Kuroko berjalan dengan tergesa melewati koridor-koridor sekolah. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Perasaan aneh itu datang lagi. Perasaan sesak -seperti ribuan kupu-kupu berterbangan di tubuhnya setiap Akashi bersikap lembut kepadanya.
"Aku tidak boleh begini."
Kuroko menggelengkan kepalanya berulang kali -mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh yang memenuhi kepalanya. Dia adalah laki-laki begitupun Akashi. Dan dia harusnya tahu jika mereka tidak seharusnya saling menyukai.
"Aku harus segera kem-HEUMPH!!!"
Kuroko meronta-ronta saat dia tiba-tiba dibekap menggunakan saputangan beraroma aneh. Dan semuanya berubah gelap...
'Akashi-kun...'
Sudah berulang kali Akashi melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam Kuroko tidak kunjung kembali. Dan itu membuatnya sangat khawatir. Dia menoleh kearah Kagami yang tengah bernegoisasi dengan wali kelas mereka untuk menunggu Kuroko yang belum hadir.
"Mereka bilang, bisnya akan berangkat 15 menit lagi."
Kagami datang menghampiri Akashi yang masih sibuk mondar-mandir di depan gerbang.
"Ah. Kalau begitu akan kususul Tetsuya. Ini terlalu lama, aku khawatir terjadi sesuatu dengannya."
"Aku ikut!"
Manik crimson Akashi berotasi-malas.
"Terserah." ujarnya tak peduli.
"Kenapa Kuroko begitu lama ya? Apa dia sedang sembelit hingga berada di toilet begitu lama?Atau... dia terpeleset hingga tidak bisa bangun?" Kagami mungkin hanya berniat menghibur Akashi dengan kata-kata bernada lawakannya meskipun Akashi tak merespon sama sekali. Apa raut wajahnya terlihat jelas jika dia hampir gila karena khawatir?!
"Hei Akashi-san, kenapa tidak kau hubungi dia saja?"
Langkah Akashi terhenti di pertengahan koridor. Benar juga! Kenapa dia tidak terpikir olehnya untuk menghubungi Kuroko? Benar-benar rasa khawatirnya membuatnya kacau.
Akashi lantas mengetikan nomor ponsel Kuroko yang sudah dihapalnya di layar ponselnya. Namun tak kunjung ada jawaban dari panggilannya. Kuroko dia menghilang atau -kabur?
"Bagaimana?"
"Dia tidak mengangkat panggilanku."
LOCKED IN HEAVEN
Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi
Story by Kuroi Sora18
Little bit INSPIRATED by Okane Ga Nai by Hitoyo Shinozaki and Tohru Kousaka
Main Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya
Genre : Romance / Hurt/ Comfort
Rated : M #maybe
Summary :Meskipun dirinya mengakui bahwa dia memang lemah, setidaknya dia mempunyai sedikit keberanian berbicara dengan laki-laki yang sedang mencoba mengintimidasinya saat ini./"Tetsuya, kau adalah properti milikku.Yang harus kau lakukan adalah diam dan turuti saja perintahku! "/
WARNING!!!
Fic ini mengandung unsur Yaoi/ Shounen-ai/ BoysLove, bagi yang alergi silahkan klik button back pada layar masing-masing. No, Flame! Silahkan beri kritik dan saran yang baik dan sopan. Yang nggak suka jangan baca!!!
author proudly present
.
Chapter 6 : A Mistake
Kelopak mata berwarna porselin itu perlahan terbuka. Menampilkan netra berwarna azure yang berkilau. Kuroko meringis menahan sakit kala pusing tiba-tiba menyerang kepalanya. Dia melihat sekeliling dengan gusar saat mendapati jika kedua tangan dan kakinya terikat erat di sebuah kursi besi tua.
"Ara! Putri tidur akhirnya terbangun."
Mata Kuroko sedikit menyipit saat sesosok pria berdiri angkuh di depannya.Ruangan yang remang-remang membuat pandangannya berkurang.
"D-dare desuka?"
"Namaku Hanamiya Makoto -ah, sekalipun kuberitahu kau juga tidak akan kenal siapa diriku. Tapi aku kenal siapa dirimu, chibi-chan!"
"Ini dimana? Kenapa aku diikat seperti ini?" Kuroko meronta-ronta berharap jika tali yang mengikatnya terlepas. Dan pria bernama Hanamiya itu hanya terkekeh melihat buruannya nampak tak berdaya di depannya.
"Coba tebak saja!"
"Apa kau penculik yang menginginkan tebusan?Aku sebatang kara dan aku tidak memiliki uang. Tolong lepaskan aku!"
Jika saja tidak ada title pembunuh di namanya, pasti Hanamiya sudah tertawa terbahak saat ini. Oh, kini dia mengerti kenapa Akashi begitu terobsesi dengan remaja polos di depannya.
"Hei-" Hanamiya mendekat kearah Kuroko dan mengangkat tinggi dagu pemuda mungil itu. "wajah manismu ini rasanya mubazir sekali jika harus menjadi peliharaan Akashi."
"Kau kenal dengannya?!"
"Hmm...tentu saja! Tapi kau tidak perlu khawatir, kau tidak akan bertemu dengannya lagi setelah ini."
Kuroko terdiam. Dia tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja Hanamiya utarakan kepadanya.
"Apa maksudmu?"
Sebilah pisau lipat yang Hanamiya keluarkan dari saku celananya, membuat netra Kuroko membulat-terkejut.
"Oh, jangan menatapku dengan cara seperti itu! Harusnya kau senang karena aku membantumu melepaskan diri dari Akashi. Kau bisa menikmati kehidupan yang bebas setelah ini -di akhirat pastinya.Hahaha..."
"Aku tidak tahu salahku! Kenapa kau mau membunuhku?"
Hanamiya nampak terdiam. Dia berpikir mungkin sosok bocah bau kencur semacam Kuroko tak akan mengerti kerasnya hidup ini. Dan itu terlihat di wajah polosnya tentu saja.
"Biar kuberitahu satu hal kepadamu." Hanamiya menarik sebuah kursi dan mendudukan diri di depan Kuroko. "Aku hanya menjalakan tugas saja! Kau mati dan aku dapat uang. Apa kesalahanmu itu sama sekali bukan urusanku."
"M-memangnya siapa yang menyuruhmu?"
"Ahh...aku tidak suka kata 'menyuruh' atau 'disuruh'. Aku ini dibayar. But whatever, yang penting aku dapat uangnya."
Hanamiya nyaris tertawa terbahak karena melihat wajah bingung Kuroko.
" Intinya kau tidak perlu tahu. Atau kau bisa menebaknya sendiri. Ahh...aku rasa aku terlalu banyak berbasa-basi denganmu. Bagaimana jika kita akhiri saja ini semua?"
"Apa Haizaki-kun?"
"Kurasa...tapi entahlah?" jawab Hanamiya sambil mengangkat kedua bahunya.
.
.
.
.
Akashi memandang bis-bis yang melaju di depannya dengan datar. Dia memutuskan untuk menyuruh kepala sekolah untuk berangkat ke Sapporo tanpanya.
"Jadi, kenapa kau tidak ikut?"
Pemuda dengan surai merah gelap di samping Akashi tersentak. Dia menggaruk-garuk kepalanya dengan kikuk. Entah kenapa dia bisa berakhir berdua bersama sosok Akashi. Dan jujur saja, saat ini dia merasa tegang luar biasa.
"Kenapa ya? Hei tentu saja karena aku khawatir dengan Kuroko!"
"Pergilah! Ini sama sekali bukan urusanmu. Aku yang akan mencarinya sendiri."
"Tentu saja ini urusanku! Kuroko itu temanku, jadi aku akan membantu mencarinya!"
Akashi tak bergeming. Dia masih lurus menatap jalanan kosong di depannya dengan tatapan kalut. Apakah Kuroko benar-benar kabur?
Aku bertemu dengan Haizaki di taman depan Universitas Touo
Akashi tersentak saat dia teringat pembicaraannya dengan Aomine tempo hari. Benar juga, bisa saja Haizaki menemui Kuroko secara diam-diam dan memaksanya kembali. Tapi...
M-mulai hari ini, aku akan membuang semua rasa egoisku dan berusaha semampuku untuk menerima semua keadaan ini. Aku harap Akashi-kun akan menerimaku dengan segala kekuranganku ini.
Akashi lekas membuka ponselnya dan menghubungi seseorang. Dia mengerang frustasi saat orang yang dihubunginya tak kunjung mengangkat panggilannya.
"Kau menghubungi siapa?" tanya Kagami saat pria di sampingnya nampak gelisah.
"Diamlah."
'Ya, ada apa kau menghubungiku?'
"Dimana Tetsuya?" Akashi bertanya dengan nada tidak sabar.
'Kenapa kau bertanya padaku?Aku tidak tahu!'
Akashi mengeram dan nampak sekali jika dia sangat amat marah sekarang. Hal itu membuat Kagami bergidik ngeri melihatnya. Dia tidak tahu sisi lain seorang Akashi akan semengerikan ini.
"Jangan coba-coba membodohiku! Kau pasti yang memaksa Tetsuya untuk kembali ke Tokyo kan?"
Dari seberang telepon Haizaki terkekeh.
'Tahu dari mana jika aku yang membawa Kuroko? Ahh ya, mungkin Aomine mengatakan sesuatu tentangku kepadamu ya?Dengar ya, aku memang ada niat membawa kembali Kuroko tapi jika dipikir lagi tak ada untungnya aku membawa kembali anak sialan itu.Jadi aku memutuskan berlibur di Kyoto dan menikmati uang darimu.'
"Dimana kau sekarang?"
'Baiklah. Jika kau tidak percaya kepadaku, datang saja ke Hotel Harvest dan temui aku di kamar 1108.'
Akashi mengeram saat panggilannya diputus secara sepihak oleh Haizaki. Jelas saja Akashi merasa jika dirinya sedang dipermainkan oleh mantan rekannya itu.
"Bagaimana?Kuroko sudah ditemukan?"
Manik crimson Akashi menatap lurus Kagami.
"Kau bawa motor?"
"Eh?Y-ya aku membawanya. Kenapa?"
"Ayo kita pergi ke suatu tempat!"
.
.
.
.
.
Kise menghela napas lelah saat mobilnya tiba-tiba mogok di tengah perjalanan seperti ini.
"Ahh, maafkan aku Kasamatsu-senpai! Aku sepertinya tidak bisa hadir ke tempat pemotretan. Mobilku tiba-tiba mogok-ssu!"
Teriakan membahana dari sambungan teleponnya mau tak mau membuat Kise menjauhkan ponselnya saat managernya sekaligus senpainya sewaktu SMU itu memarahinya.
'Dimana kau sekarang?!'
"Ah, kurasa aku berada di jalan di tengah hutan kota. Tepatnya di kilometer 40 dari pusat distrik-ssu!"
'Kau tunggu saja disana sampai aku datang! Mengerti?!'
"Ha'i!Ha'i!"
(TUT)
Kise menutup sambungan teleponnya dan memasuki mobil. Dia nampak gelisah karena jalanan begitu sangat sepi. Apalagi diluar gerimis mulai turun. Namun sebuah rumah tua yang tersembunyi dibalik pepohonan menyita perhatiannya.
"Huh, sebaiknya aku minta bantuan saja-ssu! Siapa tahu mereka bisa memperbaiki mobilku."
Sementara itu, Kuroko menatap awas sosok Haizaki yang kini sedang mengangkat telepon dari sesorang.
Dia sedikit bernafas lega saat dering telepon mengintrupsi pria itu ketika mata pisau baru saja menggores kulit lehernya.
"Ada apa kau menelponku?"
'Kau sudah membereskannya?'
Hanamiya melirik Kuroko yang masih menatap takut di bekangnya. Kini nampak sepotong lakban menutup mulutnya.
"Akan. Tapi kau menggangguku dengan menelponku." ujar Hanamiya diselingi dengusan kasar. Sementara Kuroko diam-diam mencoba melonggarkan ikatannya.
'Baiklah! Baiklah! Maaf telah mengganggu kesenanganmu! Tapi kau harus membereskannya segera karena Akashi sedang menuju ke tempatku. Setelah itu, larilah ke luar negeri. Aku akan menyusulmu jika semuanya sudah selesai.'
Tersenyum miring, Hanamiya mencoba sedikit mengulur-ulur waktu.
"Ah, bagaimana ya? Aku masih betah tinggal di Jepang. Lagi pula Akashi tidak akan tahu jika diriku maupun dirimu tidak buka mulut. Kau juga belum membayar sepertiga dari yang kita sepakati."
'Aku pernah bilang kepadamu jika aku akan transfer sisanya setelah bocah sialan itu mati.'
"Oke. Kupegang janjimu. Malam ini bocah itu akan-"
BUK!
'Halo?! Hanamiya?! Kau mendengarku?!'
Hanamiya jatuh tersungkur dengan kepala bagian belakang yang berdarah. Kuroko berdiri dengan sebatang kayu balok di kedua tangannya. Wajahnya begitu pucat karena ketakutan. Tak mau membuang kesempatan emas, Kuroko lantas kabur mencari pintu keluar. Sementara Hanamiya mulai bangkit sambil memegangi kepalanya yang berlumuran darah.
"Anak sialan! Berani-beraninya dia- arrghh sial! Lihat saja kau pasti akan kutemukan."
.
.
.
.
Akashi memencet bel dengan tidak sabar. Sedangkan Kagami dia hanya berdiri mengamati betapa paniknya pria dengan surai merah itu. Dia rasa feeling-nya mengenai adanya perasaan spesial diantara Kuroko dan juga Akashi memang benar adanya.
Tak lama pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Haizaki. Dia menguap lebar seakan dia baru saja bangun dari tidur santainya.
"Oh! Kau cepat juga!" kata Haizaki denga senyum mengembang.
"Katakan dimana kau sembunyikan Tetsuya?!"
Akashi merangsek masuk dan langsung mencengram kerah kemeja Haizaki.
"Sudah kukatakan jika aku tidak tahu! Mungkin saja dia kabur karena sudah muak denganmu?"
"K-kau..."
"Akashi-san, tolong tenang lah! Akan rumit jika security datang dan mengusir kita diri sini." ujar Kagami menengangkan.
"Jika kau tidak percaya kepadaku, kau bisa lihat rekaman cctv yang ada di hotel ini. Jika hari ini aku belum pergi kemana pun."
Mendengar penjelasan Haizaki, cengkraman tangan Akashi terlepas. Dia memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Jika memang benar Kuroko kabur, kira-kira kemana anak itu pergi? Akashi mencoba berpikir jika Kuroko mungkin akan segera kembali. Tapi bagaimana jika tidak?
"Dia bisa saja kembali ke Tokyo? Atau mungkin dia ketempat seseorang tanpa sepengetahuanmu. Kau tahu, Kuroko itu anak yang polos. Kau tahu akibatnya jika kau memperlakukannya dengan berlebihan."
Melihat wajah kebingungan Akashi membuat Haizaki tak pelak tersenyum senang.
"Apa maksudmu?"
"Dia bukan orang menyimpang sepertimu. Kau bisa lihat sendiri jika Kuroko itu hanyalah seorang remaja lemah dan biasa saja. Mengapa kau begitu terobsesi dengannya? Apa namanya jika itu bukan menyimpang, huh?"
Kagami hanya bisa terdiam mencoba mencerna ucapan pria yang baru-baru ini dia ketahui sebagai sepupu Kuroko dari Akashi. Apa yang dimaksud pria bersurai kelabu itu dengan 'menyimpang'?
"Jangan mengada-ada! Kau sama sekali tidak mengerti!"
"Cih, aku lebih mengenal Kuroko dari pada dirimu. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini. Kita sudah impas. Aku dapat uang dan kau memiliki Kuroko. Setelah itu Kuroko sama sekali bukan urusanku. Jadi, semangatlah mencarinya!"
Kepalan tangan Akashi menguat saat Haizaki menutup pintunya dengan debuman keras. Emosinya sudah terbakar hingga ubun-ubun. Namun Kagami yang menyadarinya lekas menyeret pria itu pergi sebelum perang dingin terjadi.
.
.
.
.
Lari dan terus berlari. Kuroko bahkan tidak memikirkan kearah mana dia akan berlari. Tampilannya jauh dari kata baik-baik saja. Kakinya bahkan memar dan berdarah disana sini karena berulang kali terjatuh karena tersandung akar pohon.
Dia harus lari sejauh mungkin kalau tidak ingin nyawanya terancam.
Netra azure-nya menoleh kebelakang dan melihat Hanamiya nampak tertatih mengejarnya.
'Kumohon siapapun...'
Berlari sekuat tenaga, akhirnya Kuroko sampai di sebuah jalan raya. Dia berharap ada mobil lewat dan bersedia memberinya tumpangan. Dan yeah, sebuah audi R8 berwarna dark blue datang dan berhenti di samping mobil Chevrolet Corvette Stingray berwarna kuning yang terparkir di sisi jalan.
Kuroko lantas menghampiri pria berkemeja biru dongker yang baru saja turun dari audi itu.
"Hah~ dimana Kise?! Si bodoh itu, sudah ku bilang untuk menungguku tapi dia malah menghilang." katanya sesaat setelah dia melongok mobil Kise yang ternyata tak berpenghuni.
Pria bernama Kasamatsu Yukio itu mendengus kasar. Tapi dia terkaget saat dia melihat sesosok remaja berlari tertatih-tatih menuju kearahnya.
"T-tolong aku!"
"E-eh?!" Kasamatsu celingukan mencari seseorang yang dimaksud anak itu selain dirinya. Namun tak ada seorang pun disana kecuali dirinya. "Hei, k-kau kenapa?Tenanglah, aku bukan orang jahat." ujarnya saat melihat anak itu bergetar ketakutan.
Kuroko tak menjawab. Dia mencengkram kemeja Kasamatsu dengan erat.
"Sembunyikan aku. Onegaishimasu!"
Tak mau berpikir macam-macam, Kasamatsu langsung memasukan anak tak dikenalnya itu kedalam mobilnya. Dan melaju meninggalkan tempat itu untuk sementara.
"Hei kau baik-baik saja?" tanyanya saat melihat tubuh remaja itu nampak bergetar entah karena kedinginan atau ketakutan. Kasamatsu mengambil jaketnya dan memberikannya kepada Kuroko yang masih terdiam di sampingnya. Apakah remaja itu seorang korban penculikan? Melihat betapa kacaunya penampilan remaja itu pasti dia sangat ketakutan. Persetan dengan Kise saat ini. Dia bisa menjemput model asuhannya itu nanti.
"Arigatou. Ano..."
"Kasamatsu Yukio. Hei, kutanya apa kau baik-baik saja?"
"Umm." Kuroko mengangguk. Dan Kasamatsu bernafas lega sekarang. Tapi... jika remaja itu kabur dari penculik, artinya penculik itu masih di sana kan? Lalu Kise...
Kuroko terkaget saat tiba-tiba pria di sampingnya membanting kemudi untuk berbalik ke tempat semula.
"Maaf. Setelah melihatmu begini aku jadi kepikiran dengan orang bodoh yang kutinggal disana. Kita akan kembali kesana."
Kasamatsu tersenyum saat melihat kedua manik azure remaja itu nampak membulat. Mungkin dia begitu trauma dan tidak mau pergi ke tempat itu lagi.
"Tenang saja! Kita akan segera pergi kalau temanku sudah kujemput. Dan kau bisa ceritakan apa yang terjadi kepadamu."
.
.
.
.
.
Akashi menunduk lemas di lobby hotel. Setelah dia bertanya kepada resepsionis hotel itu, mereka membenarkan jika seharian ini Haizaki sama sekali tidak meninggalkan kamar hotel.
"Akashi-san..."
Manik crimson Akashi menatap Kagami yang berdiri di depannya dengan tatapan datar. Nampak sekali jika sorot mata pria crimson itu terlihat kosong.
"Kuroko itu sangat penting bagimu ya?"
"Sangat penting. Sampai-sampai aku tak bisa memalingkan barang satu inchi pun pandanganku darinya."
"Jadi pria itu menjual Kuroko kepadamu?"
"Hmm. Kenapa? Kau mau menghujatku karena ini?"
"Tidak!Tidak!" Kagami melambaikan telapak tangannya bak mengusir lalat. "Aku hanya kaget kalau di jaman maju seperti ini masih ada penjualan manusia seperti itu. Kuroko pasti sangat sedih karenanya."
Akashi terkekeh mendengar perkataan Kagami yang menurutnya sangat lucu.
"Yah kurasa karena itu Tetsuya kabur dariku."
"Akashi-san! Percayalah Kuroko bukan orang semacam itu. Mungkin dia diculik- tunggu! Apa kau tidak berpikir mungkin saja Kuroko itu diculik?"
"Apa?"
"Kalau orang yang bernama Haizaki itu disini, mungkin saja dia menyuruh orang untuk menculik Kuroko dan menyembunyikannya di suatu tempat?Tapi apa iya, kupikir karena dia sepupunya maka..."
Tak butuh waktu lama untuk Akashi menyadari maksud perkataan Kagami. Jika Haizaki saja tega menjual Kuroko, kenapa tidak dengan membunuhnya?
Untuk apa?
Namun belum menemukan jawaban dari pertanyaan di benaknya, tiba-tiba dering ponsel Akashi mengalihkan perhatiannya.
"Kise?"
.
.
.
.
.
.
"Kurokocchi, tenanglah. Kau aman bersamaku-ssu!"
"Kise-kun kau memelukku terlalu erat."
TWITCH!
"Hentikan itu baka!" Kasamatsu mengomel saat melihat model asuhannya malah nampak tak merasa berdosa sama sekali karena telah merepotkannya. Untunglah saat mobilnya kembali, Kise sudah berada di pinggir jalan dan mengeluh tentang betapa lamanya Kasamatsu menjemput dirinya. Kise bahkan bercerita jika dia menghampiri bangunan tua yang Kise kira adalah rumah hantu yang ternyata tempat disekapnya Kuroko. Awalnya model dengan surai emas itu kaget mendapati Kuroko dalam keadaan kacau balau di mobil managernya. Tapi setelah Kuroko menceritakan apa yang menimpanya, Kise lekas menghubungi Akashi lewat ponselnya. Dan Akashi tak berkata apa-apa lagi dan segera menutup telponnya.
"Aku sangat berhutang budi kepada kalian. Arigatou gozaimashita."
"Sebagai balasannya, bagaimana jika Kurokocchi cium aku saja-ssu!"
"Apa kau ingin segera mati?!"
"Ha'i! Aku akan meregang nyawa tepat dua detik setelah aku melakukannya. Kasamatsu-senpai kau begitu kejam padaku-ssu!"
"Sudahlah! Lebih baik kita lapor polisi agar penculik itu bisa segera ditangkap."
"Sou! Sou! Akan sangat berbahaya jika penculik itu dibiarkan berkeliaran-ssu."
"Aku tidak ingin merepotkan Akashi-kun."
Kasamatsu menghela nafas lelah. Dia harus menyiapkan telinganya besok karena dia yakin pihak agensi akan mengomel kepadanya.
"Hah~ aku akan menelpon pihak agensi jika pemotretan kali ini dibatalkan saja. Kita akan pergi ke rumah sakit. Anak ini butuh perawatan. Hari ini benar-benar dipenuhi kejutan buatku." ujar Kasamatsu sembari memijit keningnya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Tapi aku sudah menghubungi Akashicchi. Sebentar lagi dia akan smpai. Tapi apa Kasamatsu-senpai tahu tentang orang yang bernama Hanamiya Makoto? Kurasa aku dulu pernah mendengarnya di suatu tempat-ssu."
"Sebaiknya jangan sekali-kali berurusan langsung dengannya lagi." jawab Kasamatsu. Dia menatap lurus kearah Kuroko yang juga menatap bingung ke arahnya.
"Dari awal, pertemuanmu dengan Akashi adalah suatu kesalahan. Akan lebih baik jika kau pergi dari daerah ini dengan segera. Aku yakin orang itu tidak akan melepaskanmu dengan begitu mudah."
"Apa yang-"
"TETSUYA!"
Pelukan erat di tubuh Kuroko membuat remaja tanggung itu terpaku. Dia bahkan tidak menyadari jika kini manik crimson itu begitu sangat dekat dengannya. Bahkan Kuroko seperti bisa mendengar detak jantungnya sendiri saat Akashi menatapnya dengan sangat lekat.
"Kau tidak apa-apa?Kau-"
Tenggorokoan Akashi terasa tercekat saat melihat kaki Kuroko terlihat banyak memar hingga berdarah. Apalagi ada luka sayatan kecil di leher Kuroko yang membuat emosinya tiba-tiba meluap tak terkendali.
"Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Akashi berang. Nada bicaranya berubah dingin dengan seketika. Kuroko hanya menatap pria itu dalam diam. Dia sedikit melirik Kasamatsu yang terlihat acuh tak acuh dengan kehadiran Akashi dan tetap disibukan dengan ponselnya.
"Akashi-kun, sebaiknya kita lupakan saja-"
"BAGAIMANA BISA?!" Manik crimson Akashi menatap tajam Kuroko yang terlihat shock karena tiba-tiba Akashi membentaknya dengan kasar.
"Akashicchi, tenanglah!"
Kise memegang bahu sahabatnya dengan pelan. Dia tidak tahu jika Akashi bisa keluar dari karakter dingin dan tenangnya.
"-aku bahkan hampir gila karena kau tiba-tiba menghilang. Dan sekarang, aku harus melihatmu dengan keadaan seperti ini? Bagaimana bisa aku melupakannya?"
"Hei dari pada kau memarahinya, bukankah lebih baik kita antar dia ke rumah sakit dan beri dia pertolongan?"
Jika bukan dalam keadaan genting, mungkin Kise akan bersorak takjub dengan keberanian managernya itu.
"Akashicchi, aku setuju dengan Kasamatsu-senpai. Kurokocchi harus ditolong terlebih dahulu-ssu!"
Akashi menarik nafasnya panjang-panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia berusahan meredam amarahnya yang tidak terkontrol itu.
"Gomen." ujarnya dengan perasaan kalut.
.
.
.
Netra azure Kuroko terus menatap tangannya yang gemetaran. Kilasan bayang-bayang dia memukul orang yang bernama Hanamiya Makoto itu terus-terusan melintas di kepalanya. Seaakan kilasan itu telah menjadi mimpi buruk untuknya. Dia tahu jika orang sama sekali tidak mati. Hanya saja, ini pertama kalinya dia melukai seseorang.
SREEEKK...
Pintu geser yang membatasi taman belakang dan dalam rumah terbuka, menampilkan sosok Akashi dengan kemeja merah dan celana hitam. Wajah pria itu nampak sangat kacau dan kalut.
"Tetsuya..."
Kuroko diam saja. Dia masih terpaku memantap tanganya yang sudah memucat terkena udara dingin.
"Apa orang itu baik-baik saja?"
Melangkah cepat, Akashi benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Dia mencengkram bahu Kuroko dengan kencang dan memaksa remaja itu untuk menatapnya.
"Setelah semua yang terjadi kepadamu, sekarang kau malah memikirkan keadaannya? Kau bahkan tidak memikirkan betapa khawatirnya diriku?!"
Kuroko tersenyum kecut. Dia bahkan membuat Akashi khawatir.
"Ini pertama kalinya aku melukai seseorang. Aku tidak ada bedanya dengan dia."
"Yang kau lakukan sudah benar! Aku bahkan lebih buruk dari pada dirimu. Katakan padaku siapa yang membuatmu seperti ini?!"
Manik azure Kuroko bergulir menatap daun maple yang jatuh ke tepi kolam. Dia merasa khawatir jika Akashi mengetahui siapa yang menculiknya, mungkin saja Akashi akan melakukan hal gila yang tak pernah terpikir olehnya.
"Katakan padaku, Tetsuya!"
"Dari pada itu, aku ingin bertanya satu hal kepada Akashi-kun."
'Dari awal, pertemuanmu dengan Akashi adalah sebuah kesalahan'
"Pertemuan kita apakah sebuah kesalahan?"
Cengkraman Akashi mengendur. Manik crimson miliknya menatap nanar sosok rapuh di depannya.
"A-apa maksudmu?"
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
