Title: IT's Not a Reason|Meanie story|MPreg
Cast:
Kim minggyu
Wonwoo
All of member seventeen
And others
Genre: Romance,Family,little angst
WARNING! MPREG!NC!
BACA DULU!READ IT First!
!(adegan NC akan diletakkan disembarang chapter sesuai mood author)
!(please,be smart reader! If you didn't ever accept mpreg or dont like fanfiction w/ mpreg in story, please stay away! Get out from my fantasy!Keep your hands off my fantasy! Dont bash! I said for ONCE MOR TIME!PLEASE BE SMART READER)
!(no plagiat! Ini murni hasil pemikiran saya, ketika lagi badmood)
!(dalam fanfict ini saya tidak berusaha untuk mengikuti yang asli, melainkan saya meminjam alur kehidupan member seventeen yang asli, yang tampak didepan publik. Guna menyambungkan satu-satu fantasy saya. Karena sungguh banyak fantasy saya terhadap Meanie saat mereka dibelakang kamera. So, i try to make story based on their life. Bisa kalian lihat didalam nanti)
!(Read and Review, i'll stop this story if yout dont leave review, thanks... sorry for being rude, i ask like that because your reviews are my spirit and motivation to update soon as possible)
!(cerita ini hanyalah fiktif, namanya juga fanfiction. Jadi kalau ada kesamaan nama,latar belakang, alur yang menyinggung readers, saya minta maaf. Sekali lagi! FF ini murni hasil khayalan saya kalau lagi badmood dan ketika tiap kali saya melihat video mereka. mungkin akan terlihat saya membuat cerita dibelakang kamera. Ya itu benar! Oleh karena itu saya meminjam alur seventeen)
Synopsis:
"aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini kepadamu"
Pemuda pemilik fox eye itu tak merespon apapun yang ia dengar. Pikirannya kini lumpuh. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan hal seperti ini menimpa dirinya.
"hyung,maafkan aku"
Lalu pemuda tersebut beranjak dan meninggalkan pemuda yang kini sedang merasa bersalah. Pemuda tersebut melempar apa yang aada dihadapannya kedepan hingga membentur dinding,ia mengacak-acak rambutnya. Untung saja yang dilemparnya bukan barang-barang yang terbuat dari kaca, sehingga tidak membuatnya repot untuk merapikan ruangan itu nanti.
"ku pikir kau sudah cukup dewasa untuk berpikir mana yang terbaikkan, nak Wonwoo",Pemuda tersebut pasrah dengan apa yang menimpanya. Ia siap untuk mengorbankan apapun demi sesorang yang amat teramat berharga dalam hidupnya.
"sampai semua kembali normal, kau bisa kembali ke seventeen"
"aku mengerti sajang-nim", dengan senyum mengembang dipipinnya, ingatkan dia bahwa ia sedang ternyemu palsu saat ini.
"dibalik kehilangan, pasti ada sesuatu yang akan menggantikan kehilangan tersebut" ujar pemuda itu menyemangati dirinya sendiri dalam menghadapi semua cobaan yang menampar keras dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"oppa.." Minseo dengan mata merah berair berlari kemudian memeluk Mingyu yang baru saja memasuki rumah keluarga Kim. Mingyu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah.
Minseo kembali terisak di pelukan Mingyu, Mingyu mengerutkan dahinya "eiy,kenapa kau harus menangis, hm?" Mingyu mengelu-elus surai pendek sang adik. "eomma dan appa kemana?" tanya Mingyu lagi, Mingyu membawa Minseo ke ruang keluarga mereka, Minseo masih enggan untuk menjawab pertanyaan Mingyu. Mingyu mendudukkan dirinya ke sofa coklat dan menuntun Minseo untuk duduk di sebelahnya. Meskipun ia lelah fisik dan batin, kasih sayangnya kepada sang adik mampu menghilangkan rasa lelahnya.
"oh, kau sudah sampai Mingyu sayang" terlihat wanita berkepala empat itu keluar dari salah satu ruangan di rumah itu, meskipun berkepala empat, paras cantik dan kulit putihnya yang itu kerap kali membuat orang yang pertama kali melihatnya menduga kalau wanita itu masih berusia 30-an tahun. Wanita itu tersenyum lembut kepada sang anak.
Mingyu bangkit dari sofa dan memeluk sang eomma yang hampir 6 bulan ini hanya bisa ia dengar suaranya dari ponsel. Bukan tidak ingin pulang, tapi karena rumahnya yang tidak begitu jauh dari Dorm mereka, Mingyu lebih memilih untuk ikut dengan Wonwoo ke Changwon.
"aku sangat merindukan eomma", Mingyu mencium pipi eommanya kanan kiri secara bergantian. Sang eomma menepuk-nepuk punggung anak lelakinya yang sangat ia rindukan itu.
.
.
.
"eomma, appa kemana?" tanya Mingyu,mereka kini tengah duduk dan menghabiskan waktu untuk mengobrol antara eomma dan anak. melempar Mingyu dengan bantal kecil yang khusus untuk sofa tepat ke wajah Mingyu.
"kau pikir appamu pergi kemana selain kerja?"
"ya aku kan bertanya, siapa tau appa lagi ke club" Mingyu menaruh bantal yang menjadi korban sang Eomma di sampingnya.
"awas saja dia berani, akan eomma ratain miliknya"
"untung aku sudah memiliki adik" gumam Mingyu pelan. Sebenarnya bukan ini yang ingin Mingyu bahas dengan sang eomma, ia pulang bukan untuk bercanda seperti ini. Ia ingin menegaskan sesuatu. Tetapi Mingyu sendiri bingung bagaimana cara memulainya. Mereka kembali diam lagi untuk yang kesekian kalinya. Sungguh suasana yang canggung untuk ibu dan anak.
"eomma, aku dan wonu.."
"hentikan Mingyu!eomma ingin menikmati waktu eomma denganmu" sang eomma memotong perkataan Mingyu.
"tidak, eomma harus mendengarkan ku dulu", Mingyu menghela nafas panjang saat ia mendapati air wajah sang eomma berubah.
DRRT!DRRT!
Ponsel Mingyu bergetar disaat yang tidak tepat, Mingyu merogoh ponsel yang berada di saku celananya, kemudian ia menonaktifkan kan hpnya. Ia dan Eommanya butuh waktu saat ini.
"kenapa tidak kau angkat saja" , Mingyu melihat sang eomma yang terlihat seperti sedang menahan emosinya.
"karena ada yang lebih penting dari pada itu" Mingyu sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya. Ia hanya ingin menyelesaikan masalah ini dan segera pulang menemui Wonwoo.
"eomma ini masalahku, jangan Minseo yang eomma salahkan. Apa aku bisa dengan santai menikmati teh ini disaat adikku menangis di kamar?eomma, ku mohon ayo kita bicarakan masalah ini" Mingyu memohon kepada sang eomma dengan serius. Saat ini sang eomma benar-benar telah kehilangan sosok Mingyu yang selalu manja kepadanya.
"apa kau pikir, dirimu cukup dewasa untuk membicarakan masalah ini? apa kau pikir masalah akan selesai ketika kau mengatakan kalau kau mencintai lelaki itu?apa aku harus diam saja melihat masa depan anakku hancur karena lelaki itu?apa yang kau pikirkan KIM MINGYU!" hardik sang eomma, mata wanita itu memerah, nafasnya tersenggal-senggal akibat luapan emosi yang ia tahan sejak ia mendapatkan fakta bahwa anak lelakinya memiliki hubungan dengan JEON WONWOO.
"eomma dia Jeon Wonwoo, dia memiliki nama! dan benar aku sangat mencintainya eomma, masa depanku ada bersamanya. Aku berjanji! aku akan menerima semua resiko dari pilihan yang ku ambil" Mingyu menjawab perkataan sang eomma dengan tenang. Ia harus bisa menggenggam Wonwoo di hidupnya apapun yang terjadi.
"pilihan kau bilang? cinta?! bagaimana dengan pandangan mayarakat?apa kau mau membuat kami malu?!"
Mingyu menatap sang eomma datar, "malu? Apa kalian berhak malu atas apa yang kulakukan?"
"bicara apa kau Kim Mingyu? Kami orang tuamu, kami ingin masa depanmu cerah!" tatapan wanita itu semakin menyala.
"ia orang tua yang menitipkan anaknya bersama orang tua mereka, seharusnya nenek yang malu bukan kalian!"
Sang eomma semakin mendidih mendengar perlawanan dari Mingyu, tangannya mengepal, ingin sekali ia membanting barang-barang untuk menjadi pelampiasan amarahnya. Namun wanita itu sesungguhnya bukan orang yang seperti itu. Mingyu pun tidak bermaksud untuk melawan kepada eommanya, namun ia juga tidak ingin hidupnya diatur oleh sang eomma, karena ia sendirilah yang akan membangun masa depannya.
"oke! Benar tuhan yang menciptakan rasa cinta itu tapi Sekarang eomma minta kau berpikir dengan akal sehatmu bukan dengan hatimu" sang eomma yang tak bisa menjawab perlawan dari Mingyu, merubah caranya untuk membuka pikiran sang anak. Wanita itu terlihat lebih tenang.
"dengan kau bersamanya seumur hidupmu, apa yang akan kau dapatkan selain hinaan dari masyarakat? Apa dia memberimu keturunan? Apa kau tidak ingin melihat anak-anakmu kelak tumbuh besar dan memanggilmu appa? Apa kau pikir kami tidak ingin menimang cucu dari mu?"
Mingyu mengusap wajahnya kasar, ia mengacak-ngacak rambutnya, tidak akan ada yang bisa merubah pilihannya sampai saat ini. Itu mengapa ia terlihat frustasi saat sang eomma tidak jerah untuk menentang keputusan Mingyu.
"aku sudah memikirkan itu semua, eomma jangan khawatir!aku bisa mengadopsi anak jika kalian ingin cucu" Mingyu meninggalkan sang eomma yang tengah dongkol di ruang keluarga. Mingyu memasuki sebuah kamar yang merupakan kamar sang adik, terlihat dari daun pintu yang terdapat papan nama biru muda yang tertuliskan "Minseo's Room".
Sang eomma berberapa kali meneriakan nama Mingyu saat Mingyu meninggalkannya sendiri, namun tidak digubris oleh Mingyu sama sekali. Untuk saat ini tidak ada hasilnya berdebat dengan sang eomma. sama halnya dengan Mingyu yang keras kepala, ternyata keras kepalanya diturunkan oleh sang eomma.
Mingyu selama 19 tahun hidupnya, ia tidak pernah mengeluh karena ia tinggal dengan sang nenek. Ia berusaha untuk memaklumi pekerjaan orang tuanya saat itu. tetapi jika menyangkut kebahagian nya dan perkataan sang eomma yang mengatakan tentang aib keluarga, Mingyu tidak dapat menahan mulutnya. Ia merasa, dirinya lah yang benar! Jika masa kecilnnya jauh dari orang tua disaat teman-temannya bermain dengan orang tua mereka ditaman, maka saat ini ia harus menggantikan masa kecilnya yang indah itu dengan pilihan yang dia pilih.
Tok! Tok!
Mingyu mengetuk daun pintu tersebut.
"minseo-ya?" panggil Mingyu, mengkonfimasi kalau sang adik tidak tidur. Minseo berjalan mendekati pintu lalu memutar knop pintunya. Mingyu menghela nafas panjang ketika melihat sang adik masih berlinang air mata.
Mingyu duduk di ranjang milik minseo, ia mengamati kamar itu. "kamarmu masih saja seperti ini sejak kau berusia 8 tahun"
Minseo hanya melihat sang kakak miris bahkan ia masih berdiri didepan pintu.
"apa kau tidak bosan? sesekali penting untuk mengganti posisi lemari dan tempat tidurmu agar tidak bosan dan kau juga bisa lebih banyak mendapatkan inspirasi"
Mingyu beranjak dan mendekati frame pink yang bertengger di atas di meja belajar sang adik "sepertinya adik kecilku sudah besar sekarang" Mingyu tersenyum simpul saat melihat salah satu foto minseo dengan seorang laki-laki seumuran dengan minseo. Sepertinya itu teman sekelas Minseo. Kemudian ia beralih ke album foto milik minseo.
"mau sampai kapan oppa berusaha menutupi-nutupi luka dihati oppa?" minseo akhirnya buka suara meskipun diiringi dengan isakan.
"hm?oppa tidak mengerti apa maksudmu?" Mingyu masih sibuk membuka halaman per halaman album foto sang adik, sesekali ia tersenyum melihat ekspresi minseo kalau sedang berfoto. Mirip dengan orang yang sangat ia cintai, si Emo.
"oppa jangan berbohong! Oppa sedihkan atas perkataan eomma? maaf kan aku oppa", miseo menundukkan kepalanya.
Mingyu menatap sang adik kemudian mendekatinya, Mingyu mengelus-elus surai pendek minseo. "tentu saja oppa sedih, tapi oppa tidak suka melihatmu menangis! Ini bukan salahmu"
"berhentilah tersenyum kalau oppa sedang terluka"
Mingyu gemas melihat sang adik kesayangannya itu. Mingyu mengajak Minseo duduk di tempat tidur.
"kau ini lucu sekali, aku yang punya masalah malah kau yang menangis" ejek Mingyu kemudian mengacak acak poni sang adik.
"oppa minta maaf karena telah membawamu kedalam masalah oppa, seharusnya saat ini kau tertawa dan jalan bersama teman bukan menangis seperti ini" Mingyu mengusap sisa air mata minseo yang masih menumpuk di uJung mata.
Minseo menggeleng lalu memeluk Mingyu, "bukan karena itu"
Mingyu mengecup puncak kepala adiknya, "lalu, mengapa kau sampai menangis?"
Minseo mendogak "eomma mengancamku jika aku berbohong lagi mengenai hubungan kalian, eomma akan memindahkanku kesekolah di dekat rumah nenek, uang jajan ku di potong dan aku tidak boleh keluar rumah"
"kau begitu kau mulai hari ini ku harus jujur kedapa eomma", sebetulnya Mingyu terkejut eommanya ingin membuat Minseo seperti dirinya dulu. Tinggal jauh dari orangtua.
"bagaimana bisa oppa dengan tenang mengatakan hal seperti itu" minseo melepas pelukan mereka.
"karena oppa menyayangimu" mereka berdua sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Mingyu teringat dengan Handphonenya yang sengaja ia matikan. Ia memiliki firasat bahwa Wonwoo pasti sibuk menelpon dirinya.
.
.
.
"wonu-ya, ayo makan" Jun menghampiri Wonwoo yang masih sibuk novelnya namun tetap matanya mengawasi ponselnya dengan ketat.
"hmm" Wonwoo hanya bergumam, wajahnya tenang namun hatinya saat ini tidak. Dari siang tadi ia mencoba menghubungi Mingyu namun tidak ada jawaban dari Mingyu. baik itu pesan yang dikirim maupun panggilan darinya. Oh Mingyu, kalau sampe jam 10 malam kau tidak menghubungi Wonwoo dapat dipastikan lelaki emo itu akan berada didepan pintu rumah mu dalam waktu satu jam.
"percaya saja tidak ada masalah yang terjadi" Jun menepuk nepuk pundak Wonwoo. Wonwoo menoleh ke arah Jun tanpa senyum.
"kuharap begitu"
Wonwoo meletak novelnya di atas meja di sebelah PC mereka, Wonwoo bergabung dengan para member yang tengah menunggunya untuk makan malam. Wonwoo mangambil tempat duduk disebelah Dino, ia menoleh ke sebelahnya. Kosong. Tempat yang biasanya diisi dengan lelaki jangkung coklat nan tampan itu kini kosong. Wonwoo kembali melihat ponselnya,siapa tahu Mingyu membalas pesannya. Tidak ada pesan masuk, bahkan usaha Mingyu untuk menelpon balik. Wonwoo menghela nafas panjang, entah mengapa ia sangat khawatir dengan kepulangan Mingyu ke rumahnya.
"wonu-ya, letakkan ponselmu dan makan. Jangan pikirkan anak dekil itu. pasti dia sedang tidur dikamarnya" Jeonghan memecahkan lamunan Wonwoo. Chan merampas HP tersebut dari tangan Wonwoo "maaf hyung, sepertinya Jeonghan hyung benar, pasti dia ketiduran"
"YOSH! SELAMAT MAKAN!"-Hoshi
"Selamat makan!" sungkwan mengikuti Hoshi yang berteriak. Mereka berdua sangat tau sekali bagaimana memecahkan suasana hening diantara mereka, alhasil semua member minus Mingyu mulai menyantap makan malamnya.
Setelah selesai makan malam pun Wonwoo masih uring-uringan, pasalnya Mingyu masih juga belum memberinya kabar. Tak ingin larut dengan moodnya yang jelek, Wonwoo lebih memilih untuk menenggelamkan kesadarannya di atas tempat tidur dengn bantal yang menjadi tumpuan kepalanya. Jika Mingyu tadi pergi dengan wajah yang tenang dan senyum tulus yang terpatri di wajahnya Wonwoo tidak akan seperti ini. Wonwoo akui dirinya kurang memberi perhatian kepada Mingyu, justru Mingyu lah yang banyak mencari perhatiannya. Tapi tetap saja Wonwoo sangat khawatir dengan aktivitas apapun yang Mingyu lakukan, ia hanya tak ingin Mingyu terluka.
DRRTT!DRRRRTTT!
DRRT!DRRRRTTT!
Wonwoo terkejut sontak terbangun dari tidurnya saat ponsel yang berada digenggamannya bergetar. Ia menggeserkan icon bulat bergambarkan telepon berwarna hijau lalu menempelkan ponselnya ke depan telinganya tanpa melihat siapa yang telah menelponya jam 11 malam seperti ini.
(yeoboseyo..)
"hmm..." Wonwoo hanya bergumam, ia hapal betul suara siapa ini. Orang yang tengah mengusik ketenangannya dan orang yang seharian ia pikirkan.
(sudah tidur?)
"untuk apa bertanya?sudah pastikan" jawab Wonwoo ketus dengan suara serak khas bangun tidur
Terdengar orang disebrang sana terkekeh pelan. Ingin sekali Wonwoo melayangkan kepalan tangannya ke perut lelaki ini. Apa Mingyu tidak merasa bersalah karena mengabaikan Wonwoo seharian?
(kau marah hyung?)
"jawaban apa yang kau mau?"bukannya menjawab, Wonwoo malah membalas pertanyan tersebut dengan pertanyaan. Mingyu jadi bertambah gemas dengan lelaki yang lebih tua setahun darinya ini. Mingyu jadi semakin ingin cepat pulang.
(sudah makan?)
"kau bertanya?"
(aku merindukanmu)
"sudah?"
(hmm,imutnyaa, gemesin banget)
Wonwoo mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti arah pembicaraan Mingyu saat ini.
"aku titip yang seksi berambut panjang satu" sepertinya Wonwoo mengira Mingyu melupakannya seharian karena hang out sama teman sekolahnya. Atau lebih tepatnya kencan buta. Karena tak sekali dua kali Mingyu diminta untuk ikut oleh teman lelakinya ke kencan buta agar banyak gadis yang mau ikut kedalam rencana para anak SMA itu.
(aku tidak berani membayangkan betapa seksinya jeon Wonwoo dengan wajah imutnya di saat dia ngambek) ternyata Mingyu berusaha menggombali Wonwoo agar tidak ngambek lagi.
Wonwoo tersenyum malu, malu karena ia telah salah mencurigai Mingyu dan menuduhnya walaupun hanya dalam hati. Gombalan Mingyu sudah biasa untuk dirinya, jadi tak ada kata wajah bersemu merah di dalam kamus Wonwoo saat Mingyu menggombalinya.
"kenapa?" tanya Wonwoo lembut pada akhirnya.
(kau pasti bertanya kenapa aku tidak mengangkat teleponmu dan membalas pesan darimu, kenapa aku baru menghubungimu kan hyung?)
Wonwoo diam, masih menunggu penjelasan dari Mingyu.
(aku tadi menemani minseo belajar hingga ketiduran dikamarnya)
"aku menunggumu kabarmu seharian, aku khawatir saat aku melihat kecemasan didalam senyummu sebelum pergi tadi"
Mingyu tersenyum lebar, ia sangat senang ternyata Wonwoo mengkhawatirkannya. Seakan-akan masalah yang dia hadapi sekarang hilang tanpa bekas. Mingyu sangat ingin memeluk Wonwoo saat ini, ia ingin memeluk tubuh mungil itu. Mingyu ingin tidur dengan menatap kekasihnya itu. Ingin!ingin sekali! Namun kalau ia pulang saat ini, pasti Wonwoo akan curiga kenapa ia tidak bermalam dulu dirumahnya ssendiri.
(maafkan aku hyung, eomma tadi hampir pingsan karena vertigonya. Tapi sekarang dia baik-baik saja setelah dokter mengganti obatnya)
Wonwoo mengelus dadanya lega, ia mengehela nafas panjang dan dapat terdengar oleh Mingyu. akhirnya senyum Wonwoo kembali.
"sampaikan kepada eommoni, lekas sembuh maaf aku tidak bisa menjenguknya" nada penyesalan jelas tergambar disuara Wonwoo. Mingyu tersenyum miris. Wonwoo sayang kepada eommanya tidak hanya eommanya namun kepada keluarganya, saat hari besar korea Wonwoo bahkan menyempatkan diri mengunjungi mereka setelah ia mengunjungi orang tuanya. Bayangkan saja jarak kampung halaman Wonwoo dengan rumah Mingyu itu sangatlah jauh. Bahkan minseo juga lengket kepadanya. Namun apa yang didapat Wonwoo dari eomma dan appanya? Hanya pertentangan dan penolakkan yang ia dapat. Bahkan saat makan malam berlangsung, sang eomma dan appa kompak dalam mengancam Mingyu. mereka akan mengancurkan karier Wonwoo perlahan jika Mingyu masih bersama Wonwoo. memang dasar keras kepala, Mingyu tentu tidak mengindahkan perkataan orang tuanya itu. bahkan ia menjawab "kalian akan menghancurkan impianku juga, impian yang ku jalani dan ku raih sendiri. Impianku yang bahkan kalian tidak tau" sebelum Mingyu meninggalkan meja makan.
(hm, pasti akan ku sampaikan. Hyung bagaimana ini?!)
"bagaimana apanya?!" Wonwoo balik menanya.
(kurindu padamu,sangat!)
"kau pikir aku tidak?"
Mingyu terkekeh sekali lagi (kau tidak tidur?)
"aku sudah puas tidur ditambah puas badmood seharian. Kau sendiri tidak tidur?besok acara kelulusanmu kan?"
(eiy, jangan menyindirku hyung. aku menunggumu tidur baru , kau sudah makan?)
Wonwoo mendengus "kau menanyakan itu dua kali"
(tapikan belum kau jawab sa-yang) ucap Mingyu dengan penekanan dikata terakhirnya.
"sudah tapi semua rasanya hambar karena kau tidak ada"
Mingyu tertawa (sejak kapan kau belajar menggombal sayang?) ucap Mingyu disela tawanya.
"sejak tadi"
(tuhkan mulai dinginnya, katanya kangen)
"besok juga bertemu kan di upacara kelulusanmu"
Mingyu menaikkan posisi bantalnya menjadi sandaran punggungnya, dengan satu tangan memeluk guling bersarungkan kain bercorak mobil sport biru yang senada dengan bantal dan sprainya.
(kau harus membawa hadiah terindah dan berbeda dari yang lain)sadar atau tidak, Mingyu berusaha mengkode Wonwoo. Mengkode untuk?jawab saja sendiri XD
"ia cream pemutih selusin" Wonwoo terkekeh mengejek Mingyu yang sedang mendengus sebal diuJung sana. Wonwoo melirik jam yang terduduk diatas meja kecil di kamarnya, sudah tengah malam. Wonwoo dengan acting terbaiknya, ia berpura-pura menguap.
(sudah ngantuk?) mata Mingyu sendiripun sudah berlinang karena menahan kantuknya.
"hmm... sepertinya" jawab Wonwoo masih membohongi Mingyu. sebenarnya ia tidak mangantuk. Tetapi dia sengaja melakukan ini agar Mingyu tidur karena besok Mingyu harus menghadiri upacara kelulusannya.
(yasudah tidur lah hyung, selamat malam my beanie hyung. maaf tidak bisa menciummu seperti biasa malam ini)
Wonwoo tertawa hingga Hoshi melempar dirinya dengan boneka pemberian fans Hoshi sendiri, Wonwoo mengembalikan boneka tersebut dengan menahan tawanya.
"aku akan menagihnya besok"
(jangan sampai lupa)
"tidak akan! Sudah lah aku ingin tidur. Selamat malam Mingyu"
Setelah memutuskan obrolan mereka, Wonwoo tersenyum senyum sendiri menatap bantal Mingyu yang kini berada di pelukkannya. Tak bisa memeluk pemiliknya, setidaknya dengan menyesap aroma iler Mingyu yang ada dibantal itu dapat mengurangi kesepian Wonwoo meskipun tidak seutuhnya.
'aku membencimu sebanyak kau mencintaiku Mingyu-ya, jangan tinggalkan aku'
Mingyu mengulum senyumnya saat Wonwoo memutus sambungan telepon mereka, Mingyu menatap langit langit kamarnya. Kemudian mengangkat ponselnya dan memerhatikan fotonya bersama Wonwoo.
'aku mencintaimu sebanyak kau membenciku Wonwoo-ya, benci aku hingga kau tidak bisa melepaskanku dari pikiranmu. Seperti yang kau bilang, bila benci adalah cinta,maka rasa benci keluargaku adalah cinta untuk hubungan kita'
Beberapa menit kemudian, Mingyu terlelap menyusul Wonwoo kealam Mimpi. Berharap ia dapat memeluk Wonwoo dalam mimpi.
.
.
.
.
.
Tebese yaa~
.
.
.
Hi~ lama tak berjumpa wkwk
Ada yang masih ingat sama ff gaje ini? Hahaha lupakan saja ya
Maaf baru bisa up sekarang, karena dompet yang kayak kopiyah jadi gak bisa beli kuota HOHOHO
Yang sudah RnR sampai chapter kemarin.. terimakasih ya~
Maaf bila ada kesalahan typing, preposisi, dan ada kesamaan alur dalam ff lain ataupun kehidupan kalian. Ini semua murni hasil pemikiran saya...
.
Untuk yang bertanyakan kapan Wonwoo hamilnya, ini gua jawab yak...
"laah wong meanie aja belum naena gimana mau melendung si wonwoo"
.
Sekian dan terimakasih.
p.s "percayalah Meanie itu...(isi sendiri ya jangan malas!) wkwkwwk"
