Chanyeol tahu, dia tahu saat itu ibunya berbohong padanya - karena tidak mungkin itu foto USG milik ibunya, sedangkan itu baru diambil beberapa bulan yang lalu, ibunya sudah menopause, dan selalu seperti biasanya, ibunya tidak pernah menyadari kesalahannya ketika berbohong - namun dia tak menyangka dengan perkiraannya yang ternyata betul.
Itu milik Byun Baekhyun.
Chanyeol tak mengerti bagaimana bisa perempuan itu pernah ke sini hingga dapat menyimpan benda itu di rumah orang tuanya, sedangkan yang dia tahu, bahwa orangtuanya tak menyukai perempuan itu, mungkin hingga batas membenci-nya.
Namun lebih dari pada itu.
Perempuan itu sedang hamil.
Dan satu hal langsung ter-lintas pada benaknya.
"Apakah itu anakku?" Tanyanya tanpa sanggup menatap Papa-nya.
Hyun Seung tak menjawab, dia tersenyum tipis.
"Jika Papa mengatakan itu anakmu, apa yang akan kamu lakukan?"
Kyungsoo tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat.
"Bibi Byun." Sapanya ketika melihat ibu tiri temannya itu akhirnya menginjakkan kaki pada kamar rawat Baekhyun.
"Ah, Kyungsoo, hallo sayang." Sapanya, "Terimakasih telah menjaga Baekyun selama ini, dia pasti menyusahkanmu bukan?" Dia menepuk pundak Kyungsoo dengan lembut sekilas, kemudian berjalan menghampiri ranjang rawat Baekhyun dan berdiri di sampingnya.
"Tidak Bi, ini bukanlah apa-apa dibandingkan apa yang Baekhyun lakukan pada saya." Timbal Kungsoo.
Perempuan paruh baya itu tak menanggapinya dan hanya menatap Baekyun yang masih pada posisi-nya. "Menyedihkan." Bisiknya.
Kyungsoo mendengar suara itu, namun tidak jelas dan dia mengerutkan dahinya.
"Ya?"
Nyonya Byun menggelengkan kepalanya an tersenyum lebar. Dia meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya dengan lembut.
"Bagaimana kondisi bayinya?"
Kyungsoo sedikit tersentak ketika wanita itu bertanya padanya, dia tidak menyangka bahwa beliau mengetahuinya.
"Bibi tahu?"
"Tentu saja aku tahu. Dia anakku."
Kyungsoo mengerjapkan matanya dan ketika itu dia melihat wajah Ibu temannya itu menatapnya dan bertanya kembali, "Bagaimana kondisi bayinya?"
Apakah kamu akan tetap menikahinya?
Atau kembali pada Baekhyun?
Pertanyaan Papanya itu berputar dalam benaknya. Dia tidak dapat memejamkan matanya untuk tidur malam itu.
Dia melirik Hana yang sudah tertidur dengan lelap.
Perempuan itu terlihat kesulitan untuk tidur.
Apakah dia juga seperti itu?
Chanyeol memejamkan matanya kembali, berusaha untuk tidur. Dia harus masuk pagi besok.
Setidaknya itu yang dipikirkannya beberapa menit yang lalu.
Chanyeol memutuskan untuk bangun dari tempat tidur itu dengan perlahan agar Hana tidak terbangun, kemudian keluar kamar dan berjalan menuju ruang kerja sekaligus perpustakaan Papanya.
Hyun Seung yang kebetulan masih terjaga langsung tersenyum ketika melihat anaknya itu masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Papa masih bekerja?"
"Ada beberapa hal yang harus di urus untuk besok." jawabnya.
Chanyeol mengangguk.
Kemudian suasananya menjadi canggung ketika di antara mereka tak ada yang berbicara.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan pada Papa?"
Chanyeol yang tadinya menatap sekitar ruang kerja itu langsung menatap Papanya yang berbicara terlebih dahulu.
"Apakah itu tentang Baekhyun?"
Chanyeol mengangguk.
"Kamu sudah memikirkan apa yang Papa tanyakan?"
Chanyeol menggeleng, "Aku belum menemukan jawabannya." jawabnya. "Tapi aku ingin berbicara dengan dia."
"Tentang?"
"Apa yang akan kami lakukan nantinya."
Hyun Seung menghela napasnya.
"Papa tidak tahu dimana dia sekarang." Chanyeol mengerutkan dahinya. "Tapi kamu bisa mencarinya pada Kyungsoo. Kamu tahu Do Kyungsoo? Teman Baekhyun?"
"Papa mengenalnya?"
"Ya, dia pernah berkunjung ke sini dan bertemu dengan Baekhyun. Mereka membahas sesuatu." Jawab Hyun Seung. " Sepertinya dia sangat dekat dengan Baekhyun. Dia pasti tahu dimana perempuan itu."
Chanyeol terdiam mendengarnya.
"Aku bertemunya di rumah sakit."
"Dengan Kyungsoo?"
Chanyeol mengangguk.
"Kamu berbicara dengannya?"
"Ya, hanya sebentar, aku menanyakan kabar Baekhyun padanya, namun dia tak menjawab."
"Kamu yakin dia tak menjawabnya?"
"Dia hanya pernah berkata, dia sedang merawat seseorang."
Hyun Seung tersenyum tipis, "Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Kim Ki Bum menatap datar bayi yang ada di dalam ruangan itu. Hatinya merasa sangat sakit ketika melihat bayi itu berada dalam inkubator dan terlihat sangat kecil. Namun dia tidak dapat menunjukkan rasa sakitnya. Tidak sama sekali.
Hingga jatuhnya dia terlihat sangat dingin dan juga jahat.
Kyungsoo menatap ibu temannya itu dengan cemas karena sejak tadi perempuan paruh baya itu hanya diam tak mengatakan apapun.
"Aku seperti melihat Baekhyun kembali."
Kyungsoo mengerjapkan matanya, dia terkejut ketika mendengar perempuan paruh baya itu berbicara. "Bibi pernah melihatnya saat baru lahir?"
Kibum mengangguk, "Tentu saja aku melihatnya, karena aku yang melahirkannya."
Kyungsoo tercengang.
"Ah, dia tidak memberitahumu soal itu?"
"Bibi adalah ibu tirinya Baekhyun."
"Ya, secara hukum. Tidak secara biologis, dia anakku."
"..."
"Aku mengerti kenapa dia seperti itu."
"..."
"Aku harap, bayi ini tidak akan mengalami hal yang sama dengan dirinya."
Keesokan paginya.
Kebetulan sekali bahwa hari itu Hana harus melakukan pengecekan terakhir di rumah sakit, lalu setelahnya hanya tinggal pengawasannya saja yang dibutuhkan agar perempuan itu meminum obatnya. Chanyeol menemani perempuan itu menuju tempat pemeriksaan.
"Chanyeol?"
Chanyeol tersentak, dia merasa terkejut ketika tangan atasnya di tepuk beberapa kali. Dia mengerjapkan matanya kemudian menatap Hana yang sudah xemberut karena lelaki itu tak mendengarkan apa yang dikatakannya.
"Ah, maaf Hana, aku tidak fokus." Katanya. "Apa yang kamu katakan tadi?"
Hana berdecak, "Aku bilang, setelah ini ayo kita berbelanja kebutuhan bayi."
Chanyeol tersenyum lebar, lalu mengecup puncak kepala wanita dalam. "Eum, ayo."
Mereka berbincang-bincang selama perjalan menuju ruang pengecekan, Hana sesekali tertawa di antara perkataannya pada Chanyeol, sedangkan lelaki itu hanya menanggapinya dengan sedikit tanggapan.
"Aku tak ingin mendengar itu!"
"Kyungsoo-ya, tolong jangan seperti ini."
"Aku hanya tidak mengerti, kenapa dia belum bangun juga hingga sekarang!?"
Chanyeol menghentikan langkahnya ketika mendengar nama Kyungsoo disebutkan. Dia langsung berbalik melihat ke belakangnya dan saat itu dia melihat Kyungsoo dengan seorang lelaki berjas dokter sedang berbicara.
"Aku juga tidak kenapa ini bisa terjadi, aku telah memeriksa seluruhnya dan melakukan periksa labaratorium, Baekhyun dalam kondisi baik, semuanya baik-baik saja Kyung."
"Lalu kenapa dia belum bangun hingga sekarang?" Kyungsoo tercekat oleh napasnya sendiri, dia berusaha menahan tangisnya di depan lelaki itu. "Kenapa Baekhyun belum bangun?"
"Chanyeol?"
Chanyeol mengalihkan pandangannya dan menatap Hana yang terlihat bingung, namun dia melihat kilatan tidak suka pada mata perempuan itu. "Chanyeol, kenapa kita berhenti?"
"A-aku -" Chanyeol mengalihkan pandangannya kembali menatap Kyungsoo yang sudah menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang terus mengusap wajahnya berulang kali.
"Kamu masih peduli dengan perempuan itu?"
Chanyeol menatap Hana kembali dan dia tak menjawab pertanyaan perempuan itu.
"Yang mereka bicarakan itu, Byun Baekhyun bukan, mantan istrimu?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Aku tahu perempuan itu, Do Kyungsoo bukan?"
Chanyeol mengangguk kaku.
"Teman juga asisten Byun Baekhyun." Lanjutnya.
"..."
"Chanyeol, kamu sekarang mulai peduli dengan perempuan itu?"
"..."
"Kamu ingin menemui perempuan itu?"
"Ada yang harus aku bicarakan dengannya."
"Apa? Apa yang ingin kamu bicarakan dengannya?"
Chanyeol kembali tidak menjawab.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan perempuan itu?"
"Hana, kita harus cepat melakukan check-up mu, lalu setelah itu kita berbelanjaan buat kebutuhan bayi kita."
"Kamu mengalihkan pembicaraan."
Chanyeol menghela napasnya. "Bukan sesuatu yang penting kok." Dia tersenyum, kemudian merangkul pinggang perempuan itu dengan lembut, "ayo kita chek-up." Chanyeol mengecup puncak kepala Hana dan saat itu dia mencuri pandang pada Kyungsoo yang kini sudah berada di dalam dekapan dokter itu.
Dia harus menenui perempuan itu sekarang.
Kyungsoo kembali menunggu.
Dia menatap Baekhyun yang menarik napasnya dengan teratur dan mata masih terpejam erat.
Dia menunggu.
Dan kembali menunggu.
Hingga dia muak dengan apa yang di dengar oleh telinganya.
"Dia bilang, tidak ada yang salah Baek." Katanya, kemudia dia tertawa kecil "tapi, kenapa kamu tidak mau bangun?"
"..."
"Apakah kamu tidak mau lihat bayimu?"
"..."
"Apakah kamu tidak merasa kasihan padanya?"
"..."
"Dia hanya memilikimu Baek, jika kamu seperti ini, siapa yang dia punya?"
"..."
"Kamu tidak memberitahu-nya, kamu egois Baek, tega pada dia."
"..."
"Apakah kamu tak menyayanginya?"
"..."
"Apakah kamu tidak mencintainya!?"
"..."
"Jika kamu tidak mencintainya dan menyayanginya, kamu seharusnya membiarkan dia mati waktu itu!?"
"..."
"Bangun Baek! Bangun! Jika kamu memang mencintainya dan menyayanginya!"
"..."
"Byun Baekhyun!"
Chanyeol kembali ketempat dimana dia melihat Kyungsoo terakhir kali tanpa Hana.
Dia berharap perempuan itu masih ada disana, namun sepertinya perkiraannya memang betul.
Perempuan itu sudah tidak disana.
"Ah, maaf." Chanyeol menghentikan dua orang suster yang melewatinya. "Kamar rawat dengan pasien Byun Baekhyun, nomer berapa ya?"
Mereka mengerutkan dahinya kemudian salah satu dari mereka menjawab, "Ada beberapa pasien yang bernama Byun Baekhyun, anda mencari yang mana?"
Chanyeol terdiam, "Dia perempuan dan sedang hamil, jika tidak salah sekarang sudah 8 bulan." Jawabnya.
Kedua suster itu menatap satu sama lain, kemudian suster yang lain menjawab, "Tidak ada orang yang seperti anda sebutkan, adanya Nona Byun yang telah melahirkan."
"Nona Byun yang itu melahirkan saat kandungannya berumur 8 bulan, mungkin beliau yang anda maksud."
Chanyeol mengerjapkan matanya. "Melahirkan?" cicitnya.
"Ya." Suster lain menjawab, "Jika anda maksud nona Byun yang itu, beliau berada di kamar 305, anda bisa lurus saja lalu belok ke kanan."
Chanyeol mengangguk, dia tersenyum dengan terpaksa, "Terimakasih atas informasinya."
"Sama-sama tuan."
Kemudian kedua suster itu pergi meninggalkannya sambil berbincang-bincang
"Ah, nona Byun itu masih belum bangun juga?"
"Ya, setelah operasi, nona Byun masih belum menujukkan kesadarannya." jawab suster lainnya, "Kami sudah memeriksa semuanya, namun tidak ada yang salah."
"Kasihan sekali bayinya. Aku dengar, suaminya tidak ada ya?"
"Sshtt! Sudah jangan lanjut lagi, aku kasihan setiap mendengar para suster membicarakannya."
Hana telah melakukan pengecekan semuanya dan dia kini sedang menunggu Chanyeol di ruang tunggu. Dia tidak tahu lelaki itu kemana setelah mengantarkannya ke ruang pemeriksaan, namun dia tahu. Lelaki itu pasti mencari mantan istrinya itu.
"Aku menemukanmu."
Hana menegakkan punggungnya ketika mendengar suara itu dari belakang tubuhnya.
Dengan perlahan dia memutar tubuhnya dan saat itu mereka bertemu pandang.
"Choi Hyu Yeol." cicitnya.
"Eum ini aku. Cho Hana." Hyu Yeol tersenyum lebar.
"Papa dari anak yang di kandungmu."
