Disclaimer: 07-Ghost (C) Amemiya Yuki dan Ichihara Yukino.

Warning: Alternate Reality, OC, Diusahakan tak ada typo, EYD masih diragukan, ada kemungkinan OOC tapi saya kurang tahu (karena minimnya pengetahuan author tentang anime ini), dll.

Genre: Action/Adventure, Fantasy, Drama.

Don't Like, Don't Read!

:: Eyes Of Archangel ::

.

.

"Maafkan aku. Sebenarnya aku adalah penyihir." Gadis itu memandang Teito dan Frau secara bergantian, tatapannya agak sayu dan wajahnya pucat bukti bahwa keadaannya tidak baik, tepatnya belum baik. "Namaku adalah...Vega, penyihir pengawas."

"Hah?"

"Mari kita bicara di tempat lain," ajak gadis itu. Mereka berjalan beberapa menit dan menangkap tempat yang dirasa nyaman untuk berbicara, mereka menuju tepi sungai.

"Mm... Vega-san," Teito mulai berbicara, "Apa maksudmu dengan penyihir pengawas?"

"Penyihir yang bertugas mengawasi beberapa hal dan hal-hal tertentu. Teito-san, bisa aku menjabat tanganmu?"

"Eh? Ah, um," jawab Teito. Dengan ragu, ia mengulurkan tangannya dan dua kulit manusia itu pun bersentuhan.

"Sudah kuduga."

"Hah? A-Apa?"

"Waktu kita di serang Asura waktu itu secara tidak sengaja kita saling memegang tangan dan aku merasakannya. Eye of Mikhael ada bersamamu, bukan? Di punggung tangan kananmu..."

Reflek Taito melepas jabatan tangannya dengan kasar, "Bagaimana kau tahu?"

"Hei, sebenanya siapa kau sebenanya, gadis yang mengaku penyihir?" tanya Frau.

"Aku dan rekan-rekanku datang dari dunia lain melalui Benua Selatan di sebuah pulau bernama Livoine dalam misi mengantisipasi keberadaan Eyes of Archangel."

"Livoine?" ulang Teito.

"Wajar jika anda tidak tahu, Livoine adalah pulau kecil yang jauh dibagian selatan yang ditinggali hanya puluhan penduduk, di sekitarnya hanya ada lautan dan beberapa pulau kecil yang tidak dihuni. Kadang tidak tertulis sama sekali di peta."

"Etto... Eye...Eyes of Archangel, apa itu? Dan apa yang akan kau lakukan jika bola itu ditemukan?" tanya Frau.

"Hanya menjaga sampai Mereka memiliki tempat yang layak, itu saja."

"Vega-san, apa mata itu juga melayani raja atau kerajaan?"

"Tidak juga. Eyes of Archangel memiliki eksistensi yang berbeda dengan keberadaan Eye of Mikhael dan Eye of Raphael yang selama ini anda ketahui. Bahkan keberadaan Eyes of Archangel sudah lama ada sebelum 2 mata itu ada. Ah! Seorang Ghost yang baru beberapa tahun terlahir di dunia ini pastinya tidak tahu, ya."

"Eh!?"

"Anda salah satu dari 7 Ghost bukan, Frau-san?" Vega memiringkan kepalanya.

"HEEEEE...!"

.

~o~

~oO0Oo~

~o~

.

Dari kejauhan, seorang pemuda dengan teropong terus mengawasi rumah mewah kediaman Oak. Ya, dia Amelion atau Jo.

"Nah, Jo. Bisakah kau menghentikannya, kurasa kau agak berlebihan dengan menaruh kecoak dan ular di rumahnya," ucap Selaphiel yang suaranya berangsur-angsur mirip Jo.

"Anda benar. Mari kita akhiri sebelum kesialan sesungguhnya datang pada pemuda itu."

Sementara itu, rumah tersebut masih gaduh dengan teriakan penghuni rumah.

"Shuri-sama, bertahanlah! Shuri-sama!" teriak seorang pelayan sambil mengguncang bahu pemuda berambut pirang yang mematung dengan wajah pucat.

"AKU TIDAK TAHAN LAGIIIIIIIII...!" teriak Shuri tiba-tiba mengacak rambutnya terlihat frsutasi. "KENAPA BISA ADA KECOAK DI SINI...!?" teriaknya lagi sambil menunjuk sudut-sudut ruangan, dibawah meja, guci keramik, dan kamar-kamar lainnya yang banyak kecoa dan kecoak mati yang berserakan dilantai.

"Hoi...~~ Pelayan~~.." Air muka Shuri menghitam dengan horror dan jangan lupa kerutan 4 siku-siku imajiner muncul di wajahnya tanpa bahwa ia sedang marah.

Para pelayan yang berdiri di dekat Shuri hanya merinding ketakutan.

"Kalian... sudah... membersihkan... rumah... ini... dengan... benar... kan...?" tanya Shuri dengan pelan dan banyak jeda, tanpa mengubah ekspresinya.

"Su-Sudah, Tuan!" teriak semua pelayan dengan kompak.

"La~lu?"

"Entah kenapa, para kecoak datang secara tiba-tiba. Menurut saya kecoak-kecoak ini kehilangan habitat mereka dan tersesat kemari. Be-begitulah, Tuan," ucap salah satu buttler dengan senyuman canggung.

Namun sepertinya penjelasan seperti itu tidak bisa diterima oleh sang Tuan Muda Oak dan malah membuatnya jengkel. Semua pelayan jadi berkeringat dingin.

"Makanya, kubilang juga apa. Bola kristal itu membawa sial."

Semua orang celingak-celinguk, melihat ke kanan ke kiri mencari asal suara.

"Aku disini. Disini!"

Semua orang melihat ke atas─

"GAAAAAAA...!" Shuri berteriak dengan jawdrop. "KAU ORANG YANG ADA DI PASAR KEMARIN!" Shuri menunjuk kearah Jo dengan spontan yang sedang di atas lampu hias yang menggantung di atap.

"Yo, Oak-san. Kita berjumpa lagi," sapa Jo dengan senyuman ramah.

"Apa... Apa yang kau lakukan, hah?" ucap Shuri mengerutkan kening.

"Mengambil bola kristal yang membawamu kesialan. Aku yakin kau mengalami banyak hal, kan?"

"Ya, memang. Banyak hal. Tapi bukan itu yang kutanya." Shuri bergetar sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Hm?" Jo berkedip-kedip menatap Shuri, bingung.

"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN ATAP RUMAHKU, K********...!" teriak Shuri menggelegar membuat para pelayan menutup telinga mereka.

"Oh," gumam Jo sambil melihat ke atas, tepat di atas kepalanya. "Maaf, ini lubang yang kupakai buat masuk," jawabnya dengan tampang innocent.

"NANI...?!"

"Tenang saja, lubang ini akan menutup dengan sendirinya, kok," ucap Jo sambil tersenyum canggung.

"Jangan bercanda! Mana ada begitu?"

"Langsung saja ke intinya." Jo melompat tepat di depan Shuri, "Aku kemari untuk mengambil bola kristal itu. Kembalikan padaku."

"Haah?! " Sesungguhnya Shuri tidak tahu harus berkata apa karena perasaannya yang bercampur bingung dan kesal plus otaknya yang memang agak lelet.

"Kembalikan bola itu. Atau kau akan dapat kesialan yang sangat besar." Jo kini memasang wajah datar dan tatapannya tajam dengan efek shadow ala komik-komik. Tangan kanannya ia pakai menepuk bahu Shuri. "Kau sudah didatangi ular dan kecoak, kan? Itu artinya hal buruk akan terjadi! Kedua hewan itu adalah pertanda adanya hal buruk."

Shuri langsung menepisnya, "Jangan sentuh aku! Kenapa kau tahu ada kecoak dan ular dirumahku!? Lagian mana ada kecoak dan ular pohon menjadi pertanda bencana!? Adanya itu ular kobra atau gagak, tahu!" teriaknya.

Jo diam sejenak. Shuri terengah-engah, capek teriak.

"Ternyata kamu tahu, ya?" ucap Jo dengan mimik takjub.

"Tentu aku tahu, sialan!" Shuri berteriak lagi, merasa tersinggung.

"Aku akan mengganti uangmu. Tapi kuminta kembalikan bola itu padaku." Semakin lama aura Jo semakin berat dan tatapannya terasa semakin tajam. Shuri merinding. Namun mendadak menjadi senyuman polos, "Kau sudah mendapat kesialan bertubi-tubi dari bola kristal ini berkali-kali, kan? Coba pikir jika kau memberikan ini pada ibumu, bukankah itu bahaya?"

"Iyaaah...me-memang semenjak aku membeli kristal itu ba-banyak yang terjadi..." wajah Shuri mulai mengeluarkan keringat dingin.

"Benarkan? Makanya sebaiknya kau buang Kristal itu. Berikan padaku dan aku akan mengganti uangmu." Jo melempar sekantong koin emas ke arah Shuri dan dengan refleks berhasil ditangkapnya.

"O-Oke." Shuri langsung megeluarkan kotak merah dari saku celananya dan menyodorkannya pada Jo.

"Dia langsung menyerahkannya tanpa protes. Orang ini benar-benar percaya bola itu membawa sial baginya atau dia yang polos?" ucap Selaphiel sweatdrop. Tentu saja tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali Jo.

"Apa ini?" tanya Jo.

"Kotak. Kristalnya ada di dalam," jawab Shuri dengan muka datar.

"Kau akan memberikan ini pada ibumu? Kenapa tempatnya seperti tempat cincin yang dipakai seorang lelaki melamar pacarnya?"

"Urusai. Tidak ada hubungannya dengan tempat. Kotak ya kotak. Tempat untuk menaruh benda. Kristal itu perhiasan dan kotak ini adalah kotak perhiasan. Dan lagi, melamar seseorang tidak selalu pakai cincin dalam kotak merah. Maunya kuberikan pada ibuku sekarang karena Beliau bilang akan mampir kemari tapi sekarang ini untukmu."

Jo hanya diam, matanya berkedip-kedip beberapa saat. Tangannya langsung meraih kotak merah dengan wajah memerah dan berkeringat seperti orang demam atau gugup.

"Apa-apaan ekspresimu itu," Shuri bertanya masih dengan ekspresi datar.

Masih dengan wajah memerah, Jo menggerakan bola matanya, mengalihkan pandangan dari Shuri. "Ie. Hanya saja rasanya seperti menerima sebuah hadiah cincin atau perhiasan dari seorang pacar lelaki. Hazukashii..."

Muka datar Shuri pun luntur berganti wajah jijik, "Jangan bicara hal yang menjijikan!"

"Kalau begitu aku pergi~!" seru Jo sambil berlari menuju pintu terdekat.

"JANGAN LANGSUNG PERGI KETIKA ORANG BICARA, WOY!" teriak Shuri, namun Jo telah keburu tak terlihat sosoknya. Tapi itu tak berlangsung lama. Kepala Jo tiba-tiba menyembul keluar dari pintu.

"Ngomong-ngomong, jalan keluar rumah yang mana, ya?" tanyanya dengan senyum polos.

Wajah Shuri pun memerah karena jengkel.

PRANG! PRANG! PRANG!

Suara seluruh kaca jendela pecah di ruangan itu.

"Kyaaaa...!" semua orang berteriak kaget, kecuali Jo, meski begitu bukan berarti Jo tidak ikut terkejut. Malah dialah yang keliahatannya paling terkejut.

"Aura ini... Kenapa...?"

Sebuah benda seperti akar sulur tiba-tiba muncul dari salah satu jendela yang pecah dan langsung menyerang Jo dengan menusuknya.

"Yes! 2 burung tumbang dalam sekali tembak!" seru seorang gadis dengan ceria di luar jendela.

Shuri yang masih shock langsung menoleh kearah luar jendela dimana suara dan sulur itu muncul.

Seorang gadis pirang kecoklatan pendek dengan poni rata. Wajahnya manis seperti boneka, bulu matanya lentik dan panjang, matanya bulat, dan kulitnya putih. Memakai kimono putih bermotif bunga sakura. Benar-benar persis seperti boneka. Meski terlihat menawan dan tersenyum, tapi entah kenapa auranya tampak gelap.

Di tangannya terdapat boneka hijau. Tubuhnya terdiri dari dedaunan dan akar, kepalanya dibungkus kain hijau senada dengan daun ditubuhnya. Di dada boneka itu muncul akar-akar yang menyerang Jo tadi.

Jo ─sekali lagi─ sangat terkejut ketika melihat kotak merah ditangannya telah berpindah ke tangan gadis itu, "Sejak kapan?" gumamnya.

"Bye bye.." gadis itu segera berbalik, hendak pergi.

"Tunggu!" teriak Jo langsung berlari keluar mengejar gadis itu melalui jendela yang kacanya telah pecah.

"BARACHIEL-SAMA...!" teriak Selaphiel langsung mengambil alih tubuh Jo karena panik. Jo sendiri sedikit terkejut dengan tindakan Selaphiel, namun ia membiarkannya. Mata Jo pun berubah menjadi warna perak. Laju lari Jo meningkat.

Shuri beserta pelayannya hanya melongo di tempat.

"A-apa itu tadi?" tanyanya entah pada siapa.

.

~o~

~o0O0o~

~o~

.

"Si-si-siapa kau sebenarnya?" Frau menunjuk-nunjuk kearah Vega dengan muka shock.

"Penyihir."

"Bukan itu maksudku!"

"Tapi aku memang penyihir biasa."

"Oke. Oke. Baik kau seorang penyihir. Dan apa tujuanmu mendatangiku?"

"Aku sendiri sebenarnya nggak punya keperluan sama kalian berdua, sih. Tapi karena situasi kemarin dan kerah ini yah... terpaksa, deh aku kasi tahu kalian tentang diriku, berhubung kalian juga punya hubungan sama surga," jawab Vega sambil garuk-garuk kepala.

"Benar juga, ya... Kita bertemu secara kebetulan.. Eh! Kau tadi bilang 'juga'? Apa kau punya hubungan dengan surga juga, bukannya penyihir itu dekat dengan iblis dan setan atau sejenisnya?" tanya Teito.

"Eh! Benar juga, ya..." Vega menunduk sambil memegang dagunya dengan telunjuk, tengah berpikir, "Mungkin aliran sihir yang kupelajari agak beda, mungkin."

Seketika Frau dan Teito sweatdrop.

"Lalu apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Frau.

"Oh, iya ya. Aku mau minta tolong, boleh?"

"Hm? Apa?"

"Aku mau pergi ke Gereja untuk bertemu petinggi uskup disana. Anda tahu tempatnya?"

Frau dan Teito saling pandang.

"Tidak bisa, ya..?" Vega menunduk kecewa.

"Maaf, tapi keadaannya agak sulit.."

Vega diam sejenak, masih menunduk. Diam-diam dia mengepalkan tangannya dan menggigit sedikit bibirnya. "Tapi kalian tahu tempatnya, kan?" tanyanya.

Belum sempat memberi jawaban, Vega langsung bersujud di hadapan Frau. "Aku mohon. Ijinkan aku bertemu dengannya."

"O-oi, hentikan. Berdiri! Kau ini berlebihan!"

"Tidak. Sebelum anda mengijinkan saya."

"Tapi tidak sampai bersujud seperti ini juga."

"Aku mohon. Ada hal penting yang harus aku lakukan."

"…"

"Aku mohon."

"Ck! Iya, iya. Akan kuantar karena itu berdirilah." Frau mendorong bahu Vega sehingga Vega kini terduduk.

"Kami akan mengantarmu, tapi sebagai gantinya ceritakan tentang dirimu pada kami."

"Haik!" Senyum cerah nampak di wajah Vega yang pucat.

"Tapi kita perlu penyamaran."

"He?"

.

~o~

~oO0Oo~

~o~

.

"Kecepatan dan kelincahan yang hebat," ucap Jo. Saat ini tubuhnya telah diambil alih Selaphiel, mata malaikat yang ia sembunyikan di dadanya sebagai kalung (tapi saat ini mata itu menempel di dadanya).

"Anda memiliki tubuh yang kuat. Itu sangat mendukung kemampuan saya yang dapat bergerak cepat," ucap Selaphiel, "Dengan begini kita bisa mengejar gadis itu dan membawa kembali Barachel-sama."

Tiba-tiba akar sulur dalam jumlah dan ukuran yang besar datang menyerang.

Slang!

Sebuah benda mirip kaca menangkis akar-akar tersebut dan mementalkannya.

"HAH!" Selaphiel melebarkan matanya, terkejut karena merasakan hawa keberadaan manusia dan akar yang memental itu menuju kearah manusia itu berada. "Di atas sana!" teriak Selaphiel.

"AWAAAS!"

.

~o~

.

Sebuah Hawkzile terbang dengan cepat. Hawkzile itu dikendarai oleh Frau. Di belakangnya, Teito ─yang tengah memeluk punggung Frau─ dan Vega ─yang memeluk punggung Teito─ serta Mikage ─yang tengah duduk di tas yang digendong Vega─ hanya diam.

"Hm? Apa itu?" Teito bersuara memecah keheningan.

"Ha?" Frau menoleh dan mendapati sebuah hutan. Sebuah area di suatu tempat di hutan itu, tidak jauh dari tempat mereka terbang, muncul akar-akar sulur berukuran besar. "Apa itu?" Frau bertanya balik.

"Are?" Vega tiba-tiba bersuara.

"Ada apa?" tanya Teito pada Vega.

"Ada orang disa─"

"Awaaas...!" samar-samar terdengar suara pria dan akar-akar itu langsung berterbangan dan beberapa diantaranya menuju ke arah mereka bertiga.

Tentu saja ketiganya kaget dan reflek Frau menggerakan hawkzile-nya guna menghindar. Teito dan Vega pun mempererat pelukan mereka agar tak jatuh.

"Apa-apaan ini?! Apa yang terjadi!?" teriak Teito panik.

"Pya!" Mikage masuk ke dalam ransel Vega, bersembunyi ketakutan.

"A! Oniichan da..." bisik Vega namun Teito mampu mendengarnya.

"Oniichan?!" seru Teito, sedikit kaget.

Sedangkan dibawah sana, di hutan. Jo kembali mengambil alih tubuhnya dari Selaphiel, matanya memandang ke atas dimana Frau, Teito dan Vega berada. Tanyanya hendak mengeluarkan sesuatu dari balik lengan jubahnya yang ternyata adalah sebuah seruling. Tangan kanan yang ia pakai memegang seruling itu ia ayuhkan seperti mengusir seseorang pergi.

Vega terdiam melihatnya hingga kepalanya ia gerakan memandang wajah Teito. "Kita harus pergi dari sini!" ucapnya.

"Eh?! Tapi tadi kau bilang 'oniichan', berarti kakakmu ada disana, kan?"

"Tidak ada apa-apa. Kita harus pergi!"

"Oi, Chibi Majo," panggil Frau, "Aku melihat seseorang disana. Dia kakakmu, kan? Tidakkah kau ingin menolongnya?"

"Aku diperintahkan untuk pergi dari sini olehnya."

"Hah? Sejak kapan dia bilang begitu? Atau kau hanya ingin melarikan diri saja?!"

"Aku percaya padanya!" teriak Vega, "Dia kuat bahkan level kekuatannya sangat jauh diatasku. Dia tidak akan mati dengan mudah. Dan lagi dia tidak sendirian."

"Oi, awas!" teriak Teito begitu ada akar lain yang menuju kearah mereka. Frau berhasil menghindarinya.

"Sepertinya tanaman itu ingin menyerang kita!"

Akar lain muncul dan lagi-lagi berhasil dihindari. Frau melihat seorang pemuda yang berpegangan erat pada akar yang menyerang mereka. Kini pemuda itu jaraknya hampir dekat dengan mereka bertiga.

"Lekas kita pergi dari sini!" seru Frau.

"Eeeeh! Tapi─"

"Teito-san!" teriak Vega.

"..." Teito hanya diam kebingungan seraya memandang Vega.

"Dia itu kuat dan tak akan mati. Percayalah."

Mereka pun pergi secepat mungkin.

"Mereka lari. Tidak jadi, deh aku menjadikan mereka sandera," ucap gadis pirang dengan boneka dibahunya yang terus mengeluarkan akar-akar sulur dari tubuhnya, memandang kepergian Frau, Teito dan Vega dengan raut kecewa.

BUK!

Jo berhasil memukul perut gadis itu dan mengambil kotak yang ada ditangannya. Gadis itu jatuh tersungkur dan mendadak perutnya mual karena pukulan di perut. Keadaan gadis itu membuat boneka itu lemah dan akar-akar sulur yang keluar di tubuhnya pun berhenti.

"Syukurlah, Barachiel-sama," ucap Selaphiel memandang senang kotak di tangannya, lalu mata silver itu berubah menjadi hitam. Jo kembali ke tubuhnya.

"Dan kau," Jo memandang tajam gadis pirang itu yang hanya bisa menahan sesuatu keluar dari mulutnya, "Jangan pernah ikut campur ataupun mengganggu tugas kami." Ia pun menendang perut gadis itu dengan hingga pingsan.

"Ooooiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….!" Sebuah teriakan menggema.

Ternyata itu Frau dan yang lainnya. Frau pergi beberapa saat untuk menghindari serangan dari gadis bernama Shiemi itu. Mereka bertiga turun dari hawkzile lalu berlari mendekati Jo.

"Are? Vega, bukankah kusuruh kau untuk pergi saja?"

"Frau-san dan Teito-san tidak mau meninggalkanmu, niichan."

"Hmm…." Jo menatap Teito dan Frau bergantian.

"Apa kau juga…penyihir?" Tanya Frau.

"Ah, iya. Aku penyihir. Apa Vega menceritakan sesuatu pada kalian?"

"Ya… Sedikit."

"Hmmm…" Jo mendekati Frau dan memandangnya lekat-lekat dari atas sampai bawah. Frau hanya diam, sedikit gugup sedikit waspada menatap Jo.

"Sou ka," ucap Jo seraya menjauh beberapa langkah. Senyum kecil mengembang di wajahnya, "Namaku Jo. Salam kenal. Etto…"

"Yang besar ini Frau dan yang kecil ini Teito," ucap Vega seraya menunjuk.

Teito yang dibilang 'kecil' oleh Vega hanya mengerut kening. Padahal Vega lebih kecil darinya.

"Ah.. Ya…ya… Jadi Frau-san dan Teito-san, terima kasih telah menjaga Vega selama ini."

"Tidak masalah."

"Kami hendak menuju ke Gereja Barsburg," Vega berbicara.

"Ooh… Kebetulan. Sekalian nitip."

'Menitip?' Frau dan Teito membhatin bersamaan.

"Taruh mereka di ranselmu." Jo menyerahkan kotak merah pada Vega.

Namun ketika hendak melepas kalung dilehernya, tiba-tiba Selaphiel merasukinya. Matanya kembali berubah silver. Vega terkejut melihatnya dan reflex mundur.

"Tidak," ucapnya. Frau dan Teito memandang Jo heran karena seperti ada yang berubah dalam nada bicaranya.

"Aku akan tetap bersama Jo-sama dan menjadinya masterku."

"Ano… Anda…" Vega hendak bertanya.

"Selaphiel desu. 'Doa Tuhan' adalah arti namaku."

Terkejut. Frau dan Teito membeku karena terkejut.

"Selaphiel? Mungkinkah ini Eyes of Archangel?" ucap Teito.

"Tidak kusangka beneran ada," tambah Frau.

"Apakah kau ingin Jo menjadi vessel-mu, Selaphiel-sama?" tanya Vega mendekati Selaphiel dan mendongkakkan kepalanya guna memandang lekat-lekat mata silver Jo, dan ekspresinya tenang.

"Ya," jawabnya tegas, "Aku ingin membantu Jo-sama. Dilihat daris situasi tadi kupikir ada pihak yang mengincar kami, para Mata Malaikat Utama. Karena itulah kalian datang dan mencari kami. Benar begitu, kan?"

"Anda bisa menganggapnya begitu."

"Disamping itu, aku juga ingin mencari dan bertemu dengan kawanku yang lain. Karena itulah ijinkan aku ikut dalam pencarian ini."

"Anda bisa katakan itu pada Jo karena dialah orang yang ingin anda jadikan vessel. Secara pribadi, menurut saya, kakakku itu tidak akan keberatan."

"Tidak masalah, Selaphiel-sama." Suara Jo terdengar namun hanya pada Selaphiel saja. "Mungkin aku tidak akan bisa sendirian bila menghadapi situasi seperti tadi. Terima kasih banyak karena ingin menemaniku."

Selaphiel tersenyum, "Seharusnya aku yang berterima kasih."

"Apa kakakku mengatakan sesuatu pada Anda?"

"Um. Dia tidak masalah jika aku ikut dengannya."

"Kalau begitu tolong jaga Jo. Mohon bantuannya."

"Namamu Vega, benar? Vega-sama, bolehkah aku melihat mata malaikat yang satunya lagi di tas punggung milikmu?"

"Tentu." Vega mengeluarkan kantong warna hitam di ranselnya dan memberikannya pada Selaphiel. Sebuah bola Kristal berwarna pink pucat dikeluarkan dengan hati-hati oleh Selaphiel.

Selaphiel tersenyum lalu menutupnya dengan kedua tangannya lalu menutup matanya sejenak, "Uriel-sama, senang berjumpa denganmu." Ia pun lantas menyerahkan bola itu pada Vega dengan hati-hati.

"Tolong, jaga Uriel-sama dan Barachiel-sama, dan juga jaga dirimu, Vega-sama. Ah!" Ekespresi Selaphiel berubah ketika tangannya menyentuh tangan Vega.

"Anda… telah menjadi vessel juga?"

"Ya." Vega menjawab dengan senyuman lebar membuat Selaphiel melebarkan matanya lalu tersenyum lembut.

"Jika anda tidak keberatan bersama Dia, saya rasa tidak apa-apa."

.

~o~

.

"Excelle disini, ada yang bisa dengar aku?" ucap Excelle lewat telepati dengan bantuan sebuah lencana di genggamannya.

"Disini Mayumi."

"Aku sudah selesai dengan Mata Malaikat Gabriel. Apa kalian dapat informasi lagi?"

"Ya. Dan kami sekarang sedang memata-matai Militer Basburg. Aku menyelinap menjadi murid akademi militer dan Zerolien menyamar pekerja kasar di kantor kemiliteran."

"Sudah menemukan sesuatu?"

"Haik. Seorang pemuda kira-kira seumuran denganmu."

"Pemuda? Siapa?"

"Konatsu Warren."

.

.

.

Bersambung…