Satu, Dua, Tiga

By Saber 'Arthuria' Pendragon

Disclaimer: Yana Toboso for Kuroshitsuji

Genre: Hurt/Comfort

Warnings: OOC Maybe, Typo(s), AU

-/-

7. That Butler, Comforting His Master

Ternyata, Grey menyerang mereka berdua tadi karena mereka pikir Sebastian dan Ciel adalah orang lain yang menggunakan tanah Phantomhive dengan ilegal. Tentunya pria itu segera menyerang mereka karena kelakuan mereka yang cukup lancang, namun ia juga sempat meminta maaf meski dipaksa oleh Phipps (bahkan Grey tidak tahu yang mana Ciel).

Para pelayan ratu telah pergi dari manor, meninggalkan sisa hancurnya meja dan kursi yang berantakan. Sebastian juga cukup bersyukur karena ia tidak sempat membunuh pria berambut putih panjang itu tadi, karena meski tangannya begitu gatal ingin memisahkan bagian kepala Grey dengan tubuhnya, mereka bertiga adalah pelayan ratu, dan keluarga Ciel merupakan keluarga bangsawan bawahan sang ratu. Hal itu akan berdampak buruk bagi bocah ini, dan dirinya, tentunya.

Ciel masih gemetaran, meski ketiga pelayan itu telah pergi. Ia juga tidak bisa meninggalkan bocah ini sendirian, maka ia menunggu sebentar agar bocah itu kembali tenang, namun ia juga tidak kembali tenang.

"Bocchan."

"Y-ya?"

"Maaf jika saya lancang, tapi," ia melirik ke arah Ciel, "Saya perlu meninggalkan anda sebentar untuk membereskan kekacauan yang Grey-san buat tadi. Apakah saya perlu mengantar anda ke kamar anda?"

Ciel menggeleng kuat, "Tidak, tidak. Aku... Mau disini saja."

"Baiklah. Silahkan duduk di bangku itu selagi saya membereskannya."

Setelah Sebastian mendudukkan Ciel di kursi, ia segera menggulung melepas jaket hitamnya dan menggantungkannya di kursi yang Ciel duduki, lalu ia menggulung lengan bajunya dan mulai bekerja. Ciel menaikkan kakinya ke kursi dan memeluk lututnya, sedangkan matanya mengamati gerak-gerik Sebastian seperti menonton sebuah penampilan teater. Pria- iblis di depannya ini menyapu dengan rajinnya serta memasang wajah datar, entah itu karena kesal atau hanya tidak ingin memasang ekspresi lainnya. Di tangan kecilnya, Ciel memegangi dengan erat surat yang telah diberikan John tadi, namun ia belum mau membacanya. Serangan Grey masih membayang di pikirannya. Jika saja Sebastian tidak ada-

"Bocchan."

Ciel kembali fokus kepada Sebastian yang tengah menyapu serpihan kaca dan keramik. Terkadang butler setianya itu selalu memanggilnya ke realitas jika ia melamun.

"Kenapa jadi lesu begitu?" Sebastian terkekeh, ia kembali fokus ke pekerjaannya, "Padahal tadi anda begitu bersemangat untuk berkuda," lanjutnya lagi. Ciel hanya diam- lebih tepatnya, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Sebastian.

Pria berambut hitam pekat itu mendesah pelan, "Setelah saya membersihkan ini, saya akan mempersiapkan air hangat untuk mandi anda dan saya pikir lebih baik makan malam kali ini saya hidangkan di kamar tidur anda," ia tersenyum, "Karena kali ini anda menunjukkan perkembangan yang bagus."

Ciel hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

Sebastian mengeratkan sarung tangannya, dan ia kembali bekerja- namun gerakannya cukup cepat. Ciel sempat terpana karena Sebastian dengan cepat membersihkan hasil kerja Grey dan membuat tempat itu bersih. Setelah selesai, Sebastian terlihat cukup puas, "Nah. Selagi saya menyiapkan air hangat untuk anda, anda istirahat dulu di kamar. Apakah anda bisa kesana sendiri?"

"Umh," Ciel bangkit dari kursinya, "Tentu aku bisa. Tapi-"

"Saya usahakan cepat," lanjut Sebastian.

Ciel mengangguk lagi. Ia segera berjalan cepat ke dalam manor dan Sebastian segera melanjutkan pekerjaannya.

Setelah Sebastian menyiapkan air hangat untuk Ciel dan menyiapkan bahan-bahan makanan untuk nanti malam di dapur, ia segera pergi ke kamar sang bocah untuk mengantarnya ke kamar mandi. Seperti yang ia duga, sesampainya ia disana ia bisa melihat bocah itu masih termenung sendiri dan terlihat begitu terkejut ketika Sebastian membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, "Ah, maafkan saya. Air hangatnya sudah siap."

Bahkan ketika Sebastian memandikannya, bocah itu masih diam dan memeluk lututnya. Ia masih terlihat begitu sedih dan ketakutan. Meski itu tidak begitu terlihat untuk manusia, di matanya, tuan muda kecilnya gemetaran. Sepertinya, setelah mengetahui bahwa ada orang yang ingin menyakitinya waktu itu dan ditambah dengan serangan Grey, Ciel semakin terpukul. Masalahnya, Sebastian bukanlah manusia, dan belum pernah bahkan tidak akan pernah menjadi seorang ayah ataupun kakak. Ia tidak tahu cara menangani kondisi sang bocah. Ia bisa saja meninggalkannya karena bocah ini tidak memiliki tujuan yang jelas akan dendamnya. Namun, ia merasa sesuatu yang aneh ketika ia memikirkan hal itu.

Astaga.

Apa ia tidak tega meninggalkan bocah ini?

Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin ia merasakan hal seperti itu. Ia iblis, bukan manusia.

Bahkan saat ia telah memakaikan baju sang tuan muda dan mengantarnya ke kamarnya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah ia tinggalkan saja dia disini dan fokus terhadap makan malam sang bocah, atau tetap disini dan mengabaikan makan malamnya? Sebastian mulai merasa kesal. Tidak biasanya ia seperti ini.

Ciel sempat melihat ekspresi Sebastian yang berubah, "Sebastian, jika kau ingin membuat makan malam, pergilah," ia tersenyum, "Nanti kan kau akan kembali lagi."

Ah.

Benar juga.

Ini pertama kalinya ia mengutuk diri sendiri karena ia tidak memikirkan hal itu.

"Baiklah, saya akan menyiapkan makan malam anda, bocchan."

Ketika ia sudah membungkuk hormat dan keluar dari kamar sang bocah, ia sempat menoleh ke belakang lagi, namun ia menggeleng kepalanya dan berjalan ke dapur. Selagi berjalan ia sempat berpikir lagi. Apa yang harus ia buat untuk Ciel? Apakah ia lebih baik membuat kue-kue untuk snack jika ia tidak bisa tidur nanti?

Langkahnya terhenti.

'Berhenti memikirkan hal itu,' batinnya. Agar tuannya tidak menunggu lama, ia segera bekerja dan membuat makan malam Ciel.

-/-

Sebastian kali ini mengetuk pintu Ciel.

"Ini saya, Sebastian. Saya membawa makan malam anda."

Respon Ciel agak lambat, Sebastian pikir bocah itu melamun lagi, "Masuklah."

Ia membuka pintu itu perlahan, dan mendorong troli makanannya kedalam. Ia bisa melihat Ciel tertarik mencium bau harumnya makanan, dan ia segera mendorong trolinya di sebelah tempat tidur Ciel. "Anda bisa kedinginan, bocchan," komentarnya sembari menutupi tubuhnya dengan selimut tambahan di tubuhnya. Ciel masih diam, dan Sebastian cukup khawatir.

"Aku... Tidak begitu lapar," respon Ciel akhirnya.

Sebastian mendesah pelan, "Saya tidak begitu yakin dengan anda."

"Tapi-"

Suasana menjadi hening ketika perut Ciel menyuarakan opininya. Ciel menunduk, berusaha menutupi pipinya yang memerah akibat malu.

Sebastian tertawa, "Saya akan menyuapi anda, dan mau atau tidak anda harus makan."

Bocah itu menurut, "Tahu apa kau menyuapi orang, Sebastian?"

"Jika seorang bocah tidak mau makan, itu artinya dia ingin disuapi, bukan?"

Ciel ingin protes, namun ia kembali menutup mulutnya. Ia tidak bisa menyangkal Sebastian dalam hal itu. Namun ketika ia kembali mengamati ekspresi sang butler, ia bisa melihat bahwa Sebastian yang sudah duduk di pinggir tempat tidurnya tengah bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini- meski ia sedari tadi memasang wajah datar.

Sebastian memang pernah melihat seorang wanita yang memanjakan anaknya ketika ia sakit, namun ia tidak begitu lihai dalam memanjakan manusia- ia tidak pernah melakukan ini sejak ia memijakkan kakinya di dunia ini. Ia sadar benar bahwa Ciel mengamatinya, dan bocah itu memang cukup pintar dalam usianya. Ia pasti juga memikirkan hal yang sama dengan dirinya.

"Buburnya sedikit demi sedikit, ya," Ciel berujar, "Dan jangan terlalu panas. Hembus perlahan."

Ia mengangguk mengerti, dan menyendok buburnya seperti yang Ciel minta, lalu menghembusnya agar lebih dingin. Setelah ia merasa cukup, ia segera menyuapi Ciel yang segera membuka mulutnya. Ketika ia mengunyah makanannya, Ciel hanya diam dan menutup matanya. Buburnya tidak terlalu panas dan Ciel menelan makanannya. Tanpa terasa, semangkuk bubur yang ia siapkan telah habis tanpa sisa. Sebastian tersenyum, "Berhubung hari ini anda mengalami pengalaman yang cukup berat, sebaiknya anda tidur cepat hari ini. Surat dari sang ratu bisa anda baca esok hari, setelah anda sarapan pagi."

Ciel melap bibirnya dengan sapu tangan yang diberikan Sebastian tadi, "Aku belum bisa tidur, Sebastian."

"Ah, benarkah?"

Lalu ia kembali diam. Di pikirannya sekarang, Sebastian tengah berpikir keras untuk apa yang harus ia lakukan terhadap bocah kecil di hadapannya ini.

"Jika kau tidak keberatan," Ciel kembali menunda pikiran Sebastian, "Bisakah kau bacakan cerita sebelum tidur untukku? Ibu sering melakukan hal itu."

Sebastian mengangguk setuju, "Baiklah. Namun saya tidak tahu banyak cerita untuk anda," ia bangkit dari posisinya dan merapikan troli makanannya. Ia meninggalkan nampan berisikan snack ringan di meja tempat tidur Ciel serta teko teh dan cangkirnya.

"Cerita apa saja yang kau tahu?"

"Hmm," Sebastian mengetuk dagunya, "Cerita tentang seorang manusia yang mati terbunuh, mati karena ia dikira seorang penyihir, sekarat karena siksaan-"

Ciel mengibas-kibaskan tangannya, "Sudah, sudah. Di perpustakaan ada beberapa buku cerita, mungkin kau bisa mengambil salah satunya dan kembali kemari."

Sebastian mengangguk mengerti.

Tidak cukup lama Ciel menunggu sang butler, karena beberapa menit kemudian ia mendengar ketukan pintu dan suara yang meminta izin untuk masuk, dan Sebastian masuk dengan beberapa buku di tangannya. Ciel menatapnya skeptis, "Eh, bukankah kau bisa membawa salah satunya?"

"Saya tidak tahu cerita yang mana yang pas untuk anda."

Ciel menghela nafasnya, "Baiklah. Berikan padaku."

Sebastian segera duduk di pinggir tempat tidur ketika Ciel memberikan tanda untuk duduk di sebelahnya. Ciel mengecek judul-judul buku yang dibawa Sebastian, dan matanya menyipit. Sang pelayan benar-benar membawa buku yang benar-benar membosankan. Semuanya berhubungan dengan sejarah, dan ia juga tidak membawa apapun yang bagus untuk anak-anak.

"... Buku ini membosankan."

"Memangnya bocah seperti anda menyukai apa?"

Ciel tahu bahwa Sebastian sudah cukup kesal karena apa yang dilakukannya salah semua, dan Ciel sebenarnya cukup memaklumi iblis tersebut. Mungkin sifat ayahnya menurun ke dirinya, dimana ia cukup sabar untuk anak seumurannya, "Sesuatu yang menarik dan menyenangkan. Semua yang kau bawa sangat membosankan, Sebastian," ucapnya sembari tertawa, "Buku-buku ini lebih cocok untuk orang dewasa."

Ciel menahan ekspresi wajahnya Sebastian mulai memperlihatkan kekesalan di wajahnya.

Sebastian menghela nafasnya, "Baiklah, biar saya-"

"Sepertinya ini akan berlangsung lama," komentar Ciel langsung, "Aku juga yakin kau tidak suka berlama-lama mondar-mandir dari perpustakaan kemari. Meski kau bisa dengan secepat kilat mengambil semua buku dari sana..."

Sang bocah kecil kemudian berpikir sejenak, mengistirahatkan dagunya dengan kedua tangannya dan memiringkan kepalanya, beberapa kali melirik Sebastian dari ekor matanya. Sebenarnya ia cukup penasaran dengan latar belakang hidup pelayan iblisnya tersebut, meski kata 'hidup' tidak begitu pas dengan dirinya. Sebenarnya, apa yang membuat sang iblis ingin membuat kontrak dengan dirinya? Pasti jiwa manusia lain lebih lezat darinya (Ciel menganggap bahwa jiwa miliknya tidak begitu enak karena dia masih terlalu muda), dan ia hanyalah bocah ingusan manja yang berdarah bangsawan.

Sementara itu, Sebastian menyadari dengan jelas bahwa tuan mudanya tengah melirik-lirik tidak jelas, dan sang iblis merasa tidak nyaman dengan tebakannya akan apa yang dipikirkan bocah tersebut saat ini, "Apa ada yang ingin anda katakan, bocchan?"

"Oh? Oh," Ciel sedikit gelagapan, lalu menoleh ke arah Sebastian. Bibirnya terbuka, tertutup, seakan ragu untuk berbicara. Melihat ekspresi Sebastian yang meyakinkan bahwa ia tidak akan marah (entah kenapa Ciel masih berpikir bahwa Sebastian akan marah pada hal-hal kecil yang dipikirkannya), ia mulai berbicara, "Aku... Penasaran. Ya, penasaran."

"Tentang?"

"Tentangmu."

"...?" Sebastian memiringkan kepalanya keheranan. Apa yang membuat sang bocah penasaran? "Tentang apa, jika saya boleh bertanya?"

Ciel terdiam sejenak, "Hmm, tentang kehidupan lamamu. Uh, bagaimana mengatakannya? Sebelum bertemu denganku, kau tahu? Membuat kontrak, semacamnya."

"Ah, begitu," Sebastian mengangguk kecil, "Saya sudah hidup cukup lama. Mungkin sebelum manusia pertama muncul. Terlalu banyak manusia yang membuat kontrak dan biasanya, keinginan mereka hampir sama semua."

"Seperti?"

"Membalaskan dendam, sama halnya seperti keinginan anda, bocchan."

"... Terdengar membosankan."

Sebastian terkekeh, "Berarti keinginan anda juga membosankan."

Ciel merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, memasang wajah cemberut, "Yasudah. Sana pergi kalau begitu."

"Oh, anda marah?" ujar Sebastian dengan nada bercanda. Ciel hanya membalikkan tubuhnya, memunggungi Sebastian, "Tapi, dibandingkan dengan anda, rentang waktu kontrak yang saya lakukan dengan mereka lebih pendek. Permintaan pembalasan dendam mereka sangat mudah."

"Bukannya itu lebih bagus? Kau bisa dengan cepat memakan jiwanya."

"Jiwa manusia akan lebih lezat jika diberi bumbu dan dibuat dengan segenap hati, sama seperti makanan yang dimakan oleh manusia. Bukankah begitu, bocchan?"

Ciel menatap sang pelayan dengan wajah lugu.

"Jadi aku belum lezat, begitu?"

Sebastian hanya memberikan senyuman khas, entah itu seringai atau senyuman biasa, 'Ah. Bocah kecil yang menggemaskan. Ia menggodaku untuk mencicipinya.'

"Anda harus berusaha untuk menjadi lebih lezat lagi, bocchan."

"Hmph. Memangnya mudah untuk melezatkan diri untuk iblis sepertimu."

Sebastian masih memberikan senyuman, dan Ciel mulai jengkel, "Ah. Omong-omong, sepertinya anda telah siap untuk membaca surat dari para pelayan ratu?" timpal Sebastian. Ciel menatapnya keheranan pada awalnya, namun akhirnya ia teringat kejadian tadi dan sempat berteriak kecil.

"Ah!"

"Ya, ah."

Sebastian segera memperlihatkan sepucuk surat dari jas hitam miliknya, surat dengan segel ratu, "Sepertinya anda harus membaca surat ini sekarang, atau besok pagi. Tetapi saya tidak akan memaksa anda."

Ciel lagi-lagi terdiam, 'Apa sekarang saja?'

"Hmm? Bagaimana?"

Ciel memasang wajah (sok) serius, dan ia mengangguk-angguk tidak jelas. Dengan respon tersebut, sang pelayan segera mengambil pisau dan membuka segel surat di pegangannya, lalu memberikan isinya kepada sang tuan muda. Ciel tidak begitu mengerti, namun ia segera membaca surat tersebut.

Untuk Lord Ciel Phantomhive.

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan penyesalan terdalamku tentang kehilangannya anggota keluargamu. Aku sangat bersyukur kepada tuhan untuk keselamatanmu.

Maka dari itu, aku ingin mengembalikan kepadamu tanah dan gelar yang sementara waktu diberikan kepada keluarga kerajaan di saat lord tidak ada.

Upacara dekorasi spesial akan diberikan pada tanggal 17 Maret, pukul 10 pagi di Kerajaan Buckingham.

Aku menantikan waktu untuk bertemu denganmu.

Victoria.

"Jadi intinya..." Ciel berdehem pelan, "Ratu ingin bertemu denganku?"

Tanpa mengintip, Sebastian dapat mengetahui apa isi surat tersebut. Salah satu kemampuan iblis miliknya, "Anda akan mengambil gelar ayah anda pada tanggal 17 Maret nanti. Dan secara sah, manor ini akan kembali menjadi milik anda."

"... Jadi..."

"Anda akan menjadi seorang Lord, bocchan."

'Lord.'

-/-

Mind to RnR?