Naruto Disclaimer Masashi Kishimoto
Baby Boss
Genre : Fantasy, Family, Drama, Romance, Hurt/Comfort, and etc.
Rate : M
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Orochimaru, Kabuto and friends.
Main Pair : SasuNaru
Warning! : OOC, OC, Typo (s), AU, AR, AT, Yaoi Fic, and many more!
Author tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang di-publish.
.
.
Chapter 7 Sasuke Kidnapped
.
.
Kejadian beberapa jam sebelum Sasuke dititipkan ke biro penitipan anak milik Kakashi…
Sasuke tertidur pulas dalam pengaruh obat bius digendongan seorang wanita muda bersurai merah yang memakai wig hitam. Tak ada seorang pun yang curiga sama sekali.
Sang wanita yang bernama Tayuya membawa Sasuke bayi berjalan tak hanya sendiri, ada dua orang pria kembar yang lumayan tampan bernama Sakon dan Ukon. Keduanya sengaja mengecat rambut panjang sebahu tanpa poninya dengan warna ungu neon. Tak lupa lipstik ungu bergaya bak ullzang Korea.
Keduanya berdiri mengapit di kiri dan di kanan si wanita, lalu dua orang pria lainnya berbadan tinggi besar yang bernama Jirobou dan Kidomarou berjalan di depan dan di belakang si bayi yang di gendong wanita itu, layaknya seorang bodyguard. Mereka kompak memakai jeans ungu pucat, kaus dan jaket berwarna putih.
Kelimanya pergi menuju satu apartemen kecil daerah Ochakansai-ken, dengan satu orang lagi pria bersurai putih perak dikepang Indian style bernama Kimimarou yang sudah menunggu di dalam gedung tinggi itu.
"Kalian sudah mendapatkannya?" tanya Kimimarou pada lima orang yang baru masuk apartemen minimalisnya.
"Ya, kami sudah mendapatkannya. Aku tak peduli statusnya sebagai keponakan kah atau hanya sepupu jauh. Tapi yang pasti kita dapatkan Uchiha kecil kali ini, seorang Uchiha junior konglomerat besar yang nilainya setara mobil mercedes benz terbaru, bahkan lebih. Ah, aku tak sabar mendapatkan tumpukan uang dan pergi liburan berjemur di Acalpuco Beach," racau Sakon.
Sementara Ukon, kembarannya hanya menanggapinya dengan tawa terkikik.
"Whatever! Sekarang ganti pakaian dan popoknya dengan pakaian biasa ini. Dia masih terlihat seperti bayi orang kaya dengan kostum itu."
Kimimarou menyerahkan satu paper bag berlogo toko pakaian khusus bayi dan anak pada si wanita bersurai merah yang telah melepas wig-nya.
Paper bag itu segera diambil Tayuya dan langsung masuk ke kamar bersama dengan Sasuke bayi yang masih pulas dalam gendongannya. Si gadis pecinta warna merah dan alat musik suling itu sempat memeriksa isi paper bag-nya lalu membuka pintu kamar dan menatap Kimimaro.
"Kok, cuma beberapa lembar baju, handuk, dan alat mandi? Nggak ada botol susu dan susu bubuknya sekalian? Terus kasih makan apa kalau nanti dia terbangun dan menangis lapar?" tanya Tayuya.
"Khan sudah ada pizza dan beer di kulkas, toh itu cukup mengenyangkan," celetuk Kidomarou tak peduli.
"Kalian ini bodoh atau gak pernah jadi bayi? Bayi kurang dari setahun macam dia masih belum boleh konsumsi makanan untuk orang dewasa, bahkan bubur nasi saja masih belum boleh. Dia hanya bisa minum full ASI atau susu formula, karna perutnya yang kecil itu masih rentan dan belum tumbuh gigi sama sekali.
"Kalian secepatnya belikan susu bayi untuk usia 0-6 bulan, juga botol susu ukuran besar. Sekalian beli lagi popok kertas sekali pakai beserta tisu basah lebih banyak!" pinta Tayuya sambil menimang Sasuke.
Tak ada satu pun pria, anak buah Kimimarou yang berniat mengajukan diri untuk pergi ke pertokoan di lantai bawah, seakan kompak menyuruh Kimimarou untuk berinisiatif turun beli sendiri, secara halus membuatnya jengah.
"Baiklah kalau tak ada yang mengajukan diri, Sakon dan Ukon. Kalian yang pergi beli susu ke bawah!" titah Kimimarou absolut.
"Kenapa kami yang disuruh, Senpai? Khan masi ada Kido dan Jiro?" protes Ukon, tak terima kebagian tugas beli susu bayi sambil jarinya menuding dua pria bertubuh tinggi besar yang sedang duduk selonjoran kaki di meja sambil setel TV kuno ukuran 14inchi, model tabung jadul. Padahal si kembar baru empat menit lepas penat di bantal, duduk dekat meja bermesin penghangat ruangan.
"Kalau aku nekat suruh dua kingkong besar itu untuk beli susu, yang ada malah security toko curiga dan mengira mereka mau merampok toko, terus nelpon polisi karna muka mereka dah selevel ama tampang rampok bank. Kalau udah begitu, kalian mau tanggung jawab gantiin mereka di penjara Alcatraz dua puluh tahun?" tanya Kimimarou kalem.
"Gak mau lah!" jawab Sakon membela kembarannya.
"Ya udah. Daripada gagal misi, mending kalian berdua yang jalan. Biar aman dan gak ada yang curiga. Nih duitnya, lima ratus yen. Pergi cepet ke toko susu! Inget ya, brand susunya Morinaga khusus bayi usia 0-6 bulan yang kaleng besar, bukan yang kotak. Terus sekalian botol susunya, popok dan tisu basahnya jangan ketinggalan, paham?" tanya Kimimarou setelah mempertegas tugas yang diberikan.
"Lima ratus yen cuma bisa kebeli satu kebab Turki ukuran besar, Senpai. Segini mana cukup buat beli susu, popok ama botol susu. Apalagi susu khan mahal, Senpai." Ukon mencoba bernegosiasi. Kali aja dapet duit kembalian sisa, lumayan buat jajan dango dan kue dorayaki keju, ucapnya dalam hati.
"Ya udah nih kutambahin lagi lima ratus yen, kembaliannya kasih lagi ke gue. Awas jangan ditilepin!" Kimimarou mewanti-wanti anak buahnya.
"Ha'I, Senpai!" jawab si kembar yang langsung keluar dengan cepat.
"Yakin mereka gak salah beli ntar?" tanya Jirobou kepada Kimimarou.
"Tenang aja, kalau mereka sampai salah beli atau ada yang ketinggalan, sepuluh giginya bakal kucabuti paksa di tempat, buat jadi koleksi kalung gigiku yang kurang jumlah," jawab Kimimaro kalem sambil seringai aneh yang sontak bikin Kidomarou dan Jirobou otomatis ngilu sendiri sambil gak sadar pegang pipi bareng.
Kimimaro dan obsesi anehnya pada tulang dan gigi memang bagian yang tidak bisa dipisahkan. Sebaiknya jangan buat Kimimarou marah karena akan berakhir dengan satu tulang betis kaki hilang esok paginya, digergaji lalu jadi koleksi tongkat ukir tulang artistiknya di ruang basement.
Sementara itu, Sasuke akhirnya terbangun dua jam kemudian dengan perut lapar dan haus. Ia mendapati dirinya berada di kamar sendirian dengan ranjang queen size kecil, persis seperti kamar maid-nya di mansion Uchiha.
Pakaiannya kini berganti kaus putih bahan katun lembut, motif tapak-tapak kaki kucing berwarna hitam dan celana pendek hitam polos dengan popok kertas sebagai pengganti celana dalam yang menambah kesan montok padanya. Tak lupa kaus kaki bergambar anak kucing hitam dan sepatu khusus bayi berwarna hitam standar.
"Ko ko wa doko?" (Ini dimana?) tanya Sasuke.
Sasuke mengucek matanya untuk memastikan kalau ini bukan lah mimpi buruk. Benar saja tebakannya, ia DICULIK!
Rasanya jadi merinding sendiri mengingat ini adalah kali pertama ia berhasil diculik dan dibawa kabur tanpa sempat melawan sama sekali. Bisa dipastikan keluarganya di rumah sekarang sangat sedih dan kebingungan mencari.
Ah, andai tubuhku tak sekecil ini dan tingginya senormal remaja umumnya, paling tidak aku ada usaha untuk melawan mereka minimal dengan menendang bokongnya sekali saja, ungkapnya dalam hati sambil menghela nafas.
Kejadian penculikan ini sudah terlanjur terjadi, mau marah atau protes pun juga percuma. Yang jadi prioritas utama hanya satu saat ini, bagaimana caranya pulang ke rumah dengan tubuh utuh tanpa cacat, luka ataupun sampai kehilangan nyawa.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan memperlihatkan wajah seorang wanita bersurai merah yang cantik tapi terlihat galak.
"Ternyata kau sudah bangun? Nih susunya, jangan sampai tumpah, ya?" pesan Tayuya sembari memberikan sebotol susu putih pada Sasuke.
Eh? Loh! Gadis bersurai merah ini bukannya sekretaris Kumogakure Corporate, ya? Kenapa dia bisa ada di sini? tanya Sasuke kaget. Aku harus tetap diam dan mengamati gerak-geriknya agar tak mencurigakan, pikir Sasuke sambil menyedot susunya dalam diam.
Kebetulan pintu kamar sengaja dibiarkan terbuka jadi Sasuke bisa melihat semua orang yang ada di ruang santai.
Satu … dua ... tiga. Ternyata ada empat orang pria dan satu orang wanita di ruangan itu. Sasuke masih memperhatikan gerak-gerik penculiknya , sampai...
"Senpai, gawat! Lihat ini! Ternyata keluarga Uchiha tidak punya anak kecil atau anak bayi di lingkup internal keluarga mereka, bahkan anggota keluarga termuda mereka saja belum lahir alias masih dalam kandungan salah satu pasangan baru keluarga Uchiha!"
Seorang pria bersurai ungu tiba-tiba saja masuk sambil membawa satu lembar kertas putih yang Sasuke sendiri tidak tahu apa isinya. Pria itu lalu menyerahkan kepada seseorang bersurai perak yang mana seperti pernah Sasuke temui di suatu tempat.
Keluarga Uchiha termuda masih di dalam kandungan? Jangan-jangan yang mereka maksud itu istrinya Shisui-san! Untuk apa mereka berambisi sekali mengincar anggota keluarga termuda kami?!
Kekagetan Sasuke membuatnya sampai menghentikan aktivitasnya menyedot susu.
"Sial! Jangan-jangan bayi yang ķita culik dari tangan Itachi ini cuma anak teman Itachi yang miskin itu! Atau anak pembantu yang tak berharga. Rencana diubah, kita bawa bayi itu ke panti penitipan anak untuk sementara, lalu kita bersembunyi dulu sampai keadaan aman."
Si pria bersurai perak dikepang itu langsung mencampakkan kertas print yang didapatnya dari salah satu remaja kembar, ke tong sampah yang letaknya tepat di samping si kembar. Sayangnya, posisi berdiri sang pria pemimpin bersurai perak itu membelakangi Sasuke, jadi menghalangi jarak pandang si tuan muda ini.
Siapa pria brengsek yang menjadi pemimpin itu? Berani-beraninya dia menculikku! ucapnya dalam hati.
"Lalu kapan kita menjalani rencana mendapatkan dana proyek besar untuk mendirikan bar dan hotel di Kumogakure dari hasil menculik bayi anggota keluarga konglomerat Uchiha? Aku sudah capek kerja lima bulan jualan gas keliling kampong, Senpai," keluh si kembar yang satu lagi.
Eh? Bukannya mereka berdua itu si kembar Sakon dan Ukon yang kemarin datang mengàjukan kerjasama investasi ganjil? Menanam modal kecil tapi minta untung delapan puluh persen dengan setengah memaksa sampai mengancam?
Seingatku si kembar ungu dan gadis sekretaris merah itu sudah kusuruh pergi sampai kuminta keamanan mengantar mereka pergi sampai ke stasiun kereta terdekat. Kenapa mereka masih menetap di kota ini sampai membawa teman segala? Berarti jumlah penculiknya bukan lima orang, tapi enam orang ditambah pria berambut perak beralis dua titik itu.
Sasuke tak menyangka kalau jumlah penculiknya bertambah dan itu artinya akan semakin sulit untuk melarikan diri secepatnya.
"Tenang, Ukon. Setelah keadaan aman, kita ambil kembali bayi yang sekarang kita culik di penitipan, bersama anggota baru keluarga uchiha. Kita bisa dapat untung dobel. Bayi pertama bisa kita jual ke keluarga mandul yang kurang beruntung dan bayi Uchiha muda akan kita jadikan tebusan uang sandera. Kalau menolak, kita jual lagi saja ke pasar gelap penjualan bayi. Lumayan dapat banyak untung, khan?"
Si pemimpin penculik bersurai perak berbalik menghadap Sasuke dan mendekati ranjang yang sedang diduduki oleh Sasuke bayi.
Kimimarou Whitebones! Tak kusangka ini hasil siasat keji Kimimarou Whitebones dan anteknya. Tak kan kubiarkan kau menculik keponakan termudaku!
Tanpa sadar Kimimaro meninggalkan ponselnya di meja nakas, dekat ranjang Sasuke. Lalu kedua tangannya memegang daerah selatan tubuhnya, seperti orang yang ingin kebelet pipis.
"Duh, rasanya kok pingin pipis, ya?" keluh Kimimarou yang tanpa sadar menutup pintu kamar sasuke rapat.
"Nee~ Jirobou, di mana toiletnya? Aku ingin pipis?" tanya Kimimarou kepada pria bertubuh besar yang sedang melatih otot tangannya dengan satu barbel kecil dalam genggaman.
"Oh, toiletnya ada di apartemen tetangga sebelah kanan yang kosong, apartemen kita toiletnya masih rusak, ingat?" ucap Jirobou.
"Yeah. Aku akan memperbaiki toilet apartemen kita nanti. Sebaiknya kau segera kunci rapat kamar anak itu atau dia bisa kabur kapan saja!" perintah Kimimarou.
"Ya Tuhan. Kau sangat aneh, Senpai. Dia bayi yang usianya baru enam bulan, masih fase merangkak juga dan bahkan berjalan maupun berdiri saja masih belum sanggup. Mana mungkin dia bisa lari atau terbang seperti bayinya sang manusia super?"
Jirobou tidak habis pikir dengan pikiran Kimimarou. Tangannya masih saja memompa otot lengannya menggunakan beban barbel di tangan.
"Kau terlalu banyak menonton Disney, Jiro. Sebaiknya kau menurut saja apa kataku dan cepat kunci saja pintu kamar itu! Atau mau kupesankan tiket sekali jalan ke kota pasir Suna dan terpanggang muda di sana seperti pendosa di neràka?!" omel Kimimarou yang langsung menghilang ke luar pintu apartemennya.
"Itu karya studio Dreamworks Amerika yang membuat kartun Minions dan The Transilvania. Kalau kau tak tahu bedanya kartun cewek disney dan dreamworks, sebaiknya diam saja!" sanggah Jirobou.
Mungkin karna perbeđaan tinggi dan ukuran tubuh menyebabkan Kimimarou diam saja dan berlalu pergi tanpa berani mengusik Jirobou.
"Whatever lah!" balas Kimimarou singkat sebelum berlalu pergi.
"Ck! Seperti gadis perawan PMS saja gaya ngomelnya!" keluh Jirobou yang langsung mengunci kamar yang dihuni oleh Sasuke.
.
.
.
Sasuke merasa situasinya kini sangat kondusif. Apalagi si rambut perak nista itu tanpa sadar menaruh ponselnya di meja nakas. Itu berarti memperbesar kesempatannya untuk menggunakan ponsel, menghubungi seseorang yang sangat ia ingat sekali nomornya.
"Sekarang saatnya aku menghubungi geng Taka. Aku harap Suigetsu, Karin dan Juugo tidak sibuk hari ini."
Ponsel sudah ada di tangan Sasuke, meskipun ponsel i-phone putih si manusia tulang tak jelas itu jadi terlihat seperti i-pad besar di kedua tangan Sasuke yang mungil, hal itu tidak menyurutkannya untuk menghubungi geng yang sengaja ia bentuk sejak SMP. Sasuke pun segera mengirimkan SMS ke nomor tiga anggota geng yang sangat ia percaya itu.
"Suigetsu, Karin dan Juugo, aku butuh bantuanmu, URGENT!" ucap Sasuke lewat collect çall ke tiga orang temannya.
"Konichiwa Sasuke, kau pakai nomor siapa? Lalu kenapa suaramu seperti anak kecil gitu sih?" Karin mencecarnya tanpa jeda.
Sial. Sasuke lupa kalau fisik dan suaranya masih setara bayi yang usianya kurang dari setahun. Sasuke pun harus secepatnya membuat alasan.
"Hn, sekarang aku sedang sakit tenggorokan jadi suaraku terdengar aneh. Akan aku jelaskan mengenai nomor ini nanti, yang pasti kalian harus menolongku secepatnya!" jelasnya singkat.
"Menolongmu secepatnya? Memang ada masalah apa denganmu? Kau dikejar rentenir dan bodyguard-nya. Hahaha, itu sangat tidak Uchiha sekali, Kawan," canda Suigetsu yang sedang sibuk mengasah katana kesayangannya sambil menelpon.
"Lebih buruk dari itu. Intinya saat ini aku sedang diculik. Mereka berhasil membawaku kabur dalam keadaan tak sadarkan diri. Suigetsu, tolong lacak nomor ini dan segera laporkan ke polisi, karena sebentar lagi aku akan dipindahkan ke lokasi lain," pinta Sasuke dengan suara yang serius dan penuh ketegangan. Matanya berkali-kali melihat ke arah pintu bercat krim yang terkunci rapat dari luar.
Ucapan Sasuke yang mengejutkan itu sukses membuat ketiga temannya menjadi tegang, bahkan Karin mulai panik dan cemas.
"Apa! Kau tak apa-apa, Sasuke? Apa mereka memukulimu atau menyiksamu dangan parah?" tanya Karin cemas.
"Tidak! Ano, lebih tepatnya belum. Dengar baik-baik, pelaku penculiknya adalah Kimimarou Whitebones. Dia dan lima orang anak buahnya yang bernama Tayuya, si kembar Sakon dan Ukon, juga mantan residivis Jirobou dan Kidomarou, merencanakan penculikan padaku setelah beberapa hari lalu proposal kerjasama investasi mereka yang tak masuk akal itu kutolak mentah-mentah.
"Tolong kalian lacak juga nama-nama mereka itu dan langsung serahkan info mereka ke polisi. Mereka bilang akan menyembunyikanku di salah satu tempat penitipan anak. Jadi kumintakan pada kalian untuk menghubungi nomor ponsel Kakashi Uchiha untuk segera merespon dan mengambilku cepat. Segera setelah salah satu pelaku mendatangi tempat kerja Kakashi," ucap Sasuke cepat.
"Baiklah, kami akan lakukan apa saja untuk menolongmu, jadi kau jangan kuatir. Jaga dirimu, Sasuke." Juugo yang sedari tadi diam akhirnya bicara panjang juga di telepon.
"Hn, maaf. Aku tak bisa lama-lama menelepon kalian, mereka bisa curiga." Sasuke buru-buru memutus sambungan telponnya.
Tapi walaupun begitu, jantungnya masih tak mau berhenti berdetak dengan kencang. Setelah berhasil mengirim alamat apartemen tempat dirinya di sekap, ia cepat-cepat menghapus notifikasi call log dan SMS. Ia juga tak lupa menghidupkan GPS agar teman-temannya bisa dengan mudah melacak keberadaan Kimimarou, setelah itu barulah ponsel itu diletakkannya. Kali ini bukan di atas nakas, tapi di bawah ranjang untuk memberi kesan ponselnya jatuh dari atas meja nakas.
Sasuke kemudian kembali tiduran sambil menyedot susu sebagai alibi. Tak lama terdengar sayup-sayup suara dari luar.
"Apa kau melihat ponselku?"tanya Kimimarou cemas.
"Memang terakhir kau menaruhnya di mana, sih? Bukannya sedari tadi ponselnya selalu dipegang terus di tanganmu?" tanya Tayuya yang mucul memakai apron ungu cerah dengan tali apron berwarna ungu gelap dan tangan membawa mangkuk besar berisi sup yang terlihat panas dan baru saja matang. Tampaknya ia baru saja masak untuk semua penghuni apartemen ini.
"Terakhir sebelum pipis aku sempat menaruhnya di … nakas kamar bayi rambut hitam itu. Oh, ya ampun! Kenapa aku sampai lupa? Jirobou, cepat buka pintu itu!" titah Kimimarou segera dijalani Jirobou tanpa banyak kata.
"Apa ini tak terlalu berlebihan? Kau mengunci anak kecil yang usianya baru enam bulan di dalam kamar tertutup, bahkan berlari saja bayi ini belum tentu sanggup. Kau ini manusia atau bukan sih, Kimi?! Seperti tidak pernah mengalami fase bayi saja!" omel Tayuya yang segera menggendong Sasu baby, yang baru saja selesai menghabiskan susunya.
"Percayalah padaku. Aku juga mengatakan pendapat yang sama tadi, tapi dia tidak mau mendengarkannya dan langsung pergi begitu saja ke luar, Tayuya," adu Jirobou.
Kimimarou hanya mendengus dan berlalu dari hadapan Tayuya setelah mendapatkan kembali ponselnya yang ditemukannya jatuh di bawah meja nakas.
"Bayi itu memang benar-benar makhluk merepotkan. Jadi harus ditinggalkan sementara. Tayuya, segera mandikan dia dan kita titip bayinya di tempat penitipan anak sekarang, sebelum kita meninggalkan kota sibuk ini untuk sementara," perintah Kimimarou sambil menyedap kopi yang baru saja dibuatkan Tayuya.
Tanpa banyak kata, gadis bersurai merah itu melakukan apa yang diminta Kimimarou meski sebenarnya dia tak setuju.
Setelah Sasuke dimandikan dan berganti baju jumper biru dongker motif huruf kanji Jepang dan sepatu hitam yang sama, Tayuya membawa perlengkapan bayi. Dan lima orang pelaku penculikan lainnya segera keluar apartemen menuju parkiran mobil.
Sial! Aku tak mengira kalau rencana mereka untuk menitipkanku di tempat penitipan anak lebih cepat dari perkiraan! Sasuke mulai gelisah dan rewel.
"Kenapa dia ?" tanya Kimimarou yang di jawab gelengan kepala oleh Tayuya. Ia benar-benar tidak tahu penyebab Sasuke jadi sangat rewel dan menggangu kenyamanan penumpang lainnya.
"Sebaiknya dia dikasih ini aja."
Kimimarou memberikan sebotol air minum biasa, yang dikira Tayuya hanya air gula manis pengganti susu, yang langsung diminumkan ke Sasuke. Ternyata setelah tiga menit kemudian, Sasuke tertidur pulas, terlalu pulas sampai Tayuya parno sendiri.
"Apa yang sudah kau campurkan ke dalam minuman botol susu ini? Jawab aku, Kiimimarou Whitebones!" cecar Tayuya marah.
"Assa … hanya beberapa tetes obat penenang. Tenang saja, takkan sampai membunuhnya, kok," jawab Kimmimarou.
"Beraninya kau lakukan ini pada bayi serapuh dia! Kau kejam, Kimi!" bentak Tayuya.
"Sudah jangan protes! Hanya beberapa tetes obat tidur tak akan melukainya. Masih untung aku tidak sampai menuangkan racun di botol susunya!" jawab Kimimarou enteng, seolah nyawa anak kecil sama tak berharganya dengan nyawa seekor kucing liar di jalanan.
"Dasar kejam! Kidomarou, kita pergi ke tempat penitipan anak secepatnya!" pinta Tayuya tegas kepada Kidomarou yang sedang fokus menyetir bersama tiga orang teman lainnya dalam satu mobil van.
Tayuya makin cemas karena Sasuke tertidur pulas tanpa sanggup terbangun lagi dalam gendongannya.
"Hei, Tuan muda kecil, bertahanlah. Sebentar lagi," bisik Tayuya sambil mengelus surai hitam Sasuke.
Sebagai seorang wanita, sejahat apapun pasti merasa iba terhadap bayi yang tiada berdaya upaya. Naluri keibuan Tayuya muncul di saat ia menimang bayi gembul Sasuke itu. Ya, wanita diciptakan dengan 90% perasaan yang menyelimuti hidupnya dari sekedar logika. Dengan perasaan itulah para wanita mencurahkan kasih sayang kepada anaknya. Begitupun dengan Tayuya yang cemas dan khawatir terhadap keadaan Sasuke. Ia tidak henti-hentinya mengusap dahi Sasuke bayi itu.
.
.
.
Bersambung…
