AN : Maaf Readers… Cyaaz telat banget Update-nya… Baru pulang liburan… Wakakakaka…
Thanks banget buat para Readers yang masih setia membaca Fic ini.
Special Thanks buat yang Review…
Selamat Membaca…
Disclaimer : GS dan GSD Bukan Milik Author…
This Is Impossible!
Chapter 7
Kira's POV
JUNIUS 7 – 27/09/2012
Hari sudah sore, rombongan kami segera menaiki kapal motor untuk kembali ke guest house di PLANT. Aku saat ini tengah duduk di antara Athrun dan Lacus, dibelakang Catha yang duduk di antara kakak beradik Hawke. Aku menoleh ke belakang dan menemukan Haine yang duduk bersama Yzak dan Dearka. Kelihatannya Haine sudah mulai merasa mual, padahal kapal belum beranjak dari tempatnya berlabuh.
Aku memalingkan wajahku lagi ke depan dan menghela nafas panjang sesaat sebelum kapal mulai bergerak meninggalkan JUNIUS 7.
'Here we go again.'
' Hell! I hate this!'
Kapal motor yang kami naiki perlahan mulai meninggalkan JUNIUS 7 dan aku mulai merasakan pusing di kepalaku. Selama 3 hari kedepan aku masih harus merasakan pusing dan mual berkali-kali akibat mabuk laut ku ini. Aku juga tidak menyangka, kalau menyeberangi lautan bisa menyiksaku seperti ini, aku belum pernah naik kapal laut sebelumnya.
Untungnya ada Lacus, yang selalu ada di sampingku. Mengusap-usap keningku dengan lembut, membuat ku sedikit melupakan penderitaanku. Untung juga, yang dikatakan oleh Pak Mwu benar. Ombak kali ini tidak besar, jadi perjalanan pulang ke PLANT lebih tenang.
Akhirnya, aku dan teman-teman serumahku sampai di guest house, setelah kami berjalan selama beberapa menit dari dermaga bersama Lacus, Catha dan kakak beradik Hawke. Aku lambaikan tanganku pada Lacus dan Catha yang berjalan melewatiku dan teman-temanku menuju guest house mereka sambil tersenyum, lalu aku melangkah ke guest house-ku.
Saat aku mulai melangkah untuk masuk ke guest house, tiba-tiba saja angin laut berhembus dari belakang. Angin yang sangat dingin terasa menusuk hingga ke tulang, membuat ku merinding sejenak. Seharusnya, angin laut tidak terasa sedingin ini 'kan? Sesaat kemudian, barulah aku menyadari sesuatu. Dingin yang luar biasa tadi, mungkin disebabkan oleh baju yang aku kenakan saat ini masih basah akibat perang dengan Catha tadi.
'Catha...?'
Aku tersentak dan menoleh ke arah Catha dan Lacus. Kulihat mereka berjalan memasuki guest house sambil tertawa, entah apa yang mereka tertawakan tapi aku merasa senang dan lega melihatnya.
'Sepertinya dia benar-benar baik-baik saja.'
'Syukurlah...'
Aku tersenyum lega selama beberapa saat sambil terus memandang kedua temanku hingga sosok mereka menghilang, lalu berbalik dan masuk ke dalam guest house dan langsung menuju kamarku. Saat aku berada di depan pintu kamar, kudengar suara Haine, Yzak dan Dearka yang sedang bertengkar dari arah kamar mandi. Mendengar suara teman-temanku itu, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Di dalam kamar, aku tidak menemukan siapapun. Mungkin Athrun juga sedang bersama Haine dan yang lainnya, atau mungkin dia sedang melakukan hal lain. Setelah mengamati keadaan kamarku sejenak, aku berjalan menuju sudut kamar, bermaksud meletakkan tas-ku di sana dan bersiap untuk mandi setelah teman-temanku selesai.
Baru saja aku meletakkan tas-ku, aku merasakan Death-glare seseorang tertuju ke arahku, tatapan membunuh, yang membuatku merinding ketakutan. Begitu aku menoleh untuk memastikan siapa pemilik Death-glare tersebut, ku temukan sosok laki-laki berbaju putih, celana hitam dan berambut navy blue berdiri di belakangku. Dia bersandar di kusen pintu kamar, menatapku dengan mata emerald-nya yang tajam lengkap dengan aura hitam pekat di sekelilingnya. Melihat sosok teman sekamar ku yang seperti itu, aku hanya bisa menelan ludahku dengan berat.
"Eh, h-hey, Ath. Ada apa?" Tanyaku memberanikan diri.
Athrun masih menatapku tajam. "Apa yang tadi kalian lakukan?" Tanya Athrun dingin.
"Eh? Maksudmu?" Tanyaku bingung.
Athrun mendengus, lalu ia melangkah masuk kamar dan berdiri di depanku.
"Kau dan Cagalli. Kemana kalian pergi? Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian basah kuyup?" Tanya Athrun bertubi-tubi dengan nada tinggi.
Aku berkedip beberapa kali, memproses pertanyaan dari Athrun. Ada apa dengannya? Tiba-tiba saja mengintrogasi ku, apalagi dengan tatapan yang bisa membunuh seperti tadi? Setelah beberapa saat aku memikirkan berbagai kemungkinan yang ada di dalam otakku, akhirnya aku menemukan satu titik terang sebagai jawaban kenapa Athrun bertingkah seperti ini.
Seketika itu juga, aku tidak bisa menahan tawaku. Aku tertawa keras sambil memegangi perutku. Membuat Athrun, yang berdiri di depanku hanya bisa menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi dengan tanda tanya.
'What the...?'
'Dia cemburu? Padaku?'
Setelah beberapa saat, akhirnya aku berhasil sedikit mengendalikan tawaku. Kulihat tatapan dari sepasang mata emerald yang memancarkan kebingungan, tapi juga kemarahan di dalamnya masih tertuju padaku.
"Hahaha. Kau ini, Ath. Tadi aku hanya mengobrol sebentar dengannya, tapi kami bertengkar dan akhirnya saling siram di air mancur kecil dekat pantai." Jelasku, masih diselingi tawa.
"Mengobrol tentang apa memangnya? Kenapa kalian harus menjauhi kami segala?" Tanya Athrun, masih dengan nada yang tinggi.
Aku terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat untuk diberikan pada Athrun.
'Kalau kuberi tahu Athrun tentang yang tadi, Catha pasti akan membunuhku.'
"Em, ya… Kami tadi membicarakan tentang keluarganya, Ath." Jawabku berbohong, berusaha terdengar seperti biasa.
"Keluarganya?" Tanya Athrun sambil menaikkan satu alis matanya.
"Y-ya, beberapa hari yang lalu, ayahnya sakit. Kami membicarakan tentang itu. Aku berpikir kalau Cagalli masih mencemaskan keadaan ayahnya, jadi mungkin saja itu mempengaruhi kesehatannya." Ujar ku pada Athrun. "Cagalli tidak suka membahas ayahnya di depan banyak orang, karena itu kami pergi." Tambah ku, menjawab sisa pertanyaan dari Athrun.
Athrun terdiam sejenak. "Kau juga dekat dengan keluarganya?" Tanya Athrun, ia sedikit menunduk saat menanyakannya.
"Ya, rumahku dekat dengan rumahnya, Ath, jadi aku sering ke rumahnya dan begitu juga sebaliknya" Jelasku, lalu aku terdiam. Kulihat ekspresi Athrun, kelihatannya dia menjadi semakin sedih. Aku menghela nafas sambil menggelengkan kepala ku, tidak percaya bahwa Athrun benar-benar cemburu padaku.
"Kau tenang saja, Ath. Aku dan Cagalli memang dekat, tapi." Aku memberi jeda, membuat Athrun yang tadinya tertunduk, sekarang mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arahku. "Kami lebih seperti saudara. Cagalli sudah seperti adikku sendiri." Lanjutku berusaha meyakinkan Athrun. Saat itu juga, kulihat ekspresi wajah Athrun langsung berubah dan dia tersenyum sambil menatapku.
"Benarkah itu, Kira?" Tanya Athrun antusias.
Aku menganggukkan kepala ku untuk merespon Athrun. Aku masih tidak percaya, Athrun benar-benar cemburu padaku. "Tentu, Athrun Zala. Lagipula aku pacaran dengan Lacus." Jawabku sambil tersenyum.
Saat itu, senyum Athrun semakin melebar. Dia lalu mencengkram kedua sisi bahuku dengan tangan kekar-nya.
"Baguslah. Kalau begitu, maukah kau membantuku, Kira? Bantu aku agar aku bisa mendapatkan Cagalli?" Tanya Athrun memohon.
Aku menarik nafas panjang dan mengangguk.
'He's really fell for her, right...?'
=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=
Normal POV
PLANT – 27/09/2012
Jam 6.30 sore waktu PLANT, Mwu, membebaskan aktivitas rombongan, agar mereka bisa mencari makan malam masing-masing di pertokoan terdekat, sambil berbelanja oleh-oleh atau melakukan apapun yang mereka ingin lakukan. Mwu hanya menyuruh rombongan untuk tidak tidur terlalu larut, karena besok mereka harus berkumpul di dermaga jam 5 pagi. Dengan begitu mereka bisa pergi menuju ke pantai di sisi timur PLANT untuk menikmati pemandangan matahari terbit.
Cagalli dan teman-temannya sekarang sedang duduk santai sembari bercanda ria di bangku yang ada di depan guest house Kira. Tapi Cagalli tidak terlalu menikmati moment ini, ia merasa suhu tubuhnya mulai memanas dan merasa kelelahan karena aktivitasnya yang sangat melelahkan hari ini.
Sejak kecil, tubuh Cagalli memang lemah terhadap panas matahari, apalagi hari ini ia sangat kelelahan. Sebagai tambahan, sepanjang perjalanan pulang dari JUNIUS 7 ia terus menggigil kedinginan karena angin tidak henti-hentinya menerpa tubuhnya, padahal bajunya masih basah kuyup akibat bermain air dengan Kira di air mancur. Perubahan suhu udara PLANT yang cukup dingin di malam hari, semakin memperparah kondisi Cagalli.
'Setelah ini, lebih baik aku tidur saja.'
Cagalli berusaha menyembunyikan kondisinya dengan terus menunduk, menyembunyikan wajahnya, yang mungkin saat ini sudah memerah karena gejala demam yang dialaminya.
"Hey, bagaimana kalau kita pergi ke pertokoan di dekat sini?" Ajak Dearka tiba-tiba setelah asyik bergurau.
"Memangnya ada yang menarik? Aku malas, kalau hanya belanja!" Sahut Yzak.
"Aku dengar ada GameZone di sana. Daripada hanya duduk di sini. Ayo ke sana?" Jawab Dearka.
"Boleh saja. Lagipula kita juga belum makan malam." Kata Kira.
"Ya, aku juga ingin melihat-lihat." Tambah Lacus.
"Kalau begitu, ayo pergi!" Seru Haine, yang berdiri dari bangkunya. Teman-temannya yang lain juga ikut berdiri, kecuali Luna, Meyrin dan Cagalli.
Luna dan Meyrin saling memandang satu sama lain selama beberapa saat, Meyrin mengangguk kecil, lalu Luna mengalihkan pandangannya ke arah teman-temannya yang sudah berdiri di hadapannya. "Emm. Kami berdua tidak ikut."
"Kami lelah dan ingin tidur." Tambah Meyrin pelan sambil tersenyum dan melirik ke Athrun.
Athrun tersenyum lembut dan berkata, "Oh, begitu, ya sudah. Istirahatlah."
Meyrin blushing, "E-eh, ya. Terimakasih..." Jawabnya malu-malu, lalu ia memalingkan wajahnya dan berdiri di samping Luna yang saat ini juga sudah berdiri tegap.
"Kami pulang dulu, selamat malam." Kata Luna sambil melambaikan tangannya, ia membalikkan badannya dan melangkah menuju guest house-nya, disusul oleh Meyrin tepat dibelakangnya.
"Oyasumi..." Jawab teman-temannya bersamaan.
Athrun memandang ke Hawke bersaudara yang masuk ke guest house. Sesaat setelah sosok keduanya tidak terlihat lagi, ia beralih memandang ke arah gadis berambut pirang yang masih duduk manis di tempatnya.
"Ayo berangkat?" Ajak Athrun lembut.
"Ya, ayo, Cagalli?" Ajak Lacus sambil menarik tangan kanan Cagalli, tapi yang di ajak tidak bergeming dari tempatnya.
"Um, aku juga tidak ikut." Ujar Cagalli pelan.
"Eh? Kenapa?" Tanya Lacus.
"Aku juga ingin tidur saja. Besok kita harus bangun pagi 'kan." Jawab Cagalli.
Kira memandang sejenak ke raut wajah Cagalli, lalu ia menyadari bahwa wajah Cagalli, saat ini sedikit memerah. Ia hendak membuka mulutnya untuk menanyakan keadaan Cagalli, tapi Cagalli sudah memberikan senyuman dan I'm-fine-glare padanya. Jadi Kira hanya tersenyum lembut pada Cagalli, walaupun sebenarnya Kira masih sedikit khawatir.
"Hey, ayolah, kau juga harus ikut pergi, Cagalli." Bujuk Dearka.
"Benar. Tidak akan seru, kalau kau tidak ikut pergi. Ya 'kan, Ath?" Tanya Haine mengedipkan sebelah matanya ke Athrun.
Athrun hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi Haine.
"Haha. Ayolah, jangan berlebihan." Kata Cagalli.
"Kami tidak berlebihan." Jawab Haine.
"Hey, Ath! Jangan diam saja! Ayo bujuk Cagalli, agar dia mau ikut dengan kita!" Seru Dearka. "Keluarkan rayuan manis mu." Tambahnya, berbisik ke Athrun.
Athrun, blushing mendengarnya, tapi setelah berpikir sejenak ia tersenyum penuh arti. Athrun melangkah mendekat pada Cagalli. Berdiri di depannya dan menatap Cagalli lembut dengan mata emerald-nya. Teman-temannya hanya menonton dari belakang, sambil berbisik dan terkekeh pelan.
"Cagalli, ayo pergi?" Bujuk Athrun dengan nada memohon, tapi tetap lembut.
Cagalli menghela nafas panjang. "Memangnya ada apa sih, di sana? Sampai-sampai kalian bersikeras untuk mengajakku?" Tanya Cagalli polos.
Athrun tersenyum, ia menundukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan Cagalli. "There's my heart, waiting for you..." Jawabnya lembut sambil tersenyum nakal.
Cagalli blushing mendengarnya, ia segera memalingkan wajahnya kea rah lain. "A-apa sih? Gombal!" Serunya gugup.
Teman-temannya hanya tertawa melihat reaksi Cagalli, begitu juga dengan Athrun. Membuat wajah Cagalli makin merah bagai tomat.
"Hahaha. Way to go, Zala!" Seru Dearka.
"Ayo, Cagalli! Kau tega membiarkan hati Athrun terus menunggu?" Tanya Lacus menggoda.
Wajah Cagalli masih merah, tidak memandang teman-temannya yang masih tertawa.
"Ayolah... Apa aku perlu menggendongmu?" Goda Athrun, yang masih berada di hadapan Cagalli, sambil terus memandanginya dan menikmati ekspresi wajah Cagalli, yang benar-benar imut saat blushing.
Cagalli sontak menoleh, ia melihat Athrun tersenyum jahil di hadapannya. "Tidak usah!" Jawab Cagalli, lalu ia menghela nafas. "Baiklah, kalian menang. Ayo berangkat!" Seru Cagalli. Ia lalu berdiri dan mulai melangkah ke arah teman-temannya. "Um, Kira?" Panggil Cagalli tiba-tiba, menghentikan tawa teman-temannya. Kira, yang dipanggil menoleh ke arah Cagalli. "Boleh aku pinjam..." Cagalli tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang Kira selama beberapa detik.
"Oh..." Jawab Kira. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung masuk ke guest house-nya. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan jaket berwarna merah di tangannya.
"Ini!" Seru Kira sambil menyerahkan jaketnya ke tangan Cagalli.
Cagalli menerimanya dengan senyum diwajahnya. "Arigatou." Katanya pada Kira, lalu ia memakai jaket itu. Setelah itu mereka semua berjalan bersama menuju pertokoan yang jaraknya hanya beberapa blok dari guest house mereka.
=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=
T – B – C
AN : Cyaaz tau… Chap ini Pendek sekali ya… Garing pula… Hmmmmph… Krisis ide nich Readers…
BTW, Skali lg, Thanks buat yg Review… Karena bnyk yg tanya soal Penyakit Cagalli, Sebagai info nich… Cyaaz g akan setega itu kok, ngasih Penyakit yg bisa ngebunuh Cagalli tercinta…
Tapi, penyakitnya parah g ya…?
PS : Jangan lupa di Review….!
