Perjanjian Hati

Remake Story

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Eunhyuk, Lee Jinki, (Kim) Cho Key / Kibum, etc.

Disclaimer: Cerita milik Santhy Agatha, aku mengubah beberapa adegan, nama latar tempat dan nama tokoh.

Warning: Genderswitch for uke

Happy reading

-o0o-

Senja bergayut berganti malam

Begitupun rasa hatiku padamu

Kau yang selalu ada, kau yang terbiasa ada

Tiba-tiba kusadari, aku takut kalau kau tak ada si sampingku

Aku takut kehilanganmu

Wahai kau, sosok yang perasaanku padamu yang tidak terdeskripsikan oleh hatiku...

-o0o-

Eunhyuk tertegun. Menyadari kebenaran kata-kata Kyuhyun. Benar juga. Dari awal alasan utama mereka menikah adalah demi menjaga perasaan eomma Kyuhyun, sekarang sang eomma sudah tiada, tidak ada lagi alasan yang membuat mereka harus menikah. Tapi Eunhyuk teringat pada Key yang mempercayakan Kyuhyun padanya, kepada Jinki yang akhirnya mempercayai kalau Eunhyuk dan Kyuhyun saling mencintai, dan kepada ibunya yang begitu berbahagia karena Eunhyuk akhirnya bisa menyembuhkan luka hatinya dan bertemu dengan jodohnya.

Bagaimana perasaan mereka semua kalau menyadari bahwa Eunhyuk dan Kyuhyun telah membohongi mereka?

Kyuhyun berdehem pelan, menggugah Eunhyuk dari lamunannya. "Tetapi tentu saja kita tidak bisa gegabah mengakhiri pernikahan ini." Kyuhyun menatap Eunhyuk dalam-dalam, "selain karena pernikahan ini baru sebentar, kita juga harus bisa memberikan alasan yang tepat kepada keluarga kita kenapa kita berpisah, jadi sementara ini mungkin kita harus bertoleransi dan melanjutkan sandiwara pernikahan ini, kau tidak keberatan kan Eunhyuk-ah?"

Eunhyuk tercenung, sebenarnya melanjutkan sandiwara pernikahan ini terasa sangat memberatkan, tetapi membayangkan bercerai di usia pernikahan yang masih sangat muda, belum lagi menjelaskan kepada semuanya terasa begitu berat. Eunhyuk juga yakin bahwa berpura-pura melanjutkan pernikahan ini adalah yang terbaik.

"Ya... mungkin kita bisa menjalani seperti ini dulu sampai kita bisa menemukan alasan dan waktu yang tepat untuk berpisah."

Kyuhyun menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum miring

"Lagipula kita sepertinya nyaman menjalani pernikahan ini." Senyumnya berubah menggoda, "aku takut tiba-tiba kita sudah menjalani bertahun-tahun dan tetap belum menemukan alasan untuk berpisah, hmmm bagaimana kalau kita jalani pernikahan yang sesungguhnya saja?"

Eunhyuk membelalakkan mata dan menatap Kyuhyun dengan marah.

"Hentikan candaanmu itu."

"Aku tidak bercanda." Senyum Kyuhyun berubah sensual, "kupikir aku cukup bisa menerima memiliki istri sepertimu, dalam hal sebenarnya."

Wajah Eunhyuk menjadi merah padam ketika berhasil mencerna kata-kata Kyuhyun, lelaki ini benar-benar kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Kalau memang Eunhyuk memiliki impian tentang seorang suami, pasti dia bukan tipe lelaki seperti Kyuhyun!

"Gaun baru untukmu sudah datang." Kyuhyun yang sedang membaca buku di atas ranjang mengedikkan bahunya ke arah gaun biru keemasan yang digantungkan di lemari, "cobalah."

Eunhyuk yang baru memasuki kamar mengernyit bingung. Gaun baru? untuk apa? Hari ini sudah hampir tiga minggu setelah kematian eomma Kyuhyun. Semula semua terasa berat bagi mereka di rumah ini. Key masih sering menangis terisak-isak sendirian, untunglah Jinki sering mengunjunginya dan menguatkannya, hingga bisa membuatnya mulai bisa tersenyum dan tertawa sedikit.

Sementara Kyuhyun... Kyuhyun masih tetap sama, selain kerapuhannya yang ditunjukkan pada Eunhyuk malam itu, Kyuhyun luar biasa dingin dan kaku. Masih mengenakan topeng yang sama, topeng datar dan tanpa emosi miliknya.

"Kau lupa?" Kyuhyun terkekeh. "Besok kan hari pernikahan mantan kekasihmu."

Changmin? Besok hari pernikahan Changmin? Tiba-tiba dada Eunhyuk terasa nyeri, dia memang sudah hampir bisa melupakan Changmin, melupakan rasa sakitnya akibat ditinggalkan Changmin dan melupakan perasaan cintanya yang dulu tumbuh begitu subur pada Changmin, tetapi entah kenapa kesadaran bahwa Changmin mengikat dirinya pada perempuan lain, dan mengetahui bahwa Changmin tidak bahagia membuat dadanya terasa sesak.

Kyuhyun menatap Eunhyuk dan mengernyit, "kau sudah tidak lagi mencintai orang pengecut itu kan?" tanyanya menyelidik. "Atau jangan-jangan kau masih cinta?"

Eunhyuk menggelengkan kepalanya dengan tegas, "tidak... aku sudah tidak..."

"Kalau kau masih cinta berarti kau gadis bodoh."

"Aku sudah tidak cinta dia lagi, tapi kau harusnya mengerti perasaanku, bertahun lamanya aku hidup dengan kesadaran bahwa aku mencintainya, harusnya kau mengerti bagaimana rasanya ketika menyadari perasaan sesak ketika mantan kekasih akan menikah."

"Tidak, aku tidak mengerti." Jawab Kyuhyun tegas, "begitu aku dikhianati oleh kekasihku, maka dia sama saja sudah mati. Begitupun perasaanku padanya, mati. Jadi aku tidak merasakan apapun." Lelaki itu menutup buku yang dibacanya, dan mengatur posisi tidurnya, "selamat tidur."

Eunhyuk termenung di sisi ranjang yang berlawanan dan menatap punggung kaku Kyuhyun yang membelakanginya. Dia hampir lupa, lelaki ini juga memendam kesakitan yang pedih karena pengkhianatan. Dan hal itu membuatnya menjadi keras. Tetapi Eunhyuk sendiri saksinya bahwa Kyuhyun masih menyimpan kerapuhan yang disembunyikannya, jauh di dalam hatinya.

Eunhyuk menyadari gerakan di sampingnya meskipun dia masih setengah terlelap, sepertinya masih dini hari karena kamar itu masih temaram dan terasa begitu dingin, tetapi kemudian lengan hangat dan kuat itu merengkuhnya, memeluknya erat-erat.

Lengan itu terasa asing sekaligus akrab, dan membuat Eunhyuk nyaman, dalam tidurnya dia mendesak dan menempel pada tubuh hangat itu, menikmati eratnya dekapan yang merengkuhnya, membuainya kembali ke alam mimpi.

"Eunhyuk-ah."

Itu suara Kyuhyun, tetapi entah kenapa terdengar lebih serak. Apakah Eunhyuk sedang bermimpi?

Dengan meyakini bahwa dia sedang ada di dalam mimpi, Eunhyuk bergelung makin merapat ke tubuh hangat itu. Mendesakkan tubuh lembutnya ke tubuh keras itu.

"Eunhyuk-ah, jangan sayang." Suara Kyuhyun kali ini terdengar tersiksa, tubuhnya terasa kaku dan tegang di tubuh Eunhyuk yang menempel padanya. Suara Kyuhyun yang terakhir itu membuat sepercik kesadaran Eunhyuk kembali, dia membuka matanya. "Ada apa?"

Lalu Eunhyuk memekik ketika menyadari posisi tubuhnya, dalam usahanya mencari kehangatan, dia sudah menempel lengket seperti koala yang melingkari pohonnya pada Kyuhyun. Pahanya melingkari tungkai dan pinggul Kyuhyun tanpa malu-malu, lengannya memeluk dada dan punggung Kyuhyun, sementara kepalanya bersandar tanpa permisi di dada lelaki itu. Dalam detik yang sama Eunhyuk langsung melepaskan pelukannya dan setengah melompat, menjauh menuju seberang ranjang yang paling ujung.

Kyuhyun menghela napas panjang, seolah dilepaskan dari ketegangan yang menyiksanya. Lalu menatap Eunhyuk dengan marah.

"Kalau kau tidak mau aku terangsang dan berbuat yang tidak senonoh, jangan menempel-nempel padaku di atas ranjang!" geramnya parau, lalu menarik selimut sampai dada dan membalikkan badan memunggungi Eunhyuk yang berbaring dengan muka panas dan merah padam.

Untunglah pagi hari ketika Eunhyuk terbangun, Kyuhyun sudah tidak ada di ranjangnya, kalau tidak Eunhyuk tidak akan tahu bagaimana dia bisa menghadapi Kyuhyun.

Wajahnya terasa panas ketika mengingat kejadian semalam. Astaga, bagaimana bisa dia menempel begitu erat pada Kyuhyun? Malam-malam sebelumnya dia tidak pernah melakukannya. Apakah memang karena hawa dingin, ataukah karena dorongan untuk mencari kenyamanan yang sepertinya disediakan oleh tubuh Kyuhyun?

Eunhyuk mendengus, kenyamanan yang disediakan oleh tubuh Kyuhyun? Apakah dia buta? Yang bisa disediakan oleh Kyuhyun adalah rasa tidak nyaman, dan masalah. Dia harus ingat itu baik-baik setiap malam sebelum mereka tidur agar kejadian memalukan semalam tidak terulang lagi.

Setelah selesai mandi, Eunhyuk melangkah menuju lemari dan melihat gaun itu, gaun biru keemasan yang dibelikan oleh Kyuhyun, dia mengernyit lagi, gaun untuk datang ke pernikahan Changmin.

Pernikahan Changmin. Apa kabarnya lelaki itu? Lelaki yang pernah dicintainya? Sejak kejadian ancaman bunuh diri Changmin di jembatan waktu itu, Changmin tidak pernah menghubunginya lagi, mungkin karena ancaman dari Kyuhyun waktu itu, mungkin pula akhirnya Changmin menyadari bahwa antara dirinya dan Eunhyuk sudah tidak ada harapan lagi.

Semoga pernikahan ini membuat Changmin bahagia, akhirnya Eunhyuk bisa mengucapkan doa itu dengan tulus, dan membuat hatinya terasa lega. Ternyata ketika hatinya bisa melepaskan dan memaafkan, bisa membuat perasaannya terasa ringan.

Di usapnya gaun sutera itu dengan kagum, menyadari keindahan setiap serat gaun itu, ini pasti mahal. Dahi Eunhyuk berkerut, dan ini dibelikan oleh Kyuhyun.

"Kenapa kau belum memakai gaunmu? Kita berangkat satu jam lagi."

Kyuhyun tiba-tiba masuk tanpa permisi, membuat Eunhyuk terkesiap kaget dan hampir menjatuhkan gaun itu dari tangannya. Lelaki itu berdiri di depan pintu, sudah mengenakan kemeja biru senada dengan gaun Eunhyuk, dan celana resmi, tetapi belum mengenakan jasnya.

"Satu jam lagi?" Eunhyuk melirik jam emas antik di atas meja di samping ranjang, tanpa sadar semburat merah muncul di pipinya melihat Kyuhyun. Ingatannya melayang tanpa ampun ke kejadian semalam.

Kyuhyun mengangkat alisnya, menyadari semburat merah di pipi Eunhyuk, lalu tersenyum menggoda.

"Ya, satu jam lagi kita berangkat, bersiaplah." Suaranya merendah, "lain kali kalau kau ingin membelitku seperti ular di atas ranjang, peringatkan aku dulu."

Dan lelaki itu lalu melangkah pergi meninggalkan Eunhyuk berdiri di sana dengan wajah merah padam dan perasaan campur aduk antara malu dan marah.

Ketika Eunhyuk menuruni tangga, Jinki ternyata baru saja datang di rumah itu, bersama Key. Jinki memang selalu datang menemani Key sejak kematian eomma Kyuhyun, untuk mengiburnya.

Mata Key langsung berbinar-binar ketika melihat Eunhyuk,

"Wow, Eunhyuk eonni, eonni cantik sekali!", dia berdiri dan menatap Eunhyuk dengan bersemangat. "Eonni tidak pernah berdandan sih ya, jadi sekalinya berdandan membuat orang terkagum-kagum." Pujinya lagi, membuat pipi Eunhyuk memerah.

Key mengernyitkan alisnya ke arah ruang kerja Kyuhyun, "dimana Kyuhyun oppa, tadi katanya mau buru-buru berangkat biar bisa cepat pulang lagi, sekarang malah menenggelamkan diri di ruang kerjanya." Key mengedipkan matanya pada Eunhyuk. "Tunggu sebentar Eunhyuk eonni, akan aku seret Kyuhyun oppa dari sana." Lalu Key melangkah memasuki ruang kerja Kyuhyun.

Jinki ikut-ikutan berdiri dan tersenyum mengagumi Eunhyuk. "Kau cantik sekali noona."

Eunhyuk meringis geli, "Jangan kau juga ikut-ikutan memujiku, aku jadi malu."

Jinki terkekeh, "tapi kau memang benar-benar cantik, dan gaun itu sangat cocok untukmu, kata Key, Kyuhyun hyung khusus memesankannya untukmu." Jinki tersenyum lembut, "mulanya aku cukup cemas dengan pernikahan kalian. Tetapi makin hari aku makin yakin, kau bahagia noona. Itu yang terpenting."

Eunhyuk memalingkan kepalanya, tidak mampu menatap Jinki, takut kebohongannya akan tercermin di matanya. Adiknya ini begitu mempercayainya, dan dia membohonginya. Semoga ketika semuanya terkuak nanti, Jinki bisa memahami dan tak marah padanya.

Pada saat itu pintu ruang kerja Kyuhyun terbuka, dan lelaki itu keluar diikuti Key. Sejenak Kyuhyun tertegun mengamati Eunhyuk, lalu tersenyum.

"Gaun itu cocok untukmu." Gumamnya tenang. Diiringi dengan Key dan Jinki yang saling melemparkan pandangan penuh arti, membuat pipi Eunhyuk memerah.

Seperti yang diduga, ini adalah pesta pernikahan yang mewah. Jantung Eunhyuk terasa berdegup kencang ketika melangkah memasuki gedung ini. Dekorasinya sangat indah, dan kemudian perasaan itu menyergapnya lagi, perasaan yang menyadarkannya bahwa dia sedang menghadiri pesta pernikahan Changmin.

Changmin. Lelaki itu berdiri di sana, dengan Hyojin di sebelahnya. Keduanya tampak megah dalam balutan busana bernuansa emas. Lalu keluarga Changmin, ibunya dan semuanya yang dulu sempat mengenal Eunhyuk melihatnya, kemudian berbisik-bisik dan menatapnya dengan penuh spekulasi.

Jantung Eunhyuk berdenyut lagi, lebih kencang. Mampukah dia naik ke sana dan memberi selamat untuk Changmin dengan tegar, di bawah tatapan mata tajam seluruh keluarga Changmin?

Kyuhyun seolah-olah menyadari perasaan Eunhyuk yang campur aduk, dia mengencangkan genggamannya di jemari Eunhyuk, dan berbisik lembut. "Kau datang kesini bersamaku, aku suamimu. Dan aku adalah laki-laki yang seratus kali lebih baik dari mantan kekasihmu yang sedang bersanding di pelaminan itu. Jadi tegakkan dagumu, tunjukkan kebanggaanmu. Kau tidak rugi ditinggalkan olehnya, dia yang rugi karena kehilanganmu. Tunjukkan betapa berharganya dirimu pada Changmin dan betapa berharganya dirimu, karena kau adalah istriku."

Bisikan Kyuhyun itu, meskipun begitu penuh kesombongan dan arogansi, mampu menghilangkan kegugupannya. Kyuhyun benar, dia tidak seharusnya takut ataupun gugup atas pandangan menilai ibu dan keluarga Changmin. Dia datang ke sini bersama Kyuhyun, suaminya. Dan Kyuhyun mendukung sepenuhnya Eunhyuk untuk memamerkan kebanggaan dirinya, karena ternyata mampu berujung lebih baik dari Changmin.

Kyuhyun tersenyum melihat perubahan ekspresi Eunhyuk.

"Bagus, ayo istriku, kita memberi selamat pada mantan kekasihmu yang tidak beruntung itu."

Lelaki itu menghela Eunhyuk dengan lembut menaiki panggung tempat Changmin dan Hyojin berdiri. Kyuhyun yang melangkah duluan dan menjabat tangan Changmin dengan senyum mengejeknya yang menjengkelkan.

"Selamat." Gumamnya dengan suara tegas, lalu menghela Eunhyuk mendekat. "Kemari sayang, kita harus memberi selamat kepada pasangan ini." Suaranya berubah mesra.

Eunhyuk mendekat, dan menjabat tangan Changmin. Dia merasakan genggaman yang berbeda, dan Changmin menatapnya dengan tatapan tersiksa. Tapi Eunhyuk menguatkan diri. Ini jalan yang dipilih Changmin dan Eunhyuk sudah memilih jalan yang berbeda jauh.

"Selamat Changmin-ssi. Selamat Hyojin-ssi." Suaranya terdengar tegas, kuat, dan tulus. Menjabat tangan Changmin yang terlihat sedih dan Hyojin yang tersenyum kaku.

Kemudian mereka berhadapan dengan eomma Changmin. Dan seketika ingatan itu berkelebat di benak Eunhyuk, ingatan ketika Changmin memperkenalkannya ke ibunya. Eunhyuk yang lugu waktu itu mengulurkan tangannya. Dan ibu Changmin hanya menatap jemarinya dengan angkuh, lalu memalingkan mukanya dengan mencemooh, tak mau membalas uluran tangannya dan membuat Eunhyuk harus menarik tangannya mundur pelan-pelan dengan penuh rasa malu.

Kali ini, ibunya Changmin menatap Kyuhyun dan Eunhyuk dengan gugup.

"Lee Eunhyuk tidak kusangka bertemu lagi denganmu di sini." Suara ibu Changmin bernada ramah yang dibuat-buat. Lalu tanpa di sangka wanita itu mengulurkan tangan padanya. "Dan sekarang kau adalah istri tuan Kyuhyun, kami sekeluarga belum mengucapkan selamat, selamat ya."

Godaan untuk menolak uluran tangan itu dan membalaskan kesakitannya di masa lalu sangatlah besar, tetapi Eunhyuk sadar, dia akan tampak kekanak-kanakan kalau melakukannya, lagi pula situasi ini sudah merupakan pembalasan tidak langsung untuk Changmin dan ibunya. Disambutnya uluran tangan itu lembut.

"Terima kasih." Gumamnya pelan dalam senyum.

Kyuhyun menatapnya, memahaminya dalam senyum pengertian. Lalu setelah basa-basi sejenak yang kaku, Kyuhyun berpamitan dan mengajak Eunhyuk keluar dari gedung dan acara penikahan yang menyesakkan napas itu,

Mereka berjalan bergandengan, melangkah menuju mobil Kyuhyun, lelaki itu masih menggandeng tangannya erat.

"Senang?" tanyanya dalam senyum memahami.

Eunhyuk terdiam sejenak, berusaha menelaah perasaannya, kemudian menemukan rasa ringan yang membuatnya tenang. Ternyata yang diperlukan hanyalah menghadapi masa lalunya dengan berani, lalu melepaskan semua beban itu. Perasaan sedih yang menggelanyutinya selama ini sudah tiada, dan rasanya menyenangkan. Dia mendongak, menatap Kyuhyun dan tersenyum,

"Ya, senang sekali." Senyumnya bertambah lebar, "terima kasih Kyuhyun-ah."

Lelaki itu terkekeh dan menganggukkan kepalanya,

"Sama-sama Eunhyuk-ah."

"Selamat ulang tahun."

Eunhyuk mengerjapkan matanya, dan menemukan Kyuhyun masih terbaring di ranjang, bertumpu pada sikunya dan miring menghadap Eunhyuk.

Lelaki itu tampak luar biasa tampan bahkan ketika bangun tidur. Seakan-akan rambut kusut dan penampilan acak-acakannya malah menambah pesonanya bukannya mengurangi. Jauh berbeda dengan Eunhyuk, dia sama sekali tidak yakin penampilan bangun tidurnya bisa mempesona.

Tetapi hal itu sama sekali tidak berpengaruh pada Kyuhyun rupanya, lelaki itu tetap tersenyum dan menatapnya dengan pandangan berbinar-binar.

"Selamat ulang tahun." Lelaki itu mengulang, seakan tidak yakin ucapannya yang pertama tadi bisa dicerna oleh Eunhyuk.

Eunhyuk mengerjapkan matanya sekali lagi, menghitung tanggal dalam benaknya, dan menyadari bahwa sekarang memang hari ulang tahunnya.

"Terima kasih." Gumamnya tersenyum.

Kyuhyun terkekeh lalu bangkit dari ranjang, "Key memberitahuku kemarin, dia merencanakan sebuah pesta kecil-kecilan untukmu, hanya kita dan keluarga, liburan di tepi pantai."

Hari ini memang hari sabtu, tapi biasanya di hari sabtu pun Kyuhyun pergi bekerja.

"Apakah kau libur?", tanya Eunhyuk ragu.

Kyuhyun mengangkat bahu. "Pekerjaan bisa menunggu, lagi pula Key akan membunuhku kalau aku tidak bisa ikut. Kau tahu dia kemarin bersemangat melanjutkan yang dilakukan eomma, yaitu mempersiapkan acara resepsi pernikahan kita, dan setelah bujukan yang luar biasa akhirnya dia mau mengerti bahwa kita memilih tidak mengadakan resepsi apapun untuk menghormati eomma yang telah tiada, setidaknya menyiapkan acara liburan ulang tahunmu ini bisa menghiburnya."

Eunhyuk tersenyum dan mengangguk, Key benar-benar gadis yang tegar. Dia menghadapi kesedihannya dengan menjadi kuat dan bersemangat. Dan Eunhyuk sangat bersyukur kalau memang Jinki berjodoh dengan Key, dia akan menjadi istri yang hebat untuk Jinki.

Lalu pikiran itu tiba-tiba muncul di benak Eunhyuk.

"Kyu..." suara Eunhyuk yang serius menarik perhatian Kyuhyun, " Tentang pernikahan kita ini, bagaimana ke depannya nanti? Apakah kau sudah memikirkannya?"

Kyuhyun tercenung lalu mengangkat bahu, "terus terang aku tidak memikirkannya. Aku hanya menjalaninya, kau juga seperti itu kan? Lagi pula aku sedang tidak jatuh cinta dengan siapapun, dan kau juga tidak jatuh cinta pada siapapun. Jadi aku pikir kita bisa menjalankan pernikahan ini dengan biasa dulu."

"Kalau nanti kita jatuh cinta pada orang lain?" Eunhyuk tidak bisa menahan diri untuk bertanya,

Kyuhyun menghela napas, "maka kita tidak boleh saling menghalangi." Gumamnya parau.

Mereka berjalan meninggalkan makam eomma Kyuhyun dalam keheningan. Sebelum berangkat liburan ke pantai untuk merayakan ulang tahun Eunhyuk, mereka berkunjung ke makam untuk berdoa dan meletakkan bunga.

"Kyuhyun-ah!", suara itu memanggil dengan lembut dari sebuah sudut, dan membuat mereka semua menoleh.

Key yang pertama kali menghela napas, dia berdiri di sebelah Eunhyuk dan menepuk dahinya.

"Gawat." Desahnya pelan.

Eunhyuk menoleh dan menatap Key,

"Ada apa?"

"Itu Sohyun, mantan kekasih Kyuhyun oppa seorang model profesional, ya tidak bisa dibilang kekasih, dia selalu putus sambung dengan Kyuhyun oppa dan dia sangat terobsesi dengan Kyuhyun oppa, pada saat pernikahan kalian dia sedang ada di luar negeri jadi tidak tahu, mungkin dia baru pulang dan mendengar Kyuhyun oppa menikah, jadi dia menyusul ke sini." Key berbisik pelan pada Eunhyuk, "hati-eonni, dia tajam seperti racun."

Eunhyuk tiba-tiba merinding ngeri. Selama menjadi istri Kyuhyun, dia tahu banyak perempuan yang iri dan membencinya. Tatapan-tatapan permusuhan kadang diterimanya ketika Kyuhyun bersikap mesra padanya di depan umum. Tetapi belum pernah dia menghadapi kecemburuan secara frontal. Apalagi kecemburuan dari seorang mantan kekasih.

Sohyun berdiri di depan Kyuhyun dan Eunhyuk, perempuan itu tinggi dan cantik, sesuai dengan profesinya sebagai seorang model. Rambutnya panjang dan cokelat, dikuncir ke belakang dan membentuk ekor kuda yang indah di belakangnya. Pakaiannya begitu modis dan membungkus tubuhnya dengan seksi. Eunhyuk tiba-tiba memandang dirinya dengan gelisah ketika membandingkan dirinya dengan perempuan modis di depannya itu. Astaga, kalau begini selera Kyuhyun sebelumnya, pantas saja dia sama sekali tidak kesulitan menahan diri ketika tidur seranjang dengan Eunhyuk. Mantan kekasihnya ini begitu sensual, dan Eunhyuk hanya seperti anak kecil kalau dibandingkan dengannya.

"Hai Cho Kyuhyun, aku mendengar kabar mengejutkan kemarin ketika mendarat pulang, kau menikah."

Kyuhyun tampak tersenyum datar, "Kabar itu betul, kenalkan ini istriku, Eunhyuk."

Sohyun mengulurkan tangannya dan Eunhyuk membalasnya. Senyum Sohyun tampak sinis dan perempuan itu memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mengejek.

"Aku Sohyun." Gumamnya tak kalah mengejek, lalu seolah tak mempedulikan Eunhyuk, perempuan itu menoleh kembali pada Kyuhyun dengan merayu, "aku merindukanmu Kyuhyun-ah, kapan kita bisa bertemu lagi dan melepaskan rindu? Mungkin nanti malam kita bisa memesan makan malam privat di tempat biasa?"

Eunhyuk ternganga, kaget sekaligus marah. Perempuan ini benar-benar tidak peduli bahwa Kyuhyun sudah menikah dengan Eunhyuk! Bahkan dia terang-terangan meremehkan keberadaan Eunhyuk sebagai istri Kyuhyun dengan sengaja mengeluarkan rayuan sensual pada Kyuhyun, padahal Eunhyuk sedang berdiri di sebelahnya.

"Maaf." Eunhyuk bergumam sebelum Kyuhyun sempat berkata-kata. "Suamiku tidak punya waktu untukmu malam ini atau kapanpun, kami akan menghabiskan malam di pantai untuk merayakan ulang tahunku." Gumam Eunhyuk geram, lebih karena dipenuhi rasa terhina dan bukan cemburu.

Sohyun menatap Eunhyuk jengkel karena berani menjawab pertanyaannya yang ditujukan untuk Kyuhyun, tetapi dia lalu melemparkan pandangan sensual pada Kyuhyun menunjukkan kalau dia meremehkan jawaban dari Eunhyuk.

"Kalau begitu lain kali sayang. Aku yakin kau nanti ada waktu untukku, seperti biasanya." Bisiknya penuh arti

Kyuhyun yang dari tadi tampak geli dengan situasi ini mengangkat bahunya acuh tak acuh.

"Kau dengar sendiri istriku tadi Sohyun. Istriku memastikan bahwa aku tidak punya waktu untuk kegiatan bersama orang lain." Lelaki itu melirik menggoda pada Eunhyuk, membuat wajah Eunhyuk memerah.

Sohyun mengamati Kyuhyun dan Eunhyuk bergantian, menilai situasi. Lalu tersenyum sinis.

"Oke, aku tidak akan menyerah, lain kali aku akan mencoba lagi." Dengan anggun perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.

TBC