[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

HEART CONTRACT

심장 계약

[ChanBaek GS]

.

Remake story by Santhy Agatha

.

"Senja bergayut berganti malam, begitupun rasa hatiku kepadamu. Kau yang selalu ada, kau yang terbiasa ada, tiba-tiba kusadari, aku takut kalau kau jadi tak ada... Aku takut kehilanganmu, wahai kau, sosok yang perasaanku kepadamu tak bisa terdeskripsikan oleh hatiku..."

.

.

CHAPTER SEVEN

Baekhyun tertegun. Menyadari kebenaran kata-kata Chanyeol. Benar juga. Dari awal alasan utama mereka menikah adalah demi menjaga perasaan mama Chanyeol, sekarang sang mama sudah tiada, tidak ada lagi alasan yang membuat mereka harus menikah.

Tapi Baekhyun teringat kepada Eunbi yang mempercayakan Chanyeol kepadanya, kepada Hyunmin yang akhirnya mempercayai kalau Baekhyun dan Chanyeol saling mencintai, dan kepada ibunya yang begitu berbahagia karena Baekhyun akhirnya bisa menyembuhkan luka hatinya dan bertemu dengan jodohnya. Bagaimana perasaan mereka semua kalau menyadari bahwa Baekhyun dan Chanyeol telah membohongi mereka?

Chanyeol berdeham pelan, menggugah Baekhyun dari lamunannya, "Tetapi tentu saja kita tidak bisa gegabah mengakhiri pernikahan ini..." Chanyeol menatap Baekhyun dalam-dalam, "Selain karena pernikahan ini baru sebentar, kita juga harus bisa memberikan alasan yang tepat kepada keluarga kita kenapa kita berpisah... Jadi sementara ini, mungkin kita harus bertoleransi dan melanjutkan sandiwara pernikahan ini, kau tidak keberatan kan Baekhyun?"

Baekhyun tercenung, sebenarnya melanjutkan sandiwara pernikahan ini terasa sangat memberatkan, tetapi membayangkan bercerai diusia pernikahan yang masih sangat muda, belum lagi menjelaskan kepada semuanya terasa begitu berat. Baekhyun juga yakin bahwa berpura-pura melanjutkan pernikahan ini adalah yang terbaik.

"Ya... Mungkin kita bisa menjalani seperti ini dulu sampai kita bisa menemukan alasan dan waktu yang tepat untuk berpisah."

Chanyeol menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum miring, "Lagipula kita sepertinya nyaman menjalani pernikahan ini." senyumnya berubah menggoda, "Aku takut tiba-tiba kita sudah menjalani bertahun-tahun dan tetap belum menemukan alasan untuk berpisah. Hmmm... Bagaimana kalau kita jalani pernikahan yang sesungguhnya saja?"

Baekhyun membelalakkan mata dan menatap Chanyeol dengan marah, "Hentikan candaanmu itu."

"Aku tidak bercanda." senyum Chanyeol berubah sensual, "Kupikir aku cukup bisa menerima memiliki isteri sepertimu, dalam hal sebenarnya."

Wajah Baekhyun menjadi merah padam ketika berhasil mencerna kata-kata Chanyeol, lelaki ini benar-benar kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Kalau memang Baekhyun memiliki impian tentang seorang suami, pasti dia bukan tipe lelaki seperti Chanyeol!

.

.

.

"Gaun baru untukmu sudah datang. Chanyeol yang sedang membaca buku di atas ranjang mengedikkan bahunya ke arah gaun hijau keemasan yang digantungkan di lemari, "Cobalah."

Baekhyun yang baru memasuki kamar mengernyit bingung. Gaun baru? Untuk apa? Hari ini sudah hampir tiga minggu setelah kematian mama Chanyeol. Semula semua terasa berat bagi mereka di rumah ini. Eunbi masih sering menangis terisak-isak sendirian, untunglah Hyunmin sering mengunjunginya dan menguatkannya, hingga bisa membuatnya mulai bisa tersenyum dan tertawa sedikit.

Sementara Chanyeol... Chanyeol masih tetap sama, selain kerapuhannya yang ditunjukkan kepada Baekhyun malam itu, Chanyeol luar biasa dingin dan kaku. Masih mengenakan topeng yang sama, topeng datar dan tanpa emosi miliknya.

"Kau lupa?" Chanyeol terkekeh, "Besok kan hari pernikahan mantan pacarmu."

Minhyun? Besok hari pernikahan Minhyun? Tiba-tiba dada Baekhyun terasa nyeri, dia memang sudah hampir bisa melupakan Minhyun, melupakan rasa sakitnya akibat ditinggalkan Minhyun dan melupakan perasaan cintanya yang dulu tumbuh begitu subur kepada Minhyun, tetapi entah kenapa, kesadaran bahwa Minhyun mengikat dirinya kepada perempuan lain, dan pengetahuan bahwa Minhyun tidak bahagia membuat dadanya terasa sesak.

Chanyeol menatap Baekhyun dan mengernyit, "Kau sudah tidak lagi mencintai bajingan pengecut itu kan?" tanyanya menyelidik, "Atau jangan-jangan kau masih cinta?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan tegas, "Tidak... Aku sudah tidak..."

"Kalau kau masih cinta berarti kau perempuan bodoh."

"Aku sudah tidak cinta lagi, tapi kau harusnya mengerti perasaanku, bertahun lamanya aku hidup dengan kesadaran bahwa aku mencintainya, harusnya kau mengerti bagaimana rasanya ketika menyadari perasaan sesak ketika mantan kekasih akan menikah."

"Tidak, aku tidak mengerti." jawab Chanyeol tegas, "Begitu aku dikhianati oleh kekasihku, maka dia sama saja sudah mati. Begitupun perasaanku kepadanya, mati. Jadi aku tidak merasakan apapun." lelaki itu menutup buku yang dibacanya, dan mengatur posisi tidurnya, "Selamat tidur."

Baekhyun termenung di sisi ranjang yang berlawanan dan menatap punggung kaku Chanyeol yang membelakanginya. Dia hampir lupa, lelaki ini juga memendam kesakitan yang pedih karena pengkhianatan. Dan hal itu membuatnya menjadi keras. Tetapi Baekhyun sendiri saksinya bahwa Chanyeol masih menyimpan kerapuhan yang disembunyikannya, jauh di dalam hatinya.

.

.

.

Baekhyun menyadari gerakan di sampingnya meskipun dia masih setengah terlelap, sepertinya masih dini hari karena kamar itu masih temaram dan terasa begitu dingin, tetapi kemudian lengan hangat dan kuat itu merengkuhnya, memeluknya erat-erat.

Lengan itu terasa asing sekaligus akrab, dan membuat Baekhyun nyaman, dalam tidurnya dia mendesak dan menempel pada tubuh hangat itu, menikmati eratnya dekapan yang merengkuhnya, membuainya kembali ke alam mimpi.

"Baekhyun."

Itu suara Chanyeol, tetapi entah kenapa terdengar lebih serak. Apakah Baekhyun sedang bermimpi?

Dengan meyakini bahwa dia sedang ada di dalam mimpi, Baekhyun bergelung makin merapat ke tubuh hangat itu. Mendesakkan tubuh lembutnya ke tubuh keras itu.

"Baekhyun, jangan sayang." suara Chanyeol kali ini terdengar tersiksa, tubuhnya terasa kaku dan tegang di tubuh Baekhyun yang menempel kepadanya.

Suara Chanyeol yang terakhir itu membuat sepercik kesadaran Baekhyun kembali, dia membuka matanya... Ada apa?

Lalu Baekhyun memekik ketika menyadari posisi tubuhnya, dalam usahanya mencari kehangatan, dia sudah menempel lengket seperti koala yang melingkari pohonnya kepada Chanyeol. Pahanya melingkari tungkai dan pinggul Chanyeol tanpa malu-malu, lengannya memeluk dada dan punggung Chanyeol, sementara kepalanya bersandar tanpa permisi di dada lelaki itu. Dalam detik yang sama Baekhyun langsung melepaskan pelukannya dan setengah melompat, menjauh menuju seberang ranjang yang paling ujung.

Chanyeol menghela napas panjang, seolah dilepaskan dari ketegangan yang menyiksanya. lalu menatap Baekhyun dengan marah, "Kalau kau tidak mau aku terangsang dan berbuat yang tidak senonoh, jangan menempel-nempel padaku di atas ranjang!" geramnya parau, lalu menarik selimut sampai dada dan membalikkan badan memunggungi Baekhyun yang berbaring dengan muka panas dan merah padam.

.

.

.

Untunglah pagi hari ketika Baekhyun terbangun, Chanyeol sudah tidak ada di ranjangnya, kalau tidak Baekhyun tidak akan tahu bagaimana dia bisa menghadapi Chanyeol.

Wajahnya terasa panas ketika mengingat kejadian semalam. Astaga, bagaimana bisa dia menempel begitu erat kepada Chanyeol? Malam-malam sebelumnya dia tidak pernah melakukannya. Apakah memang karena hawa dingin, ataukah karena dorongan untuk mencari kenyamanan yang sepertinya disediakan oleh tubuh Chanyeol?

Baekhyun mendengus, Kenyamanan yang disediakan oleh tubuh Chanyeol? Apakah dia buta? Yang bisa disediakan oleh Chanyeol adalah rasa tidak nyaman dan masalah. Dia harus ingat itu baik-baik setiap malam sebelum mereka tidur agar kejadian memalukan semalam tidak terulang lagi.

Setelah selesai mandi, Baekhyun melangkah menuju lemari dan melihat gaun itu, gaun hijau keemasan yang dibelikan oleh Chanyeol. Dia mengernyit lagi, gaun untuk datang ke pernikahan Minhyun m..

Pernikahan Minhyun. Apa kabarnya lelaki itu? Lelaki yang pernah dicintainya? Sejak kejadian ancaman bunuh diri Minhyun di jembatan waktu itu, Minhyun tidak pernah menghubunginya lagi, mungkin karena ancaman dari Chanyeol waktu itu, mungkin pula akhirnya Minhyun menyadari bahwa antara dirinya dan Baekhyun sudah tidak ada harapan lagi.

Semoga pernikahan ini membuat Minhyun bahagia, akhirnya Baekhyun bisa mengucapkan doa itu dengan tulus, dan membuat hatinya terasa lega.

Ternyata ketika hatinya bisa melepaskan dan memaafkan, bisa membuat perasaannya terasa ringan.

Dielusnya gaun sutera itu dengan kagum, menyadari keindahan setiap serat gaun itu, Ini pasti mahal. Baekhyun berkerut, dan ini dibelikan oleh Chanyeol...

"Kenapa kau belum memakai gaunmu? Kita berangkat satu jam lagi."

Chanyeol tiba-tiba masuk tanpa permisi, membuat Baekhyun terkesiap kaget dan hampir menjatuhkan gaun itu dari tangannya. Lelaki itu berdiri di depan pintu, sudah mengenakan kemeja hijau senada dengan gaun Baekhyun, dan celana resmi, tetapi belum mengenakan jasnya.

"Satu jam lagi?" Baekhyun melirik jam emas antik di atas meja di samping ranjang, tanpa sadar semburat merah muncul di pipinya melihat Chanyeol. Ingatannya melayang tanpa ampun ke kejadian semalam.

Chanyeol mengangkat alisnya, menyadari semburat merah di pipi Baekhyun, lalu tersenyum menggoda.

"Ya, satu jam lagi kita berangkat, bersiaplah." suaranya merendah, "Lain kali kalau kau ingin membelitku seperti ular di atas ranjang, peringatkan aku dulu."

Dan lelaki itu lalu melangkah pergi meninggalkan Baekhyun berdiri di sana dengan wajah merah padam dan perasaan campur aduk antara malu dan marah.

.

.

.

Ketika Baekhyun menuruni tangga, Hyunmin ternyata baru saja datang di rumah itu, bersama Eunbi. Hyunmin memang selalu datang menemani Eunbi sejak kematian mama Chanyeol, untuk mengiburnya.

Mata Eunbi langsung berbinar-binar ketika melihat Baekhyun, "Wow, kak Baekhyun, kakak cantik sekali!" dia berdiri dan menatap Baekhyun dengan bersemangat, "Kakak tidak pernah berdandan sih ya, jadi sekalinya berdandan membuat orang terkagum-kagum," pujinya lagi, membuat pipi Baekhyun memerah.

Eunbi mengernyitkan alisnya ke arah ruang kerja Chanyeol, "Dimana kak Chanyeol ini, tadi katanya mau buru-buru berangkat biar bisa cepat pulang lagi, sekarang malah menenggelamkan diri di ruang kerjanya." Eunbi mengedipkan matanya kepada Baekhyun, "Tunggu sehentar kak Baekhyun, akan aku seret kak Chanyeol dari sana." lalu melangkah memasuki ruang kerja Chanyeol.

Hyunmin ikut-ikutan berdiri dan tersenyum mengagumi kepada Baekhyun, "Kau cantik sekali kak."

Baekhyun meringis geli, "Jangan kau juga ikut-ikutan memujiku, aku jadi malu."

Hyunmin terkekeh, "Tapi kau memang betul-betul cantik, dan gaun itu sangat cocok untukmu, kata Eunbi, kak Chanyeol khusus memesankannya untukmu." Hyunmin tersenyum lembut, "Mulanya aku cukup cemas dengan pernikahan kalian. Tetapi makin hari aku makin yakin, kau bahagia kak. itu yang terpenting."

Baekhyun memalingkan kepala, tidak mampu menatap Hyunmin, takut kebohongannya akan tercermin di matanya. Adiknya ini begitu mempercayainya, dan dia membohonginya. Semoga ketika semuanya terkuak nanti, Hyunmin bisa memahami dan tak marah kepadanya.

Pada saat itu pintu ruang kerja Chanyeol terbuka, dan lelaki itu keluar diikuti Eunbi. Sejenak Chanyeol tertegun mengamati Baekhyun, lalu tersenyum.

"Gaun itu cocok buatmu." gumamnya tenang. Diiringi dengan Eunbi dan Hyunmin yang saling melemparkan pandangan penuh arti, membuat pipi Baekhyun memerah.

.

.

.

Seperti yang diduga, ini adalah pesta pernikahan yang mewah. Jantung Baekhyun terasa berdegup kencang ketika melangkah memasuki gedung ini. Dekorasinya sangat indah dan kemudian perasaan itu menyergapnya lagi, perasaan yang menyadarkannya bahwa dia sedang menghadiri pesta pernikahan Minhyun.

Minhyun. Lelaki itu berdiri di sana, dengan Sulli di sebelahnya. Keduanya tampak megah dalam balutan busana bernuansa emas. Lalu keluarga Minhyun, ibunya, sepupu-sepupunya, tantenya dan semuanya yang dulu sempat mengenal Baekhyun melihatnya, kemudian berbisik-bisik dan menatapnya dengan penuh spekulasi. Jantung Baekhyun berdenyut lagi, lebih kencang. Mampukah dia naik ke sana dan menyalami Minhyun dengan tegar, dibawah tatapan mata tajam seluruh keluarga Minhyun?

Chanyeol seolah-olah menyadari perasaan Baekhyun yang campur aduk, dia mengencangkan genggamannya di jemari Baekhyun, dan berbisik lembut.

"Kau datang kesini bersamaku, aku suamimu. Dan aku adalah laki-laki yang seratus kali lebih baik dari mantan pacarmu yang sedang bersanding di pelaminan itu. Jadi tegakkan dagumu, tunjukkan kebanggaanmu. Kau tidak rugi ditinggalkan olehnya, dia yang rugi karena kehilanganmu. Tunjukkan betapa berharganya dirimu kepada Minhyun dan keluarganya. Tunjukkan betapa berharganya dirimu, karena kau adalah isteriku."

Bisikan Chanyeol itu, meskipun begitu penuh kesombongan dan arogansi, mampu menghilangkan kegugupannya. Chanyeol benar, dia tidak seharusnya takut ataupun gugup atas pandangan menilai ibu dan keluarga Minhyun. Dia datang ke sini bersama Chanyeol, suaminya. Dan Chanyeol mendukung sepenuhnya Baekhyun untuk memamerkan kebanggaan dirinya, karena ternyata mampu berujung lebih baik dari Minhyun.

Chanyeol tersenyum melihat perubahan ekspresi Baekhyun, "Bagus, ayo isteriku, kita salami mantan kekasihmu yang tidak beruntung itu."

Lelaki itu menghela Baekhyun dengan lembut menaiki panggung tempat Minhyun dan Sulli berdiri. Chanyeol yang melangkah duluan dan menyalami Minhyun dengan senyum mengejeknya yang menjengkelkan,

"Selamat." gumamnya dengan suara tegas, lalu menghela Baekhyun mendekat, "Kemari sayang, kita harus memberi selamat kepada pasangan ini." suaranya berubah mesra.

Baekhyun mendekat dan menyalami Minhyun. Dia merasakan genggaman yang berbeda dan Minhyun menatapnya dengan tatapan tersiksa. Tapi Baekhyun menguatkan diri. Ini jalan yang dipilih Minhyun dan Baekhyun sudah memilih jalan yang berbeda jauh.

"Selamat Minhyun. Selamat Sulli." suaranya terdengar tegas, dan kuat, dan tulus. Menyalami Minhyun yang terlihat sedih dan Sull yang tersenyum kaku.

Kemudian mereka berhadapan dengan mama Minhyun. Dan seketika ingatan itu berkelebat di benak Baekhyun, ingatan ketika Minhyun memperkenalkannya ke mamanya. Baekhyun yang lugu waktu itu mengulurkan tangannya. Dan mama Minhyun hanya menatap jemarinya dengan angkuh, lalu memalingkan mukanya dengan mencemooh, tak mau membalas salamannya dan membuat Baekhyun harus menarik tangannya mundur pelan-pelan dengan penuh rasa malu.

Kali ini, mama Minhyun menatap Chanyeol dan Baekhyun dengan gugup. "Baekhyun tidak kusangka bertemu lagi denganmu di sini." suara mama Minhyun bernada ramah yang dibuat-buat. Lalu tanpa di sangka perempuan itu mengulurkan tangan kepadanya, "Dan sekarang kau adalah isteri Tuan Park, kami sekeluarga belum mengucapkan selamat, selamat ya."

Godaan untuk menolak uluran tangan itu dan membalaskan kesakitannya di masa lalu sangatlah besar, tetapi Baekhyun sadar, dia akan tampak kekanak-kanakan kalau melakukannya, lagipula situasi ini sudah merupakan pembalasan tidak langsung untuk Minhyun dan ibunya. Disambutnya uluran tangan itu lembut.

"Terima kasih," gumamnya pelan dalam senyum.

Chanyeol menatap kepadanya, memahaminya dalam senyum pengertian. Lalu setelah basa-basi sejenak yang kaku, Chanyeol berpamitan dan mengajak Baekhyun keluar dari gedung dan acara penikahan yang menyesakkan napas itu.

Mereka berjalan bergandengan, melangkah menuju mobil Chanyeol, lelaki itu masih menggandeng tangannya erat.

"Senang?" tanyanya dalam senyum memahami.

Baekhyun terdiam sejenak, berusaha menelaah perasaannya, kemudian menemukan rasa ringan yang membuatnya tenang. Ternyata yang diperlukannya hanyalah menghadapi masa lalunya dengan berani, lalu melepaskan semua beban itu. Perasaan sedih yang menggelayutinya selama ini itu sudah tiada, dan rasanya menyenangkan. Dia mendongak, menatap Chanyeol dan tersenyum,

"Senang." senyumnya bertambah lebar, "Terima kasih Chanyeol."

Lelaki itu terkekeh dan menganggukkan kepalanya, "Sama-sama Baekhyun, sama-sama."

.

.

.

Ketika mereka sudah dijalan, Chanyeol melirik ke arah Baekhyun, "Mau mampir ke cafe? Aku hanya makan sedikit tadi, dan aku masih lapar," gumamnya pelan.

Baekhyun mau. Datang ke pernikahan Minhyun sangat menguras emosinya, membuat makanan yang ditelannya di acara itu terasa seperti kertas. Dia butuh Milkshake strawberry yang manis dan kental itu.

"Aku mau." gumamnya.

Chanyeol tersenyum dan mengarahkan mobilnya menuju ke cafe.

Mereka tiba di cafe itu menjelang sore, karena terjebak macet yang cukup lama. Suasana cafe sangat ramai, mungkin karena di hari minggu, Chanyeol dan Baekhyun berjalan menuju sebuah kursi yang terletak di sudut yang sejuk, di bawah rimbunnya dedaunan yang berwarna hijau.

Taehyun yang menyambut mereka seperti biasa, mempersilahkan mereka duduk dan mengedip kepada Baekhyun bersahabat.

"Milkshake strawberry seperti biasa Nona?" gumam Taehyun ramah.

Chanyeol mengangkat alisnya dan menatap ke arah Taehyun, "Seperti biasanya?" matanya beralih ke arah Baekhyun, "Apakah kau sering ke sini tanpaku?"

Baekhyun tersenyum kikuk, merasa tertangkap basah, "Aku sering kemari sepulang kerja, untuk segelas milkshake." gumamnya mengaku.

Chanyeol terkekeh, "Rupanya kau ketagihan dengan milkshake dari cafe ini." Chanyeol menatap Taehyun pura-pura menuduh,

"Apa yang kau campurkan ke dalam minuman isteriku sehingga dia ketagihan seperti ini?"

Taehyun tertawa dan menggelengkan kepalanya, "Saya tidak mencampurkan apa-apa. Tetapi bukankah Milkshake mengandung bahan yang bisa membuat kecanduan meskipun kadarnya sangat sedikit? Tetapi saya rasa ketenangan yang didapatkan dari meminum milkshake itulah yang membuat ketagihan." Taehyun tersenyum bijak, mencatat pesanan mereka lalu membungkuk sopan sebelum undur diri.

"Kau tampak akrab dengan Taehyun." Chanyeol bergumam sambil menatap kepergian lelaki setengah baya itu.

Baekhyun tersenyum, "Taehyun sangat ramah, dia juga sering memberikan nasehat."

Chanyeol menganggukkan kepalanya, "Dia memang sangat terkenal di cafe ini, bisa dibilang dialah yang menjadi pengelola utama cafe ini, pemilik Cafe mengenalnya sejak lama dan mempercayainya. Tetapi dia tidak mau mengambil jabatan tinggi, dengan rencah hati dia bilang ingin menikmati pekerjaan sebagai pelayan karena dia sangat menikmati berbicara dan berbagi cerita dengan pelanggan-pelanggannya." Chanyeol merenung, "Lelaki itu bekerja bukan untuk uang, tetapi untuk kepuasan batin."

"Mungkin dia hanyalah pria yang kesepian." Baekhyun menggumam sambil menatap Taehyun yang menyapa pelanggan lain dengan ramah.

"Yah dia memang hidup sendirian di sini setelah kehilangan anak dan isterinya." Chanyeol menatap Baekhyun dan mengalihkan pembicaraan, "Bagaimana perasaanmu kepada Minhyun setelah tadi?"

Baekhyun memikirkannya sejenak, lalu merasa yakin dan tersenyum, "Aku merasa lega, lepas dan bebas. Terima kasih karena telah membantuku menghadapi mereka semua." gumamnya, mengulang ucapan terima kasihnya.

Chanyeol hanya mengangguk, "Aku suamimu." gumamnya serius, "Sudah kewajibanku untuk mendukungmu."

Pesanan makanan mereka pun datang, pelayan lain yang mengantarkannya. Menu steak yang masih berasap dan minuman. Chanyeol memesan minuman warna kuning dengan aroma limau dan gelembung-gelembung di dalamnya, lelaki itu mengernyit melihat minuman Baekhyun.

"Aku tidak pernah melihat orang memadukan steak dengan Milkshake sebelumnya."

Baekhyun terkekeh, "Sebetulnya aku ingin menikmati milkshakenya duluan." disesapnya milkshake itu, tidak bisa menahan dirinya.

Chanyeol mengamatinya. "Jangan-jangan kau benar-benar sudah kecanduan milkshake di sini." gumamnya, membuat Baekhyun tertawa geli.

"Mungkin aku memang kecanduan. milkshake ini menstimulasi ketenangan di otakku dengan rasa manis, aroma khasnya dan kenikmatannya ketika mengaliri lidahku. Aku terus menerus ingin menikmati sensasi itu."

Chanyeol mendecakkan lidahnya, "Gawat kalau begitu." matanya menggoda, "Mungkin kita harus menculik peracik minuman ini dan menyekapnya di rumah."

Baekhyun tertawa mendengar godaan Chanyeol itu. Mereka menghabiskan makanan mereka dengan cepat. Rupanya Chanyeol dan Baekhyun sama-sama tidak bisa menikmati makanan di resepsi pernikahan Minhyun.

Ketika mereka pulang mereka berpapasan dengan Taehyun, lelaki itu membawa baki berisi teh warna hijau yang masih panas.

"Maaf tadi tidak bisa menyapa kalian lagi. Aku harus membawakan pesanan kepada pelanggan di sana, dia biasanya datang tengah hari, tetapi hari ini dia datang terlambat, tampak sangat sedih dan memesan minumannya yang biasa. Semoga minuman ini bisa membuat hatinya ringan." Taehyun menundukkan tubuhnya sedikit untuk mengucap selamat tinggal, "Hati-hati di jalan dan kembalilah lain waktu," gumamnya dengan riang.

Baekhyun tersenyum dalam gandengan Chanyeol, "Pasti Taehyun... Pasti..."

.

.

.

.

"Selamat ulang tahun."

Baekhyun mengerjapkan matanya, dan menemukan Chanyeol masih terbaring di ranjang, bertumpu pada sikunya dan miring menghadap Baekhyun.

Lelaki itu tampak luar biasa tampan bahkan ketika bangun tidur. Seakan-akan rambut kusut dan penampilan acak-acakannya malah menambah pesonanya bukannya mengurangi. Jauh berbeda dengan Baekhyun, dia sama sekali tidak yakin penampilan bangun tidurnya bisa mempesona.

Tetapi hal itu sama sekali tidak berpengaruh kepada Chanyeol rupanya, lelaki itu tetap tersenyum dan menatapnya dengan pandangan berbinar-binar, "Selamat ulang tahun." lelaki itu mengulang, seakan tidak yakin ucapannya yang pertama tadi bisa dicerna oleh Baekhyun.

Baekhyun mengerjapkan matanya sekali lagi, menghitung tanggal dalam benaknya, dan menyadari bahwa sekarang memang hari ulang tahunnya. "Terima kasih." gumamnya tersenyum.

Chanyeol terkekeh lalu bangkit dari ranjang, "Eunbi memberitahuku kemarin, dia merencanakan sebuah pesta kecil-kecilan untukmu, hanya kita dan keluarga, liburan di tepi pantai."

Hari ini memang hari sabtu, tetapi biasanya di hari sabtu pun Chanyeol pergi bekerja.

"Apakah kau libur?" tanya Baekhyun ragu.

Chanyeol mengangkat bahu, "Pekerjaan bisa menunggu, lagipula Eunbi akan membunuhku kalau aku tidak bisa ikut. Kau tahu dia kemarin bersemangat melanjutkan yang dilakukan mama, yaitu mempersiapan acara resepsi pernikahan kita, dan setelah bujukan yang luar biasa, akhirnya dia mau mengerti bahwa kita memilih tidak mengadakan resepsi apapun untuk menghormati mama yang telah tiada, setidaknya menyiapkan acara liburan ulang tahunmu ini bisa menghiburnya."

Baekhyun tersenyum dan mengangguk, Eunbi benar-benar perempuan yang tegar. Dia menghadapi kesedihannya dengan menjadi kuat dan bersemangat. Dan Baekhyun sangat bersyukur kalau memang Hyunmin berjodoh dengan Eunbi, dia akan menjadi isteri yang hebat untuk Hyunmin.

Lalu pikiran itu tiba-tiba muncul di benak Baekhyun, "Chanyeol..." suara Baekhyun yang serius menarik perhatian Chanyeol, "Tentang pernikahan kita ini... Bagaimana ke depannya? Apakah kau sudah memikirkannya?"

Chanyeol tercenung lalu mengangkat bahu, "Terus terang aku tidak memikirkannya. Aku hanya menjalaninya, kau juga seperti itu kan? Lagipula aku sedang tidak jatuh cinta dengan siapapun, dan kau juga tidak jatuh cinta kepada siapapun. Jadi kupikir kita bisa menjalankan pernikahan ini dengan biasa dulu."

"Kalau nanti kita jatuh cinta kepada orang lain?" Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Chanyeol menghela napas, "Maka kita tidak boleh saling menghalangi," gumamnya parau.

.

.

.

Mereka berjalan meninggalkan makam mama Chanyeol dalam keheningan. Sebelum berangkat liburan ke pantai untuk merayakan ulang tahun Baekhyun, mereka berkunjung ke makam untuk berdoa dan meletakkan bunga.

"Chanyeol!" suara itu memanggil dengan lembut dari sebuah sudut, dan membuat mereka semua menoleh.

Eunbi yang pertama kali menghela napas, dia berdiri di sebelah Baekhyun dan menepuk dahinya.

"Gawat," desahnya pelan. Baekhyun menoleh dan menatap Eunbi, "Ada apa?"

"Itu Rose, mantan kekasih kak Chanyeol seorang model profesional... Yah tidak bisa dibilang kekasih, dia selalu putus sambung dengan kak Chanyeol... Dan dia... Sangat terobsesi dengan kak Chanyeol, pada saat pernikahan kalian dia sedang ada di luar negeri jadi tidak tahu, mungkin dia baru pulang dan mendengar kak Chanyeol menikah, jadi dia menyusul ke sini." Eunbi berbisik pelan kepada Baekhyun, "Hati-hati kak Baekhyun, dia tajam seperti racun."

Baekhyun tiba-tiba merinding ngeri. Selama menjadi isteri Chanyeol, dia tahu banyak perempuan yang iri dan membencinya. Tatapan-tatapan permusuhan kadang diterimanya ketika Chanyeol bersikap mesra kepadanya di depan umum. Tetapi belum pernah dia menghadapi kecemburuan secara frontal. Apalagi kecemburuan dari seorang mantan kekasih.

"Dan dia tidak tahu malu," Eunbi berbisik lagi, "Aku tidak pernah menyukainya karena itu, dia menghabiskan sepanjang waktunya dengan mengejar-ngejar kak Chanyeol, sampai lupa pada norma dan aturan yang berlaku..."

Rose berdiri di depan Chanyeol dan Baekhyun, perempuan itu tinggi dan cantik, sesuai dengan profesinya sebagai seorang model. Rambutnya panjang dan cokelat, dikuncir ke belakang dan membentuk ekor kuda yang indah di belakangnya.

Pakaiannya begitu modis dan membungkus tubuhnya dengan seksi. Baekhyun tiba-tiba memandang dirinya dengan gelisah ketika membandingkan dirinya dengan perempuan modis di depannya itu.

Astaga, kalau begini selera Chanyeol sebelumnya, pantas saja dia sama sekali tidak kesulitan menahan diri ketika tidur seranjang dengan Baekhyun. Mantan kekasihnya ini begitu sensual, dan Baekhyun hanya seperti anak kecil kalau dibandingkan dengannya.

"Hai Chanyeol, aku mendengar kabar mengejutkan kemarin ketika mendarat pulang, kau menikah."

Chanyeol tampak tersenyum datar, "Kabar itu betul, kenalkan ini isteriku, Baekhyun."

Rose mengulurkan tangannya dan Baekhyun membalasnya. Senyum Rose tampak sinis dan perempuan itu memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mengejek.

"Aku Rose," gumamnya tak kalah mengejek, lalu seolah tak mempedulikan Baekhyun, perempuan itu menoleh kembali pada Chanyeol dengan merayu, "Aku merindukanmu Chan, kapan kita bisa bertemu lagi dan melepaskan rindu? Mungkin nanti malam kita bisa memesan makan malam privat di tempat biasa?"

Baekhyun ternganga, kaget sekaligus marah. Perempuan ini benar-benar tidak peduli bahwa Chanyeol sudah menikah dengan Baekhyun! Bahkan dia terang-terangan meremehkan keberadaan Baekhyun sebagai isteri Chanyeol dengan sengaja mengeluarkan rayuan sensual kepada Chanyeol, padahal Baekhyun sedang berdiri di sebelahnya.

"Maaf." Baekhyun bergumam sebelum Chanyeol sempat berkata-kata, "Suamiku tidak punya waktu untukmu malam ini atau kapanpun, kami akan menghabiskan malam di pantai untuk merayakan ulang tahunku," gumam Baekhyun geram, lebih karena dipenuhi rasa terhina dan bukan cemburu.

Rose menatap Baekhyun jengkel karena berani menjawab pertanyaannya yang ditujukan untuk Chanyeol, tetapi dia lalu melemparkan pandangan sensual kepada Chanyeol menunjukkan kalau dia meremehkan jawaban dari Baekhyun.

"Kalau begitu lain kali sayang. Aku yakin kau nanti ada waktu untukku, seperti biasanya," bisiknya penuh arti.

Chanyeol yang dari tadi tampak geli dengan situasi ini mengangkat bahunya acuh tak acuh, "Kau dengar sendiri isteriku tadi Rose. Isteriku memastikan bahwa aku tidak punya waktu untuk kegiatan bersama orang lain." lelaki itu melirik menggoda kepada Baekhyun, membuat wajah Baekhyun memerah.

Rose mengamati Chanyeol dan Baekhyun bergantian, menilai situasi. Lalu tersenyum sinis.

"Oke, aku tidak akan menyerah, lain kali aku akan mencoba lagi. Dan aku akan menunjukkan bahwa perempuan dewasa yang berpengalaman sudah pasti jauh lebih baik jika dibandingkan dengan perempuan kecil yang bahkan tidak bisa mendandani dirinya sendiri dengan baik." Rose melemparkan tatapan mencemooh kepada Baekhyun, membuat wajah Baekhyun merah padam karena merasa terhina.

Lalu dengan anggun perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.

.

.

.

[ To Be Continued ]

.

.

.

Review!