TRIMESTER KETIGA : Chapter 7
Semakin banyak orang yang tahu tentang bayi nya semakin Iruka merasa sedikit lega. Ketakutan Iruka jika Kakashi tahu kalau bayi ini milik nya, sekarang Iruka bermain dengan api yang semakin lama semakin membesar dan tidak segan akan membakar dirinya. Mungkin jika dia berterus terang pada Kakashi, tidak akan berakhir buruk. Ada kesempatan dimana mereka bisa membesarkan bayi ini berdua. Mereka bisa saling mendukung dan menjadi orang tua yang baik. Meskipun sekarang Iruka tidak lagi menjalin hubungan dengan Kakashi.
Iruka berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan memberi tahu Kakashi tentang semuanya sebelum bayinya lahir.
Walaupun bukan berarti dia akan bilang saat ini juga. Kehamilan Iruka yang memasuki usia 7 bulan mulai menyadarkan nya, dirinya tidak lagi memiliki banyak waktu. Karena itulah saat perusahaan membutuhkan bantuan nya Iruka selalu bersedia.
Seperti malam ini misalnya. Iruka tidak menolak saat diminta untuk mendampingi Kakashi dalam acara amal yang diadakan White Fang .inc
Iruka ingin mengingat setiap moment dia bersama dengam Co-workers nya.
Meski begitu, Dokter Kaho selalu mengingatkan Iruka soal kondisi nya.
"Kau tak harus melakukan ini, Iruka." Ucap Kakashi saat berada dalam mobil menuju ballroom.
Iruka berdecak, "Dan membiarkanmu menghadapi orang-orang itu sendiri?"
Acara yang disebut Fund Carity oleh WF .inc tidak lain adalah pertemuan para pejabat dan pengusaha untuk mencari dukungan dari si pewaris tunggal tahta Hatake.
Kakashi menggeleng dan menghela nafas.
"Kita sudah disini," kata Iruka sambil keluar dari mobil. Kakashi mengikutinya. Di luar Kakashi tersenyum dengan para pers.
Di dalam ball room acara sudah hampir dimulai. Kakashi sedikit memberikan ucapan sambutan, lalu dia langsung dikerumuni oleh para orang-orang penting yang menurut Iruka hanya ingin cari muka.
Saat Kakashi kesulitan atau mulai bosan akan pembicaraa para pejabat itu, Iruka yang akan selalu memberikan alasan agar Kakashi bisa segera mengakhiri basa basi mereka.
"Yamato." Panggil Iruka, "Bisa tolong gantikan aku sebentar?"
Yamato mengangguk setuju. "Jangan terlalu lama. Senpai bisa menjadi liar tanpa kendali mu,"
Iruka mengangguk pelan. Kakashi memang sering kehilangan kendali saat alkohol (yang tentu tersedia dalam menu dalam acara ini) sudah memasuki sistem tubuhnya. Dan hanya Iruka yang bisa menghentikan Kakashi dengan jentikan jari.
Tapi sejak dari semalam, Iruka merasa tubuhnya lebih letih dari biasanya. Kakinya lelah, sakit kepala yang sejak tadi pagi mulai muncul lagi. Mual bukan lagi hal yang mengagetkan untuk Iruka.
"Maaf, permisi. Apakah anda Iruka Umino dari White Fang .inc pusat?" Seseorang menghentikan langkah Iruka saat mau menuju restroom.
Iruka menoleh ke suara tadi dan mendapati seorang wanita dengan rambut tergerai dan bermata coklat bening. "Benar, saya Iruka Umino. Nona?"
"Hanare. Hanare Shimura."
Iruka menyambut uluran tangan si wanita itu. Di ingatnya ucapan Anko dulu, tentang seorang wanita dari cabang White Fang .inc yang dekat dengan Kakashi.
"Kalau anda tidak keberatan bisakah saya bertanya beberapa hal tentang Kakashi?" Lanjut Hanare.
Iruka mengangguk pelan. Keningnya seperti ditusuk ribuan paku.
"Ahh saya beberapa kali bertemu dengan Kakashi, ada ...,"
Kalimat Hanare mulai terdengar sayup-sayup ditelinga Iruka. Pandangan nya juga mulai berputar.
"Iruka-san, anda baik-baik saja?" tanya Hanare sewaktu dilihatnya Iruka menggigit bibirnya yang kering.
"Aak... aku... AaKkHhh!" Iruka menjerit saat hujaman nyeri diperut nya datang tiba-tiba. Iruka jatuh berlutut di lorong menuju restroom. Entah bagaimana Iruka terbaring dilantai ballroom yang dingin dan lampu dilangit-langit terasa menusuk matanya.
Iruka mendengar bisikan ngeri orang-orang disekeliling nya. Dia sadar sesuatu yang gawat sedang menimpanya.
"Arrgghh ... Bayi ku." Terengah menahan sakit Iruka mendesis. Tangan nya berusaha meraih sesuatu.
"Panggil Ambulance! Kabari Tsunade tentang keadaan Iruka!" Teriak Kakashi memberi perintah.
Dari sudut matanya, Iruka melihat Yamato sedang cepat berbicara lewat ponselnya.
Kakashi dengan tanggap melepas jas-nya dan menaruhnya sebagai bantal untuk kepala Iruka. "Hei, Iruka. Semua nya akan baik-baik saja. Kau mendengarku?" Tangan besar Kakashi meraih telapaknya dan menggenggamnya. Dengan jarinya yang lain, Kakashi menyibakkan rambut Iruka dari dahinya yang basah oleh keringat. "Bersabarlah, bantuan akan segera datang. Oke?"
Iruka ingin menjawabnya, tapi mulutnya tercekat, dengan anggukan Iruka kembali meremas tangan besar Kakashi. Di gigitnya bibir, untuk meredakan perih diperutnya.
"Senpai," panggil Yamato pelan. Dia bersimpuh di sekitar kaki Iruka "Senpai, kau harus lihat ini."
Iruka berusaha bangkit untuk melihat apa yang terjadi dengan tubuh bagian bawahnya. Tapi bahunya ditahan oleh seseorang.
"Iruka-san, tolong berbaringlah dulu," suara lembut Hanare membuat Iruka mendongakkan kepala nya. Dilihatnya mata coklat bening milik Hanare berair, membuat Iruka menjadi ketakutan.
"Oke," Kakashi mengangguk "Kita tidak bisa menunggu, Iruka harus ke rumah sakit sekarang." Kakashi kembali ke samping tubuh Iruka yang terbaring, saat itulah Iruka melihat darah di kedua tangan Kakashi.
"Kami-sama!" Iruka menjerit dalam tangis "Bayi ku!"
"Kau pasti akan baik-baik saja Iruka. Percaya padaku," Kakashi meraih bahu Iruka dan meyakinkan nya "Iruka! Lihat aku! Aku bersumpah tak akan kubiarkan hal buruk terjadi pada bayi mu!"
"Bayi kita ... Aakkkhhh," Iruka memekik menahan tangis dan sakit nya, para petugas medis dari ambulance datang dan mulai menghalangi Kakashi dari pandangan Iruka. Tangan dingin petugas medis yang berbalut gloves plastik mulai melakukan tugas nya, menyingkirkan baju Iruka agar bisa memasang alat deteksi jantung dan lain nya. Dan dari semua nya Iruka berfikir kalau dia akan kehilangan bayinya tanpa sempat memberi tahu Kakashi kebenaran nya.
"Ya!" Kakashi mengangguk yakin, "Bayi kita! Semua orang akan menyayangi nya."
Iruka menepis tangan petugas medis dan berkata "Tidak! Bukan Kakashi. Bayi kita! Milik ku dan milik mu!" Iruka mulai merasa kehilangan kesadaran nya, rasa nyeri yang masih menusuk perut nya perlahan mulai menghilang. Dirasakan tubuh nya mulai lemas dan perlahan Iruka merasa melayang.
"Milik ku?" Ucap Kakashi lirih dan bingung "Ak .. aku tak paham."
Tangan besar Kakashi meraih Iruka dan menggenggamnya. "Harus nya ku katakan dari dulu," Iruka segera menjawab sebelum kesadaran nya hilang "Aku salah telah berbohong dan menjauhkan bayi ini darimu. Aku takut dan tak ingin menghancurkan kehidupan mu. Maaf Kakashi."
Tepat saat Iruka mengaku, petugas medis segera membawanya berlari menuju ambulance dan langsung menuju rumah sakit. Meninggalkan Kakashi dengan semua kebingungan.
"Senpai, aku telah menghubungi Nona Tsunade. Dia sudah menunggu di bagian Emergency." Yamato menggiring Kakashi ke ruang yang dirasa nya tidak terlalu crowded.
"Apa maksud Iruka tadi?" Wajah Kakashi bahkan lebih pucat dari Iruka. "Tenzo!"
Yamato menghela nafas panjang. Tak pernah sebelum nya Kakashi memanggil nya dengan 'Tenzo' sejak masa remaja mereka. "Ada hal yang harus aku jelaskan, Senpai."
Kakashi memicingkan mata nya tajam "Bayi itu milik ku?" Itu bukan pertanyaan untuk dijawab. "Katakan padaku Tenzo! Bayi itu milik ku!? Dan kau tahu dari awal? Kau biarkan Iruka berbohong padaku? Bayi itu benar milik Ku?"
Yamato mengangguk perlahan "Ya." Sedetik kemudian sebuah kepalan menghantam pelipisnya, dan pukulan berikutnya mengikuti. Yamato tak pernah menghindar.
-()-()-()-
NB : jeng jeng jeng ... jadi Iruka akan kehilangan bayi nya?
Hmmm gomen nee? Lama nian saya update lagi... mohon bersabar...
3 chapters to go alias sudah mendekati akhir ... do'a kan saya pemirsa... jangan lupa review nya... ;)
