Sampe juga di final chap. Chapter penentuan suatu fic ^ ^ Maaf aneh dan sekali lagi maaf gajhe. Ditambah apdetnya molor sehari dari deadline yang kiky tentukan sendiri HAHAHA. Maklum minggu kemaren kiky lagi gak enak badan. Apalagi kemaren hari imlek, kiky sibuk makan kue keranjang XD Tapi sayang, gak ada mochi =( Tak perlu banyak kata, mari kita baca Melody from The Haunted Castle: End Melody!! Hohoho... *disirem aer keras*
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Pairing: ada yah?
Warning: AU, shonen-ai aja lah yaw, OC, OOC, don't like don't read!
~~ooO0Ooo~~
'Makamkan kami dengan layak...'
xxXXxx
Melody from The Haunted Castle
Melody 7: End of Melody
xxXXxx
"Kalian...siapa?", tanya Sasuke kemudian setelah lama terdiam.
"Kami pelayan Tuan Naruto. Sakura dan Hinata. Jadi Tuan, sediakah kiranya Anda menolong kami?", kata Hinata sopan dengan mata berkaca-kaca.
Mereka berdiri berhadapan. Tiga hantu menatap Sasuke penuh harap. Mereka ingin pergi dari dunia ini. Tenang dalam kedamaian yang abadi. Dan Sasuke telah berjanji pada Naruto. Walau bagaimana pun ia tidak punya alasan untuk mengingkari janji itu.
Sasuke menatap mereka sayu. Malam akan terasa hampa tanpa kehadiran Naruto. Ia akan benar-benar kesepian disini. Tak ada lagi lagu-lagu yang mengiringinya melewati tengah malam. Pertemuan mereka memang singkat. Namun, mengapa ketika ia mulai merasa terbiasa dengan Naruto, ia harus pergi?
Angin kembali berputar mengelilingi Sasuke. Kini semakin kencang. Membungkus tubuh Sasuke dalam pusaran angin hitam. Ketika angin benar-benar berhenti, tampak Sasuke masih berdiri disana. Sasuke dengan sosok berbeda. Sasuke dengan mata merah dan sorot teduh. Seperti bukan dia. Setidaknya Naruto sadar siapa ini. Sosok orang yang sangat ia sayangi selama ini.
"Shu-su-ke," lirih Naruto terbata-bata. Shusuke tersenyum tipis ke arah Naruto, Sakura, dan Hinata. Benar, tubuh Sasuke sedang berada di bawah perintah Shusuke sekarang.
"Dia cucu kakakku. Kami mirip, ya?", kelakar Shusuke sembari berjalan mendekat. "Aku harap kita bisa berjumpa lagi suatu hari nanti. Tapi aku tak berharap seperti ini...," Shusuke berhenti sejenak. "...semoga selalu ada ikatan diantara kita," lanjut Shusuke. Membuat air mata Naruto kembali menetes. Selama ini...itukah yang ia harapkan.
"Lalu, mengapa kau siksa aku begini?", Naruto tak bisa untuk tak menanyakannya pada Shusuke. Ia sangat membutuhkan jawaban darinya.
"Maafkan aku Naruto. Mungkin kau menganggapku tidak tahu diri. Tapi ingatlah, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Karena aku menyayangimu," jelas Shusuke tenang. Sakura dan Hinata mendekati tuan mereka. Berusaha menenangkan.
Naruto terus menangis. Air matanya seakan tak mau berhenti mengalir. Ia menangisi nasib buruknya. Tidak pernah menyangka hidup bahagianya berakhir tragis begini. "Aku juga selalu berharap bisa bertemu denganmu lagi. Karena aku juga menyayangimu. Ketika aku melihat Sasuke, aku akan selalu merasa seperti melihatmu juga," Shusuke kembali tersenyum pada Naruto. Kemudian meraih tangan Naruto. Menggenggamnya erat, seolah tak mau kehilangan.
Naruto mendongak. Menatap dalam mata Shusuke. Sejenak mereka saling bertatapan. Mencoba melepas kerinduan setelah sekian lama terpisah dalam bentangan jarak yang tak mampu manusia manapun jangkau.
"Selamanya, kita bersama."
*****
Rembulan bersinar remang. Angin semilir menulusup masuk melalui jendela yang terbuka. Ranting-ranting pohon bergesekan menimbulkan bunyi gemerisik. Di dalam kamar Sasuke lah mereka berada sekarang. Naruto menarik lepas roh Shusuke yang bersemayam dalam tubuh Sasuke, meninggalkan raga lemah Sasuke terkulai, bersandar pada pinggiran ranjang. Piano berdenting sekali. Naruto memeluk Shusuke. Membenamkan wajahnya ke dada orang tersayangnya itu. Perlahan mereka terangkat naik. Masih sambil berpelukan roh mereka melayang semakin tinggi dan berputar pelan. Meninggalkan keping-keping cahaya sekecil debu turun. Begitupula dengan Sakura dan Hinata. Keberadaan mereka semakin memudar. Menghilang seiring dengan berakhirnya lantunan melodi.
Mata Sasuke sedikit terbuka. Ia terus memperhatikan bagaimana mereka menghilang. Air menetes dari sudut matanya. Besok ia harus melaksanakan upacara pemakaman bagi Naruto, Shusuke, Sakura, dan Hinata. "Dobe...," lirih Sasuke sebelum kembali memejamkan mata. Lagu berhenti mengalun. Menyisakan kesunyian di dalam ruang kamar Sasuke. 'Setelah kau pergi, akankah kau kembali lagi?'
Pagi menjelang. Mentari tak lagi bersinar terang. Tertutup awan kelabu. Beberapa ketukan dari luar pintu segera membangunkan Sasuke dari tidur tanpa mimpinya. Dengan malas ia membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya. Membiarkan sinar redup mentari menyambut kedua bola matanya. Ia melirik ke arah piano tua Naruto. Kemudian tersenyum tipis melihat piano itu.
"Apakah Tuan sudah bangun?", tanya pelayan Sasuke dari balik pintu.
"Yah...", sahut Sasuke seraya beranjak dari lantai. Menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Air dingin mengalir melewati tubuhnya. Terasa menusuk sampai ke tulang. Tanpa sadar air mata ikut menetes dari mata Sasuke. Ia tak tahu bagaimana bisa. Apakah ia sedang sedih? Setetes lagi air mata jatuh. Benar, ia sedang sedih. Tapi kenapa? Karena hari ini ia akan menepati janjinya pada Naruto.
Sasuke keluar dari kamar mandi. Lengkap dengan busana berwarna hitam kelam. Ia berjalan melewati pintu kamar. Melintas di depan pelayan-pelayannya. Pelayan Sasuke saling bertatap-tatapan bingung. Memang tuan mereka akan menghadiri upacara pemakaman siapa? Tidak ada berita duka apapun dari kerabat maupun keluarga. "Tu-tuan, akan menghadiri upacara pemakaman siapa?", tanya salah seorang pelayan. Sasuke menoleh ke belakang. Menatap datar para pelayan seperti biasa. "Kita akan memakamkan penghuni rumah yang sebelumnya. Ada empat mayat yang tersimpan disini. Temukan lalu makamkan mereka," ujar Sasuke pada pelayan-pelayannya. Mereka menelan ludah ngeri. Ini pertama kalinya mereka berurusan dengan mayat. Sasuke kembali menghadap depan. Berjalan lurus mengisyaratkan para pelayan untuk mengikuti.
Singkat cerita Sasuke membawa mereka ke tempat pertama. Ruang bawah tanah tempat penghormatan terakhir anggota keluarga Namikaze. Tempat rangka Naruto dan Shusuke bersemayam. Kemudian menuju toilet di lantai 3 menara barat kastil Namikaze. Toilet itu selalu terkunci semenjak pertama kali Sasuke pindah kemari. Begitu pintu didobrak, tampak dua kerangka manusia terbaring di lantai toilet. Pakaian maid kedua mayat tadi compang-camping tidak karuan.
Pada hari itu juga Sasuke mengadakan upacara pemakaman bagi keempat jenazah tersebut. Sembari menebarkan kelopak-kelopak bunga mawar merah di atas pusara Naruto, Shusuke, Sakura, dan Hinata ia berdoa, "Semoga kalian tenang di sisi-Nya." Semoga selalu ada ikatan diantara kalian. Makam mereka saling berdekatan. Sebab Sasuke tahu, Shusuke tak mau berpisah dari Naruto. Begitupula dengan Sakura dan Hinata. Mereka pasti tak mau jauh dari majikan tempat mereka mengabdi seumur hidup.
13 tahun kemudian...
Waktu terus berjalan tanpa mampu dihentikan. Setelah upacara pemakaman keempat penghuni Kastil Namikaze 13 tahun lalu, Sasuke kembali menjalani kehidupannya seperti yang seharusnya. Belajar memimpin cabang perusahaan raksasa Uchiha Corp. Rupanya waktu jua yang mengantarkan Sasuke menuju kedewasaan. Kini ia telah menjadi seorang pebisnis muda yang handal dan berbakat. Bermetamorfosis menjadi seorang pria dewasa yang tampan dan penuh tanggung jawab –juga cerdas.
Meski begitu ia tetap tak pernah bisa melupakan pertemuannya dengan sesosok hantu bernama Naruto 13 tahun lalu. Ia pikir Naruto pasti sudah tenang disana. Bertemu kembali dengan ayah, ibu, Shusuke, dan pelayan-pelayannya. Semenjak kepergian Naruto, Sasuke selalu merasa kesepian. Tapi dia tahu, itulah yang terbaik bagi Naruto. Apalagi setelah kejadian itu butlernya yang dulu kembali bekerja untuk Sasuke. Orang yang dulu mengasuhnya kembali lagi.
"Sasuke-sama, hari ini ada pelayan baru yang akan mulai bekerja mengurus kastil ini," lapor butler Sasuke.
"Begitu? Siapa namanya?", tanya Sasuke sambil menyesap morning tea di ruang makan.
"Namanya..."
Ting...ting...ting... suara piano lebih dulu memotong kata-kata sang butler. Sasuke hampir saja tersedak ketika mendengar lagu yang dimainkan. 'Naruto...' Sasuke buru-buru menaruh cangkir tehnya di atas meja. Kemudian berlari menuju kamarnya di lantai dua. Hanya ada satu bayangan dalam otaknya kala itu. Naruto tengah memainkan piano. Sosok itulah yang saat ini sangat ingin ia lihat.
Sampai di depan pintu kamar dengan terengah-engah Sasuke membuka pintu. Ia tercekat kaget ketika mendapati seorang anak berusia sekitar 12 tahun berambut pirang jabrik duduk memainkan piano. Jari-jari mungilnya dengan piawai menari lincah di atas tuts-tuts piano. Sasuke tambah terkejut melihat mata anak itu. Biru laut. Bumi seolah berhenti berotasi. Sasuke berdiri mematung di ambang pintu. Tak mampu mengatakan sepatah katapun.
"Hei, pelayan baru! Beraninya kau masuk ke dalam kamar Sasuke-sama tanpa izin!", bentak butler Sasuke. Namun seolah tak peduli, Sasuke malah berjalan mendekati anak tadi. Mata Sasuke basah banjir air mata. Setelah sampai di tempat si anak, tanpa ragu Sasuke langsung memeluknya. Menangis tanpa suara di pundak kecil anak itu.
"Na-ru-to," bisik Sasuke lirih. Anak itu tak berkata-kata. Ia justru balik memeluk Sasuke. Angin lembut bertiup mengelilingi mereka. Waktu seakan berhenti berjalan. Yang terdengar hanyalah gema lullaby diikuti rentetan acak memori Sasuke yang berjalan melompat-lompat.
Semoga selalu ada ikatan diantara kita...
The End
~~ooO0Ooo~~
Gitu aja?? Ya ampun!! Entah mengapa kiky ngerasa heran sendiri waktu baca lagi fic ini.... mana pendek banget T^T tapi yah, di satu sisi juga kiky merasa fic ini memang harus diakhiri sampai disini. Mau pada protes ampe jungkir balik pun gak akan kiky terusin lagi *digaplok massal* Lagipula masih ada beberapa fic multy-chapter kiky yang terkatung-katung gara-gara lama gak di apdet dan emang gak jelas mo dilanjut apa kagak. Let's say, The Sacred Flute & Menunggu Hujan season2 yang belum juga digarap lanjutannya. Sementara kiky sendiri mau bermigrasi ke fandom -Man XP Hoho... maap, maap! Btw, sedongkol apapun Anda dengan author nggak lazim ini –yang gaje, so'ing, & so'im- mohon dengan sangat kesediaan Anda untuk me-review!!! Akhir kata, matta ne... Sayonara~
