Disclaimer

All rights reserved to Mrs. J.K Rowling and Burberry©

Warning

Typo, EYD berantakan, cliche (maybe?), boring, imperfection, etc.

Untuk safety saya rasa ratenya di naikan menjadi T semi M sepertinya. Implisit Graphic inside.

Enjoy reading this chapter!

December 2005.

Bulan ini begitu dingin. Salju-salju seputih kapas itu berjatuhan perlahan menutupi jalanan. Seorang gadis kecil sedang berjalan bersama seorang wanita cantik di sisi kanannya. Gadis kecil itu terus merajuk kepada sang ibunda.

"Mum, please... buy me a gift for my birthday."

"Bersabarlah sayang, kita hampir sampai menuju kado ulang tahunmu. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, ok?"

"Ok, mum," ujar gadis kecil itu.

Kedunya berjalan menuju sebuah toko mainan anak-anak untuk usia 6-12 tahun. Betapa terlihat bahagianya gadis kecil itu. Manik hazelnya berbinar-binar memandangi mainan keinginannya. Ia mengambil satu set kanvas berukuran kecil dengan beberapa cat air. Ibunya tersenyum dan membelikan barang itu untuk anak semata wayangnya yang sangat ia cintai. Saat itu mereka pergi pukul delapan malam dan untuk menuju ke diaman mereka, mereka harus melalui sebuah gang sempit dan cukup gelap. Kendati sedikit orang yang melalui gang itu, gadis bersurai ikal cokelat beserta ibunya berjalan melalui jalan pintas itu—Knockturn Alley. Sang ibu tersenyum bahagia melihat anaknya bersenandung riang. Ia berbincang-bincang dengan anaknya di sepanjang perjalanan.

"Kenapa kau memilih kanvas dan cat air, pumkins?"

"Aku ingin melukis ibu. Aku ingin bisa membuat gambar sebagus gambar ibu," ujarnya polos.

"Aku tahu kau pasti bisa. Besok kita melukis bersama, ok?"

"Oki, dokkiee, mum, i love you."

"I love you too," ucap ibunya sambil mengacak lembut rambut anaknya.

Di tengah kebahagiaan mereka, di akhir gang kecil itu terdapat segerombol laki-laki. Ada delapan laki-laki bertubuh tinggi dan besar, kemudian ada satu wanita dengan rambut keriting dalam kelompok itu. Gadis kecil itu sontak langsung bersembunyi di belakang tubuh ibunya. Tubuh mungilnya gemetar ketakutan. Gadis berusia sebelas tahun itu tidak tahu harus melakukan apa. Entah harus berteriak meminta pertolongan atau terdiam seperti orang bodoh saja. Sementara ibunya, tubuh kecilnya ikut gemetar, tapi paras anggunnya menampakkan keberanian. Ia tak akan membiarkan ketakutan menguasai dirinya. Rahangnya ia katupkan sambil tangannya melindungi anak cetak karbon dirinya. Sang ketua kelompok berjalan perlahan dengan seringai srigala pemangsanya dan tatapan mematikan.

"Caitlyn Granger, jarang-jarang aku menemui mu di sebuah gang sempit dan kumuh seperti ini, eh?"

"A-apa mau mu Tom? Biarkan aku dan anakku pergi," ucapnya ketus.

"Hah, tak semudah itu! Kau tahu? Semenjak aku duduk di bangku sekolah menengah, aku lah yang menjadi bahan ejekkan si brengsek Dario. Aku terhina oleh si Dario Granger itu! Aku di bully, aku di jatuh bangunkan oleh suami tolol mu itu, dan sekarang? Dia menolak membangun perusahaan terbesar di Inggris raya setelah Malfoy Group. Dia meremehkan ku, Caitlyn."

"Apa mau mu? Kau boleh mengambil harta kami kalau kau ingin."

"Aku tak mau harta kalian, Granger. Aku ingin, dia merasakan apa yang aku rasakan! Aku ingin dia merasakan dendam terdalamku, Tom Riddle! Aku ingin dia hancur, sama seperti ku dahulu!" desisnya bahaya. "Yaxley, Dolohov," sambungnya sambil menjentikkan jarinya.

Kedua nama yang di sebut itu menyeringai dan langsung menawan gadis anggun dan mungil itu—Caitlyn Granger. Sementara anaknya menangis berteriak memanggil ibundanya. Tetapi wanita bersurai hitam bagaikan batu bara itu mencengkram kuat lengan anak itu dan mengancam akan membunuhnya. Manik gadis itu terus berlinang air mata dan memanggil-manggil ibunya. Di depan manik hazel indah itu, ia lihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Ibunya merintih kesakitan, ibunya berteriak meminta ampun dan pertolongan. Dengan bengisnya laki-laki bertubuh jangkung itu memukul, mencambuk dan menyalah gunakan Caitlyn. Sampai di titik akhir, ia mengakhiri Caitlyn. Salju seputih kapas itu kini berubah warna menjadi merah segar. Mengalir dan merembes ke dalam butiran Salju itu. Kelompok biadab itupun pergi tertawa kegirangan. Di tinggalkannya gadis kecil itu menangis histeris, hingga akhirnya polisi pun datang. Gadis itu berubah menjadi sangat pendiam. Ia jarang membuka pembicaraan, terkadang atensinya tidak fokus terhadap apa yang nyata. Acapkali polisi-polisi itu menanyai dirinya kronologis kejadian, tapi ia tetap bungkam. Lukanya begitu dalam untuk ia bicarakan lagi.

Ia lalui hari-harinya dengan ketegaran yang ia punya. Ia menjadi sosok misterius dan penuh sandiwara. Ia sering kali melatih dirinya untuk bersandiwara ketika ia sedang sendirian. Ia terlihat tersenyum, tertawa, berteman dengan Ron, Harry, Cho, Katie, dll. Tetapi jauh dalam lubuk hatinya ia menjerit menangis, ia berteriak meminta pertolongan. Ia menjadi sosok lain yang bukan ia harapkan. Selama dua tahun berjalan. Ia jalani dengan tekanan yang sedikit berkurang, sampai pada bulan Juli 2007, ia berjumpa lagi dengan pembunuh ibunya. Ironisnya, pembunuh itu datang bergerombol mengincarnya sepulang sekolah. Ia selalu pulang sendirian menggunakan kendaraan umum. Maniknya membelakak, langkahnya ia percepat, kegelisahan menguasai pikirannya. Ia rogoh sakunya dan melihat ponselnya, tapi dewi fortuna tidak sedang berpihak kepadanya. Ponselnya mati. Dengan tubuh gemetar ia paksakan dirinya berlari dengan tergopoh-gopoh, tetapi langkahnya dapat di kejar oleh kawanan itu. Ia di tangkap dan diseret oleh lelaki bertubuh tinggi besar dengan surai hitam legam. Jeritannya tak di hiraukan, bahkan gerombolan lelaki itu tertawa dengan pongahnya.

"Diam kau! Percuma saja kau berteriak, tidak akan ada yang mendengarmu bodoh," ancam pria itu.

Gadis itu tetap berontak. Setiap kali ia berontak, kekuatannya semakin terkuras sampai akhirnya ia melemah, melemah dan tak sadarkan diri. Ketika kesadarannya kembali, matanya mencoba menyesuaikan dengan pencahayaan ruangan. Ruangan itu bercat putih kumal, terkesan sempit dan tidak terurus kembali. Ia pun menyadari bahwa dirinya tergeletak di lantai yang dingin, berdebu dengan kedua tangan serta kaki terikat. Matanya terbelalak saat dilihatnya baju seragam sekolahnya tergantung di sebuah kursi tua.

"Oh, filthy girl... kau sudah terbangun rupanya. Hah, kenapa anak menjijikkan ini harus mempunyai tubuh seindah milikmu? But... you'll lose it, baby," ujar lelaki itu berbahaya.

Kelompok laki-laki itu tersenyum bak srigala lapar yang mendapat mangsanya. Tubuh mungil itu ternodai. Gadis itu diperkosa dan dibiarkan seperti benda tak berharga. Kesakitan fisik dan batin begitu mencambuk dirinya. Ia sudah ternodai oleh noda hitam. Isak tangis pun tak akan merubah segalanya—segala yang telah mereka rebut dari dirinya.

Tahun berganti tahun, ia lalui sekeras mungkin. Di saat keterpurukannya, ia mencoba tersenyum dan terlihat bahagia seperti remaja lainnya. Viktor Krum bagaikan malaikat untuk dirinya, ia datang di saat dirinya hancur dan gelap. Viktor membangkitkan sisi lain dirinya—sisi yang belum pernah ia kenal dan tidak ia harapkan, tapi membuat dirinya nyaman. Lelaki Bulgaria itu mengenalkan dunia yang baru ia ketahui. Rock n' roll, punk, gothic, free life and here she is... good girl gone bad. Cocaine, weed, rokok, ia coba semuanya bahkan berbagai minuman ia tenggak. Entah apa yang gadis itu pikirkan, tetapi hal ini mengurangi rasa sakit jiwanya.

Semuanya tak selalu berjalan baik. Ketika Ron mengetahui apa yang terjadi padanya, lelaki bersurai Ginger itu meninggalkannya sendirian dalam tangisan. Bahkan hampir saja lelaki itu menamparnya. Perubahan drastisnya menjadi bahan bulan-bulanan teman-temannya, terutama si gadis Parkinson itu.

"Look at her! Si jelek jadi tambah jelek. Mana kaca mata tebalmu huh? Mana buku-buku jelek mu? Oh, kau benar-benar itik buruk rupa, kau tahu?" ucap Parkinson.

"Ya, and nobody wants you! Kalau aku menjadi kau, aku menyesal karena telah di lahirkan," ujar temannya Daphne Greengrass.

Kedua gadis itu menertawakannya. Sementara gadis yang diolok-olok hanya mengatupkan rahangnya dan mengepalkan tangan. Ia benci dengan tawa memekakan telinga itu, ia benci hinaan yang mereka lontarkan dan terlebih lagi, Ron hanya berdiri disana, menatap dirinya dengan tatapan simpati. Persetan dengan simpati, dia tak butuh belas kasihan lelaki macam dia. Dengan amarah yang meledak, gadis bersurai cokelat madu itu menampar Parkinson sampai tersungkur. Ia menatap tajam Parkinson yang mulai gemetar ketakutan.

"Bitch, cukup sudah ucapan omong kosong mu itu! Aku lelah mendengar hinaanmu. Jelek, gendut, tak berguna, tak diinginkan...sudah cukup aku mendengar itu. Kau pikir kau lebih baik hah? Lihat wajah mu itu, seperti anjing pug! Otak mu ada tidak? Nyatanya kau selalu memaksa ku memberi kau contekan. Kau-tidak-lebih baik-dariku. Dulu aku takut untuk melawan tapi sekarang... aku bukanlah Hermione Granger yang kau kenal dahulu," jeritnya frustrasi.

"And you Daphne bimbo. Go to the bloody hell," desisnya pada gadis bersurai pirang itu.


Gadis itu kini terduduk sambil menyandarkan kepalanya di pundak tegap lelaki bersurai pirang di sebelahnya. Iris hazel yang biasa menutup ekspresinya, kini memperlihatkan dengan sangat kentara bahwa disana ada banyak kepedihan, kesepian dan kesakitan. Bahkan lelaki bersurai pirang itu dapat melihat ada sebersit rasa penyesalan. Eyeshadow tebalnya kini luntur oleh air mata. Wajah misteriusnya hilang oleh ekspresi kesedihan. Ia curahkan segala beban dan kesakitannya pada pria yang ia tidak sukai itu. Entah apa yang merasuki pria itu, ia merangkul dan memeluk secara protektif pada gadis itu. Ia seolah memberi isyarat untuk memberikan perlindungan.

"Kau tidak sendirian, Granger. Aku pun merasakan kesakitan yang kau alami, walaupun tak seberat yang kau pikul dan aku tak melarangmu untuk bersikap pura-pura kuat. Ada dimana saat kau harus mengeluarkan semuanya, menyerah untuk menjadi kuat dan terlihat lemah. Aku pun begitu, kau adalah kelemahan ku, Granger," ujar lelaki itu lirih dengan suara serak.

Gadis itu melepas pelukan nyaman itu dan menatap manik kelabu milik pria itu.

"Apa maksudmu? Apa maksud kalimat terakhirmu? Dan... mengapa kau menangis?"

"Kau satu-satunya gadis yang mampu membuatku menangis seperti perempuan dan kau juga bisa membuatku merasa nyaman untuk menceritakan masa lalu pahitku dan kau juga mau membagikan sebagian cerita hidupmu padaku. It's a big things for me. Entah mengapa... aku merasakan apa yang kau rasa, dan di saat kau merasa lemah seperti ini... aku lah yang lebih lemah darimu karena aku tak bisa menolongmu atau... atau memperbaiki keadaan."

"Mengapa kau ingin sekali menolongku atau memperbaiki keadaan? Kenapa kau harus peduli padaku?"

"Aku tidak tahu, Granger. Jangan tanyakan padaku, aku belum menemukan jawabannya. Tapi, satu hal yang kau harus tahu... you're not alone, you have me," ujarnya sambil menarik lengan lemah gadis itu.

Gadis itu merasa mendapatkan kejutan listrik di tubuhnya. Ia merasakan hangat yang selama ini hilang dalam dirinya. Sosok pria bersurai pirang dengan kulit pucat ini mampu membawakan kehangatan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Pria ini pula yang dengan anehnya bisa membuat dirinya nyaman untuk bercerita dan berbagi kisah pahit kehidupan. Apakah ia harus mempercayai pria ini? Apakah ia malaikat lain yang tuhan kirimkan untuknya? Tidak, tidak... ia tidak bisa begitu saja percaya dan menyebutnya sebagai malaikat. Mereka baru saja berkenalan beberapa hari dan hanya berbicara saat penting saja. Kedekatan seperti ini mungkin hanya pengaruh alkohol yang sempat ia tenggak. Lelaki ini bisa saja berubah dan menjadi seseorang yang amat ia benci. Tapi, tidak kah salah jika ia menjadi teman rahasianya? Teman curahan hatinya? Mungkin ia harus belajar mempercayai pria itu.

"Wanna stay the night with me?"

"Tentu. Seperti yang aku katakan, kau masih punya aku, jadi... aku tentu akan menemani mu malam ini."

"Kalau begitu ayo kita masuk ke rumah itu. Hari semakin tidak bersahabat dan aku khawatir aku mulai mengantuk."

"Baiklah, bukan masalah."

Mereka berdua berdiri dan berjalan ke rumah tua yang terdapat di tempat itu. Rumah itu bukanlah tempat terbaik untuk menjadi tempat beristirahat. Tapi kenyamanan dan kehangatan yang di tawarkan rumah itu mampu membuat pemilik rumah ini betah berada di dalamnya.

"Aku sangat nyaman berada disini. Sengaja tidak aku urus dengan baik, aku tak mau orang lain menempati pondok ini. Kecil, tapi cukup bagiku. Pondok ini banyak sejarahnya," ujar Hermione sambil tersenyum. "Ibu, Ayah dan aku setiap akhir pekan akan menginap disini hanya untuk sekedar barbeque, memainkan gitar sambil bernyanyi, menghitung bintang atau mendengarkan ibu menceritakan tokoh-tokoh dunia. I miss those time, Malfoy," lanjutnya.

"Aku tahu, Granger. Tapi... mari kita lupakan sejenak tentang hal itu. Hari semakin malam dan besok Snape akan mengajar kelas kita, tentu kau tak mau berdebat dengan dia bukan? Kita tidur sekarang, no but!," perintahnya.

Hermione memutar bola matanya. "Siapa kau memangnya menyuruhku? Tapi.. ide bagus, aku malas mendengarkan celotehan si rambut berminyak itu."

Draco melepas sepatunya dan naik ke atas tempat tidur. Sayang sekali, rumah ini hanya menyediakan satu kamar tidur yang masih berfungsi, yang lainnya sudah tidak terawat dan tidak layak pakai, terpaksa mereka harus tidur bersama. Saat Draco sudah membaringkan tubuhnya, ia memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Dilihatnya gadis itu mencuci wajahnya di wastafel. Semua make up tebal dan misterius itu hilang seketika, di gantikan oleh sesosok wajah yang cantik, polos, tapi rapuh, mata hazelnya memperlihatkan sorot sendu. Tapi bagaimanapun, ia mengakui gadis itu sungguh cantik sekali. Atensi kelabunya tak lepas dari gadis yang berada di ruangan yang sama dengannya, sampai-sampai ia terperangah dengan kelakuan gadis ini sekarang. Gadis itu menanggalkan celananya dan memanjat tempat tidur hanya dengan celana dalam saja dengan baju kaos panjang. Gadis itu mengambil satu batang rokok dan menghisapnya dengan santai. Pria itu benar-benar terkejut dengan sikap gadis ini.

"Apa kau gila? Kau tahu aku berada disini dengan mu dan aku ini laki-laki? Kau... kau tidur hanya memakai...itu?"

"Kenapa memangnya? Bukan berarti kau disini aku harus merubah kebiasaanku. Aku tak nyaman tidur menggunakan celana kau tahu? Aku pun tak peduli jika kau ingin melakukan kebiasaan mu seperti di rumah. Kau tak tertarik padaku, jadi kau tak akan macam-macam."

"Bodoh, tapi kalau laki-laki lain tidak akan melihat apakah dia suka atau tidak. Jika melihatmu seperti ini bisa-bisa kau sudah diterjang langsung," ceramahnya. "dasar otak berang-berang," lanjutnya bergumam.

"Apa kau bilang? Kau menceramahiku dan mengataiku hah? Sialan kau musang," ujarnya dingin.

"Siapa suruh kau begitu. Lagi pula matikan rokok mu itu, kau membuatku sesak napas, tolol. Kau ini cantik, sayang kau menutupinya dengan semua ini."

"Apa? Kau bilang... aku cantik?"

"Tidak aku tidak berkata apa-apa."

"Aku tidak tuli, musang. Kau mengatakan itu."

"Tidak, aku bilang matikan rokok mu, berang-berang. Sudahlah, aku mengantuk. Aku tidur duluan," gerutunya jengkel.

Draco malfoy langsung menarik selimutnya dan memejamkan matanya. Sementara Hermione masih sibuk menghembuskan asap rokok dari mulutnya dan tenggelam dalam pikirannya. Ia sangat jelas mendengar lelaki itu mengatakan kalau dia cantik.

"Cantik? Huh, kebohongan macam apa yang kau katakan Malfoy?" bisik hatinya.

Akhirnya Hermione mematikan rokoknya dan ikut merangsek kedalam selimut. Ia menutup kelopak matanya dan dalam beberapa menit kemudian, ia sudah terlelap tidur karena tubuh dan mentalnya sungguh lelah. Disisi lain, Draco belum tidur. Ia berpura-pura tidur dan setelah ia rasa Hermione sudah lelap, ia mengubah posisi tubuhnya menjadi menghadap gadis itu. Di tatapnya lekat-lekat paras cantik gadis itu. Entah mengapa hatinya berdegup lebih kencang, keringat dingin mengalir secara berkala di keningnya. Pria itu menghela napas berat.

"Kau memang cantik, Granger. Bahkan... kalau kau mengatakan kau seorang model aku pun akan percaya. Sayang masa lalu mu menghancurkanmu," bisiknya sambil menyentuh hidung gadis itu, kemudian mengusap lembut pipinya yang dingin. "Aku akan membuktikan, kau tak perlu menggunakan topengmu. Aku tahu kau sakit, aku pun sakit—tapi yakinlah, aku akan tetap disini bersamamu, kau punya aku Granger. I don't know why tapi, aku pikir aku menyayangimu—entah sebagai sahabat, kakak atau...tidak! tidak mungkin sejauh itu. But who cares?—Ho, shit... you screw me, Granger," monolognya kepada tubuh yang tertidur itu. Tiba-tiba ia mencium kening gadis itu dan memeluknya dengan intim, seolah gadis itu akan patah berkeping-keping jika ia tak menjaganya dengan baik. Aroma gadis itupun akhirnya mengantarkan ia kepada dunia impian. Hal ini, bisa ia pikirkan lagi esok hari. Dan Granger, will be his priority dan akan menjadi urusannya.

To Be Continue

Whoa, akhirnya aku update juga. Sudah sekian lama saya menghilang akhirnya saya dapat menyelesaikan chapter ini. So many problem i've faced recently. Tapi, akhirnya senang juga bisa update dan membaca review kalian. Review kalian benar-benar membuat saya semangat untuk menulis chapter ini. So... apakah kalian menyukai chapter ini? Tell me on review section!

Terima kasih banyak buat Follow, Favourite dan Review positif kalian. Sangat menyemangati dan bermakna sekali buat saya :D

Oh ya jika ada yang kurang mengerti dengan kronologis cerita di chapter ini, silakan tanya saya melalui inbox ;)

Mind to RnR again?

Alright, see you in next chapter.

I love you all as always.

Gothicamylee.


Pojok review:

Kalaibrahim: Hello, sudah saya update nih hehe. Terima kasih reviewnya, senang kamu suka dengan ch.6. Maaf ya sepertinya kurang banyak untuk ch.7 tapi saya usahakan untuk update enggak terlalu lama seperti sekarang. Hehe, semoga kamu suka sama chapter ini have a nice day!

Lya: Hi Lya, terima kasih untuk reviewnya. Saya juga ada niatan untuk bikin ff main chara-nya Theo dan Luna tapi idenya belum muncul. Malah muncul ide dramione terus atau di fandom lain hehe. Saya cari inspirasi dulu deh utk Theo dan Luna. So far, hope you like this chapter. Have a nice day!

Elizabethmalfoy: Terima kasih reviewnya. Udah di update nih, RnR ya? Hehe have a nice day!

Bubble: haha, maafkan saya.. ini juga update ch.7 lama sekali xD glad you like it. RnR? Teehee, have a nice day!

Adellia Malfoy: Terima kasih reviewnya. Di sini belum aku munculkan ayahnya, masih menceritakan flashbacknya Hermione. Ini saya kira masih openingnya sih, belum mendekati Klimaks ceritanya hehe, stay tune aja biar makin penasaran hehe. Hope you like this chapter! Have a nice day!

Oke, that's it. Bagi yang punya account, saya jawab langsung di inboxnya sekali lagi terima kasih untuk semangat dan komentar positifnya a.k.a review kalian. You guys awesome!