Beberapa saat yang lalu Yongguk masih duduk termenung memikirkan dimana keberadaan Daehyun. Namun sekarang dia sudah mengemudikan sebuah mobil tua berwarna biru toska kesayangannya menuju ke suatu tempat yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya setelah dia benar-benar memikirkan arti kalimat "Aku akan menenangkan diri terlebih dahulu." yang dikatakan Daehyun di telepon tadi.
Dia tidak benar-benar yakin kalau Daehyun akan berada disana namun dia tidak memiliki pilihan lain selain untuk mengikuti pemikiran kalutnya. Gejolak di perutnya timbul lagi setelah dia memikirkan tentang dirinya yang akan bertemu dengan Daehyun lagi setelah lima tahun. Beberapa kali dia mengacak-acakkan rambutnya setiap kali pemikiran yang tidak-tidak terlewat di kepalanya. Dan dengan terpaksa dia harus menyalakan radio di mobilnya keras-keras karena pemikirannya tetap saja tidak berubah tak peduli seberapa keras dia mencoba untuk mengalihkannya. Lalu dengan desisan kesal keluar dari mulutnya karena tak ada yang berhasil membuatnya berhenti memikirkan Daehyun, Yongguk pun mempercepat laju mobilnya, berharap dengan begitu semua pemikirannya akan tersapu angin senja yang menerpa masuk melewati jendela rusaknya.
Saat Yongguk sampai di tempat yang ternyata merupakan sebuah sungai di pinggiran kota itu, matahari sudah condong ke barat dan pinggiran sungai itu sudah sepi pemancing. Segelintir angin menyapu ilalang-ilalang tinggi yang berjajar menghiasi tepian sungai yang sudah mulai kehilangan kejernihannya itu. Goresan indah berwarna kuning kemerahan terlihat sangat serasi dengan birunya air sungai yang dikelilingi daratan berwarna cokelat kekuningan. Semuanya terlihat indah saat itu namun pandangan Yongguk hanya terpusat pada sosok lelaki yang sedang duduk bersila sambil melempar-lempar batu pipih yang akan terpantul tiga kali di permukaan air sungai sebelum akhirnya berakhir di dasar sungai tenang itu.
"Dae-" suara Yongguk terhenti tanpa ia ketahui. Dengan segala dunia yang mulai berjatuhan di depannya dia menghirup nafas beratnya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ini semua tidak akan seberat sebelumnya. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ini semua tak akan menyakiti dirinya setelah segalanya berakhir. "Daehyun-ah." Dengan semua kumpulan keberanian yang baru saja didapatnya, keluarlah nama tersebut.
.
.
.
.
.
Daehyun sedang melambungkan pikirannya tinggi-tinggi membayangkan segala hal indah yang bisa dibayangkannya. Dan dia mulai memaksa otaknya lebih keras setelah segala reka adegan yang terputar di pikirannya itu mulai memudar karena terbatasnya memori yang dimilikinya dan mengingat betapa lelahnya tubuh dan jiwanya sekarang ini. Semua hanya sebatas angan-angan sampai sebuah suara yang terlalu dikenalnya menyeretnya kembali ke realiti. Dengan sedikit ketakutan dia memutarkan kepalanya ke arah suara yang sudah sangat lama tak didengarnya itu.
Sebuah kalimat berupa "Lama tak bertemu." menyapanya santai saat seluruh perhatiannya sudah terarah pada lelaki itu. Dengan nafas berat dia berusaha memercayai pandangan dan pendengarannya. Dan semakin dia meyakini semua itu semakin gelap dunia yang dilihatnya. Dia membuka mulutnya namun tak ada satu kalimat pun yang keluar dari sana. Hening, dan senyum yang tak bisa dimengerti artinya muncul di muka Yongguk.
"Aku disini untuk menangkapmu, jadi larilah sebisa mungkin sebelum aku benar-benar menangkapmu." Kata Yongguk. "100.000 won hanya untuk membawamu ke kantor polisi tak terdengar terlalu buruk untukku." Lanjutnya kemudian sambil mengeluarkan selembar kertas dari saku celana jins kotornya. Lembaran kertas yang berisikan foto Daehyun dengan segala keterangan yang menyatakan Daehyun sebagai seorang buronan kecil. Kalimat ke-dua Yongguk terasa begitu sakit didengar, sungguh sakit sampai-sampai tak ada kalimat yang bisa mendeskripsikannya.
Decakan muak dikeluarkan Daehyun sebelum dia melambungkan kepalan tangan marahnya ke muka Yongguk. Percuma, kepalan itu tak pernah mendarat di tempat yang dikehendakinya. "Aku menyuruhmu untuk lari. Jadi larilah." Kata Yongguk pada Daehyun. Dengan gerakan yang sedikit mendramatisir dia melepaskan genggamannya pada kepalan tangan Daehyun dan membiarkan Daehyun mundur beberapa langkah ke belakang.
"Heh. Semurah itu kah diriku dimatamu Hyung? 100.000 won?"
"Satu…"
"Kau serius? Hanya untuk 100.000 won?"
"Dua…" dan dengan itu Daehyun pun mulai berlari menjauh tanpa tahu tujuan pastinya. Dia sempat mengumpat pada Yongguk sebelum dia mulai berlari meninggalkan Yongguk yang masih menghitung sampai sepuluh sebelum akhirnya Yongguk mulai mengejarnya. Daehyun berlari dan disetiap langkahnya, berat di dadanya semakin bertambah, membuatnya sesak dan kenyataan itu membuatnya muak. Dia merasa bodoh karena sempat tidak menyangka kalau Yongguk akan tega melakukan semua ini padanya. Dia merasa bodoh untuk merasa senang saat dia melihat wajah lelaki sialan itu tadi. Dia merasa bodoh untuk percaya bahwa dia akan jauh lebih berharga dari uang 100.000 won dimata Yongguk. Dan dia lebih merasa bodoh lagi setelah menyadari semua kenangan yang dikenangnya tadi tak berarti apa-apa bagi manusia yang sedang mengejarnya tak jauh di belakang itu.
"Ingin mencoba lagi?" Tanya Yongguk yang entah sejak kapan sudah berada beberapa langkah di depan Daehyun. Membuat Daehyun harus berhenti berlari dan berhenti menambah daftar kebodohannya. Dan sebelum nafas Daehyun bisa kembali menjadi normal, Yongguk sudah mulai menghitung lagi dan Daehyun pun juga sudah mulai berlari kembali. Daehyun berlari sekuat tenaga hanya untuk kembali berpapasan dengan Yongguk yang datang entah dari mana. Beberapa detik sebelumnya Daehyun yakin kalau Yongguk masih berada di belakangnya namun detik berikutnya lelaki itu sudah menghilang dan muncul lagi di hadapannya. Kejadian seperti itu berulang sampai beberapa kali sampai akhirnya Daehyun benar-benar tak bisa menggerakkan kakinya meskipun otaknya sudah menyuruh dua alat gerak itu untuk berlari.
. Daehyun berusaha mengatur nafasnya. Beberapa keringat menetes lelah di peipisnya. "Tinggalkan aku sendiri Hyung." Katanya lelah sambil menyibakkan poni panjangnya yang basah dengan keringat. Nafasnya memang masih belum teratur, namun dia sudah mulai mencari jalan keluar lagi.
"Aku akan meninggalkanmu sendiri kalau saja kau berhenti membuat masalah Daehyun. Lagi pula masalah apalagi yang kau buat sekarang?" kata Yongguk berpura-pura tidak mengerti apa-apa. Dia menatap Daehyun tajam dengan mata sipitnya yang mengintimidasi.
"Sudahlah Hyung, aku tahu kau juga tak ingin melakukan ini semua. Jadi biarkan aku pergi." Kata Daehyun memohon.
"Siapa bilang aku tak mau melakukannya?" jawab lelaki berambut merah kecoklatan itu cepat. Senyum khasnya mengembang lebar. Membawa beberapa bayangan menakutkan dari masa lalu datang kembali untuk membebani nafas Daehyun. Lelaki itu berjalan mendekati Daehyun dengan langkah-langkah yang lambat namun pasti, membuat Daehyun semakin kehilangan oksigennya. Sesak. "Aku rela melakukan apa saja agar bisa mendapatkan kesempatan ini lagi." Bisiknya pelan disamping telinga Daehyun. Hening.
Hembusan angin membuat bulu kuduk Daehyun semakin berdiri tegap. Dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Semua spekulasi tentang segala kemungkinan dan kesempatan yang dimilikinya untuk melarikan diri lagi dengan sempurna mendadak hilang entah kemana. Mungkin dia memang sudah benar-benar kehilangan oksigennya sehingga dia tak dapat memperkerjakan otaknya kembali. Belum sempat Daehyun menenangkan dirinya, Yongguk sudah memutar paksakan tubuh Daehyun dan menarik tangan Daehyun ke belakang punggung, tak membiarkannya berkutik. Sebagai seseorang yang memang tidak mempunyai bekal apa-apa tentang pembelaan diri atau pencak silat, Daehyun pun hanya bisa meringis kesakitan sambil memasrahkan segala yang akan terjadi padanya.
"Jalan! Aku sudah bosan bermain kejar-kejaran denganmu." Kata Yongguk sambil mendorong-dorong Daehyun menuju mobil tua miliknya yang terparkir tak jauh dari area sungai itu.
Mereka berjalan menerobos ilalang-ilalang tinggi yang membuat kulit gatal dan mengacuhkan jalan utama yang lebih nyaman demi menghemat waktu yang mulai tertelan gelap malam.
"Hyung kau benar-benar harus belajar memperlakukan manusia dengan baik." Komentar Daehyun saat dia mulai merasa muak dengan semua dorongan kasar dari tangan Yongguk. Mobil yang menunggu mereka berdua sudah terlihat tak jauh dari posisi mereka sekarang.
"Benarkah begitu?" kata lelaki itu dengan senyum tersungging di wajahnya. Siasat licik terlintas di kepalanya. Sesampainya di mobil tua kesayangannya itu, dia membuka bagasi belakang mobil dan memaksa Daehyun masuk kedalamnya. Daehyun memang sempat memberontak, namun tentu saja lelaki itu lebih kuat.
"YAH! BANG YONGGUK ! KELUARKAN AKU DARI SINI SEKARANG JUGA!" teriak Daehyun lantang-lantang sambil menggedor pintu bagasi dengan brutal sesaat setelah Yongguk menutup pintu itu tanpa perasaan.
.
.
.
.
.
Yongguk melajukan mobil tuanya entah kemana. Jantungnya masih berdebar lebih cepat dari biasanya dan dia juga masih belum bisa mengontrolnya. Mulai merasa aneh dengan perasaannya sendiri, dia kembali memutar radio di mobilnya kencang-kencang. Berusaha mengabaikan teriakan-teriakan Daehyun di bagasi belakang. Namun tak lama setelah radio tua itu mengisi suasana, seseorang dari mobil lain yang berusaha menyalipnya memberi tahu tentang lampu belakang mobilnya yang mau lepas, ada sesuatu yang menendang-nendangnya dari dalam dan Yongguk tahu jelas apa sesuatu itu. Lalu setelah mengucapkan terima kasih kepada seseorang tak dikenal yang memberi tahunya tadi, Yongguk pun mulai menepikan mobilnya. Dengan lelah dia berjalan menuju bagasi belakang setelah mobilnya terhenti.
"Yah! Berhentilah merusak mo- Ugh!" dua kepalan besar menyeruduk perut Yongguk keras sesaat setelah dia membuka pintu bagasi belakang mobilnya. Dan saat dia sedang merasakan sakit yang menjalar di sekeliling perutnya, Daehyun sudah berlari menjauh, membuat Yongguk harus menahan semua kesakitannya dan berlari mengejar Daehyun, lagi. Untung saja Daehyun tak pernah menjadi seseorang yang bisa berlari lebih cepat dari pada Yongguk. Jadi tak membutuhkan waktu lama, mereka berdua sudah berada di dalam mobil tua itu lagi. Duduk di dalam satu mobil yang sama sambil melihati jalanan yang sama pula.
