Place for Departing My Heart
disclaimer: udah pada tau kan
Chapter 7: Redemption
Pagi buta saat matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya, embun turun dan kabut kembali ke atas, aku melangkahkan kakiku tidak tentu arah.
Aku berbalik untuk terakhir kalinya, memandang kota yang kupikir bisa menjadi tempatku melabuhkan hatiku tapi karena kecerobohanku, harapan untuk bisa selamanya ada di sini lenyap sudah, di kota ini tidak boleh ada pembunuh.
"Walau singkat...ureshii katta yo[1]..."
Setelah puas memandangi kota itu, aku berbalik untuk meninggalkannya. Sesuatu yang sebenarnya sulit bagiku.
Aku duduk di kedai dango dan menikmati teh hijau hangat dan beberapa camilan, tidak sengaja tanganku merogoh kantong kimonoku dan kutemukan sebungkus permen susu yang pernah Ojou-sama berikan padaku.
"Soujiro-tenken?"
Suara itu mengagetkanku, terlebih dia memanggilku dengan panggilanku semasa masih bergabung dengan Shishio-sama.
Aku menoleh untuk mencari sumber suara tapi penjagaanku mengendur saat melihat siapa yang memanggilku dan aku refleks tersenyum.
"Maa...Himura-san?"
Dalam sekejap kami duduk berhadapan. Dia tengah menikmati tehnya dan di sampingnya terdapat ember berisi tahu sementara sakabatou tergeletak di sisi satunya lagi.
"Belanja?," Tanyaku.
"Begitulah, Kaoru memintaku untuk membeli tahu..."
"Begitu, Himura-san kelihatannya bahagia sekali...," Aku tersenyum tapi padanganku tidak ke arahnya melainkan ke arah permen susu yang terus kuputar-putar di tanganku.
"Eh? Soujiro-tenken?"
"Jangan panggil saya begitu lagi, saya bukan lagi Soujiro-tenken..."
"Kalau begitu Soujiro-san...apa yang menyebabkanmu terlihat sedih?"
"Eh?"
"Ketika bertarung melawanmu waktu itu, kau terlihat marah dan bingung tapi sekarang, walau kau tersenyum...aku bisa melihat kau sedang sedih..."
"Sassuga[2]...kau memang ahli pedang yang hebat...," Aku tersenyum tapi perlahan senyumanku meredup.
"Kau punya masalah? Kalau kau tidak berkeberatan aku bisa mendengarkanmu..."
"Arigatou-na[3]...tapi...kurasa masalah ini ingin kupecahkan sendiri..."
"Begitu...," Dia menyeruput tehnya. "Apa...kau sudah menemukan 'tempatmu'?"
"Ah? Mada...mada...[4]," Aku tersenyum tapi tanpa kusadari air mataku menetes.
"Soujiro-san?"
"Ara...ara...saya malu sekali...maaf...maafkan saya...ato sukoshi[5]...nanti juga berhenti..."
Aku menyeka air mataku tapi bukannya berhenti, air mata itu malah semakin deras mengalir.
"Gomennasai...ato sukoshi..."
Aku terbangun di sebuah kamar, tubuhku di selimuti oleh selimut yang hangat. Koko doko
?[6]
Sayup-sayup dari luar kamar aku bisa mendengar suara-suara, aah...bagaimana bisa aku lupa suara Himura-san? Apa dia yang membawaku? Apa ini dojo Kamiyakasshin?
"...lihat koran terbitan hari ini, pembunuhan massal di kota sebelah...apa dia ada hubungannya?"
"Mungkin saja, mengingat dia mudah sekali mencabut nyawa orang..."
"Kalian...sudahlah, Soujiro-san sudah berjanji tidak akan membunuh orang lagi, mungkin saja itu ulah perampok..."
"Saksi satu-satunya sangat syok sehingga tidak bisa ditanyai macam-macam...," Apa mereka bicara mengenai Ojou-sama?
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku sudah sangat berdosa pada kakek, nenek, tuan dan Ojou-sama. Akulah yang membuat Ojou-sama sampai seperti itu.
Terdengar pintu geser kamar dibuka, aku menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Himura-san..."
"Kau sudah sadar? Di warung dango tadi, kau tiba-tiba pingsan...kata dokter kau lelah dan stress..."
"Maaf merepotkanmu..."
"Tidak apa-apa...," Kami terdiam.
"Anu...Himura-san...soal koran itu..."
"Itu kau?"
"Mmh...saya sudah melanggar sumpah saya sendiri untuk tidak lagi membunuh, mungkin saya bodoh karena terlalu terikat dengan masa lalu yang sudah lama saya buang tapi...saya tidak bisa tahan lagi...satu-satunya kehormatan saya..."
"Apa kau menyesal?," Serobotnya.
"Eh?"
"Apa kau menyesal melakukannya?," Dia tersenyum.
"Mmm...saat ini saya benar-benar menyesal..."
"Itu bagus, tapi bukannya aku membenarkan apa yang kau lakukan...hanya saja, kalau kau menyesal dan kau masih hidup, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya kan?," Dia memegang tanganku dan membaliknya, sehingga telapak tanganku ada di atas.
Dia merogoh kantong kimononya dan meletakkan sesuatu di atas telapak tanganku.
"Permen susu ini..."
"Perbaikilah dan ambillah kembali apa yang sudah kau rusakkan...aku yakin kali ini kau pasti bisa..."
"Kau yakin kau mau pergi dan tidak mau tinggal dulu di sini?," Tanya Kaoru-san.
"Tidak, terima kasih sudah merawat saya...," Aku membungkuk.
"Bukan...bukan masalah..."
Aku menatap wanita yang rambutnya selalu dikuncir kuda itu, di bibirku terlukis senyuman dan dia balas menatapku dengan tatapan heran.
"Himura-san beruntung sekali ya..."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Kaoru-san orangnya sangat baik, pasti bisa menjaga Himura-san...dan Himura-san pasti senang sekali bersama wanita sebaik Kaoru-san..."
"Ha...aah...kau bisa saja!!," Dia memegangi kedua pipinya.
"Saya tidak bercanda...saya bisa melihat bahwa Kaoru-san yang sedikit banyak merubah Himura-san...," Aku tersenyum.
"Soujiro-san..."
"Nah, saya harus pergi, sampaikan salam saya pada Himura-san saat dia pulang nanti...," Aku kembali membungkuk.
"I...iya selamat jalan, kalau berkenan...nanti mampir lagi ya..."
"Terima kasih..."
Aku berjalan menjauhi dojo Kamiyakasshin, langkah kaki yang tadinya tidak tentu sekarang berubah memiliki tujuan.
Kubuka telapak tanganku dan kupandangi permen susu dalam genggaman tanganku. Kapanpun bisa kuperbaiki kalau aku menyesal-ya...kau benar Himura-san tapi sekarang yang menjadi pertanyaanku 'bisakah mereka menerimaku kembali?'
Seharusnya aku tidak perlu khawatir jika aku memasuki kota karena tidak ada yang menyaksikanku membunuh semua orang itu kecuali Ojou-sama tapi entah kenapa kakiku tidak mau menurutiku untuk masuk ke dalam kota.
"Aku...harus bisa!!"
Jantungku berdebar begitu menapaki deretan toko-toko yang kukenal tapi syukurlah tidak ada yang berteriak atau menjauh, semuanya berjalan seperti biasa.
Sekarang aku kembali memandang padang hijau milik kakek dan nenek yang ada di depan rumah. Rumah sederhana itu begitu sepi seperti tidak ada penghuninya, apakah ada orang di rumah atau kakek kembali bekerja di rumah Ojou-sama?
Aku mengetuk pintu setelah sebelumnya sempat meragu beberapa kali. Keberanian yang terkumpul tidak kusia-siakan dan aku sudah menyiapkan diri menerima konsekuensi dari reaksi yang akan mereka berikan.
Pintu terbuka dan kulihat wajah yang penuh keriput milik kakek. Matanya terbelalak begitu melihatku.
"Kau..."
"Maaf kek, saya pergi tidak bilang-bilang..."
Kakek melongokkan badannya dan melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian dengan tangan keriput yang kurus miliknya, dia menarikku masuk ke dalam.
"A...ada apa kek?"
"Anak bodoh!! Kemana saja kau?!"
"Ma...maaf...saya..."
"Beberapa hari ini ada orang yang mencarimu, dia utusan dari rumah Ojou-sama...sebenarnya ada apa? Kakek sampai cemas..."
"Saya...sudah membunuh..."
"HAH?!"
Nenek keluar dari dalam saat mendengar jeritan kakek, tapi wajahnya berubah cerah saat melihatku dan tidak tunggu lama, dia duduk di sebelah kakek.
"Pembunuhan...banyak orang...saya sudah membunuh...orang-orang...yang menculik Ojou-sama...bukan maksud saya tapi..."
Kakek dan nenek saling pandang melihatku yang tiba-tiba tampak labil dan mengeluarkan keringat dingin saat berusaha menceritakan semua yang sudah kulakukan.
"Jadi...kau yang...membantai 30 orang, termasuk Juuppongatana itu?"
Aku mengangguk pertanyaan kakek, sekalian berusaha menenangkan diriku.
"Kau bersama siapa? Apa ada orang lain?"
"Saya...sendirian..."
Mereka tampak terkejut setengah mati melihatku, mungkin mereka sekarang menyesal sudah mengangkat monster pembunuh menjadi cucu mereka-orang yang membantai 30 orang sendirian tanpa terluka sedikitpun.
"Soujiro..."
"Saya janji tidak akan melakukannya lagi...saya...saya senang di sini...saya...ingin di sini!!," Aku bersujud di depan mereka, memohon.
"Soujiro dengar kami..."
"Saya mohon, tidak ada orang yang bisa menerima orang asing seperti saya menjadi cucu sendiri...karena itu izinkan saya melayani Anda seumur hidup!!," Sekarang air mataku menetes membasahi tatami, aku benar-benar takut kehilangan kedua orang baik itu.
Tangan lembut nenek menyentuh pundakku. Aku mendongakkan wajah dan melihat mereka tersenyum.
"Walau apapun yang kau lakukan, kau tetap cucu kami..."
Mataku terbelalak mendengar perkataan kedua orang itu dan tanpa terkendali air mataku mengalir deras seperti air terjun.
"Terima kasih..."
Aku terbangun dengan perasaan yang benar-benar baik, aku benar-benar bersyukur aku kembali ke sini .
Semalam aku menjelaskan semuanya pada kakek dan nenek, tentang dari mana aku bisa melakukan hal mengerikan itu sendirian dan siapa aku sebenarnya. Awalnya mereka terkejut tapi mereka memaklumi apa yang kujalani dan mereka berkata akan mendukung usahaku untuk berubah.
Himura-san kurasa aku sudah menemukan 'tempat'-ku. Bersama kakek dan nenek baik hati inilah akhirnya aku mendapatkan tempat yang menghangatkan hatiku.
"Pagi...kakek...tidak ke rumah Tuan?"
"Oh, kau sudah bangun Soujiro?," Kakek sedang sibuk memasukkan pupuk kandang ke dalam keranjang untuk di bawa ke ladang.
"Kakek sudah berhenti dari rumah itu dan sekarang lebih memilih merawat kebun...," Jelas nenek.
"Tapi...bukankah kebun tidak cukup untuk menghidupi kalian?"
"Karena itulah, sedikit demi sedikit uang yang kakek kumpulkan, kakek simpan dan..."
"Dan?"
"Ayo ikut kakek...," Dia menuntunku beberapa meter dari rumah dan kutemukan rumah yang hanya memiliki tembok kayu separuh.
"Apa ini?," Tanyaku bersamaan dengan terbukanya pintu.
"Ini kandang sapi, kakek membeli beberapa ekor dan dari sini kita bisa mendapat penghasilan tambahan dari pemerahan susu..."
"Hebat sekali..."
"Nah, Soujiro...sekarang kalau kau mau, kau bisa bertanggung jawab mengurusi kandang ini dan memerah susu-nya..."
"Mmm...saya mau, tapi kalau kakek meninggalkan rumah Tuan, Ojou-sama bagaimana?"
"Mungkin ada orang lain yang menggantikan kakek...Soujiro...apa kau mau kembali ke sana?," Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan kakek.
"Walau saya ingin ke sana...saya sudah tidak bisa lagi kesana...," Aku tersenyum hambar.
[1] Tapi aku senang sekali…
[2] Sudah kuduga…
[3] Terima kasih…
[4] Belum…belum…
[5] Sebentar lagi…
[6] Dimana ini?
A/N: maaf atas bahasa jepang yang separo-separo dan makasih karena masih mau baca fic ini terutama yang meninggalkan jejak berupa review *nangis bombay*
posting bareng sama fic ginran sama hetalia huff sehari 3 fic...akh makalah magang...tidaaak!!!! *ditimpuk karena nggak jelas*
