.

.

.

Meanie Married Life

.

.

.

Shopping time!

Mingyu menuruti permintaan Wonwoo yang minta dibelikan gaun. Saat keluar rumah, Mingyu melihat Youngbin sedang bermain di halaman rumahnya bersama Hwiyoung putranya.

"Hai Gyu, mau jalan?" sapa Youngbin basa basi.

"Iya hyung." Mingyu memanaskan mesin mobilnya lalu mendekati Hwiyoung yang asyik bermain remote control.

"Sepertinya Wonwoo sudah siap." Ucap Youngbin menyadarkan Mingyu yang ikut fokus pada mainan Hwiyoung. Mingyu langsung menoleh ke arah istrinya yang baru menutup pintu. Dengan cepat Mingyu menghampiri Wonwoo dan menggandeng mesra didepan Youngbin. Seperti biasa, ia membukakan pintu untuk Wonwoo persis didepan Youngbin. Mingyu sengaja bersikap mesra agar Youngbin tidak berani mengganggu istrinya yang dibilang mirip mantan pacarnya.

"Hyung, aku pergi dulu ya." Pamit Mingyu, Youngbin hanya tersenyum dan mengangguk melihatnya. Tak lupa Mingyu memberi klakson pada Youngbin lalu mobil Mingyu meninggalkan komplek perumahan.

"Kamu kenapa?" tanya Wonwoo bingung.

"Kenapa apanya sayang?"

"Itu ramah sekali dengan tetangga."

"Ya namanya juga tetangga, istrinya baik juga kan sama kamu?" Mingyu tersenyum, Wonwoo merasa bingung dengan sikap suaminya. Wonwoo masih ingat dengan jelas saat ia dilarang untuk tidak terlalu dekat dengan tetangganya. Tapi sekarang? Mingyu malah terlihat akrab dengan Youngbin.

.

.

Mingyu dan Wonwoo sudah di mall, masuk ke beberapa toko mencari gaun yang cocok dengan selera Wonwoo.

"Jangan terlalu lama sayang, nanti kamu lelah." Mingyu mengingatkan istrinya.

"Iya kalau ada yang cocok juga langsung diambil." Wonwoo berkeliling tangannya sibuk memilah pakaian.

Wonwoo mengambil gaun dan memperlihatkan pada suaminya.

"Jangan, terlalu terbuka."

"Jangan, itu terlalu ketat kasihan perut kamu."

"Jangan, warnanya terlalu mencolok."

"Jangan, itu terlalu pendek. Tubuh kamu tinggi, pilih gaun panjang."

"Jangan, bahannya terlalu tipis nanti kamu kedinginan."

Berbagai larangan yang keluar dari mulut Mingyu membuat Wonwoo kesal. Apa yang ditunjukkan selalu dikomentarin oleh Mingyu. "Sebenarnya yang mau pakai itu, aku atau kamu sih!"

Mingyu langsung diam melihat istrinya mengomel. "Maaf sayang, aku hanya khawatir sama kamu. Kamu milik aku yang paling berharga."

Sudah dari ujung sampai ujung mall mereka datangi setiap toko. "Ah sudahlah tidak usah beli gaun." Wonwoo sudah kesal rasanya.

"Ya katanya mau beli, apa cari toko lain?"

"Mau cari dimana lagi?" Wonwoo menatap suaminya dan terlihat dengan jelas kalau Mingyu juga tidak tahu harus membeli gaun dimana. Ia hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi dan taringnya. Wonwoo mencoba sabar dan menarik nafasnya.

"Beli baju tidur saja kalau begitu. Dan tidak ada protes lagi apa yang aku pilih."

"Oh baju tidur? Ya itu terserah kamu kan hanya aku yang melihatnya, aku sudah membayangkan betapa sexy-nya tubuh istriku dibalut lingerie dengan perut yang sudah membesar." Mingyu mengoceh sambil mengikuti istrinya berjalan. Mingyu sangat bersemangat.

.

.

Mingyu lama-lama bosan menemani istrinya, baru kali ini ia mengekor Wonwoo berkeliling. Api semangat yang sempat berkobar sekarang sudah padam menyisakan raut tampang sedih, bosan dari seorang Kim Mingyu. Dulu saat masih pacaran, Wonwoo biasa berbelanja dengan Jihoon sahabatnya. Saat bersama Mingyu sekedar window shopping saja atau beli barang yang memang sudah di incar.

"Sayang, masih lama?" Mingyu sudah tidak bersemangat, sudah 1.5 jam mereka berkutat di area pakaian wanita hamil.

"Sayang, bagus mana? Biru atau pink?" Wonwoo meminta pendapat.

"Biru saja warna kesukaan kamu."

"Tapi yang pink bagus."

"Ya sudah warna pink."

"Tapi yang biru lucu."

"Ya sudah ambil keduanya." Mingyu mulai kesal.

Wonwoo masih mengamati kedua pakaian yang ia pegang. Cukup lama ia berfikir mau ambil yang mana, Mingyu menunggu sampai bosan.

"Lho kok di taruh lagi sayang? Tidak jadi diambil?"

"Yang lain saja." Wonwoo mencari pakaian lain, Mingyu benar-benar sudah bosan. Wonwoo masih memilih-milih yang ia suka, Mingyu sudah menenteng shopping bag berisi berbagai baju dan celana hamil.

"Masih ada yang dibeli sayang?" Mingyu bertanya sambil menguap, ia sudah sangat bosan.

"Iya kita kesana."

"Sayang, aku tunggu ditempat lain ya." Mingyu menahan tangan istrinya.

"Tidak bisa! Nanti kalau aku kenapa-kenapa bagaimana? Kamu harus selalu didekat aku."

"Sayang, kamu mau minta apa aku belikan tapi tolong jangan bawa aku kesana ya."

"Ah ayo kesana!" Wonwoo menarik tangan suaminya dengan terpaksa Mingyu menurut, saat mereka berdebat beberapa orang sempat melihat dan diam-diam tertawa melihat pasangan suami istri itu.

"Nah disini ada bangku, kamu bisa duduk disini jangan kemana-mana awas kalau kabur." Wonwoo mengancam dan Mingyu hanya mengangguk lemah.

Mingyu hanya diam dan menurut sambil menunduk, Wonwoo terlihat bertanya pada seorang pramuniaga. Mingyu menunduk malu, beberapa orang yang lewat tersenyum melihat Mingyu.

"Kamu lihat? Dia lucu sekali."

"Kasihan sekali anak muda itu, tapi ia sangat tampan."

Berbagai komentar yang Mingyu dengar, ia hanya menunduk dan menutup wajahnya yang sudah memerah sambil menahan malu.

"Astaga, kenapa begini? Aku memang menyukai bentuknya. Tapi tidak begini juga." Mingyu mengumpat dalam hati, duduk seorang diri ditengah-tengah berbagai pakaian dalam wanita. Sebelah kanan dan kiri Mingyu duduk terpampang jelas berbagai warna dan merk bra yang di pajang. Sungguh, Mingyu ingin kabur saat itu juga.

Mingyu benar-benar bosan, ia mengangkat kepalanya langsung agak panik. Ia mencari istrinya diantara pakaian dalam. Nihil. Padahal beberapa saat yang lalu ia masih melihat istrinya sedang bertanya pada seorang pramuniaga.

"Maaf, istri saya kemana ya?" tanya Mingyu pada seorang pramuniaga. Yang ditanya hanya bingung, kaget dengan pria tampan didepannya. Lebih kaget lagi karena ada seorang pria di area pakaian dalam wanita. Mingyu pun juga bingung tadi istrinya bicara dengan pramuniaga yang mana. Mingyu tidak bisa menelepon karena ia memegang tas milik istrinya.

"Dia tingginya segini, rambutnya lurus panjang, pakai dress warna merah." Mingyu memberikan ciri-ciri Wonwoo, yang diajak bicara masih bingung, masih terpesona dengan wajah Mingyu.

"Oh nona itu, dia sedang di dalam mencoba beberapa bra." Jawab pramuniaga lain dan Mingyu yakin tadi istrinya bicara dengan dia. Tak lama Wonwoo keluar dari fitting room dan Mingyu bernafas lega.

"Sudah?" Mingyu mendekati Wonwoo.

"Oh, iya sudah hanya saja tadi aku kesulitan memakainya. Payudara aku sakit sekali." Wonwoo mengadu manja.

"Ya tidak usah dipakai kalau di rumah, pakainya kalau pergi saja." Saran Mingyu sambil berbisik dan Wonwoo mengangguk mengerti, memberikan bra pilihannya pada pramuniaga untuk dibuatkan bon.

Mereka mengantri berdua saat akan membayar, Wonwoo selalu menempel tidak mau lepas, ia melingkarkan tangan kirinya dibelakang pinggang suaminya. Begitu juga Mingyu melingkarkan tangan kanan dibelakang pinggang istrinya. Sesekali Mingyu memberikan kecupan di kepala istrinya membuat orang disekitarnya merasa risih melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Mingyu yang cuek dengan tingkahnya dan Wonwoo yang melirik sinis ke beberapa pasang mata yang melihat sambil mengusap perutnya. Mingyu membayar semua belanjaan yang sudah dipilih.

.

.

"Sayang, kaki aku pegal." Wonwoo merengek manja dan mengerucutkan bibirnya.

"Iya kita cari tempat duduk ya." Mingyu merangkul sambil mengusap kepala istrinya.

"Sayang, lapar…." Wonwoo mengusap perutnya masih terus merengek manja.

"Iya kita makan, mau makan apa?" Mingyu tersenyum gemas melihat istrinya yang manja.

"Itu ke situ, makan disitu." Wonwoo menunjuk sebuah restoran. Mingyu menuruti permintaan istrinya.

Mereka sampai di restoran, karena akhir pekan jadi penuh dimana-mana. Mingyu mengedarkan padangan mencari kursi kosong tapi hasilnya nihil keadaan sangat ramai.

"Sayang, penuh semua. Kaki aku sakit sekali." Wonwoo masih manja menarik-narik baju suaminya.

Mingyu tidak tega, istrinya sudah cemberut hampir mau menangis. Mingyu melihat orang yang di kenal, lalu melirik istrinya yang sudah memelas wajahnya.

"Ayo kita kesana." Mingyu menarik tangan istrinya menuju meja di pojok.

"Seok tolong pindah." Mingyu menggeser piring dengan makanan yang masih utuh didepan Seokmin.

"Hmmpph.." Seokmin kaget langsung tersedak saat sedang minum menatap Mingyu dengan tidak percaya, wajahnya agak pucat.

"Cepatlah." Mingyu menarik paksa Seokmin agar segera bangun dan pindah duduk disebelah seorang wanita. Seokmin menurut duduk di sebelah wanita yang semeja dengannya. Wanita itu menutup wajahnya malu-malu.

"Duduk sayang." Mingyu mempersilahkan duduk pada istrinya, Wonwoo langsung senang bisa duduk. Wajah Seokmin masih tegang, ia menendang kaki Mingyu. Mingyu memberi kode minta maaf sambil melirik Wonwoo.

"Oh hai Seokmin-ssi, maaf ya kakiku pegal sekali."

"Iya maaf ya mengganggu kalian, kasihan Wonwoo sedang hamil." Mingyu ikut berbasa basi.

"Oh ini siapa? Pacar?" tanya Wonwoo agak berbisik pada Seokmin. Mingyu tertawa geli melihat kedua orang di depannya.

"Hai noona. Maaf ya kalau kita ganggu acara makannya."

"Ehem, iya tidak apa Gyu."

"Oh, sepertinya aku pernah lihat dimana ya?" Wonwoo berfikir mengingat wajah wanita didepannya. "Ah, ini yang namanya Hong Jisoo ya? Aku benar kan sayang?"

"Iya sayang, dia Jisoo noona." Mingyu senyum-senyum, sementara Jisoo masih menunduk malu.

Seokmin dan Jisoo malu-malu kepergok sedang kencan. Tapi Mingyu dan Wonwoo tidak peduli, mereka sibuk melihat menu dan segera memesan. Selama menunggu, Wonwoo terus menempel tiduran di pundak suaminya. Tidak segan Mingyu selalu memberikan kecupan di puncak kepala istrinya sambil bercanda. Seokmin dan Jisoo bosan melihatnya. Lebih tepatnya risih dengan pemandangan didepannya yang selalu mengumbar kemesraan.

Jisoo dan Seokmin hanya membuang muka tidak mau melihat ke depan. Jisoo sampai mengibaskan rambutnya merasa panas padahal AC di restoran cukup dingin. Sementara Seokmin terkadang menunduk sambil menggaruk tengkuknya.

"Eh kalian dari mana saja?" tanya Mingyu basa basi.

"Habis nonton."

"Dari rumah."

Seokmin dan Jisoo jawab bebarengan tapi jawabannya tidak sama. Mingyu hanya tertawa melihatnya. Tak lama pesanan makanan datang, Wonwoo langsung makan dengan lahap. Mingyu tersenyum melihat istrinya selera makan.

"Sayang, tambah lagi." Wonwoo minta tambah pesan makan.

"Mau apa?"

"Itu seperti punya eonnie sepertinya enak." Wonwoo menunjuk makanan yang sedang di santap Jisoo.

"Oh ini chicken teriyaki." Jawab Jisoo. Mingyu langsung memanggil pelayan dan pesan makanan lagi. Seokmin diam-diam tertawa geli melihatnya. Wonwoo tidak peduli sedang ditertawakan, ia melanjutkan makan dan menghabiskan makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Saat makanan kedua datang, Wonwoo langsung makan lagi.

"Wonwoo selera sekali makannya, pasti bayinya sehat." Ucap Seokmin, Wonwoo hanya tersenyum mendengarnya, ia makan dengan sangat tenang dan lahap menghabiskan 2 porsi.

"Eonnie, kapan-kapan main ke rumah sama Seokmin." Ajak Wonwoo setelah ia menghabiskan makanannya.

"Oh iya Wonwoo." Jawab Jisoo sambil tersenyum ramah. Mingyu hanya tertawa geli dan Seokmin ikut tersenyum malu mendengar kalimat 'main ke rumah sama Seokmin.'

"Sudah makannya? Kita pulang ya, kamu harus istirahat." Mingyu mengusap kepala istrinya.

"Sayang, belikan crepes ya."

"Kamu masih lapar?" tanya Mingyu bingung.

"Untuk camilan di jalan. Ya belikan." Pinta Wonwoo manja.

"Iya kita beli ya." Mingyu menurut, Wonwoo sangat senang. Seokmin menahan geli, melihat Mingyu yang biasa memberi perintah saat dikantor berkebalikan saat dengan Wonwoo yang mau disuruh oleh istrinya. Mereka keluar dari restoran bersama.

"Habis belanja Gyu? Banyak sekali." Ledek Seokmin melirik belanjaan yang dipegang Mingyu.

"Ini punya nyonya Kim semua." Jawab Mingyu dan Wonwoo hanya menunduk malu.

"Nanti kamu juga mengalami." Ucap Jisoo.

"Eh?" Seokmin melirik Jisoo yang seolah memberi kode. Mingyu tertawa melirik ke arah Seokmin dan Jisoo yang masih terlihat malu-malu.

"Aku duluan ya, sampai jumpa hari senin." Pamit Mingyu dan Wonwoo dadah-dadah sambil tersenyum ke arah Seokmin dan Jisoo. Mingyu tak langsung pulang karena menuruti permintaan Wonwoo untuk beli crepes.

"Maksud noona apa ya tadi?" tanya Seokmim setelah Mingyu dan Wonwoo pergi.

"Tentu saja traktir aku belanja, aku tahu bonus kalian sudah cair kan?"

"Ooh itu, noona mau apa?"

"Tadi aku lihat ada koleksi tas baru, disana." Jisoo langsung berjalan tanpa minta persetujuan Seokmin.

"Aduh pilihannya pasti mahal, dia kan high class apa aku bisa menuruti keinginannya?" batin Seokmin tapi tetap menurut mengikuti sang gadis pujaan.

.

.

Wonwoo menunggu pesanan crepes dengan Mingyu, tak jauh dari mereka berdiri ada gerombolan remaja yang terlihat berisik memilih menu.

"Aku mau yang ini pakai nutella, Baek mau rasa apa?"

"Sama Lu, ini pakai pisang kan?"

"Ya Baek, kamu suka pisang? Ah, kenapa aku ditendang Yeol? Aku cuma tanya apa Baekhyun suka pisang?"

"Yak! Jangan ribut kalian berdua! Memang kenapa kalau aku suka pisang?" Baekhyun gadis mungil itu mengomel.

"Ya ya! Jangan ribut, jadi pesan tidak!" omel seorang pegawai.

"Sehun?" sapa Wonwoo melerai perdebatan remaja didepannya dan semuanya menoleh ke arah Wonwoo.

"Wonwoo noona! Apa kabar?" sapa Sehun ramah.

"Siapa?" tanya Luhan gadis mungil lainnya yg berdiri disebelah Sehun.

"Oh dia pemilik rumah yang tong sampahnya aku lukis, pilihannya sama seperti kesukaan kamu. Hello kitty."

"Sedang kencan ya?" ledek Wonwoo membuat Sehun tersenyum simpul.

"Ooh noona yang rumahnya sebelah tante 'kue' ya?" Sapa Chanyeol ke arah Wonwoo.

"Issh, namanya tante Seokjin bukan tante 'kue'. Kapan-kapan kalian main nanti dibuatkan kue."

"Aku takut nanti ada perang dunia lagi, aku jadi ke perumahan lain untuk tugasku." jawab Chanyeol.

"Ya! Kalau ada kue gratisan mau saja. Kapan-kapan kita main boleh kan?" tanya Baekhyun.

"Tentu saja, tidak di larang. Orangnya baik kok, dia suka tanya kemana murid yang janji mau gambar tong sampah rumahnya."

"Aku ikut juga!" ucap Luhan tak mau kalah.

Mingyu hanya diam melihat keakraban Wonwoo dengan anak-anak sekolah.

"Ya ya lihat! Jongin kirim foto di grup! Dimana dia?" ucap Chanyeol memperlihatkan ponsel pada teman-temannya.

"Ah itu ada grand opening toko di perempatan sana!" ucap Baekhyun.

"Wah disana bagi-bagi es krim. Ayo kesana!" ajak Chanyeol.

"Es krim gratis? Ayo ayo kesana!" Baekhyun bersemangat menarik tangan Chanyeol.

"Ikut! Ayo kesana!" Luhan tak kalah semangat langsung menggandeng tangan Sehun.

"Ini crepesnya tidak jadi beli?" tanya Sehun.

"Sudah, kita susul sekarang Jongin dan Kyungsoo disana! Nanti keburu habis es krimnya." Ajak Chanyeol. Dan mereka berempat langsung pergi setelah pamit pada Wonwoo. Mingyu dan Wonwoo hanya menggelengkan kepala melihat 2 pasang remaja itu pergi.

Pesanan crepes Wonwoo sudah jadi dan Mingyu membayarnya.

"Sayang, aku mau es krim."

"Es krim? Ini juga belum dimakan." Mingyu mengacungkan bungkusan crepes yang masih hangat.

"Tapi aku mau es krim. Ayo kesana ada es krim gratis."

"Ya ampun sayang, aku masih mampu belikan es krim jangan seperti mereka. Mereka masih anak-anak, uang jajannya terbatas jadi wajar kalau ada gratisan."

"Tapi aku mau es krim juga. Yang gratisan lebih enak."

"Jangan, nanti batuk."

"Tapi mau es krim."

"Aku belikan yogurt saja ya, tidak es krim apalagi yang gratisan." Mingyu tetap menolak, Wonwoo masih bergelayut manja sambil berjalan.

"Sayang, Papa Kim Mingyu yang paling tampan. Mama Kim Wonwoo mau es krim. Ayo!"

Mingyu hanya menarik nafas, sudah cukup seharian menuruti permintaan istrinya.

"Mama Kim Wonwoo yang paling cantik dengar ya, jangan membantah sama suami kamu Kim Mingyu ya. Oke?"

"Tapi mau es krim." Wonwoo terus membujuk dengan puppy eyes andalannya, Mingyu mengalah lagi.

"Iya tapi beli disini saja ya. Yang gratisan untuk anak-anak sekolah itu."

Wonwoo mengangguk senang sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya, Mingyu merangkul sambil mengusap kepala istrinya. Tangan sebelahnya sudah penuh dengan tentengan belanjaan. Mata Wonwoo berbinar senang melihat berbagai rasa es krim yang di pajang, ia langsung memesan 1 cup ukuran sedang dengan 2 rasa cokelat dan vanilla, dimakan berdua dengan Wonwoo menyuapi Mingyu sambil berjalan menuju tempat parkir.

.

.


.

.

"Lihat! Cantik kan?" Sanghyuk memamerkan cincin berliannya pada Seokjin dan Wonwoo di siang hari, di rumah Wonwoo. Seokjin dan Sanghyuk membawa anaknya, Hwiyoung bermain dengan Kookie di karpet bulu ruang keluarga.

"Kalian sudah baikan?" tanya Seokjin penasaran karena raut wajah Sanghyuk terlihat berseri-seri.

"Iya, appa-nya Hwiyoung membelikan cincin dan ia meminta maaf padaku." Sanghyuk senyum malu-malu sambil memainkan cincin barunya.

Wonwoo dan Seokjin saling tatap, Seokjin melirik dengan sebal ke arah Sanghyuk. Wonwoo hanya menarik nafas melihatnya.

"Oh, Wonwoo apa jenis kelamin anakmu sudah kelihatan?" Seokjin mengalihkan perhatian.

"Belum eonnie, kemarin saat periksa belum terlihat tapi dokter bilang mereka baik-baik saja." Wonwoo mengusap perutnya dan tersenyum senang.

"Yeobo, aku lagi di rumah Wonwoo. Oh sudah mau pulang? Iya, aku siap-siap sekarang."

Wonwoo dan Seokjin hanya melirik ke Sanghyuk yang habis terima telepon dari suaminya. Sanghyuk terus tersenyum.

"Wonwoo, aku pamit ya. Appa-nya Hwiyoung mengajak ke acara kantor. Aku dan Hwiyoung mau siap-siap. Eonnie, aku duluan ya." Sanghyuk mengajak Hwiyoung pulang.

Wonwoo dan Seokjin hanya terdiam melihat Sanghyuk pulang bersama Hwiyoung.

...

"Apa-apaan dia? Appa-nya Hwiyoung? Hah! Kamu ingat Wonwoo-ya saat ia menangis dia menyebut nama suaminya tapi sekarang dia bilang 'appa-nya Hwiyoung? Dasar gila!" Seokjin sangat kesal langsung mengomel setelah Sanghyuk pulang dari rumah Wonwoo. Sementara Wonwoo hanya diam tak menyangka baru beberapa hari tetangganya akur apa sebentar lagi akan terjadi perang?

"Ah aku pamit juga Wonwoo, Kookie harus tidur siang." Seokjin menggandeng putrinya dan Wonwoo mengantar sampai pintu.

Hening. Wonwoo sendiri lagi dirumahnya, ia membereskan gelas bekas minuman tetangga dan anak mereka. Masuk ke kamarnya dan menyalakan AC.

"Papaaaaaaaaaaa….. !"

"Kenapa sayang? Ada apa? Ada yang sakit? Sebelah mana?" Mingyu panik karena mendengar Wonwoo berteriak sambil menangis.

"Papaaaaaa belikan cincin berlian!"

"Cincin? Kenapa tiba-tiba minta cincin sayang? Dedek bayi minta cincin? Kok aneh? Biasanya kamu minta makanan."

"Mau cincin berlian papaaaaaaaaaaa…." Wonwoo makin kencang menangis.

"Iya sayang, nanti beli ya. Sudah sekarang berhenti menangis ya."

"Janji?"

"Iya janji sayang."

"Ya sudah, aku mau tidur dulu. Dadah papa." Wonwoo memutus sambungan telepon dan memeluk bantal hamil, langsung tidur siang. Sementara diseberang sana Mingyu hanya terdiam dan bingung sambil mencerna permintaan istrinya di siang hari.

.

.


.

.

Esoknya In Seong menjemput Wonwoo dirumahnya untuk menemani fitting gaun pengantin. Sanghyuk melihat dari halaman rumahnya saat mobil sedan mewah berhenti didepan rumah Wonwoo.

In Seong sempat saling pandang dengan Sanghyuk ketika keluar dari mobil.

"Eonnie!" teriak Wonwoo keluar dari rumah menyadarkan In Seong ketika sedang melihat Sanghyuk.

"Oh, sudah siap?" In Seong tersenyum melihat Wonwoo yang sudah rapi.

"Tentu saja, ayo. Eonnie aku pergi dulu ya." Pamit Wonwoo pada Sanghyuk dan dibalas lambaian tangan. Wonwoo langsung masuk ke mobil bersama In Seong duduk dibangku penumpang. Supir keluarga Ro Woon mengantar 2 wanita itu menuju butik.

"Tetangga kamu?"

"Oh itu? Iya, kenapa?"

"Hmm entahlah rasanya pernah lihat." In Seong tampak berfikir mengingat. Wonwoo hanya diam. Selang setengah jam mereka sampai di butik. In Seong langsung mencoba beberapa gaun. Wonwoo terlihat senang mengingatkan ia saat mencoba gaun ditemani Mingyu saat itu.

"In Seongie, mian terlambat, aku tadi ada urusan."

Wonwoo kaget dengan yang di lihatnya, ia menatap tidak percaya pada seseorang didepannya yang baru datang. Ia masih mengingat dengan jelas orang itu.

"Hai." Sapanya pada Wonwoo.

"Hai juga." Jawab Wonwoo hampir tak bersuara saking kagetnya.

"Oh Wonwoo kenalkan ia sahabatku. Dia adik sepupu ipar Ro Woon." In Seong menjelaskan.

"Oh, panggil saja Juho."

"Ju.. Ho-ney lebih enak didengar." Ledek In Seong.

"Yak jangan panggil aku begitu. Itu masa lalu."

"Owh masa lalu dengan Bonnie?" In Seong masih meledek, Wonwoo hanya terdiam mendengarnya.

Juho mendekati In Seong yang sedang bercermin. "Andai aku juga bisa memakainya."

"Ya, sudahlah jangan kamu pikirkan lagi. Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Hei, aku ada gaun bagaimana kalau kalian berdua memakainya. Tubuh kalian juga sama tinggi."

Wonwoo menatap Juho, keduanya saling diam. "Baiklah, aku ikut saja." Jawab Juho tanpa beban.

"Wonwoo bagaimana? Kamu belum ada gaun kan? Tenang saja ukurannya pasti pas."

"Ah iya eonnie." Wonwoo menyetujuinya tentu saja karena ia memang belum ada gaun untuk di pakainya. Wonwoo bisa menatap dengan jelas Juho didepannya dan ia menjadi geli sendiri mengingat Seokjin berkata kalau Wonwoo terlihat mirip dengan Juho.

.

.

"HAHAHAHA" Seokjin tertawa keras saat Wonwoo bercerita kalau ia habis bertemu dan berkenalan dengan mantan Youngbin. Seokjin terlihat sangat senang mendengar cerita Wonwoo, hingga ia mengeluarkan air mata saat tertawa. Wonwoo hanya diam melihatnya, entah ia ikut senang atau sedih. Ia mencoba netral saja tidak mau memihak siapa pun.

"Ceritakan lagi Wonwoo, bagaimana kamu bertemu dia. Lucu sekali." Seokjin masih saja tertawa, sudah 5x Wonwoo mengulang cerita. Rasanya mulut Wonwoo sudah berbusa hanya mengulang cerita pada tetangganya.

"Benarkan? Ia lebih cantik dari Sanghyuk? Pantas saja Youngbin masih mencintainya diam-diam. Apa kamu tahu, kalau Youngbin itu dulunya menikah karena dijodohkan? Pantas saja ia selingkuh, siapa juga yang tahan dengan wanita seperti Sanghyuk?"

Wonwoo hanya terdiam, Seokjin terus saja mengulang kalimatnya. Wonwoo beralasan mau masak untuk makan malam, ia bosan melihat Seokjin terus tertawa. Wonwoo hanya menggelengkan kepalanya ketika sudah keluar dari rumah Seokjin.

"Punya tetangga aneh semua!" Wonwoo menggerutu sambil membuka pintu rumahnya.

.

.


.

.

Mingyu dan Wonwoo datang ke pesta pernikahan kakak sepupunya Mingyu. Kedua orang tua Mingyu juga ikut hadir. Mingyu menyuruh Wonwoo berada diruangan pengantin wanita sampai acara dimulai karena ia takut istrinya lelah.

Sesuai janji In Seong, Wonwoo diberi pinjam gaun berwarna biru muda yang terlihat pas ditubuhnya. Sedangkan Juho diberi gaun warna kuning. Dengan model gaun panjang berbahan brokat.

"Apa aku bilang, pas kan gaunnya. Belle dan Cinderella." In Seong tertawa geli melihatnya, ia merasa puas.

"Dasar, lalu siapa si buruk rupa pasanganku?" Juho terlihat kesal dikerjai In Seong.

"Kamu cari saja diantara tamu undangan kalau ada yang cocok langsung bawa ke pelaminan." In Seong terus tertawa geli melihat Wonwoo dan Juho terlihat seperti anak kembar.

Juho terlihat kesal awalnya tapi ia tersenyum menerimanya karena hari itu hari bahagia untuk sahabatnya. Wonwoo melihatnya ikut tertawa, ia menyukai persahabatan kedua wanita didepannya. Tiba-tiba ia teringat dengan Jihoon sahabatnya. Ia sangat merindukannya, ia dikabari kalau Jihoon sudah melahirkan namun ia belum bisa menjenguknya.

Wonwoo keluar dari ruangan pengantin wanita, ia mencari suaminya diluar. Mingyu terlihat bersama Ro Woon sedang menyambut tamu undangan. Wonwoo langsung mendekat dan menempel.

"Oh kenapa sayang?"

"Papa, aku haus."

"Haus?" Mingyu mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang diminta istrinya. Lalu menggandeng Wonwoo ke ruangan belakang menemui ibunya.

"Eomma, menantu kesayangan eomma haus." Mingyu menghampiri ibunya yang sibuk mengatur catering membuat Wonwoo malu menyubit lengan Mingyu.

"Kenapa? Menantu dan cucu eomma haus? Sebentar eomma ambilkan."

Mingyu tertawa geli melihat raut wajah istrinya yang kesal karena tidak enak meminta minum seperti anak-anak.

"Menyebalkan! Aku kan minta sama kamu kenapa menyuruh eomma? Hancur sudah reputasi aku sebagai menantu teladan." Omel Wonwoo.

"Apa? Menantu teladan? Memangnya ada saingan menantu yang lain? Aku kan cuma bilang kalau kamu haus, eomma sendiri yang mau mengambilkan."

Tak lama datang ibunya Mingyu sekaligus ibu mertua Wonwoo bersama seorang pelayan membawa gelas-gelas berisi berbagai minuman sirup.

"Silahkan nona."

"Terima kasih." Jawab Wonwoo sambil mengambil salah satu gelas berisi air sirup.

"Wonwoo disini saja, banyak kue." Ajak ibu mertuanya dan membuat Wonwoo hampir meneteskan air liurnya karena tiba-tiba merasa lapar melihat berbagai macam kue dan refleks membuat Wonwoo menganggukkan kepalanya.

"Nah ibu hamil disini saja ya, aku ke depan lagi temani hyung, kalau ada apa-apa telepon saja ya. Jangan berkeliaran." Mingyu mengantarkan Wonwoo pada salah satu meja dan Wonwoo duduk langsung diberi sepiring berbagai jenis kue oleh ibu mertuanya. Wonwoo mengangguk patuh untuk tidak kemana-mana dan langsung senang dengan berbagai potongan kue didepannya.

"Biarkan saja, dia pasti lapar." Bisik ibunya Mingyu sambil melirik ke arah Wonwoo.

"Iya, memang akhir-akhir ini dia sangat berselera makan. Aku ke depan lagi ya eomma." pamit Mingyu pada ibunya.

.

.

Saat acara dimulai, Mingyu dan Wonwoo duduk di barisan paling depan. Inseong masuk ke aula bersama ayahnya dan dibelakangnya tampak Juho mengiringi pengantin bersama Cha Ni yang memegang keranjang kecil berisi cincin.

"Oh, apa wanita itu yang kamu ceritakan?" bisik Mingyu menoleh ke istrinya.

"Hmm iya itu dia." Wonwoo mengiyakan dan Mingyu ber-oh ria sambil mengangguk, matanya fokus melihat ke arah orang yang menjadi pusat perhatian seluruh tamu undangan.

"Kamu lihatin dia terus ya?" Wonwoo sedikit mencubit menyadarkan suaminya.

"Tidak sayang, aku hanya ingat saat kita berdiri disitu. Untuk apa aku melihat wanita lain kalau disampingku ini sudah ada wanita yang paling aku cintai." Mingyu mengecup pipi istrinya dan Wonwoo menjadi malu-malu, ia memukul pelan lengan suaminya karena berani mencium di depan umum. Mingyu hanya tertawa dan merasa gemas.

.

.


.

.

Wonwoo menyiapkan berbagai camilan ada kue, keripik dan buah potong. Wonwoo juga membuat strawberry milkshake dan menaruhnya di teko besar tak lupa es batu kecil-kecil. Setelah semua siap, ia masukkan camilan ke dalam keranjang. Mingyu juga tak kalah heboh sudah siap memakai kaos dan celana pendek serta kacamata hitam, menenteng tikar.

"Sudah mama?" Mingyu mulai membiasakan memanggil dengan sebutan mama pada istrinya.

"Sudah rapi semua papa." Wonwoo menunjuk keranjang yang sudah berisi camilan lalu Mingyu mengambilnya, membawakan keranjang sementara Wonwoo memegang teko yang berisi strawberry milkshake serta 2 gelas ditangannya.

Piknik berdua kegiatan mereka menghabiskan libur kerja Mingyu di hari minggu di pukul 3 sore.

"Wah cuacanya bagus." Mingyu berteriak senang karena hari memang cerah seharian, ia langsung menggelar tikar dan mengeluarkan berbagai camilan dari keranjang. Wonwoo menuangkan strawberry milkshake yang baru dibuatnya. Semilir angin menyejukkan kedua insan yang sedang berpiknik di teras atas lantai 2 rumah mereka, tepatnya teras belakang yang difungsikan sebagai tempat menjemur pakaian. Wonwoo menyetel musik dari ponselnya, tak ketinggalan speaker kecil menambah semarak suasana piknik berdua. Liburan sederhana ala suami istri itu mereka jalani dengan riang gembira, asal bersama orang tercinta tak masalah untuk tempat dengan low budget.

Mingyu rebahan di paha istrinya sambil memandang langit dengan kacamata hitamnya, tak ketinggalan mulutnya mengunyah keripik.

"Papa, apa kamu tahu? Mereka mau konser di Jepang." Wonwoo mengeraskan volume dan ikut bernyanyi mengikuti lagu yang distel sambil mengusap kepala suaminya. Mingyu hanya tertawa melihat istrinya menyanyi lagu boyband kesukaannya.

"Lalu kenapa kalau mereka konser di Jepang?"

"Ayo kita kesana, kita nonton!"

Mingyu tersedak keripik langsung bangun dan melorotkan kacamatanya sampai ke ujung hidungnya.

"Apa? Nonton konser? Mereka kan orang Korea juga, sama seperti kita kenapa kita jauh-jauh kesana hanya untuk nonton mereka?"

Wonwoo sudah tahu pasti Mingyu menolak, bukan Wonwoo namanya kalau tidak bisa meluluhkan hati seorang Mingyu.

"Mau di massage?" Wonwoo mengeluarkan sebotol minyak zaitun sambil tersenyum menggoda. Mingyu hanya tertawa sudah mengetahui arti dari memberi pijatan. Wonwoo memang wanita pintar yang penuh trik/jurus untuk membuat Mingyu mengalah kesekian kalinya.

"Hmm baiklah kalau pijatannya enak nanti aku pertimbangkan."

"Issh tentu saja enak, papa meragukan kemampuanku?" Wonwoo cemberut makin membuat Mingyu gemas rasanya. Mingyu langsung membuka kaosnya dan ambil posisi tengkurap. Wonwoo tersenyum senang. Biasanya ia memijat saat Mingyu pulang kerja saat suaminya terlihat lelah. Wonwoo berusaha pandai memijat karena ia tidak ingin ada tangan wanita lain yang memberikan pijatan pada tubuh suaminya. Apalagi kalau itu pijat plus-plus. Big No No dalam kamus Wonwoo.

Wonwoo mulai melumuri minyak zaitun dipunggung Mingyu dan mulai memijatnya perlahan. Mingyu hanya senyum-senyum, ia senang-senang saja saat dimanja, selama ini ia memang menuruti permintaan istrinya. Tapi kalau Wonwoo mulai memanjakannya itu atas dasar inisiatif sendiri yang makin membuat Mingyu tambah sayang dan tidak akan berpaling pada wanita lain.

"Bagaimana? Enak?"

"Hmm enak. Jadi yang mana dulu? Cincin atau ke Jepang?" Mingyu memberi pilihan membuat Wonwoo tertawa.

"Hmmm semuanya?"

Mingyu langsung bangun dan menatap istrinya. "Semua? Oh ayolah mama sayang, bukannya aku tidak mau turuti semua permintaan kamu tapi kita kedepannya butuh dana banyak untuk anak-anak."

Wonwoo memeluk leher sambil mencium lembut bibir suaminya. "Kamu jangan khawatir, aku punya tabungan khusus untuk kita liburan berdua. Ayolah, kita berlibur lagi sebelum kita direpotkan anak-anak nantinya. Aku mau jalan-jalan bosan dirumah kalau tiap kamu libur kerja selalu dirumah."

Mingyu tertegun merasa tersentuh dengan pola pikir istrinya mengatur keuangan. "Tabungan khusus?"

"Hmm iya uang bulanan sebagian aku sisihkan untuk dana liburan, sebagian lagi untuk membeli kemeja, dasi dan celana kerja kamu. Aku tidak mau suamiku yang tampan ini berpakaian lusuh." Ucap Wonwoo sambil mengambil buah dan mengunyahnya. Mingyu terdiam menyadari memang koleksi pakaian kerjanya bertambah sejak menikah.

Mingyu tersenyum sambil mengusap lembut kepala dan mencium kening sang istri. "Oke kita liburan lagi berdua."

Wonwoo tersenyum senang sambil menyuapi buah. "Ke rumah Jihoon ya, aku mau menengok bayinya Jihoon."

"Oh benar, sudah lama juga tidak bertemu Soonyoung. Menginap dirumah mereka saja kan? Lebih hemat." Ucap Mingyu sambil tertawa dan dibalas anggukan Wonwoo.

"Hmm iya, tapi tetap nonton konser ya. Ya boleh ya." Wonwoo menangkup wajah Mingyu dan mengecup bibirnya.

"Iya kita nonton konser. Uangnya dari kamu kan?" tanya Mingyu meledek sambil balas mengecup bibir istrinya.

"Hnggg tapi uangnya baru cukup untuk tiket pesawat PP dan beli oleh-oleh. Minggu lalu kan aku baru beli kemeja buat kamu."

"Kapan? Ooh yang kamu pergi sama ibu-ibu sebelah rumah? Diskonan ya?" Mingyu mengelitik pinggang istrinya sambil tertawa.

"Enak saja! Aku beli special price itu bukan diskon! Lagipula itu merk terkenal." Wonwoo mengomel dan tidak terima balas mengelitik.

"Sama saja sayang special price dan diskon." Mingyu mengecup pipi istrinya langsung berdiri.

"Beda! Itu bukan diskon, itu special price!" Wonwoo tidak mau mengalah, prinsipnya dimana-mana wanita selalu benar. Wonwoo mengejar suaminya yang berlari ke arah kolam renang. Mingyu memang menepati janji membuat private pool di lantai 2 rumahnya. Mingyu melarikan diri langsung menceburkan diri ke kolam diikuti Wonwoo.

Wonwoo belum menyerah masih terus mengejarnya dan berakhir dalam pelukan Mingyu dan dengan lembut Mingyu menciumnya membuat Wonwoo tenang sambil tersipu malu.

"Iya itu special price." ucap Mingyu sambil mencium lembut bibir istrinya yang tidak pernah membuat Mingyu bosan.

Piknik berdua ditutup dengan renang bersama.

.

.

.

TBC

Ffn sudah normal ya, jadi berani publish lagi hihihi… Yang chap 6 kemarin sepertinya banyak yang ga dapet notif email dari ffn.

KimKaChoi mian kemarin sempat didelete dan publish ulang, moga kamu udah baca chap 6

giyu05 siap-siap ready stock pada tgl 23 september ^^. Stock komplit di ICE BSD. Mingyu disini aku bikin ga bakal ngelirik wanita lain, udah takut duluan dia hehehe..

wonwoo7teen gulanya tetep standar kok ini hehehe… monggo yang mau cari Mingyu tanggal 23 september

prectieurl keep loving Meanie! Jjang!

Dardara chap ini ada selingan Chanbaek sama Hunhan, bagaimana? Abis kepo-kepoan sekarang iri-irian khas emak-emak hihi…

Mocca2294 yups benar little Gyu sudah bebas lagi tapi terancam kalau ada main sama yang lain wkwkwk

Re-panda68 hihi ditunggu aja hasil dari dokter kandungannya jenis kelamin anak Meanie.

guesschuu yups you're alright! It's Juho! Duwh gegara keseringan baca hosip tentang pelakor (perebut laki orang) jadi kebawa bikin ff padahal aq juga suka Juho yang fisiknya mirip Wonu dan suaranya sama rendah dgn posisi rapper. Buat Jaeyoon aq blom ada ide mau dijadiin apa trus klo Taeyang awalnya jd anak WonBin tapi aq ubah ganti Hwiyoung. Mungkin nanti dia jd anak RoSeong tapi malah jadi adenya ChaNi. Ah entahlah wkwkwk. Gomawo koreksi typo-nya.

KimHaelin29 makasih mereka memang imut hehehe…

auliaMRQ hihi nebak aja sih, masalah beli perlengkapan udah pasti itu tapi nanti nunggu USG dari dokter biar ga salah beli

wortelnyasebong aaaaakk aku juga pengen atuh dapetin bibitnya dari Mingyu #eehh becanda

kimnimgyu ingin apa?

Park RinHyun-Uchiha kalau belum dapat sama yang dimau pasti kebawa mimpi wkwk…

utsukushii02 hu-um nempel seperti surat kuasa + materai 6k

tunanganwonupacarmingyu yupss udah rapet terus ini serasa dunia milik berdua

rizka0419 untuk Baby Sitter ga dilanjut ini keburu Wonu udah tekdung jadi rawat anak sendiri heee… antri ya mau jadi baby sitter soalnya papa-nya anak-anak ganteng . lho mau asuh anak apa bapaknya ya?

jeononu iya Cha Ni lupa saat itu masih bayi anggep aja umur setahun hehe atau belum setahun, tapi tetep maunya nempel sama Wonu walau masih malu. Next kalo ada ide dibuat momen Wonu sm Cha Ni. Haha disini Wonu udah ngerjain Mingyu saat shopping, bagaimana?

Cha KristaFer terlalu sibuk sama realita sampe ngebut 3 chap wkwkwk. Ah naena-nya masih di rem disini ga gaspol seperti punya icha wkwkwk ngebayanginnya perih tapi mau eh ya sudahlah. Iya tar dilanjut sampe bagian gigit guling dipojokan wkwkwk

XiayuweLiu aaaaaa johaaa juga. Gomawo…

yunielf39yeoja makasih ya, ini udah dilanjut

Yang mau review boleh boleh ditunggu….

13 Mei 2017