A/N: Annyeong! Waah.. mian! Author janjinya update tiap Rabu.. Tapi ini Kamis baru bisa update.. mian Kemaren ada tugas dadakan dan.. yah, begitulah.. So sebagai permintaan maaf, mungkin Jumat Sabtu author akan update berturut-turut.. Mohon sabar, ya :)

Oke, enjoy this chapter ^^


Chapter 6

-I'm still In Love with You-

Paginya.

Jaehwan berdiri di depan rumah keluarga Jung. Ia membunyikan bel, dan keluarlah sahabatnya, Hongbin.

"Oh, Jaehwan hyung! Ada apa kau ke sini?"

"Ng.. Aku ingin mengembalikan ini pada Taekwoon hyung. Ia meminjamkan coat dan syalnya padaku tadi malam." Jaehwan menunjukkan sebuah paper bag.

"Jinjja?" Tiba-tiba Hongbin kegirangan. Ia menutup pintu, dan menggenggam kedua bahu Jaehwan. "Apa yang kalian bicarakan tadi malam?"

"Bu- bukan apa-apa!" Bual Jaehwan. Mustahil baginya menceritakan apa yang ia dan Taekwoon bicarakan tadi malam. "Kami hanya jalan-jalan saja."

Hongbin menghela nafas.

"Ah.. Lagi-lagi kau tidak menyatakan perasaanmu? Tadi malam itu cukup indah. Terlebih kalian berada di taman belakang rumah itu, kan? Kau tahu, tempat itu benar-benar indah."

Jaehwan tak menjawab. Hanya menggelengkan kepala dan kembali pada topik awal pembicaraannya. "Apa Taekwoon hyung ada?"

"Ya.. Dia sedang tidur di kamarku."

"Kamarmu?" Jaehwan mengangkat alisnya. Hongbin mengangguk. "Wae?"

"Entah. Dia masuk kamarku jam 4 pagi tadi. Katanya ia tidak bisa tidur." Jelas Hongbin. Jaehwan hanya mengangguk, arah pandangnya jatuh ke tanah. "Tunggu. Kau tidak cemburu, kan?"

"Apa? Te- tentu saja tidak!" Jaehwan melambaikan tangannya di depan wajah Hongbin, meyakinkannya bahwa ia tak merasa seperti yang Hongbin katakan tadi. Hongbin hanya memutar bola matanya. "Kalau begitu tolong kembalikan ini padanya. Katakan padanya aku benar-benar berterima kasih soal tadi malam. Sudah itu saja. Annyeong, Hongbin-ah!" Jaehwan berbalik, berniat pergi dari rumah Jung. Tapi Hongbin menarik tangannya. "Hongbin-ah.. Aku mau pulang.."

"Kenapa tidak kau kembali kan saja sendiri ke orangnya?" Tanya Hongbin.

"Karena tadi kau bilang dia masih tidur."

"Itu bukan masalah."

Mata Jaehwan membulat ketika Hongbin menariknya masuk ke dalam rumah.

.

_Jaehwan POV_

Hongbin mendorongku ke dalam kamar. Aku lihat Taekwoon hyung sedang tidur di dalam. Aku berbalik ke arah Hongbin.

"Aku tidak mau membangunkannya!" aku berteriak dengan suara pelan.

"Terserah! Pokoknya ke sana sekarang!" Hongbin mendorongku mendekati tempat tidur, kemudian menutup pintu dari luar.

"Yah! Tunggu-"

"Hmm.. Hongbin-ah?"

Aku menoleh ke arah Taekwoon. Mataku membulat, takut kalau-kalau dia terbangun. Namun sepertinya dia hanya sleep-talking.

Aku pun mendekatinya, dan meletakkan paper bag ini di sampingnya. Jadi saat dia bangun nanti, yang pertama ia lihat adalah syal dariku. Hehe ;p

Aku berniat untuk keluar dari kamar, saat tiba-tiba tangan Taekwoon hyung menarikku. Mataku membulat dan jantungku berdetak lebih kencang, ketika ku sadari hidung kami tak berjarak lebih dari tiga senti. Matanya masih tertutup. Ia pasti masih tidur. Lalu, aku dengar ia bergumam,

"Hongbin-ah.. Aku mencintaimu."

Tunggu, apa? Dia pasti mengira aku ini Hongbin.

"Hyu- hyung.. Aku bukan-" Aku mencoba membangunkannya. Tapi tiba-tiba ia menarikku ke dalam sebuah ciuman.

Sekali lagi.. SEBUAH CIUMAN!

Oh, aku tak percaya ini terjadi. Bibir lembutnya berada di atas bibirku. Tapi tak lama, ia sedikit menjauh untuk mengatakan sesuatu,

"Hongbin. Sungguh.. Aku masih mencintaimu. Aku tak bisa berpaling pada siapapun."

Aku pun menyadari sesuatu. Ia pikir aku adalah Hongbin. Jadi ia menciumku pun sebagai Hongbin bukan sebagai Jaehwan. Oh Tuhan! Aku terlalu senang sampai-sampai aku tak menyadari itu.

Aku pun menjauh darinya sebelum ia bisa menarikku lagi. Aku berlari keluar kamar Hongbin, melewati Hongbin begitu saja yang tengah sarapan di meja makannya.

"Eoh? Jaehwan hyung! Kenapa kau-"

"Aku pulang dulu! Maaf!" teriakku tanpa menoleh ke arahnya. Aku tak mau ia melihatku menangis.

Aku berlari sambil menangis, kemudian menaiki sebuah bus. Aku duduk di belakang dekat jendela. Kuletakkan kepalaku di kaca. Aku terus menangis sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi. Kata-kata Taekwoon hyung kembali mengiang di otakku.

"Hongbin. Sungguh.. Aku masih mencintaimu. Aku tak bisa berpaling pada siapapun."

Apakah ini salahku karena mencintainya? Apa dia bukan orang yang tepat untuk kucintai? Setelah kupikir-pikir, aku memang mencintai orang yang salah. Bila terus seperti ini, aku hanya akan terus merasa sakit. Kini aku sadari,

Dia akan selalu mencintai Hongbin.

Tapi ini kenyataan, aku harus menerimanya. Dan satu lagi kenyataan yang harus aku terima...

Aku harus berpaling darinya.

.

.

.

.

.

=To Be Continued=


A/N : Shoot! Oke, ini pendek... baaangeet... Miaannn! *run* But please review, and thanks for reading ^^