chapter ini... ummm... Silver gak niat banget bikinya ==" tapi walaupun gitu… Silver enjoy banget. Aneh kan? Seaneh ceritanya! POERTY NYA JUGA! soalnya ini semuanya menyangkut PAST... cerita soal GinRan masa skul gitu~ kata temanku a.k.a kritikus setia saiia, chapter ini lebih mengarah ke prekuel Melodi Di Belantara Salju, yaitu Kisah Sang Penulis Muda... bener gak ya? yah, semoga reader menikmatinya~ catatan terakhir : ^^v (disingkat : chapter ini lumayan shou-ai) dan isinya semua kejadian di masa lalu (gak semua sih…) oh, ya, FLAME dilarang masuk (?) skip aja story ini kalo pada gak suka. Cz ni sebenernya killer, eh, filler. Semacam line yang menjembatani previous chapter dengan next chapter. (kalo baca ini jadi kangen kisah sang penulis muda deh…) tapi ada baiknya kalian baca sampai tuntas, karena chap ini penentuan apakah Gin akan berakhir di lubang kubur atau… ?
Melodi di Belantara Salju
By : Argentum F Silver
.
I want to see you
If it's lonelier the more we are together
Then let's simply hold hands until it's not lonely anymore
Don't let go of that hand
I'm right next to you
No matter when, I'll laugh and cry for you
So stay by my side
If it's not watered, it'll wither
With such small thorns, it's impossible to protect anything
It really is just acting strong, the flower
Please don't be hurt by those thorns, and don't cry so
.
Dingin. Dingin sekali. Seolah tubuh ini berada dalam suhu nol mutlak. Yah... tubuh ini memang lemah, dikendalikan kekuatan dahsyat sang winter... Pria berambut perak itu meringis kedinginan.
"Hitsugaya-kun... mau kemana kita?" tanya si rambut perak lirih.
"Diamlah Ichimaru! kau ikuti saja aku..." balas bocah berambut putih yang bernama Hitsugaya. Pria berambut perak bernama Ichimaru itu hanya memutar bola matanya dengan kesal. Mata sipitnya mengatup rapat-rapat.
Mereka berdua, nyawa tanpa raga. Melangkah semakin lama semakin jauh, melewati dahsyat belantara salju, menerobos setiap keping kebekuan yang merengkuh tubuh mereka berdua. Seperti diamuk semesta, dingin membungkus mereka dalam kerapuhan. Hati melahirkan ketakutan -dan bimbang tak terkatakan. Rahim malam memuntahkan kesakitan -dan derita. Perlambangan perjalanan maut yang seakan tanpa muara...
Terang. Terang. Terang...
"Ukh!" si rambut perak bernama Gin Ichimaru itu refleks melindungi matanya dari serbuan cahaya terang yang menembus retinanya. Mata ber-iris kemerahan itu terasa pedih sekarang.
"Kita sudah sampai," terdengar suara polos Hitsugaya. Gin segera membuka kelopak matanya sedikit. Ia melihat sosok Hitsugaya di hadapanya. Berdiri dengan tampang datar tanpa nafsu.
"Hn? Ki... kita ada di mana Hitsugaya-kun?" tanya Gin lagi.
"kau punya mata! Pakai matamu!"
Gin mengedarkan pandanganya. Udara disini lumayan hangat. Nggg...
"I... Inikan...?"
"Yeah~ Kita ada di masa lalu, Ichimaru," lirih Hitsugaya. Gin memutar kepalanya. Sungguh, detik ini Ia dan Hitsugaya berada di puncak sebuah bangunan. Bukan... bukan bangunan biasa, ini bangunan berarsitektur Barat yang sangat tidak asing bagi Gin -rumah Aizen.
"Kita ada di rumah Aizen-san?" tanya Gin setengah tak percaya.
"Sekarang ini kita berdua tak punya raga... tak ada seorang pun yang bisa melihat kita,"
"Raga? Dimana ragaku? dimana tubuhku? jangan katakan kalau tubuhku sudah dimakamkan!" cerca Gin tanpa ampun seraya langsung meraih pundak Hitsugaya dan mengguncangnya keras.
"Cerewet! Pokoknya diam saja dan saksikan semuanya!"
Gin terhenyak. Yeah... memang, ia tak bisa mengucapkan apa-apa.
"Ichimaru," panggil Hitsugaya lembut, "...ini adalah surga yang Tuhan beri untukmu... percayalah..."
Samar-samar, sosok mungil Hitsugaya sirna. Bayangan tubuh transparant nya memudar, menjelma menjadi serpihan bersama sang angin. Terbang, dan hilang. Meninggalkan sang rambut perak sendirian. Di suatu tempat yang merupakan penyesalan terbesarnya...
...
.
23 desember 1996. 17:00. Musim dingin.
.
Di puncak bangunan berarsitektur Barat kuno ini semuanya terjadi.
"Gin! Gin!" suara berat seorang pria terdengar berulang kali. "Gin! Gin!"
Kosong. Tak ada jawaban. Seorang pemuda SMA yang masih mengenakan seragam sekolah itu hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pemuda itu tau bahwa dirinya dipanggil. Namun Ia menuli. Sepenuhnya menuli.
Greeekk! Pintu di sisi kanan pemuda itu terbuka. Masuklah seorang pria berambut cokelat masuk. Pria itu tersenyum.
"Keluarlah. Kau belum makan apa-apa bukan?" ucapnya lembut. Pemuda itu masih menuli. Ia malah menenggelamkan wajah tirusnya yang tampan diantara lutut.
"Gin? Ayolah Nak, jangan siksa tubuhmu," ucap si rambut cokelat seraya mendekatinya dan merangkulnya perlahan, "...Kau tidak mau kalau aku marah kan?"
"Terserah kalau Aizen-san mau marah..." lirih si pemuda bernama Gin itu dengan suara serak, "Aku mau disini saja..."
Sreekk! mendadak, sebuah syal abu-abu mendarat mulus di leher Gin.
"Terserah. Tapi setidaknya hangatkan tubuhmu," ucap si rambut cokelat bernama Aizen. Pria bernama lengkap Sousuke Aizen itu membungkukkan badanya untuk membetulkan letak syal tadi.
"Kalau kau lapar, turunlah, lalu makan. Kau harus menjaga kesehatanmu. Salju diperkirakan turun malam ini, cuacanya juga tidak bersahabat..." ucapnya lembut. Hanya itu. Lalu Aizen membalikkan badanya, dan menghilang di balik pintu. Gin hanya menghela nafas, lalu menegakkan kepalanya. Perlahan tanganya meraba pahanya, ke arah selangkangan. Uhh... sakitnya bukan main...
"Kalau saja malam itu Nnoitra dibunuh!" desisnya penuh amarah seraya meringis menahan nyeri yang semakin menjadi. Ia teringat… kemarin malam adalah mimpi terburuknya. Ketika Nnoitra dan kawan-kawan keparatnya me….
Ah!
Ia tak bergerak. Matanya nanar menatap matahari sore yang sangat indah.
"Hnngg... sakiiittt..." rintihnya terus. Ia semakin merapatkan syal abu-abu yang melingkari lehernya, udara mulai tidak bersahabat sekarang. Atmosfir beku serasa mengamuk seluruh sel kulitnya...
.
24 desember 1996. 20.00. Musim dingin
.
"Dia nyaris mengalami hipotermia," kata lelaki berambut pink disamping Aizen, "Saya tak menyangka dia akan nekat tidur di tumpukan salju,"
"Yah… aku juga tak itu. Lalu, bagaimana 'itu' nya?"
"Soal luka kekerasan seksual itu aman kok. Aizen-sama tak usah khawatir. Waktu itu Ichimaru memang di-rape, tapi tidak sampai ke tahap yang… yah… anda sendiri tahu kan..? Sebenarnya Ichimaru hanya trauma. Tapi saya rasa itu bukan masalah besar," terang lelaki bernama Syazel itu, seraya mengemasi beberapa peralatan kedokteranya. Yah, lelaki bernama lengkap Syazel Appollo Grand ini dokter handal yang menjadi kaki tangan Aizen. Dia bukan hanya mengambil andil besar dalam bisnis kotor narkotik Aizen, tapi juga menjadi tenaga medis paling setia. Disamping itu, dia seorang cendekia tak terkalahkan dantara mereka. Singkatnya, Syazel salah satu piaraan favorit Aizen.
"Terimakasih. Kuharap perkataanmu benar Syaz. Gin akan baik-baik saja…" ucap Aizen. Syazel mengucapkan salam dan pamit pergi dari ruangan itu, meninggalkan sang atasan bersama dengan si pemuda perak yang malang. Perlahan, Aizen menaikkan selimut tebal yang menyelubungi tubuh Gin, sampai sebatas lehernya. Jemari Aizen menyelusup ke helai-helai rambut silver Gin.
"Maaf ya," lirihnya, "… tabahkan dirimu Gin…"
.
24 desember 1996. 06:00. Musim dingin
.
"A… Aizen-san…?" panggil Gin. Si pemilik nama yang tengah menekuni sebuah newspaper lama yang masih sangat menarik. Ya, tentu saja Koran lama itu sangat menarik walaupun dibaca berulang kali. Di halaman depan terpampang sebuah judul SOUSUKE AIZEN : BURONAN NOMOR SATU KARAKURA
"Iya?" sahut Aizen tanpa mengalihkan pandanganya dari kertas di tanganya.
"Bisakah kau antarkan aku pulang? Aku harus sekolah…" lirih Gin. Aizen meliriknya sejenak. Nampak wajah datar dari sang seorang Gin Ichimaru. Wajah datar yang sangat jarang terlihat…
Perlahan, Aizen mulai menutup Koran di tanganya. "Oke. Ayo ikut aku," katanya seraya bangkit dan menggandeng Gin menuju garasi…
"Gin, nanti kau pulang sekolah jam berapa?" Tanya Aizen tiba-tiba. Ia membuka pintu mobil dan menyelipkan tubuhnya di jok depan –di belakang setir.
"Entah. Aku malas ikut jam pelajaran tambahan sih… mungkin bisa lebih siang sedikit, sekitar jam dua…" jawab Gin asal, seraya ikut menyelipkan dirinya di jok depan di samping Aizen. Ia mendekap erat tas sekolahnya yang berwarna hitam polos. Wajahnya masih pucat. Ah, ralat –sangat pucat.
Aizen hanya tersenyum lembut. Mesin dinyalakan. Mobil mewah itu mulai bergerak perlahan-lahan meninggalkan garasi utama. Melewati pekarangan yang lumayan luas dengan kecepatan konstan. Seorang berseragam security segera membukakan gerbang utama rumah itu. Mobil pun bergerak lurus, dan keluar dari area rumah Aizen.
"Memangnya nanti tambahan pelajaran apa?" Tanya Aizen membuka percakapan.
"Pengetahuan sosial…" jawab Gin pendek.
Lagi-lagi Aizen hanya tersenyum, "Aku melihat daftar nilai sekolahmu yang ada di tas lho! Padahal kau selalu mendapatkan nilai tertinggi untuk pelajaran itu, kenapa kau membolos?" ucap Aizen serius. Gin hanya bisa menundukkan wajahnya malu-malu.
"Aku hanya membaca materi saja sekilas, dan aku bisa langsung menangkapnya dengan mudah…" jawab Gin sekenanya.
"Yeah~ Itu namanya anugerah Tuhan…"
"He he he…"
Jalanan tertimbun salju. Gin menyandarkan kepalanya di sisi jendela mobil yang berembun, menatap keluar, ke atmosfir beku di luar sana.
"Kenapa aku masih hidup, Aizen-san?" bisik Gin parau.
"Tentu, karena Tuhan belum mencabut nyawamu," jawab Aizen seraya tersenyum. Gin langsung memukul pundaknya pelan.
"Aku tau! Maksudku kenapa aku tidak mati kedinginan di atas rumahmu semalam!" protesnya sembari menegakkan kepalanya lagi.
"Aku yang memindahkanmu kedalam. Kata Syaz kau nyaris kena hipotermia,"
"Ah! Syazel merepotkan," Gin menggerutu, membuat Aizen terkikik geli. Mobil mewah itu memasuki sebuah jalan yang tak terlalu besar, dan masih diselubungi salju di sana sini. Nampak jajaran rumah berpagar tinggi serta beberapa pohon meranggas. Satu-dua orang terlihat di sekitar jalan itu, memulai aktivitas pagi mereka.
"Sampai!" ujar Gin ketika mobil Aizen berhenti di depan sebuah apartemen besar di ujung jalan. "Terimakasih banyak Aizen-san,"
"Yeah! Gin, cepat mandi dan pakai seragam sekolahmu. Kuantarkan kau ke sekolah sekalian. Sekalian, kita sarapan dulu. Kau belum makan apa-apa kan sejak kemarin?"
Mata Gin langsung berbinar senang mendengar suara jernih Aizen itu. "Oke!" katanya bersemangat. Aizen hanya tersenyum geli melihat pemuda kesayanganya ini.
"Cepat ya? Aku tunggu disini," ucap Aizen seraya tersenyum lembut.
.
24 desember 1996. 06:30. Musim dingin.
.
Gin menyeringai senang ketika Aizen mengajaknya sarapan di salah satu kafe di dekat sekolahnya.
"Aku tidak repot masak sendiri…" lirihnya dengan nada nakal. Lagi-lagi Aizen hanya menanggapinya dengan senyum halus. Dirangkulnya sang pemuda perak dengan sabar.
"Makan yang banyak, biar tidak sekurus ini!" komentarnya datar.
"Jangan meledek ah! Badanku memang tidak segagah Aizen-san…" keluhnya dengan wajah lucu. Aizen tertawa kecil. Mereka lalu memilih salah satu meja di sudut ruangan. Ah, kafe itu lumayan ramai juga meskipun jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Yang malas masak pagi-pagi biasanya mampir kemari," ujar Aizen.
"Ooh… pantas saja sudah ada pengunjung," balas Gin.
"Kalau Gin sering masak sendiri di rumah?" Tanya Aizen.
"Umm… aku suka makan di kantin saja. Soalnya kalau soal teori memasak, aku memang dapat nilai paling tinggi di kelas… tapi kalau soal praktek…" Gin berhenti sejenak. Lalu meringis dengan wajah malu-malu, "… tidak janji…"
"Hahaha…" tawa Aizen meledak mendengar penuturan polos Gin.
"Duh, jangan tertawa dong… soalnya dulu waktu aku SMP, ada temanku yang suka main ke apartemenku dan memasak untukku…" kata Gin.
"Oh ya? Siapa? Pacarmu?"
Plosh! Wajah Gin langsung memerah.
"I… iya… bisa dibilang begitu…" akunya dengan wajah semakin merah.
"Namanya?"
"Rangiku. Rangiku Matsumoto. Dia adik kelasku. Kami suka main bertiga dengan Kira. Kalau sore, dia suka memasak untuk kami bertiga… kadang-kadang dia juga suka memasak makan malam untukku. Kalau weekend aku suka mentraktirnya…"
"Duh… romantisnya balada cinta anak muda," goda Aizen. Gin hanya merengut sembari memukul pelan tanganya.
"A… aku jarang ketemu dia sekarang. Dia masih duduk di kelas tiga SMP…" ujar Gin. Aizen tersenyum ringan.
"Rangiku cantik ya?" tanyanya penasaran.
"Cantik. Cantik sekali. Dadanya besar!"
Dukk! Aizen langsung menonjok lengan Gin, "Mesum kau!" komentarnya sembari tertawa. Gin ikut tertawa dengan wajah masih malu-malu.
"A... aku sayang sekali pada Rangiku…"
.
24 desember 1996. 14:00. Musim dingin.
.
Sekolah telah bubar setengah jam yang lalu. Nampak Gin masih duduk manis di sisi gerbang sekolah, diatas sebuah tembok pendek yang basah dan dingin. Gin mengawasi jalan raya, sambil sesekali membetulkan letak syal abu-abu yang diberi Aizen kemarin. Ia tengah menunggu seseorang. Atau lebih tepatnya, beberapa orang. Alias teman-teman gengnya. Shuuhei, Ikkaku, Yumichika, Kaien dan Ggio.
"Gin!" seru seorang pemuda dengan kepala botak licin, Ikkaku Madarame, "Sialan kau! Kenapa kau bisa lari dari jam pelajaran tambahan!" umpatnya. Di belakang pemuda ini nampak beberapa pemuda lain yang muncul satu persatu dari arah gerbang sekolah.
"Aku tidak tau bagimana anak ini selalu bisa mengelak dari guru!" sambung seorang pemuda tampan berambut gelap, Kaien Shiba. Gin hanya menyerigai penuh kemenangan.
"Kapasitas otak orang berbeda-beda! Haha…" tawanya yang langsung disambut sorakan kompak dari teman-temanya : "Huuuu!"
"Main yuk! Aku dengar ada game baru di Game center," usul Ggio bersemangat.
"Umm… kalian benar-benar tidak punya sense keindahan… bermain game kalian bilang? Itu sangat… sangat… menyebalkan…" keluh Yumichika dengan nada dibuat-buat. Semua langsung sweatdrop.
"Si banci bicara apa nih?" komentar Gin.
"SIAPA YANG KAU BILANG BANCI HAH!"
glek! Semua langsung membeku ketika Yumichika berteriak dengan suara gaharnya, plus beberapa perempatan di kepalanya yang berambut indigo gelap.
"Ti… tidak…" semuanya menggeleng.
Jadilah. Beberapa pemuda berseragam SMA berjalan beriringan melewati bahu jalan raya, sesekali saling melontar candaan yang menyenangkan.
DIIINNN! DIIINNN! Mendadak suara klakson nyaring terdengar. Sontak semua menoleh. Sebuah mobil berwarna silver meluncur pelan kearah Gin dkk.
"Aizen-san?" bisik Gin pelan. Tak terdengar oleh kawan-kawanya. Pintu mobil turun sedikit, menampakkan sosok lelaki berkacamata hitam di dalamnya.
"Gin!" panggil lelaki itu. Gin mendekatinya dengan wajah bertanya-tanya.
"sedang apa Aizen-san disini?" tanyanya dengan nada cemas.
"Tidak ada. Besok natal, aku mau mencari hadiah natal untuk Hinamori, kau mau ikut? Aku tidak tau harus mencari hadiah apa…" ucap Aizen. Gin mengangguk mengerti.
"Ok, aku ikut. Tapi traktir makan siang ya! Aku lapar!"
"Haha… beres!"
Gin segera memalingkan wajah kearah teman-teman sekolahnya. "Teman-teman, aku ada acara. Maaf aku tidak bisa ikut dengan kalian!" serunya mantap sambil tersenyum lebar.
"Acara? Tumben? Kemana?" Tanya Kaien.
"Beli peti mati! Siapa tau kalian butuh kalau-kalau kalian mati muda karena kebanyakan main game! Haha…" candanya seraya tertawa riang.
"Huuu!"
"Oke minna! Bye! Aku cinta kalian semua!" seru Gin, masih dengan nada canda. Teman-temanya langsung melotot galak kearah Gin yang tersenyum lebar tanpa dosa.
"Hueek!" balas teman-temanya kompak. Gin hanya tertawa renyah. Ia lalu menyelusupkan tubuh kurusnya di jok depan, di samping Aizen.
"Haha…" tawa Aizen seraya menjalankan mobilnya perlahan-lahan, "Asyik ya main dengan teman-teman…" komentarnya.
"Iya! Rencananya kita mau main game hari ini… sebenarnya aku malas, tapi Ikkaku berjanji mau membayari kami semua, asal kami bisa mengalahkan dia di figt-game dan samurai-game, hehe.."
"Gin gampang disuap!" sahut Aizen tersenyum.
"Biar saja, inilah dinamika anak remaja, hehe…"
Aizen mengucak rambut perak Gin perlahan dengan gemas. "Gin… Gin… kau itu seharusnya jadi anakku saja ya?" ucapnya.
"Ya, aku mau kok jadi anaknya Aizen-san… Aizen-san kan sayang padaku," kata Gin polos. Aizen tersenyum kecil.
"Ya Gin. Aku sayang padamu…" lirih Aizen.
"Umm… jadi… Aizen-san mau belikan apa untuk Hina-chan?"
"Aku tidak tau. Ada saran?"
Tring~ neon 75 watt menyala terang diatas kepala perak Gin. Sembari tersenyum nakal Ia berkata, "Bagaimana kalau kita minta tolong pada Rangiku saja?" usulnya bersemangat.
Aizen terkikik. "Bilang saja mau Rangiku! Pakai alasan segala~"
Plosh! Wajah Gin langsung memerah. "hehe…" Ia hanya bisa tertawa kaku…
.
24 desember 1996. 15:00. Musim dingin
.
Gin menyeringai horror pada gadis-gadis yang melintas di depan sebuah SMP. Sebuah SMP favorit di Karakura. Kini SMP itu bernuansa jingle-bell-jingle-bell. Yah, tentu saja, besok sudah natal. Beberapa gadis yang melihat Gin langsung menjerit menjauh. Mereka ketakutan melihat anak SMA bertampang –ehm- menakutkan di dekat gerbang sekolah.
"Selamat siang Nona…" sapa Gin pada sekelompok gadis yang bergerombol keluar dari gerbang.
"Kyaaa!" jerit mereka spontan.
"Maaf, ada yang mengenal Rangiku Matsumoto? Aku mencari siswi bernama Rangiku Matsumoto…"
"U..Umm… Matsu-chan ada di… ruang sastra. Ruang ketiga sebelah kiri tangga…" seorang gadis berseragam SMP di hadapan Gin berkata dengan gemetar.
"Terimakasih cantik," tak lupa memberi colekan ringan di dagu gadis itu, Gin lalu pergi memasuki pekarangan sekolah dengan percaya diri.
"Kyaaaa!" Terdengar jerit histeris dari para gadis korban keisengan Gin. Gin hanya menyeringai ganas seraya masih menebar pesonanya… =="
Gin menghentikan langkah di depan sebuah ruangan berlabel 'ruang sastra'. Ia mendengar siulan ringan dari dalam ruangan seluas 3x4 meter itu. Ruangan itu bersih dan ringkas. Hanya ada dua buah meja yang disatukan serta beberapa kursi. Di sudut kanan ada rak buku pendek yang menyimpan kamus besar supertebal.
Dan yang membuat jantung Gin berdegup kencang adalah sosok gadis yang berada di dekat rak buku. Nampak gadis itu tengah membersihkan celah-celah rak. Rambut pirangnya terjuntai manis sepanjang pundak.
Tok tok! "Selamat siang Nona…" sapa Gin ramah. Sang gadis spontan menoleh.
"Selamat si…"
glek!
"KAK GIN?" mendadak gadis itu berseru lantang melihat sosok horror yang tengah bersandar di kusen pintu penuh gaya. Gadis itu sungguh cantik. Wajahnya sangat sempurna. Ada tahi lalat di wajahnya, menjadikan sosoknya semakin menawan… Tubuh semampai serta… ehm… dadanya yang indah sanggup menyihir lelaki manapun dengan sekali kedipan. Dan bibirnya… aww…
"Waw… makin cantik saja kau Ran-chan sayang~" ucap Gin mesum.
Gadis bernama Rangiku Matsumoto itu membelalakan matanya. "Makin kurang ajar saja kau Gin-kun!" balas Rangiku sengit.
"Rangiku, kemari deh! Aku butuh bantuanmu sekarang." Pinta Gin tanpa basa-basi lagi. Rangiku merengut gusar.
"Malas," ucapnya galak.
"Sekolah sudah bubar kan?" kata Gin seraya melangkah masuk ke dalam ruangan itu, "Aku mau mencari hadian natal buat seorang gadis. Aku bingung, jadi aku mau minta saranmu, kalau kau tidak keberatan,"
"gadis? Pacarmu ya? Kekanak-kanakan!" balas Rangiku semakin galak. Ia mengacungkan gagang sapu ke arah wajah Gin dengan sikap mengancam. Gin hanya tersenyum santai sambil menjauhkan wajahnya sedikit dari gagang sapu tadi.
"Rangiku cemburu ya kalau aku mau memberi hadiah buat gadis lain?" Tanya Gin tersenyum.
"Ce… cemburu? Siapa? Aku? Huh!"
Mata Gin berbinar. Ia membuka matanya sedikit. "kalau begitu yuk!" serunya. Tanpa aba-aba Ia langsung menarik tangan mulus Rangiku dan menyeretnya…
"Ukh! Gin! Tunggu! Aduh! Sakit! Gin! Giiiinn!"
Rangiku menekuk wajahnya ketika Ia dan Gin tiba di sebuah toko aksesoris. Toko besar itu berjarak setengah kilometer dari sekolah Rangiku. Mereka mencapainya dengan jalan kaki. Dan Gin masih menggenggam pergelangan tangan Rangiku dengan erat, dari gerbang sekolah sampai sini!
"Aku beeennnciiii padamu!" ucap Rangiku kasar seraya berusaha merenggut tanganya dari kekuasaan Gin. Tapi gagal. Gin terlalu kuat…
"Menurutmu, Hina-chan suka apa ya?" Tanya Gin dengan wajah tanpa dosa.
"Berikan saja boneka. Boneka salju misalnya? Di sini banyak boneka salju yang terbuat dari beludru lembut," ucap Rangiku.
"Bagus! Yuk masuk!"
"Tu… tunggu! Hei! Hei!"
Pemuda berseragam SMA menyeret-nyeret seorang siswi SMP ke sebuah toko aksesoris wanita dengan tampang tanpa dosa. Aizen tertawa kecil menyaksikan pemandangan asyik itu. Ia memasang kacamatanya dan mulai membuntuti Gin ke dalam toko. Gin dan Rangiku menuju deretan rak bantal dan boneka, sementara Aizen berada di deretan aksesori cowok di sudut toko, membuat pergerakan yang tidak mencurigakan, sembari mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.
"Aku suka bantal ini, bagaimana menurutmu?" Tanya Gin, menunjukkan bantal bermotif bordir boneka salju putih berbackground biru langit. Jahitan yang benar-benar halus dan manis, dengan garnis pita satin merah.
"Manis. Tapi terlalu sederhana, soalnya ukuranya hanya segini, tidak ada yang lebih besar… nanti hanya terlihat sebagai hiasan semata, bukan sebagai bantal tidur…"
"Ya, kau benar!"
Rangiku memberi arahan pada Gin. Wajahnya sedikit cerah sekarang. Gin menyeringai ketika Ia bisa membaca pikiran Rangiku. Rangiku cemburu pada Gin, sehingga Ia berusaha menikmati setiap detik waktunya bersama Gin karena mengira Gin kini sudah memiliki pacar lain… Gin tersenyum senang melihat wajah cemburu itu… dan Ia tak mengatakan pada Rangiku kalau Hinamori itu sebenarnya adalah temanya saja, bukan pacarnya, hehe..
"Ini manis juga. Bagaimana kalau yang ini? Pacarmu akan senang," lirih Rangiku, menunjukkan sebuah boneka penguin berwarna hitam putih, dengan syal serta topi natal berwarna merah. Boneka itu menggenggam sebuah kado berwarna hijau muda. Ekspresi penguin itu sangat manis dan imut.
"Ada bonus gantungan kunci dan pena bermotif sama," kata Rangiku. Gin tersenyum senang.
"Cantik sekali. Hina-chan pasti suka!" katanya dengan mata berbinar. Rangiku tersenyum kecut.
"Hanya ini? Ada lagi?" tanyanya.
"Ya, aku mau ambil bantal berbentuk bintang yang ada disana. Tolong kau ambilkan, kurasa itu cukup manis…" toh bukan aku yang bayar tambah Gin dalam hati.
"Sekarang kita pilih kertas kado! Kita bungkus sendiri hadiahnya, lalu beri kartu ucapan," usul Rangiku lagi. Gin tersenyum riang lagi.
"Umm… aku bungkus sendiri saja ya? Kalau kertas kado aku punya kok…"
"Memangnya Gin bisa! Kau kan peraih nilai terendah dalam pelajaran ketrampilan!" balas Rangiku sembari menonjok lengan kiri Gin.
"Aw… sakit sayang~ eh, jangan salah ya, dalam teori seni dan ketrampilan aku selalu mendapatkan angka sembilan koma sekian…" Gin membalas tonjokan Rangiku dengan memukul tanganya perlahan.
"Haha… kau lucu… eh? Sebentar, tadi kau memanggil aku apa? Sayang?"
Plosh! Mendadak wajah keduanya memerah bersamaan. Mereka tertunduk malu-malu.
"U… ugh… ayo ke kasir!" Gin langsung meraih tangan Rangiku dan menyeretnya, membuat sang gadis cantik ini menjerit kesakitan… tentu saja dia kesakitan, Gin memang tidak punya aturan kalau memperlakukan teman perempuanya, jadi… ya… beginilah, main seret saja…
Seorang penjaga kasir berparas jelita tersenyum manis ke arah Gin dan Rangiku. Dia menghitung dan membungkus barang belajaan Gin dengan cekatan. Sementara itu, Rangiku tengah melihat-lihat sebuah rak boneka yang lain di sisi kanan pintu keluar dan sesekali memegang bonek-boneka disana.
"Ada yang kau suka Ran?" Tanya Gin menginterupsi.
"Umm… yeah~ Ada. Tapi aku tidak niat beli sih…" jawab Rangiku malas. Gin menatap mata biru Rangiku yang mulai meredup… Gin melihat Rangiku melirik sebuah bantal berwarna ungu muda dengan aksen tali berwarna ungu tua. Bantal itu unik, berbentuk kristal salju. Sungguh Gin belum pernah melihat produk yang sedemikian detail, mulai dari jahitanya, desainya, warnanya, juga semuanya… pantas bantal unik itu mampu menyihir mata siapapun yang melihatnya, tak terkecuali Rangiku.
"Itu ya?" tunjuk Gin spontan.
"Umm… yeah~ aku suka itu…"
"Eh, itu, belanjaan kita sudah selesai dibungkus. Kau ambil sana!" perintah Gin tiba-tiba.
"Ih, kok kau jadi memerintah aku sih!" gerutu Rangiku kesal, lalu membalikan badanya dengan cepat. Gin menyeringai. Diam-diam ia meraih bantal manis yang terletak di rak ketiga dari bawah itu. Ia melirik label harga disana. Uft! Mahalnya… Gin langsung mendesah kecewa.
"Arg! Kalau saja aku bisa membelikanya untuk Rangiku…" batin Gin risau, "Harus menabung sebulan lebih nih…" Gin menghirup wangi bantal itu. Ah, pasti Rangiku akan merasa sangat senang kalau bisa meletakkan kepalanya di bantal sewangi ini… lembut lagi…
Gin langsung meletakkan benda tadi di posisi semula, mengingat ia tak mungkin bisa membelikanya untuk Rangiku –gadis yang sangat Ia sayangi. "Kapan-kapan deh…" lirihnya dengan nada kecewa. Ia lalu melangkah mendekati Rangiku yang berada di meja kasir.
"Sudah Ran? Kita pulang yuk!" ajak Gin. Lalu membayar sejumlah uang pada wanita penjaga kasir itu. Rangiku nyaris tersedak ludahnya sendiri ketika melihat nominal di tangan Gin.
"Bhhuu! Kau kaya juga!" godanya.
"Ini bukan uangku. Ini uang ayahnya Hina-chan…" balas Gin santai dengan wajah datar tanpa dosa. Ehm, ralat, bukan datar, tapi dengan seringaian khasnya…
Rangiku membelalakan matanya, "Tidak modal!" hardiknya, "Harusnya kau malu. Hina-chan itu kan pacarmu!"
"Hahahaha…" kali ini tawa Gin meledak keras. Ia menerima uang kembalian dari si kasir, dan mengangkat belanjaanya, lalu mengalihkan pandanganya pada Rangiku. Tangan kurusnya segera meraih kepala Rangiku dan mengusap-usap rambutnya dengan gemas.
"Memang aku pernah bilang kalau Hina-chan pacarku? Dia anaknya temanku. Umurnya sekitar delapan atau sembilan tahun. Ayahnya bingung mau membelikan dia hadiah apa, jadi minta saranku. Karena aku juga bingung, makanya aku minta saranmu…" terang Gin dengan wajah geli. Ia menjulurkan lidahnya, menggoda Rangiku yang kini terpaku dengan wajah merah padam. Gadis berseragam SMP itu langsung mengangkat tanganya dan…
Plakk!
"Uft…" terdengar wanita yang berdiri di belakang meja kasir itu menahan tawa setengah mati. Gin cuma meringis geli menahan rasa panas di pipinya akibat gamparan itu.
"A… aku sudah korban perasaan tau!" ucap Rangiku, "Ku… kukira… kukira Gin sudah punya pacar… jadi aku… aku…"
Gin menyeringai, "Aku menikmati wajah cemburumu… kau makin cantik…"
Mata rangiku berkaca-kaca. Beruntung yang menyaksikan semua itu hanyalah wanita di belakang meja kasir, yang sedari tadi nampak tak bisa menahan senyumnya. Lalu si wanita kasir mengulurkan dua lembar tisu baru kearah Rangiku
"Tisu Nona?" ucapnya ramah. Rangiku merengut seraya menyambar tisu itu. Ia mengelap air mata di sudut matanya…
"Gin jahat!" ucap Rangiku sengit. Selang sedetik, Rangiku membalikkan badanya dan berlari menerobos pintu keluar. Sekilas, ada air mata di pipinya…
"balada cinta anak muda…" lirih Gin dengan wajah apatis, "Toh besok kita pasti baikan lagi…"
Gin hanya mengangkat wajahnya dan memutuskan untuk menemui Aizen dulu dan kembali ke sekolah Rangiku besok saja… "Seorang Rangiku Matsumoto pasti akan cepat luluh di hadapan Ichimaru," pikir Gin narsis seraya melangkah keluar toko dengan wajah ah-nanti-juga-baik-baik-saja.
Gin merapatkan tubuhnya ke tubuh Aizen. Aizen hanya mengelus kepalanya dengan lembut. "Terimakasih banyak Gin sayang," ucap Aizen tulus.
"Sama-sama... "
"Nah, sekarang kita cari makan yuk?" ajak Aizen seraya membuka handle pintu mobilnya.
"Oke. Ah, ini kembalian uang yang tadi, Aizen-san," kata Gin. Ia meraba saku jaketnya dan mengulurkan uang di dalamnya.
"Ambillah. Untukmu semua. Kalau bisa kau juga belikan sesuatu untuk Rangiku-chan. Dia gadis yang benar-benar manis dan baik," kata Aizen sembari menyunggingkan senyum. Ucapnya seolah membuat Gin tak percaya. Matanya membuka sedikit, memastikan apakah pendengaranya tidak sedang mengerjainya. Tapi Aizen menanggapi ekspresi bodoh itu dengan senyum. Ehm, menurut Aizen, ekspresi Gin keren... haha...
"Serius?" kata Gin memastikan, "Ini banyak sekali Aizen-san!"
"haha... kenapa? Kau tidak suka? Itu uang halal. Bukan penjualan narkotik. Aku mendapatkanya ketika rekan bisnisku ketika kami menjalani multilevel-marketing..."
Gin meringis. Tanpa aba-aba Ia pun berbalik dan memasuki toko tadi dengan mantap. Diraihnya bantal yang diidam-idamkan Rangiku tadi. Dengan gesit Ia membawanya ke kasir dan meminta sang kasir membungkuskanya.
"Yang cantik! Bungkus yang cantik!" pinta Gin bersemangat. Sang kasir hanya terkikik geli, lalu segera menuruti keinginan pemuda aneh di hadapanya ini. Gin mengetuk-ngetuk meja kasir dengan jari-jarinya dan memasang wajah tidak sabar. Hanya selang lima menit, si wanita kasir tersenyum ceria dan mengulurkan sebuah bungkusan kado manis berwarna aquamarine.
"Kubungkus dengan kardus berbentuk segi enam. Identik kristal salju bukan? Ada pita warna bluesky yang mengimbangi warna aquamarinenya. Puas?" tanya si wanita kasir seraya tersenyum manja.
"Oke! Terimakasih!" sahut Gin dengan wajah cerah. Selesai dengan urusan itu, Ia kembali ke mobil Aizen. Nampak Aizen juga tersenyum senang.
"Duh, begini ya muka orang sedang jatuh cinta?" goda Aizen ketika Gin menyusupkan tubuhnya di jok depan.
"Haha... aku baru mau jadi santa claus cinta nih..." bisik Gin, "...Aku sayyyaaanngg sekali pada Rangiku!" celotehnya dengan wajah tanpa dosa. Mobil Aizen berjalan perlahan, merayapi jalanan beku di musim dingin.
"Cinta itu memang anugerah Tuhan yang paling indah," komentar Aizen. Gin meringis.
"Ya... ini akan menjadi whitecristmas yang paling kukenang~"
.
25 desember 1996. 12:00. Musim dingin
.
"Kyaaaa!" beberapa gadis SMP itu menjerit ketakutan ketika melihat seringai angker Gin ke arah mereka.
"Matsu-chaaann! Tolong kamiii!" jerit mereka lagi sembari berlari dan berebut mencari perlindungan di belakang seorang gadis cantik berambut pirang -Rangiku Matsumoto. Sementara sang pemilik nama -Rangiku- hanya berkacak pinggang sembari melotot galak.
"Mau apa kau Gin?" hardiknya kesal. "Jangan mengacaukan liburan kami!"
"Ah, tidak kok... Aku cuma ingin bicara padamu, Rangiku..." ucap Gin.
"Untuk apa? Hina-chan mu itu lagi ya?" balas Rangiku kesal. Ia langsung berbalik dan mengajak teman-temanya pergi.
"Huft… Ran-chan sayang marah…" goda Gin dengan nada seduktif yang membuat Rangiku blushing seketika.
"Sayang? Dia memanggil Matsu-chan 'sayang'? "
"Lho? Anak SMA ini pacarmu Matsu-chan?"
"Haha… ampuh sekali Matsu-chan sampai mendapatkan pacar seperti dia…"
Cnut! Muncul beberapa perempatan di dahi Rangiku ketika mendengar komentar sarkastis teman-teman gengnya. "Di a bu kan pa car ku !" ucap Rangiku kesal dengan nada penuh penekanan, tak lupa dengan backround aura kelam yang menguatkan kesan…ehm… seram.
"Ah, Ran-chan sayang~ Masa kau tidak mau mengakuinya siiihh~" Gin masih gigih merayu dengan tampangnya yang membuat orang lain berpikir 'jauh-jauh-sana-manusia-horror'. Rangiku hanya merengut gusar. Ia langsung menarik tangan Gin dan menyeretnya menjauh dari gerombolan teman-temanya.
"Apa maumu! Manusia mesum!" Rangiku menjerit nyaris menangis. Mata Gin meredup menatap sang gadis di hadapanya.
"…Aku tau ini kekanak-kanakan…" lirih Gin. Ia menarik bungkusan kado dari dalam tas hitamnya. Glek! Rangiku meneguk ludah seraya memasang wajah penuh Tanya.
"Gin…"
"Selamat natal. Santa clausnya kesiangan nih," bisik Gin. Rangiku merengut, tapi menahan senyum geli juga. Ia menatap Gin tajam.
"Menyuapku? Bilang saja mau minta maaf," sahut Rangiku.
"Ah, buat apa aku minta maaf padamu Rangiku! Aku tidak merasa bersalah tuh?" balas Gin.
Hening. Angin musim dingin berhembus perlahan, meniup helaian rambut mereka, membelai pipi mulus mereka, menerbitkan rasa dingin yang menusuk-nusuk.
"Kau jahat Gin," ucap Rangiku. Ah… nadanya gemetar… Gin tersenyum lembut. Ia meraba dasar tasnya dan menarik sebuah syal. Syal abu-abu yang diberi Aizen kemarin. Ia mendekati raga Rangiku dan mulai membelitkan syal itu di leher Rangiku.
"…"
Hening.
"…"
"Udaranya dingin ya? Tidak masalah kok kalau kau tidak mau menerima hadiahku…" bisik Gin seraya membetulkan letak syal itu. "Ran-chan tetap akan menjadi gadis yang paling kusayangi…"
Wajah Rangiku merona, semakin menguatkan kesan manis di wajah sempurnanya. Mereka berpandangan…
"A… aku tidak bilang kalau aku menolak hadiahnya lho!" Lirih Rangiku dengan wajah merah. Ia meraih kotak –ah, tepatnya segi enam- di tangan Gin perlahan. Gin langsung menyeringai bahagia. Ia membantu Rangiku memegang kado besar itu, sementara Rangiku menyobek kertasnya sedikit demi sedikit…
Kardus unik itupun dibuka… "HAH!" Rangiku nyaris menjerit melihat apa yang ada di dalam kotak itu. Bantal violet yang sangat Ia idamkan…
"G… Gin… ini kan…"
"Yeah~ kau suka bukan? Hadiah teristimewa untuk gadis paling istimewa,"
Senyum Rangiku mengembang seketika. Ia meraih secarik kertas yang berada diatas bantal cantik itu.
Teruntuk bidadariku, rangiku matsumoto
Ran-chan sayang, I Love You. Would You be My Love?
Dari : Yang mencintaimu –dan menyayangimu, Gin Ichimaru
"A… aku…" gagap Rangiku. Dengan kikuk Ia meraih bantal di dalam kardus itu. Harum… lembut… hangat… Ia memeluknya perlahan.
"Aku juga sayang Gin-kun," bisiknya malu-malu. Gin meringis senang dengan wajah merona. Tangan kurusnya menyentuh pundak Rangiku lembut. Ditariknya tubuh mungil yang seksi itu ke dalam pelukanya yang sangat hangat. Ada bantal lembut yang menyekat dada keduanya, menambah aura nyaman… nyaman sekali…
"Gin…" bisik Rangiku, "… Hangat sekali tubuhmu…"
"Aku tidak suka kalau kau menangis. Aku tak mau kau meneteskan air mata. Aku sayang padamu," balas Gin mesra seraya mengelus rambut pirang Rangiku. Jemari lentiknya tenggelam diantara helai-helai pirang itu… manis, lembut, dan nyaman. Rangiku mendongak sedikit agar bisa berhadapan dengan wajah tirus sang pujaan hati. Bibir ranum mereka bertemu, dan menyatu. Dalam kehangatan cinta tak terkatakan…
Ya. Aizen benar. Cinta itu anugerah Tuhan yang terindah… Indah sekali…
.
18 Februari 1997. 16:00. Musim semi
.
Helaian sakura bertebaran perlahan, terhembus angin. Gin tersenyum riang. Tangan kurusnya mesra menggandeng Rangiku. Ah… makin cantik saja gadis itu. Tahun ini dia masuk SMA. Tidak tanggung-tanggung, Rangiku peraih nilai terbaik dalam kelulusan tahun ini dan sanggup menembus SMA favorit tempat Gin bersekolah. Mereka berdua masih menyandang tas. Yah, mereka berdua memang tidak sedang kencan, tapi pulang les.
Rangiku pulang dari bimbingan bahasa Inggris, karena dia akan mewakili prefekturnya kompetisi menulis berbahasa Inggris bulan depan. Sedangkan Gin pulang les futsal. Haha, Aizen memasukanya di sebuah bimbingan olahraga terkenal di Karakura, karena Aizen kalah janji denganya…
"Kalau kau juara lomba bahasa Inggris tingkat SMA, maka aku akan memasukanmu di bimbingan olahraga terbaik kota ini! Pilih sendiri cabang olah raganya! Deal?" haha… dan Gin menang mutlak untuk lomba bahasa inggris tingkat SMA itu. Tepatnya juara 1 dan juara umum untuk speech contest. Jadi sekarang Ia menikmati kegiatan barunya, yaitu berolah raga. Dia hanya menyeringai senang kalau mengingat taruhan kecil itu…
Hah… kemesraan keduanya sungguh menyelipkan rasa iri di hati… Mereka biasa disebut golden couple…
"Gin… kau lapar? Aku bawa bekal. Makan disini yuk," ajak Rangiku ceria. Gin hanya mengiyakan. Mereka memilih sebuah tempat yang lumayan lapang di bahan kerimbunan sakura. Kelopak pink menghujani raga mereka berdua…
"Uhh… segarnya," desah Rangiku. Ia mengulurkan roti hangat pada Gin. "Enak. Aku yang buat sendiri," promosinya sambil meringis.
"Suapi dong…" manja Gin seraya tertawa riang. Rangiku memukul tangan Gin pelan. Ia merengut khas, berpura-pura marah pada sang kekasih… haha, lucunya mereka..
Gin merangkul Rangiku, menikmati potongan-potongan roti yang disuapkan Rangiku. Hangat, harum, lembut dan manis… Ah, kalau boleh Ia ingin dalam posisi seperti itu terus dengan Rangiku. Nyaman dan menyenangkan.
"Kak Gin! Kak Rangiku!" tiba-tiba suara nyaring menengahi kemesraan mereka. Gin menoleh. Seorang bocah SMP bermata sayu melambaikan tangan pada mereka.
"Kira!" seru Gin, "Kemari!"
Bocah SMP itu tersenyum manis. Rambutnya berwarna kuning pirang. Poninya menjuntai nyaris menenggelamkan matanya. Tampan dan lucu… Ia adalah Kira Izuru, sahabat terbaik Gin dan Rangiku.
"Mau makan? Enak!" kata Rangiku. Kira meringis, tak bisa menolak kelezatan makanan buatan Rangiku.
"Aku tidak mengganggu?" tanyanya polos.
"Tidak kok. Sini deh," seru Gin spontan seraya menarik tangan Kira dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Aww! Kakak~ jangan iseng ah!" jeritnya. Gin dan Rangiku tertawa ceria.
"Lucunya~" komentar Gin, merangkul pundak kurus Kira yang terbalut kaus hitam. Perlahan –tanpa rasa ragu, Gin mengecup puncak kepala Kira dengan lembut, menyesapi harum lembut rambut kuning anak ini…
"Manis," bisiknya seduktif, di telinga Kira, membuat si pirang ini langsung merinding. Uft… suaranya rendah dan… seksi…
"Gin, Kira, aku punya pertanyaan untuk kalian," kata Rangiku tiba-tiba seraya menutup kotak makananya. Mereka berdua menoleh.
"Apa Ran-chan sayang?"
"Umm… kalian punya agenda masa depan tidak?" Tanya Rangiku spontan. Nampak, Gin dan Kira saling pandang dan memasang wajah serius.
"Umm… punya!" jawab Kira, pertamakali.
"Apa?"
"Aku mau sekolah, dan setelah lulus aku mengincar universitas di luar negeri… setelah itu menikah dan hidup bahagia selama-lamanya…"
"Haha… cerita dongeng dong?" komentar Gin, "Harusnya kau memikirkan cita-cita mu juga… misalnya jadi ekonom, atau akuntan terkenal, hehe… kau kan pintar matematika!"
"Huh! Kalau Kak Gin punya agenda masa depan yang seperti apa?" Tanya Kira menantang.
"Umm… aku ingin menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja… dapat nilai tertinggi di sekolah, lulus SMA, dan kalau bisa aku ingin kuliah. Umur duapuluh-an –kalau bisa sih- ingin menikah dengan perempuan yang paling aku cintai, punya anak, penghasilan tetap dan hidup sehat dan rukun… " terang Gin. Rangiku langsung tertawa kecil.
"Hebat! Kalian visioner… ada harapan khusus lain tidak?"
"Aku!" seru Kira, "Aku ingin punya istri seorang dokter!"
Plaakk! "Ugh~" Kira langsung meringis ketika Gin menggampar pipinya..
"Ah, masih SMP sudah pesan istri seorang dokter…" keluh Gin seraya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi lucu.
"Huh! Kalau kak Gin…?"
"Aku…" Gin terdiam. Ia meredupkan matanya dan menatap langit perlahan. "Nggg…"
"…"
"Ingin menyelamatkan dunia ini dari bahaya narkotik…"
.
5 Juli 2003. 11:30. Musim panas.
.
Enam tahun berlalu… Kisah sang penulis muda berakhir sudah. Kelahiran anak Rangiku, kematian Aizen, kematian Hinamori… semuanya. Gin tersenyum riang di balkon rumahnya, bersama Kira. Ia bersandar di tralis, dan Kira duduk di sebuah bangku tua di depan Gin.
"A… aku suka… pada Isane," aku Kira blushing.
"skenario Tuhan benar-benar luar biasa. Kau bertemu Isane pada sebuah kecelakaan. Lalu kau mengantar Isane pulang dan bertemu Rangiku. Lalu kau mempertemukan Rangiku dengan Aku. Lalu aku bisa bertemu anakku," Gin terkikik seraya menyalakan rokoknya dan menyelipkanya di bibir. Ia hisap perlahan dan Ia hembuskan lagi, membentuk lingkaran-lingkaran asap yang manis di udara.
"I… iya… dan Isane bilang tahun depan Ia lulus SMA, lalu akan melanjutkan ke sekolah tinggi kedokteran. Aku suka itu. Aku ingin punya pendamping seorang dokter…"
"hah! Kau ini mikir itu terus!" balas Gin tersenyum lebar, "Lihat saja rencana Tuhan nanti…"
Tuk! Tuk! Percakapan mereka diinterupsi oleh suara ketukan pintu yang terdengar pelan. Gin menoleh ke arah pintu kaca di sebelah kananya. Pintu yang membatasi ruangan di lantai dua dengan balkon. Dilihatnya seorang anak perempuan kecil mengetuk-ngetuk pintu itu dengan sebuah pena. Gin tersenyum lagi.
"Yuki? Ibumu mana?" Tanya Kira kaget ketika melihat anak itu. Anak itu tak lain dan tak bukan adalah anak Gin dan Rangiku –yuki Ichimaru. Manis sekali. Rambutnya keperakan dan diikat satu kesamping. Matanya yang jernih terus mengawasi sang ayah yang berada di balkon.
"Kira, ayo masuk. Aku tidak mau mengajak Yuki ke balkon sini. Dia suka usil, aku takut dia jatuh," ucap Gin sambil menegakkan tubuhnya. Ia menggeser pintu pelan-pelan. Mata jernih Yuki terus mengawasi.
"Aih… Yuki manis sekali…" komentar Kira. Gin meringis geli seraya melempar sisa rokoknya di lantai. Ia lalu mengangkat tubuh mungil sang buah hati dan mengecup pipinya dengan gemas.
"Mana Ibu?" tanyanya. Yuki tidak menjawab. Ia tertunduk malu-malu. Kulit putihnya sedikit merona merah, menguatkan kesal imut di wajahnya yang cantik –mirip Ibunya. Gin menyeringai.
"Yuki manja sekali padaku," ucapnya pada Kira. Mereka berdua lalu berjalan ke lantai satu.
"Apa salah kalau Yuki manja pada ayahnya?" Tanya Kira heran.
"Tidak… hanya saja kadang-kadang aku merasa takut suatu saat dia membenciku. Aku ini mengedar narkotik, pecandu narkotik, aku pembunuh, dan aku pemerkosa… "
"Ssstt!" Kira berdesis tajam seraya memotong langkah Gin dan menaruh telunjuknya di bibir Gin.
"Bukan!" sangkalnya, "Kak Gin bukan itu! Kak Gin orang yang baik. Kakak melakukan semua itu karena dipaksa oleh keadaan Kak! Jauh di hati kakak, Kak Gin sama sekali tak menginginkan itu semua bukan?"
"…"
"Tuhan masih sayang pada Kak Gin," bisik Kira lagi. Gin hanya bungkam. Perlahan, Ia meraih leher Kira dan merengkuh tubuh laki-laki yang sudah beranjak dewasa itu. Gin mengecup kepala Kira, seperti yang biasa Ia lakukan padanya ketika masih SMA dulu.
"Benarkah?"
"Jangan bahas itu kak. Sekarang ini masa depan. Kakak tidak boleh melihat masa lalu yang kelam. Kakak sudah punya keluarga sekarang, kakak punya tanggung jawab yang besar…" lirih Kira. Gin tersenyum.
"Ayah sedang apa sih?" Tanya Yuki polos, menginterupsi.
Plosh! Wajah Kira langsung memerah.
"Uft… tidak… ini lho Yuki, ayahmu yang memeluk aku duluan!" kata Kira meringis. Gin hanya menggelengkan kepalanya dengan geli. Tepat pada saat itu, terdengar seruan Rangiku dari arah dapur yang mengatakan bahwa makan siang sudah siap.
"Makan yuk!" ajak Gin sambil merangkul Kira dan membawanya… ralat –menyeretnya ke ruang makan. Rangiku telah menunggu disana dengan wajah berbinar.
"Ibu! Ibu!" celoteh Yuki.
"Iya Yuki? Sini, sini sayang…"
Gin menurunkan Yuki dari gendongan dan membiarkanya berlari menghampiri sang Ibu. Jam di dinding berdetak perlahan, menyimponikan sebuah perjalanan waktu yang teramat panjang…
Dan sekarang ini –detik ini, hanya ada kebahagiaan. Karena Tuhan telah mengakhiri semua kisah derita yang dialami dirinya Gin dan Rangiku. Mengakhiri semuanya dalam muara sebuah bahagia. Seperti… seperti… surga. Surga yang telah Tuhan beri untuknya…
.
1
.
2
.
3
.
DEGGG!
Hilang. Sukma Gin yang tanpa raga itu seakan sirna, ditelah sebuah cahaya. Yang menyeretnya dan membawanya… pergi. Berakhir sudah. Gin telah menjelajahi waktunya di masa lalu. Atau lebih tepatnya menjelajahi 'surga yang telah Tuhan beri untukmu', seperti yang dijanjikan Hitsugaya.
"Semua yang kusaksikan adalah memori paling indah dalam pikiranku," lirih Gin pada dirinya sendiri, "Tak kusangka aku bisa melihatnya lagi.."
"Aku tidak ingkar kan Ichimaru?" ucap Hitsugaya yang telah berada di samping Gin –entah kapan datang, "Aku membawamu ke surga dunia yang sangat indah. Perlambangan kasih sayang Tuhan kepada hambaNya yang selalu mengharap kasih sayang dan ampunanNya. Tak peduli kau adalah manusia paling nista di muka bumi ini, jika Yang Kuasa menghendaki, maka Ia akan membawamu ke arah kebaikan. Benar kan yang aku katakan?"
"…" Gin terdiam dengan wajah sendu. Ada golak dahsyat di hatinya yang paling dalam. Sakit… perih… sedih.. senang…
"Hisugaya…" bisiknya, "A… aku ingin pulang… aku ingin bertemu dengan Rangiku dan Yuki… sungguh…"
"Tak akan semudah itu, Ichimaru. Kau dan aku sudah mati sekarang ini," lirih Hitsugaya.
"Tapi… setidaknya izinkan aku melihat mereka lagi…. Kumohon… kumohon…" kini ada cairan bening yang meluncur di sisi wajah Gin, tanpa mampu dibendung lagi. Ia jatuh berlutut, terisak pelan disana. Belantara salju serasa menelanya lagi… menelanya dalam rasa takut… rasa takut kehilangan kedua anugerah terbesar dalam hidupnya –anak dan istri.
"Tuhan, jika Engkau masih menyayangi aku, izinkanlah aku melihat mereka lagi, dengan kuasaMu… Aku mohon… sungguh aku memohon…" rintihnya.
.
Kenyataan tak terbantahkan
.
Kehendak Tuhan tak sanggup dipatahkan
.
Sekarang sukma ini bicara
.
Ada rasa takut bertahta
.
Ada rasa ragu berkuasa
.
Jika aku tak bisa lagi menemui mereka
.
Mereka yang aku cinta
.
…..
.
5 desember 2011. 09:30. Musim dingin
.
"Kapan Ayah akan dimakamkan Bu?" bisik Yuki parau. Rangiku hanya merangkul buah hatinya ini dengan sabar. Ia tersenyum kecut dan menjawab
"Setengah jam lagi. Kata dokter Ichigo pemeriksaan terakhir baru akan dilakukan,"
Yuki menenggelamkan wajahnya di pundak Rangiku, nampak berusaha keras menahan tangis yang mulai akan membuncah tanpa ampun. Jika saja tidak di hadapan Yuki, Rangiku pun juga sangat ingin menangis. Tapi jika Ia melakukanya, ini hanya akan menambah trauma bagi sang buah hati.
"Dulu… ayah orangnya baik ya Bu?" bisik Yuki, gemetar.
"Baik. Baik sekali…" balas Rangiku.
"Sebelum pemakaman Ayah.." lanjut Yuki, "Tolong Ibu ceritakan semua rahasia Ayah pada Yuki…"
"Eh?"
"Yuki tau… ibu membenci ayah…" kali ini Yuki tak sanggup menahan semuanya lagi. Ia terisak, mengingat kata-kata yang didapatnya di buku diary sang ibu…
"Yu… Yuki juga tau…" Yuki terbata, "… hari kelahiran Yuki jauh lebih awal daripada hari pernikahan kalian!"
Degg!
Rangiku terkejut setengah mati. Ia membelalakan matanya tanda tak percaya. Mus ta hil…. Bagaimana Yuki tau…? Rangiku tak bisa langsung menjawab detik itu. Ia merengkuh Yuki semakin dalam . Diciumnya dahi anaknya itu penuh kasih sayang… dan Ia mulai bercerita…
"Iya… Yuki lahir karena Ayah memperkosa Ibu. Sepuluh tahun yang lalu. Ayahmu adalah komplotan pengedar narkotik dan diketuai Sousuke Aizen. Ayahmu adalah korban dalam sebuah kejahatan besar yang mereka lakukan," Rangiku terdiam, nampak menahan ada getaran bersalah yang menjalari seluruh darahnya.
"Kelahiranmu bukan kecelakaan, juga bukan kesengajaan. Kau terlahir karena Ayahmu adalah laki-laki bejat yang putus asa. Ibu jadi korban berikutnya. Setelah kau lahir, Dokter Unohana lah yang merawatmu sampai kau berusia beberapa bulan. Setelah Ayah dan Ibu bertemu –secara tidak sengaja. Setelah itu, kami menikah,"
"…" Yuki terdiam. Rangiku juga. Yuki menghela nafasnya dan semakin merapatkan tubuh mungilnya ke tubuh sang bunda.
"Ibu sayang Yuki?" Tanya Yuki.
"Sayang. Sayang sekali. Setelah Ayah dan Ibu menikah, kami sangat bahagia. Kau adalah titipan Tuhan yang paling berharga bagi kami. Sungguh…"
Mendadak, terdengar suara langkah kaki mendekat. Rangiku mengangkat wajahnya dan mendapati tiga sosok yang dikenalnya –dokter Ichigo, dokter Isshin dan dokter Unohana. Ah… ada seseorang lagi di belakang mereka, dokter Isane, dan suaminya, Kira.
"Kalian…?"
"Kami turut berduka," bisik Kira. Ada air mata menggenang. Tentu, Kira adalah sahabat mereka yang paling dekat… sangat dekat…
"Kau bisa melihat jazad suamimu kalau kau mau. Sebentar lagi mobil jenazah akan mengambilnya," bisik Bu Unohana, perempuan yang sangat Rangiku sayangi. Perempuan yang merawat Yuki ketika Ia kecil dulu… Rangiku menegakkan kepala anaknya dan menyerahkanya pada Bu Unohana.
"Titip Yuki ya?" bisiknya.
Dingin. Begitu dingin. Rangiku melangkah ke ruang mayat dengan langkah gemetar… sangat gemetar… pertama, dilihatnya sosok yang terselubungi selimut putih bersih di salah satu dipan rumah sakit. Itu suaminya. Pria yang sangat Ia cintai.
Srek!
Deggg! Rangiku tersentak ketika selimut putih itu bergerak sedikit. Ah… mungkin ia salah lihat… mungkin halusinasi… mungkin ia salah kamar…
Srek!
Bergerak lagi. Mustahil… mustahil…Rangiku gemetar takut. Apakah… apakah…
"Ayahku masih hidup! Ayah masih hidup!" terngiang teriakan Yuki tadi… Ah! Benarkah?
"Gin! Gin! Bangun Gin!" seru Rangiku memanggil-manggil. Ia langsung merenggut selimut yang menyelubungi tubuh kurus sang suami…
"A… apa… yang kulakukan…?" bisik Rangiku pilu ketika yang didapatinya di bawah selimut putih itu adalah sosok Gin yang tak bergerak. Tanpa nafas. Tanpa detak jantung. Tanpa aliran darah. Dingin dan pucat… ada luka besar di dadanya, tepat di kardiaknya. Bekas tembakan… tembakan keji…
"Beristirahatlah dalam damai," lirih Rangiku masih dengan nada pilu. Sangat pilu… tanganya bergerak menarik selimut tadi, menutup tubuh Gin lagi. Lalu, ia berbalik. Sesal, sedih…
"…"
"Ran-chan sayang…?"
Degg!
Rangiku berbalik spontan. Mustahil! MUSTAHIL! Ah… mata sipit itu menatap Rangiku dengan tatapan yang… menyejukkan. Senyum itu… senyum itu…
"Gin…"
"…"
"kau masih… hidup…?"
deg… deg… deg… suara detak jantung Gin… terdengar… jelas…
….
TBC
.
Your smile
.
Shining the dark of night
.
A guiding light
.
Blaze of this hope
.
Shine down upon tomorrow
….
R
E
V
I
E
W
…..
(Kejadian di belakang layar, antara aktor (Gin) dan sutradara (Silver) Gak usah dibaca juga gak papa. Gak penting! )
.
Silver : Horror apaan neh! *ngebanting flashdisk tanpa ampun*
Gekko (ada yang tau ini paraan macam apa? Gak tau? Ya udah, gak usah nyari tau! Selingan aja…) : Gekko… stress majikan saya… =="
Silver : Diem Gekk! Aaahhh! Saiia gak rela Gin mati! Gak rela gak rela gak rela!
Gin : Mana ada lagu 'gak-rela-gak-rela' ! Yang ada 'Demi cinta~ Aku rela~~'
Silver : saiia benci denger dangdut =="… *ngambil hape buat ngontak ahli THT*
Gin : *ngeliat draft* ancur banget Sil…
Silver : Udah bagus lo dihidupin! Kalo gak mikir bini lo jadi janda, lo tu bakal gue ancurin yang seancur-ancurnya tauk!
Gin : * natap Silver dengan tatapan 'gak-bakat-ngibul-lo!' * Salah satu manusia MUNA di dunia ini pemirsa! Dia tadi bilang gak rela saiia mati, sekarang niat mau ngancurin saiia =_="
Silver : *swtdr*
Gin : *swtdr kuadrat*
Silver : *swtrd pangkat tiga*
Gin : *swtrd pangkat empat*
Silver : *cnut!* ngapain lo FOX? Perang sweatdrop?
Gin : *swtrd pangkat lima*
Silver : *Stress*
Rangiku : Biarlah kedua makhluk ini, pemirsa. Mari kita tutup saja acara pe`ak ini… daripada anda sekalian ketularan stress… akhir kata, wassalamu`alaikum we er we be. Terimakasih…
Yuki : Reviewnya please~
