Ch 7 : Warm Spring In Winter
Terima kasih buat semua supportnya.. Please, keep your support for this beautiful couple..! ^^
Terima kasih buat Hajime-sama yang udah menciptakan sedikit kisah tersirat yang manis di anime Shingeki no Kyojin. Karena Petra-lah akhirnya saya bisa suka sama Levi.
Chapter kali ini akan ada sedikit pandangan. Ada satu nama agama yang masuk. Berhubung agama saya bukan agama yang dimaksud di sini, mohon maaf sebelumnya kalau ada kesalahan, ya.. #harapmaklum
Untuk ulang tahun Petra, kemarin di page Petra Ral ada yang tulis kalau ulang tahun Petra itu tanggal 14 Desember. Tapi berhubung udah terlanjur dipublish dan saya lebih suka Petra ada di naungan zodiak Pisces, akhirnya saya pilih Maret awal sebagai ulang tahunnya, hehehe.. Ini ngingetin saya sama temen saya di kampus yang punya zodiak Pisces. Dia cantik, anggun, manis, sederhana, pinter juga, dan ramah. Saya pikir itulah Petra yang saya lihat :')
Untuk ke-OOC-an, maaf pada semua fans yang merasa kalau ada karakter favoritnya yang akhirnya jadi OOC di sini. Sungguh, bukan maksud saya menyimpang dari takdir.. ==.==
#MissUPetraRall #Curhat
Review Section :
Petra Kindness Ral : Hwaa,, thank you buat pujiannya.. :') Sama banget.. Rivetra itu satu-satunya couple di anime yang bikin saya gemes, gak bisa makan, gak bisa tidur, ngerjain tugas pun kepikiran terus. Ujian kemarin aja saya sempet bengong mikirin Rivetra gara-gara liat fanart-nya di facebook. Feel banget liatnya.. :')
monkey D nico : thank you.. :D
Christy : Hwaa,, thank you sayang.. Inspirasinya dari lagu jadul Peabo Bryson dan doujinshi yang Shall We Dance kalau gak salah.. ^^
Ryuki : Oh iya, wah semoga dapet yang kayak Levi, ya. Iya sih, Levi kalau dipikir-pikir cool-nya kebangetan, kalau romantis pasti bikin perempuan pada terhanyut. Support terus couple ini, ya.. ^^
. : wah, thank you buat pujian sama fav-nya.. :) Wah, iya juga. Mungkin karena saya emang kepincut cintrongnya sama Jean jadi Levi-nya di sini kebawa tsundere.. ._. keep support Rivetra, ya.. ^^
Nakashima Aya : Hwaa,, Kurapica :3.. Sip..Sip.. ini kelanjutannya,, ^_^
-SPRING-
"Erwin?"
Yang dipanggil melirik ke arah samping, arah di mana seorang pria dengan raut wajah datar meliriknya dengan tatapan tajam. Yah, Erwin sudah terbiasa dengan tatapan itu.
"Berapa persen keberhasilan rencana ini?"
Erwin terdiam sejenak, memandangi kertas bergambar formasi pasukan yang baru saja ia selesaikan setelah tiga hari tiga malam ia tidak tidur.
"Selalu ada risiko, Levi. Untuk rencana ini, aku tidak tahu."
Suasana hening sejenak.
"Kita tidak punya waktu lagi. Jika dugaanku benar, akan sangat berbahaya jika kita membiarkan pengkhianat hidup tenang lebih lama. Ia akan tahu bagaimana cara menghabisi kita satu per satu."
Erwin menyeruput kopinya sedikit.
"Kehadiran Eren Jaeger sebagai titan di publik mampu memancing perhatian semua orang, termasuk mereka. Jika tidak ada Eren, aku akan menamakan rencana ini sebagai ajang bunuh diri massal, tapi keadaan berubah dan Eren ada di pihak kita. Kita sudah mendapat sedikit informasi –setidaknya- dari apa yang terjadi dengan Eren dan hasil penelitian Hanji selama ini. Lebih cepat kita mencoba, akan lebih cepat kita bebas."
Lawan bicara Erwin terdiam dan berdiri dari kursinya. "Baiklah. Aku harus pergi. Sampai nanti, Erwin."
Levi meninggalkan sang komandan di kamarnya sendirian. Sebenarnya ada sedikit keraguan dari dalam diri Levi pada rencana Erwin kali ini. Entahlah. Setelah sekian tahun bekerja sama, baru kali ini saja Levi merasa tidak tenang mengenai rencana yang sudah disusun partnernya itu.
Perasaan Levi tidak setenteram biasanya.
Malam itu Levi menyengajakan dirinya untuk berdiam diri di dekat sungai. Di malam yang sepi itu Levi memikirkan semua yang akan terlibat pada rencana Erwin kali ini. Bawahannya, sudah terlalu banyak yang gugur di lapangan. Levi tidak mau lagi melihat nyawa yang terenggut di depan matanya. Ditambah lagi, jika mereka mati tanpa tahu alasan mengapa mereka gugur. Siapapun, Levi tidak mau melihat siapapun mati sia-sia.
Terutama Petra.
Ingatan Levi kembali pada beberapa hari yang lalu, hari di mana Levi benar-benar sadar kalau Hanji adalah sahabatnya yang paling baik hingga saat ini..
Levi : "Ada apa, huh? Memanggil tengah malam begini."
Hanji : "Tumben, Levi? Biasanya kau yang datang padaku setiap malam untuk menceritakan gadis umat Pasukan Pengintai-mu itu." (memberi senyum hangat)
Levi : "Saat di mana bawahanmu memanggilku adalah saat di mana aku hampir saja mencium bibirnya. Entah kutukan atau terima kasih yang harus aku sanjungkan padamu sekarang." (Levi menyandarkan dirinya di kursi panjang di kamar Hanji).
Hanji tersenyum dan duduk di samping Levi.
Hanji : "Levi, aku membawakan sesuatu untukmu dari kota kemarin."
Hanji mengeluarkan satu kotak kecil yang terbuat dari kayu pinus. Ia menyodorkan kotak itu pada Levi dan pria itu menerimanya.
Levi : "Apa ini?"
Hanji : "Bukalah. Anggap saja itu kado ulang tahun dariku untukmu"
Levi yang penasaran membuka kotak itu pelan-pelan. Betapa terkejutnya Levi saat ia mengetahui kalau isi dari kotak itu adalah cincin, cincin perempuan dengan satu mata yang terbuat dari batu Aquamarine.
Levi : "Ini…apa?"
Hanji tersenyum memandangi Levi yang punya ekspresi terkejut dan penasaran kali ini.
Hanji : "Kau sadar tidak kalau kau banyak berubah? Semenjak kedatangan Petra?"
Levi terdiam tanda tidak mengerti.
Hanji : "Aku sudah beberapa tahun menjadi partnermu, Levi. Aku tahu benar kalau kau sudah berubah menjadi lebih baik hari demi hari. Kau semakin hangat. Yah, walaupun sifat kasar dan aroganmu itu masih belum bisa hilang. Mungkin karena kau terbiasa melihat Petra yang hangat kepada setiap orang. Karena itu, aku sangat mendukungmu untuk bersama dengan gadis itu. Dia juga gadis yang baik. Ini sudah berlalu beberapa tahun sejak gadis itu mengutarakan perasaannya kepadamu, Levi. Kau yang belum memberi jawaban sebenarnya berharap dia menyadarinya, bukan? Kurasa tanpa kau berusaha memperlihatkan perhatianmu padanya, dia akan tetap menyukaimu apa adanya. Sekarang, berterima kasihlah pada Eren karena ia datang dan kita memiliki banyak harapan untuk bisa bebas dari semuanya. Begitu misi ini selesai, mungkin kita sudah semakin dekat dengan kebebasan umat manusia. Saat itu, lamarlah dia dengan ini. Ia pasti akan sangat senang. Dia juga akan berulang tahun sebentar lagi, bukan?"
Levi menatap temannya tidak percaya.
Levi : "Hanji, kau gila. Lagipula, bagaimana bisa kau punya ide segila ini? Aku… aku belum siap melamarnya."
Hanji tersenyum gemas sambil menjitak Levi.
Hanji : "Cukup, Levi~! Begitu semua ini selesai, aku ingin melihat kalian bersanding di pelaminan! Aku sudah cukup sabar dan gemas melihatmu tanpa tindakan! Kau hanya bisa menyuruhnya membuatkan kopi dan membersihkan kamar! Jika aku jadi Petra, aku akan pergi mencari pria lain, kau tahuuuu?!"
Levi mengelus kepalanya yang baru saja dijitak.
Levi : "Tch. Iya iya… terima kasih"
Hanji tersenyum.
Hanji : "Kau beruntung, Levi. Gadis itu lebih memilihmu dibandingkan dengan semua pria yang menyukainya. Kau masih ingat Swadovski, bawahanku itu? Dia melukai tubuhnya tujuh kali dalam seminggu hanya untuk mendapatkan perhatian Petra. Kau, yang tidak bertindak apapun malah sudah mendapatkan perhatiannya. Harusnya kau bersyukur, Levi. Sekarang, untuk menunjukkan rasa syukurmu itu, perjuangkanlah cintamu itu! Masa kau kalah sama Auruo?!"
..
..
Levi merogoh sakunya dan mengambil sebuah kotak kecil dari sana. Ia membuka kotak itu dan memandangi sebuah benda kecil bertahtakan batu kelahiran Petra. Begitu indah dipandang malam itu bagi Levi. Cahaya yang dipancarkannya membuat Levi terpaku dan melupakan pikirannya sejenak. Pikirannya kini tertuju pada Petra, perempuan satu-satunya yang ia cintai.
'Bagaimana cara melamarnya, ya? Walau cincinnya sudah ada, tetap saja ini membingungkan,' gumamnya dalam hati.
"Heichou?"
Suara lembut itu mengalihkan Levi dari lamunannya. Ia menengok ke belakang dan mendapati gadis yang baru saja ia pikirkan berdiri di sana, tersenyum seperti biasa.
"Komandan Erwin mencari anda, heichou," ujarnya sambil tersenyum manis.
"Oh, baiklah."
Levi bangkit dari tempat ia duduk lalu ia berjalan kembali ke markas dengan Petra mengekor di belakangnya. Setelah beberapa lama berjalan..
"Petra?"
"Ya, heichou?"
"Kenapa jalan di belakang?"
Petra tampak tidak mengerti. "Eh?"
"Jalanlah di depanku. Jika kau jalan di belakang, aku tidak akan tahu apapun kalau ada sesuatu terjadi padamu."
"Baik, heichou." Petra mendahului sang kapten untuk berjalan lebih dulu.
Selama perjalanan menuju markas, punggung Petra menjadi satu-satunya pemandangan yang Levi nikmati. Punggung itu, ingin rasanya ia peluk.
Sepanjang perjalanan pula, Levi memikirkan amanat Hanji padanya yang paling mulia –melamar Petra-. Jujur, Levi masih belum yakin untuk melaksanakannya. Lagi-lagi, statusnya sebagai pemimpin membuatnya stres setengah mati.
Demi Sina, ia akan pensiun secepat mungkin ketika semua ini berakhir. Levi bahkan telah merancang kehidupannya yang indah dengan rumah sederhana di samping ladang gandum atau lavender dan ada sungai kecil tak jauh dari sana. Selesai memanen gandum, ia akan pulang ke rumah dan ada sambutan hangat dari sang istri, Petra Rall. Istrinya yang cantik akan memijatnya, menggosok punggungnya saat ia mandi dan memeluknya ketika malam datang.
Levi, prajurit terkuat umat manusia telah siap membina kehidupan indah nan halal pada waktu yang bahkan masih belum jelas kapan datangnya.
"Petra?"
"Hmm? Ya, heichou?" Petra masih berjalan di depannya sambil menengok ke belakang.
"Jika semua ini sudah selesai, apa yang mau kau lakukan? Menanam gandum atau lavender?"
"Hmm,, apa ya? Yang jelas, pasti aku akan kembali ke rumah dan membantu ayah dengan kedai kopinya. Ayah juga pernah bicara soal peternakan kuda. Mungkin akan bagus jika aku membantunya untuk membuka peternakan kuda."
Oh, Levi lupa kalau Petra masih punya ayah.
"Lalu..?"
"Hmmm,, entahlah. Memangnya kenapa, heichou?"
Levi terdiam sejenak. "Tidak apa-apa. Hanya bertanya."
"Heichou sendiri mau melakukan apa? Apa mau tetap di militer?" Petra mencoba mengubah situasi agar lebih akrab dan hangat.
"Entah. Mungkin aku akan mengejar apa yang aku mau."
"Memangnya apa, heichou?"
"Kau tidak perlu tahu. Ini bukan urusan anak ingusan sepertimu."
Petra cemberut mendengarnya. Ia kembali melihat ke depan dan berjalan dengan wajah sedikit tertekuk, agak sebal karena heichou menyebutnya masih ingusan.
Levi, di belakang Petra, masih memandangi punggung hangat nan mungil itu.
'Kau tidak perlu tahu sekarang, Petra. Aku lebih senang melihat matamu melebar karena apa yang hendak aku lakukan nanti. Aku tidak suka memberi jawaban, aku lebih suka menunjukkannya.'
Petra masih memandang ke depan. Tiba-tiba semilir angin membuat rambut kemerahannya berderai dan menyebarkan wangi khas rose ke sekeliling. Levi menjadi korban yang mendapat serangan pelumpuh syaraf itu. Wangi rambut Petra memang seperti heroin baginya. Dikombinasikan dengan punggung yang ia pandangi sekarang, wangi itu semakin membuatnya sulit untuk mengabaikan sang gadis.
'Petra, berapa anak yang ingin kau punya? Dua? Tiga? Empat? Aku ingin punya banyak. Aku ingin memberi dunia ini lebih banyak orang baik sepertimu. Jangan satu anak, karena dia akan menjadi anak manja dan menyebalkan nantinya. Tunggu aku, Petra. Begitu ini selesai, aku akan membuat penantianmu berakhir. Aku akan melamarmu.'
"Heichou…"
"Mmmh…?"
"A..aahh… hei-chou… ahh.."
"Ssstt… "
"Heichou,, sakiittt…"
Dengan cepat, bibir Levi resmi mengunci bibir Petra yang terus mengeluarkan suara. Sementara bibirnya bekerja, Levi melancarkan serangan cintanya pada Petra, begitu penuh dengan gairah dan hangat. Serasa ada oksigen baru yang menjalar di sekujur tubuhnya, Levi merasa lahir kembali saat ia berhasil menghirup habis wangi tubuh Petra dari sudut ke sudut. Rasanya bagai ada di surga ketika ia bisa merasakan manis kulit putih gadis itu yang tidak ditutupi sehelai benang pun. Terakhir, ia merasakan kebebasan saat dengan liarnya ia menjelajahi isi bibir putri Rall tanpa peduli ada yang melihat atau tidak. Untuk beberapa menit terakhir di ranjang, Levi lupa akan masalah dunianya yang begitu gelap dan dingin, penuh keputusasaan dan kewaspadaan tanpa henti.
Petra terus mengeluarkan suara favorit Levi. Tanpa ragu, Levi makin mempercepat serangannya. Seperti seekor serigala yang kelaparan, Levi membuat banyak tanda kemerahan di atas kanvas putihnya. Serigala itu masih sibuk membuat tanda ketika ia masih bekerja memberikan sebuah adegan klimaks. Yap, adegan yang paling menuntut kesabaran Petra karena ini merupakan pengalaman pertamanya.
Sial. Ekspresi di wajah Petra saat itu membuat Levi tidak bisa berhenti menumpahkan semua nafsu kasmarannya.
"Ini pertama kalinya, Petra?" tanya sang kapten sambil terus berusaha memberikan 'klimaks' pada Petra.
"Iya, hei-chou..." Petra masih beradaptasi dengan rasa ngilu pada salah satu bagian tubuhnya.
Levi menyeringai. "Huh, baguslah kalau begitu."
Pria itu semakin mempercepat gerakannya dan membuat Petra –secara otomatis- mengeluarkan suara yang lebih manis lagi bagi Levi. Ia bahkan hampir gila mendengarnya.
'Ohh,, Petraa,'
Di dunia nyata…
"Mmmhhh…. Petraaa~.. Ssshh,, aahhh~.."
"Levi?"
"Emhhh? Apa sayang? Kau mau lagi?"
"…Lev…?"
"Tch. Ekspresi di wajahmu itu, Petra. Selalu berhasil membuatku ketagihan menyiksamu seperti malam ini."
"Levi banguuunn!" seru seseorang yang berhasil membuka kedua mata Levi di pagi itu. Matanya masih menyipit terkena cahaya matahari dari jendela ketika ia menyadari kalau semua 'pergulatannya' hanya sebuah mimpi.
"Ha… Hanji? Cih. Apaan sih pagi-pagi begini?!"
'Eh, tunggu..'
'Kalau tadi itu mimpi, lalu ada Hanji disini, berarti….'
Mata Levi terbuka seluruhnya ketika ia menyadari bahwa ada kemungkinan besar Hanji melihat sisi 'gelapnya' sebelum ia bangun seperti sekarang. Di depan Levi, Hanji mesem-mesem girang dan menahan tawa.
"Erwin mencarimu, Levi…" Hanji bicara sambil terus berusaha menahan tawa.
"..Kau kenapa malah masuk tanpa ketuk pintu, shitty glasses?!"
"Ah, haruskah? Petra saja tidak dimarahi kalau ia masuk ke kamarmu tanpa mengetuk," balas Hanji.
Levi mengepal tangannya.
"Eitss.. nanti aku bilang ke Petra lho kalau kau baru saja mimpi basah dengannya~…." Hanji menggoda Levi.
"..Hanji, aku bersumpah jika kau.."
"Hahahaha…! Sudahlah, cepat bersiap. Erwin menunggu di ruang rapat. Jangan lupa sembunyikan dulu selimutnya. Nanti kalau ketahuan Petra selimutnya basah kan malu."
"Tch. Iya iya. Keluar sana!"
Hanji meninggalkan Levi di kamar itu sambil bersenandung girang.
"Tch. Sudah lima kali dalam sebulan ini."
"Jadi.. cerita bokep versi tadi malam bagaimana, Lev? Mau cerita?" Hanji menggoda dengan setengah berbisik ketika ia dan Levi berjalan berdua di lorong setelah selesai melakukan pertemuan dengan Erwin.
"Bukan urusanmu."
"Ayolah, Levi~.. empat mimpi sebelumnya telah membuatku terkejut dengan 'keganasan'mu. Sekarang, apa kau lebih lembut? Kau harus memperlakukan ia dengan lembut, Lev."
Levi terdiam memikirkan betapa ganasnya ia di mimpinya semalam. Bahkan cerita mesum itu mungkin lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Ayolah, Lev~.." Hanji terus merajuk.
"Tidak, Hanji."
"Ayolaaahh~…"
"Sudah kubilang tidak, mata empat!"
"Oh,, jadi sekarang kau mengejekku, huh? Baiklah, akan aku laporkan pada Petra! Ia pasti ada di istal!" Hanji segera berlari meninggalkan Levi untuk menuju istal, tempat semua kuda berada.
Levi melebarkan matanya. "Tck. Shitty Glasses…!"
Levi berlari mengejar Hanji yang sudah beberapa meter jauh di depannya. Masih di lorong, tiba-tiba Levi berhenti berlari ketika ia merasa ada satu ruangan yang selalu tertutup pintunya kini terbuka sedikit. Levi mengintip ke dalam ruangan itu dari celah pintu. Di sana, duduk seseorang yang ia kenal, sendirian.
Levi memutuskan untuk masuk ke sana. Ruangan itu cukup besar dengan banyak jendela patri di sisi kiri dan kanan dinding. Di atasnya ada lukisan seorang malaikat yang memenuhi langit-langit. Di depan matanya, Levi dapat melihat sebuah patung wanita besar dengan pakaian tertutup. Ruangan itu mungkin dijadikan sebagai tempat ibadah dulunya.
Terus berjalan membuat Levi sampai di samping gadis yang sedang duduk sendiri di tengah ruangan itu. Dari tempatnya berdiri, Levi melihat Petra memejamkan matanya. Begitu seriusnya ia berdoa dengan kedua tangan yang disatukan dan disimpan di depan wajahnya. Yang paling menyita perhatian Levi adalah sesuatu yang ada di tangan Petra, salib dari George.
Levi terdiam mendapati Petra sedang berdoa.
"Petra?" gumamnya tidak sadar.
Gadis itu membuka mata dan mendapati sang kapten ada di sana. "Eh? Pagi, heichou," ujarnya agak gugup.
Levi menatap Petra dengan tatapan datarnya. "Kau… kelompok relijius?"
Petra tersenyum agak canggung. "Hmm,, begitulah."
"Dulu kau bilang bukan?"
"Iya, sebenarnya ini baru berlangsung tiga bulan. Akhir-akhir ini saya merasa kurang tenteram, tidak tahu kenapa. Ketika melihat salib dari mendiang tunangan saya, saya ingat tentang dia."
'Tidak tenteram? Kenapa tidak datang padaku, saja?'
"Dia punya agama?"
Petra mengangguk.
"Dia penganut Katolik murni dan hidupnya sudah sulit sejak dulu. Orang tuanya dibunuh karena kedapatan berdoa dan dia hidup bersama neneknya yang sakit-sakitan sejak kecil. Yah, hidupnya memang tidak sempurna tapi ia selalu terlihat ceria. Saya selalu bertanya padanya dan dia bilang kalau Tuhan ada bersamanya. Sesulit apapun hidupnya, ia percaya Tuhan selalu ada untuknya. Ia selalu bilang pada saya : kalau kau sedih, ceritakan saja pada Tuhan ; kalau kau bahagia, bersyukurlah padaNya ; kalau kau sedang gelisah dan ketakutan, berdoalah padaNya supaya kau diberi ketenangan. Saya tidak pernah memeluk agama apapun sebelumnya, tapi George bilang kalau Tuhan itu akan menjaga semua orang, termasuk saya yang bahkan tidak termasuk dalam orang yang memeluk agamanya. Ketika akhir-akhir ini saya gelisah, entah mengapa saya ingat kata-kata George itu. Jadinya, selama tiga bulan ini saya mencoba mendalami agama George, walau saya belum yakin seratus persen."
Levi tidak tertarik pada cerita Petra. Sepanjang Petra bicara, Levi hanya memperhatikan bagaimana mimik gadis itu. Memang, Levi mendapati ada kegelisahan dan ketegaran di sana. Tidak mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh pun Levi sudah merasa patah hati nan cemburu pada mendiang tunangan perempuannya ini.
Levi mengarahkan tatapan matanya ke arah depan. Di sana ia melihat patung wanita yang tersenyum misterius. Percaya atau tidak, walaupun bagi Levi senyum itu terasa menakutkan, patung itu membuat banyak orang memiliki harapan dan keyakinan pada hidup mereka.
"Hmm, kurasa aku memang dilahirkan untuk tidak percaya hal-hal seperti itu," gumam Levi sambil terus memandangi patung.
Petra hanya tersenyum.
"Apa yang membuatmu gelisah, Petra?"
Petra terdiam sejenak memikirkan jawabannya. "Banyak, heichou. Entahlah."
'Kenapa kau tidak cerita padaku kalau kau sedang gelisah?'
"Jadi, kau berdoa apa pada Tuhanmu itu?"
Petra tersenyum seperti anak-anak. "Banyak sekali, heichou! Aku berdoa semoga dunia lebih damai dan tenteram agar semua manusia bisa hidup dengan tenang tanpa takut dengan titan. Aku juga berdoa mengenai ayahku agar dia selalu sehat dan berumur panjang dan semoga ia baik-baik saja selama aku tidak ada. Aku ingin Tuhan menjaganya di mana pun ia berada. Aku juga mendoakan ibu dan George agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik di dunia sana. Lalu, aku juga berdoa agar kita selalu diberi keselamatan dan kelancaran dalam setiap misi. Lalu… aku juga berharap pada ekspedisi selanjutnya tidak ada teman kita yang terbunuh. Aku juga meminta agar semua teman-teman kita yang telah gugur mendapatkan tempat yang layak di dunia sana dan untuk teman-teman kita yang masih hidup, semoga mereka diberi keberanian dan keyakinan yang lebih tinggi untuk berperang. Aku juga berharap mereka dilindungi setiap saat olehNya. Terus.. hmm,, apalagi, ya? Oh iya! Semoga Eren diberi kesabaran yang lebih karena situasi ia sebagai titan-manusia membuat ia ditakuti banyak orang. Aku harap Eren lebih tegar dalam menghadapi semuanya."
"…Eren? Kau pasti sangat menyukai Eren ya, Petra?" kembali, heichou tercinta jealous.
"Ah iya. Dia adik yang manis. Aku selalu ingin punya adik laki-laki."
Levi terdiam, berusaha menahan rasa cemburunya yang amat berlebihan.
'Apa kau berdoa agar aku membalas perasaanmu?'
"Lalu, apa doamu akan benar-benar dikabulkan?"
Petra terdiam cukup lama. "George bilang : kalau kita yakin dengan apa yang kita mau dan kita berusaha mendapatkannya, Tuhan akan mengabulkan doa kita. Tuhan selalu mendengar doa-doa kita dan aku percaya itu."
'Lalu, apakah kau berdoa agar kita berjodoh? Itu doa yang amat penting, Petra.'
Levi mengambil duduk di samping gadis itu. "Jadi, apa kau bisa tanyakan pada Tuhanmu mengenai teman-teman kita yang sudah meninggal? Apakah mereka menyesali kematian mereka atau tidak?"
Petra melirik Levi yang terlihat datar namun memiliki sedikit kegetiran di matanya.
"Kurasa itu tidak perlu, heichou. Semua prajurit yang aku temui adalah orang-orang pemberani. Aku yakin mereka tidak menyesal. Untuk masuk ke Pasukan Pengintai atau dunia militer, tentu mereka berfikir dulu mengenai semua konsekuensi dan tanggungjawabnya. Mereka yang gugur, pasti tahu apa tujuan mereka untuk bergabung di militer, bukan?"
Petra memandang ke langit-langit ruangan itu. "Dulu aku bahkan mempertanyakan kematian George. Aku selalu bertanya apakah dia memang senang berada di dunia sana? Yang terpenting, apakah dia meninggal dengan tanpa penyesalan? George begitu ingin membantu orang banyak, pergi untuk memanen garam yang pastinya akan bertemu dengan titan-titan di luar sana. Aku tidak habis pikir mengapa ia memilih jalan yang membuatnya pergi meninggalkan dunia ini. Seiring berjalannya waktu, aku mengerti kenapa. Aku harusnya sadar kalau George memiliki cita-cita yang luhur dan ia berkorban untuk mendapatkannya. Jika pikiran itu tidak cukup, aku selalu mencari pandangan yang positif bahwa George adalah orang yang baik. Orang yang baik akan disayang oleh Tuhan. Itu sebabnya Tuhan memanggil George, Ia tidak ingin George menderita di dunia terlalu lama, baik karena penyakitnya maupun karena dunia yang kejam ini."
Levi memperhatikan Petra tanpa berkedip sekali pun. Ia tidak menyangka kalau Petra masih mengingat kekasihnya yang dulu.
"Aku rasa teman-teman kita juga begitu, mereka disayang oleh Tuhan. Mereka juga memiliki cita-cita yang mulia untuk membebaskan umat manusia dan berusaha untuk membuat itu terjadi dengan bertaruh nyawa melawan titan. Aku yakin mereka tidak akan menyesal. Aku juga begitu. Jika suatu hari nanti aku mati, aku ingin mati saat bertarung. Aku tidak akan menyesal karena aku melakukan sesuatu untuk umat manusia. Heichou juga berfikiran seperti itu, kan?" Petra menatap Levi dengan wajah berseri-seri.
Levi, menaruh satu tangannya di atas kepala Petra dan mengusap rambut-rambut halus itu dengan lembut. Perlahan, ia mendorong tubuh Petra agar semakin dekat dengan tubuhnya kemudian memeluk gadis tercintanya itu dengan penuh kelembutan. "Tidak akan ada yang mati, Petra. Aku berjanji. Jangan berpikir begitu. Aku akan melindungimu-eh, tidak..maksudku pasukanku."
Sang gadis Rall merona di kedua pipi. Ia tersentuh melihat cara Levi menenangkan dirinya saat itu.
'Iya, heichou. Aku juga akan melindungi heichou..'
Hanji mencari keberadaan Levi yang beberapa menit lalu berlari mengejar dirinya. Saat ia melewati ruangan –yang diyakini sebagai gereja dulu- itu, Hanji mendapati sosok dua insan yang sebenarnya saling mencintai sedang duduk bersama dan berbincang dengan akrab.
Hanji tersenyum. Dengan perlahan, Hanji menutup pintu ruangan itu agar tidak ada anggota Pasukan Pengintai yang lain melihat mereka sedang bersama.
'Tidak ada yang boleh menganggu mereka,' batinnya.
'Walau heichou terlihat dingin diluar, aku yakin sebenarnya dia hangat di dalam.'
"Bagaimana, mau tidak?"
Levi terlihat berfikir, mempertimbangkan tawaran sahabat terbaiknya, Hanji Zoe.
"Apa tidak aneh?"
Hanji menggeleng cepat. "Aku sudah menyiapkan semua alasannya, Lev. Percayalah padaku. Bagaimana?"
Levi terdiam sejenak, masih agak ragu dengan Hanji. Toh, semua ide Hanji kebanyakan selalu berakhir buruk.
"Oke, baiklah."
Di tempat lain..
"Eh? Patroli?"
"Ya. Hanji ingin melihat reaksi tubuh titan Eren pada cuaca yang cukup dingin seperti sekarang. Ia hendak menguji seberapa kuat tubuh titan Eren pada suhu dingin. Gin dan Gunter akan membersihkan sel bawah tanah tempat Eren tidur. Untuk istalnya, tinggalkan saja. Biarkan Auruo yang mengurusnya. Kau siapkan saja Rosy dan Xena. Kita akan pergi sekitar lima menit lagi bersama Eren dan Hanji. Bagaimana?" Levi berusaha meyakinkan Petra agar gadis itu mau pergi bersamanya.
"Baiklah, heichou."
Keempat orang dari Pasukan Pengintai kini berkuda di sekitar HQ dengan Hanji dan Eren yang berkuda di depan Petra dan Levi. Setelah beberapa menit berkuda..
"Jadi, kita berpisah di sini saja, Levi?"
"Oke, kami tunggu kau di sini. Berhati-hatilah."
"Lho? Kapten, kita tidak bersama dengan mereka?" tanya Petra.
"Tidak. Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka. Hanji, kau bisa mengatasi segalanya, kan?"
Hanji tersenyum mantap. "Tentu saja. Kalian juga, jangan berbuat macam-macam, ya? Hehehe."
"Tch." Levi membuang tatapan matanya dan Petra hanya blushing.
"Nah, ayo Eren?" tanya Hanji pada Eren yang masih tidak mengerti situasi di sana.
"Baik, Hanji-san. Petra-san, Levi-heichou, kami pergi dulu," pamit Eren pada dua sejoli di dekatnya.
"Iya, Eren. Hati-hati, ya? Jangan lupa untuk makan bekalnya," ujar Petra pada Eren sambil melambaikan tangan.
Eren tersenyum dengan semburat tipis kemerahan di wajahnya lalu ia pergi bersama Hanji, menjauh dari Levi dan Petra.
"…Bekal?"
"Euhm." Petra mengangguk mantap. "Sebelum pergi tadi aku sempat membuatkannya bekal."
Levi terdiam. Lagi-lagi Eren mampu membuatnya merasa tersaingi.
"Baiklah, ayo kita patroli." Levi memacu kudanya ke arah barat untuk memulai 'patrolinya' bersama Petra.
Setelah beberapa menit mengitari sekitar HQ, Levi dan Petra akhirnya memutuskan untuk berdiam di bawah pohon rindang. Pohon itu cukup besar untuk melindungi mereka selagi beristirahat. Sementara mereka berteduh, mereka membiarkan Rosy dan Xena merumput di sekitar sana.
Suasana cukup aneh, mengingat Levi tidak begitu pandai membuka pembicaraan. Petra yang duduk di samping Levi pun bingung hendak bicara apa.
"Euhm, Petra? Kau yakin kau tidak menyukai Eren?"
"Hm? Maksudnya apa, heichou?"
"Tidak. Hanya saja, hati-hati. Gadis sipit yang selalu bersama dengannya bisa-bisa salah paham jika melihat kau dekat dengan Eren." Levi memandang ke arah lain. Ia tidak mau Petra melihat aura kecemburuan di wajahnya.
"Oh, Mikasa? Hehehe.. tidak akan, heichou. Kurasa Mikasa mengerti kalau aku menganggap Eren sebagai adiknya. Aku juga menganggap Mikasa sebagai adikku."
Levi melirik sedikit ke arah Petra. "Kalau Auruo?"
"Dia hanya teman, heichou." Petra tersenyum canggung.
"Hmm, begitu ya?"
Petra terdiam sejenak. Tiba-tiba ia ingat sesuatu.
"Oh iya, aku punya sesuatu untuk heichou." Petra mencoba meraih sesuatu dari balik saku jacketnya.
"Hnn?"
"Ah, ini dia." Petra menyerahkan satu kotak kecil berwarna merah muda pada Levi.
Levi menerima kotak itu dan memperhatikan semua sisinya. "Apa ini?"
Petra blushing, melirik ke arah lain. "Coklat, heichou."
Levi cukup terkejut. "Coklat?"
Petra mengangguk pelan. "Iya. Valentine memang masih lama, sih.. tapi, entah kenapa aku ingin menyerahkannya sekarang."
"Jadi… maksudmu, ini coklat valentine? Untukku?"
Petra mengangguk disertai senyum manisnya. Semburat kemerahan makin terlihat jelas di dua pipi kenyal perempuan itu.
Levi sangat tersentuh. "Apa Eren mendapatkannya juga?"
"Hmm? Tidak. Kalau soal Eren, aku takut dia salah paham." Petra menjawab sambil menunduk, disertai kemerahan yang amat sangat.
Levi sangat senang, sebenarnya. "Hhh~.. terima kasih, Petra."
Petra tersenyum sangat manis saat itu. "Sama-sama, heichou."
'Petra, bisakah kau berhenti membuatku tergila-gila padamu walau sehari saja? Bisakah kau berhenti tersenyum walau hanya semenit saja? Kau selalu berhasil membuatku merasa bodoh.'
Di lain tempat, tak jauh dari sana..
"Woi,, Hanji-san? Bukankah ini buruk? Memata-matai mereka seperti ini?" tanya Eren khawatir.
"Sudahlah Eren, nikmati saja. Jarang sekali kan kita bisa melihat Levi berduaan dengan Petra?" Hanji terus memperhatikan Rivetra yang jauh di depannya. Ia dan Eren bersembunyi di balik batu besar.
"Penelitiannya kapan, Hanji-san? Aku ada tugas membersihkan lapangan dari Levi-heichou. Kalau sampai kesorean nanti…"
"Ssssttt,, Eren, diamlah. Urusan penelitian nanti saja. Yang penting, sekarang memperhatikan mereka." Hanji dengan ekspresi fangirling-nya tidak mau mengalihkan perhatian dari momen Rivetra yang sedang berlangsung.
"Memangnya kenapa Hanji-san? Kenapa kita harus memata-matai mereka seperti sekarang?" Eren masih bingung.
"Eren, tidakkah kau lihat bagaimana manisnya mereka saat bersama? Aku harap Levi dapat mengatakan perasaannya pada gadis itu secepat mungkin."
"Eh? Maksudnya…?" Eren mulai mencium 'lampu hijau'.
Hanji mengangguk. "Benar. Levi sangat menyukai Petra. Hanya saja status Levi membuat ia tidak bisa berterus terang. Kau tahu lah. Imej seorang pemimpin yang dekat dengan bawahan kan sangat buruk. Selain itu, kau tahu kan bagaimana sulitnya Levi untuk bersikap manis?"
"Apa jangan-jangan.. penelitian titan di suhu dingin juga bohong?"
Hanji terlihat berfikir. "Hmmm,,, tidak juga sih. Sebenarnya penelitian itu memang harus aku kerjakan, tapi itu bisa dilakukan nanti. Sebenarnya, aku menggunakan alasan 'penelitian titan' agar kita berempat bisa keluar dan membiarkan mereka berdua bersama. Sulit sekali bagi Levi untuk mengajak Petra keluar, makanya.. kau mengerti, kan?"
Hanji, tanpa sadar telah membocorkan rahasia terbesar Levi. Entah apa yang akan terjadi jika Levi mengetahuinya.
"Oh, begitu ya?" Eren baru mengerti. Ia mengarahkan matanya untuk menatap ke depan. Pada pemandangannya, Eren memang melihat bagaimana akrabnya Levi dan Petra –walaupun Levi tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikitpun-. Ia juga ingat kata-kata Petra waktu itu kalau Levi adalah orang yang susah didekati. Yap, itu memang benar, tapi apa yang Eren dapatkan di hadapannya sekarang adalah : Petra bisa mendekati Levi dengan mudah.
Di matanya, Eren melihat dua orang yang sedang berbahagia.
"Jadi itu alasannya. Pantas saja heichou selalu menendangku setiap hari. Ia cemburu..," gumam Eren sambil tersenyum.
Petra melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Levi seperti biasa. Saat ia membuka pintu ruang itu, ia melihat Levi yang tertidur di atas meja kerjanya. Mejanya berantakan dengan kertas di sana-sini.
'Heichou pasti kelelahan,' gumam Petra dalam hati.
Petra menaruh nampan berisi kopi dan roti bakar di atas meja dekat pintu dan berjalan mengendap-endap menuju sang kopral.
Perempuan manis itu kini memandangi wajah pujaan hatinya.
'Ya Tuhan, dia sangat menawan. Bahkan ketika tidur sekalipun…,' batin Petra dalam hati.
Levi yang tertidur begitu pulas membuat Petra tidak tega untuk membangunkannya. Ia tahu prianya kelelahan dan tidur cukup adalah hal yang jarang sekali dilakukan.
Petra keluar dari ruang itu selama beberapa detik lalu kembali dengan satu helai selimut yang cukup tebal. Pelan-pelan, Petra menaruh selimut itu di punggung sang kapten, berusaha sebaik mungkin agar sang kapten tidak terganggu tidurnya.
Gadis Rall memandangi wajah sang kapten lagi. Ia tidak bisa menolaknya dan terus memuji betapa kharismatiknya sang pujaan hati. Perlahan, Petra mendekatkan wajahnya pada Levi lalu mendaratlah satu kecupan manis dari Petra di pelipis kiri Levi selama beberapa detik. Setelah itu, Petra kembali mengangkat wajahnya dan keluar dari ruangan itu.
Dari luar ruangan, Petra tersenyum memandangi Levi yang masih tertidur. Terakhir, ia menutup pintu ruangan itu pelan-pelan.
Tanpa Petra ketahui, Levi sebenarnya sudah terbangun sejak ia mencium aroma kopi yang datang bersama Petra saat pertama kali. Ia hanya berpura-pura tidur setelahnya, menunggu reaksi dari gadis itu saat melihatnya tertidur pulas. Akting Levi tidak sia-sia, toh dia mendapatkan satu kecupan manis dari nona Rall.
'Tch, dasar nona Rall. Tunggu pembalasanku, calon nyonya Rivaille,'
Di malam berikutnya, Petra kembali mengantarkan cemilan dan minuman hangat untuk Levi, sang kapten yang telah ia jadikan panutan selama lebih dari lima tahun. Saat ia sampai di ruangan hangat ala Rivaille, Petra menaruh nampan berisi cemilan itu persis di atas meja kerja Levi.
"Berhubung besok hari penting, hari ini tidak ada kopi ya, heichou? Hari ini aku sengaja membuatkan heichou teh chamomile agar heichou bisa tidur dengan baik malam ini," ujar Petra sambil memijit kedua bahu tegap Levi.
Levi terlihat biasa saja, tidak ada tanggapan atas kata-kata Petra tadi. Matanya masih menatap lurus kertas yang dipegangnya untuk dibaca, walau hatinya sedang memikirkan hal lain.
"Heichou, apa ada hal lain yang harus saya lakukan? Bagaimana dengan pedang heichou? Apa sudah diasah?" tanya Petra penuh perhatian.
Levi merasa sudah terlalu banyak diam yang ia lakukan. "Petra?"
"Ya, heichou?"
Levi meraih satu tangan Petra yang sedang bekerja memijat bahu tegangnya. Ia menggenggam tangan itu dengan kuat. Tatapannya masih ke arah meja. Petra agak bingung dengan heichounya. Tidak biasa bagi Petra untuk melihat Levi bersikap seperti ini.
"Ada yang harus aku bicarakan padamu, Petra," ujar Levi dengan nada bicara yang berat. Ekspresinya datar namun matanya penuh dengan kegetiran.
Petra blushing. "Apa itu, heichou?"
Levi terdiam sejenak, "pulanglah."
Petra agak terkejut saat mendengarnya. "Pu..lang? Apa maksud heichou?"
"Kau tidak usah ikut pada misi kali ini. Lebih baik kau pulang, Petra. Kau ikut saja misi selanjutnya," jawab Levi dengan tatapan yang masih sama.
"Kenapa, heichou?"
Levi terdiam dan genggaman tangannya pada tangan Petra mulai melemah.
"Ikuti saja kata-kataku. Anggap saja ini perintah. Aku tidak ingin kau ikut misi besok, terlalu berbahaya. Biar aku, Gunter, Erd, dan Auruo saja yang pergi besok."
Kali ini Petra yang terdiam menunduk.
"Kau mengerti? Sekarang kembalilah ke kamarmu. Jika kau tidak ingin pulang, maka tugasmu besok adalah membersihkan seluruh kastil." Levi bangkit dari kursinya dan sudah berniat untuk keluar dari area meja kerja. Sebelum ia sempat melangkah, tangan Petra telah bersarang di lengannya. Ia mencegah Levi untuk pergi dari situ.
"Kenapa heichou? Kenapa aku tidak boleh pergi? Apa karena aku lemah?" tanya Petra dengan nada bicara yang penuh kegetiran, seperti hendak menangis.
Levi tidak berani menatap ke Petra yang berdiri di belakangnya. Ia tidak akan tega jika harus melihat perempuan tercantik di hatinya itu. "Ya, kau lemah," jawab Levi pelan.
Saat Levi mencoba untuk melangkah, genggaman Petra kian menguat untuk mencegah sang kopral pergi dari sana. Ia belum puas dengan jawaban Levi.
"Benarkah itu, heichou? Lalu, jika aku lemah, kenapa kau membawaku pada misi ini sejak awal?"
Levi terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa heichou tidak percaya padaku?" kali ini air mata Petra telah menetes.
Levi membalikkan tubuhnya perlahan. Pelan-pelan juga ia melihat mata getir coklat kekuningan kekasih idamannya.
'Harus bagaimana lagi agar Petra mengerti,' pikirnya. 'Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, Petra. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri nantinya.'
Petra masih mengalirkan air matanya, menatap Levi dengan tatapan memohon-meminta jawaban.
"Apa yang kau lakukan? Mau melawan perintahku?" tanya Levi, berusaha bersikap ketus.
"Ya. Sekali saja, aku ingin mengabaikan perintah heichou. Aku ingin bergabung dengan misi besok. Aku ingin melindungi Eren dan lainnya.."
'Tch, Eren lagi. Kenapa selalu Eren atau George?! Kenapa tidak sekali saja kau memikirkan perasaanku padamu, Petra?!'
"Ini sudah keputusanku! Kau mau melawanku? Dasar gadis bodoh tidak berguna!" kali ini Levi berusaha berteriak pada eva mungil di hadapannya, berharap kali ini Petra akan mengiyakan perintah.
"Aku memang bodoh, heichou! Tapi kau yang pernah bilang padaku bahwa untuk menjadi seorang prajurit adalah determinasi dan keberanian yang terpenting! Aku punya keduanya dan mengapa aku tidak boleh ikut misi besok?" air mata Petra yang turun kian bertambah, membuat hati Levi semakin hancur.
"Misi besok hanya menjaga Eren lalu kita kembali pulang. Hanya misi tidak penting, Petra! Kau tidak perlu ikut!"
"Kenapa, heichou? Kenapa?!"
Levi terdiam. Sebenarnya ia ingin mengatakan jawaban yang sebenarnya : 'Aku mencintaimu, Petra. Aku tidak ingin kau terluka. Bahkan Erwin pun tidak bisa memastikan tingkat keberhasilan dari misi ini. Bagaimana bisa aku membiarkan orang baik yang aku sukai seperti dirimu masuk ke dalam rencana berbahaya ini?'
"Kenapa heichou membawaku ke dalam misi ini jika heichou tidak yakin dengan kemampuanku?! Sebenarnya apa yang heichou pikirkan?!"
'Karena aku mencintaimu, Petra. Aku ingin kau selalu ada di dekatku. Aku juga ingin terus dapat mengawasimu, menjagamu dari para pria nakal yang berusaha mengambilmu dariku. Kau memang kuat sebagai prajurit dan aku ingin terus melihatmu, itu alasanku.'
"Heichou yakin dengan kemampuanku, kan? Iya, kan? Tapi kenapa aku tidak boleh ikut besok? Aku ingin bertanggungjawab dengan tugasku, heichou. Itu saja."
Levi terdiam dengan tatapan ke arah tanah. Ia masih tidak sudi melihat mata madu Petra yang kini basah oleh air mata.
"Kau tetap tidak boleh, Petra."
Petra merasa putus asa. Kali ini tidak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Ia bingung hendak bicara apa untuk meyakinkan heichou-nya bahwa ia adalah orang yang siap bertempur dengan segala risiko yang mengerikan. Kali ini Petra menangis terisak-isak.
Levi mengangkat wajahnya dan melihat bagaimana sedihnya Petra saat itu. Sungguh, bukan pemandangan yang ingin Levi lihat saat ini. Ia mengambil sapu tangannya dan menghapus air mata kekasihnya dengan lembut. Petra tidak menggubris gerakan Levi itu, ia hanya terus menangis.
"Sudahlah. Kau jelek sekali saat menangis, tahu?" Levi masih berusaha bersikap kasar.
"Tidak apa-apa. Toh heichou memang tidak menyukaiku, kan? Jadi untuk apa aku peduli kalau aku jelek?" Petra menyahut sambil terus menangis.
"Tch."
Petra masih terus menangis dan membuat Levi semakin bingung.
"Ada ratusan orang yang ingin absen pada misi besok. Kau malah memaksa ingin ikut. Dasar aneh. Sama seperti Hanji."
"Aku hanya ingin menjalankan tanggungjawabku, heichou! Apa itu salah?"
"Pokoknya kau tetap tidak boleh pergi."
"Tidak mau! Aku mau pergi! Aku mau pergi! Aku mau menjaga Eren dan yang lain! Aku-"
Belum selesai Petra bicara, bibir Levi telah mengunci rapat bibir miliknya. Walau hanya sebentar, tapi kuncian dari Levi mampu membuat Petra lebih tenang. Wajah Petra merah padam dan ia jadi gugup. Kini Petra semakin dibuat gugup ketika satu tangan Levi mengusap lembut pipi merah Petra yang masih basah karena air mata.
"Dasar bawel. Dicium baru diam."
"Heichou, tolong izinkan aku untuk ikut misi besok, ya?" kali ini Petra meminta dengan lebih lembut. Ia masih malu dengan apa yang baru saja Levi lakukan padanya.
"Tidak boleh."
Petra tertunduk sejenak. Ia mengangkat kedua tangannya dan menggenggam tangan Levi yang ada di pipinya dengan kuat.
"Heichou, tolong. Izinkan aku untuk bergabung dengan yang lainnya besok. Aku ingin bertanggungjawab dalam tugasku, aku ingin melindungi Eren dan yang lain. Terlebih lagi.. aku ingin melindungi heichou."
Mata Levi melebar saat mendengarnya. Di depan matanya, ia melihat tekad kuat dari seorang Petra Rall, satu-satunya prajurit perempuan di pasukannya yang paling berani. Inilah salah satu alasan mengapa Levi begitu menggilai gadis Rall itu, ia berani.
"Tch. Baiklah, kau boleh ikut besok."
Kalimat terakhir Levi membuat Petra senang bukan kepalang. Refleks, ia memeluk pria di hadapannya.
"Terima kasih, heichou."
Levi membalas pelukan itu. Ia senang jika Petra tersenyum, tapi perasaannya tidak kian membaik. Perasaannya kini kian memburuk. Petra yang akan ikut bergabung dengan misi besok tentu akan menambah beban Levi. Ia harus menjaga kekasihnya itu, apapun yang terjadi.
'Aku mencintaimu, Petra Rall.'
