another ending
"hmm apa kalian ada yang tahu di mana kanda dan yuuko? mereka berdua sudah tidak ada di kamarnya," tanya nanami pagi itu di ruang makan sakurasou. yang terlihat terkejut di sana hanyalah hanase. sedangkan yang lain tidak bersemangat mendengar kata-kata nanami tadi. iori tetap pada makanannya. mashiro tidak tahu apa yg harus ia lakukan dan chihiro-sensei tetap diam sambil meneguk bir yang barusan ia buka.
nanami bingung. mengapa mereka semua tidak menjawab bahkan mereka terlihat tidak peduli dengan pertanyaan nanami barusan.
"hei mengapa tidak ada yang menjawabku?" nanami mulai hilang kesabaran.
"ah senpai, aku sendiri pun kaget ketika kau bertanya hal itu. aku tidak tahu ke mana mereka," satu-satunya yang menjawab nanami hanyalah hanase. ia membetulkan letak kacamatanya ketika menjawab nanami. ini aneh, mengapa mereka semua tidak menjawab, kecuali hanase, kata nanami dalam hati. ia khawatir. ia tidak tahu kemana sorata pergi.
"chihiro-sensei apakah kau tahu ke mana kanda pergi?"
"apakah perlu aku menjawabnya?" balas chihiro dengan tidak bersemangat.
"tentu saja! aku khawatir mereka menghilang," kata nanami tidak sabar.
"kau tidak perlu khawatir. mereka baik-baik saja."
"tapi.. tapi ke mana mereka pergi? ayolah sensei," nanami memelas kepada chihiro.
"aku tak mau membicarakannya. iori kau jawab dia!" chihiro menyuruh iori untuk menjawab. iori terkejut. ia sebenarnya tak mau memberitahukannya.
"mengapa harus aku sensei?"
"karena kau tahu juga bukan, iori."
ya dia tahu ke mana yuuko dan sorata pergi tetapi ia telah berjanji kepada senpainya itu untuk tidak memberitahunya kepada nanami dan mashiro. tiba-tiba sebuah gerakan cepat menuju ke arahnya. dan dalam sekejap sosok yang tadi bergerak itu sudah berada di depannya. shiina mashiro, dia lah orang yang tadi tiba-tiba melesat ke depan iori. nanami sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. mashiro, bagaimana ia bisa berpindah secepat itu? dan dari tatapannya sekarang ia.. cemas.
"iori, ke mana sorata pergi?" mashiro menatap iori tepat di matanya.
iori tegagap. ia tidak tahu harus berkata apa karena sekarang seorang senpainya yang canti berdiri di depannya. memasang tanpa marah. jelas saja 180 derajat berbeda dengan keseharian senpainya itu.
"aa.. aaku apa harus menjawab di sini?"
"ya kau harus menjawabnya," nanami membentak.
"ah baik baik aku akan menjawabnya. sabar dulu!" iori membenarkan letak duduknya. berdehem sebentar dan mulai berbicara. "baik, kanda-senpai menyuruhku untuk merahasiakan ini tetapi dengan tekanan yang aku dapatkan sekarang sepertinya sudah cukup untuk membongkarnya. aku tak tahan dengan tekanan tadi. baik, aku mulai. sorata dan yuuko sekarang tengah menuju stasiun. dari apa yang ku dengar, kanda-senpai harus pindah sekolah, sedangkan yuuko akan tetapi di sini. kemarin, secara tiba-tiba orangtua kanda-senpai menelponnya untuk kembali ke fukuoka karena dia mendapat sebuah beasiswa di sekolah daerah fukuoka," jelas iori panjang lebar. ia mengakhiri perkataanya dengan meneguk satu gelas teh yang sedari tadi mungkin sudah dingin.
seketika itu juga, nanami terjatuh. ia secara tiba-tiba tidak bisa menahan berat tubuhnya. ia menangis. air matanya secara tiba-tiba mengalir deras saat itu juga. ia tak percaya sorata akan pergi tanpa pamit. ia menekuk kedua kakinya. membiarkan sebuah sekat antara dia dengan dunia menggunakan kakinya. kanda, bagaimana kau bisa melakukan ini kepadaku? aku tak kuat menahannya. nanami menangis dalam hati. hanase beringsut mendekati nanami yang masih dalam posisi duduknya. ia menghibur nanami sebisanya.
"aku harus ke stasiun," kata mashiro tiba-tiba. ia mengambil langkahnya menjauh dari meja makan. sebelum akhirnya berhenti ketika kakinya dipegang oleh nanami.
"shiina, mengapa kau mau mengejarnya?"
"aku.. aku tak mau kehilangan dia.. lagi," setelah berkata hal itu mashiro berlari keluar asrama. nanami yang tadi terduduk sekarang mengambil segala kekuatannya untuk berdiri. ia tahu apayang harus dilakukan sekarang. mengejar sorata. ia berlari keluar mengejar mashiro yang sudah terlebih dahulu di luar.
"shiina, tunggu aku! kau pasti tidak tahu di mana letak stasiun bukan?"
"aku tahu di mana itu," mashiro menjawab tegas. ia berlari dengan segala kekuatan yang ia punya. kecepatan larinya tidak seperti biasa. ia berlari lebih cepat dari sebelum-sebelumnya.
aku tidak akan membiarkan sorata pergi lagi, aku tak mau kehilangan dia lagi, dan ini adalah usaha terakhirku menghentikan dia. mashiro berkata dalam hal itu dalam hatinya. nanami tergopoh-gopoh mengikuti mashiro yang berlari tak seperti biasanya.
"shiina, apakah kau sangat mencintai sorata? sampai-sampai kau berlari tidak seperti biasanya. kau seperti seorang anak yang mengejar ibunya ketika ia akan pergi jauh. mashiro, aku ingin seperti mu. tak menyerah untuk mengejar orang yang kau cintai," nanami berkata dalam hati. air mata mengalir lembut melewati pipi halusnya. meninggalkan jejak-jejak air di sana.
stasiun dan asrama sakura tidak terlalu jauh tetapi mengapa mereka merasakan hal yang aneh. mereka merasa jauh ketika berlari ke sana. padahal bukannya dengan berlari mempercepat kami sampai di sana? keluh nanami. ini kah yang disebut relativitas waktu. mereka telah melewati distrik perbelanjaan. orang-orang yang telah mengenal nanami memanggilnya untuk mampir ke toko mereka. tetapi nanami menolak dengan halus. ia bilang ada hal penting yang harus ia lakukan sekarang.
akhirnya mereka sampai di stasiun. dengan nafas terengah-engah mereka masuk ke dalam stasiun. mencari sorata di dalam. stasiun pagi ini ramai dengan hilir mudiknya orang-orang yang akan pergi bekerja dengan kereta. nanami tidak melihat sorata dari sini, ia harus mencari lebih jauh ke dalam. sedangkan mashiro berpikir menebak-nebak di mana sorata berada.
"shiina, apa kau mau ikut aku mencari di sebelah sana?" teriak nanami kepada mashiro di tengah kerumunan orang. sepertinya mereka berdua menarik perhatian orang-orang dewasa di sana. mashiro tidak menjawab nanami, ia tiba-tiba pergi sendiri ke arah yang lain. nanami bingung dengan kelakuan mashiro kembali.
"apa dia tahu di mana sorata berada?"
mashiro sekrang tengah berlari didesakan orang-orang yang ingin naik kereta. misal sorata pergi, ia pasti akan pergi jauh sekarang. mashiro berlari menuju peron di mana kereta shinkansen berada. ia yakin di sana lah sorata berada. dalam situasi ini, posisi merek berbalik. jika kita ingat ketika hari perpisahan itu. sorata memaksa mashiro untuk tidak pergi. dan sekarang kejadian itu terbalik. mashiro lah yang harus memaksa sorata agar tidak pergi. ketika mashiro berlari mencari sorata, ia melihat sesosok pemuda tengah menggandeng adik perempuannya. mereka berdua membawa dua buah koper. itu...
sorata!
mashiro berlari mengejar pemuda itu. ia tak peduli bahkan jika orang-orang di sana harus ia dorong agar lebih cepat sampai ke tempat di mana sorata berada.
gadis itu memeluk pemuda tadi. melingkari tangan halusnyadi pinggang pemuda tersebut. sepertinya pemuda itu terkejut dengan aoa yang ia rasakan sekarang. pelukan gadis itu makin kuat. sang pemuda berdiri mematung sekarang. pemuda tidak tahu apa yang ahrus ia lakukan sekarang. detak jantungnya memburu sekarang.
"aa...aaa ma.. shiii.. ro.. aaa.. paa.. yang... kau lakukan?" ia tergagap ketika bertanya pada mashiro. sorata mungkin sedang mengalami serangan jantung sekarang.
"jangan pergi. jangan pergi. jangan pergi sorata!" mashiro memeluk sorata semakin erat. ia tak ingin kehilangan orang yang ia sayang. ia tak mau kehilangan sorata untuk kedua kalinya.
"ehem.. maaf mashiro. sepertinya untuk saat ini, aku tak bisa memenuhi permintaanmu," sorata berkata sambil menahan air matanya. hati kecil sorata menangis. sejujurnya ia juga tak ingin pergi. ia ingin tetap tinggal di sakurasou, tetapi beasiswa itu menarik perhatiannya. terlebih lagi dia bisa fokus dalam membuat sebuah game. "aku minta maaf mashiro, tidak bisa tetap tinggal di sini."
mashiro menangis. air matanya keluar deras sekarang. ia, dalam hati terdalamnya, tak ingin sorata pergi. mashiro ingin agar sorata tetap disampingnya. menemaninya setiap malam dan mengurusnya. tetapi, jika sorata pergi, mashiro tidak akan merasakan hal itu lagi.
"maaf sekali lagi,"
"kanda!" suara itu berasal dari nanami yang ada di belakang mereka. ia berlari menuju sorata. "mengapa kau pergi hah? apa kau tidak lihat betapa sedihnya mashiro?!" nanami berteriak di depan wajah sorata, persis.
"sejujurnya aku juga tak mau tapi..."
"tapi apa kanda?! kau mau meninggalkannya?" nanami mendesak sorata.
terjadi hening beberapa saat. sorata belum bisa menjawab pertanyaan nanami. ia diam berdiri. sementara pelukan mashiro makin erat kepadanya. perasaan sedih mashiro perlahan mengalir ke sorata. ia merasakan sakitnya juga.
"tidak! aku tidak mau meninggalkannya.. tapi ini, kepergianku sudah diperintahkan oleh mereka. orangtuaku. aku tak bisa begitu saja menolak permintaan mereka!" sorata akhirnya menjawab setelah keheningan panjang itu. ia menangis. tetesan air mata membasahi pipinya. "aku tak mau meninggalkan kalian. tapi sepertinya ini sudah takdir ku. mana mungkin aku melepaskan diri dari takdir."
nanami terdiam mendengar perkataan sorata. ia tak percaya.
"sorata, apa kau membenciku? hingga kau ingin meninggalkan kami. apa ini semua salahku? aku.. aku tak mau membuat seseorang jadi membenciku," mashiro berkata setelah ia hening beberapa menit. matanya berkaca-kaca.
"tidak, ini bukan salah mu mashiro. aku hanya ingin menjemput impianku. jika semuanya selesai, aku berjanji akan kembali ke kota ini. menemuimu. pastikan bahwa kau tidak kembali ke Inggris, oke?"
suasana ini menyesakkan bagi mereka.
kereta pun tiba. kereta yang akan membawa sorata dan yuuko kembali ke fukuoka. sorata mengambil kopernya dan membawa serta koper itu dan yuuko untuk naik ke kereta. tangis pecah dari mulut nanami. ia tak bisa menghentikannya.
"untuk terakhir kalinya sorata. buat ia merasakan kenangan terakhir ini," gumam sorata dalam hati.
"mashiro," sorata memanggil mashiro. ia memeluknya. dekapan itu sangat kuat. sorata merasa itu adalah pelukan terakhirnya bagi mashiro. dia tidak mau menyia-nyiakan saat itu.
"terima kasih karena kau lah yang telah membuatku berbuha hingga seperti ini. kau membantuku mencari impian yang sebenarnya. aku tak akan melupakanmu mashiro..." sorata melepaskan pelukannya. sementara shiina mashiro masih terus menangis, walaupun dari wajahnya tetap ada aura tanpa emosi. "aku akan merindukan wajah itu," gumam sorata lagi.
sorata dan yuuko pun melangkah ke dalam kereta. sementara nanami dan mashiro mengantar mereka. masih dengan air mata yang terus menetes, mereka melambaikan tangan. tanda akan perpisahan.
alarm tanda keberangkatan berbunyi. tanda kereta akan segera berangkat. di dalam, sorata menggumamkan sesuatu.
"aku mencintai mu mashiro," ia terlambat mengatakan itu di depan mashiro.
kereta pun melaju.
