Chapter 7
Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto
Gaahina
Romance
Story pure for Jhino
Happy reading
AN: sebelum itu saya mau membahas review temen2 sebentar sebelum kalian membacanya.. agar tidak salah paham hehehe..
Guest: aku ga tau ini yang komen satu orang atau dua orang tapi aku jadikan satu aj karena kesamaan nama. sebelumnya aku terima kasih sekali sudah mereview cerita ini. guest bilang ceritanya membosankan, nanti usahain critanya lebih seru kok ^_^, aku gak janji men, soalnya susah buat cerita krn asli dri pikiranku. Judulnya di ganti 'butuh kehangatan'? oh men,kl dignti kan g sesuai dgn jln critanya. tp kl kmu yg bikin crita dgn judul itu aq baca n aq review dgn sopan kok,janji ^_^. trus ttg jumlah review di cerita ini, jujur aj sbnrnya aq bikin cerita itu untuk mengeluarkan ide asliq dlm bntuk narasi krn slma ini aq slalu nyalurin dlm gambar. jd aq g maslah dgn jumlah review sedikt ato bnyk. bhkan klpun dlm cerita ini cm 1 aj yg review aku gpp tetep aq terusin smp tamat, krn itu g bs dipaksain temanq. aq lbih senang mrka membaca dr pd mereview dgn kt kasar tak membangun sm sekali. tp sekali lgi terima kasih sudah membaca dan mereview cerita ini, dan maaf bgt bila mungkin crita ini tidak sesuai dgn kalian. thanks guest ^_^.
Virgo Shaka Mia: oh uri cingu (teman baikku) makasih udah baca dan review mulai dr awal hingga chapter 6. gomawoyo..hehehehe... masalah rate nya itu sbnernya dah aq tulis di chap 6 yaitu semi M krn hanya di bagian itu saja,tp krn demi uri chingu aq rubah alhasil nnt ceritanya kedepan bakal ada penambahan,but g ada perubhan kok. masih kecil?kamu lucu bgt deh hehehe padhal km bis bikin cerita M hehehe..but aq terima kasih bagt miachan atas sarannya membantu bgt kok. ^_^.
Riya-Hime: thanks bgt riya chan..udah baca bhkan review hehehe... em ttg OOC, karena untuk mendukung jalan cerita ini tapi g OOC bgt kok typonya udah aku perbaiki tp dichap ini dan masih salah lgi kykna hehehehe.. ini aku dah panjangin bgt ceritanya riya chan. thanks a lot ^_^
DrunKenMist99: naruhina ato gaahina? jawabannya...baca terus cerita ini..nnti bakal tau..thanks alot.
ok aq sudah membalas review kalian...arrigato n gomawo ^_^.. happy reading..
Tiga hari semenjak Gaara menjadi pengawal Hinata, semenjak itu pula dia selalu menahan rasa sakit baik fisik maupun batinnya. Karena ulah Hinata yang selalu pergi seenaknya sendiri tanpa memikirkan keselamatannya, Gaara dan dua temannya sedikit kelimpungan menjaganya. Tak sedikit luka gores dan lebam yang menghiasi wajah dan tubuh mereka karena harus menhajar para peneror dan penjahat yang ingin melukai putri Hiashi. Terlebih Gaara terpaksa harus melihat Hinata dan Naruto bermesraan yang membuat hatinya terasa perih. Namun dia hanya bisa diam dan menahannya. Seperti halnya hari ini, dimana mereka mengantarkan Hinata ke kampus.
"Nona Hyuuga Hinata, tolong anda pakai alat pelacak ini." kata Gaara memberikan alat pelacak kecil ketika Hinata hendak membuka pintu sedan mewah itu.
"Aku tak mau." balas Hinata singkat.
"Tapi anda harus memakainya nona. Apa anda tak ingat, anda sering di teror, hampir diperkosa, bahkan hampir dibunuh. Apa Anda ingin itu semua terwujud?" sindir Gaara halus dan sopan, tanpa menoleh ke belakang tempat duduk Hinata..
"Kau!" geram Hinata.
"Anda pasti tidak mau membuat keluarga anda khawatir bukan? jadi saya mohon nona pakai alat ini untuk membantu kami melindungi anda nona." jelas Gaara sambil menyodorkan kembali alat pelacaknya.
Hinata sangat kesal pada Gaara tapi dia juga membenarkan perkataan pria itu. Di lihatnya wajah pria itu, terdapat luka memar dan lebam akibat pukulan penjahat-penjahat yang semakin hari kekuatannya meningkat. Hinata berkata dalam hati, ada terbesit rasa bersalah karena membuat wajah pria tampan itu sedikit ternoda. Oh, tunggu dulu, apa aku tadi bilang dia tampan? jangan-jangan aku mulai menyukainya?oh tidak! jangan sampai aku menyukai pria tua ini! bagaimanapun juga aku sebentar lagi akan bertunangan dengan Naruto-kun.
Hinata mengeleng-gelengkan kepala.
"Nona Hyuuga Hinata... apa anda baik-baik saja?" tanya Gaara lembut namun tetap datar. Hinata terkesiap dan mukanya sedikit merah. Di ambilnya alat pelacak mungil itu dengan kasar lalu keluar dari mobil.
Gaara menghela nafas sambil melihat punggung gadis itu menjauh.
Perpustakaan kampus Konoha
"Hai Sasori-san..." sapa Sakura berjalan menghampiri pria yang sedang asyik membaca buku tentang managemen keuangan.
Sasori langsung menghentikan kegiatan membacanya dan menoleh ke sumber suara. Senyumnya mengembang ketika melihat sakura datang menghampirinya.
"Hai juga Sakura." balas Sasori dengan lembut dan tentunya dengan senyum manisnya.
"Astaga!" seru Sakura karena terkejut sedangkan Sasori hanya mengeryitkan keningnya. "Kenapa mukamu lebam begini?" lanjut Sakura sambil meraba wajah Sasori.
Wajah Sasori memanas dan kikuk karena perlakuan lembut Sakura. "Ehm... ya karena aku dan teman-temanku harus melindungi nona Hinata dari penjahat yang akhir-akhir ini sering menyerangnya." jawab Sasori.
Mendengar jawaban dari pria dihadapannya membuat Sakura berubah menjadi sendu. "Pasti sakit. Lihat wajah tampanmu jadi ternoda. Hm, aku akan menasehati Hinata supaya dia bersikap lebih dewasa."
"Aku tak apa-apa Sakura, ini memang tugasku. Kau pun tau itu? aku seorang prajurit serta pengawal. Aku harus melindunginya." Sasori berusaha menghibur Sakura tapi malah gadis itu terisak perlahan.
"Hei, kenapa menangis Sakura? ada apa?" Sasori kebingungan melihat Sakura menangis.
"Aku...aku takut Sasori-san kenapa-kenapa..." suara Sakura yang parau membuat dia kesusahan berbicara.
Sasori mengusap air mata Sakura. " Justru aku akan lebih sakit lagi kalau gadis pujaanku menangis. Lebih baik aku di pukul hingga babak belur dari pada aku melihat kau menangis, Sakura."
"Gadis pujaan?maksudmu aku?" tanya Sakura polos.
"Ya, gadis pujaanku yang bernama Haruno Sakura." jawab Sasori dengan senyum lembutnya.
Cup!
Sasori terbelalak ketika Sakura mengecup bibirnya. Sementara Sakura tersipu malu karena tanpa sadar mencium bibir Sasori.
Di lain tempat
Seorang pria berambut raven sedang asyik mendengarkan lagu kesukaannya. Bersandar di bangku taman sambil memejamkan mata sebentar. Lelah menghinggapi tubuhnya karena harus extra menjaga putri Hiashi sang presiden bersama Gaara dan Sasori. Setidaknya dengan begini dia bisa mengistirahatkan badannya walau sejenak sambil menunggu Hinata datang ke kampus.
Puk!
Sebuah tepukan halus di bahu membuat Sasuke membuka kelopak mata dengan cepat.
"Hei, apa aku mengganggumu Sasuke?" wajah Ino begitu dekat dengan wajahnya membuat sang pemilik rambut raven itu merona tipis di ke dua pipinya.
"Sasuke.." panggil Ino namun Sasuke tak begeming, mungkin lebih tepatnya mematung. Bagaimana tidak, dia baru saja di bangunkan oleh gadis yang sangat cantik, gadis yang selalu menghiasi majalah sampul yang di belinya.
Lain halnya Ino yang kebingungan karena Sasuke mematung. Apalagi dia melihat pria dihadapannya babak belur di wajah tampannya. diletakkannya salah tangan di pipi Sasuke yang lebam lalu di usapnya lembut. Sasuke langsung tersadar karena rasa sakit di pipinya dan meringis kesakitan.
"Oh maaf Sasuke. Sakit sekali ya." Ino menurunkan tangannya dari pipi Sasuke namun di cegah oleh pemilik pipi itu.
"Jangan dilepaskan. Aku mohon." pinta Sasuke meski datar namun tatapan matanya yang hangat itu membuat hati Ino berdegup kencang.
"Kau habis berkelahi?" tanya ino lembut sambil mengusap pipi Sasuke berharap mungkin dengan cara ini rasa sakit dipipi Sasuke sedikit hilang.
"Hn." jawab Sasuke singkat sambil memejamkan matanya. Merasakan sapuan jari lentik mungil nan halus di pipinya..membuatnya ketagihan.
"Apa sudah baikan Sasuke?" tanya Ino lagi.
Sasuke membuka kelopak matanya dan berkata, " ya, malah sangat baik."
Ino tersenyum mendengarnya. "Syukurlah..aku senang mendengarnya."
Jantung Sasuke berdegup tak karuan melihat senyum Ino yang sangat indah.
"Itu karena kau Ino. Kau penyembuh untuk sakitku." Ino terbelalak mendengarnya.
"Mak-maksudmu ap-apa ?" Ino tergagap karena jantungnya bedegup kencang.
"aishiteru Ino. jadi malaikat hatiku." meski Sasuke sangat datar namun Ino tau pria dihadapannya berkata tulus.
.
.
.
.class room
Seorang perempuan berambut indigo sedang duduk malas di kelas menunggu dosennya datang. Diliriknya jam tangan salah satu merk terkenal melingkah indah di pergelangan tang kanannya. "Tiga puluh menit lagi. Kemana Sakura dan Ino?" gumamnya lirih.
"Hinata selamat pagi.." sapa Sakura dengan muka berseri-seri.
"Pagi juga Sakura. Aku kira kau tak masuk kelas. Ino mana?" tanya Hinata lembut.
"Tadi dia bilang ke Taman sebentar sebelum masuk kelas." jswab Sakura sambil duduk di sebelah Hinata.
"Oh begitu. Eh Sakura sepertinya kau sedang senang hari ini." kata Hinata sambil menghadap ke Sakura.
Sakura tersipu malu karena Hinata mengetahui suasana hatinya. " Aku sekarang sudah mempunyai kekasih, Hinata."
"Benarkah? wah selamat Sakura. Eh siapa kekasihmu itu? kenalkan padaku dong." tanya Hinata panasaran.
"Kau mengenalnya Hinata. Kekasihku itu Sasori." jawab Sakura dengan senyum manisnya.
"Eh?Sasori? pengawalku itu? aku Kira kekasihmu si pengusaha sukses yang mendekatimu itu." celetuk Hinata.
Sakura memutar bola matanya malas. " Maksudmu Ronald? aku tak mungkin mau menjadi kekasihnya. Dia terkenal playboy. Lagipula Sasori juga anak dari designer terkenal di dunia, Mrs Akasuna, dan ayahnya juga salah satu orang penting di kemeliteran kau pasti tak tau nama lengkap kekasihku itu Hinata. dia itu Akasuna Sasori." jelas Sakura.
Hinata melongo mendengarnya. "Maaf Sakura aku kira anak buah Gaara hanya anak dari orang biasa aja."
"Kau berubah semenjak berpacaran dengan Naruto. Kau sekarang lebih mementingkan strata sosial, Hinata. Mungkin juga kami tak akan menjadi sahabatmu kalau kami tidak menjadi model." ketus Ino yang sudah berdiri di depan pintu kelas.
"Tak akan Ino. Kalian sahabatku." seru Hinata.
"Kalau begitu dukung kami dong berpecaran dengan pilihan kami, Hinata." balas Ino.
"Kau juga sudah punya kekasih Ino? dengan siapa?"tanya Sakura penasaran.
" Uchiha Sasuke." jawab Ino dengan wajah memerah.
"Uchiha? pemilik Uchiha Hospital itu ya Ino? wah selamat ya." kata Hinata
"Iya Hinata. Bagaimana kau tau?" tanya Ino heran
"Istri Uchina Itachi yaitu Itachi Hana adalah dokter pribadiku, Ino. Semua keluarga nya dokter namun hanya Sasuke saja yang menjadi prajurit dan sekarang menjadi pengawalku." terang Hinata.
"Kau benar Hinata. Tapi aku jadi kawatir tadi muka Sasu-kun memar, ketika aku tanya jawabannya karena berkelahi." kata Ino.
Hinata hendak berbicara namun kedahuluan Sakura. " Itu karena melindungi Hinata, Ino.." Ino terbelalak mendengar ucapan Sakura sedangkan Hinata tertunduk lesu.
"Hinata, sebaiknya kau jangan terlalu dingin dan jahat pada Gaara dan kawan-kawannya. Apa kau tidak kasihan dengan mereka? bersikaplah dewasa Hinata. Kemana Hinata dulu yang lembut, pemalu dan penyayabg itu? kau berubah semenjak putus dengan Gaara. Dia juga selama ini menghormatimu dan melindungi Hinata. Dia bahkan sama sekali tak punya rasa dendam padamu meski kau mencampakannya." wajah Hinata berubah menjadi sedih. Rasa bersalahnya semakin besar.
"Hm, kali ini aku setuju dengan Sakura. Bersikap baiklah dengan mereka terutama Gaara. Paling tidak dengan sikap baikmu itu bisa membalas kebaikan mereka." Tambah Ino sambil menggenggam erat tangan Hinata.
Hinata menghela nafas. "Aku memang sudah keterlaluan kepada mereka. Terutama pada Gaara. Dia juga berubah menjadi dingin dan kaku karena aku. Aku memang salah. Bahkan aku juga sempat berfikir segitu kejamnya aku padanya dan salutnya dia masih peduli padaku dan melindungiku. Hm, betul kata kalian, aku harus bersikap baik dengan mereka. Ketika makan siang aku akan minta maaf pada gaara dulu."
"Nah itu baru Sahabat kami." jawab Sakura dan Ino serentak membuat ketiganya tertawa bahagia dan berpelukan.
.
.
.
.
Kantin Kampus
Hanabi menikmati makanannya dengan ditemani Sai yang sedang asyik membaca buku kecil yang selalu ia bawa.
"Sai,kau tak makan siang? aku traktir ya, Sai." tanya Hanabi setelah menelan makanannya.
"Terima kasih Nona. Nanti setelah anda masuk ke dalam kelas lagi. lagi pula saya sudah membawa bekal." jawab Sai dengan sopan dan senyumnya yang selaku membuat Hanabi meleleh.
Hanabi menyudahi makannya dan menaruh sumpitnya. "Sai, ehm aku baru tau kalau seorang pengawal itu suka tersenyum manis."
Say menghentikan membacanya dan menetap Hanabi dengan lembut. " Karena saya ingin anda nyaman dengan saya, nona. Itu salah satu prioritas saya setelah menjaga dan melindungi anda."
"Oh begitu.." Hanabi menjadi kikuk mendengar ucapan pria dihadapannya itu.
Tiba-tiba sesosok laki-laki muncul di hadapan mereka.
"Oh, jadi pria ini pacar barumu. Cih, seperti Jisan saja. Apa kau tak bisa cari yang lebih baik dari aku, Hanabi?" ejek lelaki itu.
Hanabi kesal mendengarnya sedangkan wajah Say berubah menjadi datar.
"Bukan urusanmu, Konohamaru! asal kau tau saja dia selalu ada disampingku, menjagaku dan melindungiku. Tidak seperti kau yang sibuk tebar pesona pada gadis lain. Ayo Sai-kun kita makan eskrim." Hanabi langsung menarik Sai yang masih terdiam.
Kedai Eskrim
Hanabi menopang dagunya tanpa sadar eskrim miliknya yang dari tadi di aduknya mencair bahkan mengotori meja dan jarinya. Say hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum melihatnya.
"Pelayan kami pesan eskrim coklat lagi untuk nona ini." pinta Sai dengan ramah.
"Eh, untuk apa Sai?" Hanabi kaget Sai memesan coklat untuknya, tapi sesaat dia tersadar bahwa eskrimnya mencair.
Sai mengambil pergelangan tangan Hanabi kemudian dia membersihkan jari-jari lentik Hanabi yang terkena eskrim.
"Nah sudah bersih nona." kata Sai. Hanabi hanya bisa mengangguk dan tersipu malu.
Tak lama kemudian eskrim pesanannya telah datang.
"Nona sekarang silahkan makan eskrimnya. Mungkin dengan begitu hati nona bisa tenang." jelas Sai sambil menyodorkan eskrim coklat itu ke Hanabi.
Mereka memakan eskrimnya dalam keheningan. Namun Hati Hanabi mulai tenang kembali karena Sai.
"Gomenne Sai, sudah melibatkanmu dalam masalahku." kata Hanabi setelah selese menghabiskan eskrimnya.
Sai tersenyum mendengarnya. "Suatu kehormatan bila terlibat dalam masalah nona Hanabi. Jadi saya rasa Nona Hanabi tak perlu meminta maaf."
"Kok suatu kehormatan Sai?" tanya Hanabi heran.
"Ya suatu kehormatan menjadi kekasih anda meski itu hanya untuk membuat lelaki tersebut sakit hati. Dan saya suka anda memanggil saya dengan 'sai-kun'." jelas Sai.
"Kalau begitu mulai sekarang aku panggil Sai-kun saja ya." kata Hanabi dengan riang.
"Dengan senang hati tuan putri." balas Sai.
"Ah kau ini aku hanya gadis biasa pada umumnya, Sai-kun." kata Hanabi tak mau kalah.
"Nona salah. Bagiku nona berbeda dengan gadis lain. Nona sangat cantik terutama jika tersenyum dan bersemangat. Nona juga selalu baik pada kami padahal kami hanya pengawal keluarga nona." Hanabi tak bisa berkata apa-apa ketika mendengar kata Sai.
"Wajah nona kenapa kok merah?" tanya Sai polos.
Hanabi menggelengkan kepala dan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ehm, apa Sai-kun pernah jatuh cinta?"
Sai berpikir sejenak kemudian berkata, "Tidak pernah, tapi sekarang saya sedang jatuh cinta pada pandangan pertama, nona."
Hanabi terkejut,ada rasa sesak di dada. Entah apa itu. rasanya seperti dia mengetahui Konohamaru dekat dengan gadis lain. apakah dia cemburu? bagaiman bisa?
"Siapa gadis itu sai-kun?" tanya Hanabi hati-hati.
Sai tersenyum dan bernafas sejenak lalu berkata " Nama Gadis itu Ha..."
BRUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAK!
Ucapan Sai terhenti ketika mereka mendengar suara benturan yang sangat keras. secara reflek mereka langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Mereka langsung mematung melihatnya. Sebuah mobil yang menabrak sosok yang mereka sayangi.
Di tempat lain sebelum peristiwa terjadi.
Gaara menikmati bekal makan siangnya yang dibuat oleh Sasori di dalam mobil. Bekal makanan yang lumayan besar karena nafsu makannya besar. Sambil mengawasi orang-orang lalu lalang.
Ketika Gaara hendak memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya tiba-tiba seorang perempuan memanggilnya. Dengan cepat dia menoleh ke sumber suara itu dan ternyata yang memanggilnya ada Hinata. dalam hati ia berkata, 'tumben dia memanggilku dengan senyum bahkan melambaikan tangannya. Hm, sebaiknya aku membalas menyapanya dari pada dia marah lagi.'
Gaara keluar dari mobil lalu membungkuk sebentar memberikan hormat pada Hinata. Sedangkan Hinata berjalan dengan langkah riang menyeberangi jalan menghampiri Gaara.
Ketika Hinata menghampiri Gaara, tiba-tiba dia melihat sebuah melaju kencang ke arah Hinata. Gaara langsung berlari secepat mungkin ke arah Hinata agar Hinata mundur dipinggir jalan tapi sayang Hinata mengabaikannya. Akhirnya dia berlari sambil berteriak "HINATA AWAS MOBIL!"
Mendengar triakan Gaara, dia mematung sehingga dia..
BRUUUUUUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAK!
Hinata Inside
Aku melihat Gaara sedang makan bekal siangnya dengan lahap. Aku tersenyum melihatnya. aku pun memanggil namanya "Gaaraaaa-kun.." panggilku sambil melambaikan tanganku. Dia menoleh padaku dengan wajah yang belepotan. Lucu sekali dia, rasanya ingin aku hapus sisa makanan di wajahnya. Bahkan ketika dia keluar dari mobil dia lupa membersihkannya dan lebih membungkuk hormat padaku.
Aku tersenyum miris melihat, mantan kekasihku masih menghormatiku padahal begitu banyak rasa sakit yang kuberikan padanya.
Akupun menghampirinya namun langkahku ketika Gaara berlari dan berteriak padaku dengan wajah kaludnya. Ada apa dengannya? tiba-tiba aku mendengar mobil melaju kencang namun aku tak tau harus bagaimana, hingga Gaara sampai di depanku dan..
BRUUUUUUUUUUUUUUUAAAAAK!
"Aauuuww.." pekikku lirih..pantatku mencium trotoar pinggir jalan. Eh! tunggu aku selamat, lalu bunyi benturan keras tadi apa. aku lihat sosok pria tergeletak di aspal. aku panik dan berteriak "Gaaaaaaraaaa!"
Hinata inside end
TBC
