkahnya.

Issei nama Iblis reinkarnasi itu yang kini tengah berjalan di kediaman Keluarga Gremory menuju ke kamarnya. Tentang perasaan tadi yang tiba-tiba di rasakannya, juga dia pernah merasakan hal sama. Atau lebih tepatnya saat dia kecil, saat tengah bermain dengan kedua sahabatnya tiba-tiba dirinya merasakan perasaan tidak mengenakan namun karena waktu itu umurnya baru 12 tahun dia menghiraukan saja, tak peduli. Tapi saat dia kembali ke rumah, dia kaget menemukan rumahnya gelap dan menemukan kedua orang tuanya telah tewas.

Dan tak terasa dirinya sudah tiba di depan pintu kamar nya satu hari lalu, mengingat dia di sini hanya menginap di rumah kedua orang tua Boucho nya. Membuka pintu kamar inapnya, mungkin tidur kali ini akan nyenyak merasa badannya kaku setelah tadi bertarung dengan Peerage Raiser yang sangat berambisi ingin menikahi Boucho nya.

©ARIES.H©

Kedua mata violet itu perlahan terbuka, saat indra pendengarannya mendengar suara kicauan burung. Sedikit menyipit mencoba menyesuaikan penglihatannya. Bersamaan dengan itu Sona, gadis berambut sebatas bahu itu mencoba memposisikan tubuh mungilnya menjadi duduk di tepi Fuuton. Baju sekolah di pakainya terlihat kusut dan berantakan, mengingat tadi malam-

Deg!

Mata yang sayu khas bangun tidur itu menjadi tegang, mengingat kembali kejadian tadi malam. Dimana Peerage barunya membunuh Gubernur Malaikat Jatuh dengan tanpa perlawanan. Walau tanpa perlawanan dia merasa kalau saat itu dia harus tunduk di bawah pandangan dingin Peerage barunya yang bersinar merah darah dalam gelapnya malam itu.

Bangkit dari duduknya, Sona melangkah ke arah kamar mandi setelah memasang kaca matanya yang dia ambil di atas meja kecil dekat Fuuton nya. Saat ini yang harus dia lakukan adalah untuk tidak membocorkan kejadian malam tadi ke siapa pun. Walau begitu dia yakin, cepat atau lambat matinya Gubernur Malaikat Jatuh pasti akan ketahuan dan tersebar luas, bahkan lebih parahnya akan terjadi perang. Dan saat itu dia tidak tau harus melakukan apa. Yang hanya bisa dia lakukan sekarang adalah mengetahui lebih dalam tentang Peerage barunya itu. Mengingat seminggu ini setelah di reinkarnasikannya Peerage barunya itu dia tidak mengetahui secuilpun tentang kehidupan Peerage barunya itu yang selalu menjungjung tinggi Klan nya.

©ARIES.H©

Melangkah pelan di jalan terotoal dengan seragam Academi Kuoh Laki-Laki, Issei nama Laki-Laki itu yang kini tengah berjalan dengan menenteng tasnya. Dengan senyum mesum akibat mengingat kejadian tadi pagi. Dimana saat dirinya terbangun melihat Boucho nya tengah memeluknya tanpa busana apa pun. Ya, dia sudah tak lagi kaget kalau-kalau dia menemukan Boucho nya dalam ke adaan seperti itu. Tapi, bukan itu yang membuat dia senyum-senyum geje. Tapi karena tadi pagi Boucho nya itu memperbolehkan dirinya meremas..

Mengingat itu senyum mesum Issei semakin melebar bahkan dirinya tak sadar dari lubang hudungnya sudah mengeluarkan darah.

'Heheheh... Aku harus berterimakasih kepada Paman Azazel. Karena dia mungkin aku tidak akan pernah bisa meremas Oppai Boucho!' batin Issei senang. Ya kalau dia tidak dilatih oleh Azazel, mungkin kemampuannya tak sehebat sekarang. Dan tidak bisa menyelamatkan Boucho nya dari Phoenix arogan itu. Tunggu dulu-

Tanpa banyak waktu dengan raut tiba-tiba berubah menjadi cemas. Issei berlari ke arah sungai dimana tempat favorit pamannya. Sepanjang kakinya berlari, ingatan tentang perasaan yang 'tidak mengenakan' saat di kediaman Gremory teringat di kepalanya. Perasaannya semakin kalut, mengingat dua hari penuh dari ia berangkat menuju ke Underworld untuk Rating Game dengan salah satu anak dari Lord Phoenix dan setelah kembali lagi ke dunia Manusia, Azazel pamannya tidak menghubunginya.

Tap!

Memandang liar ke sekitar saat tiba di tempat favorit pamannya memancing. Issei tidak menemukan perawakan yang dia cari, hanya kehancuran total lah yang saat ini dia saksikan. Pondasi tembok dekat dengan jembatan beton yang tadi utuh sekarang hancur membentuk kawah berukuran 4 meter. Dia juga melihat beberapa orang tengah melihat kerusakan itu dengan pandangan tanda tanya. Perasaannya semakin kalut, kemudian berlari mendekati kerumunan orang yang berada di dekat sebuah pabrik kosong.

Tapi baru saja berlari enam langkah Issei berhenti, merasakan sepatunya yang berwarna hitam menginjak sebuah benda.

Deg!

'T-tidak mungkin!'

Saat mengetahui benda yang dia injak, sebuah belati emas milik pamannya.

'Paman Azazel!'

To. Be. Continued~

Next Chapter 8!

A/N : (O.O)! untuk chapter ini tak ada yg author sampaikan, tapi sedikit author sampaikan. Ya tentang bagian awal chapter 6, memang author ambil dari Film Mumi yang ada di Cina.

Author kenapa buat Azazel mati 'tanpa perlawanan' ?

Pasti para pembaca setelah membaca ch 7 ini akan menanyakan pertanyaan seperti itu. Tapi klau pembaca membacanya penuh perasaan pasti tau kenapa author buat Azazel jadi samsak kegilaaan Naruto.

Dan ch 7 ini, author akan munculkan konflik Issei antara Naruto. Dan juga perang dingin diantara mereka berdua akan author deskripsikan semaksimal mungkin.

Peerage Rias vs Peerage Sona! Perang dingin Issei akan mewarnai aksi balas dendam Naruto.

Lalu soal Issei, author sediki kurangi sifat mesumnya, dan sifat lainnya dari Issei.

Hahh sampai di sini dulu..

Jawab Review ;

Crucufix : Pair Naruto mini harem, tidak lebih.

Andre981 : heheheh ya, terimakasih :D

Ae Hatake : soal genjutsu, itu akan terjawab kok beberapa chapter lagi. Soal saya pilih Azazel. Hmm mungkin biar ada sensasi, dan buat konflik antara Issei dan Naruto.

The KidSNo OppAi : soal genjutsu beberapa chapter atau mungkin ch depan akan terjawab, terimakasih bang.

Raffie D'Rocket Rokers : ini dah lanjut.

Marvell569 : ?

Asrofil Vroh : ini dah lanjut vroh!

Zafreel G : oke sip!

REVANOFSITHLORD : hahaha iya, terimakasih revnya.

JoSsy aliandi : terimakasih.

Awim Saluaja : ohh benarkah :D

Uchikaze Muzuko-M. A. P : nanti juga kebagian kok, tenang aja :D

Imari Shirichi : wkwkwk, yah kalau masih ada noh buat Azazel..

Aldo. F. Salamander : Dunia Shinobi? Hm.. Tidak. Dunia shinobi tidak ancur. Terimakasih :D

Sekian..

Review?